Menggambar Sapi…

Gallery

Pada suatu kesempatan tanpa sengaja saya terlibat diskusi dengan dua orang praktisi marketing yang masih sangat junior. Anak-anak muda yang penuh semangat. Keduanya lulusan salah satu sekolah terbaik di negeri ini. Cara bicaranya sangat menyenangkan, gaul tapi tetap santun….ya.. type anak muda yang pokoknya gitu deh…

Terlihat sangat haus akan ilmu dan informasi, dua orang marketers muda ini menghabiskan waktu saya hampir selama setengah hari. Menceritakan Brand yang mereka kelola masing masing, aktifitas Below The Line yang dilakukan dan berbagai topik menarik lainnya. Dalam waktu singkat saya mendapatkan kesan bahwa kedua anak muda ini memiliki potensi yang baik untuk menjadi marketers yang handal ke depannya.

Dalam kesempatan lain, saya bertemu kembali dengan dua anak muda ini. Kali ini saat menyampaikan update secara formal mengenai status proyek ‘New Product Development’ yang dikelolanya. Sangat mengejutkan, ternyata kedua anak muda ini mempresentasikan status kedua proyek dengan dua cara yang sangat berbeda, walaupun kedua proyek ini masing masing berada dalam tahapan yang sama, yakni di stage awal (Feasibility Study).

Marketer yang pertama, terlihat sangat menguasai detail proyeknya. Hapal setiap titik koma yang terdapat dalam proyek itu, beserta timing dan perkiraan angkanya. Dia mempresentasikannya dengan sangat jelas. Benar benar ‘full-loaded’ dengan informasi. Saya hampir tidak bisa menemukan cacat dalam setiap informasi yang ia tayangkan. Namun, ketika pertanyaan kemudian menggiringnya memasuki ‘development plan’ yang ia tawarkan, satu persatu saya melihat bahwa sesungguhnya ia tidak terlalu menguasai proyeknya dengan cukup baik. Saya mulai melihat ketidak-sinkronan antara target konsumen dengan ‘brand concept’nya, antara ‘brand name’ dengan ‘varianting strategy’nya dan sebagainya, dan sebagainya. Audience lainpun mulai mengajukan pertanyaan yang tak mampu dijawabnya dengan cukup baik.

Marketer yang kedua, mempresentasikan proyeknya dengan cara yang sangat berbeda. Ia memulai dengan gambaran besarnya terlebih dahulu, peluang yang mungkin didapat jika memasuki pasar itu dengan proyeknya, memaparkan objective, strategy & tahap tahap yang akan ia lakukan untuk mencapai objective itu, baru kemudian menceritakan di tahap mana ia berada pada saat ini. Informasi yang ditayangkan tidak sebanyak marketer yang pertama, tapi saya melihat seluruh audience bisa mengikuti pemaparannya dengan baik. Semua terlihat rapi dan jelas hubungan yang dipaparkan antara satu point dengan point lainnya. Pertanyaan yang membutuhkan detail dijawabnya dengan menyusulkan informasi dari ‘supporting data’ yang tidak ia tayangkan sebelumnya. Overall, audience puas, termasuk saya sendiri.

Tertarik dengan kejadian ini, saya mencoba menggali lebih jauh, mengapa dua orang junior marketers yang relatively memiliki potensi serupa bisa memiliki pemahaman & penguasaan terhadap proyeknya masing masing dengan kualitas yang sangat jauh berbeda. Hal pertama yang saya lakukan adalah memahami, apakah ada perbedaan dalam cara dan kwalitas brief yang diberikan oleh managernya masing-masing. Ternyata dua orang Marketing Manager yang membawahi masing masing Junior Marketer ini memiliki gaya kepemimpinan yang berbeda.

Marketing Manager yang membawahi Junior marketer yang pertama, adalah seorang perfectionist yang menginginkan segala sesuatunya berjalan dengan sangat baik dan sempurna dibawah kontrolnya. Setiap proyek yang menjadi tanggungjawab teamnya, dipikirkannya terlebih dahulu, lalu dipecahnya menjadi beberapa step kecil yang jelas, agar memudahkan bawahannya untuk bekerja. Ia menganut kepercayaan bahwa memberikan tanggungjawab yang kecil, sedikit demi sedikit, akan menghasilkan kwalitas pekerjaan yang jauh lebih baik ketimbang memberikan semua informasi pada bawahan sekaligus. Terlalu banyak informasi yang diterima oleh bawahan, akan membuat mereka bingung dan kurang fokus dalam bekerja.

Marketing Manager yang membawahi Junior Marketer yang kedua, terlihat memiliki kepribadian yang lebih santai. Ia menginginkan seluruh team memahami apa target dan objective yang harus dicapai oleh team bersama-sama dan percaya bahwa melibatkan seluruh team sejak awal akan menghasilkan sukses yang lebih baik. Oleh karena itu, pertama ia memberikan gambaran tentang keseluruhan proyek kepada anggota teamnya, apa tujuan dan manfaatnya, dsb- hingga tahap tahap pembuatannya, sehingga keseluruhan team tahu persis apa yang akan mereka lakukan.

Memahami bagaimana brief ini diberikan oleh 2 orang Marketing Manager dengan 2 gaya kepemimpinan yang berbeda, saya jadi teringat dengan lomba menggambar sapi beregu. Jika sang pemimpin regu menjelaskan tujuan akhir mereka adalah untuk menggambar seekor sapi, walaupun saat ini sedang dalam pembuatan kakinya, setidaknya anggota regu akan menggambar kaki sapi. Kaki mungkin tidak ideal bentuknya, mungkin terlalu kecil atau terlalu gemuk, tapi tetap kaki sapi, bukan kaki kuda ( Junior Marketer kedua). Sebaliknya apabila anggota team tidak diinformasikan dengan jelas bahwa tujuan akhir team adalah untuk membuat gambar sapi, maka gambar kaki yang dibuat mungkin gambar kaki yang sangat ideal, tapi belum tentu kaki sapi – bisa jadi kaki ayam atau kaki buaya. Dan pada akhir perlombaan, team kedua bisa jadi akan menggambar binatang baru berwajah sapi, berbadan harimau dan berkaki buaya… Who knows..

Melihat dua kejadian diatas, maka tidak pelak lagi, memberi gambaran atas keseluruhan proyek, objective, strategy dan step-stepnya kepada seluruh anggota team, akan sangat memudahkan team untuk mencapai tujuan yang kita inginkan.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s