Mengenai Hambatan Dan Peluang – Kisah Jeruk Manis Shantang Daun

Standard

Pada suatu hari saya dan anak saya yang kecil sedang makan jeruk shantang daun yang manis. Saat kunyahan pertama, tiba-tiba saya terkejut karena menyadari baik saya maupun anak saya sama-sama berseru. Setengah berteriak. Apa pasal?

Anak saya berseru “Wahh pahit!! Apes nih, jeruk ada bijinya!!”. Rupanya anak saya mendapatkan jeruk shantang yang ada bijinya dan tergigit tanpa sengaja sehingga ia merasakan pahit di lidah yang tak pernah ia harapkan. Bisa dimengerti. Anak kecil kadang belum menguasai cara memilah biji secara otomatis dalam mulutnya. Adanya biji dalam buah jeruk, ia anggap sebagai hal yang menyusahkan dirinya. Pahit dan merepotkan. Ia ingin jeruk manis tanpa biji. “Big NO! NO! untuk jeruk berbiji” itu pendapatnya.

Saat yang sama saya sendiri berseru “ Waow.. hebat! Jeruk ini punya biji rupanya!!” Saya benar-benar senang. Telah lama saya ingin mendapatkan biji jeruk shantang yang sangat manis untuk saya tanam kembali. Ini jarang terjadi. Kebanyakan jeruk shantang yang manis tidak berbiji. Kalaupun ada yang berbiji, kebetulan saya lupa mengumpulkannya. Atau atau kadang jika ada yang berbiji rasanya sedang tidak seberapa manis. Sekarang saya benar-benar menemukannya dan saya sedang ingat untuk mengumpulkannya. Itu yang membuat saya sangat senang, walaupun menurut kata ahli tanaman, untuk menghasilkan pohon jeruk berbuah manis dari biji tidaklah sesukses bila kita menanam dari hasil cangkoknya. Distorsi mungkin terjadi sesuai hitung-hitungan genetikanya.  Nggak apa-apalah. Pokoknya saya mau mencoba.

Kisah jeruk diatas jadi memberikan saya contoh, betapa hal yang sama atau serupa sebenarnya bisa terlihat berbeda tergantung dari sudut pandang kita. Perbedaan outputnya bisa sangat drastic. Sangat bertolak belakang. 180 derajat. Yang satu melihat sebagai hal negative, sedangkan yang lain melihatnya sebagai hal positive. Yang satu melihatnya sebagai hambatan, sedangkan yang lainnya melihat sebagai peluang. Saya tidak sedang mengatakan bahwa anak saya salah tidak bisa melihat peluang dalam buah jeruk itu (karena ia memang anak kecil yang menginginkan jeruk manis tanpa biji- apa boleh buat!), namun saya lebih ingin menghi-light dengan huruf besar bahwa HAL YANG SAMA SESUNGGUHNYA MEMILIKI SISI  YANG BERBEDA JIKA KITA MAU MELIHATNYA. Menurut saya, setiap hal dalam hidup kita juga mengalami hukum yang sama dengan buah jeruk itu.  Ada sisi positive dan negativenya. Ada sisi peluang dan hambatannya.  Nah bagaimana hal serupa buah jeruk itu bisa kita lihat dalam hidup kita?

Contoh dalam kehidupan sehari-hari saya lihat saat seorang teman ditinggal menikah oleh pembantu rumah tangganya. Sang teman segera menelpon dan berteriak  meminta pertolongan saya agar segera membantu bertindak menjadi calo PRT. “ Wadduuhhhh Dan.. gimana ini, duniaku serasa mau runtuh. Cucian setrikaan numpuk. Rumah amburadul gak ada yang ngurus. Mbok ya kamu tolong bantu aku mencarikan rencang. Kan biasanya kamu banyak punya kenalan para bedinde dan sejawatnya gitu..” Katanya ditelpon. Saya segera paham akan kondisi teman saya satu ini sebagaimana ia melukiskannya dengan kata -kata “duniaku serasa mau runtuh” . Pasti memang ia sedang mengalami kesulitan luarbiasa. Sehari hari ia adalah seorang perfectionist. Ia bekerja di kantor, berangkat pagi pulang malam namun tetap menginginkan segala hal baik dalam pekerjaan maupun rumahtangganya harus rapi, beres dan terkelola dengan baik. Rumah harus bersih, tanpa pakaian kotor dan strikaan yang tersisa. Kehidupan rumahnya digantungkan pada asistent rumah tangganya yang sangat hebat yang  ia ceritakan akan menikah itu. Sayapun segera beraksi, mencoba membantu memecahkan masalahnya dengan melakukan “kontak dari hantu ke hantu’ seperti  gaya dalam  buku Trio Detektif tulisan Alfred Hitchcock yang sering saya baca di perpustakaan sekolah  waktu jaman saya kecil dulu (eh.. masih ada nggak ya buku buku itu sekarang?). Karena biasanya saya cukup sukses kalau mencontek ide bagus para detektif cilik dalam buku itu. Semua para pembantu rumah tangga & baby sitter yang saya kenal di lingkungan perumahan saya datangi dan wawancarai barangkali punya kenalan, keluarga atau kerabat yang mau bekerja membantu teman saya. Beberapa alamat yayasan pun segera juga saya  kirimkan ke teman saya itu agar ia juga mencoba mencarinya. Namun barangkali saat itu semua upaya saya belum cukup berhasil. Entah kenapa.   Hingga pada suatu hari minggu pada bulan  berikutnya saya tanpa sengaja bertemu dengannya di lobby sebuah pusat perbelanjaan di Bintaro sedang melihat-melihat pameran kerajinan etnik. Ia terlihat sumringah dan cantik dalam balutan batiknya. Dengan riang gembira ia memanggil saya mendekat. Hey.. kemanakah gerangan dunianya yang baru saja runtuh itu pergi? Saya heran. Apakah ia sudah mendapatkan pengganti assistant pribadinya di rumah?.

Setelah mendengarkan kisahnya yang dituturkan dengan sangat antusias kepada saya, barulah saya mengerti bahwa ia sesungguhnya belum mendapatkan pembantu rumah tangga seperti yang ia inginkan. Lalu apa yang membuatnya sumringah? Rupanya dalam kondisi tanpa pembantu rumah tangga, di sela-sela kesibukannya ia mulai memasak sendiri makanan untuk keluarganya, hubungannnya menjadi jauh lebih dekat dengan anak-anak dan suaminya. Ia menemukan foto-foto lama saat membersihkan rak buku yang berdebu. Foto-foto dirinya beserta ibu dan saudara-saudara perempuannya yang membuat ia segera menelpon kakak perempuannya – yang kemudian dengan senang hati mengirimkan makanan kesukaannya waktu kecil. Ia datang ke tukang tanaman, membeli paku suplir dan tanaman kuping gajah seperti yang ada di rumah ibunya jaman dulu dalam foto-foto itu. Semuanya terjadi begitu saja dan membuatnya sangat senang. Ia merasa bahagia. Lebih bahagia dari sebelumnya. Apakah pekerjaan rumah tangganya beres? Tidak juga. Tapi sekarang ia tak terlalu memikirkannya lagi. Cukup memanggil tenaga pembantu rumah tangga untuk cuci-gosok – yang datang pagi pulang sore hari tanpa menginap. Sedikit kurang rapi dan nggak beres, nggak apa-apalah – pikirnya. Ia telah menemukan sisi kehidupannya yang lain.

Nah jelas sekali dari cerita kehidupan di atas, bisa kita lihat bahwa dalam kasus yang sama (tidak ada pembantu rumah tangga), kita mungkin bisa melihat hambatan (dunia serasa mau runtuh), atau bisa juga kita lihat sebagai peluang ( lebih bahagia, lebih dekat dengan keluarga) jika kita mau membuka diri untuk melihat dari sudut pandang yang lainnya.

Contoh yang lain adalah ketika seorang karyawan mendapatkan karirnya mandeg di sebuah perusahaan. Apa yang mungkin ia pikir? Banyak!!. Mungkin ia berpikir bahwa atasannya mulai tidak fair dalam memberikan penilaian terhadap dirinya. Mungkin juga ia berpikir bahwa ada yang sedang ingin menjatuhkan dirinya. Atau ia berpikir bahwa kemampuannya memang hanya sebatas itu, sehingga ia harus pasrah menerima keadaannya. Dan masih banyak hal lain yang mungkin ia pikir.

Lalu apa yang mungkin ia lihat? Saya  mencoba mengira-ngira lagi. Mungkin ia melihat karirnya berakhir di situ dan tinggal menunggu pensiun, namun karena terlalu mencintai perusahaan tempatnya bekerja, atau mungkin karena umurnya sudah tak memungkinkan lagi baginya untuk pindah ke tempat baru,  maka ia tahankan semua kepedihan hatinya dan bertahan disitu.  Mungkin ada juga  yang mulai melihat kekurangan dirinya, sehingga mulai berusaha melakukan perbaikan dan mengejar ketinggalannya. Ada juga yang jadi lebih santai, membiarkan orang lain mengambil alih perannya, mengurangi keterlibatannya dan mulai tidak perduli. Atau ada juga yang dengan segera melakukan hitung-hitungan matematika pro –kontra bagi masa depan karirnya, melakukan analisa peluang lalu segera melakukan aksi terhadap strateginya dalam meraih peluang yang lebih baik.

Yah.. isi dunia memang bermacam macam. Dan sulit untuk mengatakan bahwa si A itu salah, dan si B itu benar. Karena setiap orang memiliki alasan pribadinya masing-masing. Yang jelas memang setiap masalah yang sama atau serupa, sesungguhnya bisa dilihat dengan banyak cara pandang. Dengan menyadari adanya banyak pilihan cara pandang, setidaknya akan membantu kita untuk tidak mengambil keputusan dalam koridor penglihatan yang sempit.

Menyadari keberadaan akan banyaknya pilihan cara pandang, memberi kita kebermungkinan untuk memilih yang paling sesuai untuk diri kita, kebutuhan kita, situasi dan kondisi kita masing masing. Dan yang lebih penting lagi  dalam kaitan kita  untuk selalu memacu kemajuan dalam hidup kita adalah untuk selalu menyadari bahwa setiap hal yang kita lihat sebagai hambatan, sesungguhnya juga memiliki peluang di dalamnya. Yang kita perlukan hanya memikirkan atau membuat list segala kemungkinan itu, melihatnya dengan jeli lalu  upayakan untuk merubah hambatan itu menjadi peluang. Jika peluang belum juga berhasil kita lihat, mungkin kita perlu mengembangkan pemikiran  kita sedikit lebih jauh  melewati apa yang sebelumnya telah pernah kita pikirkan.

About these ads

One response »

  1. Pingback: Pikiran Positive Dan Negative Dalam Keseharian. « nimadesriandani

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s