Hati hati Melepas Anak Ke Kolam Renang Sendirian.

Standard

Sore tadi saya menemani anak saya  berenang di kolam renang di dekat rumah saya.  Setelah cukup lama membiarkan anak saya bermain air dan melatihnya berenang, udara di sekitar kolam mulai terasa dingin. Matahari rupanya mulai terbenam. Cepat-cepat saya mengajak anak saya naik dan membilas diri di ruang bilas yang tersedia.

Saat itu saya melihat seorang gadis kecil berbusana renang merah sedang berdiri di bawah pancuran air sambil menangis. Beberapa orang ibu terlihat membujuk & mengajaknya bicara. Mulanya saya tidak terlalu memperhatikan apa yang sebenarnya terjadi. Saya pikir ibu-ibu itu adalah  ibu, tante atau kerabat gadis kecil itu.  Tapi ketika saya melintas di depan anak itu untuk menuju ke ruang ganti pakaian, mulailah saya mengetahui, bahwa ternyata gadis kecil itu bukan keluarganya.

Sambil mengganti pakaian, saya menyimak pembicaraan ibu-ibu itu. Rupanya gadis itu sedang kehilangan  tas yang berisi handuk, pakaian pengganti, perlengkapan mandinya, alkitab serta sejumlah uang.  Rupanya ia ke kolam renang seorang diri  tanpa teman. Dan ketika selesai berenang barulah menyadari ternyata ia kehilangan tasnya.  Ia mencari ditempat ia meletakkannya, namun tidak berhasil. Beberapa ibu-ibu yang mengantarkan anaknya berenangpun mulai berkerumun dan membantu. Semua tempat dan sudut di kolam renang itu pun diteliti, namun tetap tidak berhasil.  Sedemikian banyaknya pengunjung kolam renang, sulit rasanya untuk mengetahui siapa yang telah mengambil tas anak itu baik sengaja maupun tidak sengaja. Sebagian ibu-ibu itu menyalahkan orangtua si gadis yang membiarkan anaknya berenang  sendiri  tanpa teman. Petugas yang berusaha membantu dari tadi akhirnya menyerah juga.   Memang agak sulit untuk menyalahkan siapa-siapa dalam kondisi seperti itu. Kolam renang terlalu ramai dengan pengunjung. Karena sudah sore, akhirnya satu persatu pengunjung kolam renangpun  pergi meninggalkan anak kecil itu menangis ketakutan di bawah pancuran. Sebentar lagi pintu kolam renang tentu akan ditutup oleh petugas.

Dengan perasaan kasihan lalu saya dekati anak itu dan mengajaknya ngobrol. Sambi menggigil kedinginan dan tetap menangis, ia bercerita bahwa ia berenang sejak pukul 10 pagi sepulang dari gereja.  Menurut ceritanya,  ia juga sempat bertemu dua orang temannya yang juga berenang di sana namun sudah pulang duluan. Ia meninggalkan tasnya yang berwarna pink dengan gambar Barbie di tepi kolam renang. Lalu sadar bahwa tasnya sudah tidak ada ketika sore hari ia bermaksud berhenti berenang. Jelas ia terlalu lama bermain di kolam renang. Sayapun  menanyakan namanya dan dimana rumahnya.

Yang cukup membuat saya tenang adalah bahwa anak itu tahu rumahnya. Dan ia yakin bisa pulang sendiri, walaupun rumahnya cukup jauh dari kolam renang. Ia mengaku hanya takut & malu berjalan pulang  dengan pakaian renang yang basah. Dan juga takut dimarahi orang tuanya karena telah menghilangkan pakaian. Matanya sangat merah dan sembab. Saya sangat bisa memahami perasaannya. Merasa kasihan, saya akhirnya menawarkan handuk saya untuk ia pakai. Namun ia tetap malu kalau harus pulang dengan berbalut handuk. Lalu saya tanya, apakah ia mau ikut ke rumah saya yang tidak jauh dari situ. “Nanti kamu boleh gunakan pakaian anak saya” kata saya menawarkan. Rumah saya tidak lebih dari 100 meter jaraknya dengan kolam renang. Saya pikir, tentu tidaklah  masalah kalau ia berjalan sedikit dengan berbalut handuk ke rumah saya. Ia pun setuju. Saya lalu menyampaikan maksud saya kepada petugas kolam renang untuk mencegah hal-hal yang lebih buruk yang mungkin terjadi. Sepengetahuan petugas lalu saya mengajak anak kecil itu ke rumah saya.

Sesampai di rumah, saya minta ia mengeringkan tubuhnya, lalu saya membongkar kaos dan celana anak saya yang kira-kira sesuai dengan ukuran tubuhnya. Walaupun anak saya laki-laki, saya pikir kaos dan celana pendek tentu bisa juga dipakai oleh anak perempuan. Setelah menyisir rambutnya, anak itupun segera mengucapkan terimakasih dan berpamitan. Awalnya saya tawarkan untuk mengantarnya ke rumah, namun anak itu tidak mau dan yakin bisa pulang sendiri. Akhirnya saya bekali dengan sedikit uang agar bisa ia manfaatkan untuk transportasi ke rumahnya jika diperlukan.

Melihatnya keluar dari pintu halaman saya, membuat saya merasa miris. Kasihan sekali. Anak sekecil itu harus menghadapi musibah sendirian. Tidak ada ayah ibunya atau seorangpun kerabatnya yang dewasa menjaganya. Tak terbayangkan perasaannya jika  saya yang menjadi ibunya. Ya, memang ada baiknya kita sebagai orangtua lebih berhati-hati  melepas anak kita yang masih kecil untuk ke kolam renang atau ke tempat-tempat umum sendirian. Masalah dan musibah bisa saja terjadi sewaktu-waktu. Kita tidak pernah tahu apakah anak kita sudah cukup siap menghadapi keramaian dan orang banyak dengan segala kemungkinannya. Mudah-mudahan kisah anak kecil di kolam renang ini ada manfaatnya bagi kita semua.

About these ads

One response »

  1. Aduh kok aku deg-degan ya bacanya. Anak-anak tidak seharusnya dibiarkan sendirian, karena sekarang ada kesempatan sedikit saja, niat jahat bisa muncul pada seseorang…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s