Tentang Kemauan Yang Kuat.

Standard

Anak saya yang kecil sangat menyukai sepakbola. Saya pikir kesukaan akan sepakbola ini umum pada anak laki-laki. Oleh karenanya saya tidak terlalu memperhatikan hobbynya itu. Lagipula saya memang tidak terlalu suka permainan sepakbola. Saat anak saya minta dibelikan bola, maka saya antar ia ke outlet yang menjual berbagai jenis bola agar anak saya bisa memilih bola yang ia sukai. Saya tidak ikut campur memilih. Demikian juga saat ia  minta dibelikan sepatu sepakbola, saya berusaha mencarikan sepatu bola yang tapaknya bergerigi & sesuai dengan ukuran kakinya. Tentu saja semua itu saya lakukan karena kebetulan saya sedang memiliki sedikit rejeki saat itu. Apalah salahnya mengeluarkan uang untuk mendukung keinginan anak yang positif.

Setiap hari saya lihat ia berlatih menendang dan menggiring bola. Biasanya bersama teman-teman dekatnya di rumah. Walaupun sedang  sendirian, iapun tetap asyik saja berlatih. Mulai dari halaman belakang rumah, halaman depan, di ruang tamu, di kamar tidur, lahan kosong di sebelah rumah, di sekolah dan bahkan di jalanan depan rumah utama pada jam-jam dimana tidak ada kendaraan yang melintas. Ia terus berlatih dan berlatih. Saya hanya melihatnya sepintas dan tak pernah memandangnya sebagai suatu keistimewaan. Seorang anak laki kecil bermain bola. So what? Semua anak laki  melakukannya.

Pada suatu hari  saya melihatnya sedang mengamat-amati sepatu bolanya. Saya menghentikan langkah saya sejenak, melihat apa yang sedang dilakukannya dengan sepatu bola itu  dan menjawir pipinya. Ia berkata kepada saya bahwa ia ingin sekali dipilih  untuk masuk dalam tim sepakbola sekolahnya yang dengan bangga ia beri istilah sebagai “Timnas”.  Timnas sekolah!

“Oh ya. Tentu saja. Itu suatu hal yang sangat bagus” Kata saya memberi support. “Teruslah berlatih, suatu saat pasti bisa terpilih” kata saya lagi.  Anak saya lalu bercerita bahwa yang ingin terpilih masuk Timnas itu banyak sekali. Jadi mulai sekarang ia akan berlatih dengan lebih giat lagi agar ia terpilih.  Saya senang dengan kemauannya itu. Namun sebenarnya jauh di dalam tempurung kepala saya berpikir, sebenarnya anak saya terlalu kecil untuk terpilih masuk Timnas. Masalahnya adalah ia baru kelas 3, dan badannya kurus dan kecil. Sementara yang akan diajak bersaing banyak juga yang dari kelas 4, kelas 5 dan kelas 6 yang sudah pasti bertubuh jauh lebih besar dan lebih kuat dari anak saya.

Makanya, selain berlatih yang tekun, makanlah yang banyak dan  minum susu yang rajin biar tulangnya kuat” nasihat saya. Anak saya setuju dan setelah itu segera berlatih menendang lagi.

Malam harinya setelah anak-anak tidur saya ngobrol dengan suami saya tentang anak-anak. Saya bercerita tentang kemauan anak saya berlatih menendang bola dan keinginannya masuk ke Timnas sekolahnya. Rupanya suami sayapun sudah terup-date soal itu. Saya lalu menyampaikan concern saya tentang tubuh anak saya yang kecil.  Dengan umur dan tubuh sekecil itu, sangat kecil kemungkinan ia bisa terpilih masuk timnas. Saya membayangkan dengan getir bagaimana jadinya seandainya ternyata anak saya tidak terpilih. Apa yang akan terjadi? Tentu ia sangat kecewa dan sedih jika sampai terjadi. Terutama jika ia merasa terlah berlatih keras namun ternyata tak terpilih juga.

Suami saya kelihatannya juga memikirkan hal yang sama, namun seperti biasanya ia tidak mau menambah kekhawatiran saya dengan komentarnya. “Lihat saja nanti!” sarannya sambil menutup pembicaraan. Dan saya mengeri bahwa tak ada gunanya lagi membahas topic itu.

Hari hari berjalan. Saya lihat anak saya masih tekun dengan bolanya.Saya berusaha tidak memikirkan apa-apa tentang keinginannnya itu. Tetap memberinya semangat, bahwa suatu saat ia pasti mampu kalau terus berusaha. Hingga pagi tadi, saya lihat ia memasukkan pakaian olahraga dan sepatu bolanya yang berwarna merah ke dalam tas. Ia berangkat dengan hati riang. Saya hanya tersenyum melihat semangatnya.

Sore hari begitu pulang dari kantor,  anak saya bercerita dengan penuh semangat. Ia ketinggalan psp-nya di rumah, sehingga tak  bisa main psp saat di perjalanan pulang sekolah. “ Nggak apa-apa ngga main psp. Aku senang hari ini. Yang penting bisa masuk Timnas” Katanya.  Hah??!!. Rupanya ia berhasil memenuhi cita-citanya sendiri untuk terpilih masuk Timnas sekolahnya. Wah, luarbiasa!. Terus terang saya kaget  dan nyaris tidak percaya mengingat  apa yang pernah saya khawatirkan sebelumnya. Dengan umur yang masih muda dan tubuh yang kecil, kurus dan terlihat fragile, rasanya tak mungkin mampu bersaing dengan teman-temannya yang berbadan jauh lebih besar dan kuat.

Tentu saja saya bangga, namun lebih dari itu saya merasa bahwa anak saya telah memberi sebuah pelajaran berharga  bagi saya . Jika kita memiliki kemauan yang kuat untuk sukses,  pasti kita akan mampu mencapainya.  Tidak masalah betapapun kecil dan tak berdayanya kita. Jika kita menginginkan sesuatu, berusahalah dengan keras untuk mendapatkannya!.  Suatu nasihat yang sangat klise dan sering kita dengar. Namun faktanya bagi saya, bahwa anak saya yang kecil benar-benar memberi saya contoh yang nyata tentang kemauan yang kuat dan hubungannya dengan kesuksesan itu.  Memang skalanya kecil, namun hal itu membuat saya jadi merefleksi ke dalam diri saya sendiri. Apakah saya sudah  memiliki kemauan yang benar-benar kuat untuk mendorong diri saya agar lebih sukses dalam hidup saya?

About these ads

2 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s