White Lace Crochet…Renda Putih Yang Romantis.

Standard
White Lace Crochet…Renda Putih Yang Romantis.

Renda Putih! Entah kenapa saya sangat menyukainya. Di mata saya renda ini sangat cantik, feminine dan romantis. Saya suka membuatnya dan melihat ruangan yang perabotannya dilapis dengan renda putih. Namun sayang, dengan kesibukan dan banyaknya waktu dihabiskan untuk hobby yang lain, belakangan ini saya sudah semakin jarang membuat renda.

Saya sendiri belajar merenda dari guru saya waktu di sekolah dasar. SD No III Bangli, di Bali. Saat itu, merenda dan menyulam adalah sebuah mata pelajaran prakarya pilihan murid perempuan yang diselipkan pada hari Jumat – yang disebut dengan istilah Hari Krida. Barangkali jaman sekarang itu serupa dengan Extra Curiculer. Semua guru wanita saya pandai menyulam dan merenda. Pekerjaan merenda kami dinilai dari seberapa telitinya kami menghitung stitch dan merancang pola, sehingga membentuk helaian renda yang bisa dimanfaatkan di rumah.

Banyak  benda yang bisa dibuat dari jalinan benang ini. Mulai dari taplak meja (Table Cloth, Table Center, Doily), Alas Baki/Makan (Tray Mat/Luncheon Mat),  Alas rak (Shelf Mat), Gorden(Curtain), Sarung Batntal (Cushion),  dan sebagainya hingga ke penutup tempat tidur (Bed Sheet). Renda bisa kita buat dengan berbagai jenis benang (benang cotton, wool, dsb) dan dalam berbagai jenis warna. Namun entah kenapa, saya paling suka dengan renda berwarna putih. Putih yang cantik dan  romantis. Atau paling jauh, broken white.

Foto-foto di bawah menunjukkan dimana kita bisa  memanfaatkan renda putih ini sebagai penutup perabot rumah tangga. Renda Putih terlihat sangat cantik bila kita manfaatkan untuk menutup meja teras, di mana kita bisa duduk-duduk menunggu tukang sayur lewat. Juga cantik jika kita jadikan penutup meja di ruang tengah yang digunakan untuk memajang pot  atau hiasan rumah lainnya. Juga menarik jika digunakan sebagai alas cangkir, piring penganan. Dan tetap cantik bahkan jika dijadikan sebagai penutup kursi atau meja taman di halaman.  Sesekali gunakan renda putih jika kita ingin merasakan   suasana yang romantis dan feminine di rumah.

About these ads

28 responses »

  1. wah, bagus2 mba bentuknya, jadi pengen punya, saya termasuk org yang suka bunga..
    itu motifnya ky bunga teratai.. dan lagi, saya juga suka warna putih, suci, bersih.
    salam persahabatan mba
    ditunggu kunjungan baliknya ya
    happy blogging :)

  2. walaupun ini dunianya wanita….sya juga suka lho dengan seni yang indah2 spt renda buatan mb Ni disini…..btw di Bali mmg seni itu lebih ditonjolkan ya…? soalnya baca diatas dari SD sdh pandai menyulam…

    • Ini terlihat feminine, tapi tak terbatas untuk disukai oleh kaum wanita sajakok..he he.
      Kalau di Bali,aktifitas seni memang menonjol. Cuma kalau renda, di Bali tidak dianggap sebagi seni. Tapi kerajinan tangan saja. Dulu di SD ku banyak diajarkan ketrampilan sejenis ini.

  3. Renda putih memang memikat hati, bu Made. Fotonya bagus-bagus. Dan di setiap momen, putih tidak pernah kalah arti. Warna ini menyejukkan dan mampu membersihkan pikiran saya… :)

    Bu, Made. Saya punya penghuni baru. Mohon dideteksi. Saya nggak tau dia itu jenis anjing apa. Ada di postingan saya… Suksma.

  4. Banyak sekali koleksinya Mbak Dani..Dan hebat dirimu serta ibu mertua, membuat sendiri renda-renda cantik ini..Itu kan butuh daya tahan alias kesabaran ya :)

    • Thanks Mbak Evi. ya memang butuh waktu dan kesabaran sih.. karena untuk yang kecil kecil gitu aja butuh waktu seharian untuk ngerjainnya. Kalau nyambi-nyambi ngerjain yang lainnya, malah bisa 2-3 harian baru dapat satu. Makanya jarang punya kesempatan membuatnya. Kalau bagi yang sudah pensiun sih (yang punya hobby) kelihatannya kegiatan merenda mengasyikkan juga..

  5. Merenda wuih ketelatenan dan kreativitas tinggi, salut jeng Ade, saya cuma sekedar bisa gabung rantai ke pola sederhana. Renda cantik … hasil rajutan jari lentik…. salam

  6. Hai Mbak, bagus2 ya karyanya. Apalagi sampai banyak begitu, salut buat ketekunannya. Saya juga suka crochet, tapi baru pemula. Mau tanya untuk buat taplak sebaiknya pakai benang apa ya supaya jatuhnya bagus? Selama ini saya coba pakai benang cotton atau wool tapi kok selalu kaku? Apa caranya yang salah? Mohon bimbingannya. Hehehe. Thx before.

    • saya juga biasanya hanya memakai benang cotton atau wool saja. Malah kalau nylon tambah kaku dan nggak enak di kulit ya. kecuali kalau kita mau mendapatkan effek glossy-nya ya.Menurut saya kalau cotton akan lebih kaku jatuhnya dibanding dengan wool. Tingkat kerapatan rantai juga menentukan kekauan hasil crochet. Semakin ketat akan semakin kaku,namun kwalitasnya semakin baik. kalau rantainya loose,maka akan terasa lebih lembut tapi kwalitasnya agakkurang baik ya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s