Iring-iringan Pengantin Bugis Di Depan Rumah..

Standard
Iring-iringan Pengantin  Bugis Di Depan Rumah..

Sabtu pagi lalu saya merasa sangat beruntung. Bagaimana tidak.   Saat sarapan di meja makan, tiba-tiba dikejutkan oleh suara musik traditional yang terdengar sangat indah di telinga saya. Wah, rupanya ada iring-iringan pengantin pria Bugis lewat di depan rumah. Peristiwa yang sangat jarang bisa saya lihat. Tetangga saya di Villa Bintaro Regency sedang mengadakan helatan awal untuk pernikahan  dalam adat Bugis yang prosesinya panjang. Puncak acaranya  akan diadakan malam itu. Namun prosesi rupanya sudah dimulai sejak beberapa hari sebelumnya. Bersyukur hari itu saya sempat menyaksikan iringan pengantin pria yang istimewa,walaupun hanya sebatas apa yang saya lihat melintas di depan rumah.

Iring-iringan didahului oleh pemain musik gendang dan pacing-pacing (seruling)  dengan pakaian adat bugis,  kemeja dan  sarung  yang merah meriah serta ikat kepala hitam. Pemain musik ini berfungsi sebagai pembuka  jalan dan menginformasikan kepada khalayak dengan suara musiknya yang indah akan adanya sebuah prosesi pernikahan. Group pemain musik ini kemudian diikuti dengan  dengan kelompok hantaran pertama, yang saya duga isinya perangkat alat sholat beserta mas kawin.

Setelah itu barulah terlihat rombongan pengantin pria yang dipayungi dengan “Lellu’ yakni sejenis payung tenda bertiang empat yang memberi pertanda bahwa prosesi pernikahan dilakukan secara adat kaum bangsawan. Saya mendapatkan penjelasan ini dari seorang wanita kerabat mempelai yang hadir di sana.  Konon Lellu ini tidak digunakan untuk sembarang pengantin pria. Hanya oleh pria bangsawan.Pengantin pria biasa tidak menggunakan Lellu – demikian penjelasannya. Wah, kalau begitu sekali lagi saya bersyukur karena saya bisa menyaksikan payung kebangsawanan yang disebut Lellu ini.   Rombongan pengantin pria ini didampingi keluarganya.

Rombongan pengantin kemudian disertai oleh berpuluh-puluh hantaran yang dibawakan oleh kerabat wanita dari mempelai pria yang berdandan cantik dengan pakaian adat bugis yang berwarna hijau dan krem sangat indah. Bermacam-macam isinya dan dikemas dengan cara yang sangat indah dan menarik. Melihat iring-iringan ini serasa sedang menonton pawai sebuah Pesta Kesenian. Deretan para gadis-gadis cantik berdandan apik dan indah. Lalu disusul para pria yang juga berbusana dengan sangat baik. Bedanya, iring-iringan ini adalah prosesi riil, bukan sekedar peragaan seperti umumnya dalam pawai Pesta Kesenian..  Sungguh pemandangan adat yang sangat jarang bisa saya saksikan.

 Kemudian rombongan diakhiri dengan hantaran berupa “Waluji” yang berisi sepasang ayam jantan dan betina sebagai perlambang pengantin yang bahagia, disertai dengan hasil bumi berupa nangka, tebu, jeruk bali, semangka,pisang sebagai lambang kemakmuran yang didoakan bagi pengantin. Menurut pengantarnya, biasanya Waluji ini dihias dengan kain putih. Dan seharusnya, pengantarnya pun menggunakan pakaian adat yang baik dan benar.  Namun karena prosesinya di Jakarta, barangkali tidak sempat mendandaninya seperti yang seharusnya. Namun secara keseluruhan, prosesi ini meninggalkan kesan yang “Wow!!” dan berbeda di mata penontonnya yang berjejer di kiri kanan jalan.

Sayang saya tidak sempat melihat keseluruhan prosesi  ini, karena harus segera berangkat keluar kota. Namun demikian, saya tetap merasa senang sekaligus terharu. Indonesia memiliki sedemikian banyaknya kekayaan adat. Dan setidaknya hingga saat ini masih ada yang memeliharanya dengan baik. Saya merasa sangat berterimakasih kepada keluarga mempelai,  dengan diadakannya prosesi seperti ini di Jakarta, minimal  saya dan warga yang lain jadi punya kesempatan sedikit lebih mengenal kebudayaan Sulawesi Selatan ini. Semakin cinta Indonesia!

Semoga kedua mempelai mendapatkan kebahagiaan dalam kehidupan rumah tangga yang harmonis dan langgeng.

About these ads

21 responses »

  1. beruntung banget mbak…
    acara yang sudah sangat jarang dilakukan di luar daerah asalnya ya…

    waktu pernikahan adikku acara seperti ini justru dilakukan di kampung, kalau di kota mah ribet ya..

    • jarang banget ada acara begini di luar daerah asalnya. Dan sayangnya pula, kita tak selalu punya kesempatan untuk bepergian dan melihat acara begini ke daerah asalnya.
      tapi memang bener sih Mbak, kalau acara pernikahan adiknya Mbak Monda dilakukan di Jakarta pasti ribetnya minta ampuunn..

  2. Saya, belum pernah lihat kawinannya orang Bugis hehehe … padahal di kantor saya sebagian besar orang Bugis … :-)
    Resep ya, ngeliatin orang kawinan :D

    • Sudah pada nikah belum teman-teman kantornya? Kalau belum,pasti suatu saat akan melihat juga. Tapi kalau udah pada nikah…jangan sampai ntar mendorong temannya untuk menikah kembali demi bisa melihat prosesi nikahannya he he

  3. Bu Made ini selain menjadi Dokter Hewan dan seorang Marketer, ternyata berbakat juga menjadi wartawan. Salut sama perhatian bu Made terhadap lingkungan sekitar.

  4. Begitu mendengar suara musik, mudah2an camera emang gak jauh dari tempatnya, kan mau jalan, sehingga gak lintang pungkang mencarinya ke dalam ya Mbak Dani hehehe..

    Memang kita beruntung hidup di Indonesia, negeri dengan sejuta budaya, tapi hidup dalam rukun dan saling menghormati. Kalau ada gesekan2 sedikit itu ulang cecurut yg hendak mengail di air keruh. Pertengkaran, saling bermusuhan karena perbedaan gak punya sejarah dalam negara kita.

    Sayang di lingkunganku gak akan bisa melihat upacara2 begini, karena penghuninya relatif homogen :)

    Foto2nya keren Mbak. Tak terlewatkan sedikitpun momen dalam waktu yang singkat itu

    • Kebetulan lagi ready diatas meja, habis motretin kembang sepatu paginya. jadi lumayan nggak lintang pukang nyariin kamera. Tapi konsekuensinya.. sarapannya baru setengah langsung ditinggal kabur he he.

      ya.. aku jadi bingung. Dari dulu kala juga kita sudah hidup dengan perbedaan dan nggak pernah ada masalah. Baik baik saja.
      Kenapa sih belakangan kok malah ada aja orang yang hobbynya justru mengail di air keruh. Sengaja mencari-cari hal negatif dari perbedaan dan membesar-besarkannya pula. Untungnya apa juga?. Padahal hidup aja baik-baik dan selalu positive terhadap orang lain. Kalau ada yang baik ya kita apresiasi dan kagumi, kita ambil maknanya dan pakai bersama, kalau ada yang kurang berkenan ya udah..nggak usah dipakai dan dipikirkan. Simple. Damai dan bahagia.

  5. Tanpa harus ke daerah asalnya mendapat suguhan budaya, ah beruntungnya. Hantaran tandan pisang dan kelapanya unik ada kemiripan dengan hantaran lamaran di daerah sala. saluut jeng Ade tuk paparan indahnya. Salam

  6. Pingback: Mencoba Mengakrabi Tradisi « JURNAL TRANSFORMASI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s