Serial Kampung Halaman – Songan, Desaku Yang Permai.

Standard

Ketika  Mbak Evi, seorang sahabat blogger saya  berkisah tentang kampung halamannya, saya juga jadi tergerakk untuk menulis tentang kampung halaman saya.  Sebenarnya dalam kenyataannya saya memiliki dua kampung halaman.  Yang pertama adalah Desa Songan. Desa darimana saya berasal dan  merupakan lokasi rumah kakek saya yang bermarga Kayu Selem  (=Kayu Hitam, Blackwood). Dan yang kedua adalah Kota Bangli. Kota kecil dimana saya menghabiskan masa kanak-kanak saya hingga remaja. Di sanalah letak rumah ayah-ibu saya (keduanya telah tiada). Dan tak jauh dari sana, sekitar 2-3 km, terdapat rumah kakek saya dari pihak ibu yang bermarga Pande (= marga tukang emas,perak,besi; gold&silver smith). Jarak ke dua tempat ini sekitar 35 km. Namun kali ini saya akan menceritakan mengenai Desa Songan saja.

Desa Songan, berada di tepi danau Batur,Kintamani. Untuk mencapainya, kita bisa naik angkutan umum  jurusan DenpasarSingaraja melalui Kintamani dan berhenti di Penelokan yang terletak di tepi kaldera gunung raksasa purba.  Dari Penelokan, kita kemudian turun menuju tepi danau yang terletak di dalam kawah gunung purba tersebut. Sebelum sampai di desa Kedisan, kita mengambil jalan ke kiri dan menyusuri jalan di sela-sela batu cadas melewati Toya Bungkah Water Spring dan terus  hingga mentok. Itulah yang bernama desa Songan. Lalu apa yang bisa kita lihat di Songan?

Penduduk & bahasanya.

Songan  dan desa-desa di tepi danau Batur yang disebut Bintang Danu memiliki sejarah yang panjang akan peradaban Bali lama. Memiliki bahasa Bali yang sedikit berbeda dengan Bahasa yang digunakan sehari-hari di desa-desa Bali lainnya. Sehingga jika ada dua orang Songan berbicara dalam Bahasa Songan asli, belum tentu dimengerti oleh orang Bali lainnya – kecuali jika bahasa yang digunakannya sudah bercampur dengan Bahasa Bali modern atau Bahasa Indonesia. Karena cukup banyak kosa katanya yang asli , bahkan mungkin tidak pernah ada dalam kamus bahasa Bali umum i.e jitnika, lajana, palas, togol, sanga, areh, pocot, donga,kola, ndia, seleh, pupun, lakene, muun,  dan sebagainya.

Secara fisik, penduduk tidak memiliki perbedaan ciri fisik yang berarti dengan penduduk Bali lainnya. Namun barangkali karena pengaruh cuaca yang sangat dingin, penduduk Songan dan desa-desa di wilayah Kintamani lainnya cenderung memiliki warna kulit yang relatif agak terang, pipi memerah,  rambut agak coklat dan bola mata coklat.   Selain itu, banyak juga yang cenderung memiliki gigi sedikit berbercak abu, barangkali karena pengaruh kandungan belerang pada air yang dikonsumsi sehari-hari.

Karena hubungan kekerabatan dan pernikahan, bila saya telusuri, barangkali sebagian besar penduduk desa Songan masih ada pertalian saudara dengan saya. Entah masih ada hubungan paman, bibi, keponakan,  misan mindon (sepupu), ipar, cucu, dan berbagai hubungan kekerabatan lainnya. Namun karena desanya sangat besar, tentu saja saya tidak hapal semuanya.

Pertanian dan Perikanan.

Karena lokasinya di kaki Gunung Batur dan di tepi danau Batur, tentu saja kebanyakan penduduknya bermata pencaharian sebagai petani dan nelayan danau.  Desa ini sangat subur akibat abu sisa letusan gunung api. Merupakan pemasok penting sayur mayur untuk daerah Bangli hingga ke Denpasar. Berbagai macam sayur tumbuh subur di desa ini, seperti misalnya Bawang Merah, Bawang Putih, Tomat, Kol, Kentang, Cabai dan sebagainya. Tambak-tambak pun menghasilkan dengan cukup baik. Sehingga jika musim panen tiba, rejekipun cukup lancar mengali ke kantong-kantong petani yang rajin bekerja keras.  Setidaknya banyak  para petani mampu menyekolahkan anaknya hingga ke jenjang sarjana.

Pemandangan Alam dan Tempat Penting.

Danau Batur dan Gunung Batur, adalah dua puncak pemandangan yang memukau di Songan. Di sana kita bisa melihat Gunung Batur yang tanahnya memerah, sehingga disebut sebagai Bukit Barak ( = Bukit Merah) oleh penduduk setempat. Gunung yang memiliki ketinggian 1717 meter di atas permukaan laut ini merupakan target yang penting bagi para tourist dan para pendaki. Gunung ini adalah Gunung berapi yang masih aktif. Banyak mata air panas yang bisa kita temukan di sekitar wilayah ini. Di sela batu batu cadas, maupun di ladang penduduk. Di halaman belakang rumah kakek sayapun ada sebuah mata air panas. Tepat di bawah sebuah pohon mangga tua.  Waktu kecil, saya dan sepupu-sepupu saya sering mandi di sana. Namun sekarang, oleh seorang sepupu saya air panas dari mata air itu disedot dengan pompa dan disalurkan ke rumah  dan dimanfaatkan untuk mengisi bak di kamar mandi. Yang paling menyenangkan waktu kecil adalah melihat aliran air panas ini yang menyerupai sungai kecil  mengalir ke danau yang dingin. Anak-anak ikan banyak yang tertarik masuk ke dalam sungai air hangat. Berkerimit di bawah permukaan air. Tentu saja dengan riang saya menangkapinya dan kemudian melepaskannya kembali ke danau.

Akibat letusan-letusan yang terjadi, sebagian wilayah di desa saya juga tertutup dengan batu cadas yang keras. Tapi saya senang berjalan-jalan di atasnya. Memikmati angin sejuk yang berembus dan bunga-bunga Padang Kasna (edellweiss) yang bermekaran putih teranggguk-angguk di tiup angin.

Danau batur, merupakan danau terluas di Bali. Memiliki luas  16,05 km persegi dengan kedalaman 60 meter. Danau dikelilingi oleh bukit yang merupakan dinding kaldera di bagian timurnya, memberikan suguhan pemandangan yang luar biasa indahnya. Seringkali ketika malam bulan purnama,  permukaan danau ini menyuguhkan pemandangan yang spektakuler. Cahaya rembulan seolah-olah terpantul dari permukaan cermin raksasa membiaskan cahaya terang benderang kembali ke angkasa. Nah, siapakah yang tidak tergiur membayangkan diri sedang duduk di atas batu cadas, menikmati pemandangan indah & romantis  danau ini di malam bulan purnama sambil duduk berpelukan dengan kekasih tercinta? Sementara angin yang sejuk menebarkan bau bunga-bunga edelweiss ke udara?

Desa Songan juga merupakan lokasi dari sebuah pura penting di Bali, yakni Pura Ulun Danu Batur. Pura yang letaknya di ulun (hulu) danau Batur ini diyakini merupakan sumber kehidupan dari masayarakat Bali, khusunya para petani.  Bagaimana tidak, air danau ini diyakini telah mengairi ribuan hektar sawah dan subak di wilayah Bali. Sehingga tidak heran, pada setiap bulan Purnama Keempat, masyarakat Bali termasuk para pembesar kabupaten masing-masing berbondong-bondong datang ke pura ini untuk melakukan persembahyangan, bersyukur dan berterimakasih atas sumber kehidupan itu. Sebenarnya masih ada beberapa pura penting lagi yang berkaitan erat dengan sejarah Bali, juga  berlokasi di wilayah desa itu.

Itulah sekilas mengenai Desa Songan, di kecamatan Kintamani, kabupaten Bangli di Bali. Sebuah desa di tepi danau, darimana saya berasal. I love Songan!.

About these ads

74 responses »

  1. Nice…..
    Saya masih ingat waktu kesana k rumah teman,makan be jair dgn kuah jukut undis ,,,,
    Memang bhs aslinya susah d mengerti, masih butuh penterjemah hehehe

  2. Waduh Songan begitu indah Mbak Dani. Kalau aku jadi anak desa sana, kebayang deh tiap pagi ngikutin bapak nangkap ikan di danau. Atau kalau merantau terus pulang kampung lalu pesan ikan danau..Terus alamnya tampak begitu subur ya..Beruntungnya kita punya kampung halaman yah Mbak hehehe..

    Oh meski sama-sama orang Bali, ada perbedaan bahasa juga disana ya? Apakah Songan termasuk desa yg disebut orang Baliaga, Bali asli?

    • sekarang saya tahu itu indah. Dulu waktu kecil dan berada di sana, belum mengerti bahwa ternyata tempat itu indah.
      Iya,Mbak Evi. Orang-orang mengelompokkannya ke dalam Bali mula/Bali aga. Bahasanya memang berbeda. Saking bedanya, barangkali saya bisa menerbitkan sebuah kamus Bahasa Songan he he..

      • lumayan indah juga mb Ni…….aku ingat di kampungku itu ada jembatan besar yang dibawahnya mengalir air yg cukup deras, kadang aku suka menikmati pemandangan dari atas jembatan tsb dan melihat aliran air dibawahnya…..

      • Ya.. kalau kita tulis tentang keindahan kampung kita, paling tidak kita membuat orang lain tahu akan keindahannya he he..
        Soalnya, aku pikir sebenarnya banyak lho tempat/kampung yg indah. tapi karena kurang publikasi, jadi nggak ada yag tahu..

    • Danau Baturnya kenapa? Ya..danaunya besar sekali dan menurut saya sangat indah. Cuma barangkali karena danau vulkanik, ya..tidak digunakan untuk berselancar air dan sebagainya.
      Kalau dari Bandung kalau lewat udara terus nyambung darat kira-kira 2 jam + 1.5 jam = 3,5 jam (pesawat langsung ya). Kalau lewat darat- nyebrang selat Bali + darat lagi, kira-kira 25 jam + 1,5 jam = 26,5 jam. Kalau jalan kaki..nah itu dia… Belum pernah coba he he..

  3. Pemandangannya menyejukan dan alam pedesaan seperti ini semoga tidak punah. Dikalimantan sudah ada beberapa lokasi yang dulunya hijau teduh berubah menjadi kebun sawit yang melahirkan panas. Semoga ini tidak terjadi ditempatnya, Ni.

    • Mudah-mudahan sih nggak, Pak. Sekarang juga sebenarnya tidak hijau sekali, karena petani hanya bisa menanam di tanah di selal-sela batu. Karena tanahnya nggak terlalu banyak juga Pak. Sebagian tertutup batu-batu letusan gunung. Namun untungnya, tanah yang cuma sedikit itu sangat subur.

      Oh..memang kebun Kelapa Sawit menyebabkan panas ya pak? Saya pikir itu teduh..

    • Iya,Ko. Ada Gunung, Danau, Bukit, Mata air Panas, Batu-batu cadas dan Ladang sayuran. Tapi sawah nggak ada Ko. Yang terlihat mirip sawah itu adalah ladang bawang.
      Banyak temapt lain di Indonesia yang juga memiliki pemandangan indah..

      • dari dulu bali memang menjadi tempat indah untuk dikunjungi mbak d(^o^”) budaya yang terjaga alam indah nan elok dan masyrakarat yang memang menyenangkan d(^o^”)

        kapan kapan ada kesempatan mesti kesono ah hehehehe d(^o^”)

  4. Mbak Made, saya pernah ke Kintamani dan Danau Batur, tapi nggak tau kalo desa yang ada di daerah itu namanya Desa Songan…indah banget, mbak…entah kenapa cerita dan foto-foto tentang daerah-daerah di Indonesia selalu membuat saya bangga. Bangga menjadi bagian dari negeri tercinta ini, bangga dilahirkan di negara ini…

    Apa kabar, mbak Made?
    Sehat kan? :)

    • Oohh gitu ya Mbak.He he he.. sayang sudah ke sana, tapi nggak tahu nama kampungku hiks hiks hiks..Tapi nggak apa-apa lah. Sekarang jadi tahu,kan Mbak?
      Saya juga sama Mbak. Saya suka melihat-lihat daerah-daerah lain di tanah air. Bangga banget.

      Kabar saya baik, Mbak. Sehat. Terimakasih. Mbak sendiri gimana kbaranya? semoga selalu sehat juga.

  5. Indahnya desa Songan, didukung kecantikan alam dan ketajaman mata pena (eh keyboad) penutur alur ungkap jeng Ade. salut dengan amatan detailnya. salam

    • Iya..
      Ayo dong Ims.. tulis lebih banyak lagi tentang Purbalingga. Biar kita jadi lebih banyak tahu. Mumpung kita memiliki keinginan,kemauan dan akses untukmenulis. Siapa lagi yang kita harapkan untuk mempromosikan kampung halaman kita selain diir kita sendiri he he

  6. Danau Batur itu indah, sayangnya waktu ke sana, saya tidak sampai turun ;(
    cuma menatap dari atas saja.
    besok klo ke Bali lagi, mesti bisa turun ah …
    terima kasih ya Mbak, jadi makin tau deh.

  7. wah memang bali itu layak banget di sebut pulau dewata…
    keindahannya layak dijadikan syuting filmnya julia roberts,
    btw, suka dengan kubisnya Ni…

  8. meski terlambat membaca tulisan diatas, namun sepertinya tidak terlambat juga mengenal (meski sangat sedikit) satu daerah di pulau yang eksotis.

    • Terimakasih banyak, Mas Giy. Jika semua blogger menuliskan kampung halamannya masing-masing, tentu kita semua bisa mengenal lebih dekat daerah-daerah di Indonesia yang sangat beragam dan kaya dengan pemandangan dan masyarakat yang berbeda-beda.

  9. Janiii tegag penulis penyair laja mboke angkot gatiii, tiang ka sai sai mandus di loloni beten punyan poe tegak pekak mbok laja ngelah, makasi mbook banyk berutang lajaaa ken yeh anget di punyan poe, sungguh mbok bangga dgn Songan. klo tiang banggany krn songan penuh filosopi, Songan itu Song, Song itu Sunia/Sunyi. duniapun awalnya Sunyi baru terjadi ciptaan, tiang pun n semua org asalny dr Song. dr Sudut pandang Agama jg sangat luar biasa yg disimbulkan oleh hindu bali sebagai sembah puyung n terakhir jg sembah puyung itu artiny dunia ini awalny kosong/song/sunyi akhirnya akan kmbali lg sunyi, alam semestapun setahun se x di bali sunyi/sipeng/nyepi. dan sangat luar biasa Song itu klo diceritkn dlm konsep yoga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s