Dunia Di Pinggiran Kali.

Standard

Akhir pekan tiba. Alangkah menyenangkannya. Karena saya bisa bermain seharian dengan anak-anak saya. Menemani mereka bermain, atau pun mengajak mereka melakukan hal-hal yang sangat menyenangkan seperti yang biasa saya lakukan semasa kecil.  Bebas merdeka, bisa bersandal jepit dan berpakaian sesukanya. Serta membebaskan diri dari penggunaan bedak dan lipstick. Menjadi diri sendiri apa adanya.

Kali ini saya mengajak anak saya untuk melakukan petualangan di pinggir kali. Kebetulan di belakang rumah saya, mengalir sebuah sungai yang kecil ukurannya di musim kemarau, namun bisa meluap di saat hujan sangat deras. Karena akses ke pinggir kali tertutup, maka saya mengajarkan anak saya untuk meloncat tembok pagar perumahan.

Setelah celangak celinguk sebentar untuk memastikan tidak ada tetangga yang melihat , sayapun akhirnya memanjat dan hup! Melompat dengan cepat dan menjejakkan kaki saya di bantaran kali.

Anak saya pun segera mengikuti langkah saya meloncat. Lalu kami tertawa bersama. Kata anak saya, tentu papa akan marah jika melihat mama melompat pagar seperti ini. “Ya, barangkali…” jawab saya. Melompat pagar memang sama sekali bukan perbuatan yang feminin.

Apa yang bisa dilihat di pinggir kali? Banyak!

Pertama tentu berbagai jenis binatang. Ada banyak sekali binatang yang bisa kita lihat di pinggir kali. Mulai dari burung-burung kecil pemakan biji-bijian yang melimpah, yang dihasilkan dari rumput-rumput yang tumbuh di bantaran kali. Berpuluh-puluh atau bahkan beratus-ratus jumlahnya. Suaranya riuh rendah mencicit dari satu rumpun ke rumpun yang lain. Burung air yang berjingkat-jingkat mencari cacing, ikan ataupun serangga di lumpur juga sesekali muncul lalu terbang lagi.

Lalu beberapa ekor bebek  yang sibuk berenang dan mencari makan sambil menyusuri sungai.

Demikian juga angsa yang berka0k- kaok berbaris di tepi sungai. Sesekali bisa juga kita lihat kemunculan biawak sungai yang berjemur di atas dahan kayu yang tumbang. Atau sedang berjalan di pinggiran sungai. Lalu berbagai serangga yang beterbangan.

Capung berwarna warni yang hinggap di semak-semak dan rerumputan. Kumbang yang asik hinggap mengisap sari bunga dan sekaligus melakukan penyerbukan. Lalu tak berbagai jenis kupu-kupu berwarna-warni sibuk beterbangan dari satu bunga liar ke bunga liar yang lainnya.  Betapa indahnya dunia dibalik tembok perumahan ini. Semuanya tampak sumringah dan menyenangkan di bawah sinar matahari pagi. Hanya satu hal yang saya mesti waspada dan minta agar anak saya berhati-hati jika bertemu ular yang juga banyak berkeliaran di sana.

Dengan melihatnya secara langsung, saya bisa mengajarkan habitat binatang-binatang ini

Tak kalah menariknya adalah tanaman-tanaman, bunga-bunga  dan rumput liar yang banyak tumbuh di bantaran kali. Saya selalu mengambil kesempatan untuk menjelaskan tanaman-tanaman yang saya kenal kepada anak saya. Jenis tanamannya, struktur daunnya, bunga, buah maupun bijinya. Serta kegunaan dan manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari.  Yang mana yang bisa dimakan, dan yang mana yang tidak bisa dimakan. Banyak sekali yang bisa ditemukan.

Mulai dari jenis bayam-bayam liar.

Berbagai jenis tanaman pare yang merambat

Bunga morning glori  berwarna ungu yang kerdil, tampak ramai menutupi tanah.

bunga ruella liar berwarna ungu,

Rumput jali-jali

berbagai jenis kacang-kacangan liar

terung kecil liar dan sebagainya.

Selain itu kita juga bisa sekaligus menjelaskan kepada anak tentang peranan sungai, pencemaran air, banjir, erosi dan upaya-upaya yang bisa kita lakukan untuk menyelamatkan sungai kita.

Sangat mirip dengan buku tematik. Themanya hanya satu, yakni Bantaran Sungai – namun pelajaran yang bisa dikembangkan ke anak-anak banyak sekali. Belajar langsung dari alam, selalu lebih mudah buat anak-anak.

About these ads

22 responses »

    • Mbak Ely, aku malah suka banget melihat apa yang Mbak Ely sering share lewat tulisan, cerita petualangan dan foto-foto… Kayanya dunia dan alam pikir Mbak Ely memang indah sekali..

      Tadi aku dah lihat tulisannya yang memburu matahari… Bener, bagus-bagus banget semuanya. Alamnya, mataharinya dan juga hasil jepretannya..

  1. Auuhhh..geli membayangkan emak-emak melompati pagar tembok, terus diawasi anaknya..Dalam hati si abang pasti ngomong gini, Allllaaaamaakk, emak gue hahaha..
    Beta sungai punya ekosistem sendiri ya Mbak Dhani. Sumber alam yang kaya, yang mestinya kita pelihara, eh kok malah buang sampah di bantarannya. Atau ada saja yg tega menggelontorkan sampah kimia ke dalam airnya. Terima kasih. Dari kemarin aku pusing mencari apa nama bunga ungu yg mirip ruella..Jadi morning glori..Kebetulan aku banyak punya fotonya hehehe…

    • ha ha.. anakku terbiasa melihat kelakuan emaknya yang tidak biasa he he..

      Lah..yang ungu mirip ruellia itu memang Ruellia liar kok, Mbak Evi.. Hanya daunnya saja yang lebih lebar dari jenis Ruellia yang umum ditanam sebagai tanaman hias.
      kalau Morning Glory itu yang ungu juga tapi merambat..bunganya mirip bunga ubi rambat…

      • Aiiihhh..selah lihat..Hahaha..Emang itu ruella liar yah, yang morning glory yg kecil2. Jadi yang berpohon terus bunganya ungu mirip ruella yang aku temukan mesti cari lagi dong namanya..:)

      • Itu yang berpohon justru yang Ruellia aslinya begitu. Tingginya sekitar sepinggang atau sedada kan? Terus yang lebih pendek ditanam sebagai border.. itu jenis yang kerdil (dwarf ruellia) .. kelihatannya dikembangkan dari jenis Ruellia yang berpohon …terus yang berdaun lebar suka kita temukan di pinggir jalan atau di pinggir kali.. ya itu Ruellia liar..

      • Oo..Begitu..Benar yg kulihat itu sekitar setinggi aku (maklum semampai hehehehe) Jadi benaran itu ruella. Makasih Mbak Dhani. Besok2 jadi PD ngasih tahu anak kalau itu bunga ruella..:)

  2. wah ngomongin sungai jadi kepikiran mancing hehe… ada pula pengalaman mancing di sungai yg membuat saya sedikit trauma..

    satu yang pasti, bisa lebih dekat dengan anak dan bisa mengajaknya bermain apalagi sambil belajar, satu kebahagiaan tersendiri ya Made…

      • gini Made saat sedang asyik mancing di malam hari bersama temen, air sungai tanpa di sadari membesar. baru sadar setelah sepatu bot yg di pake tergenang, mendapati gelagat bahaya kamipun langsung memanjat tebing, karena waktu itu mancingnya di bawah tebing. hanya hitungan menit setelah kami semua berhasil naik ke bantaran kali, tiba tiba air sungai membuncah, banjir besar tempat kami mancing tadi seketika lenyap terendam.. andai telat sebentar saja pasti kami semua terhanyutkan oleh derasnya air Made.

      • iya Mde…hehe untung gak ikut ya?
        Alhamdulillah…
        pengalaman waktu itu di satu sisi jadi pelajaran yg berharga di sisi lain meninggalkan trauma juga…

  3. Belajar dengan lebih mudah dan menyenangkan pastinya, mbak…nggak nyangka deh ternyata dari sebuah tempat bernama kali banyak ilmu yang anak-anak kita dapati..bener-bener menyenangkan…

  4. Senangnya bermain di alam melalui pembelajaran langsung, apresiasi Jeng Ade mendedikasikan waktu belajar dan bermain bersama buah hati. Penanggulan sungai dengan karung2 pasirnya apik. Salam

  5. Pingback: Dunia Pinggir Kali II: Mengajak Anak Mengamati Burung Pipit & Burung Peking. | nimadesriandani

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s