Ondel-Ondel Ngamen: Riangnya Seni Pertunjukan Jalanan Jakarta.

Standard

Andani - Ondel-Ondel

Pukul  7 malam, saya menutup pintu ruangan kantor saya. Pulang lebih cepat dan ingin istirahat setelah berhari-hari didera kesibukan yang sangat melelahkan. Dalam perjalanan pulang  saya tertidur. Hingga tak terasa kendaraan yang saya tumpangi sudah melintasi pertigaan Ciledug dan sedikit lagi mendekati Pasar Lembang. Saat itulah saya mendengar suara musik Gambang Kromong yang sangat riang dan jenaka. Sayapun terbangun dan ikut bersenandung dalam hati. Oh rupanya ada grup kesenian betawi yang sedang mengamen.

Sepasang ondel-ondel berbaju biru terlihat sedang menari di pinggir jalan. Yang perempuan wajahnya putih dan cantik, sedangkan ondel-ondel yang laki wajahnya lebih coklat. Jalannya juga lebih cepat. Rasanya takjub melihatnya berada di dekat saya. Bertahun-tahun tinggal di ibukota, baru kali ini saya bisa melihat pertunjukan ondel-ondel secara langsung. Biasanya yang sering saya lihat hanyalah ondel-ondel yang dipajang dan tidak sedang beraksi. Pernah juga sempat melihat ondel-ondel ngamen di pinggir jalan Rawamangun, namun sayang saat itu lalu lintas sedang sangat parah. Dan saya sendiri sedang ada urusan buru-buru saat itu. Susah buat saya untuk mendekat. Jadi kesempatan untuk menonton ondel-ondel itupun hilang begitu saja.

Nah kali ini tentu saya harus memanfaatkan kesempatan dengan sebaik-baiknya.Maka saya meminta tolong kepada pak Supir yang mengantarkan saya untuk minggir sejenak. Agar saya bisa melihatnya dengan lebih dekat. Rombongan kesenian itu terdiri dari sepasang pemain ondel-ondel, beberapa orang pemusik dan pendorong kereta, serta pengumpul dana hasil mengamen. Cukup banyak juga. Mungkin ada sepuluh orang atau bahkan lebih. Ondel-ondel itu berdiri di pinggir jalan. Tingginya lebih dari dua meter. Berjingkrak-jingkrakan dan menari-nari. Gerakannya sungguh menghibur. Sementara pengiringnya sangat bersemangat memainkan alat musiknya sambil berjalan. Mereka sangat berbakat. Sayapun ikut menyawer bersama orang-orang lain. Saya pikir saya layak menghargai pertunjukan seni yang mereka lakukan. Pertunjukan yang berkwalitas untuk sebuah seni jalanan. “Terimaksih, Bu!”. Ucap sang pengumpul dana. Lalu mereka melambaikan tangannya kepada saya.

Rombongan itu terus berjalan melintasi kepadatan lalu lintas. Bersaing dengan mobil, sepeda motor dan gerobak yang melintas. Ondel-ondel itu terus berjalan dan berjingkrak. Beberapa anak kecil ikut mengekor sang Ondel-Ondel. Sementara suara musiknya yang merdu riang terus terdengar di telinga saya hingga jauh. Meninggalkan kebahagiaan dan menghapus kepenatan saya hari ini.

Nyok kite nonton ondel-ondel, Nyok/ Nyok kite ngarak odel-ondel…

Lagu jadul Benyamin S itupun terdengar kembali di telinga saya. Entah kenapa, haru terasa melintas di dada. Walaupun saya tidak terlahir di tanah Betawi, namun saya merasa sangat bangga akan kesenian Betawi ini.  Bangga akan beragamnya kekayaan seni budaya yang ada di tanah air kita. Merasa bersyukur masih ada orang-orang yang memeliharanya dengan baik. Para pengamen ini. Mereka berkesenian untuk mencari nafkah guna mengisi perut. Namun entah secara langsung maupun tak langsung, sadar ataupun tak sadar, mereka telah membuat kesenian Betawi ini tetap hidup dan mencegahnya jangan sampai punah.

About these ads

14 responses »

  1. Kalo di betawi, boneka gede ini disebut ondel-ondel. Kalo di sunda ada istilah “badawang”. Besar juga, seukuran ondel-ondel. Waktu kecil rasanya takut banget melihatnya. Badawang ini dulu suka ada kalau ada pawai-pawai.
    Belakangan istilah badawang ini sudah tidak saya dengar lagi. Disini akhirnya dikenal istilah ondel-ondel juga.
    Oh ya mba, tertarik dg acara cap go meh gak? Info saja, tgl 2 Maret akan dilaksanakan kirab barongsay dari Vihara Widhi Sakti dlm rangka Cap Go Meh.
    Kalo tertarik dg acara menarik ini, datanglah. Saya pribadi sudah lama sekali gak pernah lagi menyaksikan acara cap go meh ini…
    Salam,

  2. Dulu waktu kecil tinggal di kampung sempit di Jakarta sering nonton ondel2 ngamen. Namun sekarang cuma melihat di TMII, itu pun pas lagi beruntung sedang ada pertunjukan. Beruntung deh Mbak Dani bisa berpapasan di tepi jalan :)

  3. Bila di ibukota pertunjukan jalanan mengusung tema ondel-ondel, di beberapa kota di Jateng mengusung tema jaran kepang. Mendekatkan seni dalam keseharian ya Jeng. Selamat menikmati Minggu sore santai bersama keluarga. Btw sy coba kontak via phone koq gagal sambung ya Jeng. Salam

  4. entah kita sebenarnya harus berterimakasih atau tidak, sebenarnya secara tidak langsung mereka telah membantu kita mempertahankan kebudayaan. Sayangnya tidak banyak masyarakat yang mengapresiasi karena sudah banyak kalahnya dengan moderisasi. andai saja pemerintah punya wadah khusus utuk menampung mereka..memberikan tempat yang lebih tinggi..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s