Lintasan Kereta Api.

Standard

Lintasan Kereta ApiSeorang teman pernah bertanya kepada saya tentang hal yang  paling tidak saya sukai, tetapi harus saya jalani setiap hari. Hmm..pertanyaan yang agak sulit. Saya berpikir sejenak dan mencoba mengingat-ingat. Akhirnya menemukan bahwa ternyata  jawabannya adalah “Melintasi rel Kereta Api!”.  Ya! Lintasan Kereta Api!. Entah kenapa saya tidak menyukainya. Padahal setiap hari saya harus melintasinya 2x sehari pada hari kerja, karena kebetulan jalur saya ke kantor, dipotong oleh jalur kereta api.

Yang jelas,  karena saya merasa bahwa Lintasan kereta Api adalah tempat yang sangat berbahaya. Walaupun saya kecil di Bali, dimana tidak ada Kereta Api di sana, namun saya ingat akan sebuah cerita tentang Kereta Api yang saya baca di buku bacaan bahasa Indonesia di Sekolah Dasar. Saya lupa bukunya, kalau tidak salah berjudul “Bahasaku”. Atau kalau bukan, tentu judulnya “Bahasa Kita’ karangan Baidilah Halian dkk.. (saya tidak ingat yang mana  – salah satu diantara 2 buku itulah). Barangkali ada dari pembaca yang seumuran dengan saya ingat cerita itu ada di buku yang mana?

Cerita itu mengisahkan tentang keteladanan seorang tua dan anaknya yang berdiri di tengah deras hujan di pinggir rel kereta di ujung desa, melambai-lambaikan daun talas untuk menghentikan kereta yang ia tahu pasti akan lewat malam itu.  Mengapa ia & anaknya melakukan itu? Karena beberapa ratus meter di depannya ada tanah longsor dan rel kereta terputus. Jika tidak diberi tahu jauh-jauh sebelumnya tentu masinis baru akan melihat tanah longsor itu, begitu jarak kereta sudah terlalu pendek dan tak cukup waktu baginya untuk menghentikan kereta. Karena kereta tidak bisa direm mendadak – begitu kata buku itu – akibatnya, tentu kereta beserta masinis, pramugara dan seluruh penumpangnya akan masuk ke jurang. Akibat usaha bapak & anak itu, maka kereta dan semua orang yang ada di dalamnya akhirnya bisa tertolong. Sungguh sebuah kisah keteladanan yang sangat mengharukan.

Sejak itu saya tahu bahwa kereta api bergerak dengan sangat cepat dan tidak bisa berhenti  atau menurunkan kecepatannya dengan seketika atau mendadak. Jadi, agar membuat kereta berkenti, harus diambil ancang-ancang sebelumnya. Mengetahui hal itu, tentu saja saya tidak berani mengambil resiko menyeberang rel begitu saja. Apalagi jika bunyi aba-aba kereta lewat sudah terdengar dan pintu penghalang kereta sudah diturunkan. Saya sudah pasti akan berhenti dan menunggu dengan sabar hingga Kereta lewat dan pintu penghalang dibuka kembali. Bahkan jika pintu penghalang sudah berfungsi normal kembali, saya tetap menengok ke kiri dan ke kanan  untuk memastikan tidak ada kereta ke dua yang akan lewat.

Namun demikian saya tetap heran dengan banyaknya orang yang sangat gagah berani menyeberangi rel kereta, padahal bunyi aba-aba kereta sudah terdengar dan pintu palang ditutup. “.. ning nong ning nong ning nong … jus jus jus jus ….. prrriiiiiiiit … priiiiiiiiit ……” Kereta Api dengan bunyi sempreng dan berisik itupun lewat. Banyak pengendara motor yang tidak perduli akan keselamatan dirinya atau keselamatan orang yang diboncengnya. Beberapa kali saya pernah melihat pengendara motor yang nyaris tertabrak  kereta, hanya gara-gara nekat menembus rel kererta yang sedang sibuk. Anehnya nggak kapok-kapok juga. Selalu saja ada orang yang melanggar. Demikian juga supir angkot dan beberapa kendaraan roda empat non kemersiil. Sama saja. Entah apa yang dikejar, sehingga tak bisa menunggu barang beberapa menit. Apakah ia ingat akan anak dan istrinya yang menunggu di rumah? Apakah sadar bahwa mereka berharap ia pulang selamat dengan membawa rejeki? Barangkali mereka belum membaca cerita seperti yang pernah saya baca dari buku SD itu? He he..

Ada pemandangan lain yang membuat saya semakin ngeri jika memikirkannya. Di sebuah jalur rel kereta api yang saya lalui ke kantor, terdapat sebuah Sekolah Dasar yang berdiri di pinggir rel kereta api. Suatu kali kebetulan saya baru melintas di sana pada jam istirahat anak sekolah. Dan saya melihat anak-anak SD berhamburan keluar dari sekolahnya dan menuju rel kereta api. Mereka bercanda, duduk-duduk dan menikmati jajannya di rel kereta, seolah rel itu sudah mati dan tidak beroperasi lagi. Walaupun saya tidak tahu persis,apakah pada jam-jam segitu, memang pasti tidak ada Kereta Api yang lewat sehingga gurunya membiarkan saja anak didiknya berkeliaran di sana. Atau jangan-jangan gurunya tidak perhatian pada tingkah laku murid-muridnya yang berbahaya itu. Sayapun lalu membuka jendela kendaraan saya dan berteriak meminta anak-anak itu jangan bermain di rel kereta. Anak-anak itu malah tertawa dan melambaikan tangannya kepada saya.  Aduuuuh!.

Hal lain yang membuat saya juga kurang menyukai perlintasan kereta api adalah macetnya. Setiap kali kereta melintas, sudah bisa dipastikan bahwa jalan itu pasti sangat macet. Seringkali tingkat kemacetannya melebihi lampu merah. Tentu saja kita jadi terpaksa harus membuang waktu beberapa belas atau beberapa puluh  menit di sana. Nah, jadi saya harus memperhatikan beberapa menit itu jika ingin tepat waktu nyampai ke kantor.

Lintasan Kereta Api! Bagaimanapun saya tdak menyukainya, namun tentu saja tempat itu penting bagi kita semua . Tinggal bagaimana kita sebagai anggota masyarakat  berbuat hal-hal yang sebaiknya dilakukan saat kita melintasinya saja- agar tidak membahayakan keselamatan diri kita dan keselamatan orang lain. Ingat-ingatlah selalu, bahwa orang-orang yang kita sayangi menunggu kita di rumah dan tentunya mengharapkan kita kembali dengan selamat.

About these ads

10 responses »

  1. pasti macet ya bun kalau ada perlintasan kereta api, tapi dibeberapa tempat sekarang sudah dibuat flyover untuk mengurangi kemacetan akibat perlintasan kereta api ini

  2. Sama Mbak Dani. Tapi sebelum dirimu mengangkat tulisan ini aku tidak memperhatikan mengapa aku gelisah tiap melintasi rel kereta api. Rupanya aku takut ..Nah yg menghantui aku adalah cerita2 mobil, motor atau orang yg tertabrak kereta..

  3. Dan aku paling benci juga kalo pas lintasan kereta api banyak yang nyerobot gituh.
    Soalnya sering aku temui begitu Mba..
    Kaya yang pada kebelet aja ya,hehe.
    Trus pernahsuatu hari aku ngikot juga menyebrangi lintasan kereta api, apdahal pintunya dah tertutuup..Sumpee Mba kebelet asli, maap2 ya melanggar :P
    Nah udahnya suka ngelamun dan merinding,

  4. Eh, hampir sama mbaaak, saya juga paling tidak sabar kalau disuruh menunggu kereta lewat…jadi begitu lihat ada palang lintasan kereta api, saya langsung deg-degan takut kalau palangnya diturunkan dan ada bunyi ning nong ning nong…hehe

  5. Urutan palang tertutup itu sbb:
    1. Kereta menginjak alat pengirim sinyal yg berjarak sekitar 500m dari perlintasan
    2. Sinyal diterima pos perlintasan dan stasiun terdekat
    3. Petugas perlintasan menutup palang pintu
    4. Kereta lewat
    5. Petugas perlintasan membuka palang pintu dan memberi tahu bhw kereta sudah lewat ke stasiun terdekat (terkadang petugas dari stasiun terdekat yg menanyakan kereta sudah lewat atau belum)
    Jadi ada jarak sekitar 500m antara sinyal yg ‘diinjak’ tsb dgn perlintasan.
    Selang waktu antara palang tertutup dgn kereta lewat, sekitar 1-2 menit tergantung kecepatan kereta melintas.
    Jangan takut kalo palang mulai menutup ketika kita berada di tengah2 perlintasan. Langsung injak gas, dan kabur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s