Tag Archives: Bali

Berpikir Dari Kiri Ke Kanan Atau Dari Kanan Ke Kiri Ya?

Standard

Beberapa saat yang lalu saya sempat menulis tentang kehidupan yang berjalan  seperti buku cerita. Ada bagian awal, bagian tengah dan bagian akhir. Berjalan pada satu jalur yang linear. Walaupun mungkin saja bercabang dan memiliki banyak alternative yang bisa dipilih, namun  kehidupan manusia dan akhir riwayatnya secara garis besar tetap saja berjalan secara linear. Dari Awal ke Akhir.  Mirip sebuah garis. Jika kita menggambar garis, umumnya kita mulai dari titik di sebelah kiri dan berakhir di sebelah kanan. Bukan dari Kanan ke Kiri. Demikian juga garis linear yang  dijalankan manusia.  Umumnya dimulai dari  titik Awal menuju ke titik Akhir. Bukan dari Akhir ke Awal.  Serupa, bukan? Read the rest of this entry

Bunga Soka, freeing mind from sorrow…

Standard

Salah satu bunga menarik yang selalu membuat saya  teringat akan Bali adalah Bunga  Soka. Soka atau Bunga Asoka  atau terkadang disebut juga dengan nama Kembang  Jaum /Kembang Jarum (Ixora spp i.e Ixora poludusa, Ixora coccinea, Ixora javanica etc) memiliki bentuk yang mirip jarum pada saat belum mekar. Jika mekar, maka kelopak bunganya yang kecil berjumlah empat akan terbuka sempurna, memamerkan benang sarinya. Bunga ini menjadi menarik karena setiap tangkai bunga terdiri atas puluhan hingga ratusan bunga kecil-kecil yang jika mekar semuanya membuat ukuran bunga secara keseluruhan menjadi cukup besar. Cukup jelas untuk terlihat diantara kerimbunan daun-daunnya yang hijau.

Bunga ini merupakan salah satu bunga yang umum digunakan dalam persembahyangan selain sebagai bunga potong untuk hiasan meja maupun  sebagai tanaman penghias halaman. Kakek saya menanam  bunga Asoka berwarna putih  di halaman merajan (area tempat sembahyang yang selalu ada di rumah penduduk di Bali). Setiap kali saya berkunjung  ke rumah kakek saya & mengikuti beliau melakukan pesembahyangan pagi,  saya selalu memetik bunga Soka  putih itu.Seperti halnya bunga-bunga yang lain yang bisa dipergunakan untuk persembahyangan, bunga soka berwarna putih dipergunakan untuk penghormatan kepada Dewa Isvara. Sedangkan yang berwarna merah digunakan untuk penghormatan kepada Dewa Brahma, yang kuning untuk penghormatan kepada Dewa Raditya dan seterusnya – semuanya adalah sinar suci dari Tuhan Yang Maha Esa dalam fungsinya masing-masing untuk menjaga keberlangsungan alam semesta beserta seluruh isinya. Penggunaan bunga Soka ini  selain sebagai lambang penghormatan, juga harapan akan tercapainya kedamaian jiwa, jauh dari kesedihan dan derita. Sehingga yang tertinggal hanya kebahagiaan  dalam setiap hati manusia .

Soka sendiri berasal dari kata Asoka, diambil dari nama sebuah taman bunga bernama “Ashoka”   yang sering diceritakan dalam pagelaran-pagelaran Sendratari Ramayana di Bali. Taman Ashoka (artinya bebas dari kesedihan) ini konon sangat indah, dimana Sitha  disembunyikan oleh Rahwana saat diculik dari Rama, suaminya. Rahwana berusaha menghibur dan membuat hati Sitha senang dan betah di taman itu, walaupun tak jua kunjung berhasil.

Tanaman hias berupa perdu ini, umumnya dikembangkan dengan cangkok.  Dipisahkan dari batang induknya ketika akar-akar barunya mulai tumbuh kuat. Membutuhkan sinar matahari yang  banyak untuk membuatnya berbunga. Sering juga dijadikan tanaman pagar.

Welcoming October – Musim Bunga Penuh Warna.

Standard

“Purwakaning/Angripta rum/Ning wana ukir/Kahadang labuh/Kartika, panedenging sari/Angayon tengguli ketur/ Angringring jangga mure//

Sukanya/Arja winangun/Winarna sari/Rumrumning Puspa priyaka/Angoling tangi/Sampuning Riris Sumaru/Mungguhing srengganing rejeng//”.

Saya sangat menyukai Kidung Kawitan Wargasari ini yang umumnya digunakan sebagai pengantar persembahyangan di Bali. Menurut saya sangat indah, bukan saja karena nilai religiusnya yang tinggi dan keindahan melodynya namun juga karena keindahan syair yang tertuang di dalamnya.

Kidung ini kurang lebih menceritakan keindahan yang mengawali hari setelah hujan di  daerah pegunungan dan hutan-hutan sekitarnya. Penuh bunga berwarna-warni  bermekaran dari berbagai jenis (pohon kayu tengguli,bunga jangga, dsb) pada musim bunga di bulan Kartika (bulan ke empat dalam tahun kalender Bali = bulan Oktober di kalender Masehi). Betapa terpukaunya mata melihat keagungan hasil karyaNYA yang sangat mengagumkan ini – alam penuh bunga yang tersebar merata berwarna-warni bahkan hingga di atas batu-batu cadas pegunungan.

Oktober adalah musim bunga. Musim di mana kita bisa melihat puncak keindahan flora. Bukan hanya di Bali, namun saya rasa juga di semua tempat di Indonesia. Cobalah tengok ke kiri kanan kita. Hampir semua tanaman hias mulai berbunga. Bougenvill tampak sumringah, Frangipani bermekaran, Lotus & Teratai mengembang dan sebagainya. Burung-burung prenjak pun riang berloncatan di semak-semak pohon berbunga. Alangkah indahnya Oktober.  Mari kita sambut musim bunga dengan hati riang.

Bunga Matahari Liar: Cemerlangnya Si Kembang Tegalan.

Standard

the rising sun, bless my mind with joy … (Sri Chinmoy)

Bunga Matahari Liar  yang umum juga disebut sebagai Tree Marigold (Tithonia diversiflora) alias Bunga Matahari Semak alias  Kembang Sungenge dalam Bahasa Bali,  adalah salah satu bunga liar yang paling cemerlang, megah  dan meriah yang bisa kita temukan di pagar-pagar tegalan dan  semak belukar. Tak banyak orang yang memberi perhatian pada tanaman ini. Boro-boro untuk dijadikan sebagai tanaman hias cantik berharga di tukang bunga. Tanaman ini  benar-benar  hanya mengandalkan kebaikan alam untuk mampu bertumbuh  dan menghasilkan bunganya yang cantik  tanpa perawatan manusia sama sekali. Kalaupun ada campur tangan manusia, itu lebih berupa penanaman di pagar ladangnya. Atau malah membabatnya  agar tidak menjadi semak belukar besar yang mengganggu. Read the rest of this entry

Makanan Segar Yang Memberi Zat Hidup.

Standard

…berterimakasih  dengan penuh penghormatan kepada alam.. 

yang menyediakan zat hidup untuk membangun jutaan sel dalam tubuh,

 yang tanpa terpikirkan ,  tak henti-hentinya bekerja, 

membuatku  mampu berdiri menyongsong  mentari kehidupan.. 

Saya menemukan sebuah buku yang menarik hati saya di tukang buku loak. Barangkali pemiliknya merasa sudah tidak membutuhkannya lagi, membuat buku itu akhirnya terdampar di tukang loak. Buku itu ditulis oleh  DR. R. A. Nainggolan MA tahun 2001 berjudul Diet & Juice Therapy. Sebenarnya berfokus pada Juice Therapy. Tapi pada bagian depannya, penulis ada membahas mengenai kesehatan,  umur yang panjang dan kaitannya dengan makanan. Read the rest of this entry

Musang Luwak, Penghasil Kopi Premium.

Standard

Dalam suatu kesempatan pulang ke Bali, saya bermain  ke rumah sepupu saya.  Taman samping rumahnya  mirip kebon binatang yang asri penuh tanaman hias dan binatang. Sehingga saya sangat senang nongkrong di situ.  Sepupu saya sangat menyukai binatang. Ada berbagai macam burung , anjing ras, tupai dan  sebagainya. Seingat saya iapun pernah memelihara lutung dan rusa. Yang lebih menakjubkan lagi adalah puluhan  ekor  musang luwak  juga saya temukan dipelihara di sana. Ia dan istrinya sangat telaten memelihara binatang-binatang itu dan menjaganya tetap sehat. Kadang-kadang saya bergurau, barangkali ia lebih cocok menjadi dokter hewan ketimbang saya.

Namun rupanya, musang luwak itu  memang sengaja dipelihara untuk memenuhi kebutuhan produksi kopi  di bawah bendera usahanya ‘Coffee Luwak Harmoni”.  Saya mengunjungi kandang-kandang hewan itu sambil memperhatikan kesehatan binatang itu sebentar. Sungguh binatang yang sangat mengagumkan. Biasanya saya hanya melihatnya pada malam hari, melintas diam-diam di tembok belakang  rumah saya di Bintaro. Kebetulan di belakang rumah saya mengalir sebuah sungai kecil yang di kiri kananya dipenuhi tanaman bamboo yang cukup rimbun.  Kali ini saya bisa memperhatikannya lebih dekat pada siang hari.

Musang Luwak atau Civet (Paradoxurus hermaphroditus) adalah salah satu mamalia yang masuk ke dalam  keluarga Viveridae ( musang-musangan). Secara umum binatang ini bertubuh lebih besar dari kucing namun sedikit lebih kecil dari anjing, berwarna coklat, abu-abu, abu-abu kecoklatan, abu-abu hitam atau putih. Memiliki ekor yang cukup panjang yang membuat binatang ini sebenarnya terlihat cantik dan menarik juga untuk dijadikan peliharaan. Kakinya memiliki cakar.  Namun tidak seperti cakar kucing, cakar kaki musang tidak bisa dimasukkan ke bantalannya. Mata Musang Luwak terlihat penuh dengan bola mata berwarna coklat yang menarik.

Umumnya binatang ini aktif pada malam hari. Berkeliaran didaerah-daerah yang masih memiliki kerimbunan, baik  itu di hutan, tepi hutan, ladang, ataupun di pinggir pinggir  perumahan yang memiliki rimbunan bamboo atau ladang kelapa. Kadang juga bersarang di  atap rumah penduduk yang kosong. Makanannya adalah buah-buahan, serangga, tikus, unggas dan bahkan kadang-kadang dipergoki sedang mencuri ayam peliharaan yang tidak dikandangkan dengan baik. Hobinya memakan buah-buahan yang manis, termasuk buah kopi yang matang dimanfaatkan orang untuk menghasilkan kopi luwak. Kopi Luwak, sangat terkenal dengan kwalitasnya yang tinggi dan dapat kita temui di pasaran dengan harga jutaan rupiah per kg.

Untuk pemeliharaan di rumah, Musang Luwak biasanya akan mulai siap dikembangbiakan pada umur setahun dan umumnya memiliki anak 1- 4 ekor. Berikan minuman & makanan yang cukup baik berupa buah-buahan maupun daging unggas. Bersihkan kandang dengan teratur.  Beberapa penyakit  yang mungkin ditemukan pada Musang Luwak umumnya adalah penyakit yang juga kita temukan pada anjing maupun kucing seperti Distemper dan Rabies serta penyakit parasit. Jika musang terlihat sakit bawalah segera ke dokter hewan terdekat.

Gajah Yang Gadingnya Cacat Sebelah.

Standard

Ketika saya  pulang kampung, saya melihat adik saya sedang  merenovasi bagian depan rumah kami. Walau yang dirombak cuma sedikit, namun tak ayal membuat rumah yang sudah berantakan menjadi semakin berantakan. Penuh bahan bangunan dan debu. Saat itulah saya sempat mendongak  ke langit- langit bangunan Bale Gede peninggalan ayah saya. Bale Gede adalah bangunan traditional Bali yang memiliki saka (tiang penyangga) sebanyak 12 buah, berfungsi untuk melakukan persiapan berbagai upacara, menerima tamu maupun aktifitas harian lainnya. Read the rest of this entry

Bunga Medori, Elok Bagai Rembulan..

Standard

Menyempatkan diri  berjalan-jalan  di tepi pantai maupun di tempat kering lainnya di Indonesia,  maka sering kita temukan  sosok tanaman perdu liar setinggi  1.5 hingga 2 meter yang  berdaun oval tebal seperti  berlapis lilin menari-nari di tiup angin. Bunganya yang sangat indahpun mekar hampir sepanjang tahun.  Berwarna biru atau putih dengan bentuk sari yang sangat unik. Mirip gedung bangunan bertiang empat. Itulah Bunga Medori atau yang  sering disebut juga dengan nama Bunga Benuri, Widuri, Biduri ataupun  Baiduri (Calotropis gigantea).

Saking menariknya bunga ini,  terkadang  namanya pun digunakan untuk menamai anak perempuan. Dan di tahun 70-an kita diperkenalkan oleh Bob Tutupoli pada sebuah lagu yang berjudul Widuri, yang merujuk pada nama seorang gadis,   yakni Widuri yang elok bagai rembulan.

Di Bali, bunga Medori memiliki makna dan manfaat yang jauh lebih banyak diibandingkan dengan tempat lain, mengingat bahwa bunga  Medori ini merupakan salah satu bunga yang  banyak dimanfaatkan untuk sarana upacara keagamaan. Digunakan dalam canang maupun dalam persembahyangan tangan biasa. Nama bunga inipun setidaknya disebut-sebut dalam Kidung Sekar Gadung yang saat kecil sering saya dengar dinyanyikan dalam Sang Hyang Dedari yang bernilai sakral.

‘’Sekar gadung ya sekar gadung/ Sibuh mas, medori putih/

Teleng petak, tunjung biru/ Ketisin Juru Kidunge”

Ada yang menarik lagi mengenai fakta bunga Medori ini, karena walaupun getahnya beracun (bahkan ternakpun tidak mau memakan daun tanaman ini),  namun di berberapa tempat rupanya juga dimanfaatkan  untuk pengobatan berbagai macam penyakit mulai dari penyakit kulit, cacingan  hingga asma.

Gambar Bunga Medori ini saya ambil ketika saya berkesempatan berjalan menyusuri tepi pantai di Sanur, Bali beberapa saat yang lalu. Saya melihatnya sangat anggun gemulai diterpa angin pantai sore hari.

Cuci Mata. Design & Motif Perhiasan Perak Dari Bangli.

Standard

Ketika membawa anak-anak liburan di Bali, saya memanfaatkan kesempatan untuk mengunjungi keluarga saya di Bangli. Bangli adalah sebuah kota kecil di pulau Bali, yang memiliki sebuah banjar yang penduduknya terdiri dari para Pande (pembuat perhaisan emas, perak, peralatan logam, keris dsb), sehingga disebut Banjar Pande. Kebetulan ibu saya berasal dari keluarga Pande, sehingga banyak diantara kerabat saya menjalankan usaha perhiasan ini. Ada yang skala kecil, ada juga yang lebih besar. Ada yang menjadi pembuat, ada juga yang menjadi pedagangnya. Beberapa diantaranya juga menjual perhiasan di tokonya. Read the rest of this entry

Cuci Mata. Menikmati Sumringah Warna Puring Di Taman-Taman Di Pulau Bali.

Standard

 

Bagi sebagian penggemar tanaman puring, tentu setuju dengan sebutan bahwa Bali adalah pulau puring. Bagaimana tidak, kearah manapun mata memandang tanaman berdaun indah ini tampak sumringah menghiasi taman taman kota, hotel, restaurant, taman tepi jalan, tempat tempat suci, tempat pariwisata, kantor pemerintahan  hingga ke halaman rumah rumah penduduk. Sedemikian banyaknya jenis tanaman puring yang menghias taman-taman di Bali, sehingga rugi rasanya jika tidak sempat mengabadikannya dengan kamera.

Tanaman Puring (Codiaeum variegatum) bagi masyarakat pedesaan di Bali adalah salah satu tanaman “Pelawa” yang memang banyak digunakan untuk keperluan upacara adat misalnya menghias penjor, pelengkungan, sebagai alas kwangen, alas nasi jotan  dan sebagainya, selain dimanfaatkan untuk menghias halaman dan taman. Termasuk ke dalam kelompok Pelawa ini adalah semua jenis daun tanaman yang memiliki bentuk maupun warna yang indah, misalnya daun andong, daun suji dsb selain daun puring itu sendiri.

Puring membutuhkan cahaya matahari yang banyak untuk mengoptimalkan kecerahan warna daunnya. Sehingga penanaman di area yang terpapar matahari penuh akan sangat menguntungkan bagi puring. Ada berbagai jenis puring yang mudah kita temukan, diantaranya ada yang berdaun lebar, oval, panjang menjari, keriting, seperti mata panah, dan sebagainya. Demikian juga warnanya sangat variatif dari hijau muda, hijau tua, kuning, jingga, merah hingga ungu. Sapuan warnanya ada yang garis, bintik, membaur  ataupun bergradasi. Namun apapun kombinasinya, selalu terlihat cantik dan menarik. Puring bisa dibiakkan mmelalui cangkok.