Tag Archives: Hidup

The Banyan Tree – Living Life To The Fullest.

Standard

Pohon BanyanAda sebuah pohon yang selalu membuat saya penasaran karena saya sering mendengar namanya, namun tidak pernah melihatnya seumur hidup saya. Konon menurut cerita, itu adalah pohon yang terbesar yang mungkin ada di permukaan bumi. Dahannya rindang, akar gantungnya banyak, yang kemudian semakin berkembang membentuk batang-batang baru yang membesar. Sedemikian perkasanya pohon itu, sehingga dikatakan sebagai rajanya pohon. Bahkan beberapa sumber merefer pohon itu sebagai Kalpataru,walaupun beberapa sumber lain menyatakan bukan. Pohon itu adalah Pohon Banyan (Ficus bengalensis).

Setelah usia saya mendekati setengah abad, akhirnya saya diberi kesempatan juga untuk melihat tanaman itu hidup-hidup.  Walaupun dari jarak beberapa meter saja, karena sore telah menjelang malam. Awalnya saya mengira bahwa pohon Banyan itu sama dengan pohon Beringin (Ficus benyamina). ternyata bukan.  Rupanya cuma bersaudara saja. Daunnya kelihatannya berbeda. Daun Beringin biasanya kecil-kecil, agak kaku dan berbentuk ellips. Namun daun pohon Banyan kelihatannya sedikit lebih besar dan mengkilat, walaupun bentuknya juga ellips.  Batang dan akarnya kelihatan mirip, namun kalau diteliti, rupanya batang pohon Banyan biasanya lebih banyak dari pohon Beringin.  Kenapa demikian? Usut punya usut ternyata perbedaan ini ada sebab musababnya.

Pohon Beringin biasanya tumbuh sebagai batang tunggal yang tumbuh dan membesar, lalu mulai mengembangkan akar-akar gantungnya untuk bernafas dan mencari makan di udara agar bisa tumbuh dengan lebih cepat. Akar-akar gantung ini biasanya tetap menggantung dengan ukuran relatif kecil dibanding batang utamanya. Jarang ada yang sangat membesar. Kalaupun ada, biasanya hanya satu dua dan jaraknya tidak jauh  dari batang utamanya. Sehingga jika kita perhatikan, pohon Beringin biasanya memiliki batang yang sangat besar, dahan yang rimbun penuh dedaunan serta akar yang menggantung banyak dan kecil-kecil.

Pohon Banyan rupanya sedikit berbeda.  Ia mulai tumbuh sebagai pohon kecil, seringkali di sela-sela batang pohon hidup yang lain.  Barangkali karena bijinya disebarkan oleh burung dan jatuh di sana. Ia mulai membesar lalu memiliki akar-akar gantung yang banyak. Nah akar gantungnya ini ada yang tumbuh membesar, melilit tanaman induknya, ada juga yang kemudian tumbuh membesar ke bawah  menyaingi batang utamanya dalam ukuran. Tumbuhnya pun agak beberapa jauh dari batang utamanya.  Sehingga pohon Banyan akan terlihat memiliki banyak sekali batang dan dahan.  Iapun bisa tumbuh menjadi sebuah pohon yang luas. Kebetulan yang saya lihat di tempat itu adalah pohon yang masih muda.  Jadi akarnya yang telah menjadi batang belum terlalu banyak. Namun saya sudah bisa melihat, beberapa diantaranya sudah cukup besar diameternya.

Mengapa saya sangat tertarik ingin melihat pohon ini dengan mata saya sendiri adalah karena cerita yang saya dengar bahwa pohon ini bisa tumbuh menjadi sedemikian besarnya menaungi wilayah lebih dari 1.5 hektar dengan sedemikan banyak batangnya. Sehingga jika kita bayangkan, pohon Banyan yang dibiarkan besar, satu pohon bisa membentuk hutan tersendiri. Cukup untuk menaungi kehidupan satwa liar di bawahnya. Selain itu, pohon Banyan ini juga memiliki banyak kisah, selain merupakan salah satu pohon yang disakralkan di India.

Memandang pohon ini, melihat bagaimana akarnya yang berubah menjadi batang tumbuh dari atas ke bawah (bukan hanya dari bawah ke atas seperti umumnya batang  pohon) membuat kita menyadari bahwa sebenarnya kita sedang diajak berpikir “out of the box ‘ oleh sang pohon. Bahwa dunia ini bukan hanya bisa berjalan seperti bagaimana aturan yang umum berjalan. Namun juga menyediakan berbagai pilihan lain yang selama ini belum berhasil kita lihat.  Kita perlu men’challenge’ diri kita dengan lebih keras lagi untuk mencari pendekatan-pendekatan alternatif yang beda dari biasanya dalam menjalankan kehidupan kita sehari-hari.

Untuk tumbuh dan berkembang dengan optimal, pohon Banyan ini telah melakukan upaya hidup yang sepenuhnya. Telah menjalankan segala kemungkinan cara tumbuh baik dari bawah ke atas maupun dari atas ke bawah. Jungkir balik tanpa peduli. Jalani hidup yang sepenuhnya. Secara maksimal. Living life to the fullest!. Itulah sebabnya ia menjadi sedemikian digjaya. Sedemikian perkasa diantara pepohonan.

Matahari sore bergerak turun. Meninggalkan desauan angin yang seolah bertanya. Apakah kita sudah menjalankan kehidupan kita dengan maksimal? Mengerahkan segala upaya kita? Sudah jangkir balik? Kaki ke tas kepala ke bawah? Habis-habisan? Sebelum kita merasa puas dengan pencapaian kita. Atau bahkan sebelum kita menyerah dengan mengatakan bahwa  hanya sebatas ini kemampuan kita. Jika belum jungkir balik, ikhtiarkanlah lebih kuat lagi. Sehingga semua potensi yang ada pada diri kita termanfaatkan dengan baik. jangan cepat merasa puas akan pencapaian kita, karena mungkin saja masih banyak potensi yang belum kita gali dengan optimal. Dan hanya baru mengatakan menyerah dan tak sanggup ketika kita memang benar-benar telah menjalani semuanya dengan semaksimal mungkin namun tetap tak berhasil.

Saya menoleh sekali lagi kepada pohon Banyan di Vassanthanahalli itu. Mengucapkan terimakasih di dalam hati saya.  Lalu melangkah pergi.

Membangun Kebiasaan Baik.

Standard

Pak SupirSaya sedang ada jadwal mengawasi sebuah pekerjaan yang lokasinya agak keluar kota. Sebenarnya masih agak mengantuk, karena malam hari sebelumnya saya begadang. Namun demi pekerjaan, saya pun memaksakan bangun dan bersiap karena tidak ingin terlambat. Tepat pukul 05.00 pagi, supir yang menjemput saya tiba rumah. Saya masuk ke kendaraan dan langsung berangkat.

Jalanan gelap dan terasa lengang. Kendaraan melaju dengan tenang dan leluasa. Karena tidak ada yang saya lakukan selain hanya berdiam diri dan memandang ke kegelapan di luar jendela, maka saya pun megobrol dengan Pak Supir yang kelihatannya sudah sangat sepuh. Saya menadapat kesan pertama bahwa bapak tua ini sangat santun sikapnya. Ternyata, selain sangat santun,  Bapak Supir tua  ini juga sangat ramah dan rupanya teman mengobrol yang sangat menyenangkan.

Walaupun baru pertama kali bertemu, kami mengobrol seolah-olah sudah saling mengenal lama.   Lama kelamaan obrolan lalu bergeser menjadi ajang curhat si Bapak, dimana saya berperan sebagai  pendengarnya.  Curhatnya terutama berkaitan dengan puteri tertuanya yang menurutnya sudah jauh di atas ambang umur untuk menikah, namun tak kunjung jua menetapkan pilihannya.  Dan adik-adiknya semua mengikuti jejak kakaknya.

Menurut Bapak itu, puterinya lebih senang  menghabiskan waktu dan penghasilannya untuk berpergian keluar kota. Ke gunung, ke laut ataupun ke hutan, memuaskan hobi fotografinya daripada untuk memikirkan pasangan hidup. Sang Bapak sangat mengkhawatirkan masa tua puteri -puterinya, jika sampai akhir nanti tetap juga memilih untuk melajang. “Padahal banyak pria yang mau lho, Mbak. Tapi dia tetap memilih hidup sendiri. Katanya tidak mau nanti hidupnya diatur-atur sama orang laki.”   Terdengar nada khawatir  dan sedih dalam suaranya.

Saya mendengarkan penuturannya dengan baik, tanpa berusaha mencekokinya dengan pendapat saya sendiri.  Saya pikir si bapak hanya ingin didengarkan saja. Bukan digurui. Jadi cukuplah saya dengarkan saja ceritanya sepanjang jalan itu. Saya merasa cukup beruntung juga mendapatkan kesempatan mendengarkan ceritanya. Setidaknya ada hal-hal  yang menarik hati saya dari penuturannya di luar kesedihannya itu. Contohnya adalah tentang  kedisiplinan diri dalam berkomitmen terhadap orang lain dan cara yang ia ambil dalam mendidik puterinya.

Karena hobinya berjalan-jalan membutuhkan biaya cukup tinggi, sering juga  puterinya kehabisan uang di luar kota.

Tiba-tiba saja Mbak, dia itu bisa menelpon dari dekat Gunung Bromo minta dikirimkan uang. Ya, saya sih tidak apa-apa. Tapi bahasanya itu seringnya bukan meminta. Tapi meminjam. Pinjam dulu Pak. Tiga ratus saja!.  Saya kirimkan. Saya tidak mau anak saya kesusahan”  Sang bapak bercerita bahwa setelah itu anaknya lupa mengembalikan.

Saya sering mendengar cerita seperti ini. Orang-orang yang meminta uang, namun mengatakan “meminjam”,  tapi ujung-ujungnya tidak mengembalikan.  Atau awalnya memang hanya ingin meminjam, tapi karena merasa hubungannya sangat dekat, lalu menganggap soal pinjam meminjam itu hanya masalah remeh yang tak perlu dipikirkan. Biasanya itu terjadi dalam kasus pinjam meminjam antar anggota keluarga ataupun teman dekat.  Dan biasanya yang meminjamkan juga mengikhlaskan begitu saja.

Saya sering marah pada anak saya. Kalau yang namanya meminjam itu kan harus mengembalikan. Kalau meminta ya…lain lagi. Tidak perlu dikembalikan. Tapi bilangnya harus meminta, bukan meminjam”.  Ya…saya setuju dengan pendapat bapak itu.

Saya marah bukan karena saya itung-itungan pada anak saya.  Tapi untuk mendidik anak saya dengan baik.  Agar jangan menganggap remeh jika meminjam kepada seseorang. Walaupun itu kepada Bapak sendiri. Nanti ia menjadi terbiasa dengan sikap ini. Meminjam dan tidak mengembalikan. Menganggap remeh lalu melakukan hal yang sama di masyarakat. Kepada teman-temannya ataupun kepada orang lain”. Bapak itu menghentikan kendaraan di depan lampu merah.

 

“Hal-hal kecil yang menjadi kebiasaan kita saat bergaul di masayarakat, itu dimulai dari keluarga. Kejujuran, kebaikan, ketulusan, kebohongan, kejahatan dan sebagainya yang terjadi di masyarakat itu semuanya berawal dari kebiasaan kecil yang tidak diperhatikan terjadi di keluarga” lanjutnya panjang lebar.

Wah… saya terkesan mendengarkan cerita si Bapak. Sangat mungkin terjadi. Saya mencoba memutar ulang kalimat bapak itu yang saya rekam dalam otak saya.  Mendengarkannya kembali, dan mencernanya dalam pikiran saya.  Kebiasaan kecil dalam keluarga yang menentukan sikap dan sifat kita dalam bermasyarakat!.

Soal kebiasaan kecil, si Bapak Supir tua ini juga mencontohkan kepada saya, bahwa beliau selalu ngelap kendaraannya  minimal dua kali sehari. Juga setiap kali keciprat kotoran maupun setiap kali habis hujan. “Biar tidak kotor. Kalau hujan turun lima kali, ya saya lap lima kali. Saya tidak pernah tunda ngelapnya nanti saja atau dibesokin. Saya tidak mau kebiasaan menunda ngelap kendaraan itu akhirnya menimbulkan masalah dan kerusakan yang lebih parah di kemudian hari.”.   Ceritanya. Entah kenapa saya menjadi semakin termenung . Cerita Bapak itu seperti berputar berulang-ulang di kepala saya.

Kerjakan sekarang apa yang bisa kita kerjakan sekarang dan jangan menunda masalah, sebelum akhirnya menjadi besar dan parah”.

 

Dan ketika saya turun di tempat tujuan. Saya melirik kepada kendaraan si bapak yang dipakai untuk menjemput saya itu. Memang terlihat sangat bersih, kinclong dan berkilau.  Sayapun mengucapkan terimakasih.  Dan Pak tua itu mengucapkan selamat bekerja kepada saya sambil tersenyum sumringah.

Sebuah kisah pagi yang sulit saya lupakan…

Pancuran Bambu Yang Terisi Kembali.

Standard

Andani-Pancuran Bambu4Saya mengajak anak-anak berjalan-jalan di sebuah taman. Di dalam taman itu terdapat sebuah kolam berdinding batu alami yang indah walaupun terlihat kurang terawat. Sumber air didapatkan dari sebuah parit, dimana setelah airnya menggenang di kolam yang dangkal untuk beberapa saat, kemudian dialirkan keluar lewat parit yang lain. Yang menarik perhatian anak saya rupanya adalah sebuah pancuran bambu yang bergerak ungkat-ungkit di kolam itu. Dengan segera mereka berjongkok dan mengamati pergerakan pancuran bambu itu. Tertarik akan cara kerjanya sehingga bisa bergerak ke atas dan ke bawah dengan otomatis. Betapa antusiasnya mereka mendiskusikan cara kerja pancuran bambu itu. Read the rest of this entry

Keputusan Penting Dalam Setiap Bab Kehidupan.

Standard

Pelajaran dari sebuah struktur buku.

Beberapa belas tahun yang  lalu, saya membaca sebuah buku petualangan remaja yang sangat menarik perhatian saya. Bukan karena isinya. Tapi karena buku itu memiliki struktur  tulisan yang sangat tidak biasa. Umumnya para penulis buku menuntun pembaca dari halaman  ke halaman melalui cerita yang runut dengan hanya satu pilihan akhir. Entah dengan happy ending ataupun tragis. Terkadang, kita juga menemukan cerita dengan beberapa flash-back. Namun pada akhirnya pembaca akan memahami bahwa kisah itupun berjalan secara linear dengan satu hasil akhir: bahagia atau menyedihkan.

Namun buku lusuh yang saya dapatkan dari tukang loak di pinggir  jalan ini berbeda. Penulis memberikan pembaca beberapa alternative untuk berakhir.  Pada bab tertentu, pembaca tiba-tiba akan dihadapkan pada 2 pilihan yang harus diambil.  A atau B. Misalnya pilihan petualangannya adalah naik pesawat luar angkasa (A) atau berjalan kaki (B). Jika pembaca memilih naik pesawat (A),  maka pembaca akan diminta untuk melanjutkan membaca di halaman tertentu dan cerita akan berlanjut dengan petualangan  dengan segala peluang dan resiko yang dihadapi setelah berada dalam pesawat itu. Misalnya bertemu asteroid , debu angkasa dan sebagainya. Kalau kita memilih melakukan perjalanan darat di planet itu (B), maka kita akan diminta penulis untuk melanjutkan membaca di halaman tertentu yang lain lagi. Dan tentu saja pilihan ini tidak akan membuat kita bertemu dengan asteroid ataupun mahluk angkasa luar. Namun mungkin dengan segala peluang ataupun masalah atau bahkan penjahat asli di planet itu dan seterusnya.

Setiap pilihan awal itupun akan memiliki cabang-cabang pilihan tambahan lagi di bab bab berikutnya. Misalnya nanti akan ada A1, A2 atau A3.  Kita harus memilih salah satu diantaranya. Jika kita memilih cabang A1, maka nanti akan ada lagi cabang pilihan  lagi misalnya A1a, A1b, A1c dan seterusnya dan seterusnya lagi, hingga petualangan kita benar-benar berakhir. Mirip memilih pohon. Setiap pohon memiliki batang. Setiap batang memiliki dahan yang harus kita pilih. Setiap dahan memiliki ranting. Setiap ranting memiliki ranting yang lebih kecil lagi dan seterusnya. Jadi pada akhirnya, semua pilihan yang kita lakukan akan berujung dengan ending yang berbeda beda.  Mungkin pada akhir cerita, kita membaca bahwa kita memenangkan pertarungan dengan gemilang, mungkin juga pesawat kita hancur berkeping-keping, mungkin juga kita mengalami kekalahan dan sebagainya. Dan berbagai macam ending lain lagi sesuai dengan pilihan strategi yang kita putuskan.

Sebenarnya saya tidak ingat persis detail isi cerita di buku itu. Judulnya pun saya lupa. Kalau tidak salah “Petualangan Di Planet Altair”. Atau sejenis begitulah.  Yang jelas ada kata-kata Planet Altair-nya. Karena buku fiksi itu memang  mengambil tempat di planet-planet di tata surya Altair (Bintang Alpha Aquilae).  Sayang buku ini dipinjam seseorang dan tak pernah dikembalikan lagi ke saya. Mungkin karena sudah terlalu busuk. Tapi  tidak apalah. Walaupun tak ingat detailnya, tapi saya toh justru merasa telah mendapatkan intisari pelajarannya. Bahwa,  ‘Ending dari setiap petualangan hidup kita sebenarnya adalah hasil dari rangkaian pengambilan keputusan penting dalam setiap bab kehidupan kita’. Jadi, choose your own adventure!!! Intisari dari struktur buku inilah yang membuat saya tertarik dan tetap mengingatnya hingga sekarang. Angkat topi bagi penulisnya.

Sekarang, walaupun saya tidak tahu  kapan kehidupan saya akan berakhir, namun bila saya flash-back hidup saya sejak lahir hingga hari ini, memang sangat serupa dengan struktur yang  ditunjukkan dalam buku itu.

Kondisi dan posisi saya saat ini adalah hasil dari keputusan yang telah saya ambil pada setiap pilihan hidup yang ada di setiap bab kehidupan. Terus terang saya tak pernah tahu akan begini jadinya. Namun faktanya saat ini saya ada di sini, dalam kondisi kesehatan, keuangan, relationship dan sabagainya seperti saat ini. Tentu saja keputusan itu saya ambil dengan cara yang beragam. Ada  keputusan dengan ikhlas, ada pula keputusan yang terpaksa. Ada keputusan yang besar ada pula yang kecil. Ada keputusan  menyenangkan ada yang tidak menyenangkan. Semuanya!. Mulai soal pilhan makanan, pilhan pakaian, pilihan mempergunakan uang, pilhan mencari uang, pilihan akan pasangan hidup, pilihan pendidikan yang diambil, pilihan pekerjaan, pilihan dalam berteman,  pilhan cara hidup dan sebagainya.

Jika kita paham ini semua, walaupun banyak hal tak bisa kita pilih dalam hidup, namun sebenarnya hidup kita memang banyak sekali mengandung pilihan. Dan banyak dari pilihan hidup itu  sebenarnya bisa kita pikirkan dengan baik dan matang, agar mengantarkan kita mendarat pada halaman kehidupan yang menyenangkan. Walaupun faktor ‘di luar kekuasaan kita  sebagai manusia’ juga cukup berperanan. Walaupun ada juga diantaranya yang memang tidak memberikan hal yang sesuai dengan harapan kita. Apa boleh buat. Jika kita harus memilih dari semua alternative yang buruk, maka pilihlah yang terbaik diantara yang buruk. Setidaknya kita  telah berusaha untuk melakukan yang terbaik.

Jadi, selamat mengambil keputusan penting !.

Tragedi Sandal Jepit Butut – Respect People Disregard To His Frills..

Standard

Suatu hari saya membawa kedua anak saya untuk memesan makanan di sebuah restaurant pizza. Bersama saya ikut seorang teman dan anak-anaknya yang masih kecil. Berhubung restaurant itu ramai dan untuk mendapatkan tempat dudukpun harus menunggu cukup lama, maka saya memutuskan untuk melakukan order dan membawanya pulang saja. Anak-anak setuju dan segera bermain diluar restaurant sambil menunggu pesanan kami siap. Tiba-tiba hujan turun tanpa diduga yang membuat saya agak kaget, karena langit tidak menunjukkan gejala akan turun hujan sebelumnya. Tanpa berpikir panjang, seketika saya lari keluar dan bermaksud mengangkat anak-anak masuk ke dalam restaurant agar tidak kehujanan. Namun rupanya teras restaurant agak licin terkena tetesan hujan, sehingga saya terpeleset jatuh.Oucchh! Sakitnya. Orang-orang banyak yang mengerubung dan melihat kepada saya. Adduuuh.. malunya, mak!.  Saya berusaha segera bangkit dan saat itu tiba tiba  saya menyadari ternyata orang-orang banyak itu sedang melihat dengan pandangan aneh pada… ….sandal jepit butut yang sedang saya pakai!!. O! O!. Saya tertawa di dalam hati tiap kali mengenang mimik wajah-wajah mereka itu. Terutama wajah para pengerubung wanitanya. Wajah yang seolah tidak percaya bahwa saya ternyata menggunakan sandal jepit butut.  Ya.  Sandal jepit! What’s wrong with sandal jepit? Ha ha..

Sesaat setelah itu , ketika saya sudah berdiri tegak kembali dan orang orang bubar sambil berbisik, saya mendengar salah seorang  membicarakn sandal jepit saya.  Teman saya bertanya ” Kenapa memakai sandal jepit butut keluar rumah? Kok nggak malu?. Kan mestinya pakai sepatu atau sandal yang lebih cantik dan gaya..”.

Saya tertawa dan sebenarnya tidak punya alasan yang sangat jelas diluar masalah kenyamanan di kaki.   “Ini kan hari minggu. Saya tidak sedang ke kantor atau menjalankan bisnis yang membutuhkan tampilan busana formal”. Teman saya setuju, tapi ia tetap melanjutkan “ Tapi kan kita perlu selalu terlihat cantik setiap saat walaupun hari libur” katanya mengingatkan. Saya hanya tertawa. Yeahh.. Saya lebih perlu merasakan nyaman, bukan sedang merasa perlu terlihat cantik. Dan sandal jepit butut itu memberikan saya rasa yang nyaman. Haruskah saya menukarkannya dengan sandal gaya tapi bikin kaki kurang nyaman demi untuk ‘terlihat cantik’ dan mengesankan orang lain? Kok rasanya sayang ya. Karena waktu untuk menjadi diri sendiri pun  buat saya sangat terbatas. Karena bekerja, mau tak mau ya harus lebih sering mengikuti tata cara kantor. Apa boleh buat. Namun hari ini adalah hari minggu.  Saya ingin menikmati hidup saya apa adanya.

“Tapi orang lain melihat kita dari tampilan kita. Dari apa yang kita kenakan”. Katanya menasihati. Saya berterimakasih atas perhatiannya. Saya tak menyangkal itu. Bukan hanya itu, bahkan sayapun tahu bahwa orang lain melihat kita dari apa-apa saja yang melekat pada diri kita. Entah itu pakaian, pangkat, jabatan, kendaraan, perhiasan, harta dsb.

Pernah seorang teman bercerita kepada saya, bahwa setiap kali ia bepergian keluar dengan menumpang pesawat udara ia memilih menggunakan jas daripada pakaian casual (tidak perduli itu perjalanan bisnis ataupun untuk berlibur) karena menurutnya ia telah membuktikan & merasakan service dan keramahan senyuman yang jauh lebih baik saat ia menggunakan jas.

Sama halnya dengan pengalaman seorang teman yang lain yang mendatangi sebuah gedung perkantoran di kawasan bisnis di Jakarta. Jika ia datang  dengan Toyota Camry (dan pasti  kendaraan lain dengan harga diatasnya), petugas satpam segera membukakan pintu kendaraan begitu supir berhenti di depan lobby. Esok harinya, ketika sang teman  diantar dengan Toyota Avansa (dan mungkin kendaraan lain yang sekelas atau dibawahnya), petugas yang sama terlihat lebih santai dan menunggunya keluar sendiri dari dalam kendaraan. Nah!. Padahal yang datang itu adalah orang yang sama, dan bahkan dengan kendaraan dari  perusahaan yang sama. Sama-sama Toyota. Memang harganya beda sih…

Saya juga tidak lupa cerita seorang teman yang lain, bagaimana ketika ia kecil dan ayahnya masih aktif di parlemen, rumahnya selalu penuh dengan orang orang yang datang bersilaturahmi. Wah, teman ayahnya banyak sekali. Namun bertahun tahun kemudian ketika ayahnya mulai tidak aktif dan tua, yang datang berkunjung ke rumah hanya sahabat-sahabat baik ayahnya saja yang  selalu setia & memang tidak pernah menginginkan keuntungan apa-apa darinya.

Dan sesungguhnya masih banyak lagi hal-hal lain lagi di seputaran kita yang menunjukkan bahwa betapa masyarakat saat ini memang sangat mementingkan penampilan luar dan embel-embel. Karyawan cenderung bersikap lebih ramah kepada atasan, namun jutek kepada bawahan. Boro-boro mampu menghargai office boy.  Menyapanya pun enggan. Kita sering lupa memandang manusia lain hanya sebagai manusia apa adanya tanpa embel-embel apapun. Bukan harta, bukan jabatan, bukan agama, bukan kasta, bukan golongan, dsb. Yang penting itu orangnya! Bukan pakaiannya.

Ketika kita mampu melihat manusia lain sesuai dengan apa adanya ia sebagai manusia, maka kita akan mampu berpikir dengan lebih adil dan bersikap lebih jujur kepada orang lain. Kita akan merasa perlu untuk tersenyum dan bersikap ramah kepada seseorang bukan karena ia adalah big boss di perusahaan kita, atau karena ia adalah seorang bintang sinetron ternama, namun lebih karena ia adalah manusia seperti  halnya kita yang membutuhkan senyum orang-orang di sekitar kita untuk mencerahkan harinya. Kita tidak pernah memiliki ‘hidden agenda’ dalam setiap hubungan kita dengan orang lain. Semuanya dari hati. Semuanya bersih dan tulus tanpa kepura-puraan. Alangkah indah dan damainya dunia, ketika semua itu bisa terjadi. Menghargai orang lain seperti apa adanya, tanpa mempertimbangkan embel-embel yang melekat pada dirinya. Bukan soal stiletto, bukan soal sandal jepitnya..

Ketika petugas selesai menyiapkan pesanan makanan kami, sayapun segera membayar lalu melangkah keluar dari restaurant itu dengan nyaman bersama anak-anak. Beruntunglah saya menggunakan sandal jepit hari itu, sehingga kaki saya yang agak keseleo tidak menjadi lebih menderita lagi jika harus saya gunakan berjalan diatas sandal wanita dengan hak 7 cm yang pasti tidak senyaman sandal jepit… Fiuuh!

My live is great! My life is brilliant!