Tag Archives: Survival

About Survival Skills.

Standard

Pagi yang sangat indah. Matahari baru saja berjingkat naik dari atap rumah tetangga di seberang jalan. Saya sedang menemani anak saya sarapan bubur ayam di saung yang letaknya di pinggir kolam.  Sedikit rewel dan sangat sulit menghabiskan makanannya seperti biasanya. Saya berusaha membujuknya agar lebih bersemangat. Suap demi suap akhirnya masuk juga.  Namun tetu saja  semuanya itu berhasil karena anak saya makan sambil melihat-lihat ke kolam. Melihat ikan-ikan yang naik, mengangakan mulutnya ke permukaan. Entah karena kelaparan atau menghirup oksigen. Yang jelas melihatnya, bermai-ramai bercuap cuap di permukaan air terasa sangat menyenangkan. Read the rest of this entry

Engkong Setion: Pedagang Kacang Rebus Di Tepi Danau Cipondoh.

Standard

Saya diajak teman-teman saya makan siang di sebuah rumah makan di tepi danau Cipondoh. Sebenarnya agak  ragu, khawatir terburu-buru karena akan ada meeting. Namun di sisi lain sebenarnya sudah lama saya ingin melihat dari dekat tepian danau yang tiap pagi saya lintasi dalam perjalanan ke kantor itu. Kebetulan juga saya sedang membawa kamera.Jadilah saya ikut sambil memastikan kepada teman-teman saya bahwa makan siang harus cepat dan jangan banyak ngobrol. Dengan demikian, saya mungkin masih bisa balik ke kantor on time. Read the rest of this entry

Life – Kekompakan Keluarga Dalam Menyambung Hidup.

Standard

Saya sangat senang berjalan-jalan dan melihat-lihat kehidupan orang lain dan melihat bagaimana mereka menjalankan aktifitasnya dalam rangka menyambung kehidupan keluarganya.  Salah satunya adalah pada apa yang saya temukan di  sebuah pojok jalan di kampung Perigi. Di kampung itu, dari arah Sextor IX menuju Graha Raya Bintaro, terdapat sebuah warung  Kelapa Muda yang sangat ramai didatangi pengunjung. Tempatnya terlihat biasa saja, bahkan sedikit becek pada musim hujan. Namun melihat ramainya pengunjung, saya  mengidentifikasikannya sebagai  warung yang  menjajakan makanan ataupun minuman yang enak.  Maka saya sengaja  berhenti  dan memesan  beberapa buah untuk saya bawa pulang ke rumah.

Bu Lilis, sang pemilik warung dengan sigap mengambil golok dan membelah kelapa. Menampung air kelapa dan daging buahnya yang telah dikeruk di dalam sebuah water jug. Sementara anaknya segera membantu membungkus air kelapa muda dan isinya itu ke dalam kantong plastik bening untuk saya bawa pulang. Tidak lupa ia  membungkuskan cairan gula bening tanpa pewarna dalam kantong terpisah. Ternyata memang sangat enak. Sangat beda dengan warung Kelapa Muda yang lainnya di sekitar daerah itu. Barangkali rahasianya ada pada kepiawaian pemilik warung dalam memilih kelapa dan menyiapkan cairan gula. Tingkat ke’muda’an kelapanya sangat pas – tidak terlalu tipis dan tidak terlalu keras;  dan gulanya murni tanpa tambahan zat pengawet maupun pewarna. Seluruh keluarga saya menyukainya.

Lama kelamaan sayapun menjadi salah seorang pelanggan setia warung Kelapa Muda di pinggir jalan itu. Saya mulai sering ngobrol dan memperhatikan bagaimana keluarga Ibu Lilis itu bekerja. Di mata saya, mereka itu benar-benar sebuah team yang kompak. Ibu Lilis memiliki 2 putra yang sering saya lihat dilibatkan untuk membungkus air kelapa dan daging buahnya yang telah dikupas dan dikerok. Keduanya masih usia sekolah. Saya mengagumi kedua orang anak muda itu.  Di saat saya juga banyak melihat anak-anak seumuran mereka hanya bermain,  ngegang dengan teman-temannya serta tak mau perduli akan kesulitan ekonomi orangtuanya,  mereka saya lihat  dengan tekun mau membantu orangtuanya menjaga warung. Tidak terlihat rasa minder atau keluhan di wajahnya yang belia. Mereka sangat sopan dan terlihat sangat sayang pada bundanya.  Tentu orangtuanya telah mendidiknya dengan sangat baik.

Sang Ibu sendiri bertugas membelah kelapa dan menampung air dan daging buahnya ke dalam sebuah tempat. Sang ayah yang jarang muncul, kelihatannya bertugas melakukan transaksi dengan pemasok kelapa dan bila sedang tidak sibuk, iapun bertugas membelah kelapa membantu istrinya. Tumpukan kelapanya cukup banyak. Taksiran saya, dari jumlah tumpukan kelapa yang menurutnya habis dalam sehari,  ia bisa menjual kelapa  sekitar 50- 100 buah per hari. Mungkin ada variasi yang antara lain dipengaruhi oleh musim kemarau atau penghujan, dan hari kerja  atau akhir pekan. Harga jual untuk kelapa Muda biasa adalah Rp 6 000 per butir, sedangkan untuk kelapa ijo ia jual dengan harga Rp 7 000 per butir.  Jika gross margin dari penjualan di warung kelapa muda itu adalah 50%, jadi bisa kita kalkulasi tingkat keuntungan yang didapat dari bisnis ini.  Not bad!!. Minimal bisa untuk menyambung hidup dan membayar uang sekolah anak.

Luar biasa! Keluarga yang benar-benar kompak. Patut saya acungi jempol. Sayapun ikut doakan kesuksesannya. Dan suatu hal yang saya catat dalam hati saya – ketika kita mau menyingsingkan lengan dan menurunkan hati kita dari ketinggian yang berlebihan, maka pintu rejeki pasti akan selalu terbuka. Semakin banyak kita melihat kehidupan orang lain yang beragam, rasanya semakin banyak pula kita melihat jalan untuk meyambung kehidupan keluarga kita.  Dan semakin banyak pula hati kita dipenuhi rasa syukur dan terimakasih kepadaNYA.

Mengenai Hambatan Dan Peluang – Kisah Jeruk Manis Shantang Daun

Standard

Pada suatu hari saya dan anak saya yang kecil sedang makan jeruk shantang daun yang manis. Saat kunyahan pertama, tiba-tiba saya terkejut karena menyadari baik saya maupun anak saya sama-sama berseru. Setengah berteriak. Apa pasal?

Anak saya berseru “Wahh pahit!! Apes nih, jeruk ada bijinya!!”. Rupanya anak saya mendapatkan jeruk shantang yang ada bijinya dan tergigit tanpa sengaja sehingga ia merasakan pahit di lidah yang tak pernah ia harapkan. Bisa dimengerti. Anak kecil kadang belum menguasai cara memilah biji secara otomatis dalam mulutnya. Adanya biji dalam buah jeruk, ia anggap sebagai hal yang menyusahkan dirinya. Pahit dan merepotkan. Ia ingin jeruk manis tanpa biji. “Big NO! NO! untuk jeruk berbiji” itu pendapatnya. Read the rest of this entry

Jangan Berhenti Belajar..

Standard

Bulan Desember tahun ini  saya memiliki liburan yang panjang. Memberikan kesempatan yang sangat baik bagi saya untuk melakukan hal-hal yang ingin saya lakukan sejak lama. Pertama, pasti menikmati peran sebagai ibu dari 2 anak laki-laki yang sedang tumbuh besar,  lalu pergi ke salon buat merawat diri, merawat tanaman, memasak makanan kesukaan,  pergi ke pasar, pergi ke toko buku , dsb hingga membuat personal blog.  Dan tidak lupa saya memasukkan kegiatan  menambah ilmu apa saja yang berkaitan dengan bisnis, belajar nyetir lagi dan belajar desain grafis ke dalam daftar rencana saya.

Begitu hari pertama libur datang, saya segera melaksanakan rencana saya  sesuai list tersebut. Tiap kali usai melakukan satu kegiatan, saya segera centrang agar saya bisa memfokuskan diri pada rencana kegiatan berikutnya dengan disiplin.  Habis mengikuti business conference saya centrang. Habis mengikuti training business coach saya centrang lagi. Demikian seterusnya. Hingga tibalah pada daftar dimana sekarang  saatnya saya harus mulai belajar menyetir lagi.

Menyetir kendaraan merupakan kelemahan saya selama ini.  Belasan tahun nyaris tak pernah menyetir lagi, membuat saya tak memiliki kepercayaan diri lagi membawa kendaraan.  Terlebih  jika melihat kondisi lalu lintas di Jakarta yang penuh kendaraan motor bersliweran sekarang ini, menambah kegamangan hati saya. Tapi bulan ini saya sudah bertekad harus berani menyetir lagi. Saya tak mau selalu menggantungkan diri saya pada supir. Saya harus mengalahkan perasaan takut saya. Harus  mengembalikan kepercayaan diri saya di jalan raya!.Bagaimanapun caranya. Harus! Harus! Dan harus!. Memikirkan itu, maka saya memutuskan untuk datang ke salah satu sekolah menyetir mobil di bilangan Bintaro, agar dekat dari rumah.

Saat saya datang ke kantor sekolah itu, dua orang penjaga counternya segera berdiri dari duduknya menyambut saya dengan ramah dan mempersilakan saya duduk. Dengan muka berseri seri, salah seorang darinya menyodorkan saya list program, hari, guru, paket peserta – apakah ingin private sendiri atau oke dengan paket bersama peserta lain dan termasuk harganya masing-masing. Setelah melihat list, jenis mobilnya serta harga dan timingnya, saya lalu menyetujui untuk mengambil salah satu paketnya. Sang penjaga counter terlihat senang karena pagi-pagi sudah berhasil mendapatkan klien baru. Segera ia mengeluarkan form dan mengisinya .

Siapa Bu, nama putranya yang akan belajar nyetir? “ tanyanya. Semula saya agak terperangah mendengar pertanyaannya, sehingga ia menegaskannya kembali dengan kalimat lain.

Ini putranya kan ya Bu, yang mau belajar nyetir?” tanyanya dengan polos dan tetap ramah. Lho? Wah, ini salah menebak pasti, bathin saya.

Bukan, Mbaaak… saya yang mau belajar menyetir” Jawab saya kemudian sambil tersenyum.

Ooh.. maaf, Bu. Kirain…” Katanya tersipu-sipu. Lalu segera menanyakan data pribadi saya dan mengisi formulir dengan cepat serta meminta saya membubuhkan tanda tangan di sana.  Saya melakukan pembayaran dan mulai hari itu saya langsung belajar menyetir dan setelah 6 jam pelajaran dalam 4x pertemuan dengan guru saya, saya lalu dinyatakan lulus. Lumayanlah. Sekarang saya mulai pede menyetir lagi. Paling tidak untuk pergi ke pasar atau ke salon yang dekat. Tidak lupa saya centrang lagi rencana kegiatan dalam daftar saya itu.

Usai  menamatkan sekolah menyetir, saya lalu mencari informasi untuk belajar desain grafis. Kenapa desain grafis? Karena sejak kecil saya sangat suka menggambar & melukis. Bertahun-tahun bekerja dengan rekan Graphic Designer di kantor membuat saya gatal pengen juga memiliki kemampuan seperti itu. Tentu saja bukan untuk bersaing dengannya atau mengkudeta  posisinya, namun untuk menyalurkan hobby saya menggambar. Sejak dulu pengen belajar, namun karena kesibukan baik di kantor maupun di rumah, keinginan itu belum pernah kesampaian. Nah sekaranglah saatnya.

Karena tidak tahu tempatnya, pertama saya search di internet terbih dahulu. Tidak saya temukan kursus Graphic Design di daerah Bintaro. Adanya di Kramat Jati. Weh..jauh!.  Lalu saya memutuskan untuk menelusuri jalanan di Bintaro untuk  melihat lihat papan reklame di pinggir jalan, barangkali ada yang memasang pengumuman menerima murid untuk belajar desain grafis. Usaha saya juga tidak membuahkan hasil. Terakhir saya coba masuk ke tempat-tempat kursus biasa. Ternyata banyak diantaranya yang menyediakan jasa kursus computer & Graphic Design walaupun di papan reklamenya tidak ada. Hampir sama dengan di tempat kursus mengemudi, saya langsung dberi penjelasan mengenai paketnya ( programnya apa saja, berapa kali pertemuan, berapa jam dan berapa biayanya) dan lalu saya setuju. Mengingat sebentar lagi libur Natal dan Tahun Baru, petugas administrasi lalu  mengatur  schedule  kursusnya .

Memang putranya  libur sampai kapan ,Bu?”  tanyanya sambil membuka buka kalender. Seketika saya menyadari arah pertanyaannya. Pasti disangkanya saya sedang mendaftarkan kursus buat anak saya. Bukan buat saya sendiri.

Kenapa menanyakan sampai kapan anak saya libur?” Tanya saya sambil tertawa geli.

Loh? Yang mau kursus?” tanyanya sambil heran, sambil memandang saya dengan tatapan tidak yakin.  Saya lalu menjelaskan bahwa yang mau belajar grafis adalah saya, bukan anak saya.  Si Mbak petugas lalu meminta maaf sambil membela diri” Soalnya, yang biasanya ngambil kursus kan anak-anak sekolah atau mahasiswa, Bu..” katanya. Saya jadi ikut tertawa geli  mendengarnya. Namun sempat membuat saya merenung juga. Apakah saya terlalu tua untuk  belajar? Mengapa wanita, atau ibu-ibu , atau orang  seumur saya tidak banyak yang mau belajar menyetir  maupun  menggambar grafis, sehingga membuat saya menjadi aneh kalau mulai belajar di usia ini? Apanya yang salah?

Dua kejadian itu menunjukkan dengan jelas bahwa saya memang dianggap terlalu tua untuk belajar (mengambil kursus). Padahal dalam hati, saya merasa belum tua. Wah.. bagaimana ini?

Kepala saya jadi penuh pertanyaan, mengapa banyak orang cenderung  mengira  bahwa belajar adalah hak & kewajiban orang yang muda  saja, sedangkan orang yang lebih tua dianggap tidak umum memiliki hak & kewajiban itu?. Bukankah  belajar adalah hak & kewajiban sepanjang hayat dikandung badan? Jadi hak & kewajiban setiap orang di usia berapapun. Proses belajar seharusnya tak pernah berhenti hingga kita mati.

Bila mengingat kembali pesatnya perkembangan bayi hingga deawasa saya jadi takjub. Mulai sejak lahir dan tak berdaya, lalu dalam usia hanya beberapa bulan, bayi  mulai bisa tengkurap & menegakkan lehernya,  usia 6 bulan mulai berceloteh,  usia 9 bulan sudah bisa berbicara dan merangkak, lalu umur setahun mulai bisa berjalan, kemudian berlari, bercakap-cakap, bermain, bernyanyi, membaca dan berhitung…dan seterusnya. Lalu tanpa kita sadari tiba-tiba ia sudah menjadi besar dan pintar mendebat kita!. Hanya dalam hitungan beberapa tahun! Alangkah banyaknya ilmu yang bisa dipelajari manusia jika terus  belajar seperti bayi dan kanak-kanak.  Alangkah pesatnya pertumbuhan pengetahuan manusia. Dan pesatnya pertumbuhan itu terus berlangsung selama orang bersekolah.

Dan kemudian apabila kita amati berikutnya, setelah berhenti sekolah,  maka peningkatan pengetahuan orang cenderung lebih lambat,  makin lama makin lambat lagi,  atau bahkan berkurang karena pikun. Jika kita bayangkan perkembangan pengetahuan sejak bayi hingga tua itu, saya rasa sangat mirip dengan kurva dengan garis yang meningkat cepat  diawal hingga usia 22-23 tahun lalu mendatar setelahnya. Mengapa itu terjadi?

Menurut pikiran saya, hal itu terjadi karena setelah usai masa kuliah, orang cenderung berhenti belajar. Orang hanya menyerap informasi secara pasif dan tidak terbuka untuk mengksplorasi hal-hal  diluar pengetahuannya secara  aktif. Penyebabnya tentu sangat beragam, mulai dari tingkat kesibukan yang mulai meningkat untuk mencari nafkah, tidak ada system yang mewajibkan untuk belajar lagi, merasa tidak memerlukan pelajaran lebih banyak lagi, dsb, dsb hingga karena memang tidak pernah memikirkan dan tidak menyadarinya.  Itulah sebabnya mengapa kurva pertumbuhan pengetahuan kita mendatar.

Untuk membuat kurva itu meningkat lagi, maka yang perlu kita lakukan adalah belajar lagi dan terus belajar hingga akhir hayat kita. Belajar apa saja. Hal-hal yang menarik hati kita. Hal –hal yang belum kita ketahui. Atau hal-hal yang menurut kita penting & berguna  untuk memudahkan hidup kita. Apa saja! Tak perlu merasa malu bila harus mempelajari hal-hal yang umumnya dipelajari anak-anak kecil atau yang jauh lebih muda dari kita. Jangan pernah merasa diri terlalu tua untuk belajar. Ilmu itu tiada batasnya. Semakin banyak yang kita tahu, semakin kita tahu bahwa banyak yang belum kita ketahui.

Memikirkan ini saya jadi teringat akan sebuah pupuh Ginada, lagu kanak-kanak yang saya pelajari saat di bangku Sekolah Dasar dulu di Bali. Begini lyrics-nya:

Eda ngaden awak bisa, depang anake ngadanin

Geginane buka nyampat, anak sai tumbuh luu.

Ilang luu, ebuk katah.

Wyadin ririh, enu liyu pelajain

Artinya kurang lebih:

(Jangan pernah mengira diri pintar, biarkan orang lain yang menilai.

Ibaratnya menyapu, setiap saat sampah pasti muncul kembali

Bila sampah bisa kita hilangkan, debupun tetap banyak

Walau telah pintar, masih banyak yang perlu dipelajari)

Sungguh sebuah nasihat bagi kita untuk selalu belajar dan belajar kembali sepanjang hayat. Belajar apa saja. Yang penting belajar!

Jadi mengapa kita  berhenti belajar?

Membalikkan Diri Dari Keterpurukan

Standard

Jika kita perhatikan sekeliling hidup kita, diantara teman, sahabat atau saudara, ada saja diantaranya yang sedang berada dalam keterpurukan. ‘Keterpurukan ‘yang saya maksudkan bisa bermacam macam bentuknya. Depresi, sedih, atau kehilangan gairah hidup. Entah itu karena kehilangan pekerjaan, kehilangan jabatan, kehilangan kebanggan diri, kehilangan orang yang dicintai- orang tua, kakak, adik, suami atau istri, ditinggal kekasih, menderita penyakit tertentu dsb.  Tingkat keterpurukanpun bervariasi. Ada yang bersedih tidak mau bertemu dengan orang lain, ada yang  tidak mau makan selama berhari-hari, ada yang bengong dengan pandangan tidak fokus, pikiran melayang entah kemana dsb. Ada yang cepat pulih kembali, tapi ada juga yang berlanjut hingga ke gangguan jiwa. Tidak jarang kita sebagai orang yang melihat situasi itupun merasa prihatin dan  berusaha keras untuk mengeluarkan  teman itu dari keterpurukannya. Sayangnya, tidak semua usaha yang kita lakukan berhasil dengan baik. Read the rest of this entry

Nyai…Si Nenek Penjual Telor – Pelita Nan Tak Kunjung Padam

Gallery