VASUDHAIVA KUTUMBAKAM.

Standard

Seekor Capung datang ke halaman. Terbangnya sempoyongan mencari tempat istirahat. Mungkin ia terlalu lelah dan mengantuk. Hinggaplah ia di daun pohon pinus yang tinggi dan segera memejamkan matanya.

Sesaat kemudian angin bertiup kencang dan ranting serta daun pinus itu bergoyang hebat. Si Capung terbangun dengan kepala pusing “Hush!. Pergilahlah. Tempat ini terlalu tinggi untukmu” Usir si Pohon pinus.

Dengan sempoyongan Si Capung mencari tempat istirahat yang lebih rendah. Kali ini ia hinggap di bawah daun rumput teki. Begitu hinggap, daun yang lemah itu pun melengkung dan patah. Si Rumput Teki pun menangis “Tubuhmu terlalu berat bagi daunku untuk menyanggamu”.

Si Capungpun pergi dengan merasa bersalah. Terbangnya makin zig zag dan sempoyongan. Sungguh tak mampu lagi ia menahan kantuknya.


Melihat itu, Si Pohon Cabe memanggil “Wahai saudaraku, hinggaplah di rantingku. Beristirahatlah dengan baik”. Si Capungpun segera hinggap dan menggelayutkan tangannya di ranting pohon Cabe dan tidur dengan lelap. Si Pohon Cabe mengawasi dan menjaganya dengan penuh perhatian.


Setelah beristirahat dengan cukup, Si Capung pun bangun. Ia melihat ke sekeliling. Dan baru menyadari jika ia hinggap di ranting mati sebuah pohon Cabe yang sedang sekarat hampir mati karena kekeringan. Kemarau panjang membuatnya kekurangan air. Sebagian dari ranting pohon cabe itu sudah kering dan mati, termasuk ranting yang dihinggapinya.

Lalu bertanyalah ia kepada Pohon Cabe.
“Wahai pohon Cabe, mengapa engkau menawarkan bantuan untukku padahal dirimu sendiri sedang sekarat?”.


Pohon Cabe menjawab, ” Betul aku sedang sekarat, tetapi rantingku yg matipun masih cukup kuat menjadi tempatmu bergantung saat kelelahan. Dan memberikanmu ijin bergantung di rantingku tidak membuatku semakin sekarat. Karena engkau tidak mengambil apapun dari diriku”.


Si Capung merasa takjub dan sangat kagum akan kemurahan hati si Pohon Cabe.

Lalu ia bertanya lagi, “Tapi aku bukan siapa siapamu. Bukan sanak, bukan pula saudaramu. Bagaimana engkau mau begitu saja memberi pertolongan pada mahluk asing yang tidak engkau kenal sebelumnya?”.


“Secara fisik aku memang bukan siapa siapamu. Tetapi semua mahluk yang lahir, hidup dan mati di bumi yang sama ini adalah bersaudara. Kita makan dari tanah yang sama, kita minum dari air yang sama, kita bernafas dari udara yang sama, kita beraktifitas di bawah sinar matahari yang sama. Vasudhaiva Kutumbakam. Semua mahluk adalah bersaudara. Marilah saling menolong. Saling membantu dan saling mendoakan” kata Pohon Cabe. Si Capungpun berterimakasih lalu pamit terbang membubung ke udara.

Saya mengenang kalimat itu. VASUDHAIVA KUTUMBAKAM.
Lalu mengambil bekas air minum saya yang belum habis, dan menyiramkannya ke pohon Cabe.


Pohon Cabe ini telah memberi saya banyak buah dan pelajaran. Saya berterimakasih padanya.

TAT TWAM ASI.

Standard

Seekor ngengat hinggap di tangkai bunga rumput. Bunga yang terdiri atas kelopak, mahkota dan benang sari yang kuning indah serta tangkai yang kuat.

Ia mengambil unsur kehidupan dari dalam tanah dan menyerapnya serta memprosesnya dalam tubuhnya. Dan setiap unsur ini terdiri atas atom yang super kecil , dan setiap atompun masih terdiri dari proton, elektron dan neutron, dan merekapun masih dipecah lagi menjadi partikel quark yg jika dilihat lebih jauh terdiri hanya atas energi yang bergetar terus menerus.

Si Ngengat berpikir, lalu apa bedanya dengan aku? Tubuhkupun terdiri atas sel yang tersusun dari unsur yang sama, atom yang sama, elektron, proton dan neutron yang sama, quark yang sama dan juga getaran energy yang sama.


“Tidak ada bedanya aku dengan dirimu wahai rumput yang berbunga”. Lalu dipeluklah tangkai bunga itu oleh Si Ngengat. Jika engkau bahagia, akupun ikut bahagia. Jika engkau sedih, akupun ikut sedih. Demikian juga jika engkau sehat dan sakit. Aku merasakan yang sama. Begitulah Si Ngengat merasa terhubung dengan Si Rumput.


Saya yang memandangi Si Ngengat dan Rerumputan, ikut merasa terhubung. Terhubung dengan segala mahluk yang hidup di padang rumput itu. Dengan burung burung, pepohonan, dan dengan orang orang yang berlalu lalang. Terhubung dengan seluruh isi kota ini, seluruh penghuni bumi dan alam semesta ini.

Apa bedanya diriku dengan dirimu?. Tidak ada.


Tat Twam Asi.
Aku adalah kamu. 🙏🙏🙏

Memperbanyak Tanaman Melati Air.

Standard
Melati Air

Hari Minggu adalah hari beberes tanaman. Karena hari itu saya punya waktu cukup banyak untuk diri saya dan tanaman saya.

Minggu ini saya beberes di halaman depan, memotong dan membuang daun daun Teratai, Melati Air, Calla Lily, pakis dan tanaman gantung lainnya yg menguning.

Yang menarik adalah tanaman Melati Air (Echinodorus palifolius), tanaman air yang bunganya berwarna putih bersih mirip melati, tetapi tentunya bukan keluarga Melati. Mahkota bunganya sangat halus dan agak transparant, sehingga kita bisa merasakan kelembutan dan jebersihan hanya dengan memandangnya saja sarinya berwarna kuning pucat dan menjadi rebutan serangga penghirup nektar seperti lebah, klanceng, kupu kupu dan bahkan semut.

Kali ini ia banyak sekali memiliki anakan yang tumbuh dari biji biji kering di batangnya. Biji biji kering hasil dari perbungaan beberapa bulan yang lalu itu tidak rontok jatuh ke tanah /ke air. Melainkan tetap menempel di tangkainya. Akibatnya ketika biji ini bersemai, maka anakan tanaman Melati Air ini pun tumbuh di tangkai bekas bunganya. Menarik bukan?.

Anakan Melati Air.

Dalam satu tangkai kita bisa menemukan belasan anakan tanamam Melati Air. Dan jika kita mau memperbanyaknya, tinggal kita stek, potong dan ambil anakannya lalu tancapkan pada media lumpur yang tersedia.

Menanam Melati Air

Anakan akan tumbuh dengan cepat menjadi tanaman Melati Air baru.

Selamat Jalan, Penyair Agustina Thamrin.

Standard
Penyair Agustina Thamrin.

Hari ini saya mendapatkan berita duka kepergian sahabat saya, Penyair Agustina Thamrin ke alam baka. Walaupun saya tahu belakangan ini ia memang dirawat karena sakit, namun kepergiannya tetap saja tak mampu membendung tetes air mata saya.

Saya mengenalnya tanpa sengaja, lewat timeline Facebook seorang sahabat, Penulis Ersa Sasmitha. Kami saling berkomentar dan saya menyukai tulisan tulisannya. Kamipun berteman. Saling mendukung dan memberi semangat.

Dari sana saya sedikit mengetahui dirinya, bahwa ia adalah seorang penyair Kalimantan Selatan yang memiliki latar belakang sebagai seorang instruktur vokal/ paduan suara. Karya karyanya terbit dalam beberapa buku tunggal dan antologi bersama karya penyair penyair lain.

Dan berikutnya juga saya tahu bahwa ia sudah punya cucu dari anak pertamanya. Sungguh seorang Oma yang masih tetap semangat dan enerjik.

Suatu kali di tahun 2017, ia mengundang saya untuk menghadiri pertemuan penyair di Loksado, Kalimantan Selatan yang melahirkan Antologi Puisi Hutan Tropis.

Lah…tapi saya ini bukan seorang penyair. Saya hanya seorang penyuka puisi. “Tapi kan dirimu ini penulis” katanya ditelpon. “Biar ada jua yang menulis tentang Meratus dan Rimba Kalimantan” lanjutnya lagi.”Pasti akan ada banyak sekali bahan tulisan menarik di Loksado” Saya jadi mikir mikir.

Saya tertarik dengan semangat wanita ini. Bersama rekannya Budi, ia ingin sekali mewujudkan forum Sastra Nasional terselenggara di banua. Dan ia benar benar serius mempersiapkannya.

Akhirnya pada bulan Mei 2017, saya meminta ijin cuti dari pekerjaan dan menemui Agustina Thamrin di Banjar. Ia menjemput saya di Bandara. Itu pertama kalinya kami bertemu. Saya mengenalinya dari kejauhan. Ia melambaikan tangsn. Sosoknya yang tinggi langsing, sangat mudah dikenali. Kamipun mengobrol dan ia mengajak kami sarapan Soto Banjar sebelum melanjutkan perjalanan ke Loksado.

Selama di Loksado, ia menemani hari hari kami dengan event event Sastra dan Seni yang sangat menarik. Juga mengajak kami berkunjung langsung ke kampung suku Dayak Meratus, berbincang dengan para tetua adat Meratus. Ia seorang yang sangat ramah dan bersahabat.

Sungguh pengalaman mengikuti ajang sastra yang sangat berkesan yang dituan rumahi oleh para Penyair Kalimantan Selatan termasuk di dalamnya Agustina Thamrin.

Saya tahu itu hanyalah salah satu kegiatan Sastra yang pernah ia jalankan. Masih banyak lagi kegiatan- kegiatan Sastra lainnya yang ia jalani dan ikuti.

Tapi dari semua hal yang saya tahu tentang dirinya, saya sangat terkesan dengan semangat hidup Agustina Thamrin. Walaupun jika dari obrolan serta curhatannya pada saya, banyak masalah yang ia hadapi dan jalani, tetapi ia selalu berusaha kuat dan tegar. Ia tidak mau membiarkan dirinya terjebak dalam kesulitan. Ia tetap berkarya. Menulis dan terus menulis, bercanda dengan dunia. Dan bahkan saat terakhirnya iapun sempat bercanda pada dirinya “Seperti ayam tulang lunak. Diriku tak bertenaga” untuk menceritakan betapa lemahnya diri. Sungguh seorang wanita yang perkasa.

Pernah saya berpikir akan mengambil cuti lagi ingin kembali ke Banjar bertemu Agustina Thamrin. Tetapi dengan kepergiannya ini, tentu keinginan saya itu jadi ikut pupus.

Selamat jalan sahabatku, Agustina Thamrin. Puisi- pusimu akan terus bergema dari hutan hutan Kalimantan.

GUNG GARANTUNG.

Titir tujuh kali malam dibalut dupa.

Tarian menghentak tanah.

Gung aku menari dalam riang riang bumbung malam.

Gung aku memanah langit.

Petir menggodam akar menjadi sungsang tumbang.

Hujan turun menyeringai pada hutan lembab.

Air hitam beraroma payau merendam berpulau pulau.

Gung menyipat hiyang nining batara Maratus.

Penerang hati berselendang bunga bunga dupa dupa.

Nyanyian balai balai diceruk hadat Tambun Bungai.

Gung titir tujuh malam suara mengepung kota kota yang bersimbah darah.

Aku merintih lelah dengan sebatang ranting terakhir.

Kupungut dari rimbunan tulang belulang kematian.

Gung biarkan aku menari Tandik Ngayau menebas perikeadilan yang pupus dan yang lampus.

Banjarbaru, 2017. Agustina Thamrin.

Kisah Pagi Di Sebuah ATM.

Standard

Pagi ini saya terpaksa keluar karena ada keperluan mendesak ke ATM dekat rumah. Mini Market tempat ATM ini sangat sepi. Hanya ada saya, 1 orang SPG dan kasir. Tidak ada pembeli. Tidak ada juga yang sedang mengambil uang atau mengantri. Ah, senangnya. Kesempatan yang jarang, karena biasanya antrian di ATM ini panjang.

Kesempatan ini akan saya pakai untuk bayar listrik dan bayar Iuran Satpam sekalian, selain mengambil uang tunai tentunya. Saya membayar listrik dulu. Lancar. Saya menengok ke belakang. Tidak ada yang ngantri. Aman. Lalu saya mentransfer uang iuran bulanan Satpam. Lancar juga Saya menengok ke belakang lagi. Masih belum ada orang yang ngantri. Jadi aman ya. Saya teruskan kalau begitu.

Sekarang mengambil uang Cash untuk keperluan bayar bayar juga dalam bentuk cash. Saya memasukkan nomer PIN. Sambil menunggu instruksi berikutnya, sudut mata saya menangkap sesuatu.

Tiba tiba ada seorang wanita datang dari arah samping kanan agak belakang saya. Persis di depan ATM Bank lain. Tapi anehnya ia berdiri miring dan melihat ke arah saya. Kelihatannya seperti ngantri ke ATM yang sama dengan yang sedang saya gunakan.

Bukan ke ATM Bank lain yang ada di depannya “Ooh ok. Mungkin mau ke ATM ini….tapi kok ngantrinya di situ ya” bathin saya sambil berusaha cepat cepat menyelesaikan transaksi yang terakhir. Harusnya kan ia berdiri di belakang saya ya dg jarak +/- 1 meter. Tapi oke lah.

Tapi astaga!!!. Ternyata mesin ATM ini kehabisan uang. Dia tidak bisa melayani pengambilan uang untuk saya. Waduh.. gimana ya. Saya lagi butuh banget. Akhirnya saya coba lagi masukkan nomer PIN saya lalu menoleh ke orang yang sedang ngantri itu dan kasih kode ringan minta maaf karena saya mau coba ulang lagi mengambil uang dengan jumlah yang lebih kecil. Siapa tahu bisa. Wanita itu tidak menjawab kode saya karena lagi sibuk membuka dompetnya. Sayapun melanjutkan kegiatan saya.

Tiba tiba orang itu maju dan berdehem kencang “hemmm!!!”. Saya kaget dan menoleh. Waduuuh. Walaupun wajahnya tertutup oleh masker dan kerudung, tapi sorot matanya yang tajam kelihatan kalau ia marah dan tidak suka pada saya. Saya merasa nggak nyaman.

Lalu saya jelaskan padanya bahwa mesin ATM ini tidak mengeluarkan uang. Dan transaksi pengambilan uang saya tadi gagal. Jadi saya coba ulang dengan ukuran yang lebih kecil. Mohon pengertiannya juga.

Wanita itu tidak menjawab. Kelihatan masih tetap kesal pada saya. Saya tetap melanjutkan usaha saya untuk mengambil uang. Dan ternyata tetap tidak keluar juga. Ya sudah. Saya menyerah. Mungkin duit di mesin ATM ini memang habis.

Sayapun berlalu. Mengambil pasta gigi dan pembalut lalu membayar di kasir dengan sisa uang yang sebelumnya menang ada di dompet. Sambil menunggu kasir, saya menoleh ke mesin ATM di mana wanita tadi masih berdiri. Kedengaran ia mengomel sendiri dan mengetuk- ngetuk mesin ATM dengan jarinya dengan tidak sabar. Berulang ulang. Dengan tidak sabar. Saya lihat Mbak Kasir pun menoleh sebentar ke orang itu, lalu melanjutkan kembali pekerjaannya. Dalam hati saya heran. Kan memang uangnya habis. Sudah saya kasih tahu sebelumnya. Tapi ia tidak menggubris. Mana bisa uangnya keluar. Ditendangpun mesin ATM itu jika nemang uangnya habis, ya tetap tidak akan mengeluarkan uang.

Beberapa saat kemudian, orang itu keluar dari toko. Ia lewat di belakang saya karena posisi kasir di dekat pintu. Dan entah kenapa pula, saya kok refleks menoleh. Apesnya, rupanya ia juga sedang melihat ke arah saya. Tatapan matanya marah dan mengancan. Lho?!. Saya jadi bingung dan heran dengan orang ini. Maksudnya apa ya kok jadi marah besar ke saya gitu?. Untungnya ia keluar setelahnya.

Saya menarik nafas panjang dan menghibur diri saya agar tidak terlalu galau. Rasanya memang sangat tidak nyaman diperlakukan begitu. Saya menelisiki perbuatan saya, barangkali ada kesalahan saya yang telah saya perbuat yang membuat orang lain sampai sedemikian marahnya kepada saya.

1/. Mungkin dia marah karena saya kelamaan di mesin ATM. Saya melakukan 2 x transaksi non tunai dan sukses, lalu2 x transaksi tunai tapi gagal karena uang tidak ada. Saya melakukan multiple transaction karena sebelumnya toko itu sepi. Tidak ada yang ngantri di ATM. Dia muncul saat saya melakukan transaksi non tunai yg gagal itu. Lalu marah karena saya mencoba mengulang lagi. Padahal kan saya sudah ngasih kode minta maaf karena saya harus nengulang transaksi lagi. Dianya sendiri tidak merespon.

Ya… kalau saya cari cari kesalahan saya, mungkin dalam hal ini saya ada setengah salah juga. Mungkin harusnya, saat transaksi saya gagal, saya berhenti dulu, mundur dan mempersilakan dia dulu dan saya mengantri di belakang dia. Jadi untuk kasus ini saya kasih score kesalahan saya 50%.

2/. Mungkin dia marah karena uang cash tidak keluar setelah ia coba coba beberapa kali. Lah ?? Ini jelas bukan kesalahan saya. Kan tidak mungkin uang itu habis karena saya yang mengambilnya semua dan tidak menyisakan untuk dia. Lah, siapa pula saya ini, sisa uang di kartu ATM saya juga tidak seberapa. Selain itu sayapun gagal juga mengambilnya. Dalam kasus ini saya yakin kesalahan saya 0%. Lalu mengapa dia marah?

Ah!!!. Saya merasa capek memikirkannya. Rasanya tidak bisa saya jelaskan dengan akal sehat saya. Saya tidak kenal orang itu sebelumnya dan ia cuma lewat sepintas lalu dalam hidup saya. Mengapa saya biarkan ia merusak kebahagiaan hidup saya.

Mari kita pikirkan hal hal lain yang lebih membuat hati bahagia” ajak saya kepada diri saya sendiri.

Terong Belanda.

Standard

Terong Belanda (Solanum betaceum), adalah salah satu buah yang cukup populer untuk dibuat campuran jus. Atau dijus langsung tanpa campuran apapun. Rasanya lumayan enak, seger sedikit manis dan kecut bernuansa rasa terong.

Di daerah Kintamani, tanaman ini cukup banyak dibudidayakan penduduk. Kita bisa menemukan buah ini dijajakan oleh pedagang buah di daerah Penelokan. Tetapi di Jakarta saya menemukan buah ini di Supermarket Hari- Hari. Saya beli sebungkus yang isinya 10 biji.

Buahnya saya jus, ditambah sedikit gula

Dan sisanya saya ambil bijinya untuk ditanam.

Kupu-Kupu Dalam Bahasa Bali.

Standard

Sama dengan di daerah lain di Indonesia, di Bali Kupu Kupu juga dianggap sebagai mahluk yang sangat cantik dan menarik perhatian kita, terutama anak-anak. Akan tetapi, untuk menjadi Kupu-kupu, mahluk ini harus melalui beberapa fase kehidupan terlebih dahulu. Nah apa bahasa Bali dari Kupu kupu, ulat dan kepompong ?

Kupu kupu Junonia – gbr dari nimadesriandani@wordpres.com

1/. Kekupu/Kupu Kupu = Kupu Kupu. Secara umum orang Bali menyebut Kupu-Kupu sebagai Kupu -kupu juga, dan biasanya disingkat dengan Kekupu. Umumnya jenis kupu-kupu tidak diberi nama khusus, hanya tergantung warnanya saja. Misalnya Kupu-kupu Putih, Kupu-kupu Pelung ( Kupu-kupu Biru), Kupu-kupu Kuning, dsb.

Kupu kupu Barong – gbr dari nimadesriandani@wordpress.com

2/. Kupu Kupu Barong = Rama Rama. Kupu- kupu Barong adalah Kupu kupu superbesar alias Rama- Rama yang sekarang mulai langka keberadaannya.

Ngenget

3/. Ngenget = Ngengat/Moth. Ngenget adalah sejenis kupu kupu yang sayapnya selalu terbuka dan antenanya berbulu. Biasanya aktif di malam hari. Kata Ngenget, sering tertukar dengan kata Ngetnget, yang berarti binatang kecil yang merusak barang barang yang terbuat dari kertas, lontar, kain.

4/. Uled = Ulat. Tentu semuanya tahu, ketika telur Kupu-kupu menetas menjadi Ulat.

Bijal gadang

5/. Bijal = Ulat besar tidak berbulu. Biasanya merupakan ulat dari Kupu kupu besar dan Rama Rama. Misalnya Ulat Kupu kupu jeruk, disebut dengan bijal.

6/. Geeng = Ulat Bulu, sangat gatal jika kena kulit.

Kacut alias Kepompong

7/.Kacut = Kepompong, adalah fase peralihan antara ulat dengan Kupu-kupu.

Nama Binatang Peliharaan Dalam Bahasa Bali. Part 2.

Standard

Sebelumnya saya sudah nenuliskan nama nama binatang (Ubuhan) dalam Bahasa Bali Part 1. Tetapi dalam tulisan itu hanya memuat 10 nama Binatang saja, yaitu Ayam, Anjing, Kucing, Bebek, Babi, Sapi, Kuda, Kerbau, Burung dan Kambing. Sementara jumlah bintang yang umum dipelihara manusia kebih dari 10.

Nah berikutnya adalah 10 nama bintang peliharaan lagi dalam Bahasa Bali.

1/. ANGSA / SOANG = ANGSA. Angsa dianggap sebagai binatang yang indah di Bali. Sering dianggap sebagai mahluk suci symbol dari ilmu pengetahuan.

2/. KIRIK/ KUIR = ENTHOK. Ini adalah sejenis bebek yang pendek dan lehernya pun rendah. Ketika berjalan pantatnya egal egol ke kiri dan ke kanan.

3/.KELINCI = KELINCI.

4/ PUUH = BURUNG PUYUH. Banyak ditemukan liar di ladang, tetapi banyak juga yang dipelihara/ diternakkan manusia.

5/. MARMUT = MARMUT.

6/.KAKUA = KURA KURA.

7/.KEKER = AYAM LIAR JANTAN.Yang betina disebut dengan Kiuh.

8/. LANDAK = LANDAK.

9/. SEMAL = TUPAI.

10/. OMANG – OMANG = KELOMANG