Lukisan ” Barong Brutuk” karya Ni Made Sri Andani.
Catatan Perupa: “Barong Brutuk”
Ada sesuatu yang selalu membuat hati saya bergetar ketika berbicara tentang Bali yang purba. Tentang warisan budaya yang lahir jauh sebelum semua menjadi ramai dan modern seperti sekarang. Salah satunya adalah Barong Brutuk, pertunjukan kuno dan sakral yang hanya ada di Desa Trunyan, di tepi Danau Batur yang sunyi dan magis. Dipentaskan setiap 2 tahun sekali, saat prlurnama kapat di Pura Pancering Jagat.
Topeng-topeng tuanya, ada sekitar 21-23, tampak sederhana, tapi menyimpan daya spiritual yang begitu kuat. Para penarinya mengenakan busana dari daun pisang kering, bergerak dalam irama yang terasa seperti doa yang hidup. Tarian ini diyakini bisa menyembuhkan dan menyeimbangkan alam, sesuatu yang saya rasa sangat relevan dengan dunia kita sekarang yang sering kehilangan keseimbangannya.
Saat mulai melukis Barong Brutuk, saya tak hanya berusaha meniru bentuk atau warnanya saja. Saya mencoba menangkap napas kehidupan dan energi sakralnya, keheningan Trunyan, udara dingin Kintamani, dan getaran magis yang seolah melingkupi setiap gerakan sang penari.
Lukisan ini lahir dari rasa kagum sekaligus kerinduan saya pada Bali yang dalam, Bali yang masih menyatu dengan alam dan keyakinan leluhur.
Melalui karya ini, saya ingin anak-anak muda Bali bisa melihat dan mengenal kembali warisan mereka, bukan hanya lewat upacara, tapi juga melalui karya seni yang bisa mereka rasakan di hati.
Saya juga ingin menyampaikan terima kasih kepada adik saya Gede Partha Wijaya, fotografer yang karyanya menginspirasi saya. Dari hasil jepretannya, saya bisa merasakan dedikasi yang luar biasa. semangat untuk menjaga agar budaya kita tidak hilang ditelan waktu.
Lukisan Barong Brutuk ini, saat ini sedang dipamerkan di Perpustakaan Nasional hingga tanggal 10 November 2025.
Saya dan beberapa kawan pelukis ASPEN di pembukaan pameran tunggal Kembang Sepatu di Amuya Gallery. Foto NMSAndani
Hari Jumat lalu, seusai menghadiri acara pembukaan Springhill Art Exhibition, saya lanjut menghadiri pembukaan pameran tunggal seniman Kembang Sepatu, di Amuya Gallery, Kemayoran, Jakarta.
Pameran yang dikuratori oleh A.Dimas Aji Saka dan melibatkan sekitar 43 buah lukisan ini bertajuk ” TAPAK MERDEKA” yang jika kita interpretasikan adalah jejak perjalanan sang seniman Kembang Sepatu di dunia seni lukis yang bebas merdeka tidak terikat pada kaidah-kaidah tertentu yang harus membelenggu kreatifitasnya dalam berkarya.
Kembang Sepatu yang dikenal sebagai Ketua Umum Asosiasi Pelukis Nusantara (ASPEN), selain memiliki kekuatan managerial dalam menyelenggarakan berbagai pameran lukisan dan memiliki network yang sangat baik, adalah seorang seniman dengan karya-karya yang sangat membumi. Berkisah tentang hal-hal atau benda-benda sehari-hari yang sepintas tampak simpel namun dibaliknya menyimpan segudang cerita yang ia ungkapkan dalam bentuk visual kontemporer yang sangat menarik untuk disimak. Walhasil jika kita mengamati lukisan-lukisannya, semua sarat dengan makna yang dalam.
Janji Suci, karya Kembang Sepatu di Amuya Gallery yang membuat kita merenungi makna dari kesepakatan perjalan sepasang manusia.
Ada suatu masa ia bercerita tentang berbagai kisah yang diwakili oleh Sandal Jepit. Mulai dari kisah sepasang sendal jepit yang ia beri judul Janji Suci. Melihat lukisan ini membuat kira jadi merenung, tentu saja bukan merenungi sendal jepitnya, tetapi merenungi makna dari janji suci sepasang manusia yang seia sekata bersepakat untuk mengarungi perjalanan hidup berdua hingga waktunya tiba harus memisahkannya. Sungguh mengharukan.
Lalu ada lagi lukisan yang menunjukkan sepasang sendal jepit berjalan ke satu arah, sementara tampak selembar uang ratusan berjalan menuju arah yang berlawanan. Wk wk wk.. lukisan yang berjudul “Bersimpang Jalan” ini sungguh sukses mewakili perasaan banyak orang saat ini 🤣🤣🤣
Seniman Kembang Sepatu di depan karyanya “Bersimpang Jalan” di Amuya Gallery. Foto NMSAndani
Lukisan lain tentang sandal jepit adalah lukisan yang berkisah tentang penyu laut yang terbelenggu oleh jaring nelayan sementara di paruhnya tersangkut sandal jepit yang putus. Sangat mengenaskan. Tapi lukisan ini menggambarkan realita kehidupan dimana sampah dan keserakahan manusia mengancam kedamaian mahluk hidup lain di sekitar kita, termasuk biota laut.
Masih banyak lagi lukisan-lukisan Kembang Sepatu yang menggunakan Sendal Jepit sebagai metafora yang mewakili ide dan gagasannya.
Sebagian dari lukisan Kembang Sepatu di pameran “Tapak Merdeka” di Amuya Gallery
Tetapi jika disimak lebih jauh, lukisan Kembang Sepatu sebenarnya tidak melulu tentang Sendal Jepit. Banyak karyanya yang bercerita tentang hal-hal lain dan menggunakan benda lain sebagai obyek lukisannya. Misalnya ada lukisan yang berkisah tentang Kolo Bendu, Hanuman, para ksatria Nusantara, cangkul, sepeda dan lain sebagainya. Semuanya membawa kisahnya masing-masing yang menarik untuk disimak. Jadi kita memang harus datang langsung ke pameran untuk dapat melihat lukisan-lukisannya yang sarat makna dan menikmati cerita yang disampaikan dengan artistik secara visual.
Sebagian dari karya Kembang Sepatu di pameran Tapak Merdeka di Amuya Gallery.
Pameran ini juga diselenggarakan sebagai kado ulang tahunnya yang ke 53 bulan Oktober ini dan sekaligus menjadi perenungan atas perjalanannya , dedikasinya dan konsistensinya di dunia seni rupa. Sungguh keren.
Satu hal yang sangat saya kagumi dari kekaryaan Kembang Sepatu adalah jejak-jejaknya yang konsisten, tak mudah menyerah seperti yang ia sendiri perlambangkan sebagai sebuah perjalanan sandal jepit.
Pemeran tunggal Tapak Merdeka ini dibuka oleh Dr Dadam Mahdar S.Sos., M.Hum, Direktur Seni Rupa dan Seni Pertunjukan Kementerian Ekonomi Kreatif Republik Indonesia dan dihadiri oleh para seniman yang bergabubg dalam Asosuasi Pelukus Nusantara (ASPEN) dan tamu undangan lainnya.
Kembang sepatu dan keluarga bersama Bpk Dadam Mahdar dari Kementrian Ekonomi Kreatif di Amuya Gallery.
Tampak diantara hadirin keluarga sang seniman, istri dan putra putrinya yang tampak sangat mendukung kegiatan keluarganya. Bahkan di acara pembukaan pameran ini, Indira putrinya yang cantik mempersembahkan sebuah tarian yang berjudul Cupang Ngibing yang sangat indah.
Ayo teman teman, kita berkunjung ke Amuya Gallery untuk melihat pameran lukisan ” Tapak Merdeka ” ini secara langsung. Pameran berlangsung hingga tanggal 26 Oktober 2026.
Suasana pembukaan paneran tunggal Novandi yang ke 6 “MIRACLE” di Galeri Darmin Kopi. Foto NMSAndani
Seniman Novandi menggelar pameran tunggalnya yang ke 6 di Galeri Darmin Kopi, di Duren Tiga, Jakarta Selatan dari tanggal 6 -17 September 2025.
Pameran yang berjudul ” MIRACLE” ini, menurut saya sangat unik dan menarik, membuat kita jadi ikut merenungi kehidupan dan kesehatan kita serta keajaiban yang mungkin saja terjadi atas kehendakNYA jika kita berusaha mencapainya.
Salah satu lukisan Novandi yang digelar di Galeri Darmin Kopi . Foto NMSAndani
Miracle adalah thema yang ia pilih untuk menggambarkan perjalanan kesehatannya dalam memperoleh kesembuhan yang sangat ajaib yang merupakan angerahNYA.
Ia menggambarkan perjalanan ini mulai dari kebiasaannya yang buruk, suka makan tidak kontrol dan minum yang manis-manis yang ia gambarkan sebagai ulat yang rakus memakani dedaunan tebu dengan lahap . Sebuah metaphora yang sangat sesuai. Begitulah asal muasalnya. kena sakit gegara terlalu banyak mengkonsumsi makanan dan minuman yang berkadar gula tinggi. Demikian juga ia sering makan apa saja tanpa memikirkan waktu dan kadang berlebihan yang akhirnya memicunya terkena gagal ginjal dan terpaksa melakukan dialisis. Apalagi di luar itu ia juga memiliki hobby ‘touring’ lintas kota, lintas pulau yang membuatnya sangat kelelahan.
Pembukaan pameran tunggal Novandi yang ke 6 ” MIRACLE”. Foto: Retno Pamerdasih
Saat-saat sakit inilah ia mengalami sebuah pengalaman, seolah sedang berjalan menuju gelap dalam rintik hujan yang membuatnya meracau. Tetapi dukungan semangat dan kunjungan para sahabat dan keluarga membuatnya bahagia.
Demikian juga ketika bertemu seorang Ibu yang berhasil sembuh dati gagal ginjal, memberinya harapan bahwa ia pun akan bisa sembuh. Ia berusaha menjalani anjuran dokter. Dengan harapan dan semangat yang ia miliki, serta dukungan kawan kawan serta istri tercinta, dan hati yang penuh syukur dan doa, akhirnya ia dinyatakan sehat kembali.
Para perupa KOMPPI berfoto bersama pelukis NOVANDI di pembukaan pameran MIRACLE. Foto NMSAndani
Sungguh ini sebuah muzizat. Sebuah keajaiban yang luar biasa. Pengalaman inilah yang ia tuangkan ke dalam 18 lukisan yang dipamerkan di Galeri Darmin Kopi ini yang pembukaannya dilakukan pada tanggal 6 September 2025.
Pelukis NOVANDI di pembukaan pameran tunggalnya MIRACLE, 6 September 2025. Foto Ni Made Sri Andani
Selain kisah luarbiasa yang menginspirasi thema pameran ini, lukisan-lukisan yang disajikan juga sungguh luarbiasa dengan menggunakan ulat, kepompong dan kupu-kupu sebagai perumpamaan dengan didominasi oleh lukisan berbagai macan ragam kupu-kupu dalam nuansa lukisan warna natural hijau, kuning, coklat, merah yang lembut dan hangat.
Yuk teman-teman, kita mampir ke Galeri Darmin Kopi, Jalan Duren Tiga Raya no 7E, Jakarta Selatan.
Pembukaan pameran dilakukan oleh dr Monita Lubis SpPD dan dikuratori oleh Fx Jeffrey Sumampouw dan dihadiri banyak pelukis dari berbagai komunitas, seperti Segitiga Art, ASPEN, KOMPI, KOMPPI, GARAJAS, PERUJA.
Kolaborasi Spirit Kemerdekaan, Empat Lukisan Laku Terjual
BES Gallery yang berada di lantai basement Glodok Plaza kembali semarak di bulan Agustus ini. Bersama GupeNusa, galeri ini menghadirkan pameran seni rupa bertema “Kolaborasi Spirit Kemerdekaan”, berlangsung dari 25–31 Agustus 2025.
Kevin Wu membuka pameran seni lukis GupeNusa “Kolaborasi Spirit Kenerdekasn” di BES Gallery, 26 Agustus 2025
Walau karya sudah terpajang sebelumnya, acara pembukaan resmi baru digelar pada 26 Agustus 2025. Kehadiran Kevin Wu, anggota DPRD DKI Jakarta, memberi warna tersendiri dalam peresmian yang juga dihadiri manajemen Glodok Plaza, pihak BES Gallery, GupeNusa, para seniman, serta tamu undangan.
Dalam sambutannya, Kevin Wu menekankan pentingnya mempertemukan seniman dengan pasar. Menurutnya, hidup seniman tidak hanya soal ekspresi dan jiwa, tapi juga soal kesejahteraan. Ia pun berbagi sedikit pengalaman, ketika masih aktif di dunia bisnis dan pernah menjadi pengurus pusat Kadin Indonesia di bidang industri kreatif. Dari sanalah ia paham bahwa seni rupa merupakan salah satu sub-sektor yang punya potensi besar, namun kerap terkendala pemasaran.
Kevin Wu pun menyatakan siap berkolaborasi, sejalan dengan semangat pameran kali ini. Ia melihat keterlibatan 64 pelukis dari Jabodetabek hingga berbagai daerah adalah bukti bahwa kolaborasi nyata bisa terjadi. Tidak hanya dengan pengelola tempat seperti Glodok Plaza, tetapi juga perlu diperkuat dengan dukungan pemerintah dan pasar.
“Banyak seniman yang punya nilai, rasa, dan teknik luar biasa, tapi karyanya tidak sampai ke konsumen karena tidak terkoneksi dengan pasar. Dengan pengalaman saya di bisnis dan manajemen, saya ingin mengisi ruang kosong itu agar karya seniman lebih dipahami dan dihargai, terutama oleh generasi muda,” ujar Kevin Wu.
Tak hanya memberi sambutan, Kevin Wu juga meluangkan waktu hingga pukul 19.00 untuk berbincang langsung dengan para seniman. Ia mendengarkan keluhan, berbagi pandangan, sekaligus memberi gagasan awal tentang strategi pemasaran karya seni. Momen itu terasa hangat, menunjukkan bagaimana wakil rakyat seharusnya hadir: berdialog, mendengar, dan memahami aspirasi rakyat, termasuk para pelaku seni.
Acara pembukaan berjalan sederhana namun penuh makna, diisi dengan pembacaan puisi dan lagu. Yang lebih menggembirakan, menurut Eddy Kamal selaku ketua panitia, empat lukisan langsung sold out di hari pertama pameran.
“Ini kabar baik bagi para seniman dan juga penyemangat bagi kami semua,” ujar Eddy.
Penulis (Ni Made Sri Andani) berfoto bersama Kevin Wu di depan lukisannya.
Sebagai informasi, pameran ini diikuti 64 perupa: Aang Jamhari, Abdilah, Adjar Utomo, Ambarsari S, Ani Hasan, Adlianto Zaman, Andi Suandi, Anwar Sanusi, Ar Sudarto, Aryo Bimi, Ayu Sasmita, Baem Ibrahim, Broto Jodho, Budi Karmanto, Budi Utomo, Carsila, Cikal Wijaya, Chrysnanda Dwi Laksana, Dick Syahrir, Dicksy Iskandar, Didiet Kadito, Eddy Kamal, Ebit S, Elfri Damayanti, Fanny J Poyk, Gini, Giok Eng, Gladys Raintama, Guff Tawakal, Heriana, Intan Tresnani, Irma Citra Gayatri, Jay, Kedsu, Kinogobu, M. Sobirin, Mukhlis Sahar, Muzlifah Wahidin, Nina Karenina, Ni Made Sri Andani, Nugee Sketch, Pandi, Pustanto, Ridwan Marhid, Sanspyro, Shamady Nura, Simon Ambarawa, Siswanti, Slamet Riyadi, Tukiyan, Tyo, Tom Junior 87, Wayan Sudana, Wildani KF, Willy Styono, Wong Jojo, Yen Iskandar, Yulius Bernadi, Yuni Daud, Yunindar, Yunus Jubair, Yusuf Dwiyono, dan Yustina Pagho Patty.
Pameran “Kolaborasi Spirit Kemerdekaan” masih berlangsung hingga 31 Agustus 2025 di BES Gallery, Glodok Plaza. Jangan lewatkan kesempatan untuk menikmati karya-karya penuh semangat kemerdekaan dari para seniman terbaik tanah air.
Sebagian dari seniman yg ikut berpameran “Kolaborasi Spirit Kenerdekaan” di BES Gallery.
Pembukaan paneran seni rupa ASPEN ” Memaknai Kemerdekaan” di gedung Antara Heritage Center. Foto: NMSAndani
Asosiasi Pelukis Nusantara (ASPEN) kembali menggelar pameran seni rupa dengan tajuk “MEMAKNAI KEMERDEKAAN” dari tanggal 25 – 31 Agustus 2025, bertempat di gedung Antara Heritage Center, Pasar Baru, Jakarta.
Pameran dibuka oleh Bapak Andi Syamsu Rizal, S.S., M.Hum, Direktur Pengembangan Budaya Digital Kementerian Kebudayaan mewakili Dirjen Pengembangan, Pemanfaatan dan Pembinaan Kebudayaan kementrian Kebudayaan RI Ahmad Mahendra M.Tr.A.P.
Pameran juga dihadiri beberapa pejabat lain seperti Dr. Dadam Mahdar, S.Sos., M.Hum- Direktur Seni Rupa dan Seni Pertunjukan, Kementerian Ekonomi Kreatif, Ketua FORMAS Yohanes Handoyo Budhisetia SH.CCP, Sri Kusumawati S.S, M.Si, Kepala Unit Pengelola Museum Seni, Direktur Komersial, Pengembangan Bisnis dan Teknologi Informasi Perum LKBN ANTARA Jaka Sugiyanta, Ketua Umum Asosiai Pelukis Nusantara ( ASPEN) Kembang Sepatu dan para pelukis yang tergabung dalam ASPEN dan undangan lainnya.
Bpk Andi Syamsu Rizal membuka pameran seni rupa ASPEN ” MEMAKNAI KEMERDEKAAN” didampingi pelukis Suwito, Sekjen ASPEN. Foto NMSAndani
Dalam sambutannya, Andi Syamsu Rizal memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada ASPEN yang terus menunjukkan komitmen dalam dunia seni lukis, termasuk dengan menyelenggarakan pameran terkait dengan kemerdekaan.
Kemerdekaan adalah sebuah proses yang terus menerus dan di sini seniman mengisinya dengan semangat berkarya. Pameran “Memaknai Kemerdekaan ” ini merupakan sebuah perpaduan antara sejarah dengan kreatifitas masa kini. Pemerintah akan terus mendukung pengembangan kebudayaan . Dimana Seniman, publik dan pemerintah akan terus berkolaborasi untuk memajukan kebudayaan Indonesia.
Pameran ini menggugah kita semua untuk merefleksi arti kemerdekaan dan berharap agar pameran ini menjadi inspirasi untuk kita agar terus memaknai kemerdekaan.
Di akhir sambutannya, Andi Syamsu Rizal menitipkan pesan,” Teruslah lah berkarya ! Karena dengan setiap goresan kuas anda sudah berkontribusi terhadap kebudayaan Indonesia.
Bpk Dadam Mahdar di pembukasn pameran seni rupa ASPEN ” Memaknai Kemerdekaan” Foto NMSAndani
Sementara itu, Dr. Dadam Mahdar, S.Sos., M.Hum – Direktur Seni Rupa dan Seni Pertunjukan, Kementerian Ekonomi Kreatif, juga mengucapkan selamat dan terimakasih kepada ASPEN yang telah bekerja keras dan kreatif menyelenggarakan pameran ini. Pameran ini bukan hanya sekedar pameran, tetapi juga sebuah refleksi kemerdekaan.
Kemerdekaan dari berbagai ekspresi dan sudut pandang seniman yang beragam dengankreasinya masing-masing. Juga dengan ditampilkannya “Malam Refleksi Kemerdekaan” berkolaborasi dengan seni tradisi Tara Wangsa adalah sebuah upaya dalam menghargai seni tradisi dan budaya kita sendiri. Ini sangat menyentuh hati dan menginspirasi. Semoga dengan pameran ini kita bisa lebih menghargai kemerdekaan yang sudah diperjuangkan oleh para pahlawan kita.
Bpk Yohanes Handoyo, ketua FORMAS di pembukaan pameran seni rupa ASPEN ” Memaknai Kemerdekaan” Foto NMSAndani.
Yohanes Handoyo Ketua FORMAS yang saat ini membawahi 77 organisasi dan berfungsi untuk mengawal proggram -proggram pemerintah, mengatakan bahwa ASPEN adalah salah satunya yang rajin menjalankan program pameran. Dan ia melihat bahwa Dirjen Kebudayaan dan juga Ekraf sangat semangat mendorong pengembangan kebudayaan, termasuk kegiatan ASPEN.
Bpk Jaka Sugiyanta di pembukaan pameran ” Memaknai Kemerdekaan” di gedung Antara Heritage Center. Foto NMSAndani
Direktur Komersial, Pengembangan Bisnis dan Teknologi Informasi Perum LKBN ANTARA Jaka Sugiyanta yang malam itu menjadi tuan rumah menginformasikan bahwa bangunan peninggalan Belanda yang sudah direnovasi 2 tahun yang lalu ini memang didedikasikan untuk kegiatan komunitas seperti pameran foto, lukisan, kriya dsb. Silakan digunakan, tapi secara bergilir dan terutama untuk tujuan mendidik yang mencerahkan dan mempersatukan.
Pembukaan pameran seni rupa kali ini memang sanat mengesankan dengan digelarnya “Malam Refleksi Kemerdekaan” yang sangat menyentuh hati.
Suasana pembukaan pameran ASPEN ” Mrmaknai Kemerdekaan” di gedung Antara Heritage Center. Foto NMSAndani
Kembang Sepatu, Ketua Umum Asosiasi Pelukis Nusantara (ASPEN) mengatakan bahwa pameran seni lukis bertajuk “Memaknai Kemerdekaan”, diselenggarakan untuk memperingati 80 tahun perjalanan bangsa Indonesia merdeka.
Pameran ini menghadirkan 28 pelukis dari berbagai latar belakang, gaya, dan corak artistik, yang bersama-sama menafsirkan arti kemerdekaan melalui bahasa rupa, yaitu : Abdurahman Abro, Andi Suandi (Alm), ApisaroW, Bambang Krisbanu, Budi Utomo, Carsilah, Chryhnanda Dwilaksana, Dayu Sri Herti, Djaroe, Heriana, I Wayan Sudana, Kembang Sepatu, Lilik Subekti, Mas Wit, Moh. Sobirin, Nadia Iskandar, Ni Made Sri Andani, Nuryanah, Pustanto, Sarnadi Adam, Shamady Nura, Teuku Shabir, Udhi Marsudi, Wantiyo, Wawan Setiadi, Yayok APFD, Yudi S, dan Yunti Ars.
Sebagian dari seniman yang berpartisipasi di pameran seni rupa ASPEN ” Memaknai Kemerdekaan” . Foto: ASPEN
Setiap karya dalam pameran ini bukan hanya representasi visual, tetapi juga ungkapan batin, kritik sosial, dan doa untuk Indonesia yang lebih adil, sejahtera, dan bermartabat.
Keragaman gaya dari realisme, ekspresionisme, abstrak, hingga kontemporer menjadi bukti bahwa kemerdekaan memberi ruang bagi kebebasan berekspresi.
“Justru dalam perbedaan inilah kita menemukan kekayaan, sama halnya dengan Indonesia yang kokoh berdiri di atas keberagaman budaya, bahasa, dan identitas” ungkapnya.
Yuk kita berkunjung ke gedung Antara Heritage Center di Pasar Baru, Jakarta. Kita saksikan langsung berbagai ekspresi para seniman ini dalam memaknai Kenerdekaan Indonesia.
Pameran KOMPPI ” Budaya Jakarta Tak Lekang Waktu” 1-4 September 2025 di Balai Kota Jakarta. Foto: KOMPPI
Pameran Komunitas Perupa Perempuan Indonesia (KOMPPI) yang ke dua , “Budaya Jakarta Tak Lekang Waktu” sudah semakin dekat. Pameran ini akan diselenggarakan di Balai Kota Jakarta dari tanggal 1-4 September 2025 dan rencananya akan dibuka langsung oleh Ibu Hani Pramono Anung.
“Budaya Jakarta Tak Lekang Waktu” sengaja diambil sebagai thema pameran KOMPPI yang ke dua ini, karena kelenturan dan ketangguhan budaya Jakarta dalam menghadapi perubahan jaman dan terus bisa bertahan hingga kini, sangat menginspirasi.
Tentu pada penasaran, siapa saja seniman yang rencananya akan terlibat dalam pameran KOMPPI kali ini? Saya mendapatkan info dari panitya penyelenggara , bahwa nanti akan ada 33 orang seniman dari berbagai daerah (Jabodetabek, Yogyakarta, Ambarawa. Bali, Sumba) yang akan memamerkan karya-karyanya di pameran yang akan digelar di Balai Kota Jakarta ini. Adapun pata seniman itu adalah 1. Aida Noor – Bekasi 2. Anna Rayung – Jakarta 3. Art Nila Lawson – Tangsel 4. Barbara Natalia – Ambarawa 5. Biagtwanti Dewi P – Tangerang 6. Budhiantini Bagyo – Jakarta 7. Destry – Jakarta 8. Dia Eska – Tangerang 9. Elsie Setyo – TangSel 10. Erna Wiyono – Jakarta 11. Evirie Irmasari – Yogyakarta 12. Gini – Jakarta 13. Helmidar Darwis – Jakarta 14. Indah Soenoko – Bekasi 15. Irma Meliono – Jakarta 16. Kanthi Larasati – Bekasi 17. Kartika Ayu Agustina – Jakarta 18. Kheirini Hikmat – TangSel 19. Maria D. Andriana – Sumba 20. Mega Winarto – Bogor 21. Nadian Almatsier – Jakarta 22. Niken Indirawati – Depok 23. Ni Made Sri Andani – Bali 24. Nuryanah – Jakarta 25. Picuk Siwi Asmara – Yogyakarta 26. R.Asri HW / Nino – Yogyakarta 27. Retno Pamerdasih – Bekasi 28. R. Irni Afriyanti – Bekasi 29. Sari Hendradi – Bekasi 30. Titiek Ndari – Bekasi 31. Toeke Soeprapto – Jakarta 32. Tri Sulustiyani – Bekasi 33. Yaya Maria – Yogyakarta
Ada 58 karya menarik terkait budaya Betawi yang akan dipamerkan, mencakup beberapa aspek ekstrinsik budaya seperti Kesenian (ragam tarian Betawi seperti Yapong, Topeng, Ronggeng Betawi, Cokek, Ondel-Ondel), musik (Tanjidor)) , kuliner (kerak telor, roti buaya, ketoprak, bir pletok) , pakaian adat Betawi, profile perempuan Betawidsb. Tetapi beberapa seniman juga mengambil aspek intrinsik dari budaya Betawi itu sendiri yang mencakup sikap mental dan nilai-nilai positive seperti tingginya sikap toleransi dan keterbukaan terhadap budaya suku dan bangsa lain, persaudaraan dan hidup rukun saling menghargai satu sama lain, kebersamaan , pergolakan psikis manusia, hingga pertukaran budaya yang digambarkan lewat metafora – metafora yang penuh makna. Sangat menarik !
Tadi sore saya menghadiri launching majalah Pojok TIM edisi perdana di Galeri Buku Bengkel Deklamasi, Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta. Jujur, saya sempat kaget juga. Soalnya, sejak awal saya tahu Pojok TIM ini hadir dalam bentuk media digital. Website yang rajin meliput aktivitas seniman, terutama dunia sastra, di TIM. Eh, kok sekarang malah “balik arah” ke media cetak? Padahal, seperti kita tahu, banyak media cetak justru tumbang karena terlambat beralih ke digital.
Rasa penasaran itu bikin saya betah menyimak penjelasan para narasumber di acara ini.
Dari pengantar redaksi, terjawab sudah: tujuan majalah cetak ini adalah supaya berita dan pemikiran yang dimuat di Pojok TIM nggak serta-merta hilang kalau website bermasalah. Nanang Suprihatin, yang jadi moderator, juga menekankan hal yang sama.
Sementara itu, Yon Bayu Wahyono, pemimpin redaksi Pojok TIM, menambahkan fakta menarik: selama ini liputan Pojok TIM tidak pernah memungut bayaran. Padahal, media digital butuh biaya rutin, minimal untuk hosting dan domain. Sementara pemasukan iklan digital sangatlah kecil. Jadi berat juga. Kalau dicetak, meski ada biaya produksi, setidaknya bisa ditutup lewat target penjualan. Bahkan, kalau melebihi target, bisa juga menghasilkan profit. Oke, masuk akal.
Yang lebih seru lagi, Riri Satria menyampaikan soal paradoks zaman sekarang. Contohnya ni, teknologi memang bikin komunikasi semakin mudah, tapi justru interaksi fisik kita makin renggang. Contoh lain, masyarakat jadi semakin hi-tech, tapi di sisi lain haus akan hi-touch, sentuhan humanis. Bisa jadi, hadirnya Pojok TIM versi cetak ini adalah jawaban kecil untuk kebutuhan itu.
Selain soal “kenapa cetak?”, ada juga diskusi menarik tentang konten, desain font, sampai cara melibatkan generasi muda demi keberlanjutan majalah ini. Saya melihat banyak masukan bagus yang bisa membuat majalah ini bertahan lama.
Secara pribadi, saya senang sekali dengan terbitnya Pojok TIM dalam bentuk majalah cetak. Menurut saya, kuncinya agar majalah ini menarik, terutama untuk generasi muda, adalah relevansi dan manfaat konten. Mau cetak atau digital, kalau isinya relevan dan bermanfaat, orang pasti senang membaca, bahkan rela merogoh kocek untuk mendapatkannya.
Sebagai informasi inilah beberapa nama dibalik majalah Pojok TIM ini. Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi: Yon Bayu Wahyono Pemimpin Perusahaan: Nanang R. Supriyatin. Redaktur Pelaksana: Giyanto Subagio. Redaksi: Erna Winarsih Sekretaris Redaksi: Rissa Churia Tata Letak: Orsan Tata Usaha, Promosi dan Iklan : Dyah Kencono Puspito Dewi Pemasaran dan Distribusi : Ihwal Benz Satriadji. Nah kalau ada yang mau pesen atau pasang iklan ke nomer ini ya : 081219202445
Selamat untuk penerbitan majalah Pojok TIM. Semoga langkah baru ini jadi napas panjang bagi media yang lahir dari denyut seni dan sastra di Taman Ismail Marzuki.
Pameran KOMPPI di Balai Kota Jakarta. Sumber: KOMPPI
Jakarta bukan hanya pusat perekonomian Indonesia, tetapi juga rumah bagi sebuah warisan budaya yang terus hidup dan berkembang yaitu Budaya Betawi. Meskipun kota ini mengalami perubahan pesat akibat modernisasi dan arus globalisasi, budaya Betawi tetap hadir, melebur, dan beradaptasi tanpa kehilangan jati dirinya.
KOMPPI (Komunitas Perupa Perempuan Indonesia) yang dikomandani pelukis Indah Soenoko mengamati dan tertarik memperhatikan perkembangan budaya Jakarta yang tak lekang waktu ini dan memutuskan untuk menjadikannya thema pameran di awal September nanti. Dari sebuah kesempatan diskusi dengan beberapa perupa yang tegabung dalam KOMPPI yaitu Indah Soenoko, Titiek Sundari, Retno Pamerdasih, Anna Rayung didampingi pembina KOMPPI Eddy Yoenanto tentang “Mengapa Budaya Jakarta alias Betawi bisa disebut tak lekang waktu?”, penulis membuat ringkasan yang menarik untuk disimak.
Jawabannya adalah karena nilai-nilai, tradisi, dan ekspresi budaya Betawi tetap relevan, dicintai, dan dipraktikkan lintas generasi, meskipun bentuk penyajiannya terus mengikuti perkembangan zaman. Contohnya gimana ?
1. Kesenian yang Selalu Hidup Ondel-ondel, Lenong, Gambang Kromong, dan Tari Topeng Betawi bukan hanya pertunjukan masa lalu. Kini, mereka tampil di festival kota, acara resmi, pembukaan pameran seni rupa, bahkan dikemas ulang di media sosial, sehingga menarik minat generasi muda. Seni ini telah bertransformasi tanpa menghilangkan ruh aslinya.
2. Adat & Tradisi yang Terus Dipraktikkan Tradisi Palang Pintu di pernikahan, tradisi Sedekah Bumi, dan Lebaran Betawi tetap digelar setiap tahun. Meski cara berpakaian, musik, atau dekorasi mungkin dimodifikasi, esensi nilai kebersamaan dan penghormatan terhadap leluhur tetap sama seperti puluhan tahun lalu.
3. Bahasa & Humor yang Melekat di Hati Warga Bahasa Betawi dengan logat khas dan pantunnya masih sering terdengar di jalanan, film, atau serial televisi. Ceplas-ceplosnya menjadi ciri khas kepribadian orang Jakarta yang ramah dan terbuka.
4. Kuliner yang Menjadi Ikon Kota Kerak Telor, Soto Betawi, Nasi Uduk, Gado-Gado, Ketoprak dan Bir Pletok tetap menjadi favorit. Bahkan, di tengah banyaknya kafe modern, kuliner ini tampil di festival makanan, hotel, dan restoran kekinian, membuktikan daya tariknya tak pudar oleh tren baru.
5. Pakaian Adat yang Memancarkan Identitas Kebaya encim, baju sadariah, dan busana pengantin Betawi tetap digunakan di acara resmi dan perayaan adat. Kini, banyak desainer muda mengadaptasinya menjadi busana kontemporer, menunjukkan bahwa nilai tradisional bisa tampil modern.
6. Nilai & Sikap Mental yang Melekat Gotong royong, ramah, humoris, dan terbuka pada pendatang adalah nilai budaya yang tetap membentuk karakter Jakarta. Meski kota ini tumbuh menjadi metropolis, kehangatan budaya Betawi masih bisa dirasakan di kampung-kampung dan komunitasnya.
7. Kemampuan Beradaptasi Inilah alasan utama mengapa budaya Jakarta tak lekang waktu: kemampuannya beradaptasi. Sejak awal, Betawi adalah hasil akulturasi Melayu, Arab, Tionghoa, Eropa, dan Sunda. Budaya ini tidak kaku, melainkan menerima pengaruh baru sambil mempertahankan inti nilai dan identitasnya.
Budaya Jakarta tak lekang waktu karena ia seperti air. Ia mengalir mengikuti wadah zaman, namun tetap murni. Tradisinya hidup di tengah gedung pencakar langit, musiknya bergema di antara deru kendaraan, dan nilainya tertanam di hati warga. Modernisasi tidak menghapusnya, justru memperkaya bentuk penyajiannya.
Jadi, sudah sangat tepat KOMPPI menjadikannya sebagai thema pameran seni rupa.
Pameran akan berlangsung di Balai Kota Jakarta dari tgl 1-4 September 2025. Catat tanggalnya ya dan jangan lupa hadir.
Halo teman-teman. Masih ingat kan pameran KOMPPI (Komunitas Perupa Perempuan Indonesia) bulan April lalu? Waktu itu themanya “Apresiasi Kehidupan Perempuan” yang super rapi, terus berlanjut dengan lukisan-lukisan hewan coklat monokrom yang unik banget dan sanfat collectible. Nah, sekarang KOMPPI bakal hadir lagi nih di awal September.
Pasti kepo dong, kali ini apa yang baru?
Ternyata themanya seru banget: “Budaya Jakarta Tak Lekang Waktu.”
Kalau biasanya pameran tentang Betawi identik dengan tari Yapong, ondel-ondel, Gambang Kromong, atau kuliner khasnya, kali ini beda. Para perupa KOMPPI nggak cuma menampilkan sisi budaya yang terlihat, seperti tarian, kuliner, lanskap Jakarta dll (lukisan-lukisan ini sih tetep ada) tapi juga menggali sisi dalamnya budaya Betawi, yakni nilai, sikap, cara hidup, bahkan pola pikir masyarakat Betawi. Jadi lebih holistik. Itulah bedanya.
Beberapa contoh lukisan yang bakalan ditampilkan di pamerab “Budaya Jakarta Tak Lekang Waktu” antara lain:
Lukisan ondel-ondel yang berdampingan sama penari Bali . Simbol betapa ramahnya orang Betawi menerima budaya luar.
Lukisan wanita Solo lemah lembut yang sukes menyesuaikan diri mengikuti tugas suami mempin Jakarta – lambang bahwa interaksi membutuhkan fleksibilitas dab penyesuaian diri bukan hanya dari pihak masyarakat Betawi tetapj juga pendatang.
Lukisan penari topeng yang selalu ceria, tapi siapa tahu ada cerita getir di baliknya.
Lukisan pelabuhan Sunda Kelapa di senja hari. Jadi saksi keluar-masuknya budaya asing, tapi budaya Betawi tetap kokoh.
Lukisan kuliner Betawi yang nggak cuma kebanggaan lokal, tapi juga dicintai banyak orang dari berbagai budaya.
Dan masih banyak lagi lukisan-lukisan yang tak hanya sekedar menampilkan elemen ekstrinsik yang terlihat secara fisik, namun juga menampilkan elemen intrinsik dari budaya Betawi.
Singkatnya, lewat karya ini KOMPPI mau bilang: budaya Jakarta itu awet, nggak pernah ketinggalan zaman, karena orang Betawi punya sikap ramah, terbuka, dan fleksibel, tapi tetap teguh sama nilai dan keyakinannya.
Catat tanggalnya ya kawan-kawan.
Pameran lukisan KOMPPI “Budaya Jakarta Tak Lekang Waktu” Lokasi : Balai Kota Jakarta Waktu : 1–4 September 2025
Jangan sampai ketinggalan ya, bakal jadi pengalaman seni yang beda!
KOMPPI (Komunitas Perupa Perempuan Indonesia) itu ibarat teman yang nggak pernah kehabisan ide. Ada-ada saja idenya yang kreatif dan beda dari yang lain.
Suasana pameran perdana KOMPPI di gedung Antara, April 2025.Flyers dan katalog pameran KOMPPI “Apresiasi Kehidupan Wanita.
Baru saja bikin kita terkesima di pameran perdana “Apresiasi Kehidupan Wanita ” April lalu di gedung Antara Heritage dengan lukisan seragam ukuran 60×80 cm dan bingkai juga seragam yang bikin ruangan tampil rapi dan cantik banget. Banyak lukisannya berpindah ke tangan kolektor di pameran ini. Dan KOMPPI adalah komunitas perupa yang pertama berpameran di gedung kantor berita Indonesia ini.
Habis berpameran di Antara, eh…. sudah langsung lanjut unjuk gigi saat ikut berpartisipasi di pameran “Kecil Itu KEREN” di TIM yang diselenggarakan oleh Indonesian Visual Artist Community.
Lukisan lukisan unik perupa KOMPPI yang terjual ludes di pameran
Ingat kan? Lukisan-lukisan mini 15×15 cm, bertema fauna monokrom nuansa coklat yang unik, yang ternyata laku keras sampai 25 karya langsung diangkut kolektor.
Nah… sekarang KOMPPI mau pameran lagi awal September di Balai Kota Jakarta.
Tapi, kali ini KOMPPI mau tampil “nggak kayak biasanya”. Ada konsep baru yang katanya bakal bikin kita melongo, bahkan mungkin nggak nyangka kalau ini karya KOMPPI yang sama.
Apa sih idenya? Kenapa sampai dibilang beda banget? Ssst… rahasianya belum boleh dibuka sekarang. Tapi tenang, sebentar lagi semua akan terungkap.
Yang jelas, siap-siap… karena KOMPPI lagi masak sesuatu yang bikin kita nggak sabar buat datang dan lihat langsung.