SEGELAS AIR PUTIH.

Standard

Belakangan ini, matahari bersinar sangat terik setiap hari di Jabodetabek. Membuat jadi malas keluar rumah.

Ingin membersihkan daun-daun teratai yang menguning di halaman depan, rasanya kok malas sekali. Pipi rasanya gosong. Demikian juga saat ingin membereskan tanaman kailan yang menua di instalasi hidroponik, rasanya juga malas banget. Mau masak malas, mau cuci piring apalagi.

Seandainya saja ada Kompetisi Kemalasan Nasional dan misalnya saya jadi pemenangnya, barangkali untuk mengambil pialanya saja pun saya enggan, saking malasnya 😀. Sungguh. Malas rasanya mau ngapa-ngapain. Sungguh sinar matahari ini sangat terik dan membuat lelah.

Terlebih ketika saya merasa kurang enak badan, kepala belakang sedikit nyeri dan nggak nyaman. Kebetulan libur, jadi saya hanya berbaring saja di tempat tidur. Leyeh-leyeh saja. Sambil lihat-lihat Sosmed dan chat di WA.

Pas lagi bermalas-malasan begitu, seorang teman melemparkan ide di chat, untuk menggunakan hiasan topi papua – ikat kepala cantik yg dibuat dari bulu-bulu unggas saat besoknya mau ikut lomba 17 Agustusan. Wah… saya pikir idenya boleh juga ini.

Seketika saya melakukan searching topi papua dan menemukan sebuah toko yang menjual dan bisa mendeliver dengan cepat. Okay, saya setuju untuk membayar lebih agar bisa terdeliver hari ini. Lokasinya di Bekasi. Saya menyelesaikan pembayaran dengan cepat dan yes!. Tinggal tunggu barangnya datang.

Beberapa jam kemudian, seseorang mengetok pintu depan. Saya mengintip dari jendela. Rupanya seorang pria dari bagian pengiriman mengantarkan topi bulu yang saya order.

Buru-buru saya mengenakan masker, lalu keluar dan meminta pria itu meletakkan barang orderan saya itu di salah satu kursi di teras depan. Saya berusaha menjaga jarak agar tidak terlalu dekat dengannya. Buat jaga-jaga saja, mengingat saya ini penyandang co-morbid dan belum divaksin pula. Tak pernah ada yang tahu, secepat apa penularan bisa terjadi dan bisa saja dari orang-orang yang tak menunjukkan gejala yang sempat kontak dengan kita.

Pria itupun meletakkan barang itu seperti permintaan saya. Maksud saya, nanti setelah ia pergi, pembungkus barangnya akan saya semprot dulu dengan Maxkleen disinfectant spray, barulah akan saya buka.

Saya mengucapkan terimakasih. Tetapi pria itu tampak terdiam di dekat pagar.
Saya menunggunya pergi. Beberapa saat ia hanya terdiam. Sayapun ikut terdiam.

Tetapi saya memperhatikan wajahnya. Tampak pucat. Keringat bercucuran di dahi dan lehernya. Kelihatannya ia kurang sehat. Tangannya agak gemetar.

“Ibu, boleh saya minta air putih” katanya agak tersendat.

Ooh… orang ini kayaknya mengalami dehidrasi. Mengapa saya tidak sensitive dari tadi ya. Bukannya menawarkan minum, malah menunggu sampai orang itu meminta. Betapa tidak pekanya saya ini.

Seperti diingatkan, saya buru-buru masuk ke dalam untuk mengambil air putih. Lalu menyodorkan kepadanya. Ia meminumnya dengan gemetar. Saya merasa trenyuh melihatnya.

Ia pun bercerita tentang perjalanannya dari Bekasi di ujung timur ke Tangerang Selatan yang letaknya di wilayah barat dibawah terik matahari. Kepanasan dan kehausan, dan ia belum sempat makan, hingga merasa sakit kepala dan limbung.

Sebenarnya ingin hati saya menyuruhnya masuk ke dalam, mengingat halaman depan saya cukup panas. Mungkin jika ia saya suruh istirahat di dalam setidaknya udara ruangan yang sejuk karena AC akan membantunya lebih cepat pulih kembali.

Tetapi kali ini saya agak ragu. Pertama karena musim pandemi begini, saya harus sangat berhati-hati jika kontak dengan orang lain. Siapakah yang tahu orang ini bebas dari virus atau tidak. Sementara saya beresiko tinggi jika sampai tertular.

Selain itu saya hanya sendirian di rumah. Apakah cukup aman jika saya membiarkan orang lain masuk ke dalam rumah saat tidak ada satupun orang lain di rumah. Siapa yang tahu orang ini berniat baik atau bisa saja punya niat tersembunyi.

Tapi orang ini terlihat sangat kelelahan dan menderita. Sejenak saya bimbang. Bathin saya bertengkar. Saya merasa sangat iba, tapi di sisi lain, saya juga harus waspada. Saya ingat pesan Bapak saya untuk selalu berhati-hati, di manapun berada. Karena hanya kewaspadaanmu sendirilah yang akan berhasil menyelamatkan dirimu sendiri.

Akhirnya saya sarankan agar ia istirahat di teras depan saja. Toh angin juga mulai bertiup dan membawa udara segar melintas.

Ia menjawab, “Terimakasih Ibu. Tidak usah. Ijinkan saya berteduh di bawah pohon ini saja sebentar dulu” katanya, sambil menepi di bawah pohon kersen.

Ooh…dia malah bilang tidak usah di teras pun. Mungkin orang baik-baik.

Lalu saya ingat, jika tadi ia ada bilang belum sempat makan. Saya mengambilkan beberapa buah pear dari atas meja makan , mencucinya dan memberikan untuknya, agar bisa langsung dimakan. Sayang saya sedang tidak punya makanan lain. Gara-gara tadi tidak memasak. Mudah-mudahan bisa membantunya.

Sesaat kemudian orang itu pamit. “Terimakasih ya Ibu. Gelasnya saya taruh di atas pagar” katanya sambil melambaikan tangannya. Sayapun membalas lambaian tangannya.

Saya mengambil gelas air putih di atas pagar di bawah pohon kersen itu.

Angin menggerakkan dahan-dahan pohon kersen. Udara mengalir dengan sangat baik. Sesungguhnya udara di halaman saya ini tidak terlalu panas ketimbang di udara jalanan.

Namun anehnya, segitu aja saya tadi sempat mengeluh, tidak melakukan apa-apa dan bermalas-malasan. Padahal ini sungguh tidak ada apa-apanya ketimbang keadaan Bapak pengantar barang tadi itu yang harus berjuang di bawah terik matahari, menahan lapar dan haus demi bisa mengantarkan “topi papua” itu ke rumah.

Sementara udara sesungguhnya tidak terlalu panas di halaman karena ada pohon penaung. Saya masih bisa beristirahat di ruangan yang ber-AC. Masih bisa makan dan minum dan bersantai.

Dimanakah rasa syukur saya, atas segala kemudahan dan kenikmatan hidup yang saya miliki.

Segelas Air Putih ini, seolah mengingatkan.

Bedah Buku 100 CERITA INSPIRATIF Oleh Kritikus Sastra Indonesia Narudin Pituin.

Standard

Narudin Pituin, seorang Kritikus Sastra Indonesia membedah buku 100 CERITA INSPIRATIF dan menguploadnya di Sosmed.

Saya meminta ijin untuk bisa share tulisan beliau tentang buku pertama saya itu di bawah ini.

**********************************

VERSTEHEN 100 CERITA INSPIRATIF ANDANI:
PEMBACAAN HERMENEUTIKA

Oleh Narudin

Buku 100 Cerita Inspiratif (2021) karya Ni Made Sri Andani ini merupakan buku yang secara hermeneutik mengembangkan konsep memahami (verstehen). [1] Memahami yang dimaksud ialah bukan semacam pengetahuan atau sains, melainkan pandangan seorang manusia dalam usaha memahami keadaan sekitar yang bersifat individual dan sosial. Atau seperti dikutip dalam “Verstehen: The Sociology of Max Weber” (2011) oleh Frank Elwell, verstehen merupakan pemeriksaan menafsir atau ikut terlibat tentang fenomena sosial.

Andani tak melihat keadaan sekitar itu secara umum—ia menggunakan segala kemampuan bawaannya demi mengomentari keadaan alam sekitar itu secara khusus dan pribadi sifatnya, serta berupaya agar tulisan-tulisannya menginspirasi orang banyak.

Dari 1000 tulisan cerita inspiratif ia pilih menjadi 100 cerita inspiratif—yang berasal dari blog-nya selama 10 tahun. Dengan demikian 100 cerita inspiratif ini termasuk ke dalam jenis “sastra digital”—yang menghendaki keringkasan dan kebermanfaatan yang bersifat segera bagi “warga digital” pula.

Verstehen Andani disusun dalam suatu narasi atau cerita yang bersifat detail dan “idiosinkratik”, yakni ditulis khas sesuai pengetahuan dan keyakinan bawaannya. Kadang-kadang narasi-narasinya tak terduga dengan sekian tema yang banyak. Ambil beberapa cerita inspiratif ini, sekadar contoh: “Ketika Pedas Ketemu Air Hangat”, “Ada Sambal di Telpon Genggamku”, “Isah, Kisah Pembantu Rumah Tangga yang Tinggal Selama Seminggu”, sampai cerita inspiratif “Kencing Kucing”.

Bagaimana masalah sederhana pedas yang berjumpa air hangat dipahami oleh Andani? Hangat dan pedas hampir sama, tetapi mengapa pedas bisa hilang akibat hangat? Ini suatu fakta sehari-hari, tetapi Andani menaikkan derajat yang nyata kepada hal yang mungkin (transcending the real into the possible), dalam tradisi teori Hermeneutika. Begitu pula dengan kasus ada sambal di telepon genggamnya—hal sepele, namun begitu mengganggu kenyamanan hidup. Teks ditulis oleh Andani, lalu ia menuangkan pengalaman, serta mengomunikasikannya kepada orang banyak, pada mulanya lewat blog, kemudian ia cetak dalam bentuk sebuah buku ini.

Andani pun menggunakan sudut pandang orang ketiga selain sudut pandang orang pertama, seperti dalam cerita inspiratif “Isah, Kisah Pembantu Rumah Tangga yang Tinggal Selama Seminggu”. Cerita ini sederhana, tetapi disusun secara realis hingga faktanya terasa ke dalam lubuk hati pembaca dan turut bersimpati kepada tokoh Isah yang ususnya menderita. Hingga sampai pada kisah “Kencing Kucing” yang lucu, namun mengandung pesan yang bijaksana. Jangan dulu menyalahkan orang lain sebelum kita memeriksa kesalahan kita sendiri.

Sebagai penutup—ini cerita yang paling disukai oleh Andani, sesuai pengakuannya sendiri—yaitu berjudul “Di Bawah Langit di Atas Laut”, cerita ke-100 dalam buku ini.

Kisah ini sebuah perjalanan yang senantiasa diingat oleh Andani sebagai perjalanan tubuh dan roh atau tamasya jasmani dan rohani. Latar tempat dan latar waktu rupa-rupanya bukanlah hal yang utama dalam kisah ini, melainkan kisah renungan yang cukup dalam terhadap fenomena alam di tengah hiruk-pikuk kehidupan sosial sehari-hari. Andani mengagumi alam besar (makrokosmos) dan alam kecil (mikrokosmos). Keduanya dipahami (verstehen) oleh Andani sesuai dengan pengetahuan dan pengalamaan bawaannya.

Terhadap alam besar, ia merasa takjub dengan kebesaran penciptaannya. Ia mengatakan alam semesta berada di dalam-Nya. Ini pandangan panteistik. Pernah pula ilmuwan Ibnu Sina berkata bahwa alam semesta ini berada di dalam Tuhan sehingga menimbulkan dua istilah wujud: wujud mungkin ada (semua ciptaan-Nya) dan Wujud Wajib Ada (Tuhan). Lalu, Andani berpesan agar manusia bebas dari segala ikatan duniawi atau badan kasar, yang hanya menumpang saja di alam ini. Kebahagiaan sejati menurutnya ialah membebaskan roh dari segala ikatan duniawi—sebab setelah mati segala kemewahan atau jabatan atau kekayaan tak dibawa.

Terhadap alam kecil, Andani merasa dirinya mahakecil semacam butiran atom atau butiran yang kecil sekali. Ia memandang tak berbeda dirinya dari unsur kapal, samudra, dan benda-benda lainnya di alam ini pada level sub-atomik—dengan batasan tegas porsi dan komposisinya berbeda. Di lain pihak, ada pula perbedaan tingkat, tingkat bendawi, botani, hewani, hingga tingkat insani. Perbedaan ini menegaskan mana benda mati dan mana makhluk hidup—dan mana makhluk hidup yang punya pikiran dan perasaan, yaitu manusia.

Lalu Andani berkata, jika mati saya tiba, semua unsur pembentuk diri saya akan kembali lagi ke alam. Jadi apa yang harus aku takutkan jika mati tiba? Mati dan hidup hanyalah dipisahkan oleh sebuah kesadaran yang berbeda. Di lain pihak, dikatakan bahwa apa yang telah dikerjakan di alam ini akan di bawa pada alam berikutnya, yakni alam setelah mati.

Andani menutup ceritanya dengan menyebut perjalanan ini menyenangkan dan akan dikenang.

Verstehen (memahami) dalam 100 cerita inspiratif Andani dapat diambil segi baik manfaatnya. Dalam sastra ini disebut sebagai fungsi komunikatif. Sedangkan secara fungsi puitis, cerita-cerita ini dapat termasuk prosa sastra digital yang bersifat ringkas dan segera. Deskripsi cerita di dalamnya tak bisa disebut ringan jika sudah masuk ke wilayah transcending the real into the possible, seperti telah disinggung di atas.

Secara semiotik, [2] Andani telah mencoba mengomunikasikan pengalaman-pengalamannya kepada pihak pembaca dengan bahasa yang ia kuasai—masih perlu disunting. Dan memang tujuan buku ini, menurut Andani sendiri, agar memberi inspirasi pada banyak orang, dari pribadi dan pengalaman dia, dituangkan ke dalam teks atau cerita, lalu disampaikan kepada publik ramai.

***
Dawpilar, 15 Mei 2021

*) Kritik sastra di atas berasal dari acara bedah buku 100 Cerita Inspiratif (2021) di Kafe Sastra, Balai Pustaka, Jakarta, 19 Juni 2021.

CATATAN KAKI:

[1] Baca buku Narudin berjudul Epistemofilia: Dialektika Teori Sastra Kontemporer, Pasuruan: Qiara Media, 2020, halaman 24-27.

[2] Baca buku Narudin berjudul Semiotika Dialektis, Bandung: UPI Press, 2020, halaman 20-24.

Ni Made Sri Andani Sahadewa Warih Wisatsana Wayan Jengki Sunarta Darma Nyoman Putra Agoes Kaboet Soetra Jefta Atapeni  I Ketut Putrayasa Made Edy Arudi Idk Raka Kusuma Rini Intama Chye Retty Isnendes Tien Marni Rizka Amalia Dewa Gede Kumarsana Andi Mahrus Anwar Putra Bayu Ipit Saefidier Dimyati Imam Qalyubi Sunu Wasono Djoko Saryono M Tauhed Supratman Wannofri Samry Saifur Rohman Syahrul Udin Nani Syahriani Asfar Nur Kosmas Lawa Bagho Taba Heriyanto Giyanto Subagio Laora Laora Tika Supartika Na Dhien Kristy Setyo Widodo Tati Dian Rachmika Il Mustari Irawan Enung Nurhayati Elang Munsyi Hermawan An Endut Ahadiat Ermanto Yohanes Sehandi Shafwan Hadi Umry Salim Bella Pili Rafita Ribelfinza Gunoto Saparie  Nia Samsihono

*********************************

Terimakasih ulasannya Pak Narudin.

SEPATU BOOTS UNTUK TUKANG SAYUR.

Standard

Penampilan diri di depan publik adalah suatu hal yang penting bagi setiap orang. Ya, setidaknya kita perlu tampil rapi, bersih dan terawat, agar kita merasa nyaman dan orang lain yang bertemu kitapun ikut nyaman.

Berangkat dari sini, banyak orang kemudian melakukan usaha lebih untuk mengoptimalkan penampilannya seperti memakai make up, hair do, menggunakan parfum dan sebagainya. Lebih jauh lagi, menyesuaikan pakaian, tas dan sepatu sesuai dengan kondisi, trend masa kini dan menggunakan merk-merk terkenal untuk meningkatkan image dan prestise-nya.

Secara umum, saya sendiri tentunya serupa. Berupaya agar bisa tampil dengan baik di depan umum. Bersih dan terawat. Tetapi saya kadang rapi, kadang kurang rapi. Dibanding wanita lain, secara relatif saya memiliki ketertarikan yang kurang terhadap pakaian.

Saya jarang membeli pakaian. Apalagi tas dan sepatu. Kalaupun lemari pakaian saya kelihatan penuh, tetapi sebagian sudah tak bisa dipakai dan usang, karena semua itu adalah koleksi sejak puluhan tahun lalu. Saya jarang membuang atau menghibahkan pakaian saya. Karena setiap pakaian memiliki kenangan.

Daster atau pakaian lainnya jika robek, biasanya saya jahit dan pergunakan lagi. Demikian juga sepatu. Saya biasanya menggunakan sepatu untuk jangka waktu yang panjang. Hanya setelah benar-benar sobek atau butut, barulah saya membeli yang baru.

Suami saya menganggap saya bukanlah wanita yang modis atau berpenampilan keren. Karena itu kadang-kadang ia membantu saya membelikan baju-baju, tas dan sepatu. Tentu dengan maksud agar penampilan istrinya bisa lebih keren dan kece. Atau mengikhlaskan baju-baju kemejanya saya pakai jika perlu.

Bekakangan ini entah kenapa dia hobby banget membelikan saya barang-barang yang menurut dia adalah kebutuhan saya. Mungkin karena kemudahan memilih dengan belanja online.

Tiba-tiba saja dia membelikan saya dompet baru dan mengatakan dompet yang saya pakai sudah tua dan layak diganti. Emang sih umurnya sudah lebih dari sepuluh tahun. Lalu ia membelikan saya tas, karena dilihatnya saya sering menggunakan ransel anak saya yang tidak terpakai untuk ke kantor. Terakhir ia merasa sepatu saya sudah usang dan itu-itu saja.

Ya sih. Saya suka menggunakan boots yang ringkas dan nyaman di kaki. Sudah saya pakai sejak 5 tahun yang lalu dan tak pernah saya ganti. Saya pakai ke kantor, ke mall, ke pasar, ke mana saja. Kecuali jika perlu banget berpakaian resmi, misalnya pakai kain kebaya, barulah saya ganti dengan high-heels.


Sesekali saya lap, bersihkan dan saya semir. Menurut saya sih masih layak banget dipakai. Karena bahannya kulit dan tidak ada kerusakan sama sekali. Jadi saya tidak merasakan urgensi dalam membeli sepatu baru.

Suami saya menunjukkan beberapa model sepatu boots yang dijual di toko-toko online. Barangkali ada yang saya sukai. Hm.. sebenarnya tidak ada yang cocok banget. Saya menggeleng.

Beberapa bulannya kemudian, dia menunjukkan kembali katalog sepatu boots di toko online. Kali ini modelnya cukup mirip dengan sepatu usang saya, tetapi kelihatannya agak ribet. Ada strap, tali dan restleting. Sedangkan sepatu usang saya cukup hanya restleting samping saja. Walaupun harganya cukup mahal, tapi ini lagi ada promo. Jadinya harganya miring. Setengah harga. Okey. Jadi saya setuju dengan pilihannya.

Akhirnya sepatu boots baru itupun datang. Saya mencobanya. Ya seperti diduga, modelnya mirip dengan sepatu yang sekarang tapi agak lebih ribet aja. Tapi saya pakai juga buat ke kantor.
Nggak ada teman saya yang ngeh jika sepatu saya baru 😂😂😂 . Sehari dua hari saya pakai, lama-lama saya jadi ingin memakai sepatu yang lama lagi. Apa pasal?


Saya punya kebiasaan buruk, jika duduk mengeluarkan kaki saya dari sepatu. Lalu memasukkannya lagi jika mau berjalan. Karena kaki saya mudah merasa kepanasan di dalam sepatu. Jadi perlu sepatu yang simple agar mudah memasukkan dan mengeluarkan kaki saya.


Nah…sepatu yang ini ribet banget. Sudah ada restletingnya, ada talinya juga dan ada strapnya lagi. Untuk mengeluarkan kaki, minimal saya harus membuka restleiting dan strapnya.


Lalu untuk memasukkannya pun sama. Minimal harus menutup restleting dan strap. Untung talinya tidak harus selalu dibuka dan diikat ulang.


Diam-diam sayapun mengganti sepatu itu dengan sepatu saya yang usang. Yang lebih nyaman di kaki saya.

Suami saya rupanya mengetahui ini dan kadang-kadang menanyakannya kepada saya. Sayapun kadang-kadang memakainya lagi jika ditegur suami saya. Tetapi berikutnya kembali lagi saya gunakan sepatu butut kesayangan saya itu.

Semalam, suami saya bertanya lagi. Mengapa sepatu pemberiannya tidak pernah saya pakai. Sayapun menjawab jika sepatunya sebenarnya kurang praktis. Kaki saya suka kepanasan dan ribet mengeluarkan-memasukkannya kembali.

Suami saya tersenyum mendengar alasan saya. Lalu ia berkata,

“Baiklah. Kalau begitu besok sepatunya kita kasih ke tukang sayur saja ya. Barangkali ia lebih memerlukannya”.

Saya tertawa dengan gurauan suami saya. Lalu saya menjawab,

“Sepatu Boots Untuk Tukang Sayur. Besok saya tulis di blog. Kelihatannya menarik ini” kata saya.
Sebenarnya ada rasa nggak enak.

Lalu suami saya menjawab dengan tersenyum,


” Tulislah! Agar kamu bisa menyadari dan menghargai pemberian orang lain. Betapa orang yang memberikan sesuatu kepada orang yang disayanginya itu dengan tulus, sesungguhnya ingin agar pemberiannya itu dipakai”.

Saya terdiam. Lalu diam-diam ke kamar mandi. Air mata saya bercucuran. Ooh.. alangkah jahatnya saya pada suami saya selama ini. Ia telah bersusah payah mengumpulkan setiap rupiah penghasilannya agar ada yg bisa dihadiahkannya kepada saya dan anak-anaknya dengan tulus. Tetapi saya kurang menghargai pemberian dan usahanya selama ini.

Semoga Tuhan mengampuni.

MEMAHAMI KEMURNIAN RASA.

Standard

Ini cerita soal kesehatan dikit ya.
Jadi setelah melihat berbagai parameter kesehatan saya yg buruk bulan lalu, (jangan tanya sakitnya apa, karena banyak dan complicated 😂😂😂 – syukurnya mendapatkan penanganan dokter dengan baik dan keluarga yg juga sangat supportive), lalu saya bertekad untuk membuat parameter kesehatan saya ini agar normal kembali. Setidaknya membaiklah.

Saya pikir ini adalah badan, badan saya sendiri. Orang lain bisa kasihan, bersimpati, atau berusaha membantu, tetapi jika kitanya sendiri tidak ada usaha untuk membetulkannya, yaah…sama aja dengan bohong ya. Jadi, saya adalah orang yang harus menyetir kesehatan diri saya sendiri.

Pertama saya menjaga diri agar tetap semangat. Orang bilang semangat itu sendiri sudah merupakan 50% dari proses penyembuhan 😀.

Lalu berbagai upaya saya lakukan, selain mengikuti pengobatan dari dokter dan berolah raga, saya juga mulai memaksa diri saya untuk cukup istirahat, tidak pulang malam-malam lagi dari kantor, kurangi begadang, mengatur pola makan, dan mengurangi level kegendutan saya.

Untuk pola makan, saya mengurangi asupan karbohidrat, mengurangi garam dan gula. Saya lebih banyak memakan sayuran rebus, tahu kukus, putih telur, daging ayam dsb. Sebenarnya apa saja saya makan, yg penting bukan yg berkarbohidrat tinggi, tidak manis dan tidak terlalu asin. Hambar?

Ya kebanyakan rasanya hambar. Terutama di awal-awal ya (kadang saya cocolin ke sambel juga biar lebih ada rasa). Barangkali karena lidah saya agak shock juga. Biasanya makan dengan rasa yang meriah, pedas, asam, manis, asin, kadang sedikit pahit, nah sekarang tiba-tiba berubah menjadi berkurang semua itu. Tidak ada lagi gegap gempitanya rasa di lidah. The party Is over!

Masih untung, saya punya semangat dan keinginan untuk sembuh. Walaupun kebanyakan hambar, saya lakoni saja dan terus lakoni dengan setia. Sehari berlalu, dua hari, 3 hari, seminggu dan seterusnya, hingga suatu hari saya menyadari, sesungguhnya makanan yang tadinya saya bilang hambar itu ternyata ada rasanya. Dan nikmat.

Saya bisa menikmati rasa itu dengan baik. Tahu yang lebih Tahu tanpa ada bumbu lain. Rasa Bayam yang lebih Bayam dalam kemurniannya. Rasa Brokoli dan segala macam rasa makanan lain dalam bentuknya sendiri yang selama ini terkamuflase di dalam polesan rasa asin, manis, pedas dan sebagainyabdari bahan lain.

Jadi hambar itu sesungguhnya bukan benar-benar hambar. Hanya karena ia tidak bisa dimasukkan ke dalam golongan panca rasa yang diklasifikasikan manusia, bukan berarti dia benar-benar hambar.

Betapa banyak sesungguhnya jenis rasa yang tercipta dalam semesta ini. Selama ini kita hanya mengklasifikasikan dengan sangat sederhana, Manis, Asin, Pedas, Pahit, Asam… dan kalau tidak tahu menggolongkannya, kita sebut saja Enak dan Tidak Enak. Padahal rasa itu jauh lebih banyak dari sekedar itu. Rasa Bayam berbeda dengan rasa Tauge. Berbeda dengan rasa Sawi. Berbeda dengan rasa Tahu. Dan seterusnya. Dan bahkan yang disebut dengan rasa asampun sebenarnya jenis asamnya berbeda-beda. Antara asamnya buah asam dengan buah jeruk berbeda. Dan diantara berjenis-jenis buah jerukpun berbeda-beda lagi.

Memakan makanan dalam rasa aslinya, membuat saya merasakan sel-sel lidah saya menemukan fungsinya dengan lebih baik. Ibarat melakukan meditasi ke dalam diri sendiri, melewati setiap sel perasa di lidah. Setiap sentuhan rasa di sel itu, memicu rasa syukur dan ketakjuban akan kebesaranNYA
Saya mulai mampu menikmati dan memahami setiap rasa. Memahami kemurnian.

Dalam waktu sebulan, beberapa parameter kesehatan saya mulai ada yang normal, dan sebagian lagi sudah mendekati normal. Astungkara Tinggal sedikit lagi dan saya harus terus berjuang.

Mudah-mudahan berikutnya semakin membaik.

KETIBAN CECAK.

Standard

Aduuh…tadi saya ketiban cecak jatuh” cerita Siti kepada saya. “Apa ya Bu kira-kira artinya?” Lanjutnya bertanya dengan wajah agak khawatir. Saya nggak langsung menjawab karena sedang mengunyah buah.

Awalnya saya mau bilang, cecak jatuh kan wajar-wajar saja. Diantara sekian ekor cecak yang merayap di dinding atau di langit-langit sesekali kan pasti ada yang terpeleset dan jatuh juga. Terutama saat berlari atau meloncat mencoba menangkap nyamuk atau serangga kecil lainnya.  Sesuatu yang sangat wajar dan tidak usah terlalu dipikirin.

Tetapi kemudian saya ingat, jika di Bali cecak dipercaya sebagai lambang ilmu pengetahuan. Lambang  berkah dari Sang Hyang Aji Saraswathi, sebutan Tuhan Yang Maha Esa dalam fungsinya sebagai penguasa Ilmu Pengetahuan.  Jika ketiban cecak ya artinya akan beruntung mendapatkan ilmu pengetahuan baru. Akan tambah pintar   atau akan mengetahui sesuatu yang bermanfaat untuk kebaikan diri sendiri, keluarga ataupun masyarakat.

Juga sebagai lambang kebenaran informasi. Misalnya jija seseorang sedang menceritakan sesuatu kepada orang lain yang belum jelas kebenarannya dan tiba-tiba seekor cecak berbunyi “cek cek cek cek”, maka seketika bunyi cecak itu meningkatkan level kepercayaan si pendengar akan kebenaran dari cerita itu. Jadi, cecak memiliki posisi yang cukup tinggi di Bali. Tidak ada hal mengkhawatirkan tentang cecak. Semuanya baik.

Sayapun menceritakan kepercayaan Orang Bali tentang cecak ini. Sayangnya Siti tetap murung, walaupun sudah saya ceritakan tentang hal baik ini.
“Tetapi kalau di Jawa, orang percaya kalau kejatuhan cecak itu alamat buruk, Bu. Akan ada musibah yang menimpa” katanya semakin murung.  Saya jadi tertegun mendengarnya. Ooh sedihnya.  Bagaimana cara saya menghibur Siti kalau begini ya?. Saya sendiri bukan orang Jawa yang memahami kebudayaan dan kebiasaannya dengan baik.

Mengapa berbeda banget ya antara kepercayaan masyarakat di Jawa dengan di Bali tentang cecak?. Padahal binatangnya ya cuma itu-itu saja. Sama -sama cecak. Bukan kadal. Bukan buaya.

Cecak, hanyalah seekor binatang kecil pemburu serangga yang bernama latyn Hemidactylus frenatus, masuk ke dalam family Gekkonidae, Ordo Squamata, Class Reptilia dan Phylum Chordata – demikian jika dilihat dari sudut pandang seorang ahli taksonomi hewan. Ia berubah menjadi sebuah lambang ilmu pengetahuan dan kebenaran jika dilihat dari sudut pandang saya yang lahir dan besar di Bali. Dan berubah sebagai pembawa tanda musibah jika dilihat dari sudut pandang Siti, yang lahir dari keturunan Jawa dan besar di Jawa. Weeehhhh… binatang yang sama, tapi bisa beda-beda ya.

Semakin saya mikirin tentang cecak yang memiliki sudut pandang dan kepercayaan yang berbeda-beda ini, semakin banyak saya menemukan hal-hal lain yang juga memiliki perbedaan persepsi dan image, antara di pulau Jawa dengan di pulau Bali.

Contohnya adalah Bunga Kamboja. Jika di Jakarta, Bunga Kamboja sangat erat kaitannya sebagai Bunga Kuburan. Karena pohon Kamboja banyak ditanam di kuburan. Bunga kesedihan. Dan dianggap seram. Siti pun yang besar di Jawa mengatakan sama. “Bunga yang membuat takut”, katanya.

Sedangkan di Bali, bunga Kamboja dianggap sebagai bunga kebahagiaan hati. Justru ditanam di rumah atau di tempat suci. Bukan di kuburan. Sehingga tidak heran jika kita ke Bali, kita bisa melihat banyak wanita Bali dengan riang gembira menyelipkan bunga Kamboja di telinganya atau untuk menghiasi rambutnya. Selain dipakai sebagai hiasan rambut, bunganya dipakai sembahyang, untuk menari dan juga untuk pengharum ruangan. Bunga yang penuh dengan hal-hal positive.

Contoh lain lagi adalah bunga Kenanga.  Saya sering mendengar teman-teman di Jakarta mengaitkan bunga Kenanga dengan hal-hal yang berbau mistis. Sedangkan di Bali, bunga ini dianggap sebagai perlambang wanita cantik yang bersikap baik sepanjang usianya. “Selayu-layu-layune miyik” -walau selayu/setua apapun tetap cantik dan harum namanya. Tidak ada kaitannya dengan dunia mistik sama sekali. Sedangkan di mata ahli parfum, bunga ini adalah penghasil ekstrak essential oils Cananga Odorata bahan pembuat parfum yang sangat mahal harganya.

Sebaliknya ada hal yang di Bali dihindari, di budaya lain dianggap biasa saja atau normal. Misalnya, orang Bali selalu menghindarkan menjemur pakaian tinggi-tinggi. Apalagi lewat di bawah jemuran. Itu benar-benar dianggap TABU.  Demikian juga meletakkan bantal di kaki, atau menginjak bantal. Itu sangat Tabu. Mengapa? Karena bantal adalah tempat meletakkan kepala. Dan kepala sendiri bagi orang Bali adalah sangat sakral sifatnya. Selain karena pusat pengendali pikiran ada di kepala, kepala dianggap sebagai hulu, dengan cakra Sahasrara di ubun-ubun yang memungkinkan keterhubungan dengan alam semesta dan Sang Maha Pencipta. Karenanya kepala dianggap sangat suci. Jangan sampai kesuluban jemuran. Apalagi jemuran pakaian dalam. BIG NO! NO!

Kalau kita gali, tentunya masih banyak lagi contoh-contoh lain dimana suatu hal/ benda bisa dipersepsikan positive di sekelompok masyarakat tertentu, tetapi dipersepsikan negative di kelompok masyarakat yang lain. Dan sebaliknya. (Tidak hanya terbatas di Jawa & Bali saja, tetapi juga mungkin suku dan bangsa lain yang berbeda). Lalu kelompok manakah yang lebih benar ?

Terus terang saya jadi tidak tahu jawabannya. Karena semua itu hanya kepercayaan saja. Kepercayaan lokal yang dibentuk barangkali oleh pengalaman, pengetahuan ataupun persepsi yang dibentuk oleh masyarakat lokal selama bertahun-tahun, puluhan atau bahkan mungkin ratusan tahun. Bisa jadi berbeda dari satu lokasi ke lokasi lainnya.

Kepercayaan. Namanya juga kepercayaan ya, hanya berlaku bagi orang-orang yang mempercayainya saja. Jika tidak percaya, ya otomatis itu bukan kepercayaan lagi namanya. Dan kita ini mahluk bebas merdeka. Boleh percaya boleh tidak. Believe it or not.

Perbedaan tidak harus membuat kita tercerai berai. Cukup kita tahu dan hormati kepercayaan orang lain.
Bhineka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangeruwa.

CERITA TEPI DANAU BATUR: KALIBUNGAH.

Standard
Kalibungah

Selagi ada di rumah Kakek di desa Songan minggu lalu, saya menyempatkan diri berjalan-jalan menyusuri tepian danau Batur. Suasana agak sepi. Udara pegunungan yang dingin membuat saya tidak merasa kepanasan, walau di bawah sinar matahari yang terik. Tetap nyaman-nyaman saja.

Mendekati vegetasi danau yang merimbun di tepian, tampak beberapa ekor Burung Bangau putih terbang dan hinggap di keramba. Oooh dunia yang damai.

Sementara dua orang pria tampak memancing dari tepian. Sayapun mendekat, menyapa dan ikut melihat-lihat hasil pancingannya. Wow. Beberapa ekor ikan Mujair yang cukup besar-besar juga. Ada kira-kira sebesar 2 x telapak tangan saya.

Usai mengobrol tentang ikan di danau, saya teringat pada Kalibungah. Jenis burung air, yang walaupun tidak bersifat endemik danau Batur saja, tetapi jaman saya kecil merupakan burung air yang sangat umum saya temukan disini. Sayapun bertanya kepada dua orang pemancing itu, apakah Kalibungah masih ada dan belum punah dari danau ini.

Tepat setelah saya bertanya itu, seekor Kalibungah menunjukkan dirinya di sela-sela tanaman Eceng gondok, seolah-olah paham jika saya sedang memanggil. Berenang-renang dengan riangnya sambil beberapa kali tampak menyelamkan kepalanya ke dalam air. Hati saya ikut senang bukan alang kepalang. Kalibungah ini masih tetap ada.
Sayang sekali, saya tidak sedang membawa kamera dengan lensa panjang agar bisa memotret dengan lebih dekat. Cuma kamera hape yang ala kadarnya.

Kalibungah alias Swamp Chicken (Galinula chlorophus) adalah burung air yang jika sedang berenang terlihat mirip bebek berwarna hitam, tetapi jika berjalan lebih mirip dengan ayam. Secara keseluruhan bulunya berwarna hitam kebiruan di bagian depan dan hitam kecoklatan di bagian belakang dengan sedikit bercak putih pada sayapnya. Paruhnya sendiri berwarna merah dengan sedikit ujung kuning.
Burung ini membuat sarang di rumpun talang -talang ataupun tanaman air lainnya.

Setelah beberapa saat, saya sadari ternyata populasi Kalibungah di area ini lumayan banyak juga. Ada beberapa ekor saya lihat berenang, bercanda dengan pasangannya dan ada juga yang sedang berjemur di bawah sinar matahari.

Berbagai dongeng tentang Kalibungah diceritakan sebelum tidur oleh nenek saya semasa kecil. Salah satunya adalah dongeng tentang anak Kalibungah yang nakal, yang tidak mendengarkan nasihat induknya agar jangan bermain jauh-jauh dari sarang. Induknya memberi batas pagar rumput talang-talang untuk area yang ia boleh bermain dan belajar berenang.

Tetapi karena bandel, anak Kalibungah ini terus bermain dan mengendap-endap keluar pagar, semakin jauh dan semakin jauh dari sarang dan tanpa disadari seekor ular besar mengintai dan ingin memangsanya. Ia belum bisa terbang dan membela diri. Untunglah induknya segera menyadari dan akhirnya menyelamatkan anak Kalibungah yang nakal ini pulang kembali ke sarangnya.

Kalibungah, membawa lamunan saya pada tempat tidur nenek saya yang hangat, di dekat dapur dimana bara api masih terus memerah di udara malam yang menggigil. Tempat kami menginap berdesak-desakan setiap kali pulang kampung.

Kangen.

GPS & Otak Yang Tak Terlatih Lagi.

Standard

Saat ini GPS alias Global Positioning System sudah sangat umum digunakan untuk membantu kita menentukan arah ke tujuan ataupun memahami di mana posisi kita berada.  System ini sangat mudah kita temukan di telpon genggam yang kita pakai, di pesawat, dan bahkan banyak kendaraan generasi baru juga sudah memiliki GPS yang terpasang di dalamnya. Ini tentu sangat memudahkan kita, terutama saat sedang dalam perjalanan.

Kapan hari saya juga menggunakan GPS ini untuk mencari lokasi Agen pengiriman barang terdekat. Saat itu sedang bepergian ke Denpasar bersama adik saya yang nomer tiga. Kami berada di area Renon. Di sekitar jalan Badak Agung. Di tengah jalan saya keingetan jika perlu mengirim  paket. Jadi saya bilang ke adik, untuk mencari agen pengiriman terdekat , entah itu JNE, JNT, Sicepat dan sejenisnya.
“Coba search saja” kata adik saya. Sayapun melakukan searching dan dengan cepat bisa menemukan lokasi Agen perjalanan yang saya cari.
Saya langsung memberi tahu adik saya alamat Agen itu.

“Coba bantu dengan GPS,” kata adik saya. Oh.. padahal dekat. Kenapa harus pakai GPS, pikir saya. Selain itu juga ia tumbuh dan besar di Denpasar. Harusnya sangat mudah baginya untuk mencari lokasinya.

Demikian juga setelah selesai dengan urusan pengiriman barang dan kami bermaksud pulang ke Bangli. Lagi-lagi kami mengandalkan GPS.

Adik saya lalu bercerita, jika ia sudah terlalu sering menggunakan GPS belakangan ini, sehingga jadi terbiasa dan males juga mikir jika harus mencari sebuah lokasi. Kalau dulu sebelum ada GPS ia hapal dan tahu persis peta area Renon, Denpasar dan sekitarnya. Karena tak punya pilihan, harus menghapal dan mengingat setiap jalan yang dilalui. Sejak ada GPS, ia tak perlu banyak berpikir lagi, karena GPS yang sudah memikirkan, dimana lokasi yang mau dituju dan bagaimana cara terdekat menuju ke sana.

GPS di satu sisi sangat membantunya menjadi cepat dalam mencari sebuah lokasi, tapi di sisi lain juga membuatnya malas berpikir, manja dan bisa dibilang… menjadi bodoh akan peta area, karena kemampuan alias Orientation skill-nya tidak lagi terasah dengan baik.

Bener juga ya. Saya jadi ikut merenungkan cerita adik saya itu.

Teori evolusi mengatakan, mahluk hidup cenderung akan menghilangkan organ-organ dan kemampuannya yang tidak dipergunakan lagi.

Contohnya nih, jaman dahulu manusia dikatakan memiliki ekor. Tetapi karena manusia sudah berhasil berdiri dengan seimbang dan bahkan berjalan dan berlari stabil dengan dua kaki , maka ia tidak lagi membutuhkan ekor sebagai organ penyeimbang. Demikian juga fungsi ekor sebagai alat komunikasi. Tidak lagi dibutuhkan, karena kemampuan manusia berkomunikasi dg organ lain sudah sangat berkembang. Akibatnya , lama kelamaan ekornya  menghilang. Karena tak berguna. Tinggal sisa-sisa tulang ekor yang mengalami rudimenter.

Demikian juga Ular memiliki kaki jaman dulu. Tapi gara-gara keseringan ngesot, kakinya tidak dibutuhkan lagi akhirnya mengalami rudimenter dan menghilang. Sesekali kita masih menemukan sisa-sisa tulang kaki pada ular tertentu.

Pada kenyataannya kemampuan lain manusia juga mengalami hal yang sama.  Saya ingat jaman dulu belum ada kalkulator. Menghitung tambah, kurang, kali, bagi, kwadrat, rasanya bisa kita lakukan dalam hitungan detik saat SD dan SMP. Begitu guru menyelesaikan kalimat pertanyaannya, secepat itu juga kita bisa mengangkat jari telunjuk ke atas agar bisa ditunjuk Guru untuk menjawab. Tapi sekarang ?

Bahkan hitungan yg mudahpun terkadang saya butuh waktu panjang untuk menjawab. Kenapa?. Ya itu. Karena saya sudah menggantungkan diri pada kalkulator atau Excel. Tidak pernah lagi mengasah otak saya untuk berhitung. Dan ibaratnya pisau, jika tak diasah ya lama -lama tentu semakin tumpul. Kemampuan berhitung saya mengalami rudimenter wk wk wk .

Nah sekarang datang lagi GPS. Jika suatu saat kita menjadi sangat tergantung padanya, maka kemampuan kita memetakan area di sekitar akan menjadi semakin kurang dan kurang.

Pada suatu ketika nanti, manusia akan menjadi terlalu manja, terlalu bergantung atau bahkan mungkin akan disetir oleh benda ciptaannya sendiri.

CERITA TEPI DANAU BATUR: PANYOROGAN.

Standard
Panyorogan, Desa Songan, Kintamani.

Panyorogan adalah sebuah tempat di Desa Songan yang letaknya persis di tepi Danau Batur. Di sanalah letak rumah kakek saya. Tanah di mana saya bisa membuka jendela dengan pemandangan langsung ke danau.

Halaman belakang rumah kami adalah sebidang tanah pertanian yang langsung bersentuhan dengan air danau, di mana ada sebuah mata air panas muncul di bawah akar Pohon Mangga dan membentuk parit kecil yang mengalir ke danau.

Di lepas danau, tak jauh dari pantainya ada sebuah Batu Besar yang selalu menjadi patokan kedalaman air. Nenek saya selalu bilang, jika anak-anak bermain atau berenang di danau, tidak boleh melewati Batu Besar itu, karena selewat Batu Besar kedalaman danau sudah terlalu dalam. Kami selalu ingat kata-kata Nenek.

Persis di sebelah rumah, ada jalan desa yang digunakan penduduk untuk ke danau. Entah sekedar untuk mengambil air, untuk mandi, atau pintu keluar masuknya penduduk desa yang bepergian dengan menggunakan sampan atau boat. Penyorogan adalah sebuah pelabuhan kampung di masa lalu.

Sejak dibukanya akses jalan aspal ke Desa Songan melalui batu cadas letusan Gunung Batur di tahun 1983-1984, penduduk lebih banyak menggunakan akses darat ketimbang angkutan danau jika ingin keluar desa. Akibatnya, pelabuhan perahu di Panyorogan jarang dipakai dan lama kelamaan tidak terpakai sama sekali.

Hal lain yang membuat Panyorogan berubah, adalah permukaan air danau yang semakin naik. Menenggelamkan Batu besar yang merupakan penanda kedalaman danau dan bahkan menenggelamkan sebagian besar ladang kakek yang di tepi danau. Membuat rumah kami semakin dekat posisinya dengan air.

Dua tahun terakhir ini, pemerintahan Desa mengambil keputusan untuk membuat jalan baru ke Hulundanu untuk membantu menguraikan kemacetan di jalan utama desa, akibat semakin meningkatnya kunjungan orang luar ke Pura Hulundanu Batur. Untuk mewujudkan upaya itu, maka pemilik tanah di tepi danau mesti merelakan sebagian tanahnya untuk dijadikan jalan. Nah.. itu membuat halaman belakang rumah kakek kami semakin habis dan sekarang malah menjadi halaman depan karena menghadap ke jalan baru.

Tak apalah, demi kepentingan masyarakat banyak.

Sisa tanah yang sangat dekat dengan air sekarang tidak terurus dan ditumbuhi semak air, tempat burung-burung air bersarang, bertelur dan membesarkan anaknya. Selain itu sebagian penduduk juga membuat keramba ikan. Membuat danau semakin berkurang keindahannya, tetapi semakin produktif.

Ini adalah beberapa gambar yang saya ambil di sekitar Panyorogan.

Catatan. Dalam Bahasa Songan, kata Panyorogan sering dilafalkan sebagai “Panyorogang” dengan akhiran “ng” dan bukan “n”. Misalnya dalam percakapan ini.
Tanya : Cang ka jaa lajana jerone? (Memangnya kamu mau ke mana?).
Jawab: Cang ka Panyorogang (Akan ke Panyorogan).

Atau disebut dengan akhiran “i”. Bukan “an”.
Contoh:
A: Jaa lana kecaganga ubadi? (Dimana ketinggalan obatnya?).
B:. Di Panyorogi (Di Panyorogan).

NGEREM PESAWAT

Standard

Ini cerita minggu lalu. Saat itu saya dan adik saya dalam sebuah perjalanan dari arah Bedugul ke Bangli, melintasi daerah Goa Gajah.  Tiba-tiba adik saya ngerem mendadak dekat pertigaan karena ia lupa arah, mesti belok ke kiri apa ke kanan. Saya yang duduk di sebelahnya jadi refleks ikut menekan ujung kaki kanan saya ke bawah seolah-olah saya sedang menekan pedal rem kaki. Padahal tentu saja tidak ada pedal rem di dekat kaki saya, karena saya tidak di posisi yang sedang nyetir. Adik saya tertawa melihat kelakuan saya.

Saya sendiri juga heran sih dengan kebiasaan saya itu. Setiap kali jika menumpang kendaraan yang melaju kencang atau ngerem mendadak, saya dengan refleks berusaha mencegah laju kendaraan dengan cara menekankan kaki saya kuat-kuat ke lantai kendaraan. Seolah-olah sedang ngerem. Padahal tentu saja tidak ada efek ngerem apapun yang bisa saya lakukan dengan cara seperti itu.

Demikian juga jika menumpang pesawat. Setiap kali pesawat mendarat, begitu rodanya mencapai daratan dan pilot berusaha mengurangi lajunya, maka sayapun ikut refleks mencengkeramkan ujung kaki saya ke lantai pesawat seolah-olah ikut membantu ngerem lajunya pesawat agar lajunya berkurang. Padahal jelas-jelas cengkeraman kaki saya itu walau sekencang apapun sebenarnya tidak ada gunanya dalam mencegah laju pesawat.

Usaha yang sebenarnya jelas sia-sia.
Misalnya nih rem pesawat itu blong (semoga tidak), pesawat itu tentu akan tetap meluncur saja tanpa kuasa gerakan kaki saya menyetopnya. Saya tahu itu. Tetapi mengapa ya kok saya sering melakukan itu?

Dan setelah saya menceritakan kebiasaan saya itu, ternyata ada banyak teman juga yang punya kebiasaan mirip dengan saya. Berusaha mengerem pesawat yang sedang melaju 😀.

Mengapa terkadang kita melakukan sebuah upaya yang sebenarnya kita tahu persis itu  sia-sia?

Saya pikir, kecemasan adalah hal utama yang memicu hal itu. Kecemasan akan sesuatu yang buruk bisa saja terjadi. Oleh karenanya kita berusaha mekakukan sesuatu untuk sesuatu (ngerem) untuk mengurangi atau memperkecil resiko itu. Itu membuat kita merasa lebih tenang dan lega karena merasa sudah ikut berpartisipasi dalam upaya memperbaiki keadaan.

Tetapi sekali lagi itu hanya perasaan. Karena sesungguhnya kita tidak pernah bisa memperbaiki keadaan dengan hanya berhalusinasi sedang ngerem pesawat atau kendaraan yang sedang melaju. Kecuali kita sendiri yang mengambil alih kendalinya. Kita yang benar-benar bisa melakukannya. Mau ngerem atau ngegas.

Mungkin buat saya pilihannya adalah belajar memasrahkan diri dan mempercayakan hasilnya pada yang memegang kendali.  Karena ini pun sebenarnya bukan pilihan yang buruk. Bahkan mungkin pilihan yang lebih baik. Mengingat, jika seseorang telah dipercaya untuk menjadi supir atau pilot ataupun bentuk leader pemegang kendali lainnya, tentu ia dipilih karena memang memiliki kualifikasi tinggi di bidangnya itu.

Seorang yang diijinkan menyetir, tentu karena ia memiliki Surat Ijin Mengemudi yang sah. Begitu juga pilot. Pasti dia memiliki kualifikasi untuk menerbangkan pesawat. Nah…apalah artinya diri ini ? Boro-boro memegang  setir pesawat, melihatnya dengan mata sendiri aja belum pernah 😀.

Bagaimana mungkin saya yang tak pernah melihat sendiri bentuk pedal rem pesawat merasa sok bisa ngerem pesawat ? 😀😀😀. Percayakan sama pilotnya sajalah. Dan saya dukung agar sang pilot bisa menerbangkan dan mendaratkan pesawatnya dengan baik, dengan cara menjadi penumpang yang baik dan tertib.

Demikian juga  untuk kualifikasi pemegang kendali lainnya. Mau itu Ketua Kelas kita, Manager kita, Direktur kita, Pak Camat kita, hingga Pak Presiden kita. Semuanya ditunjuk dan atau dipilih berdasarkan kualifikasi dan dianggap mampu. Sebaiknya kita percayakan dan support agar pemimpin kita itu berhasil. Siapapun dia.

SWAB TEST.

Standard

Kemarin pagi begitu tiba kembali di Ibukota, saya segera ke sebuah Medical Center untuk melakukan Swab Test lagi, walaupun kemarinnya saya sudah melakukan Swab test juga di Denpasar. Jika Swab Test yang sebelumnya keperluannya untuk mendapatkan ijin penerbangan, yang kemarin pagi itu keperluannya agar diijinkan kembali masuk ke kantor.

Saat mengantri melakukan Swab, saya agak deg-degan juga. Karena yang mengantri di tempat ini sangaaaat banyak orang. Sementara tempatnya sempit. Sehingga jarak satu sama lain jadi sangat dekat. Bahkan bisa dibilang berdesakan.

Kita tak pernah tahu, apakah semua orang yang berdesakan mengantri itu semuanya akan negative hasilnya, atau ada beberapa diantaranya yang juga positive tanpa gejala. Who knows?.

Meningkatnya kasus di Jakarta memicu kenaikan jumlah orang yg ingin diswab sesegera mungkin. Bayangkan saja, jika ada 1 orang saja yang terdeteksi positive, sedikit tidaknya ada 4-5 orang di sekelilingnya merasa perlu diswab. Belum lagi orang-orang yang seperti saya, yang juga harus mengambil test swab karena akan/habis bepergian. Tak heranlah jika jumlah orang yang mengantri di tempat Swab melonjak hebat.

Saya agak menjauh dari kerumunan. Maksud saya biar aman. Tetapi suara si Mbak penjaganya agak kecil dan jauh. Sehingga saat nama saya dipanggil, saya tidak langsung muncul. Pertama karena terdengar hanya sayup-sayup saja. Ke dua, karena saya perlu beberapa langkah untuk menuju ke sana. Si Mbak terpaksa memanggil nama saya sampai 3 x. Itu saat menunggu giliran diswab.

Demikian juga saat mengambil hasil. Saya menunggu agak jauh. Kok nggak dipanggil-panggil ya. Padahal katanya tadi hasilnya akan keluar sekitar 15-20 menit.

Sekitar 25 menit kemudian saya bertanya, sudah ada hasil apa belum. Petugas di depan memberi tahu, tunggu saja. Nanti jika hasilnya sudah ada, pasti akan dipanggil namanya.

Saya pun menunggu agak dekat kerumunan, agar terdengar, sambil memantau ke arah petugas. Tetapi panggilan tiada kunjung datang jua. Sementara saya ada jadwal meeting online yang harus saya ikuti segera.

Akhirnya saya tanya lagi ke petugas. Kira-kira berapa lama lagikah saya harus menunggu. Jika lama, mungkin sebaiknya saya tinggal saja. Nanti saya ambil ke sini lagi jam istirahat makan siang.

Petugas bertanya, siapa nama saya. Sayapun menyebutkan nama. Lalu ia memeriksa kertas yang tergeletak di mejanya dan memberikannya ke saya. Ooh?!$??. Jadi, sebenarnya hasil saya sudah ada sejak tadi ? ???😀😀😀

Entah dimana mislek yang terjadi. Saya tidak punya semangat untuk protes. Mungkin petugasnya yang error, mungkin juga kesalahan saya sendiri karena tadi berdiri agak jauh dari perugas. Barangkali nama saya sudah sempat dipanggil, tetapi tidak saya dengar.

Saya membuka laporan itu dan membaca hasilnya NEGATIVE.

Saya pun meninggalkan kerumunan itu dan masuk ke kendaraan dengan hati yang tetap ketar-ketir. Segera pakai Hand sanitizer. Dan sisanya berdoa, semoga hari-hari berikutnya tetap negative.

Semoga pandemi segera mereda. Orang-orang yang sakit segera disembuhkan dan tak ada lagi penambahan kasus baru.