Sepuluh Tahun Saya Menulis.

Standard

10 Years Blogging.

Kapan hari, saya mendapatkan notifikasi dari WordPress, mengingatkan bahwa Desember 2020 ini tepat sudah 10 tahun saya nge-blog di https://nimadesriandani.wordpress.com/

Buat beberapa orang yang sudah puluhan tahun menjadi penulis, angka 10 tahun mungkin tidak ada apa apanya. Tetapi buat saya, bertahan untuk tetap menulis tanpa bayaran dan terus berusaha menulis tanpa stop setiap tahunnya selama 10 tahun ya lumayan membangggakan hati.

Hingga saat ini, saya sudah mempublikasi sekitar 1100 tulisan yang isinya beragam, kebanyakan tentang hal hal keseharian yang memberi saya inspirasi dan motivasi dalam menjalankan kehidupan yang berimbang sebagai seorang ibu rumah tangga, wanita bekerja dan seorang manusia biasa yang memiliki banyak ketertarikan mulai dari menjahit merenda, memasak, bercocok tanam, di dapur dan sebagainya. Sungguh semuanya itu mampu memberikan kebahagiaan bagi saya.

Blog saya saat ini sudah dibaca sebanyak 3 688 828 kali dengan 4 766 e-mail subscribers, selain sekitar 1 100 orang yg nge-like link pagenya di Sosmed.

Hal yang paling berkesan bagi saya dalam menulis adalah ketika kita menulis, maka banyak hal-hal positive yang sesungguhnya terjadi tanpa kita sadari.

Pertama, ketika akan menulis, tentu ada sesuatu yang melintas di pikiran yang sangat membuat kita semangat untuk menulis. Semangat itu sendiri sudah merupakan hal yang positive bagi diri kita sendiri. Kita menjadi lebih bahagia secara natural dan siap menggunakan otak kita untuk memilih dan mengatur kata kata dan kalimat demi kalimat yang ingin kita tuliskan.

Kedua, karena kita menulis dan tentunya kita tidak mau tulisan kita juga isinya ala kadarnya, maka kita cenderung berpikir. Cenderung menimbang nimbang rasa. Membuka hati dan membuka isi kepala, check dan crosscheck apa yang kita pikirkan dan rasakan, challenge lagi apakah ide itu benar atau tepat dan layak dipublikasi. Tentu kegiatan berpikir seperti ini, membantu otak kita tetap bekerja untuk mengurangi pikun.

Ketiga, setelah tulisan itu jadi dan terpublikasi, kita bisa melihat response orang lain baik sebagai silent reader ataupun pemberi komentar. Itu memberikan kita rasa terhubung satu sama lain. Setidaknya percakapan, diskusi ataupun drama yang kita tuliskan itu tidak hanya ada di dalam kepala kita sendiri saja. Orang lain yang ikut membacapun kini ikut memikirkannya juga. Dan jika tulisan itu berupa ide atau inspirasi dari sebuah kejadian, maka orang lainpun kini bisa ikut menyimak ide dan inspirasi itu untuk diimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Keempat, dengan menulis kita juga jadi mengasah diri kita untuk selalu memetik hikmah dan pelajaran dari setiap topik atau kejadian yang kita tuliskan.

Kelima, dengan menulis kita jadi menambah teman, baik teman teman sesama penulis dan juga teman teman baru yang awalnya membaca tulisan kita lalu menjadiksn kita teman.

Keenam, dengan menuliskan pengalaman kita, kejadian sehari hari dan sebagainya, maka kita sesungguhnya mencatatkan perjalanan hidup kita dan suatu saat bisa kita baca baca lagi untuk dikenang. Membantu memperpanjang memory kita.

Demikianlah hal hal positive yang saya dapatkan selama 10 tahun menulis.

Yuk teman teman, kit terus menulis!.

MEMILIH DALAM GELAP.

Standard

Hari Pemilihan Kepala Daerah.

Cukup sering kita menemukan berita miring yang menyedihkan tentang Kepala Daerah, entah Gubernur, Wakil Gubernur, Bupati, Wakil Bupati, Walikota dan sebagainya, entah itu tertangkap KPK karena kasus inilah, itulah. Terus ramai ramai menghujat dan membully. Ya, sudah pasti itu kesalahan sang pelaku yang memang terbukti melakukan hal yang melanggar hukum.

Tapi sebenarnya kalau dipikir, sekian % ada juga sih kesalahan kita sebagai masyarakat. Siapa juga ya yang dulu memilihnya?. Walaupun bisa jadi sebelumnya orang itu tidak punya reputasi buruk, namun tidak menutup kemungkinan, barangkali orang yang kita pilih itu memang dari sono sudah ada bibit bibit nakalnya. Tapi kita pilih juga. Terus saat ia terbukti melakukan sesuatu yang akhirnya diendus oleh KPK kita menggerutu sendiri,”Sialan tuh orang !”.

Nah…disinilah letak permasalahannya….

Saya sudah memenuhi kewajiban saya untuk memilih Kepala Daerah di tempat tinggal saya hari ini. Dalam pikiran saya, saya ingin memilih seorang Kepala Daerah yang memiliki Integritas yang tinggi, memiliki Leadership yang kuat, Managerial Skill yang juga mumpuni yang akan membawa daerah tempat tinggal saya mengalami kemajuan yang berarti baik dari sisi pembangunan mental dan fisik.

Tapi sejujurnya saya tidak mengenal satupun diantara kandidat itu, bagaimana kiprah dan performance-nya di posisinya sekarang dan bagaimana potensi kejujuran dan kesungguhannya dalam bekerja dan memimpin daerah. Ada 6 orang (3pasang pemimpin dan wakil) di kartu yang harus saya coblos.

Saya termenung sejenak. Ibu Hajjah ini, itu siapa? Bapak Haji anu itu siapa?? Bapak Drs ono itu siapa lagi???? Bingung!!!! Tak kenal, tak sayang dan memang nggak tahu.
Yang mana diantaranya yang memang terbukti punya reputasi bagus, terkenal kecerdasannya sejak jaman sekolah hingga kini, selalu menjadi bintang dan pemenang karena ide ide canggihnya dalam memecahkan masalah dan menggagas inovasi baru ?. Nggak kedengeran.

Atau siapa yang diantara 6 orang ini terkenal track recordnya memiliki kemampuan memimpin team yang bagus, sehingga setiap team yg dipimpinnya selalu kompak mampu mendeliver apa yang ditargetkan untuk mereka? Nggak kedengeran juga.

Atau ada nggak diantara 6 orang ini yang memang terkenal bersih, sederhana, humble dan fokus dan serius dengan pekerjaannya ketimbang yang flamboyan, nggak jelas juntrungannya, sibuk dengan pencitraan diri?. Nggak tahu juga.

Oke deh…atau setidaknya ada nggak diantara 6 orang ini yang terkenal dengan pandangan besarnya dalam bernegara di atas kepentingan daerah ataupun wilayahnya? Mampu mngedepankan kepentingan bangsanya ketimbang golongannya sendiri?Aah…nggak tahu juga saya.

Saya rasa semuanya tidak cukup melakukan sosialisasi diri pada masyarakat setempat. Saya tidak tahu siapa calom pemimpin saya. Serasa mencoblos dalam gelap.

Dan saya pikir orang yang seperti saya cukup banyak. Inilah masa mengambang yang sangat rentan terhadap penyuapan dan penyogokan. Dan tentunya semua kembali ke hati nurani masing- masing. Semoga Pilkada kali ini bersih.

Akan halnya saya, dalam kebutaan informasi, akhirnya saya hanya mengandalkan rekomendasi dari teman dan tetangga yang saya anggap memiliki reputasi bersih dan objective dalam kesehariannya. Semoga pilihan saya kali ini benar.

Selamat Mencoblos teman teman.
Mari kita ciptakan iklim pilkada yang sehat dan bersih.

Tentang Si Kaya dan Si Miskin.

Standard

Mencuatnya berita tentang 2 mentri yang berturut-turut ditetapkan sebagai tersangka korupsi dan suap oleh KPK, membuat teman teman dunia maya ikut sibuk berkomentar mengungkapkan kekeselan hatinya. Seorang teman bahkan menyebut bahwa koruptor itu sebetulnya Miskin. Miskin harta, miskin moral, miskin mental, miskin uang dan sebagainya. Saya setuju. Karena minimal jika akhlaknya tidak miskin, tentu ia tidak akan mau menerima suap ataupun bentuk korupsi yang lain.

Nah…apa yang kelihatan kasat mata sebagai orang kaya, belum tentu sesungguhnya kaya. Bisa jadi ia memang kaya karena warisan, karena kerja keras, karena menang undian, karena banyak utang, atau… karena korupsi, mencuri atau merampok.

Saya jadi teringat kejadian di masa lampau. Saya terlahir di sebuah keluarga yang tidak kaya. Tetapi tentu saja kurang bersyukur juga jika saya mengaku keluarga saya miskin. Tanpa mengurangi hormat saya pada Bapak, sesungguhnya Ibu saya yang seorang pekerja keraslah yang membuat kami lima bersaudara semua bisa menempuh pendidikan hingga ke perguruan tinggi dengan baik..

Dalam pandangan saya ketika itu sangat jelas, Orang Kaya adalah orang orang yang sukses dari hasil kerja keras/kerja pintar yang entah dilakukan oleh dirinya sendiri, orang tuanya, atau mungkin kakek buyutnya. Jadi orang yng kaya itu memang beneran kaya.
Sedangkan Orang yang miskin, adalah orang yang belum sukses mendapatkan harta dari hasil kerjanya.

Ketika pindah ke Denpasar, saya bergaul dengan lebih banyak teman. Dan tentunya lebih banyak anak orang kaya. Entah itu yang ortunya pemilik Artshop, pemilik Bank, pemilik Restaurant, pemilik Tempat Penginapan, dan sebagainya. Bahkan sempat terkagum-kagum melihat uang berkarung karung diturunkan dari kendaraan ortu teman yang punya banyak cabang Money Changer. Ck ck ck…luar biasa ya. Tak terbayang suksesnya ortu teman saya itu. Orang orang kaya yang sukses dari hasil kerja kerasnya.

Tak lama setelah tamat kuliah, saya bekerja di sebuah Bank Swasta dan ditempatkan sebagai Account Officer dan menangani beberapa nasabah premium. Dari data itu saya melihat di daftar ternyata banyak orang orang kaya di kota itu rupanya punya pinjaman bejibun. Ada yang masih lancar pembayarannya, dan ada yang tersendat- sendat dan tidak sedikit juga yang maceeetttt.

Nah sebagai karyawan saya harus mengingatkan pembayaran, meninjau kembali jaminan, membantu restrukturisasi utang dan sebagainya untuk membuat nasabah itu sehat kembali pinjamannya. Kadang ada yang mudah diajak berdiskusi, ada juga yang galak dan kasar (saya stress kalau harus menghadapinya. Bingung juga dia yang berutang kok dia yang lebih galak ya?), ada yg nilai jaminannya berupa tanah yang sudah tergerus air laut, ada yang jaminannya kok lebih kecil daripada utangnya (nah…ini apa yang dilakukan oleh karyawan sebelumnya yang membuat akad kredit ini? Bingung saya). Intinya bermacam macamlah persoalan pekerjaan yang saya hadapi saat itu.

Tapi ada satu hal yang menarik dan merubah persepsi saya tentang Si Kaya.
Ternyata Orang – orang kaya pemilik restaurant, hotel, dan sebagainya itu hutangnya di bank juga banyak. Jika Asset dan Hutangnya diseimbangkan, kemungkinan sisa assetnya cuma sedikit. Tidak sekaya seperti yang terlihat.

Bahkan ada yang minus juga kekayaannya. Assetnya bernilai lebih rendah daripada utangnya, misalnya jika tanah yang dijaminkannya tergerus sungai, atau bangunannya sudah sangat buruk, atau mungkin dulu saat penilaian terjadi kesalahan dan sebagainya.

Saya bahkan sempat berpikir, bisa jadi saya lebih kaya daripada nasabah bank di tempat saya kerja yang misalnya utangnya 5 M tp assetnya hanya 4 M. Dia tekor 1 M. Sementara gaji saya hanya 110 ribu rupiah jaman itu (tahun 1990), tetapi saya tidak punya utang. Hayooo lebih kaya siapa ? 😀😀😀

Jadi tidak semua orang kaya itu sesungguhnya memang benar benar kaya. Mungkin saja diantaranya ada yang punya banyak utang.
Sejak itu persepsi saya tentang orang kaya dan orang miskin berubah total. Saya tidak terkagum kagum lagi pada yang ortunya punya ini punya itu. Sesungguhnya tidak semuanya sehebat itu.
Demikian juga pada teman yang ortunya kelihatan biasa biasa saja, ternyata simpanannya di Bank segunung, dan bisa jadi juga cadangan Logam Mulianya banyak namun tak berbunyi. Siapa yang tahu.

Tidak silau pada si kaya dan tidak under estimate si miskin juga. Biasa aja lah…

Nah apalagi ini yang kaya karena suap, atau karena korupsi, mengambil yang bukan hak miliknya. Itu bukan Orang Kaya namanya. Karena sesungguhnya, kekayaan itu bukan hak miliknya. Miliknya hanyalah sebatas yang ia dapatkan dengan usaha dan kerja yang benar. Sedangkan yang bukan haknya itu adalah milik orang lain. Pastinya dia sesungguhnya lebih miskin dari kelihatannya.
Benar kata teman saya itu. Mental kere.
Itu saja.

SORE DALAM GERIMIS.

Standard

Kebunku sore ini dalam gerimis.
Entah apa yg menyebabkanku tidak produktif akhir pekan ini. Hanya memandangi tanaman dan tidak berbuat apapun. Ada sedikit menyemprot bibit Ketumbar agar daunnya tumbuh segar. Setelah itu rasa lelah dan kantuk mengganggu.
Akupun berbaring dengan lesu.
Lalu kubuka mataku.
Kupikir harusnya aku melakukan sesuatu.

Barangkali menyiangi daun daun yg kuning melayu. Atau menakar pupuk dan mencampurnya dalam larutan yang benar. Ya sesungguhnya tanamanku butuh nutrisi. Tapi entah kenapa tak beranjak juga aku dari tempat dudukku.

Barangkali aku bisa mencincang jamur merang yang kubeli tadi pagi. Lalu mencampurnya di atas wajan dengan merica, garam, kecap dan sedikit minyak wijen. Lalu kugulung dalam kulit lumpia. Ya, sesungguhnya anakku butuh cemilan iseng iseng sambil menanti gerimis. Tapi entah kenapa, aku hanya berpangku tangan.

Barangkali aku bisa mengambil kain, benang dan jarum. Lalu memotongnya menjadi beberapa pola. Entah untuk masker, tas, maupun bantal kursi. Eh, sesungguhnya pembungkus bantal kursiku sudah lama tak diganti.Tapi entah kenapa aku hanya membiarkan pikiranku sendiri yang melayang.

Barangkali aku bisa membuka kotak cat warna, membentangkan kanvas kosong dan mulai menarikan kuasku di sana. Ya, dinding kamarku yang putih rasanya butuh lukisan penuh warna untuk menghangatkannya. Tapi entah kenapa aku hanya bisa memandangi kotak itu dan rasa berat tanganku untuk membukanya.

Barangkali aku….. bisa apa saja. Tapi masalahnya bukan soal bisanya.
Tapi kapan aku memulainya….

GARDEN UPDATE: GARDENIA.

Standard
Gardenia alias Bunga Jempiring, alias Kacapiring.

Tidak pergi kemana-mana dan hanya diam di rumah saja, saya memandang bunga bunga Gardenia yang bermekaran menebar wangi di halaman.

Gardenia alias Bunga Jempiring atau Bunga Kacapiring adalah perdu dekoratif dengan daun hijau gelap dan bunga berwarna putih bersih yang sangat harum.

Ada banyak parfum kelas dunia yang menggunakan Gardenia Oil sebagai salah satu ingredient-nya yang memberikan wangi yang soft, creamy dan elegan.
Bunganya yang kuncup begitu mulai mekar, tercium semerbak sedikit greeny dan sangat menarik. Ketika mekar penuh, wanginya semakin elegan, creamy dan agak laktonik. Menariknya, meskipun mulai layu, bunganya tetap meninggalkan jejak wangi.

Dari sisi Olfactive, wangi bunga ini masuk ke dalam golongan “White Flower”. Dalam wangi bunga Gardenia ini terkadang kita bisa mencium samar-samar wangi bunga Lily, Kily of The Valley, wangi bunga Mawar dan wangi bunga Kenanga.

Walaupun ada sedikit tercium samar samar wangi bunga lain dalam wangi Gardenia, tetapi mengapa wangi Gardenia sangat unique dan elegan?. Itu karena kandungan alpha methyl benzyl acetate yang sangat unik dan hanya bisa ditemukan di alam pada bunga Gardenia segar yang sedang mekar. Itulah sebabnya mengapa kwalitas parfum dari bunga Gardenia ini selalu istimewa.


Di halaman rumah saya ada cukup banyak bunga Gardenia. Ada yg kuncup, mulai setengah mekar, sedang mekar, kelewat mekar hingga yang sudah mulai layu. Tapi wanginya tetap semerbak.

Bunga ini adalah bunga kesayangan ibu saya. Bapak saya menanamnya di tepi kolam di halaman rumah kami. Saya ingat Ibu suka menyelipkan bunga ini disanggulnya jika sedang berkebaya, atau menyelipkannya di bawah bantalnya. Itu sebabnya mengapa bantal tidur ibu saya selalu wangi.

Untuk mengenangnya, saya menanam 3 batang di halaman dan kadang juga ikut menyelipkan bunga wangi ini di bawah bantal saya.
Wanginya sangat lembut dan elegan.

Jiir Jra….. Jiir Jraa….

Standard

Bagi yang tahu istilah ini tentu tertawa. Tapi bagi yang tidak tahu arti “Jiir Jra” baiklah saya jelaskan sedikit, biar bisa ikut tertawa bersama.

“Jiir Jra” adalah kata kata ejekan atau sebuah bentuk bullying yang dilontarkan oleh teman teman di kota Bangli kepada anak-anak dari desa Songan, atau yang orangtuanya berasal dari desa Songan – Kintamani , macam saya ini.

Kata “Jiir Jra ” sebenarnya tidak ada. Tidak exist. Karena kata “Jiir Jra” adalah lafal salah yang diucapkan teman teman saat meniru para pedagang Ikan Mujair di Pasar Bangli yang berasal dari desa Songan dan sekitar tepi Danau Batur, saat menawarkan ikan dagangannya kepada khalayak ramai, yang sebenarnya berbunyi “Jair Jero, Jsir Jero….” yang artinya “Ikan Mujairnya Pak /Bu”. 🐟🐟.

Tapi karena mereka mungkin sulit meniru pengucapan “Jair Jero” itu (Orang Songan melogatkan huruf i dalam kata “Jair” dengan kemurnian i yang tinggi, benar benar i, tanpa campuran huruf e spt huruf i dalam kata mImpI. Sedangkan dalam logat Bali kebanyakan, huruf i dalam kata Jair diucapkan antara huruf i dan e huruf O seperti pengucapan huruf i dalam kata aIr. Demikian juga kata Jero. Disini dalam logat Songan diucapkan spt O dalam kata tOmat, sedangkan dalam logat bahasa Bali biasa huruf O di sini diucapkan seperti huruf O dalam kata dOremi). Perbedaan logat itulah yang dijadikan bahan tertawaan dan ditiru salah, maka jadilah yang keluar Jiir Jra … Jiir Jraaa..😀😀😀. Salah. Padahal orang Songan sendiri tidak ada yang mengatakan Jiir Jra.

(Sebagai catatan, orang Songan adalah orang-orang Bali asli pegunungan yang memiliki bahasa yg berbeda dengan Bahasa Bali pada umumnya. Saya pikir sekitar 40 – 45% kosa katanya berbeda dengan Bahasa Bali biasa yg berasal dari Jawa. Jadi jika 2 orang Songan bercakap cakap dalam Bahasa kampungnya, tanpa penterjemah, besar kemungkinan orang Bali lain tidak menangkap maksudnya).

Dan kata Jiir Jra selalu dipakai untuk membully saya, saudara dan sepupu sepupu saya, karena kami orang orang dari desa Songan, dan memang dari Songan banyak pedagang Ikan Mujair. Jadi sepertinya Orang Songan identik dengan Ikan Mujair.Belakangan saya tahu bahwa ternyata yang sering dibully dengan kata kata Jiir Jra bukan hanya anak anak dari desa Songan saja. Tetapi juga dari semua desa desa yang letaknya di tepian Danau Batur.

Sebagai anak kecil, saat itu saya merasa sangat sedih setiap kali dibully dengan kata “JiirJra”. Karena yang melontarkan itu bukan hanya anak anak kecil saja, tetapi juga termasuk orang dewasa.
Saya mengadu kepada ibu saya. Tapi Ibu saya hanya tertawa. Demikian juga Bapak saya, sepertinya tidak mengindahkan ejekan Jiir Jra itu. Lama lama akhirnya saya sangat kesal, marah dan malu juga dihubung-hubungkan dengan Ikan Mujair dan dikata-katain Jiir Jra….Jiir Jra…. 😀😀😀

Tapi kemudian ada juga yang membuat saya bangga dengan ikan Mujair ini. Karena saya perhatikan, ada banyak saudara, sepupu sepupu dan keluarga saya dan orang orang Songan yang memegang ranking 1, 2. 3 di sekolah sekolah, mulai dari SD, SMP, SMA, bahkan kuliah. Mereka disebut sebut memiliki Otak Mujair.

Ada banyak yang merupakan lulusan terbaik fakultasnya. Mereka juga disebut Otak Mujair.

Dan saya lihat ada banyak juga orang orang dari desa Songan yg meraih gelar Professor ataupun menduduki kursi kursi penting di kantor pemerintahan ataupun di perusahaan perusahaan swasta. Mereka disebut memiliki Otak Mujair.

Saya jadi mulai menyukai kata “Otak Mujair”. Dan senang sekali jika ulangan dapat skor 100, guru saya bilang “Bagus sekali. Benar benar Otak Mujair”. Saya senang walaupun teman teman saya ada yang teriak dari belakang, Jiir Jra. ..Jiir Jra. 😀😀😀

Nah….kan berarti sebenarnya Jair itu sesuatu yang bagus ya. Dan saya sekarang tidak keberatan lagi diteriakin Jiir Jra …Jiir Jra.

Nah itulah cerita saya tentang Ikan Mujair.
Ikan Mujair alias Mozambique tilapia (oreochromis mossambicus), adalah ikan air tawar yang banyak terdapat di danau Batur, Kintamani. Ikan ini bagus untuk dikonsumsi karena setiap 100 gramnya mengandung 26 gram protein, selain Vit B3, Niasin, Selenium dan Kalium. Sangat bagus untuk pertumbuhan otak bagi kanak- kanak dan untuk memaintain kesehatan otak bagi orang dewasa dan lanjut usia.
Jiir Jra…. Jiir Jra…😀😀😀

(Cerita ini saya tulis, karena hari ini saya ingin memasak Ikan Mujair Nyatnyat, tapi stock Ikan Mujairnya di Tukang Sayur kosong, yang ada hanya Ikan Gurami. Saya jadi teringat akan masa kecil saya dan ikan Mujair).🐟🐟🐟

Mengapa Saya Gendut?

Standard

Kapan hari ketika saya memposting kartu karyawan saya yang lama versus yang baru, beberapa saudara dan teman malah berkomentar kalau sekarang saya lebih kurus.

Astaga!. Saya baru ngeh ternyata di ke dua kartu karyawan itu, foto saya memang sangat berbeda dari tingkat ketebalan badan 😀. Yang baru, terlihat lebih tipis ketimbang di foto yang lama.

Karena seorang adik saya bertanya, mengapa sekarang saya lebih kurus, maka sayapun bercerita karena saya diet karbohidrat dan step stepnya, mengganti nasi dengan jagung, singkong, talas, dan sebagainya, juga aktif melakukan olahraga, mulai nge-gym, thai boxing, jalan pagi, hingga menggunakan sepeda statik.

O ya… saya lupa cerita jika saya juga sering minum air lemon panas atau air rebusan seledri setiap pagi. Ini yang membuat mengapa ketebalan badan saya jadi berkurang. Dan tak lupa saya bercerita bahwa penurunan ini saya raih setelah melalui usaha sekitar 16 bulan alias setahun 4 bulan.

Tapi tak seorangpun yang bertanya, mengapa saya GENDUT sebelumnya.

Mirip dengan mengapa seseorang bisa kurus, kegendutanpun tidak ada yang bisa diraih dalam semalam 😀😀😀.

Ketika belum menikah, berat badan saya sangat sulit mencapai di atas 42 kg. Itu sedikit dibawah berat badan ideal yang harusnya 47kg, mengingat tinggi saya hanya 157 cm. Jadi saya kelihatan kurus.

Setelah menikah berat badan saya berangsur naik. Apa pasal?.

Karena sebelum menikah, saya mengikuti pola makan keluarga yang ditetapkan oleh ibu saya. “Makan nasi 2 x sehari, siang dan malam, dan banyak banyak”. Paginya saya sangat jarang makan nasi. Paling cuma minum teh. Atau paling ditambah pisang goreng.

Anehnya walaupun saya makan banyak banyak, saya nggak pernah gendut, hingga ibu saya pernah bercanda bilang ke saya “Kamu makan banyak banyak, tapi kok nggak gendut gendut???. Apa jangan jangan di kehidupan sebelumnya kamu pernah memirat milik orang (memirat = meminjam uang/barang dan tidak mengembalikan), sehingga yg punya nyumpahin kamu “Semoga apapun yg kamu makan, tidak memberikan sari bagi tubuhmu” ????😀😀😀”.

Tentu saja ibu saya hanya bercanda. Kami orang Bali mempercayai hukum Karma Phala dan Reinkarnasi (kelahiran kembali). Orang akan lahir kembali berulang ulang sampai timbangan dosanya nol dan bisa jadi dalam kehidupannya sekarang ia menerima Pahala dari Karma yang dia buat sendiri di kehidupan- kehidupan sebelumnya.

Setelah menikah, saya terpapar oleh pola makan keluarga suami saya. “Makan nasi 3x sehari. Sedikit sedikit”.

Nah… sayapun beradaptasi dengan keluarga suami saya dong. Jadi pola makan saya yang baru menjadi “3x sehari dan banyak banyak” 😀😀😀.

Saya mengadopsi 3 x sehari dari keluarga suami, dan mempertahankan “banyak-banyak”nya dari keluarga saya sendiri 😂😂😂.

Demikianlah, mengapa saya gendut.

Denpasar versus Badung.

Standard

Semasa kanak-kanak, saya tinggal di Bangli, sebuah kota kecil di tengah pulau Bali. Jaman saya itu, kebanyakan dari kami berbahasa Bali sebagai bahasa utama, dan jika bisa berbahasa Indonesia, rasanya sudah keren banget 👌👌👌. Karena banyak banget orang (bahkan orang dewasa) di jaman itu belum bisa berbahasa Indonesia.

Jadi saya sering menggunakan dua bahasa itu dalam percakapan sehari- hari. Berbahasa Bali, lalu pindah berbahasa Indonesia, tergantung situasi dan lawan bicara. Setiap kata dalam Bahasa Bali pasti ada terjemahan Bahasa Indonesianya. Tiang =Saya, Sampun = Sudah, Durung =Belum , Nggih = Ya, dan seterusnya.

Nah yang konyol adalah, waktu kecil itu saya menyangka jika Denpasar adalah Bahasa Indonesia daripada Badung.
“Tiang luwas ke Badung”, maka terjemahannya adalah “Saya pergi ke Denpasar”.

Saya tidak pernah mengatakan “Tiang luwas ke Denpasar” ataupun “Saya pergi ke Badung”. Karena padanan bahasanya tidak klop menurut saya 😀.

Walaupun pergi ke tempat yang sama, pokoknya kalau pake Bahasa Bali sebut kata Badung, tapi jika pake Bhs Indonesia, ganti jadi Denpasar 😀😀😀.

Sungguh saya tidak tahu jika waktu itu Denpasar adalah Ibukota Kabupaten Badung. Bukan Bahasa Indonesia dari Badung. Saya baru tahu setelah belajar Geography di SD. Jadi saya salah besar selama itu.

Dan bahkan sekarang Denpasar adalah sebuah Kotamadya tersendiri. Sedangkan Badung adalah sebuah Kabupaten tersendiri juga, yang sejak tahun 2009, ibu kotanya menjadi Mangupura.

Adakah teman teman yang punya pengalaman serupa dengan saya? Pemahaman masa kecil yang ternyata salah 😀😀😀

Membuat Masker Sendiri.

Standard

MAKE YOUR OWN MASK.

Masker buatan sendiri. Photo pribadi nimadesriandani.


Kain perca

Malam malam saya teringat punya sisa kain perca. Bekas prakarya anak saya. Bagaimana jika kita jadikan Masker?. Ada beberapa warna dan motif sebenarnya. Tapi saya ambil yg motif bulatan mirip Chakra ini.

Langkah pertama yang diambil adalah membuat potongan kain masker. Kain masker yang say pilih adalah yang bermotif chakra sesuai dengan selera saya. Bagaimana cara menentukan ukuran dan bentuk potongan?. Agar mudah, ambil saja ukurannya dari masker yang ada lalu tambahkan kurang lebih 1 cm untuk jarak jahit. Bisa dengan menempelkan masker yang ada lalu menggunting kain di sekeliling masker dg jarak plus min 1 cm di luarnya. Tapi jika masker yang kita miliki kurang sesuai bentuk atau ukurannya. Kita bisa melakukan penyesuaian.

Setelah mendapatkan potongan kain masker, kita perlu membuat potongan kain pelapis. Nah kain pelapis ini berguna untuk menambah daya saring masker terhadap udara ysng kita hirup. Usahakan membuat potongan yang sama antara bahan masker dan bahan pelapisnya.

Berikutnya kita mulai menjahit jelujur pada sisi masker. Tempelkan kedua sisi tengah kain masker yang kiri dan yang kanan lalu jahit pada bagian tengah. Jahit jelujur dua kali agar kuat. Jangan lupa, kita menjahit pada bagian buruk dari kain. Lakukan hal yang sama pada kain pelapis. Nah…sekarang kita punya bagian kain masker yang sudah diambung kiri kanan. Demikian juga kain pelapis masker yang sudah disambung.

Berikutnya. Kita menempelkan bagian dalam kain masker dengan kain pelapis. Lalu mulai jahit bagian atas bawahnya.

Setelah ke dua bagian kain masker dan kain lapis terjahit. Pasang karet elastis untuk pegangan telinga di ujung kain. Pasang dengan baik dan jahit berulang ulang agar kuat.

Sekarang balikkan kain. Sehingga terlihat sisi luar kain masker yang bagus. Tinggal memasang karet elastis di ujung yang satunya lagi. Jadi deh maskernya.

VASUDHAIVA KUTUMBAKAM.

Standard

Seekor Capung datang ke halaman. Terbangnya sempoyongan mencari tempat istirahat. Mungkin ia terlalu lelah dan mengantuk. Hinggaplah ia di daun pohon pinus yang tinggi dan segera memejamkan matanya.

Sesaat kemudian angin bertiup kencang dan ranting serta daun pinus itu bergoyang hebat. Si Capung terbangun dengan kepala pusing “Hush!. Pergilahlah. Tempat ini terlalu tinggi untukmu” Usir si Pohon pinus.

Dengan sempoyongan Si Capung mencari tempat istirahat yang lebih rendah. Kali ini ia hinggap di bawah daun rumput teki. Begitu hinggap, daun yang lemah itu pun melengkung dan patah. Si Rumput Teki pun menangis “Tubuhmu terlalu berat bagi daunku untuk menyanggamu”.

Si Capungpun pergi dengan merasa bersalah. Terbangnya makin zig zag dan sempoyongan. Sungguh tak mampu lagi ia menahan kantuknya.


Melihat itu, Si Pohon Cabe memanggil “Wahai saudaraku, hinggaplah di rantingku. Beristirahatlah dengan baik”. Si Capungpun segera hinggap dan menggelayutkan tangannya di ranting pohon Cabe dan tidur dengan lelap. Si Pohon Cabe mengawasi dan menjaganya dengan penuh perhatian.


Setelah beristirahat dengan cukup, Si Capung pun bangun. Ia melihat ke sekeliling. Dan baru menyadari jika ia hinggap di ranting mati sebuah pohon Cabe yang sedang sekarat hampir mati karena kekeringan. Kemarau panjang membuatnya kekurangan air. Sebagian dari ranting pohon cabe itu sudah kering dan mati, termasuk ranting yang dihinggapinya.

Lalu bertanyalah ia kepada Pohon Cabe.
“Wahai pohon Cabe, mengapa engkau menawarkan bantuan untukku padahal dirimu sendiri sedang sekarat?”.


Pohon Cabe menjawab, ” Betul aku sedang sekarat, tetapi rantingku yg matipun masih cukup kuat menjadi tempatmu bergantung saat kelelahan. Dan memberikanmu ijin bergantung di rantingku tidak membuatku semakin sekarat. Karena engkau tidak mengambil apapun dari diriku”.


Si Capung merasa takjub dan sangat kagum akan kemurahan hati si Pohon Cabe.

Lalu ia bertanya lagi, “Tapi aku bukan siapa siapamu. Bukan sanak, bukan pula saudaramu. Bagaimana engkau mau begitu saja memberi pertolongan pada mahluk asing yang tidak engkau kenal sebelumnya?”.


“Secara fisik aku memang bukan siapa siapamu. Tetapi semua mahluk yang lahir, hidup dan mati di bumi yang sama ini adalah bersaudara. Kita makan dari tanah yang sama, kita minum dari air yang sama, kita bernafas dari udara yang sama, kita beraktifitas di bawah sinar matahari yang sama. Vasudhaiva Kutumbakam. Semua mahluk adalah bersaudara. Marilah saling menolong. Saling membantu dan saling mendoakan” kata Pohon Cabe. Si Capungpun berterimakasih lalu pamit terbang membubung ke udara.

Saya mengenang kalimat itu. VASUDHAIVA KUTUMBAKAM.
Lalu mengambil bekas air minum saya yang belum habis, dan menyiramkannya ke pohon Cabe.


Pohon Cabe ini telah memberi saya banyak buah dan pelajaran. Saya berterimakasih padanya.