MURID YANG TAK MENGERJAKAN PR.

Standard

Diantara sedemikian banyaknya orang yg berduka atas kepergian Pak Umbu Landu Paranggi, mungkin saya adalah salah satu yang sesungguhnya tidak memiliki kontak sangat intens dengan beliau, tetapi merasakan keterhubungan yang sangat kuat. Sehingga kepergian beliau, meninggalkan rasa kehilangan yang sangat mendalam pada diri saya.

Pertama kali saya mengenal beliau sekitar tahun 1985. Saat itu saya sedang senang-senangnya membaca puisi dan beberapa kali berinteraksi dg beliau berkaitan dg urusan baca-membaca puisi ini. Beliau banyak berkomentar positive dan mengapresiasi, serta menyemangati saya, yang membuat saya selalu merasa nyaman dengan dunia sastra, walaupun saya ini bukan siapa-siapa. Penyair bukan, penulis novelpun bukan. Hanya seorang penggemar dan penikmat tulisan-tulisan orang lain.

Puisi yg paling memberi kenangan pada Pak Umbu adalah puisinya Pak Taufiq Ismail yang berjudul “Beri Daku Sumba”. Saya membacanya berulang-ulang, tidak hanya saat di kamar, saat kerja di Lab, di Klinik Hewan, hingga saat di toiletpun saya juga membacanya. Sampai-sampai saat itu saya sangat hapal di luar kepala. Pernah saya ditanya, mengapa saya sangat menyukai puisi itu.

Karena puisi itu memberi saya inspirasi. Puisi itu membuat saya berangan-angan. Setelah lulus, saya akan bekerja sebagai Dokter Hewan di Pulau Sumba, tempat dari mana Pak Umbu berasal. Tempat dimana padang-padang terbuka dan matahari membusur api di atasnya – kata Pak Taufik.

Namun entah kenapa, setelah beneran saya lulus menjadi Dokter Hewan, cita-cita saya untuk ke Sumba itu malah buyar. Saya malah hijrah ke Jakarta, gara-gara cinta. Sementara, sebaliknya kakak saya Putu Sri Andari (beliau juga kenal Pak Umbu) yg tidak pernah bercita-cita ke Sumba, malah mendapat tugas di pulau itu sebagai dokter PTT. Dari sana ia memberi berita tentang langit yang super biru, padang-padang yang luas dengan bukit-bukit yang jauh, dan ternak yang banyak memenuhi bukit.

Pak Umbu juga mendorong saya agar rajin menulis dan mengirimkan karya-karya saya ke koran atau majalah. Menurut beliau jika tidak dikirim ke media, maka hanya kita yang tahu. Hanya sastra di dalam laci.

Ya, sebenarnya sesekali saya menulis, tapi tulisannya tak pernah saya kirimkan kemana-mana. Paling-paling hanya saya kirim dan untuk dimuat di majalah kampus saja.

Oh ya…pernah sih ikut lomba penulisan cerpen di Majalah Femina dan nggak menang 🤣🤣. Pernah sekali menang dalam lomba penulisan cerpen yg berthemakan “perempuan”, saya lupa penyelenggaranya siapa, saking sudah lamanya. Selebihnya tidak ada karya saya yg layak dibanggakan.

Saya pikir tentu Pak Umbu agak kecewa atas usaha saya yang ala kadarnya dan angin-anginan dalam belajar menulis. “Menulislah dan publikasikan. Jangan hanya sekedar menjadi pembaca”. Saya sangat ingat dengan nasihat beliau itu. Tetapi ya angan-angan tetaplah angan-angan. Saya sangat malas dan tidak produktif.

Saat itu, jika bertemu Pak Umbu, saya merasa seperti anak sekolahan yang takut bertemu Guru karena tidak mengerjakan PR. Walaupun beliau sebenarnya tidak pernah nge-push gimana-gimana juga sih. Jadi mungkin itu cuma perasaan saya saja.

Akhir tahun 1994, saya menikah dan meninggalkan Bali, pindah ke Jakarta serta mulai tenggelam dalam kesibukan ibukota. Tak banyak bergaul dengan dunia Sastra di Jakarta dan bahkan dengan teman-teman di Balipun saya kehilangan kontak. Hingga kemudian mulai ketemu satu per satu dengan teman-teman lagi berkat Media Sosial.

Lalu beberapa orang teman menyampaikan ke saya “Hai, dicariin Umbu tuh” atau “Heh. Dikasih salam sama Umbu”, atau “Pulang oi!!. Ditanyain Umbu”. Terus terang saya sangat senang dan terharu. Tidak menyangka, jika seorang Maha Guru spt beliau masih mengingat saya yg sungguh bukan siapa-siapa ini. Murid yang gagal.
Saya lalu mengenang-ngenang beliau. Sungguh seorang guru yang sangat baik dan rendah hati.

Bulan Nov 2014 beliau sempat masuk rumah sakit. Seorang teman menyampaikan ke saya. ” Sri, kamu ditanyain sama Umbu. Beliau ada di RS. Telpon dong”. Saya diminta menelpon oleh teman saya itu, sembari ia memberikan nomer telpon Ana putrinya. Akhirnya saya bisa berbicara dengan beliau lewat telpon saat itu. Sangat berharap beliau sehat kembali. Dan syukurlah, beliau sembuh seperti sediakala.

Di penghujung tahun tahun 2017, saya sedang transit di bandara di Singapore untuk urusan pekerjaan. Tiba-tiba ada panggilan Video Call masuk dari Gung Karmadanarta sahabat saya. Rupanya sedang persiapan sebuah acara di Taman Makam Pahlawan Penglipuran di Bangli, bersamaan dengan diterbitkannya buku “100% Merdeka” karya Satria Mahardika yg menceritakan kisah kepahlawanan Kapten TNI AAG Anom Mudita, serta pertempuran demi pertempuran yang dijalaninya. Lalu Gung Karmadanarta tiba-tiba bilang, “Mbok Ade, nggak pulang? Ditanyain Umbu”, sambil menyerahkan hapenya ke Pak Umbu. Ooh.. rupanya ada Pak Umbu di Bangli. Sedang bersama sahabat saya itu.

Ha… saya sangat senang. Akhirnya saya bisa ngobrol sambil bertatap muka dengan beliau walaupun lewat layar hp dan latar belakang suara pesawat yang sedang take off dan landing dengan bising. Kami bertukar khabar. Beliau menanyakan khabar saya, kegiatan saya dan tentunya apakah saya masih sering membaca puisi dan apakah sudah meluangkan waktu untuk menulis.

Saya mengaku apa adanya. Saya memang nenulis. Tapi di blog. Saya ngeblog. Bukan menulis puisi atau karya sastra yg benar dan grande. Saya hanya menulis tulisan receh, tulisan remeh-temeh tentang kejadian saya sehari-hari 😓😓😓.

Saya lihat beliau tidak terkejut. Tidak terlihat kekecewaan di raut wajahnya. Beliau tetap memberi saya semangat. Tetaplah menulis, apapun bentuk tulisannya.

Sungguh obrolan yang sangat mengharukan. Saya senang melihat beliau sehat dan tetap berenergy. Lalu saya berjanji, jika saya punya kesempatan pulang ke Bali, saya akan mengunjunginya.

Dan sedihnya, setelah itu mungkin saya ada sekitar 8 x pulang ke Bali, namun saya belum memenuhi janji saya untuk bertemu beliau. Hingga dini hari itu, saya membaca pesan dari seorang sahabat, beliau sudah pergi meninggalkan kita semua. Kembali saya menemukan diri saya sebagai si anak sekolah yang tidak mengerjakan PR 😭😭😭

Ketika teman-teman mengupload foto-foto bersama beliau, saya hanya memandanginya dengan bercucuran air mata. Tak satupun foto beliau atau foto dengan beliau yang saya miliki. Walau demikian, saya tetap menyimpan kenangan akan beliau di hati saya.

Selamat jalan Pak Umbu.

Menjadi Asing Di Negeri Sendiri.

Standard

Suatu siang, selepas sebuah acara saya bermaksud untuk memperbaiki laptop saya ke pusat komputer di Serpong. Entah kenapa laptop saya itu tiba-tiba tidak bisa connect ke Wifi yang ada. Saya coba periksa sendiri tidak ketemu masalahnya. Yang muncul hanya sebuah notifikasi bahwa ada issue di hardware. Wehhh…terpaksa deh ke tukang service.

Sambil melaju ke pertokoan saya baru ingat jika saya sedang menggunakan baju daerah karena baru pulang dari acara itu. Pakai kain dan kebaya. Waduuh… bagai mana ntar ya jika saya masuk ke mall dengan pakaian daerah begini?. Sudah kebayang nanti orang-orang mungkin akan melihat saya dengan tatapan aneh. Saya bermaksud pulang untuk mengganti pakaian saya dulu. Tapi kata Pak Supir yang mengantarkan saya jika kita pulang sebenarnya jadi muter dan lama. Sementara ini kita bisa cepat lurus ikut jalur tol bisa langsung ke BSD. Ya juga sih. Saya perlu cepat juga karena setelah dari tukang service komputer saya masih ada acara lain lagi.

Berkain, kebaya dan bersanggul, adalah salah satu cara bangsa Indonesia dalam berbusana. Sebenarnya sungguh sayang jika busana ini kemudian tersingkirkan dan hanya dipakai untuk acara acara tertentu saja. Busana sehari-hari digantikan dengan busana asing. Bahkan sebagian bangsa kita juga meninggalkan kain dan kebaya karena dianggap ketat dan mencetak bentuk tubuh. Aah… kalau yang ini menurut saya tentu tergantung dari pikiran ngeres orang itu saja.

Sebenarnya sangat mengenaskan nasib busana kita ini. Hanya gara-gara pikiran buruk segelintir orang, dibuat stigma dan akhirnya beramai-ramai meninggalkannya dan berpindah ke busana asing. Ia menjadi asing di negerinya sendiri.

Akhirnya saya memutuskan untuk tetap ke mall dengan berkain dan kebaya. Betul saya mungkin terlihat aneh di mata orang lain. Sejak saya turun, beberapa orang terlihat menoleh. Biarlah. Saya tidak peduli. Lalu di pintu masuk, saat Satpam mengukur temperatur saya, beberapa orang juga terlihat melirik. Demikian juga ketika saya melintas beberapa toko dan naik ke lantai tiga, beberapa SPG dan pengunjung tampak memperhatikan saya. Dengan tatapan aneh. Biarlah!.

Saya bangga akan busana saya. Saya cinta negeri saya ini. Walau saya tampak asing di negeri saya sendiri.

Dari Bedah Buku “Gajah Mina” Di Kafe Sastra Balai Pustaka, Jakarta.

Standard
Bedah Buku “Gajah Mina”, Kafe Sastra, Balai Pustaka, Jakarta 4 April 2021

Saya mendapat kesempatan untuk mengikuti acara bedah buku ” Gajah Mina” dan bertemu dengan penulisnya Dr Dewa Putu Sahadewa secara langsung. Walaupun sayang Made Gunawan pelukis yang karya-karyanya menjadi inspirasi Dokter Sahadewa dalam menulis puisi-puisi di buku ini berhalangan hadir. Tetap saja saya beruntung, karena dalam masa pandemik ini, mengikuti prokes, yang diperkenankan hadir hanya maksimal 20 orang. Sisanya lewat Zoom.

Acara berlangsung di Kafe Sastra Balai Pustaka, dihadiri dan dibuka oleh Dirut Utama Balai Pustaka, Bapak Achmad Fachrodji, dimoderatori oleh Mbak Fanny J. Poyk. Selain Dokter Sahadewa, acara bedah buku ini juga menampilkan pembicara Narudin Pituin, seorang sastrawan, penerjemah dan kritikus sastra Indonesia.

Saat memberikan sambutannya, Pak Fachrodji sempat menceritakan bagaimana upaya-upaya yg telah beliau lakukan untuk membuat Balai Pustaka hidup dan berjaya kembali, serta akan membuat kegiatan Lomba Berpantun National untuk menghidupkan kembali kejayaan kesusastraan Indonesia. Upaya yang menarik.

Selain itu, saya juga melihat beliau sangat mengapresiasi penerbitan buku Gajah Mina ini yang dianggapnya sangat menarik dengan meng-kolaborasikan puisi dengan lukisan dan sketsa.

Dokter Sahadewa sendiri lebih banyak mengupas tentang bagaimana cerita awalnya hingga buku Gajah Mina ini bisa terbit. Bermula dari melihat sendiri lukisan Made Gunawan yang berjudul “Pohon Kehidupan”. Beliau sangat terkesan dengan lukisan ini, walaupun pada saat itu belum kenal secara langsung dengan pelukisnya. Ia menilai Made Gunawan sebagai seorang pelukis yang sangat handal, memadukan unsur-unsur traditional dengan unsur modern. Dan dari lukisan Pohon Kehidupan itu, ia menilai bahwa lukisan itu sangat puitis. Tidak ada unsur-unsur negative ataupun kesedihan di dalamnya. Yang ada hanya unsur-unsur yang positive, riang gembira, anak-anak bermain, bergelayutan. Intinya menebarkan energy positive.

Demikianlah Dokter Sahadewa merasa berada di frequency yang sama dan sangat tertarik untuk bersama-sama menebarkan energy positive, karena prinsip hidupnya memang sama. Menebarkan energy positive.

Setelah bertemu dengan Made Gunawan dengan difasilitasi oleh Mas Hartanto, dimana niat awalnya ingin belajar melukis, akhirnya Dokter Sahadewa malah jadi semangat menulis dan berkolaborasi sangat intens dengan Made Gunawan, lalu terbitlah buku Gajah Mina ini.

Dalam mengekspresikan fantasynya setelah melihat-lihat lukisan dan sketsa Made Gunawan, Dokter Sahadewa mengaku tidak mendiskusikan ataupun menanyakan arti dari sketsa-sketsa itu pada Made Gunawan. Dan Made Gunawan pun tidak ada berkomentar negative tantang puisi-puisinya. Malah saling berinteraksi positive.

Dan interaksi dan kolaborasi alias Pasatmian ini sungguh merupakan hal yang sangat bagus. Karena sekarang, penggemar puisi jadi ikut menikmati karya lukisan dan sketsa. Dan sebaliknya, penggemar lukisan jadi ikut menikmati puisi. Yah. Luarbiasa memang kolaborasi ini.

Setelah itu, dengan spontan kami beramai-ramai ikut membaca puisi. O ya.. saya lupa bercerita, jika di awal tadi, sebelum acara Bedah Buku dimulai, sebenarnya ada Pak Branjangan menyanyikan puisi “Ikan Menari”. Beneran. Saya takjub, gimana beliau cuma dalam waktu singkat, nggak ada lima menit melihat-lihat puisi, tiba- tiba bilang ke saya “saya mau menyanyikan puisi ini” sambil nunjuk puisi “Ikan Menari” dan beneran beliau nyanyi deh. Dan bagus banget.

Saya sendiri memilih puisi “Sop Kepala Ikan” untuk saya bacakan, karena menurut saya puisi itu sangat unik. Saya sangat suka. Mbak Fanny, Mbak Jeny dan teman- teman yang lain juga pada ikut membaca puisi dengan spontan. Sementara Pak Branjangan mengiringi dengan petikan gitarnya. Wow…romantis banget rasanya.

Saya juga sempat menyimak komentar- komentar positive dari teman- teman yang mengikuti acara Bedah Buku ini lewat Zoom, seperti dari Warih Wisatsana dan Pak Nono. Ya, mengkolaborasikan dua jenis Art yang berbeda bukanlah pekerjaan mudah. Tetapi Dokter Sahadewa dan Made Gunawan telah melakukannya dengan sukses.

Terakhir Pak Narudin, Sang ahli Semiotika dan Kritikus Sastra Indonesia pun mengajak audience untuk ikut jalan pikirannya dalam membedah puisi-puisi dan lukisan serta sketsa, dengan menganalisa dari sudut Icon-icon dan symbol-symbol yang tertangkap dari baik tulisan maupun lukisan serta index yang menghubungkan keduanya. Analysa yang menarik juga ya. Saya jadi ikut belajar banyak.

Pemaparannya kedengaran sangat akademik yang membuat saya yang tidak memiliki latar belakang sastra menjadi terpesona. Mengambil contoh beberapa lukisan-puisi yang dominan seperti misalnya Ikan Menari, Gajah Mina, semua Bunga Akan Layu Pohon Kehidupan, Anakku Berlari, Pandemi, Sop Kepala Ikan, Pohon Tua Memanggil Rohnya dan Kayonan. Semuanya dibahas dari sudut ikonisitas, symbolitas dan indeksikalitas yang ujungnya menghasilkan kesimpulan bahwa, pada dasarnya puisi-puisi Dokter Sahadewa dan lukisan Made Gunawan dapat dinikmati secara terpisah berdasarkan ikon-ikon yang ditangkap penikmatnya. Tetapi dalam buku ini keduanya saling berinteraksi. Yup!.Analisa yang keren!.

Tentang komentar ada nafas spiritual pada puisi-puisinya Dokter Sahadewa, Narudin Pituin juga mengungkapkan bahwa tiap sastrawan tentu memaparkan gagasannya sesuai dengan latang belakang adat, budaya, agamanya masing-masing. Sehingga ada puisi yang bernafaskan Hindu, bernafaskan Islam ataupun Kristiani sesuai latar belakang penulisnya.

Ya, saya setuju dengan pendapat Narudin dalam hal ini. Namun tak cuma latar belakang penulisnya, saya pikir, itu juga tergantung dari latar belakang pembacanya.

Salah satu contoh, ketika Dokter Sahadewa menjelaskan bahwa di Bali, pohon-pohon sangat dihormati dan dihargai sama dengan mahkuk hidup lain yang juga punya nyawa. Selain itu, pohon juga dipercaya menjadi tempat tinggal makhluk-makhluk lain yang tak kasat mata. Ketika latar belakang ini diimplementasikan pada karya “POHON TUA MEMANGGIL ROHNYA PULANG” reaksi beragam pun terjadi.

Narudin Pituin dengan latar belakangnya, memberi interpretasi kata “Roh” = mahluk halus penunggu pohon. Jadi pohon memanggil mahluk halus, jin, dedemit, kuntilanak untuk pulang. Ini membuat sebagian puisi berkesan mistik.

Sementara saya yang dilahirkan dan dibesarkan dalam adat istiadat, budaya dan agama Hindu di Bali menginterpretasikannya berbeda.

Bagi kami, Roh pohon, ya Roh pohon itu sendiri. Bukan jin atau kuntilanak. Karena kami di Bali percaya, bahwa setiap mahluk hidup termasuk Manysia Binatang dan Tumbuhan memiliki Roh, walaupun secara kasat mata terlihat berbeda akibat perbedaan fisik yang menghasilkan kemampuan berbeda yang disebut dengan Pramana.

Manusia diyakini memiliki Tri Pramana yakni Bayu (kemampuan gerak, tumbuh dan tenaga), Sabda (kemampuan berbicara) dan Idep (kemampuan memahami). Binatang memiliki Dwi Pramana yakni Bayu dan Sabda. Dan tumbuhan memiliki hanya satu Pramana yakni Bayu.

Dengan latar belakang ini, ketika saya menginterpretasikan puisi yang sama, “POHON TUA MEMANGGIL ROHNYA PULANG”, yang saya tangkap adalah memang yang dimaksud oleh Dokter Sahadewa adalah bahwa Pohon tua itu memang memanggil Roh nya sendiri untuk pulang. Bukan memanggil jin dan kuntilanak. Jadi di telinga saya ini bukanlah mistis. Nah, sekali lagi itu adalah interpretasi yang berbeda yang ditangkap oleh dua orang dengan latar belakang berbeda.

Saya merasa, pada akhirnya, sebuah karya seni, entah itu lukisan, puisi, tarian, musik dan sebagainya adalah sebuah interpretasi. Yang ditangkap oleh penikmatnya dari signal-signal yang tersajikan, sesuai dengan latar belakang baik penciptanya maupun penikmatnya.

Selamat dan Sukses untuk Dokter Sahadewa dan Made Gunawan. Gelombang besar energy positive yang diakibatkan kibasan sirip Gajah Mina sungguh terjadi. Salut!.

Menyimak Art Fusion Di Buku “Gajah Mina”.

Standard

Saya diperkenalkan dengan buku Gajah Mina ini, oleh Mas Hartanto, yang rupanya adalah salah satu penggerak terbitnya buku ini. Buku yang merupakan kumpulan puisi, lukisan dan sketsa karya Dokter Dewa Putu Sahadewa dan Made Gunawan ini, memang sudah terlihat istimewa di mata saya, bahkan hanya dengan melirik covernya saja.

KONSEP & INTERPRETASI.

Konsep. Sebagai sebuah konsep penerbitan, kolaborasi seni lukis dan puisi dalam buku ini sangat menarik dan bermanfaat. Mengintegrasikan dua jenis karya seni yang berbeda, memang bukanlah pekerjaan mudah. Tetapi jika itu bisa terintegrasi dengan baik, maka upaya ini akan berhasil meng-enhance idea atau pesan yang ingin disampaikan oleh senimannya kepada audience. Pembaca akan jauh lebih mudah mengerti, karena bisa menangkapnya secara audio dan visual sekaligus.

Jikapun objective itu tak tercapai, setidaknya upaya ini akan mampu menambah jumlah audience. Karena yang tertarik, bukan hanya mereka yang berminat pada seni sastra saja, tetapi penyuka seni lukispun akan ikut tertarik juga.

Saya lihat, kolaborasi ini telah terjadi, dan tereksekusi di buku ini dengan sangat indah.

Interpretasi. Seorang pembaca atau penikmat karya seni, baik puisi, sketsa ataupun lukisan, tentunya tidak mampu memahami 100% apa yang ada di benak penulis atau pelukisnya saat menciptakan karyanya. Paling banter hanya bisa menebak atau menginterpretasikan sesuai dengan signal-signal yang tertangkap dari karya itu, plus latar belakang dan pengalaman personal dari penikmat karya seni itu masing-masing. Demikian juga saya.

Saya menuliskan pendapat saya tentang karya-karya di buku ini, tentu berdasarkan apa yang saya tangkap saat membaca puisi dan menonton gambar-gambar buku ini, bercampur dengan latar belakang dan pengalaman hidup saya secara pribadi, yang kemudian membentuk tafsir alias interpretasi. Jadi belum tentu juga sesuai dengan apa yang sesungguhnya dimaksudkan oleh penulis atau pelukisnya 😀

GAJAH MINA.

Sesuai dengan judulnya, cover buku ini bergambar mahluk mitology yang bernama Gajah Mina, yakni seekor Mina (Ikan) yang berkepala Gajah. Di dalam kepercayaan Hindu, Gajah Mina adalah tunggangan Sang Hyang Baruna sang penguasa lautan. Lukisan akrilik di atas kanvas ini sungguh menawan hati saya. Gajah Mina digambarkan dengan sangat bagus dan representative. Terlihat bagai raksasa berwarna krem keemasan diantara ikan-ikan lainnya di lautan biru. Sepintas lalu, lukisan ini terlihat seperti umumnya lukisan traditional Bali bergaya Kamasan, dengan penggunaan elemen-elemen klasik dan warna broken white yang dieksekusi pada wajah gajah, sirip dan ekornya. Tapi jika ditelisik lebih jauh, ada elemen-elemen baru yang tidak umum ada pada lukisan traditional Bali menyelusup di sini. Dan entah mengapa, ajaibnya elemen asing ini terasa membaur, dan berfusi di dalamnya tanpa ada pemberontakan yang berarti. Asyik-asyik saja. Saya mulai berpikir, mungkin di sinilah letak kepiawaian Made Gunawan dalam mengekspresikan gagasannya. Keren euy!

Selain sangat terkagum pada lukisannya, tentu saja saya sangat tertarik akan apa yang kira-kira diceritakan penulisnya tentang Gajah Mina yang menjadi judul dari buku ini. Namun rupanya puisi dan lukisan Gajah Mina ini baru muncul di halaman 82-83. Tak apalah.

Saat membaca puisi “Gajah Mina”, entah mengapa saya merasa seakan puisi ini mengundang kita untuk ikut dalam perjalanan pencarian rahasia kehidupan dan alam semesta yang tak terjangkau oleh orang biasa, melalui Gajah Mina tunggangan Dewa Baruna, Sang Penguasa Laut. Dan dalam konteks Hindu, Dewa adalah percikan sinar suci dari Brahman, Tuhan Yang Maha Tunggal. Menarik!. Ajakan untuk meneruskan pencarian manusia tentang Tuhan dan Alam Semesta hingga bertemu diri sendiri. Mencapai kesadaran diri yang tertinggi. Siwoham!.

LUKISAN DAN SKETSA.

Ada sebanyak 43 lukisan dan sketsa Made Gunawan yang ditampung buku ini. Didominasi oleh thema ikan tentunya, yang in-line dengan tajuk buku ini.

Yang nenarik dari lukisan-lukisan Made Gunawan ini adalah selalu menempatkan pemeran utamanya, baik itu ikan ataupun kayon sebagai sebuah rumah, daratan ataupun bumi yang berada diantara lautan ataupun benda lain di alam semesta.

Dalam lukisan Gajah Mina atau Raja Ikan ataupun misalnya Tree of Life, kita melihat bahwa Ikan ataupun Kayon itu sebagai sebuah dunia, tempat kita beraktifitas sehari-hari, duduk-duduk merenung, bermain ayunan, menari ataupun beemain barong. Itulah dunia sehari-hari kita. Dunia yang harmonis dengan kehidupan bahagia, tentram dan damai. Dan di luar itu adalah semesta yang maha luas yang tanpa batas, tapi terpaksa dibatasi oleh akhir dari kanvas itu sendiri.

Di luar thema ikan, thema Kayon juga kelihatannya nyaris ikut mendominasi dalam buku ini. Entah sebuah kebetulan, atau memang pelukisnya memiliki ketertarikan mendalam terhadap Kayon. Saya pikir ya. Seperti yang dituliskan dalam pengantarnya, beliau adalah putra seorang Dalang dari Apuan. Dan tentunya setiap orang di Bali tahu, jika Kayon memiliki peranan penting dalam sebuah pagelaran Wayang. Tak heran jika Made Gunawan mengambil Kayon dalam banyak lukisannya. Kayon adalah perwujudan Kalpataru, atau Dewa Daru, alias pohon kehidupan yang dalam kisah-kisah Dewata dalam Bhagawata Purana, digambarkan sebagai pohon yang memberikan kehidupan bagi manusia dan mahluk-mahluk lainnya. Pohon kehidupan alias Tree of Life ini diyakini muncul dari ekstraksi Lautan Susu (Samudera Mantana) beserta dengan para apsara, Kamandhanu, Aerawata, Onceswara, berbagai jenis permata, serta pohon pohon ajaib lainnya. Sumber inspirasi yang sangat baik.

Jika kita telaah dari sudut gaya lukisannya, secara umum Made Gunawan mencampurkan unsur modernitas dan barat ke dalam basic lukisan traditional Bali. Sedangkan sketsa-sketsanya totally sangat berbeda dari sketsa traditional dimana ia cenderung menggunakan pendekatan kanak-kanak dalam tarikan garisnya.

Yang menarik bagi saya, ia juga tanpa segan menggunakan media apa saja yang tersedia, seperti amplop bekas, bekas mailer Super Market, toko unggas, label Starbucks dan sebagainya, tanpa harus conflicting dengannya. Ini membuatnya unik.

PUISI DAN PUISI.

Saya mencoba membayangkan bagaimana Dokter Sahadewa mencoba merenung dan berdialog setelah melihat lukisan dan sketsa-sketsa dari Made Gunawan dan menuangkan isi alam pikirnya itu ke dalam bentuk puisi.

Jadi puisi-puisi di sini adalah hasil tafsir Dokter Sahadewa terhadap lukisan dan Sketsa Made Gunawan. Dan sebagai pembaca, saya pun mencoba menafsirkan kembali tafsir -tafsir itu. Jadi sebuah tafsir on tafsir, ha ha 😀.

Tentang sketsa-sketsa serial ikan itu, Dokter Sahadewa menulis tentang bagaimana Made Gunawan telah memberi jiwa pada ikan-ikan itu. Membuatnya menjadi hidup dan berperan besar dalam kehidupan ini.

Ada pula ia menulis tentang Sang Raja Ikan, yang bertugas membawa bahtera ke ujung samudera, agar anak-anak terus bahagia. Sayangnya, kita para orang dewasa, sudah lama sekali tak bertemu dengan Raja Ikan ini, karena ia bermukim sangat jauh di samudera rahasia bersama anak-anak. Terus terang, saya merenung agak lama untuk memahami content puisi ini. Apakah itu, sesuatu yang membahagiakan anak-anak dan tetap bersama anak-anak, tetapi sudah menghilang dari kehidupan orang dewasa? Apakah itu maksudnya “Permainan?” Karena waktu kecil kita sering bermain, tapi setelah dewasa kita sangat jarang atau bahkan mungkin tak pernah bermain lagi?. Ataukah yang dimaksud kepolosan kanak-kanak? Keluguan?. Entahlah

Tapi yang paling menarik perhatian saya adalah puisi tentang “Sop Kepala Ikan”. Sebuah puisi ironis, yang membuat saya merasa ingin tertawa sekaligus haru dan ingin menangis. Terutama pada bagian, “Maka seluruh ikan pagi ini/ berkerumun berdoa/ agar cukup/ semangkuk sop kepala ikan/ yang panas berasap/bagi siapa saja/ yang lapar//. Ooh sungguh puisi yang mengaduk-aduk peri ke-ikanan, tentang ikan yang tahu takdirnya adalah untuk memuaskan hasrat manusia yang tak pernah habis.

Di luar puisi-puisi tentang Ikan, mengikuti thema lukisan yang ada, maka Dokter Sahadewa pun berbicara tentang pohon-pohon. Tentang pohon tua yang hitam, memanggil rohnya untuk pulang, namun yang datang justru mesin-mesin penggergaji. Habislah kedamaian. Juga ada tulisan tentang pohon kehidupan, tentang sang pemburu yang menggigil melihat bayang wajahnya sendiri di air kolam, walau sesungguhnya ia tak mendengar auman seringai taring sang macan.

Di luar itu ada juga puisi khusus Ciwaratri terinspirasi dari kisah Lubdaka yang diskets oleh Made Gunawan.

Tentunya masih ada banyak puisi-puisi yang lain yang menarik untuk disimak. Ada 27 puisi totalnya. Saya rasa pembaca yang lainpun akan sangat menyukai puisi-puisi ini.

Setelah melihat dan membaca isi dari buku ini, komentar saya cuma satu yakni Buku ini sungguh sangat menarik untuk dibaca dan disimak. Saya pikir pelukis, penulis dan penerbit sudah melakukan tugas yang luar biasa untuk menggabungkan unsur seni sastra dan seni lukis dengan baik dan proporsional, sehingga tercipta sebuah hidangan fusion yang nikmat bagi audience.

Saya ucapkan selamat kepada Dokter Dewa Putu Sahadewa, Made Gunawan dan Mas Hartanto atas penerbitan buku ini. Salam kreatif dan semoga sukses selalu.

YANG TERLUPAKAN

Standard

Akhir pekan ini, dengan semakin membaiknya kesehatan, saya memberanikan diri keluar rumah untuk menengok anak saya di Graha Raya Bintaro. Tentunya dengan tetap mengikuti protokol kesehatan. Syukurnya baik-baik dan aman-aman saja, sekalipun sebagian besar Jakarta masih dikepung banjir.

Sepulangnya, sambil lewat saya mampir di tukang alat-alat berkebun untuk membeli pot bunga dan media tanah. Tokonya sepi, cuma ada saya dan 2 orang pedagangnya serta Mas Supir yang mengikuti saya dari belakang.

Setelah selesai dengan pilihan saya dan bersiap akan membayar, tiba-tiba ada orang lain yg masuk. Ooh.. pembeli baru. Seorang anak lelaki remaja sekitar 15 tahunan berbaju orange, dengan lelaki dewasa di belakangnya yang saya duga ayahnya. Ia berjalan masuk membawa buku tulis di tangannya, sambil ngoceh tak begitu jelas. Saya kurang memperhatikannya. Mungkin ia sedang membawa daftar catatan barang yang akan dibeli.

Saya pikir saya harus segera keluar untuk menghindari berdesak-desakan di toko yang sempit oleh penuhnya barang dagangan itu. Bagaimanapun di musim pandemik ini , saya tetap harus jaga jarak minimum 1 meter dengan orang lain.

Belum sempat mencari akal, gimana caranya keluar dari kerumunan ini, tiba-tiba anak remaja yang memegang buku itu memegang pergelangan tangan saya erat-erat. Saya kaget. Auduuuh… bagaimana ini. Saya berusaha menarik tangan saya. Tetapi semakin saya berusaha meronta, anak itu semakin kuat mencengkeram tangan saya. Astaga!!. Kuat sekali. Sekarang saya merasa pergelangan tangan saya bisa remuk oleh anak ini. Walaupun saya gendut, sumpah mati, tulang saya aslinya kecil-kecil. Bahaya ini, bisa patah!!!
Selain itu, saya tidak tahu apakah anak ini bebas dari Corona atau tidak. Saya merasa situasi saya sangat gawat. Saya tidak mengijinkan tangan saya disentuh oleh siapapun saat ini. Apalagi orang yang tidak dikenal.

Melihat itu, supir saya dan sang pedagangpun pun segera bergerak melindungi saya dan berusaha melepaskan tangan anak itu dari pergelangan tangan saya. Syukurlah akhirnya lepas.

Anak itu masih terus berusaha mengejar saya sambil menyodorkan buku dan pulpen. Saya bergerak mencari area kosong yang tak mudah dicapai anak itu. Dari seberang meja saya memandangnya berusaha untuk memahami apa yang sedang ada dalam pikirannya. Wajahnya seolah sedang memohon kepada saya. Anak itu sangat bersih, kulitnya putih dan mukanya kelihatan baik.

Dari raut wajahnya tidak ada niat buruk terhadap saya. Mungkin sebenarnya ia hanya ingin saya membantu dia melakukan sesuatu. Entah kenapa hati saya tiba-tiba menjadi trenyuh. Anak ini butuh bantuan. Bukan mau menyakiti saya. Sangat jelas ia ingin bersahabat. Mengapa saya harus menghindarinya, bathin saya berbisik.

Lalu sayapun memanggilnya untuk mendekat. “Sini. Sini. Kamu mau saya bantuin ngapain?” Tanya saya. Mukanya kelihatan riang. Ia menghampiri saya.

“Maaf Bu. Anak saya AUTIS ” kata pria yg rupanya memang bapaknya itu. Oooh… sekarang saya mengerti.

Anak autis sering hidup dalam dunianya sendiri, yg tidak bisa kita masuki. Barangkali saya ada di dalam dunianya sebagai teman atau mungkin orang dekatnya. Jadi saya pikir saya akan menerima persahabatannya jika begitu.

Anak itu menyodorkan buku dan pulpennya kepada saya. Saya mengajaknya duduk di bangku panjang yang ada di situ. Dengan bahasa yang tak jelas, ia meminta saya menulis kalimat di buku itu.

Saya bingung, harus menulis apa? Ia lalu memegang jari tangan saya dan pulpen, dan menuntun saya menulis. YANG TERLUPAKAN. Oooh…

Kelihatan wajahnya riang dan berseri. Saya ikut senang melihatnya riang.

Lalu saya diajak menerusksn menulis SHEILA ON SEVEN. Ia sangat senang. Saya merasa sangat terharu .

Lalu saya bertanya, “Siapa namamu? ” Anak itu tidak bisa menyebutkan namanya, walaupun bapaknya sudah memberi contekan, ” Il…. Il…”. Tak mengapa. Tapi anak itu terlihat sangat bahagia.

Bapaknya mengucapkan terimakasih kepada saya. Lalu sayapun pamit.

Di perjalanan, saya terbayang-bayang wajah anak itu. Mengapa anak itu meminta saya menulis Yang Terlupakan dan Sheila On seven ? Apa yg dipikirkannya ?

Mungkin anak itu penggemar Sheila On Seven dan juga penyuka lagu ” Yang Terlupakan”. Saya mencoba mencari tahu lyric lagu ” Yang Terlupakan”. Oooh…ternyata itu lagu milik Iwan Fals bukan Sheila On Seven.

“… rasa sesal di dasar hati diam tak mau pergi haruskah aku lari dari kenyataan ini
Pernah kumencoba tuk sembunyi
Namun senyummu tetap mengikuti…. “

Tak terasa saya meneteskan air mata saya. Hati saya tersangkut.

Bintaro. Kisahku hari ini.

BUKU.

Standard

Masih adakah yang membaca Buku cetak jaman sekarang?.

Seharian saya ngeberesin buku-buku di rak. Lumayan juga membuat pinggang pegel dan kaki kramp akibat berjam jam duduk berberes di lantai.

Buku buku saya di rak sudah amburadul dan berdebu, serta tidak tergrouping dengan baik sehingga semakin sulit mencari, jika ada yg perlu dicari. Soalnya kepenuhan, walaupun sudah dibuat 2 baris depan belakang dan ditumpuk pula di atasnya. Jadi sebagian ada yg ditumpuk di atas meja, di kursi dan di lantai.

Hari ini coba dibersihkan, dilap, dan dirapikan. Dicukup-cukupkan jadi beberapa kelompok, spt. Kelompok buku-buku Marketing, Bisnis & Management, Leadership, Pengembangan Diri, Hukum, Finance& Perbankan, Gardening, Cooking, Crocheting & Kerajinan, Perhiasan & Permata, Agama & Spiritual, Sastra & Novel, Kesehatan, Kedokteran Hewan & Binatang, Pengetahuan Umum.

Sebagian yg sudah rusak, lengket karena sempat kena banjir dan yg sobek-sobek, dengan tidak ikhlas terpaksa dibuang 😭😭😭

Walaupun peranan buku cetak sekarang tidak sepenting jaman dulu (karena sekarang jika pengen tahu kita lebih sering mengandalkan internet), buku buku ini setidaknya sangat membantu saya dalam kehidupan sehari-hari, misalnya – kalau pengen tahu sesuatu jaman dulu saya sangat mengandalkan buku Ensiklopedia.

Sepuluh Tahun Saya Menulis.

Standard

10 Years Blogging.

Kapan hari, saya mendapatkan notifikasi dari WordPress, mengingatkan bahwa Desember 2020 ini tepat sudah 10 tahun saya nge-blog di https://nimadesriandani.wordpress.com/

Buat beberapa orang yang sudah puluhan tahun menjadi penulis, angka 10 tahun mungkin tidak ada apa apanya. Tetapi buat saya, bertahan untuk tetap menulis tanpa bayaran dan terus berusaha menulis tanpa stop setiap tahunnya selama 10 tahun ya lumayan membangggakan hati.

Hingga saat ini, saya sudah mempublikasi sekitar 1100 tulisan yang isinya beragam, kebanyakan tentang hal hal keseharian yang memberi saya inspirasi dan motivasi dalam menjalankan kehidupan yang berimbang sebagai seorang ibu rumah tangga, wanita bekerja dan seorang manusia biasa yang memiliki banyak ketertarikan mulai dari menjahit merenda, memasak, bercocok tanam, di dapur dan sebagainya. Sungguh semuanya itu mampu memberikan kebahagiaan bagi saya.

Blog saya saat ini sudah dibaca sebanyak 3 688 828 kali dengan 4 766 e-mail subscribers, selain sekitar 1 100 orang yg nge-like link pagenya di Sosmed.

Hal yang paling berkesan bagi saya dalam menulis adalah ketika kita menulis, maka banyak hal-hal positive yang sesungguhnya terjadi tanpa kita sadari.

Pertama, ketika akan menulis, tentu ada sesuatu yang melintas di pikiran yang sangat membuat kita semangat untuk menulis. Semangat itu sendiri sudah merupakan hal yang positive bagi diri kita sendiri. Kita menjadi lebih bahagia secara natural dan siap menggunakan otak kita untuk memilih dan mengatur kata kata dan kalimat demi kalimat yang ingin kita tuliskan.

Kedua, karena kita menulis dan tentunya kita tidak mau tulisan kita juga isinya ala kadarnya, maka kita cenderung berpikir. Cenderung menimbang nimbang rasa. Membuka hati dan membuka isi kepala, check dan crosscheck apa yang kita pikirkan dan rasakan, challenge lagi apakah ide itu benar atau tepat dan layak dipublikasi. Tentu kegiatan berpikir seperti ini, membantu otak kita tetap bekerja untuk mengurangi pikun.

Ketiga, setelah tulisan itu jadi dan terpublikasi, kita bisa melihat response orang lain baik sebagai silent reader ataupun pemberi komentar. Itu memberikan kita rasa terhubung satu sama lain. Setidaknya percakapan, diskusi ataupun drama yang kita tuliskan itu tidak hanya ada di dalam kepala kita sendiri saja. Orang lain yang ikut membacapun kini ikut memikirkannya juga. Dan jika tulisan itu berupa ide atau inspirasi dari sebuah kejadian, maka orang lainpun kini bisa ikut menyimak ide dan inspirasi itu untuk diimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Keempat, dengan menulis kita juga jadi mengasah diri kita untuk selalu memetik hikmah dan pelajaran dari setiap topik atau kejadian yang kita tuliskan.

Kelima, dengan menulis kita jadi menambah teman, baik teman teman sesama penulis dan juga teman teman baru yang awalnya membaca tulisan kita lalu menjadiksn kita teman.

Keenam, dengan menuliskan pengalaman kita, kejadian sehari hari dan sebagainya, maka kita sesungguhnya mencatatkan perjalanan hidup kita dan suatu saat bisa kita baca baca lagi untuk dikenang. Membantu memperpanjang memory kita.

Demikianlah hal hal positive yang saya dapatkan selama 10 tahun menulis.

Yuk teman teman, kit terus menulis!.

MEMILIH DALAM GELAP.

Standard

Hari Pemilihan Kepala Daerah.

Cukup sering kita menemukan berita miring yang menyedihkan tentang Kepala Daerah, entah Gubernur, Wakil Gubernur, Bupati, Wakil Bupati, Walikota dan sebagainya, entah itu tertangkap KPK karena kasus inilah, itulah. Terus ramai ramai menghujat dan membully. Ya, sudah pasti itu kesalahan sang pelaku yang memang terbukti melakukan hal yang melanggar hukum.

Tapi sebenarnya kalau dipikir, sekian % ada juga sih kesalahan kita sebagai masyarakat. Siapa juga ya yang dulu memilihnya?. Walaupun bisa jadi sebelumnya orang itu tidak punya reputasi buruk, namun tidak menutup kemungkinan, barangkali orang yang kita pilih itu memang dari sono sudah ada bibit bibit nakalnya. Tapi kita pilih juga. Terus saat ia terbukti melakukan sesuatu yang akhirnya diendus oleh KPK kita menggerutu sendiri,”Sialan tuh orang !”.

Nah…disinilah letak permasalahannya….

Saya sudah memenuhi kewajiban saya untuk memilih Kepala Daerah di tempat tinggal saya hari ini. Dalam pikiran saya, saya ingin memilih seorang Kepala Daerah yang memiliki Integritas yang tinggi, memiliki Leadership yang kuat, Managerial Skill yang juga mumpuni yang akan membawa daerah tempat tinggal saya mengalami kemajuan yang berarti baik dari sisi pembangunan mental dan fisik.

Tapi sejujurnya saya tidak mengenal satupun diantara kandidat itu, bagaimana kiprah dan performance-nya di posisinya sekarang dan bagaimana potensi kejujuran dan kesungguhannya dalam bekerja dan memimpin daerah. Ada 6 orang (3pasang pemimpin dan wakil) di kartu yang harus saya coblos.

Saya termenung sejenak. Ibu Hajjah ini, itu siapa? Bapak Haji anu itu siapa?? Bapak Drs ono itu siapa lagi???? Bingung!!!! Tak kenal, tak sayang dan memang nggak tahu.
Yang mana diantaranya yang memang terbukti punya reputasi bagus, terkenal kecerdasannya sejak jaman sekolah hingga kini, selalu menjadi bintang dan pemenang karena ide ide canggihnya dalam memecahkan masalah dan menggagas inovasi baru ?. Nggak kedengeran.

Atau siapa yang diantara 6 orang ini terkenal track recordnya memiliki kemampuan memimpin team yang bagus, sehingga setiap team yg dipimpinnya selalu kompak mampu mendeliver apa yang ditargetkan untuk mereka? Nggak kedengeran juga.

Atau ada nggak diantara 6 orang ini yang memang terkenal bersih, sederhana, humble dan fokus dan serius dengan pekerjaannya ketimbang yang flamboyan, nggak jelas juntrungannya, sibuk dengan pencitraan diri?. Nggak tahu juga.

Oke deh…atau setidaknya ada nggak diantara 6 orang ini yang terkenal dengan pandangan besarnya dalam bernegara di atas kepentingan daerah ataupun wilayahnya? Mampu mngedepankan kepentingan bangsanya ketimbang golongannya sendiri?Aah…nggak tahu juga saya.

Saya rasa semuanya tidak cukup melakukan sosialisasi diri pada masyarakat setempat. Saya tidak tahu siapa calom pemimpin saya. Serasa mencoblos dalam gelap.

Dan saya pikir orang yang seperti saya cukup banyak. Inilah masa mengambang yang sangat rentan terhadap penyuapan dan penyogokan. Dan tentunya semua kembali ke hati nurani masing- masing. Semoga Pilkada kali ini bersih.

Akan halnya saya, dalam kebutaan informasi, akhirnya saya hanya mengandalkan rekomendasi dari teman dan tetangga yang saya anggap memiliki reputasi bersih dan objective dalam kesehariannya. Semoga pilihan saya kali ini benar.

Selamat Mencoblos teman teman.
Mari kita ciptakan iklim pilkada yang sehat dan bersih.

Tentang Si Kaya dan Si Miskin.

Standard

Mencuatnya berita tentang 2 mentri yang berturut-turut ditetapkan sebagai tersangka korupsi dan suap oleh KPK, membuat teman teman dunia maya ikut sibuk berkomentar mengungkapkan kekeselan hatinya. Seorang teman bahkan menyebut bahwa koruptor itu sebetulnya Miskin. Miskin harta, miskin moral, miskin mental, miskin uang dan sebagainya. Saya setuju. Karena minimal jika akhlaknya tidak miskin, tentu ia tidak akan mau menerima suap ataupun bentuk korupsi yang lain.

Nah…apa yang kelihatan kasat mata sebagai orang kaya, belum tentu sesungguhnya kaya. Bisa jadi ia memang kaya karena warisan, karena kerja keras, karena menang undian, karena banyak utang, atau… karena korupsi, mencuri atau merampok.

Saya jadi teringat kejadian di masa lampau. Saya terlahir di sebuah keluarga yang tidak kaya. Tetapi tentu saja kurang bersyukur juga jika saya mengaku keluarga saya miskin. Tanpa mengurangi hormat saya pada Bapak, sesungguhnya Ibu saya yang seorang pekerja keraslah yang membuat kami lima bersaudara semua bisa menempuh pendidikan hingga ke perguruan tinggi dengan baik..

Dalam pandangan saya ketika itu sangat jelas, Orang Kaya adalah orang orang yang sukses dari hasil kerja keras/kerja pintar yang entah dilakukan oleh dirinya sendiri, orang tuanya, atau mungkin kakek buyutnya. Jadi orang yng kaya itu memang beneran kaya.
Sedangkan Orang yang miskin, adalah orang yang belum sukses mendapatkan harta dari hasil kerjanya.

Ketika pindah ke Denpasar, saya bergaul dengan lebih banyak teman. Dan tentunya lebih banyak anak orang kaya. Entah itu yang ortunya pemilik Artshop, pemilik Bank, pemilik Restaurant, pemilik Tempat Penginapan, dan sebagainya. Bahkan sempat terkagum-kagum melihat uang berkarung karung diturunkan dari kendaraan ortu teman yang punya banyak cabang Money Changer. Ck ck ck…luar biasa ya. Tak terbayang suksesnya ortu teman saya itu. Orang orang kaya yang sukses dari hasil kerja kerasnya.

Tak lama setelah tamat kuliah, saya bekerja di sebuah Bank Swasta dan ditempatkan sebagai Account Officer dan menangani beberapa nasabah premium. Dari data itu saya melihat di daftar ternyata banyak orang orang kaya di kota itu rupanya punya pinjaman bejibun. Ada yang masih lancar pembayarannya, dan ada yang tersendat- sendat dan tidak sedikit juga yang maceeetttt.

Nah sebagai karyawan saya harus mengingatkan pembayaran, meninjau kembali jaminan, membantu restrukturisasi utang dan sebagainya untuk membuat nasabah itu sehat kembali pinjamannya. Kadang ada yang mudah diajak berdiskusi, ada juga yang galak dan kasar (saya stress kalau harus menghadapinya. Bingung juga dia yang berutang kok dia yang lebih galak ya?), ada yg nilai jaminannya berupa tanah yang sudah tergerus air laut, ada yang jaminannya kok lebih kecil daripada utangnya (nah…ini apa yang dilakukan oleh karyawan sebelumnya yang membuat akad kredit ini? Bingung saya). Intinya bermacam macamlah persoalan pekerjaan yang saya hadapi saat itu.

Tapi ada satu hal yang menarik dan merubah persepsi saya tentang Si Kaya.
Ternyata Orang – orang kaya pemilik restaurant, hotel, dan sebagainya itu hutangnya di bank juga banyak. Jika Asset dan Hutangnya diseimbangkan, kemungkinan sisa assetnya cuma sedikit. Tidak sekaya seperti yang terlihat.

Bahkan ada yang minus juga kekayaannya. Assetnya bernilai lebih rendah daripada utangnya, misalnya jika tanah yang dijaminkannya tergerus sungai, atau bangunannya sudah sangat buruk, atau mungkin dulu saat penilaian terjadi kesalahan dan sebagainya.

Saya bahkan sempat berpikir, bisa jadi saya lebih kaya daripada nasabah bank di tempat saya kerja yang misalnya utangnya 5 M tp assetnya hanya 4 M. Dia tekor 1 M. Sementara gaji saya hanya 110 ribu rupiah jaman itu (tahun 1990), tetapi saya tidak punya utang. Hayooo lebih kaya siapa ? 😀😀😀

Jadi tidak semua orang kaya itu sesungguhnya memang benar benar kaya. Mungkin saja diantaranya ada yang punya banyak utang.
Sejak itu persepsi saya tentang orang kaya dan orang miskin berubah total. Saya tidak terkagum kagum lagi pada yang ortunya punya ini punya itu. Sesungguhnya tidak semuanya sehebat itu.
Demikian juga pada teman yang ortunya kelihatan biasa biasa saja, ternyata simpanannya di Bank segunung, dan bisa jadi juga cadangan Logam Mulianya banyak namun tak berbunyi. Siapa yang tahu.

Tidak silau pada si kaya dan tidak under estimate si miskin juga. Biasa aja lah…

Nah apalagi ini yang kaya karena suap, atau karena korupsi, mengambil yang bukan hak miliknya. Itu bukan Orang Kaya namanya. Karena sesungguhnya, kekayaan itu bukan hak miliknya. Miliknya hanyalah sebatas yang ia dapatkan dengan usaha dan kerja yang benar. Sedangkan yang bukan haknya itu adalah milik orang lain. Pastinya dia sesungguhnya lebih miskin dari kelihatannya.
Benar kata teman saya itu. Mental kere.
Itu saja.

SORE DALAM GERIMIS.

Standard

Kebunku sore ini dalam gerimis.
Entah apa yg menyebabkanku tidak produktif akhir pekan ini. Hanya memandangi tanaman dan tidak berbuat apapun. Ada sedikit menyemprot bibit Ketumbar agar daunnya tumbuh segar. Setelah itu rasa lelah dan kantuk mengganggu.
Akupun berbaring dengan lesu.
Lalu kubuka mataku.
Kupikir harusnya aku melakukan sesuatu.

Barangkali menyiangi daun daun yg kuning melayu. Atau menakar pupuk dan mencampurnya dalam larutan yang benar. Ya sesungguhnya tanamanku butuh nutrisi. Tapi entah kenapa tak beranjak juga aku dari tempat dudukku.

Barangkali aku bisa mencincang jamur merang yang kubeli tadi pagi. Lalu mencampurnya di atas wajan dengan merica, garam, kecap dan sedikit minyak wijen. Lalu kugulung dalam kulit lumpia. Ya, sesungguhnya anakku butuh cemilan iseng iseng sambil menanti gerimis. Tapi entah kenapa, aku hanya berpangku tangan.

Barangkali aku bisa mengambil kain, benang dan jarum. Lalu memotongnya menjadi beberapa pola. Entah untuk masker, tas, maupun bantal kursi. Eh, sesungguhnya pembungkus bantal kursiku sudah lama tak diganti.Tapi entah kenapa aku hanya membiarkan pikiranku sendiri yang melayang.

Barangkali aku bisa membuka kotak cat warna, membentangkan kanvas kosong dan mulai menarikan kuasku di sana. Ya, dinding kamarku yang putih rasanya butuh lukisan penuh warna untuk menghangatkannya. Tapi entah kenapa aku hanya bisa memandangi kotak itu dan rasa berat tanganku untuk membukanya.

Barangkali aku….. bisa apa saja. Tapi masalahnya bukan soal bisanya.
Tapi kapan aku memulainya….