Pucuk Coccinia Liar Dari Lahan Terbengkalai.

Standard

Saya makan siang di sebuah warung makan di perumahan yang tak jauh dari kantor. Di sebelah warung itu ada halaman kosong yang terbengkalai dan tak terurus. Ada banyak rumput dan tanaman liar tumbuh di situ. Salah satunya adalah tanaman Coccinia grandis (Ivy Gourd) alias Papasan alias Timun Padang yang tumbuh sangat subur walau kemarau sangat panjang. Pucuk-pucuknya sangat banyak. Dan saya heran mengapa tidak ada yang memanfaatkan tanaman ini ?. Padahal pucuk tanaman ini sangat enak disayur. Selain juga memberikan fungsi pengobatan bagi penderira Diabetes, Hypertensi dan Gula Darah tinggi.

Tanaman ini mengandung kadar serat yang tinggi, Vitamins dan Besi.

Sebuah artikel di Diabetes Journal menjelaskan hasil research bahwa 1gram ekstrak tanaman ini yang diberikan setiap hari selama 90 hari, menunjukkan penurunan level glukosa darah sebesar 16% dibandingkan dengan mereka yang tidak diberikan ekstrak ini (placebo).

Akhirnya saya memberanikan diri bertanya kepada pemilik warung. Siapakah yang punya tanaman itu?. “Oooh… itu tanaman liar. Tumbuh sendiri. Nggak ada yang nanem dan pelihara. Malah mengganggu. Belum sempat dibersihkan”, jelas si Bapak.

Wah… kalau dianggap gulma pengganggu, apa boleh saya meminta pucuknya?. Bapak pemilik warung bilang “Ambil saja!. Ambil saja!” katanya sembari memberikan saya gunting untuk memanen pucuk- pucuknya. Saya merasa sangat kegirangan.

Dengan semangat saya pun memanen pucuk-pucuk tanaman Papasan itu. Waaah…luarbiasa!. Tanaman ini sungguh sangat subur. Pucuk mudanya sangat banyak. Saya hanya menggunting yang bagian atas atas saja yang agak jauh dari tanah.

Banyaaaak sekali dan segar segar. Tapi karena panas terik kemarau terasa memanggang, dan teman saya sudah menunggu saya untuk balik ke kantor, akhirnya saya menyudahi panen saya setelah mendapatkan pucuk daun secukupnya. Padahal sebenarnya masih banyak sekali yang bisa dipanen.

Tapi sebaiknya kita memang mengambil seperlunya saja dari alam. Jangan terlalu serakah juga. Cukup untuk sekali masak. Siapa tahu ada orang lain juga yang ingin memanfaatkan. Saya kemudian mengembalikan gunting dan berterimakasih kepada Bapak pemilik warung.

Pucuk daun ini bisa dimasak tumis ataupun direbus untuk lalapan.

Sampai dirumah saya bersihkan dan siapkan agar besok nggak perlu buang buang waktu lagi untuk membersihkan di pagi hari.

Jadi tinggal tumis dengan cepat. YummyπŸ˜‹πŸ˜‹πŸ˜‹

Menguji Nyali di De Brokong: Ziplines Di Atas Hamparan Sawah Hijau.

Standard
Menguji Nyali di De Brokong: Ziplines Di Atas Hamparan Sawah Hijau.

Berada di rumah untuk urusan adat dan upacara yang super padat, membuat anak saya bertanya. “Kapan kita main, Ma?. Kan sudah di Bali???”. Whuala anakku……, pikirannya kalau ke Bali cuma liburan. Kita ini pulang kampung. Untuk menghadiri upacara adat keluarga. Bukan liburan.

Anak saya tampak kecewa. Untunglah seorang teman akrab mengajak bermain ke DeBrokong. Tempat wisata baru di Bangli. Seketika wajahnya tampak bersemangat lagi.

Seusai upacara berangkatlah kami ke sana. Lokasinya ada di desa Bangbang, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli. Gampang sih mencarinya. Dari rumah saya sebenarnya sangat dekat. Cuma 15 menit.

Waaah…ternyata tempatnya asyik banget. Berada di kebun belakang dengan pemandangan sawah yang sangat indah. Hijau royo-royo. Di sana terbentang 5 Zip lines melintasi sawah kurang lebih berjarak 100 meter di atas ketinggian 7.5 meter hingga 9.5 meter.

Wahana Flying Fox tetapi dengan standard keamanan international. Waah…keren banget.

Terlihat ada sebuah anjungan di sana. Kelihatannya enak nih duduk-duduk di sini sambil ngopi.

Sementara saya memandang hamparan sawah sambil memperhatikan burung burung bangau yang terbang dan hinggap mencari makan di sawah, teman saya memesankan kopi dan Jaja Laklak (sejenis kue serabi dari tepung beras dengan topping kelapa parut dan disiram dengan gula merah cair yang rasanya sangat mantap). Jaja Laklak-nya sangat istimewa dan baru dibuat langsung. Jadi baru matang dan masih hangat. Enak banget. Sungguh. Selain itu teman saya juga memesankan kami Kacang Rebus. Whuesss… mantap banget buat teman nyantai dan nongkrong -nongkrong di sini.

Anak saya tidak sabaran untuk bermain di Zip lines yang kelihatan sangat menantang itu.

Melihat antusiasnya, I Dewa Gede Ngurah Widnyana, sang pengelola De Brokong pun tidak segan untuk turun tangan memberikan Safety Brief dan Teknik bermain yang benar pada anak saya. Saya ikut mendengarkan. Sangat detail dan hati hati di setiap tindakan yang diambil. Berkali-kali ia mengingatkan kepada anak saya agar selalu Focus dan Disiplin. Seketika saya paham.

Bedanya De Brokong dengan wisata outbond lokal yang punya flying fox lain adalah dari International Safety procedurenya yang diimplementasikan dengan sangat baik. Itu yang membuat saya sebagai orang tua merasa tenang akan keselamatan anak saya jika bermain di situ.

Menggelayut di Ziplines.

Ini adalah wahana yang paling menarik perhatian anak saya sejak pertama. Sekarang ia mulai memasang perangkat keamanannya. Dengan instruksi yang sangat jelas dari Dewa Gede.

Tapi ini di ketinggian dan anak saya akan meluncur di tali itu. Saya merasa sangat deg-degan. Nyaris nggak berani melihat. Hanya bisa berdoa untuk keselamatan anak saya. Melihat perangkat keamanan dan prosedurnya, akhirnya hati saya tenang kembali. Saya mulai bisa mengambil posisi untuk memotret anak saya.

Ia kelihatan tenang memindahkan cangklingannya dan menggenggam puley lalu…. zwiiiiiing…..ia pun meluncur di udara bebas. Oooh….. Tampak ia sangat menikmati perjalanan udaranya menuju tower di seberang dengan mulus. Ia pun mendarat dengan sukses di tower berbendera merah putih itu.

Setelah menikmati pemandangan sejenak dari tower di seberang, berikutnya anak saya kembali ke pangkalan dengan zipline yang berbeda.

Menurut teman saya, semua zipline akan landing dengan sempurna karena semua konstruksi dan pemasangan sudah menggunakan perhitungan fisika yakni derajat kemiringan dan mengandalkan grafitasi. Dengan demikian zipline sangat ramah lingkungan tanpa perlu bantuan daya listrik dan mesin penggerak. He he…benar juga ya.

Lalu bagaimana jika ternyata, entah karena gerakan kita yang salah ataupun penyebab lain kita nyangkut di tengah- tengah?. Tidak maju dan tidak mundur pula?. Jangan khawatir. Nanti akan ada petugas yang akan menjemput. Waah… keren ya.

Saya melanjutkan minum kopi, sementara anak saya masih terus ingin bermain…

Spirit of Wipro Run 2019 – Indonesia. Further Together.

Standard

Musim berlari telah datang!.

Bersamaan dengan lebih dari 50 negara lain di dunia, Spirit of Wipro Run diselenggarakan kembali Minggu pagi tanggal 22 September ini. Di Indonesia, pelaksanaannya di lakukan di Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta dan di Salatiga.

Nah, saya hadir di Ancol, dimana lokasi Start dan Finishnya itu dilakukan di area Pasar Seni lalu keluar menyusuri pantai dan kembali lagi sejauh 5 km.

Seperti biasa acara dimulai dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya (saya sangat suka bagian yang ini – setidaknya mengingatkan kita semua akan tanah air kita Indonesia tercinta ini), dilanjutkan dengan sambutan dari Chief Executive Wipro Unza Indonesia, Mr Amit Dawn, lalu sedikit pemanasan sebelum berlari.

Yang saya suka dari kegiatan Spirit of Wipro Run ini adalah kebersamaannya. Kami bertemu dengan teman -teman sesama karyawan dan keluarganya. Saling mengenal satu sama lain. Dan yang paling penting lagi adalah memperkenalkan kepada anak -anak di perusahaan mana orang tuanya bekerja.

Seperti tahun -tahun sebelumnya, Spirit of Wipro Run menggunakan thema yang berbeda-beda tergantung agenda yang sedang di-push oleh group Wipro. Tahun ini thema yang digunakan adalah “Further Together”, di mana Wipro Group mendorong karyawannya untuk bekerjasama dengan lebih erat lagi dalam melakukan usaha-usaha untuk mencapai kesuksesan dalam menerapkan value dari perusahaan yang disebut dengan Spirit of Wipro:

1. Be passionate about client’s success.

Wipro mengharapkan agar semua karyawan menunjukkan usaha, upaya dan semangatnya dalam membangun kesuksesan pelanggan. Karena kesuksesan pelanggan adalah kesuksesan kita.

2. Treat each person with respect.

Wipro mengharapkan agar semua karyawan menghargai dan menghormati orang lain, terlepas dari jabatannya, usianya,gendernya, suku bangsanya, agamanya, strata ekonomi dan sosialnya, dan sebagainya. Setisp orang harus diperlakukan sama.

3. Be global and responsible.

Wipro juga berharap agar setiap karyawan berpandangan luas dan global serta bertanggungjawab terhadap perkataan dan perbuatannya.

4. Unyielding integrity in everything we do.

Terakhir Wipro juga meminta agar setiap karyawan berlaku jujur dan kukuh dalam memegang prinsip prinsip kejujuran dan moral yang tinggi.

Terus terang seiring dengan bertambahnya usia, saya tidak lagi bisa berlari kencang apalagi berharap menjadi pemenang. Kaki saya kram melulu jika dibawa lari. Jadi saya lebih banyak berjalan saja. Fun Walking πŸ˜€. Untungnya di perjalanan saya bertemu dengan Mbak Ika yang menemami saya sambil ngobrol.

Walaupun pake nyasar masuk ke garis finishnya, yang paling penting adalah kami berhasil melewati 3 Meet point yang ditetapkan tanpa melakukan kecurangan. Saya diberikan gelang berbeda warna sebagai bukti telah melewati titik titik itu.

Saya telah berlari

Bagi saya ini bukanlah soal menangnya, tapi bagaimana kita bisa berkomitmen melakukannya tanpa kecurangan dan tidak menyerah.

Saya dan Mbak Ika mengambil foto di setiap titik. Untuk mengenang bahwa kami telah berhasil melewatinya dengan baik.

Tetangga Sebelah Rumah.

Standard

Tetangga sebelahku merenovasi rumahnya. Dia hancur-hancurin itu tembok lamanya, termasuk tembok pemisah dengan rumahku. Akibatnya, rumahku jadi bocor-bocor”. Saya tercengang mendengar cerita teman saya itu. Sangat bisa membayangkan, karena tembok rumah di perumahan biasa, memang terkadang berbagi dengan tetangga. Jadi kalau tetangga mengetok – ngetok tembok kamarnya yang bersebelahan dengan kamar kita hingga hancur, bisa jadi tembok kamar kitapun ikut bolong πŸ˜€.

Memang agak pelik ini kalau menyangkut soal TMB (Tembok Milik Bersama πŸ˜€) dengan tetangga. Tetapi pengalaman saya dengan tetangga sebelah saya, biasanya kami saling memberi tahu (sekalian minta ijin) jika salah satu melakukan pekerjaan ketok-ketok. Bukan hanya karena harus berhati hati dengan TMB itu, juga karena suara ketak ketok dan gergaji bisa jadi mengganggu ketenteraman telinga tetangga. Belum lagi bahan bangunan yang mungkin malang melintang di jalanan depan rumah.

Emang tetangganya nggak bilang dulu?” Tanya saya. “Nggak. Dia juga ngerjainnya saat saya sedang di kantor. Pagi dan malamnya ia tidak di situ. Jadi saya tidak bisa complaint juga, karena orangnya tidak ada”, katanya.

Saya mengangguk-angguk, kasihan pada teman saya. Kok ada ya orang yang seperti itu?. Tetapi saya tidak bisa berbuat apa apa untuk menolong dia.

Itu adalah salah satu cerita tentang tetangga sebelah rumah yang pernah saya dengar.

Cerita lain, “Tetangga sebelah rumahku sangat sering meninggalkan anaknya di halaman rumahku dan ia langsung pergi begitu saja, dengan harapan Baby Sitter-nya anak aku yang mengurusnya sekalian dengan gratis. Kan ngeselin ya?. Mana perhatian Baby Sitter jadi nggak bisa full ke anakku. Selain itu nanti kalau terjadi apa apa dengan anaknya gimana? Siapa yang mau tanggung jawab?”.

Waduuuuh. Kok ada ya tetangga yang seperti itu? Saya sungguh heran.

Cerita lain lagi; Aku heran dengan tetangga saya. Dia punya garasi luas yang muat dua mobil, tapi anehnya setiap hari kedua mobilnya diparkir di punggir jalan depan rumah. Padahal jalannya sangat sempit. Dan garasinya yang luas itu dikosongin. Jadi aku kan sulit banget ya kalau mau masukin dan keluarin mobil dari garaseku, karena jalanan jadi makin sempit”.

Saya tertawa mendengar curhat teman saya ini. Antara kasihan, heran dan geli mengapa ya kok ada orang yang seperti itu?.

Mendengar cerita-cerita tentang tetangga sebelah rumah ini, saya jadi ikut ikutan latah. Berusaha mengingat-ingat bagaimana kelakuan tetangga sebelah rumah saya sendiri yang bisa saya jadikan bahan obrolan juga. Agak lama saya mikir, karena kelihatannya tidak ada kejadian-kejadian spektakuler yang cukup menarik untuk diceritakan. Saya terus mikir dan mengingat ingat. Tapi tetap tidak ketemu kejadian yang menarik untuk diceritakan tentang tetangga kiri kanan saya. Tidak ada tetangga yang berbakat jadi biang kerok.

Tetapi tiba tiba saya teringat sebuah kejadian….

Suatu hari pembantu rumah tangga saya melapor “Bu, tadi pagi saya ditegur oleh Ibu A (tetangga sebelah kiri rumah saya), itu pohon markisa kita terlalu rimbun menjalar hingga ke dinding dan atap rumah ibu A. Takutnya ular Bu”. Oooh… Iya. Bener juga. Saya terlalu sibuk belakangan ini hingga lupa berbersih dan memangkas tanaman. “Baiklah. Besok Minggu kita bersihkan dan pangkas pohonnya”. Kata saya.

Bulan berikutnya, lagi-lagi si Mbak melapor “Bu, tadi pagi saya ngobrol dengan Ibu B (tetangga sebelah kanan rumah saya), itu pohon timun padangnya menjalar ke rumah sebelah. Buahnya yang sudah tua banyak betjatuhan ke halaman rumah ibu B. Jadi capek katanya membersihkan setiap hari. Boleh dipotongin nggak Bu?” Tanyanya. Waduuuuh… Jadi nggak enak sama tetanggga ini. Sudah lama saya tak sempat mengurus tanaman ini hingga mengganggu tetangga.

Mengingat dua kejadian itu, saya merasa perut saya agak mual. Hulu hati saya enek.

Jadi, jika teman saya bercerita tentang kelakuan tetangganya yang aneh aneh dan mengganggu ketertiban, maka di perumahan saya ini justru sayalah yang menjadi biang kerok pengganggu ketertiban kehidupan bertetangga.

Whuaaa 😒😒😭.

Saya membayangkan jika dua orang tetangga kiri kanan saya ini bercerita ke teman temannya, kemungkinan bunyinya akan begini “Saya heran deh dengan tetangga sebelah saya. Dia hobby banget sama tanaman, hingga tanamannya merambat ke tembok dan genteng rumah saya, bikin kotor dan capek membersihkannya. Belum lagi takut ular. Anehnya dia kok seperti tak peduli dan tidak mau memangkasnya secara berkala. Heran saya kok ada orang yang seperti itu ya?“.

Astaga!!!. Ternyata tetangga pembuat masalah itu adalah saya sendiri 😫.

Ada gunanya juga teman saya curcol tentang kelakuan tetangganya, sehingga saya bisa interospeksi diri saya sendiri.

Ketika Pedas Ketemu Air Hangat.

Standard

Saya sedang makan dengan lauk Telur Ceplok🍳 dan kecap beserta potongan cabe rawit 🌢🌢🌢. Entah karena jenis cabenya yang memang pedas atau jumlah cabenya yang banyak, tumben saya merasa sangat kepedesan sampai merasa perlu segera minum air untuk mengatasinya. Kebetulan sudah ada teh hangat di atas meja. Saya teguk, seketika rasa pedasnya berkurang banyak. Bahkan nyaris hilang sama sekali. Ajaib ya.

Saya jadi memikirkan kejadian ini. Pedas dikasih hangat, membuat pedas menghilang. Sebaliknya dulu saya pernah mencoba, pedas seperti ini dikasih minuman dingin.Teman-teman pembaca pernah mencoba nggak?. Apa yang terjadi ? .

Rasa pedas bukannya hilang, malah semakin menjadi jadi. Pedasnya makin kuat dan makin lama. Bener kan ?.

Jadi kesimpulannya jika kita merasa kepedasan dan ingin menguranginya atau menghilangkannya, jangan minum air dingin. Tapi minum air hangat!.

Saya menggenggam gelas berisi teh hangat dengan kedua belah telapak tangan saya. Merasakan kehangatannya. Dan takjub akan efeknya dalam menghilangkan kepedasan di mulut saya.

Saya membayangkan, rasa Hangat itu ibarat hawa yang ditimbulkan saat orang berkumpul dengan saudaranya, keluarganya , teman-teman ataupun sahabatnya, berbincang dan bersenda-gurau. Hangat dan nyaman.

Sebaliknya rasa Dingin itu, serupa dengan rasa sepi, seorang diri, sunyi, sepi, tiada teman atau saudara yang diajak berbicara maupun bercengkerama.

Membayangkan itu, tiba tiba saya berpikir bahw Fenomena Rasa Pedas bertemu Suhu Hangat dan Dingin ini sesungguhnya adalah salah satu cara Alam mengajarkan kita manusia bagaimana caranya memecahkan masalah dalam kehidupan kita. Lho! Kok bisa?.

Ya. Bisa!.

Coba kita bayangkan seperti ini. Kepedasan adalah sebuah masalah. Oleh karenanya kita mencari pemecahannya dengan minum minuman hangat biar hilang pedasnya. Bukan dengan minum minuman dingin.

Sama halnya dengan masalah (kepedasan) yang kita hadapi dalam kehidupan sehari hari. Jika kita mencari pemecahannya dengan menyendiri, merenungi nasib dan tidak berbuat apa apa, maka masalah hidup kita tidak akan bisa kita pecahkan begitu saja. Bahkan kita akan semakin terpuruk dan semakin dalam terpuruk lagi. Ibaratnya orang yang kepedasan diberi minum air es. Tambah pedas.

Sebaliknya jika kita mencari pemecahan masalah kita itu dengan mencoba sharing dengan sahabat, teman dan keluarga yang kita percayai, kita akan merasa lebih tenang, lebih nyaman dan mendapatkan bantuan pemikiran dan ide ide baru dari orang orang di sekeliling kita yang sangat mungkin membuat kita lebih mudah mendapatkan pemecahan masalahnya. Ibaratnya kita kepedasan diberi minum air hangat.

Tapi jangan terlalu lebay juga ceritakan masalah kita kepada semua orang yg kita kenal dan berharap semua orang membantu memecahkan masalah kita itu.

Pertama karena tidak semua punya keinginan, kemauan dan kemampuan untuk membantu kita.

Berikutnya tidak semua orang juga bersimpati terhadap masalah yang kita hadapi.

Jika ini yg kita lakukan, ibaratnya kita kepedasan lalu dikasih minum air panas mendidih. Bukannya sembuh, malah lidah kita yang terbakar 😊.

Ketika kita nerasakan “kepedasan” dalam hidup kita, carilah kehangatan dari para sahabat, keluarga dan orang orang yang kita percayai. Niscaya kepedasan hidup itu segera teratasi.

Rajapisuna. Fitnah dalam Pandangan Seorang Wanita Bali.

Standard

Beberapa hari terakhir ini, masyarakat Bali dihebohkan oleh pemberitaan tentang seorang wanita bernama Lisa Marlina yang mengatakan lewat account Twitternya @lisaboedi , kalau di Bali itu nggak ada pelecehan sexual, karena kalau dilecehkan ya senang-senang saja. Selain itu ia juga mengatakan kalau di Bali itu pelacur dan pelacurannya available di setiap jengkal.

Sontak kicauan wanita ini membuat para wanita Bali terkejut dan heran.

Wanita Bali senang-senang saja kalau dilecehkan?????

Pelacuran di setiap jengkal tanah Bali?????”.

Dari mana datanya?. Apakah Lisa sudah datang ke tanah Bali dan check faktanya di lapangan?. Dan menemukan bahwa statementnya itu mengandung kebenaran atau tidak?

Keterkejutan dan respon diberikan dari para netizen baik di Bali maupun dari luar Bali. Ujung-ujungnya Ni Luh Djelantik, seorang wanita designer sepatu asal Bali mengadukan kasus ini ke Kepolisian.

Sebagai seorang Wanita Bali, tentu saja saya sama heran dan terkejutnya dengan Wanita Bali yang lain, akan apa yang dikatakan oleh Lisa Marlina di dunia maya. Karena sebagai Wanita Bali yang tumbuh dan besar di Bali (walau sekarang sebagian besar saya tinggal di Jakarta dan hanya bolak balik saja pulang ke Bali), saya tidak setuju jika kami Wanita Bali disebut senang jika dilecehkan. Karena kenyataannya tidak.

Kemudian sebagai orang Bali, saya juga tidak setuju dengan pernyataan Lisa Marlina, jika di Bali ada sedemikian banyaknya pelacur dan pelacuran, saking banyaknya hingga setiap jengkal tanah Bali pun ada. Karena kenyataannya tidak. Dan saya ingin Lisa membuktikan kepada saya ucapannya itu.

Karena menurut saya apa yang dilakukan oleh Lisa Marlina ini termasuk dalam perbuatan fitnah besar, alias RAJAPISUNA dalam Bahasa Balinya.

Rajapisuna (Fitnah, Memfitnah) adalah memberikan sebuah pernyataan buruk tentang orang lain yang tidak terbukti kebenarannya.

Rajapisuna dan Sad Atatayi – Enam Bentuk Kejahatan Manusia.

Rajapisuna ini dalam tatanan masyarakat Bali yang sebagian besar beragama Hindu dan sangat cinta akan kedamaian termasuk salah satu dari enam point SAD ATATAYI (Enam Bentuk Kejahatan, Sad= enam, Atatayi = Kejahatan), yang sangat dilarang untuk dilakukan.

Enam Kejahatan dalam Sad Atatayi itu adalah:

1/. Agnida – membakar, meledakkan, nge- bom milik orang lain.

2/. Wisada – meracuni orang dan mahluk lain.

3/. Atharwa – menggunakan ilmu hitam untuk menyerang /menyengsarakan orang lain.

4/. Sastraghna – mengamuk, membunuh orang dan mahluk lain.

5/. Dratikrama – melecehkan, memperkosa orang lain.

6/. Rajapisuna – memfitnah orang lain.

Sangat jelas, bahwa melakukan Rajapisuna merupakan salah satu kejahatan yang dianggap serius di Bali, karena termasuk di dalam daftar SAD ATATAYI.

Dalam kenyataannya, memang terjadi beberapa kasus pelanggaran dan tindakan kejahatan juga yang dilakukan oleh orang Bali, tetapi jumlahnya relatif sangat kecil dibandingkan dengan yang disiplin mengamalkan pelarangan Sad Atatayi ini. Saya rasa kita juga bisa melihat data di Kepolisian, berapa % yang dilakukan orang Bali dan berapa % yang dilakukan pendatang.

Sad Ripu – Enam Musuh Dalam Diri Manusia.

Nah, bagaimana seseorang bisa melakukan perbuatan jahat yang termasuk dalam daftar Sad Atatayi ini?. Sebatas apa yang saya pahami dalam agama Hindu, bahwa perbuatan ini terjadi jika kita kurang mampu mengendalikan musuh -musuh yang ada di dalam diri kita sendiri yang disebut dengan SAD RIPU yaitu:

1/. KAMA – nafsu

2/. LOBHA – loba, serakah.

3/. KRODHA – amarah

4/. MADA – mabuk, kegila-gilaan.

5/. MOHA – kebingungan, keangkuhan.

6/. MATSARYA – iri hati, dengki.

Orang Bali, tidak percaya bahwa jika ada orang yang berbuat buruk itu karena dipengaruhi setan (mahluk lain di luar dirinya). Tetapi yakin jika perbuatan jahat itu disebabkan oleh kemampuan diri orang itu sendiri yang rendah dalam menaklukkan sifat sifat buruk yang ada dalam dirinya itu sendiri (Sad Ripu). Jadi tidak menyalahkan Setan.

Nah dalam kasus Rajapisuna di atas, perbuatan memfitnah orang lain bisa terjadi karena kelemahan manusia dalam mengendalikan Sad Ripu, misalnya karena Krodha (Amarah) dalam dirinya, dan atau karena Matsarya (Irihati, dengki), atau mungkin juga karena Moha dan sebagainya.

Itu pandangan saya, sebagai salah seorang Bali tentang kasus Lisa Marlina ini.

Lalu bagaimana kita menanggapinya?.

Menurut saya, karena Ni Luh Djelantik, seorang Wanita Bali telah mengambil inisiatif melaporkannya ke pihak Kepolisian, ya biarkanlah pihak kepolisian yang memprosesnya hingga selesai. Walaupun akhirnya Lisa Marlina telah mengucapkan maaf (- tentu dimaafkan), dan mengaku itu mistypo, tetapi proses hukum tentu tetap berlanjut.

Selain proses hukum duniawi, ada juga Hukum Kharma- Phala yang berlaku. Setiap orang yang melakukan perbuatan (Kharma) baik maupun buruk, pasti akan mendapatkan buah dari perbuatannya itu dengan setimpal (Phala). Hukum Kharma-Phala itu berlaku untuk semua mahluk di seluruh alam semesta, tak peduli di manapun ia sembunyi.

Dan tentunya kita tak perlu ikut marah marah juga, karena jika kita marah, itu artinya Lisa Marlina telah berhasil dan sukses menggeret kita untuk kalah melawan Sad Ripu, yakni membiarkan Krodha (amarah), yang ada di dalam diri kita sendiri menjadi menguat dan menguasai diri kita.

Mari kita sikapi dengan tenang dan damai. Jangan biarkan Sad Atatayi orang lain ikut mencemari kebersihan hati dan pikiran kita. Jangan biarkan Rajapisuna, membuat kita tak mampu mengendalikan Krodha amarah dalam diri kita. Tetaplah tenang, damai dan terkendali.

Ragadi musuh meparo, ri ati ya tonggwaniya tan madoh ring awak….

(Musuh yang sesungguhnya itu ada di dalam diri kita, di hati tempatnya, tak jauh dari tubuh kita sendiri).

Mari kita berdamai dengan diri kita sendiri.

Om Shanti, Shanti, Shanti.

Semoga semua mahluk selalu merasakan damai di hati, damai di bumi dan damai seluruh alam semesta.

Oregano, Rempah Serba Guna.

Standard

Ketika mencicipi Italian Piza, kita selalu merasakan ada bumbu dengan aroma khas di dalamnya. Nah…itulah Oregano. Bumbu masak yang sangat umum digunakan di dapur-dapur Eropa dan Mediterania. Tanpa Oregano, rasa piza ataupun spaghetti yang kita buat terasa ada yang kurang.

Oleh karena itu, bagi yang suka mencoba- coba memasak berbagai jenis resep mancanegara di dapur, keberadaan oregano ini amatlah penting.

Sebenarnya cukup mudah mendapatkan Oregano kering di supermarket, tetapi saya tetap merasa memiliki pohon Oregano di halaman sendiri tetap merupakan pilihan yang terbaik buat saya. Karena, jika masak saya lebih menyukai bumbu ataupun bahan- bahan yang masih segar ketimbang yang sudah kering.

Apanya yang kita manfaatkan untuk bunbu?. Daunnya. Tapi saya dengar bubganya juga sama, bisa dipakai untuk bumbu. Rasanya pedas lemah sedikit pait.

Oregano (Origanum vulgare), adalah tanaman rempah yang masih berkerabat dengan pohon Mint. Tidak hanya dimanfaatkan untuk keperluan dapur, tetapi juga sebagai obat traditional.

Di Yunani sana, secara turun temurun, Oregano telah dikenal sebagai salah satu natural antiseptic. Umum digunakan untuk mengatasi jerawat ataupun mengurangi ketombe.

Selain itu saya juga menemukan penjelasan bahwa Oregano ini juga dimanfaatkan untuk mengatasi keluhan kesehatan lain seperti batuk, sakit saat haid, sakit perut dan sebagainya.

Bahkan sebuah informasi mengatakan bahwa Oregano mengandung anti cancer property. Waaah… berguna banget ya jika kita tanam di halaman kita.

Sarang Tawon & Fire Rescue.

Standard

Di halaman rumah saya ada sarang Tawon jenis Tabuhan Sirah (Bhs Bali), alias Tawon Endas (Bhs Jawa). Sarang tawon ini membesar dengan kecepatan luar biasa. Dalam waktu kurang lebih tiga bulan, sarangnya sudah seukuran kepala orang dewasa, dan tiga bulan berikutnya sudah seukuran karung beras. Astaga !!!

Sangat mengkhawatirkan. Mengingat di sebelah rumah saya adalah lapangan tempat anak-anak bermain bola. Dan sangat sering anak-anak masuk mengejar bolanya yang tertendang melenceng jatuh ke halaman rumah. Selain itu, yang namanya anak- anak, ada saja yang iseng dan jahil.

Pernah suatu kali saya melihat sebatang batu bata merah nangkring di atas dahan pinus. Besar kemungkinan, ada yang melakukan usaha menimpuk sarang tawon itu dengan batu bata.

Saya sempat mengutarakan permasalahan ini dan meminta ide dari teman teman di sekitar dan juga di Facebook bagaimana cara mengatasi tawon ini. Ada banyak masukan, mulai dari mengasapi, membakar sarang tawon ini di malam hari, meminta bantuan Damkar, ada juga yang membantu dengan doa, agar tawonnya kalem dan tidak menyerang anak-anak. Dan sebagainya.

Bantuan Penyelamatan Tak Berbayar.

Setelah bertanya ke sana kemari, akhirnya saya memutuskan untuk meminta bantuan team Rescue dari Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kita Tangerang Selatan untuk menangani sarang tawon besar ini. Awalnya saya nggak begitu yakin, takut ribet. Tapi ternyata sangat mudah. Karena respon team Rescue TangSel ini sangat baik dan cepat.

Dan bagusnya lagi, bantuan penyelamatan ini ternyata tidak berbayar. Saya hanya diminta menyiapkan 3 kaleng insektisida dan lakban coklat, setelah saya mengirimkan foto foto sarang tawon itu dan nemperkirakan ketinggiannya dari permukaan tanah, yakni sekitar 6 meter.

Team Resque datang sore hari menjelang gelap. Tetapi sarang tawon tidak langsung dieksekusi, mengingat masih banyak anak-anak yang bermain dan berseliweran di bawahnya. Jadi kami menunggu hari gelap dulu.

Vespa Affinis Yang Mematikan.

Sambil menunggu, saya sempat berbincang dengan Pak Darius dari team Rescue. Tawon Endas atau Vespa affinis, adalah jenis tawon predator yang sangat agresif dan sengatannya berbisa. Dalam beberapa kasus bahkan ada yang menyerang manusia hingga meninggal. Saya merasa gentar memikirkannya.

Untungnya sangat mudah mengenalinya. Karena tawon ini ukurannya relatif cukup besar dengan warna hitam dan bagian pantat memiliki gelang berwarna kuning jingga

Pohon Pinus dan Kebakaran.

Dari perbincangan ini saya baru sadar bahwa tindakan saya memanggil team Pemadam Kebakaran dan Rescue ini sangatlah tepat.

Sebelumnya saya nyaris mengiyakan ketika ada orang mengajukan penawaran dengan membakar sarangnya di malam hari. Saya lupa kalau sarang tawon itu bergantung di pohon pinus yang menghasilkan getah resin yang sangat mudah sekali terbakar. Nah, kebayang nggak sih kebakaran yang mungkin terjadi jika saya mengiyakan orang itu membakar sarang tawon di pohon pinus?. Lebih parah lagi, di halaman yang sama, saya juga memiliki 3 pohon pinus lain yang sama besarnya tumbuh berdekatan. Whuaa…kebakaran besar bisa merembet kemana mana. Jika kebakaran sampai terjadi, ujung-ujungnya saya juga harus memanggil team Pemadam Kebakaran. Sami mawon. Jadi lebih baik panggil sebelum terjadi kebakaran.

Setelah hari gelap, operasi penurunan sarang tawon dilakukan. Petugas mulai menurunkan peralatannya dari mobil. Lampu lampu dimatikan. Dan petugas meminta penghuni rumah masuk ke dalam dan menutup pintu untuk menghindari amukan tawon. Akibatnya saya tidak bisa meliput dengan baik aktifitas ini πŸ˜₯. Tapi baiklah, demi keselamatan diri.

Intinya, petugas yang sudah memakai pakaian pelindung memasang tangga di dahan pinus, lalu naik, nenyemprot sarang tawon dengan insektisida dan memasukkan sarang tawon itu ke dalam karung.

Sekarang halaman rumah saya sudah terbebas dari sarang Tawon Endas. Lega rasanya melihat anak anak bermain di lapangan tanpa khawatir disengat Tawon.

Terimakasih Team Rescue dari Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Tangerang Selatan!!!.

Teamnya bagus, handal dan sigap πŸ‘πŸ‘πŸ‘

O ya bagi yang ingin tahu nomer telpon Dinas Pemadam Kebajkaran dan Penyelamatan Kota Tangerang Selatan ini ya 0811900074.

Ondel-Ondel,

Standard

Jalur saya dari kantor ke rumah, adalah jalur perkampungan Betawi. Dengan demikian, saya menjadi beruntung karena hampir setiap malam sepulang kerja ada saja Ondel-Ondel yang saya lihat melintas di jalur itu.

Malam kemarin juga. Saat hendak mengisi bensin, saya lihat ada Ondel-Ondel sedang menari-nari di pomp bensin. Karena sangat dekat, saya berniat untuk menonton dan sekalian ngasih sumbangan. Sayapun turun dan mulai memotret sang Ondel-Ondel. Niat saya juga ingin merekam Ondel – Ondel ini. Walaupun gerakannya sederhana dan tanpa pakem, hanya maju, goyang ke kiri, goyang ke kanan atau beputar putar, tarian Ondel-Ondel ini cukup jenaka juga.

Baru saja sempat sekali menjepret sang Ondel-Ondel itu, seorang perempuan berlari sambil menunjukkan kaleng sambil memberi kode kepada saya agar saya segera memberi sumbangan uang.

Saya melihat ke arah perempuan itu dan berpikir, mungkin ini istri dari pria yang berada di balik Ondel Ondel itu. Dan ia setia ikut suaminya berjalan jauh untuk mencari nafkah.

“Ah!. Saya nggak mau ngasih uang sekarang, ntar kalau saya kasih uang pasti Ondel-Ondelnya langsung kabur, Mbak. Wong saya mau memvideokan Ondel Ondel ini” kata saya.

Si Mbak tertawa mendengar komentar saya. Lalu ia memanggil sang Ondel-Ondel dan menyuruhnya menari di dekat saya.

Waah… lumayan leluasa saya memotret dan memvideokannya. Karena sang Ondel Ondel sekarang mau menari dengan baik. Bukan menari ala kadarnya dan kabur.

Setelah cukup, lalu saya memberikan sumbangan kepada si Mbak. Dia tersenyum. Dan betul saja, begitu uangnya diterima, mereka langsung pergi. Berjalan lagi.

Saya tertawa. Nah inilah yang seharusnya disadari oleh teman teman seniman jalanan kita untuk meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap kesenian daerah.

Mengamen di jalanan, menurut saya adalah sebuah pilihan profesi juga. Akan tetapi, untuk meningkatkan minat orang menonton dan mengapresiasi serta membayar, ada beberapa hal yang sebaiknya dilakukan:

1/. para seniman jalanan meningkatkan kwalitas pertunjukannya agar lebih baik dan menarik, misalnya dengan menciptakan gerakan baru, melatih gerakan dan lebih menyrimbangkan dengan musik yang dipilih.

2/. Melakukan pertunjukan dengan bersungguh sungguh hingga selesai, barulah meminta sumbangan/ bayaran dari masyarakat yang menonton. Jangan hanya menari ala kadarnya, lalu buru buru minta sumbangan dan segera kabur setelah uang diberi.

Ginkgo Biloba, Sang Fossil Hidup.

Standard

Sudah lama saya menyukai tanaman ini. Bukan saja karena bentuk daunnya yang sangat indah seperti kipas Jepang, tetapi juga karena khasiat luarbiasanya yang banyak diceritakan orang.

Nah saat saya berkunjung ke Jepang, tanaman ini saya lihat sangat banyak tumbuh, baik di tepi jalan, taman -taman ataupun kuil-kuil. Sangat senang melihatnya. Maka saya ceritakan perihal tanaman ini ke anak saya.

“Apakah pernah mendengar atau membaca tentang Ginkgo?. Ginkgo Biloba?” tanya saya. Sangat ajaib, ternyata anak saya tahu tentang tanaman ini. “Tahu!. Yang bagus untuk memperbaiki memory, kan?” tanyanya. “Betul!. Nah, ini dia tanamannya“, kata saya menunjuk sebatang pohon Ginkgo Biloba. Anak saya sangat bersemangat melihat lihat daun Ginkgo yang cantik dan hijau segar, seolah-olah pengen ngelalapnya segera.

Ginkgo Biloba, adalah satu satunya spesies hidup yang tersisa dari keluarga Ginkgophyta, yang sudah ada semenjak jaman Jurasic. Dalam dunia kesehatan. extract daun Ginkgo dipergunakan dalam menangani berbagai kondisi gangguan memori, cardiovascular ataupun gangguan penglihatan.

Ketika memasuki halaman Osaka Castle, di Osaka, saya juga menemukan beberapa batang Ginkgo Biloba yang sedang berbuah. Nah…kesempatan lagi untuk mengajak anak saya mengamati amati buah Ginkgo. Buahnya bulat lonjong berwarna hijau dengan biji tunggal di dalamnya.