Memanfaatkan Kulit Roti Tawar.

Standard

​Jika kita membeli roti tawar, biasanya kita punya pilihan: roti tawar biasa atau roti tawar kupas. Yang kupas, maksudnya tentu adalah roti tawar yang kulit luarnya yg berwarna coklat itu sudah dikupaskan dari pabriknya. Mengapa dikupas? Karena beberapa konsumen mungkin tidak menyukai bagian luar roti ini. Biasanya agak lebih keras dibanding isinya. Selain itu jika diolah untuk hidangan lain warnanya jadi belang-belang karena isi roti yang putih sementara kulitnta coklat. Dan juga agak kaku, misalnya jika kita gunakan untuk menggulung keju. 

Jadi beberapa orang memang suka memilih roti kupas ketimbang roti biasa. 

Tetapi karena sudah dikupasin oleh pabriknya, konsumen biasanya harus membayar upah ‘ngupasin’itu. Sehingga selisih harga roti biasa dengan  roti kupas di level konsumen bisa menjadi sekitar Rp 2 000. Misalnya nih… di tukang roti langganan yang lewat setiap hari di depan rumah say, harga roti tawar biasa adalah Rp 12.000. Kalau roti kupas dari merk yang sama, saya beli dengan harga Rp 14.000. 

Halah!.Duit dua ribu rupiah aja kok dipersoalkan!.Mungkin sebagian orang ada yang akan berkata seperti itu. Tapi buat sebagian ibu rumah tangga itu tentu bermasalah. Dua ribu rupiah juga itu duit ya…ha ha. Apalagi buat emak-emak yang terpaksa harus beli roti setiap hari. Rp 2 000 x 30 hari kan lumayan tuh Rp 60  000 selisih harga yang harus dibayar per bulannya  he he he…. Jadi jangan beli roti tawar kupas!. *ternyata diamdiam saya menyimpan bakat jadi provokator juga ini  hua ha ha….. Sikap negative itu ya?.Nggak boleh!. Karena itu salah satu yang tergolong ke dalam menebar kebencian pada …..roti tawar kupas he he..

Nah jadi sikap positivenya gimana dong? Ya… itu soal pilihan kita sih. Roti tawar kupas juga sering kita butuhkan di saat saat tertentu. Terutama jika kita terburu buru dan tak punya waktu, roti tawar kupas tentu sangat bermanfaat.

Tapi saya mau balik ke roti tawar biasa aja dulu ya. Saya sering membeli roti tawar ini. Jika punya waktu, biasanya saya kupas sendiri kulit rotinya. Tapi kulit rotinya tidak saya buang. Saya manfaatkan juga. Untuk apa?. 

Kulit roti ini bisa kita panggang dan keringkan lalu gunakan untuk campuran krim sup ataupun salad. 

​Caranya kulit roti dipotong kecil-kecil. 

​Lalu dipanggang selama 20 menit dengan temperatur 180 derajat C sampai potongan kulit roti benar-benar kering dan garing. 

​Angkat potongan roti kering.

​Masukkan roti kering ke dalam mangkuk, lalu timpa dengan sup krim jamur atau sup krim ayam yang sudah matang. 

​Sup krim jadi semakin enak. 

​Atau bisa juga sedikit roti kering ditambahkan ke dalam sayuran salad sebelum diguyur dengan dressing di atasnya. Salad semakin mantap nih. 

Jadi intinya, jika kita membeli roti tawar biasa yang non kupas, kupaslah sendiri di dapur dan  jangan buang kulit rotinya. Selain lebih murah, bisa juga dimanfaatkan untuk makanan lain. 

Ghost…

Standard

​Jam 2 pagi. Saya terbangun dan mendapati diri saya sedang memeluk anak saya yang kecil. Rupanya tadi saya ketiduran. Pulang kerja agak malam dan saya merasa sedikit kelelahan. Anak saya yang kecil meminta tolong ingin dipijitin sebelum tidur. Jadilah saya ikut berbaring sambil memijit dan mengusap-usap punggungnya. Juga sambil berdoa dalam hati semoga anak saya kelak tumbuh jadi orang berbahagia, yang mandiri,  yang baik hatinya dan suka menolong orang lain yang membutuhkan bantuannya. Standardlah itu dilakukan oleh semua ibu ibu di seluruh dunia ya?. 
Tapi rupanya, entah saking khusuknya berdoa atau karena saya memang kelelahan…eh tanpa sadar saya tertidur. Belum mandi, belum ngapa-ngapain. Jadilah akhirnya terbangun jam 2 pagi. 

Yang pertama saya lakukan adalah menyambar handuk dan segera ke kamar mandi. Lalu mengendap-endap ke kamar mengganti baju dengan yang bersih. Suami saya tertidur pulas. Nafasnya naik turun dengan teratur. Saya membetulkan selimutnya agar ia tidak kedinginan. Lalu saya memeriksa ke dua anak saya yang juga tidur dengan nyenyak. Memeriksa sekeliling takut ada nyamuk menggigit kulitnya. Lalu saya ke ruang tengah, memeriksa pintu depan dan belakang untuk memastikan semua terkunci dengan baik. Aneh…mata saya sekarang sulit dipejamkan. Mungkin karena habis mandi jadi terasa segar. Akhirnya saya memutuskan untuk duduk di ruang tengah. Membuka laptop saya dan bekerja. Memeriksa tumpukan e-mail dan proposal yang belum sempat saya baca dan periksa.

 Tak terasa malam semakin larut. suasana sangat sepi dan hening. Hanya ada saya, dan suara laptop yang mendenging sangat halus. Tiba tiba saya mendengar suara kecil kecipak air. Saya kaget. Suara apa ya? Dari arah kamar mandi. Saya diam. Tidak ada apa apa. 

Beberapa menit kemudian, ada suara gerakan air lagi. Kali ini agak lebih panjang. Saya memasang telinga saya baik-baik. Diam lagi. Hening. 

Sebenarnya saya merasa agak takut. Tapi saya berusaha berpikir logis.Saya memberanikan diri untuk bangkit dari tempat duduk.  Berdiri memeriksa kamar mandi. Aneeh!. Semua keran air mati. Baik yang di wastafel, di kucuran air maupun untuk jetwasher. Walaupun basah, tapi kerannya sudah mati semua. Ini sungguh aneh. Akhirnya saya kembali ke ruang tengah. 

Sekarang saya ingin menulis. Saat beberapa kalimat sudah mulai terketik, eh…suara kecipak air itu muncul lagi. Suara apa itu? Kok datang lagi tapi tidak ada kelihatan wujudnya? Saya periksa lagi dan tetap tidak ada apa apa. Tengkuk saya mulai merinding membayangkan sesuatu yang tidak bersahabat. Hantu!!!!. Atau apapun namanya mahluk halus itu. 

Tapi tidak!. Saya tidak mau menyerah sama hantu. Jika ini terjadi pada waktu saya kecil, sudah pasti saya akan ngibrit berlari ke pangkuan bapak saya. Tapi sekarang? Seumur segini? Kemana saya harus ngibrit? Ini tempat saya tinggal. Suami saya tentu tidak percaya akan cerita hantu ini. Alih-alih saya malah bisa ditertawakan dan dianggap nggak logis. Jadi saya memilih untuk tidak membangunkan suami saya. 

Akhirnya karena tak punya pilihan lain,  saya datang kembali ke kamar mandi. Saya berdiri di situ beberapa saat dan  berkata kepada entah siapa “Ayo tunjukan dirimu!. Kalau kamu memang berani“. Tak ada yang menyahut. Hanya keheningan malam. 

Saya bertahan di tempat itu beberapa saat. Menunggu sesuatu mungkin akan terjadi.  Tetap tidak terjadi apa apa. Saya kembali ke tempat duduk. 

Pukul 5 pagi anak saya yang kecil bangun. Saya menyambutnya dengan sapaan pagi. Tak berapa lama suara kecipak air itu terdengar lagi. Anak saya membungkuk di rak depan kamar mandi. Ia melihat ke dalam gelas  berisi air kelapa yang tak habis diminum semalam yang diletakkan di situ. “Ya ampuuuun Mama. Kasihan amat cicak ini kecemplung ke dalam gelas” katanya sambil mengangkat gelas itu. Seekor cicak tampak memberontak, berusaha ingin keluar dari gelas yang berisi air kelapa. Waduuuuh. Ha ha ha… Jadi???

Sambil membantu cicak itu keluar dari gelas, saya pun bercerita kepada anak saya tentang apa yang saya dengar dan sangka sebagai hantu. 

Anak saya hanya nyengir mendengar cerita saya. Ia masuk ke kamar mandi sambil berkata, “Lain kali kalau mama takut, mama bangunin aja aku…” katanya. Oya… bener juga. Anak saya sekarang sudah besar. Bisa juga dijadikan pilihan tempat ngibrit jika ketakutan.  Thanks God. 

Heathens -How To Grab Audience Attention Quickly.

Standard

How to grab audience attention quickly. Memetik salah satu intisari pelajaran memasarkan dari sebuah lagu Twenty One Pilots.

Saya sedang dalam perjalanan dengan anak saya yang menanjak remaja. Seperti biasa ia yang menguasai radio dan memilih channel kesayangannya. Lalu melantunlah lagu lagu yang sedang nge hits di radio itu macam lagunya Shawn Mendez ‘I can treat you better then he can..’ atau lagunya Maroon ‘I don‘t want to know‘, Ariana Grande, maupun lagunya Selena Gomez. “We dont talk anymore…. we dont talk any more….”.

Saya ikut menggoyang goyangkan badan saya dan sesekali ikut bernyanyi. Hingga tiba-tiba radio itu memutar sebuah lagu yang menurut saya aliran musik dan melodynya sangat jauh berbeda dengan lagu lagu lain yang sangat ABG. Sayapun terdiam menyimak.

All my friends are heathens. Let it slowWait for them to ask you who you knowPlease don‘t make any sudden moves.  You don‘t know  half of the abuse….. “.

Karena penasaran sayapun mencari tahu dari anak saya siapa penyanyinya. Anak saya heran.”Mengapa mama suka lagu itu? Itu kan lagunya orang jahat” kata anak saya. Saya tidak paham mengapa itu lagu orang jahat. Ia lalu menjelaskan bahwa lagu itu ada di film film super hero dan dinyanyikan oleh komplotan penjahatnya.  Itu tuh…macam Harley Quinn, musuh musuhnya Batman. Ooh jadi begitu ya… Saya manggut-manggut. Lagu ini dinyanyikan oleh Twentyone Pilots.

Lalu saya coba search sendiri dari youtube dan lihat visual backgroundnya yang dimulai dengan sel-sel penjara. Lalu informasi dari Wikipedia jika lagu ini memang awalnya diciptakan untuk soundtrack film “Suicide Squad” yang baru saja direlease di pasaran. Ooh..

Terlepas dari background lagu ini yang soundtrack sebuah film, lagu ini menurut saya berhasil menarik ‘attention’ dari audience dengan sangat cepat. Mengapa? Karena selain memang melodynya enak – yang tentunya merupakan alasan utama mengapa lagu ini disukai orang – lagu ini keluar dengan genre musik yang totally berbeda. Terutama ketika radio melantunkan lagu lagu Ariana Grande, Selena Gomez, Justin Bieber, Shawn Mendez, dan sebagainya, tiba tiba muncul lagu ini. Sungguh terasa perbedaannya yang membuat pemirsa terdiam. Lain dan tidak biasa.

Jadi poin saya adalah bahwa untuk mendapatkan attention yang cepat dalam kondisi yang super crowded, dibutuhkan sesuatu yang bagus, unik dan berbeda. Ya. Dua kombinasi itu: Bagus dan Beda, merupakan sarat dasar untuk mudahnya mendapat perhatian. Dan itu berlaku dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam pemasaran. Memasarkan produk baru, misalnya.

Jika kita datang  dengan sesuatu yang biasa biasa saja. Sama atau serupa dengan apa yang sudah ada di pasaran, akan tidak mudah bagi kita untuk mendapatkan perhatian konsumen. Apalagi jika kita tidak mendapatkan posisi yang mudah terlihat orang lain. Mau tidak mau ya kita harus rajin rajin berkoar-koar memperkenalkan diri. Coba kita datang dengan sesuatu yang baru dan berbeda. Tanpa kita mintapun orang akan melirik  dan penasaran ingin mengenal lebih jauh. Usaha yang harus kita lakukan untuk memperkenalkan diripun menjadi jauh lebih ringan, bukan?

Tapi berbeda saja juga nggak cukup. Apa yang kita perkenalkan kepada publik juga harus sesuatu yang bagus. Sesuatu yang menarik dan menyenangkan selera publik. Jika tidak, tentu tidak ada gunanya juga menjadi berbeda. Orang mungkin awalnya tertarik, tetapi setelah itu akan kecewa dan tidak mendapatkan kesan yang baik. Tentu kita tidak ingin itu terjadi juga bukan?

Nah…jadi balik lagi ke intisari pelajaran yang bisa kita petik dari lagu Heathens ini bahwa betapa pentingnya menjadi berbeda dan bagus. Yap!. Berbeda dan bagus. Bukan asal sembarang berbeda.

Catatan: Mohon maaf, sebagian dari pembaca mungkin ada yang membaca tulisan ini  dengan tidak lengkap, karena tanpa sengaja ter’publish’ saat tulisan belum selesai.

Pupuk Guano Untuk Dapur Hidup.

Standard

Tentang Cabe Yang Tak Habis-Habisnya Berbuah. 

​Saya memiliki 12 batang tanaman cabe rawit dalam koleksi Dapur Hidup di pekarangan rumah saya saat ini. Bibitnya saya dapatkan dari cabe di limbah dapur yang tak terpakai lagi karena sudah busuk. 

​Menyemai tanaman cabe dari biji limbah dapur sangatlah mudah. Karena saya hanya menggeletakkannya di pot dan biji biji itupun bertumbuhan. Problemnya hanyalah setelah anakan cabe itu sudah agak besar dan sudah saatnya dipindahkan ke potnya sendiri. Pertama, saya tidak memiliki banyak tempat ataupun pot untuk menanam semua anakan cabe itu. Kedua, ternyata sebagian dari anakan cabe itu terserang virus tanaman yang membuat pucuknya menghitam dan daunnya kering. Jadi terpaksa saya siangi dan buang tanaman yang tidak sehat itu. 

Sisanya yang sehat sekitar 15 batang saya tanam dalam pot. 

Pada awalnya, tanaman ini tumbuh dengan sangat subur. Daunnya hijau dan lebar lebar. Hati saya sangat gembira. Sayang tak lama kemudian, mulai ada banyak kutu daun kecil kecil hinggap di balik daunnya yang lebar lebar itu, meninggalkan lapisan putih mirip bedak. Waduuh… saya sudah bisa membayangkan apa yang terjadi setelah ini. Tanaman saya bisa mengkeret lalu mati perlahan. 

Sebelum itu terjadi, saya menyikat daun daun tanaman cabe ini satu per satu. Karena saya tidak mau menggunakan pestisida unyuk tanaman saya. Baru lima belas batang saja menyikat daun, membutuhkan waktu yang sangat lama dan rasanya sangat melelahkan. Saya membayangkan bagaimana dengan petani yang tanamannya hingga ribuan. Serangan kutu ini sangat mengganggu. Sekarang saya mulai mengerti mengapa petani menggunakan pestisida. Dan mengapa kadang kadang harga cabe melonjak naik tanpa kira kira. 

Terlepas dari gangguan kutu daun putih ini, tak seberapa lama saya menemukan lagi tanaman cabe saya terserang virus yang membuat daunnya keriting dan pucuknya menghitam seperti terbakar. Ya ampuun. Cobaan datang bertubi-tubi untuk menjegal semangat saya bertanam cabe. Tapi tidak!!!! Saya tidak mau menyerah sedemikian mudah.

Di tengah ketidak berdayaan, saya terpaksa menggunting dan menggunduli tanaman cabe itu. Membuang semua daun dan pucuknya yang bermasalah (nyaris 100%). Tentu sangat sedih. 

Namun beberapa hari kemudian saya melihat tunas baru yang sehat muncul. Jadi tidak sia-sia pengorbanan saya. Tunas baru itu membesar, meninggi menjadi cabang baru dengan daunnya yang banyak. Hati saya sangat bahagia. Terharu melihat pertumbuhannya. Terlebih-lebih ketika tanaman  ini mulai menunjukkan bunganya. Bermekaran putih kehijauan satu per satu. Namun apa daya, setelah itu ternyata bunganya pada rontok satu per satu. Dan daun serta pucuk dan lengkap dengan putik bunganya semuanya mengkeret seperti hangus. Aduuh… kedukaan kembali melanda hati saya. Tak habis pikir, bagaimana caranya agar sukses membuat cabe ini berbuah. Rasanya tak kurang perawatannya. Semua cukup. Air, sinar matahari dan pemupukan. 

Dengan berat hati kembali saya menggunduli tanaman cabe saya. Seperti sebelumnya, tunas baru kembali muncul Menjadi cabang baru yang sehat dengan batang yang kuat dan daun yang banyak. Mulai berbunga dan akhirnya menjadi calon buah kecil yang hijau. Setiap hari saya memeriksanya, merawat sambil berdoa. Hingga pada bulan Maret 2016, akhirnya untuk pertama kalinya saya melihat cabe saya akhirnya memerah. Akhirnya panen juga, walaupun tidak banyak. Kurang lebih hanya 1 kilo gram semuanya (buah yang pertama memerah tidak saya petik, saya biarkan ia tetap di pohonnya hingga tua dan kering sendiri).

Setelah itu tanaman cabe saya terserang hama virus lagi. Dan kali ini saya nyaris menyerah sampai akhirnya saya pulang ke Bali.

​ Kakak sepupu dan keponakan saya memberikan Guano untuk saya coba  pada tanaman Dapur Hidup saya. 

Pupuk organik berbahan baku kotoran kelelawar  ini saya bawa ke Jakarta dan coba saya taburkan pada tananan cabe saya.

​Tanpa saya duga, hasilnya ternyata luar biasa. Cabe yang tadinya sekarat sudah hampir mati mulai tumbuh dengan baik. Bukan hanya itu, bunganya juga tiba tiba muncul sangat banyak. Membuat saya sungguh terheran heran. 
Bunga dengan cepat menjadi buah. Membesar dan berubah warna menjadi jingga lalu merah.

​ Lalu segera menyusul dengan bunga bunga yang baru, jadi buah dan memerah. Begitu seterusnya. Setiap minggu saya panen. Dan pohon cabe ini terus berbuah lebat sejak bulan Maret hingga kini. 
Sekarang sudah memasuki pertengahan Oktober. Berarti sudah lebih dari 7 bulan cabe ini berbuah terus.  Dan belum ada tanda tanda akan berhenti berbuah karena bunganya masih bermunculan. 

Parsley, Si Keriwil Yang Cantik.

Standard

​Yaiyy!!! Akhir pekan tiba. Saatnya meluangkan waktu untuk tanaman Dapur Hidupku. Nah…Sabtu ini saya mau bercerita tentang Parsley alias Peterselli, tanaman bumbu dapur baru di halaman rumah saya.

​Walaupun bukan tanaman asli Indonesia, sebenarnya Parsley tidaklah terlalu asing bagi kita. Karena daun tanaman ini cukup sering kita temukan dijadikan garnish ataupun hiasan untuk mempercantik hidangan di restaurant-restaurant besar. Selain itu daun tanaman ini lumayan mudah juga kita temukan dijual di rak sayuran di Supermarket. 
Alasan jujur saya menanam Parsley sebenarnya memang hanya sekedar penasaran saja. Ingin tahu apakah saya bisa menumbuhkannya di udara Jakarta atau tidak. Mengingat tanaman ini biasanya ditanam di daerah dingin. 

​Saya membeli bijinya dengan cara online Beberapa bulan yang lalu. Namun karena kesibukan, saya tidak langsung menyemainya. Baru setelah agak senggang kemudian saya menebar bijinya di atas rockwool. Sayang sekali tingkat pertumbuhannya rendah sekali. Saya hanya bisa mendapatkan tanaman parsley ini tidak lebih dari 10 pohon. Beberapa ada yang mati keinjak kucing, sekarang hanya sisa 6 pohon. Tapi tidak apalah. Saya cukup bahagia dengan tanaman saya ini. Lagipula saya tidak akan membutuhkan daun ini banyak-banyak juga. 

Parsley (Peterselinum ) secara fisik tanaman ini sangat menyerupai seledri. Karena memang masih satu keluarga dengan seledri. Menurut beberapa sumber, merupakan tanaman herbal yang sangat baik untuk mencegah tumor paru-paru dan juga penyakit arthritis rhemathoid.

Menyimak GEISHA. Kumpulan Puisi Ersa Sasmita. 

Standard

​Suatu kali mata saya tertumbuk pada sebuah prosa kecil di timelinenya Pak Ersa Sasmita di Facebook. Judulnya “Lukisan Yang Cemburu“. Entah kenapa saya tergelitik untuk menguntit kata demi kata, kalimat demi kalimat yang nenyusunnya hingga cerita berakhir. Semua dengan hati dag dig dug, antara rasa takut dan ingin tahu. Akhirnya berakhir dengan satu desahan kagum akan kepiawaian Pak Ersa merangkai kalimat dan mempermainkan emosi pembacanya. 
Kali berikutnya, saya mengintip lagi sebuah tulisannya yang lain. Kali ini berjudul “Sepasang KunangKunang Mati Di Matanya“. Melalui perjalanan emosi yang berbeda, namun berujung sama yakni ‘decak kekaguman akan kepiawaian Pak Ersa merangkai kalimat dan menorehkan cerita’. Plus kali ini saya salut, bagaimana perjalanan hubungan dari sepasang kekasih Ray-Liana  bisa terangkum hanya dengan menggunakan satu setting saja, yakni di Stasiun Kereta. 

Gara-gara membaca dua prosa itu, membuat saya penasaran akan karya-karya Ersa Sasmita yang lain. Maka berupayalah saya agar bisa membaca buku “GEISHA”kumpulan puisi dari Pak Ersa Sasmita. Sepemahaman saya, buku ini belum lama diterbitkan. Dan saya mendapatkannya melalui pemesanan online.

Nah minggu yang lalu buku ini datang. Dan membuat saya begadang saking penasarannya. Lalu apa komentar saya? 

Terus terang kata pertama yang bisa saya tuliskan adalah “Terkejut”.  Sungguh. Saya sangat terkejut dengan apa yang saya temukan di dalamnya. Di luar dugaan saya. 

Biarlah saya bercerita sedikit di sini…

Buku ini mengandung 95 buah puisi yang terbagi dalam 3 kantung penuh. 

Kantung pertama diberi judul ‘Nyanyian Kehidupan‘. Jika saya perhatikan, puisi-puisi di dalam kantung pertama ini memang bercerita tentang kehidupan, tetapi lebih fokusnya lagi tentang kehidupan tokoh perempuan yang tercetak dalam catatan sejarah maupun dalam cerita-cerita yang mengalir di masyarakat dunia. Dimulai dengan Wang Qiang, Xi Shi, lalu ada Geisha, Al Khayzuran Binti Atta, Malahayati, Inggit, Banowati, Arimbi, Dedes dan masih banyak lagi. Semuanya ada 22 buah puisi. 

Membaca puisi-puisi ini bagi saya jadi seperti membaca sejarah. Terus terang, tidak semua tokoh yang disebutkan di sini saya ketahui. Ada beberapa (bahkan cukup banyak) yang saya tidak tahu sebelumnya:  sama sekali tidak tahu, belum pernah membaca kisahnya atau pernah dengar tetapi tidak tahu ceritanya. Sangat jelas tertangkap di sini, jika pengarangnya memberikan tambahan pengetahuan tentang tokoh yang dimaksud kepada pembacanya melalui puisi. 

Hmmm… dimana ya saya menemukan  approach dengan content penulisan puisi serupa ini?  Tidak umum dalam puisi-puisi modern. Apa dalam kesusatraan kuno ya? Atau justru dalam modern Science poetry?  Rasa kenal, tapi sulit buat saya nge’recall’. Yang jelas, setelah membaca puisi ini saya merasa sedikit lebih ‘pandai’ dari sebelumnya. Yang tentunya itu tidak terjadi saat saya membaca puisi-puisi lain. 

Hal lain yang unik dari puisi-puisi di kantong pertama ini adalah gaya penuturannya. Aneh dan nyeleneh buat sebuah puisi. 

 Jangan berharap menemukan kata-kata atau kalimat berbunga-bunga yang melambungkan rasa ini ke alam mimpi. Atau kalimat heroik patriotik seperti yang umum kita temukan dalam puisi.   Tidak ada. Saya sendiri terkecoh. Karena gaya bahasa yang dipakai di sini sangat naratif, simple dan mudah. Mirip orang ngobrol. Walaupun masih tetap mengindahkan rhyme dan kepadatan content.

Puisi puisi di kantong pertama ini lahir semuanya di tahun 2016. Jadi masih ‘fresh from the oven’ ya. 

Berikutnya di kantung ke dua yang berjudul “Nyanyian Rimba” ada 16 buah puisi. Isinya tentang hewan semua – lah …memang judulnya Nyanyian Rimba kok. Ya tentang Gagak, Buaya, Srigala, Belalang dan lain sebagainya. 

Masih sama dengan yang di kantong pertama, puisi-puisi di kantung ke dua ini juga menggunakan content approach dan gaya penulisan naratif dan simple serta mudah dimengerti. Dan saya perhatikan kebanyakan diciptakan di tahun 2016. 

Begitu memasuki kantung ke 3 yang diberi tajuk “Nyanyian Cinta“, tiba-tiba saya merasakan suhu yang berbeda. Ibarat memasuki babak kehidupan yang lain, terasa bahwa suasana, warna, desahan nafasnya pun berbeda. 

Untaian kata -kata penuh kerinduan, kenangan dan harapan terjalin sangat indah yang sangat melambungkan imajinasi ke negeri impian. Duhai betapa indahnya. 

Ini puisi seperti dalam pengharapan saya akan karya -karya Pak Ersa. Jumlah puisi paling banyak ada di kantung ke 3 ini dan setelah saya perhatikan lahir dari tahun tahun 2013, 2014 dan 2015. Hanya sedikit yang lahir di tahun 2016. 

Namun beberapa saat setelah mengecap semua keindahan kata kata yang dituangkan oleh Pak Ersa dalam kantung ketiganya, seketika saya menyadari kerinduan untuk kembali membaca ulang  dan menghayati puisi puisi dari kantung yang pertama dan kedua. Begitu berbeda. Dan begitu tidak biasa.Sangat menarik perhatian saya seperti magnet. Disitulah kekuatan Pak Ersa sebagai sastrawan, membuat karya-karyanya berbeda dan tidak kebanyakan. 

Dan sekarang saya mengerti, laksana kehidupan, puisipun bergerak. Ia tumbuh dan dinamis agar bisa tetap hidup di hati penggemarnya. Ia harus terus berubah dan mencari bentuk baru. Dan karenanya, seseorang harus berani memulai. Memulai untuk mengekspresikan pemikiran dan perasaannya dengan gaya penulisan dan pendekatan content yang berbeda. 

Salut Pak Ersa Sasmita!. 

“….. sebab mati memelukmu, puisi. Bagiku tetaplah indah.” 

=Ersa Sasmita 2014=

Spirit of Wipro Run 2016: Jakarta

Standard

​Musim berlari telah tiba. Musim bagi karyawan Wipro dan keluarga atau teman-temannya untuk ikut dalam event tahunan  Spirit of Wipro Run 2016  yang diadakan pada tanggal 25 September ini serentak di berbagai kota di seluruh dunia antara lain Bangalore, Ottawa, Bucharest, Istambul, Dubai, Pittsburgh, Adelaide, Singapore, Kuala lumpur dan sebagainya. Sementara di Indonesia sendiri Wipro Run diadakan di Jakarta dan Salatiga. Rasanya takjub juga nemikirkan itu. Bayangkan, ada sedemikian banyak orang berlari (karyawan Wipro plus keluarga dan teman-temannya), di sejumlah kota (saya hitung ada 110 kota) seperti yang diprint di bagian punggung  kaos di bawah ini, semuanya berlari  tanpa memandang suku bangsanya, agamanya, gendernya, pangkat dan jabatannya. Semuanya berlari bersama-sama pada tanggal yang sama. As one!.

​​Di Jakarta, acara Wipro Run diadakan di Taman Mini Indonesia Indah dengan mengambil anjungan Taman Budaya Tionghoa sebagai pangkalan berangkat dan garis finish. Lumayan 5 km. 

​Acara berlari dimulai dari pukul 7.00 pagi dibuka oleh Mr. Neeraj Khatri, President Director dari PT Unza Vitalis -salah satu perusahaan dari group Wipro yang ada di Indonesia. Saya tidak mendapatkan jumlah pasti pesertanya, tepi saya duga di Jakarta diikuti oleh sekitar 700 orang, dan di Salatiga sekitar 750 orang. 

​Di Jakarta, lari dilakukan dengan jarak 5 km. Ditempuh  dengan melalui 3 check point. Di setiap check point disediakan minuman dan gelang Wipro Run 2016 berbeda warna. Jadi agar bisa sah berlari kita harus melewati ke tiga check point itu dan mengumpulkan ketiga gelang dari setiap  Check point yang berbeda. 

​Sebagai salah seorang Wiproite (karyawan dari group perusahaan Wipro) bangga dong ya saya bisa ikut menjadi pesertanya dan berhasil mencapai garis finish * walaupun barangkali tiba dengan nomer terakhir.. ha ha. 

Tak apa… Dengan keterbatasan kondisi kaki yang saya miliki (bekas keseleo beberapa tahun lalu yang kambuh lagi dan kambuh lagi), memang awalnya membuat saya ragu untuk ikut. Tapi mengingat bahwa moment ini hanya datang setahun sekali maka saya putuskan untuk mencoba dulu lah. Saya pikir seandainya ada hal buruk terjadi pada kaki saya, nanti saya akan berhenti. Anak saya yang besar agak kurang setuju dengan apa yang saya rencanakan dengan menganggap saya agak ambisius menempuh jarak 5km dengan kondisi kaki seperti ini. Saya hanya tersenyum dan menunjuk tajuk dari Wipro Run tahun ini yang tertera di kaosnya “Powered by ambition”. Anak saya tertawa. Dia sudah hapal betul dengan kekerasan kepala ibunya. Ia pun seperti biasa akhirnya  menemani saya juga. Sementara anak saya yang kecil sudah melesat  lari di depan bersama papanya. Anak saya yang besar berlari (eh…kebanyakan berjalannya deh..) di sebelah saya sambil sesekali bertanya. “Mom, are you ok?”. Atau.. “Ayo Mam, istirahat sebentar. Don‘t push yourself!”. Saya pun mengikuti kata katanya. Jika terasa lelah dan kaki saya sakit, maka saya berhenti sejenak. Sambil melihat-lihat ke sekitar. Inilah untungnya mengadakan acara ini di Taman Mini Indonesia Indah. Sambil berlari atau berjalan, kita bisa melihat bagian depan anjungan-anjungan daerah di Indonesia. Mulai dari anjungan yang paling dekat dari garis start yaitu anjungan Bali, Jawa Timur, Yogyakarta, Jawa Tengah, DKI Jakarta, Sumatera Selatan, Jambi dan seterusnya anjungan-anjungan daerah lain seluruh Nusantara. Sungguh indah dan mengagumkan melihat arsitek dan lambang-lambang budayanya yang beraneka ragam itu. Rasanya ingin masuk ke setiap anjungan itu lagi (terakhir saya masuk ke semua anjungan-anjungan itu sekitar 33 tahun yang lalu. Setelah itu saya hanya pernah beberapa kali masuk ke anjungan Bali saja -karena kebetulan ada perlu. Dan satu dua dari anjungan daerah lain yang ada). Alangkah kayanya Indonesia. 

​Juga ada berbagai macam tempat ibadah dari agama-agama yang diakui di Indonesia. “Bhineka Tunggal Ika, tan hana Dharma Mangeruwa”. 

Check point demi check point saya lalui. Tentu dengan kelelahan dan kehausan.  Serta rasa panas dan sakit yang terasa neningkat di dekat pergelangan kaki kiri. 4 km lagi jarak yang harus saya tempuh. Kemudian 3 km lagi. Dua kilo meter lagi. Semakin dekat. 

​Seorang petugas  yang rupanya melihat saya sangat kelelahan, menawarkan apakah saya masih sanggup berjalan melalui jalur yang seharusnya atau menyerah. Karena di sana ada jalan pintas menuju Taman Budaya Tionghoa.

Saya pikir tinggal 1.5 km lagi. Saya tidak mau menyerah di titik ini. Tanggung!. Walau kaki semakin sakit, tapi saya harus makin semangat. Akhirnya tibalah saya di check point 3. Menerima gelang merah. Dan setelah itu….tiba di titik 1 km lagi.

Bukti saya melewati check point 3 dan 1 km to go.

​Selfie dulu ah… Siapa tahu ada yang mempertanyakan. Benarkah saya bisa sampai di titik ini..ha ha.  

Saya berjalan pelan-pelan. Kali ini kaki saya rasanya sudah mau copot. Tak terperikan sakitnya di bagian yang pernah keseleo dulu itu. Anak saya sangat mengkhawatirkan saya, tapi ia terus mendukung saya. Ia tertawa bagaimana saya berkeras dengan ambisi saya agar bisa mencapai garis finish di jalur yang benar dan tanpa bantuan. 

Anak saya yang besar yang selalu mendukung dan nendampingi saya “berlari”.Big thanks, son!.

​Beberapa saat kemudian sayapun mencapai garis FINISH. Horee!. 

Setiba di sana. Rupanya pengumuman pemenang sudah mulai dibacakan. Pemenang untuk karyawan wanita, karyawan pria, peserta non karyawan pria, non karyawan wanita dan peserta anak-anak pria dan wanita. Ketahuan kan…betapa terlambatnya saya tiba di garis finish? 

Ya. Yang jelas dan pasti, tidak mungkinlah saya yang menjadi juaranya. Pasti para pelari-pekari sejati itu yang akan naik ke panggung, menerima medali, penghargaan dan hadiah. 

Tapi saya pikir saya juga telah memenangkan pertarungan dalam diri saya sendiri. Saya telah menang bertarung dengan rasa malas dan rasa mengasihani diri sendiri dengan alasan kaki sakit akibat bekas keseleo. Saya telah berjuang melawan rasa enggan itu. Rasa menyerah sebelum bertarung. Dan saya berhasil membuktikan, rasa sakit yang terjadi itu sebenarnya tidak sebesar apa yang saya bayangkan sebelumnya.  Saya berhasil menembus batasan yang ada di kepala saya. The excellence emerges when you exceed your limit

Nah..itulah yang membuat Wipro Run ini berbeda dengan tahun yang sebelum-sebelumnya. Selain itu, kali ini Spirit of Wipro Run juga ikut berpartisipasi mendukung Sahabat Anak dengan mengajak karyawan dan keluarganya menyumbang (uang, buku bekas atau mainan anak) agar bisa membantu anak-anak jalanan yang putus sekolah. 

Senang sekali kali ini. Saya mencari tempat duduk untuk berteduh. Dan lamat-lamat saya memandang ke depan…eh… ada anak saya yang kecil sedang berdiri di antara 5 orang pemenang yang di atas panggung itu.  

Anak saya yang kecil. Lumayan menerima hadiah sebagai pemenang Wipro Run. Walaupun nomer 5.

​Rupanya ia menang dalam berlari, walaupun  nomer 5. Lumayanlah. Bangga dong ibunya. 

You’ve Broken My Heart…

Standard

​​​Orang bilang ada dua sisi dari cinta. Sisi yang membahagiakan dan sisi yang menyakitkan. Keduanya, mau tidak mau pasti akan kita alami ibarat dalam satu paket. Mengapa? Karena pada prinsipnya setiap individu dan juga hubungannya dengan individu lain selalu memiliki kelebihan dan kekurangan.Dan ketika itu melibatkan cinta, tentunya kelebihan dan kekurangan inilah yang menjadi penyebab dari timbulnya rasa sakit dan bahagia itu. 

Menyukai kelebihannya secara umum adalah perkara yang mudah. Dan juga menyenangkan. Tetapi saat harus menerima kekurangannya, biasanya hati kita mulai goyah. Dan mulai bertanya, “Apakah aku masih mencintainya?”. Lalu kita pun menjawab sendiri: “Masih!”. 

Ah!. Masak sih? Yakin?. Yakinkah kamu bahwa masih mencintainya dengan segenap perasaanmu? Setelah apa yang ia lakukan telah menghancurkan hatimu?. Remuk redam?. Entahlah. Hanya waktu yang tahu akan jawabannya…

Ini cerita tentang cintaku pada kucing. Tiga ekor kucing di rumah saya. Sungguh mati saya cinta pada kucing, dan kecintaan ini menurun ke anak-anak saya. Suami saya, yang awalnya pembenci kucing akhirnya luluh hatinya dan terpaksa menerina kenyataan jika kami harus tinggal bersama dengan beberapa ekor kucing liar yang diadopsi oleh anak saya. Eh…lama-lama dia juga ikut-ikutan sayang dan peduli pada kucing. Mungkin itulah yang disebut oleh orang Jawa sebagai “Witing tresno jalaran soko kulino”. 
Kucing-kucing itu sangat baik.Lucu dan menggemaskan. Juga sangat manja. Suka duduk di pangkuan. Kalau pagi suka memberikan salam dengan mengusap-usapkan pipinya ke kaki saya.  Tidak heran saya semakin sayang padanya. 

Tapi belakangan mereka melakukan beberapa perbuatan yang mengganggu. 

​​Ia menabrak pot bibit sayuran saya hingga terguling-guling hancur. ​Terseret hingga lebih dari 3 meter. Tentu saja tanahnya berserakan kemana-mana dan bibit sayuran itu sebagian besar rusak seketika. Aduuh…. hati saya berdarah-darah. 

Berikutnya ia meloncat dan menimpa box  tanaman bayam merah yang baru berumur satu hari. Pecahlah styrofoam penyangganya. Beberapa tanaman yang masih kecil itupun jadi nyemplung ke dalam air. Sangat mengenaskan.

Lalu ia bermain-main, kejar-kejaran dengan saudaranya. Dan ujung-ujungnya menginjak dan menghancurkan styrofoam box hidroponik tanaman kangkung saya. 

​Dan setelahnya ia masih  menghancurkan 6 buah lagi styrofoam  penutup boxes hidroponik saya yang berisi tanaman. 

You’ve broken my heart…

​Tapi bagaimana caranya mau marah?. Jika beberapa menit kemudian ia tidur terlelap sambil meringkuk memeluki ekornya seperti ini di dalam bak yang akan saya gunakan untuk hidroponik. 

​Aduuh kasihannya. Lelap seperti bayi kecil yang tak berdosa. Saya melihatnya dengan iba. Nafasnya mendengkur halus. Dadanya naik turun. Mahluk tak berdaya.Sayapun cuma bisa mengelus-elus kepalanya dengan sepenuh kasih sayang yang ada di hati saya.

Seketika rasa sedih akan hancurnya tanaman sayapun hilang menguap ke udara . “Ya sudahlah…” gumam saya dalam hati. 

Dimanakah batas antara benci dan cinta? 

Itulah yang ingin saya katakan. Bahwa cinta itu adalah satu paket kebahagiaan dan kenyataan pahit yang harus kita terima dengan ikhlas.  Ketika kita mencintai dengan tulus,  maka sebenarnya pada saat yang bersamaan kita telah berdamai dengan diri kita sendiri untuk menyukai kelebihannya,  sekaligus menerima dan memaafkan kekurangannya serta mengikhlaskan segala derita, rasa pedih dan kerugian yang kita alami akibat perbuatannya itu. 

Mohammad Nasucha: Pemahaman Utuh, Serta Kemandirian Bangsa. 

Standard

Mohammad Nasucha (dok.pribadi milik M. Nasucha).

​Kerapkali kita mendengar pertanyaan sejenis begini dalam obrolan sehari-hari : “Tinggi banget penetrasi mobile phone di Indonesia, tapi kok masih import semua ya?.

Atau, “Pasar kendaraan di Indonesia segitu gedenya, tapi kok merk luar semua ya ?”.  

Terus dilanjutkan dengan statement nyinyir yang tidak menolong macam begini” Ya iya lah. Wong peniti aja masih import, boro boro bisa bikin handphone sendiri

Tentu saja, merupakan suatu hal penting bisa mengidentifikasi kelemahan diri sendiri. Namun jika tidak dibarengi dengan kemampuan melihat kekuatan dan membaca peluang-peluang  yang ada serta resikonya, maka kelemahan akan tetap menjadi kelemahan yang abadi. Oleh karena itu saya lebih senang membicarakan hal-hal positive yang memberi pencerahan, memberi pemecahan masalah dan terobosan baru daripada mengeluh. Juga salut dan bangga bisa mengenal orang-orang yang mau bekerja keras dan terus menerus meletakkan semangatnya untuk perbaikan dan pembaharuan. 

Dok. milik M. Nasucha.

​Berkaitan dengan pertanyaan seputar “Mengapa kita masih saja mengimport nyaris semua barangbarang teknologi tanpa mampu menciptakan dan memproduksinya sendiri ?”, saya ingat beberapa waktu yang lalu saya pernah terlibat dalam pembicaraan sepintas dengan teman saya Mohammad Nasucha, seorang yang mendalami Digital System termasuk Robotics yang saat ini menjadi lecturer di sebuah Universitas di Jakarta.

Saat itu, sambil makan di foodcourt di Bintaro Xchange, kami sedang mengobrolkan robot. Menurut Pak Nash (panggilan para mahasiswanya), saat ini sudah cukup banyak  orang Indonesia yang memiliki kemampuan merakit robot.  Tetapi sebenarnya, belum ada yang benar-benar mampu membuat robot dalam artian sebenarnya. Mengapa? Karena kita belum mampu membuat sendiri spare parts-nya. Sebagai akibatnya, kita jadi terpaksa mengimport spare part -spare part itu, lalu merakitnya di sini.Kita tergantung pada pihak luar yang menyediakan spare parts. Lho? Mengapa begitu? 

Iya. Menurutnya, itu karena kita memiliki kelemahan  dalam pemahaman fundamental electronics yang utuh dan menyeluruh. Padahal pemahaman yang utuh ini  sangat dibutuhkan dan menjadi syarat bagi seseorang untuk bisa membuat produk termasuk memproduksi spare parts-nya.

Diam-diam saya merasa takjub mendengarkan pemaparannya. Sebagai orang awam di bidang teknologi, saya belum pernah memikirkan aliran hulu-hilir produksi benda-benda teknologi ini. Jadi saat itu saya hanya manggut manggut saja mendengarkan Pak Nash bicara.  

Tersirat dari pembicaraan itu, kalau  Pak Nash memiliki mimpi untuk melihat sebagian dari generasi muda kita suatu saat bisa menjadi ilmuwan dan praktisi sepintar para ilmuwan dan praktisi Jerman atau Jepang yang mampu membuat perangkat-perangkat berbasis IT  berlandaskan penguasaan ilmu yang utuh.

Saya tidak berkomentar apa-apa karena tak pernah memikirkan hal itu sebelumnya, walaupun dalam hati saya merasa seiring dengan pemikiran Bapak ini. 

Pada saat ini, tradisi pengajaran di dinas Pendidikan Dasar, Pendidikan Menengah maupun Pendidikan Tinggi di Indonesia  masih berupa pembelajaran dengan materi yang terpotong-potong. Tradisi  seperti ini tidak mampu menjelaskan kepada “students”, tentang hubungan antara satu muatan dengan muatan-muatan lain yang terkandung dalam potongan-potongan pembelajaran itu. Padahal untuk memgembangkan dan memproduksi sebuah perangkat yang baik, seseorang harus memahami  siklus lengkap dari sebuah “product development”. 

Sementara, siklus lengkap dari ‘product development” hanya bisa dikuasai oleh generasi muda kita, jika dalam system pembelajaran ini para students dibimbing olah pengajar yang benar-benar menguasai  bidangnya serta mampu menunjukkan benang merah yang menghubungkan  setiap element yang ada di dalamnya. 

Beliau berharap suatu waktu punya kesempatan membimbing ratusan anak muda yang berdeterminasi tinggi. Dan bagi anak muda yang secara khusus tertarik dengan Digital System, Pak Nash akan membimbing mereka menjadi orang-orang hebat yang mampu berproduksi sendiri, yang akan menjadi role model untuk generasi muda lainnya yang bergerak di bidang lain. 

Belakangan saya tahu bahwa ternyata Pak Nash bukan saja memotori upaya -upaya pembuatan  robot dan perangkat ekektronik lainnya (bukan hanya sekedar merakit mainan), namun Pak Nash ternyata adalah orang yang berada di balik semangat penciptaan mobil listrik ramah lingkungan  Rinus  C1  yang dibuat anak-anak SMA Pembangunan Jaya di Jakarta -diberitakan di TV pada tahun 2013. *Mudah-mudahan saya punya kesempatan, ingin sekali mengulas tentang mobil listrik ini di tulisan berikutnya suatu saat nanti. 

                     *****

Mohammad Nasucha. Saya mengenal sosok ini melalui proses yang tak pernah saya duga sebelumnya.Bermula dari cerita anak saya bahwa salah seorang guru sekolahnya memperkenalkannya pada seorang  sosok  yang menurut anak saya super keren. Beliau adalah seorang yang mendalami sistem digital termasuk robotics, dan sekaligus juga adalah dosen di sebuah Universitas di Jakarta. “Jago banget, Ma. Namanya Pak Nash“. Saya mendengarkan anak saya dengan khidmat. 

Kali berikutnya ia mengutarakan keinginannya untuk bisa belajar dan mendapat mentoring langsung dari pria yang menyihir perhatiannya itu. “Sebenarnya Pak Nash sangat sibuk. Bener-bener nggak punya waktu.Tapi  masih mau ngasih waktunya yang sudah sangat sedikit itu hanya untuk ngajarin aku. Tidak ada kesempatan lebih baik lagi dari ini, Ma“. Jelas anak saya. Saya hanya mikir, bagaimana mungkin seorang dosen mau membuang waktunya untuk anak saya yang masih baru di SMA ini. Tapi anak saya sangat yakin “I want you to meet him, please…“lanjutnya meminta. Wah..ini mengingatkan saya akan cerita- cerita Kho Ping Ho. Murid dan Suhu yang cocok itu memang mirip jodoh. Mereka saling mencari.  Biasanya karena mereka memiliki persamaan value dan vision dalam hidupnya.

Lalu saya mulai men-search namanya di Google, bermaksud mengenalnya lebih jauh. Saya menemukan sebuah articlenya tentang robot. Cukup memberi indikasi kepada saya tentang sosok yang dimaksudkan oleh anak saya. 

Demikianlah akhirnya saya dan suami bertemu dengan Pak Nash. Kami mengobrol dan beliau banyak bercerita tentang pandangan pandangannya dalam bidang science dan plannya dalam membimbing anak kami. Sebenarnya saya sudah banyak lupanya dan tentunya kurang update lagi di bidang science dan technology. Tapi untungnya kami masih bisa nyambung ngobrol. 

Kemarin, ketika kami jalan berdua, anak saya berkata “Mommy, thanks“. Saya heran “…thanks for what? Tanya saya. “Thanks for your support!. Sudah mengijinkan aku bertemu dan dimentoring sama Pak Nash. Pak Nash itu sangat baik, sangat reasonable dan sangat pintar, Ma. Persis seperti gambaran  guru ideal dalam pikiranku” katanya. Saya terharu mendengar kalimat anak saya. Kemudian saya menepuk punggungnya. Anak yang baik. Selalu ingat bersyukur dan berterimakasih. Anak yang penuh semangat sudah selayaknya mendapat support terbaik. 

Indonesia membutuhkan sosok guru yang membangun mental mandiri pada anak didiknya. Karena mental mandiri pada setiap generasi muda akan mengantarkan bangsa kita menuju pada kemandirian dan tak selalu harus bergantung pada bangsa lain. Dan saya melihat hal ini pada sosok Pak Nash. 

Pak Nash menunjukkan pada kita bahwa complaint saja tidak cukup. Tapi lakukanlah sesuatu. Dalam bentuk apapun!. Walau sekecil apapun!. Untuk membangun kemandirian kita sebagai bangsa.Produksi sendiri dan ajarkan orang lain agar bisa mandiri.

Boyolali: Soto Ayam dan Teman-temannya. 

Standard

​Pagi merekah saat saya dan seorang teman tiba di bandara Adi Suwarno. Saya bergegas ke rest room untuk membersihkan dan merapikan diri kembali setelah sebelumnya terkantuk-kantuk akibat tidur nyap-nyap takut ketinggalan pesawat dini hari. Tidak ada bagasi yang perlu saya tunggu karena semuanya sudah saya masukkan ke dalam backpack saya. 

Sambil menunggu seorang teman lain yang berjanji akan menjemput, teman saya berkata “Bu, bagaimana kalau di jalan nanti kita sarapan soto dulu ?”.  Oh…tentu saja saya mau. Kebetulan Soto Ayam adalah salah satu makanan favorit saya. 
Setelah beberapa belas menit berkendara, berhentilah kami di pinggir jalan Boyolali yang mengarah ke Salatiga. Soto Segeer!. Tulisan yang terpampang di warung soto itu. Ada banyak kendaraan yang berderet parkir di depannya. Menandakan jika makanannya pasti enak. 

Benar saja!. Warung makan itu penuh dengan orang. Beruntung masih ada bangku duduk kosong di depan dua orang pria yang sedang menikmati hidangannya. 

“Maaf Pak, boleh kami ikut numpang duduk di sini? “tanya saya meminta ijin agar bisa berbagi meja makan dengan mereka. “Oh njih. Monggo. Monggo” jawab salah satu dari pria itu dengan logat kental Jawa Tengahannya. Sambil mengucapkan terimakasih, saya dan dua orang teman sayapun segera duduk dan memesan makanan. 

Sambil menunggu pesanan datang, saya berpikir-pikir, mengapa Warung Soto ini kok ramai sekali? Bukankah Soto Ayam ya begitu begitu saja rasanya di seluruh Indonesia raya ini? Siapakah para pengunjung rumah makan ini? Dan mengapa mereka berbondong-bondong datang ke tempat ini?  

Menurut pria yang makan di depan saya, bahwa pengunjung kebanyakan warga setempat dan pelalu lalang yang kebetulan melintas di tempat ini dan mampir – macam saya. 

Pertanyaan saya itu segera mendapatkan jawaban seketika melihat apa yang terhidang di atas meja. 

Semangkok Soto Ayam. Yang sudah dicampur nasi di dalamnya. Sotonya mungkin biasa-biasa saja. Tapi teman-temannya itu lho!. Waduuuh!Banyak sekali ragamnya. Semuanya terlihat enak dan menggiurkan.  Yuk kita perhatikan satu per satu apa saja teman-teman soto yang dihidangkan di atas meja. 

Lento.

Aha! cemilan ini yang pertama saya sebutkan karena yang paling sukses menarik perhatian saya. Penganan yang terbuat dari kacang tolo ini sungguh bikin kangen. Mirip perkedel dengan tekstur yang lebih keras dan tentunya berbahan baku kacang tolo (biji kacang panjang yang tua dan dikeringkan). Semakin bikin kangen lagi, karena makanan sejenis begini juga ada di Bali dengan ukuran yang lebih kecil (kira-kira setengah ukuran Lento ini) dan biasanya disebut dengan ‘Sere-serean’. 

Sate Ati dan Rempela. 

​WHua…yang ini juga pasti enak. Potongan hati dan empela yang tentunya sudah dibumbui sebelumnya, dirangkai dengan tusukan sate, lalu digoreng dalam kocokan telor. 

Tahu Goreng. 

​Tahu ini juga digoreng dengan balutan tepung berbumbu yang gurih. 

Sate Udang.

​Nah… ini favorit saya lagi. Serius!. Sate udang di tempat ini sungguh enak sekali. Udangnya juga terasa manis dan segar. 

Sate Ayam. 

​Sate ayam di tempat ini sangat berbeda. Potongan dada dan kulit ayam tampak sangat enak dan menggiurkan. 

Peyek. 

​Krupuk dan Peyek seperti sulit dipisahkan dari prosesi menyantap hidangan orang Jawa. Nyaris selalu ada. Nah di tempat  ini saya menemukan Peyek Jagung. 

Tempe Goreng. 

​Siapa yang tak kenal tempe? Tidak ada kan? Ya…tempe makanan jutaan orang Indonesia ini tentu sayang jika tidak dimasukkan ke dalam daftar. Di tempat ini tempe dipotong agak tebal, diberi bumbu penggurih sebelum digoreng.

Bakwan Sayuran . 

​Bakwan sayuran yang diramaikan dengan udang dan dicetak bundar-bundar ini juga menggiurkan banyak orang untuk mencicip. 

Perkedel Kentang.

Perkedel kentang yang merupakan makanan favorit anak saya yang besar ini ternyata dihidangkan juga di sini. 

Kroket Goreng.

​Kroket isi yang digoreng dalam balutan telor ini juga terlihat sangat menarik untuk diicip. Warnanya kuning keemasan sungguh mengundang. 

Sebenarnya masih banyak lagi lho jenis cemilan teman-temannya soto yang lain yang dihidangkan di tempat itu. Hanya saja tidak sempat saya potretin satu per satu. 

Saya pikir inilah salah satu penyebab, mengapa sedemikian banyaknya orang yang senang mampir di tempat ini. 

​Selain jenis cemilannya yang beragam, suasananya juga dihidupkan dengan hiburan gang musik yang memainkan musiknya dengan sepenuh hati. Bukan seperti pengamen -pengamen yang suka mampir di rumah makan-rumah makan di Jakarta, yang bernyanyi ala kadarnya atau terkadang hanya bernyanyi terburu-buru demi cepat-cepat mendapatkan uang. 

Kalau masalah harga, terus terang saya tidak tahu karena teman saya yang membayarnya ha ha ha.. 

Tapi saya rasa  harganya juga cukup terjangkau. Terimakasih, Bu Mika. 

Dari sini saya memetik pelajaran kembali, bahwa jika apa yang kita tawarkan terlalu standard dan sama dengan penjual lainnya, maka kita harus berusaha meng’create’ sesuatu diluar standard yang kita tawarkan  itu yang membuat kita menjadi berbeda dan dipilih orang. 

Yuk teman-teman kita mampir ke Boyolali di Jawa Tengah. Kita kenali dan cintai makanan traditional kita!.