MONOLOG “SEEKOR AYAM JAGO BERNAMA LUCKY”

Standard

Monolog oleh Dema Soetego feat Rias.

Salah satu kejutan indah yang ditampilkan oleh teman-teman sesama penulis penggemar sastra di PDS HB Jassin kemarin saat acara ngobrolin buku 50 Cerita Inspiratif “Resep Rahasia Cinta” adalah sebuah Monolog  yang dibawakan oleh sahabat Dema Soetego dan didukung oleh Rias.

Awalnya saya tak paham saat Rias muncul ke panggung dengan diiringi lagu dolanan jawa “aku nduwe pithik” dan membawa mainan ayam jago. Tak paham bahwa mereka akan membawakan monolog dari salah satu tulisan saya di buku Resep Rahasia Cinta itu  yang berjudul ” Seekor Ayam Jago Bernama Lucky”.

Saya mulai sadar, ketika terdengar rekaman suara sahabat Dema Soetego mengudara . Ooh.. beliau sedang membacakan salah satu tulisan saya tentang persahabatan antara Winda dengan Lucky, ayam jagonya.

Lalu saya melihat Mbak Dema mulai memasuki panggung  mengikuti alur kejadian yang saya tuliskan di kisah itu. Wow luarbiasa!!!

Di sini saya melihat bahwa  Mbak Dema menangkap dan melakoni kembali ide-ide dan pikiran di tulisan Ayam Jago itu serta membroadcast intisarinya ke hadapan publik dalam bentuk monolog dengan sangat baik.

Mbak Dema meng-hi-light dengan sangat kuat message yang ingin saya sampaikan bahwa Persahabatan adalah hal terindah yang bisa dijalin manusia dengan mahluk hidup lain di sekitarnya, tanpa harus dibatasi oleh perbedaan suku, agama, bangsa, bahkan dengan hewan peliharaan kita.

Menurut saya, penampilan ini sangat luarbiasa. Bukan saja penghayatan dan komimentnya terhadap content, juga penampilan panggung dan keseriusannya dalam penggarapan serta kepenyertaan Rias  serta mainan ayam jagonya.  Semuanya membuat saya ‘surprise’ dan terharu.

Selain itu, monolog  ini juga  membuka mata saya  bahwa ternyata karya-karya tulis itu bisa diadaptasi dan dikembangkan kembali dalam berbagai bentuk media dan seni pertunjukan seperti ke dalam film /pelayar putihan / ekranasi  oleh sutradara Rudi Rukman , pembacaan prosa/puisi di panggung yang dilakukan oleh Mbak Fanny Jonathans , Mbak Rini Intama , Pak Imam Ma’arif , Bang Moktavianus Masheka , drama, video youtube seperti yang baru-baru ini dilakukan oleh sahabat Herlina Syarifudin  dan sejarang ini dalam ventuk monolog dari sahabat Mbak Dema Soetego.

Sungguh bentuk-bentuk adaptasi yang kaya. Terimakasih Mbak Dema. 

SUATU SENJA DI PENGLIPURAN.

Standard
Penglipuran, Bangli, Bali.
Penglipuran, Bangli, Bali.

Penglipuran adalah tempat dimana kita bisa melihat bagaimana bentuk desa-desa di Bali jaman dulu. Karena di desa ini, baik tata ruang desa maupun perumahan masih dipertahankan secara traditional, sementara di desa-desa lain semuanya telah berubah mengikuti perkembangan jaman.

Tempatnya hanya 15 menit dari rumah, dengan akses jalan beraspal yang baik. Saat saya ke sana, desa masih kelihatan sama. Rapi dan bersih.

Tapi kali ini desa penuh dengan pengunjung, bercampur turis lokal/ domestik dan asing. Terutama turis domestik kelihatan cukup memadati desa. Kebanyakan rombongan tur sekolah dari berbagai kota di pulau Jawa.

Mungkin karena akhir-awal tahun juga biasanya musim liburan anak sekolah.
Dan bersamaan pula dengan Galungan, hari raya besar di Bali. Karenanya pengunjung disuguhi aktifitas yang tidak biasa oleh Sekaan Barong anak-anak/remaja, yang menarikan tari Barong.

Setidaknya saya melihat ada 3 sekeha (3 kelompok) barong di sini. Sekaan Barong Macan, menarikan Tarian Macan & Kera, sekaan Barong Bangkal menarikan tarian Babi, dan Sekaan Barong Macan Kumbang & Rangda -belum sempat saya lihat menari karena keburu hujan.

Ngobrol Buku “Resep Rahasia Cinta”.

Standard

Dari acara Ngobrolin Buku “Resep Rahasia Cinta” di Gedung Kompas, Jl Jayagiri 3 Renon- Denpasar, Bali.

Dihadiri beberapa teman penulis, sahabat, mahasiswa dan pelajar, acara ini dimotori oleh Bali Mangsi Foundation yang dikomandani oleh sahabat Gde Hariwangsa , pengantar acara Budi dan moderator Maria Ekaristi.

Acara ini diawali dengan sambutan Cok Yudistira dari Kompas,  dilanjutkan dengan pemutaran film “Resep Rahasia Cinta” yang dikembangkan dari salah satu cerita di buku ini,  disutradarai oleh Rudi Rukman

Pembahasan tentang isi buku tidak terlalu banyak. Audience lebih tertarik untuk mendiskusikan proses penerjemahan tulisan ke bentuk media lain seperti media audio visual, soal target audience, soal, proses editing, dll.

Sutradara Rudi Rukman bercerita tentang bagaimana ia mulai menggunakan cerita-cerita yang ada di buku “100 Cerita Inspiratif” dan ” 50 Cerita Inspiratif- Resep Rahasia Cinta” dan mengembangkannya ke dalam bentuk film. Step pertama tentu dengan cara mengadaptasi tulisan asli ke dalam bentuk Naskah Film yang ia pecah menjadi scene demi scene sesuai dengan durasi yang diinginkan. Saat ini ia bekerjasama dengan pihak Genflix dan sebuah Station TV Swasta untuk penayangannya.

Ia juga menceritakan strategynya agar bisa terus produktif dengan cara memproduksi low budget film dengan memanfaatkan sponsor-sponsor atau pihak usaha yang bisa diajak bekerjasama.

Pembicara Tamu, Agung Bawantara, penulis, pembuat film dan penggagas Denpasar Film Festifal,  memberikan pencerahan kepada audience, bahwa dari bentuk tulisan ini sebenarnya banyak peluang penterjemahan ke dalam bentuk media lain seperti Film seperti yang dilakukan oleh Sutradara Rudi Rukman,  bisa juga dalam bentuk cut video pendek, atau reels  yang bisa ditayangkan di Facebook, atau Tik Tok, dan jika kita hanya mengambil audionya saja, bisa dijadikan materi untuk radio,  atau juga bentuk pembacaan yang juga bisa ditayangkan di Youtube.

Dengan berkembangnya teknologi, sebagai penulis, sebetulnya kita bisa memanfaatkan berbagai bentuk media untuk menyalurkan ide-ide dan kreatifitas kita. Peluang bagi setiap penulis untuk mendiversifikasi karya-karyanya ke dalam multi media.

Potensi Untuk Bali.
Agung juga melihat potensi Bali sebagai sentra produksi perfilman, tentunya dengan perbaikan sarana prasarana agar memadai.

Mendengar ini, Rudi Rukman menambahkan bahwa ia juga melihat peluang usaha penyedia talent di Bali, mengingat pengalamannya sendiri yang sering kesulitan dalam mendapatkan talent yang sesuai ketika shooting di Bali.

Pro – Kontra
Diskusi semakin menarik, ketika penulis Gm Sukawidana menyampaikan pendapatnya bahwa ia lebih menyukai Resep Rahasia Cinta ini tetap dalam bentuk tulisan, sehingga memungkinkannya sebagai pembaca untuk tetap “berimajinasi liar” tanpa frame.  Ketika tulisan ini diterjemahkan ke dalam bentuk film, ia merasa telah terlalu banyak menyimpang, sehingga kehilangan keasliannya.

Rudi Rukman, sang sutradara menanggapi, bahwa ia membutuhkan beberapa pengembangan untuk menyesuaikan kebutuhan penonton filmnya.

Saya sendiri mengakui bahwa tidaklah mudah menterjemahkan sebuah tulisan ke dalam bentuk platform media lain, misalnya  Film.  Hal ini terjadi, karena ketika seorang penulis menuliskan pikirannya ke dalam bentuk tulisan, pembaca akan menangkap alam pikir dan gagasan penulis dan menginterpretasikannya sendiri sesuai dengan latar belakang dan pengalamannya sendiri. Semua audio visual yang melintas di pikiran pembaca adalah hasil karangannya sendiri. Oleh karenanya, interpretasi pembaca bisa berbeda-beda.

Sedangkan sutradara, mengolah interpretasinya sendiri dari membaca tulisan itu, lalu mengarangkan audio visualnya untuk disuguhkan ke penonton. Tentu saja tidak ada jaminan 100% apa yang ditangkap oleh pembaca dari buku akan sama persis dengan yang ditangkap ketika pembaca menjadi penonton film.

Untuk itu Agung Bawantara menengahi dengan mengatakan pendapatnya, bahwa memang tidak ada media yang sempurna. Semua dengan kelebihan dan kekurangannya. Itulah pula sebabnya, mengapa semua platform media itu tetap eksis dan tetap ada penggemarnya.

Sayang sekali diskusi ini harus berakhir, karena sudah terlalu siang, meninggalkan beberapa audience yang masih ingin bertanya tetapi tak kebagian waktu.

Saya mengucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya  kepada Bali Mangsi Foundation dan Maria  Ekaristi yang sudah mengorbankan waktu dan tenaga untuk merancang dan merangkai acara Ngobrol Buku ini,  dan Pak Cok Yudistira yang sudah memberikan ijin penggunaan Gedung Kompas untuk acara ini.

ANTARA MEMUNGUT DAN MENCURI.

Standard

Pagi tadi saya jalan kaki menelusuri taman. Taman perumahan ini, selain dimanfaatkan oleh penghuni perumahan untuk bersantai, duduk-duduk, olah raga, jalan kaki, mendorong kereta bayi dan ngajak binatang peliharaan jalan-jalan, di beberapa titik dijadikan tempat pembuangan sampah khusus hasil pemotongan cabang pohon.

Lho, kenapa gitu?
Saya duga itu karena biasanya Petugas Kebersihan tidak mau mengangkut sampah tambahan hasil tebang pohon/ potong dahan dan daun-daun tanpa ngasih ongkos tambahan. Petugas cuma maunya hanya mengangkut sampah rumah tangga biasa.

Mungkin (ini mungkin lho, dugaan saya sendiri), karena itu, warga yang menebang/memotong dahan pohon tapi tidak mau keluar uang tambahan, membuang sampah tanaman itu ke taman. Dengan harapan petugas kebersihan tetap mengangkutnya tanpa meminta bayaran tambahan, karena itu sampah taman. (Penguman: saya sih tidak pernah membuang sampah ke taman ya).

Yang jelas, saya lihat ada tiga lokasi di taman ini yang sering saya lihat menjadi tempat pembuangan sampah pohon/ tanaman sisa potong/tebang.

Pagi tadi, di salah satu lokasi yang sering dijadikan tempat sampah pohon itu, saya melihat tidak ada sampah pohonnya. Tapi ada 3 buah pohon Pakis Tanduk Rusa yang diletakkan di situ.

Saya melirik. Lho? Itu pohon Pakis Tanduk Rusa dibuang atau bagaimana ya? Saya mendekat. Yang satu besar, masih segar yang satu kecil juga masih segar, dan satunya lagi panjang tapi kayaknya layu, mungkin yang ngambil asal tarik saja dari pohonnya.

Mm…menarik juga ini. Saya mikir, apakah ini sampah yang dibuang warga? Sayang banget kalau dibuang. Bolehkah saya memungutnya ?Tapi kalau dipungut, takutnya ada orang yang punya. Kalau ada yang punya dan saya ambil bawa pulang, berarti saya maling dong ?

Saya merasa perbuatan saya itu tidak benar. Lalu saya urungkan niat saya mengambil Pakis Tanduk Rusa itu. Itu maling namanya. Sayapun melanjutkan jalan lagi.

Di jalan, saya terbayang pohon Pakis Tanduk Rusa yang cantik itu. Bathin saya berkata , lha sebenarnya siapa pemilik tanaman itu? Mengapa diletakkan di situ? Apakah sudah dibuang atau bagaimana ya? Tapi kalau lokasinya di situ, semua warga tahu itu tempat orang membuang sampah tanaman. Berarti boleh dipungut dong sebenarnya? Bagaimana kalau saya pungut saja, toh yang punya sudah membuangnya ke situ?

Berpikir begitu, sayapun berputar lagi dan menuju tempat Pakis itu dibuang. Saya mendekat. Memotret tanaman yang masih terlihat bagus itu. Saya ingin mengambilnya. Tapi entah kenapa pikiran saya ragu. Ah… belum tentu pemiliknya bermaksud membuang tanaman ini. Bisa jadi ia cuma nitip dulu sementara di sini. Nah jjka saya ambil, berarti saya ini maling ya? Waduuuh… tidak benar itu.

Sayapun menjauh lagi. Coba lupakan sajalah niat buruk itu. Tidak baik. Mengambil sesuatu yang bukan milikmu , apalagi dengan niat memiliki itu adalah sebuah kejahatan. Orang tua saya, saudara saya, guru saya di sekolah, semua mengajarkan begitu. ASTEYA!!!!! Tidak boleh mencuri. Tidak boleh mengambil milik orang lain.

Di jalan, kembali saya berpikir, kalau saya ambil, sebenarnya saya kan tidak mencuri ya? Kan ngambilnya dari tempat sampah pohon? Itu MEMUNGUT namanya, bukan MENCURI. Sama seperti nelayan yang mengambil ikan di lautan. Ngambil milik Tuhan. Karena tidak ada manusia lain yang memilikinya.

Lho, tiba-tiba saya kangen ketemu petugas kebersihan taman. Mau minta ijin. Bolehkah saya mengambil pohon itu dan membawanya pulang? Tapi tidak ada petugas taman saya lihat pagi ini.

Saya mendekat lagi dan memandang pohon Pakis Tanduk Rusa itu. Alangkah indahnya. Saya ambil saja ya. Ini tidak ada pemiliknya. Tapi jika ternyata pemiliknya hanya meminjam tempat saja di taman untuk sementara, tetap saja saya mencuri namanya ya? Kecuali jika saya ketemu pemiliknya dan diijinkan mengambil. Weh… rasanya bingung sendiri.

Tapi kemudian saya ingat, satu ucapan Bapak saya, “Jika kamu ragu, tidak jelas dan yakin apakah perbuatan itu boleh dilakukan atau tidak, maka JANGAN kamu lakukan!!!! Itu akan menyelamatkanmu dan tetap membuat kamu selalu berjalan dalam kebaikan dan kebenaran”.

Ingat kalimat Bapak saya itu, sayapun membulatkan pikiran. Tidak boleh mengambil Pakis Tanduk Rusa itu. Tidak boleh!!!!

Saya melanjutkan perjalanan saya pulang. Menjelang jembatan, sekali lagi saya menoleh ke arah Pakis Tanduk Rusa itu yang sebentar lagi akan hilang dari pandangan mata saya.

Seorang pemulung dengan karung di punggung dan alat pengais dari besi di tangan kanannya rupanya mendekat ke arah pohon Pakis Tanduk Rusa itu. Saya menontonnya dari kejauhan. Ia berhenti sejenak, memandang ke tanaman hias itu sebentar. Lalu mengambil dan memasukkan pohon Tanduk Rusa itu ke dalam karungnya.

Saya tersenyum di dalam hati saya.
Menengadah ke langit. Burung-burung berkicau dengan riang. Mereka selalu berkicau riang di telinga saya, seperti biasanya.

Bintaro, 19 Desember 2022.

MINYAK TANDUSAN

Standard

LENGIS TANDUSAN.
Mencoba Membuat Sendiri Minyak Tandusan.

Seorang sahabat bertanya,”Minyak Tandusan itu apa?”. Saya berpikir sejenak. Apa ya Minyak Tandusan dalam Bahasa Indonesianya? Itu lho….minyak kelapa yang dibuat sendiri di rumah. Bukan minyak goreng pabrikan. Wangi dan rasanya sangat enak. Beda dengan minyak goreng biasa. (Saya search di google itu sama dengan MINYAK KLETIK kalau di Jawa).

Tiba-tiba saya terpikir untuk membuatnya sendiri. Saya coba mengingat-ingat bagaimana caranya. Mengingat -ingat situasi dapur Nenek saya jaman dulu saat beliau nandusin (Nandusin = membuat minyak dari kelapa). Terbayang di hidung, wangi nikmat minyak tandusan yang memenuhi dapur nenek. Walaupun saya tak pernah dilibatkan saat membuatnya, tapi rasanya saya masih ingat sekilas langkah-langkahnya.

Bekerjasama dengan si Mbak yang bekerja di rumah, saya mulailah proyek percobaan ini.

Mau coba dengan 3 butir kelapa. Tapi sayang tukang sayur cuma bawa 2 butir kelapa. Oke deh. Saya coba dengan 2 butir saja dulu. Toh belum tentu sukses juga.

Dua butir kelapa ini diparut. Air kelapanya saya masukkan kembali ke parutannya. Lalu saya remas-remas dan saring santannya.

Berikutnya saya panaskan santan dengan api yang kecil. Aduk aduk. Pendidihan santan ini berlangsung hingga 2 jam lebih. Wanginya sudah menebar ke udara. Bintik-bintik minyaknya sudah muncul. Tapi mengapa ya, kok tidak mau mengumpul?

Sampai di titik ini saya nge-blank. Tidak tahu apa yang harus dilakukan. Terbayang nenek saya mengambil kumpulan minyak sesendok demi sesendok dari santan yang didihkan ini, lalu menuangkannya ke sebuah tempat. Tapi ini kok nggak bisa ya?! Bingung saya.

Akhirnya saya matikan kompor. Santan yang dimasak ini saya masukkan ke botol glass. Rupanya bagian cream minyak (celengis/ glendo) mulai terpisah ke atas karena airnya turun ke bawah. Tapi tidak ada tanda-tanda jika minyaknya akan berkumpul dan mudah diambil.

Untunglah, si Mbak yang bekerja di rumah berinisiatif menelpon Ibu Mertuanya yang sering membuat minyak kelapa. Meminta petunjuk. Lho, jadi celengis alias glendo yang sudah terpisah dengan air ini, mesti diambil dan dipanaskan lagi. Barulah keluar minyak.

Oooh…benar!. Barulah keluar minyak.
Akhirnya berhasil membuat minyak. Tapi sangat sedikit ternyata hasilnya. Banyak faktor mungkin penyebabnya. Yang jelas, pengalaman pertama, banyak nggak tahunya ha ha 😀

Saya baca untuk mendapatkan 1 liter minyak, rata-rata dibutuhkan 6 butir kelapa. Harga 1 butir kelapa di warung dekat rumah = Rp 12 000. Jadi untuk membuat 1 liter, modal kelapanya saja sudah 12 000 x 6 = Rp 72 000. Belum modal gas dan tenaga kerjanya.

Sementara harga 1 liter minyak goreng di pasaran antara Rp 13 000 – 28 000.

Wah…pantas saja sangat jarang yang membuat secara tradisional lagi 🤣🤣🤣

Tapi wangi dan rasanya enak sekali ini. Sumpah! Saya masih ingin membuat lagi.

Antara Impian Dan Kenyataan.

Standard
Caladium
Caladium

Teman-teman pernahkah mengidamkan sesuatu, namun kenyataan yang diterima sangat jauh dari harapan?

Pertengahan bulan November lalu saya membeli berbagai jenis umbi Caladium dan bonggol Aglonema lewat sebuah toko online. Wow! Banyak bentuk maupun warna daunnya yang eksotis. Ada yang hijau beludru, pink, merah, kuning, bahkan keemasan. Keren-keren deh pokoknya.Caladium nopakau, C. nagoya, C. white bone, CLD 039, Keladi Baret Merah, Caladium Big Boss, Alocasia dragon scale, alocasia black velvet, dsb.

Saya tertarik, karena harganya sangat murah dan promo pula (soalnya di tukang tanaman di Bintaro, harga tanaman hias model gini sungguh membuat kita narik nafas panjang-panjang). Plus gara-gara saya membaca iklan entah di mana, daripada membeli tanaman yang sudah tumbuh secara online, belum tentu hidup setelah nyampai di rumah, lebih baik beli umbi atau bonggol, yang pasti hidup.

Setelah menunggu pengepakan dan pengiriman, akhirnya nyampailah umbi-umbi keladi dan bonggol-bonggol aglonema yang akan sangat menawan bentuk dan warnanya nanti ini. Langsung di tanam di pot-pot kecil dulu dong ya.

Seperti anak kecil yang dibelikan mainan baru oleh orang tuanya, setiap hari saya mengengok umbi-umbi dan bonggol-bonggol itu. Menunggu saatnya ia bertunas dan memunculkan daunnya yang indah.

Kira-kira dua minggu kemudian, di awal Desember, mulailah umbi-umbi Caladium cantik ini bertunas. Wow…senangnya hatiku.

Tapi tunggu dulu…. saya agak curiga. Kenapa warna daunnya seperti ini ya? Sejak daunnya masih menggulung, saya melihat bayangan bintik-bintik putih di daun itu. Saya langsung curiga. Jangan-jangan… hmmm 🤔🤔🤔

Benar saja kecurigaan saya. Ternyata daun keladi itu muncul tidak sesuai motif dan warnanya dengan yang ditunjukkan oleh pedagangnya di toko online itu 🥺🥺🥺.

Daunnya berwarna hijau terang, dengan tulang daun berwarna merah, lalu di lembar daunnya banyak bintik-bintik putih. Lah…kalau yang jenis begini ini, saya juga ada di rumah kami di Sukabumi. Juga ada di rumah Bapak saya di Bali. Jenis yang biasa dan mudah ditemui. Bahkan di Bali kami punya yang warnanya lebih full merah kecoklatan lagi.

Saya kecewa. Tapi okelah. Mungkin pedagangnya salah mengirimkan. Barangkali cuma satu ini. Mudah-mudahan yang lainnya sesuai pesanan.

Akhirnya yang lainpun satu per satu mulai muncul daunnya. Yang ke dua, ternyata sama seperti itu juga. Daun hijau, tulang daun merah dan bintik-bintik putih. Waduuuh… mengecewakan. Masak pedagangnya salah dua kali 🤔🤔🤔.

Tapi ternyata yang ketiga dan keempatpun begitu juga. Semuanya sama. Demikian juga yang berikutnya. Lho, salah semua?Waah… kalau begitu, bisa saya simpulkan bahwa pedagang telah mengirimi saya umbi yang tidak sesuai dengan yang ditunjukkan gambar di toko onlinenya.

Sedih juga rasanya. Kenapa begitu ya? Apakah tumbuhnya memang seperti itu dulu, baru nantinya berubah, atau bagaimana ya?

Hari ini saya coba meminta penjelasan dari penjualnya di kolom ulasan dari pembeli. Semoga direspon dengan baik.

MENYAPA WANITA BALI.

Standard

Seorang teman bertanya, bagaimana sebaiknya jika kita ingin memberi sapaan untuk Wanita Bali dalam Bahasa Bali.

Baiklah saya share sepintas di sini ya.

Memanggil seorang wanita di Bali, secara umum sama dengan di daerah lain. Kita lihat-lihat dan perkirakan usianya. Seumuran dengan kita ? Jauh lebih tua dari kita? Jauh lebih muda dari kita? Jika tidak tahu, dikira-kira saja.

Jika memanggil wanita yang SEUMURAN dengan kita, umumnya kita boleh meMANGGIL NAMAnya saja, atau NANA URUT dalam keluarganya (Wayan, Putu, Made, Kadek, Nengah, Nyoman, Komang, Ketut)

Misalnya nama saya Ni Made Sri Andani, maka bisa saja panggil saya Andani, Dani atau Sri.
Boleh juga memanggil saya dg nama urut dalam keluarga saya. Karena saya anak ke dua, saya boleh dipanggil Made, Ade atau Kadek.

Jika memanggil wanita yang kira-kira UMURnya DI ATAS kita, maka untuk sopannya kita tambahkan kata “MBOK” di depan nama nomor urut keluarganya. Kata “Mbok” ini kira-kira setara dengan kata ” Mbak” kalau di Jawa.
Misalnya jika nama saya Ni Made Sri Andani, maka saya bisa dipanggil dengan Mbok Made , Mbok Ade atau Mbok Kadek.

Jika wanita itu tidak ada nama nomor urutnya, maka kita panggil dengan Mbok + namanya. Misalnya Mbok Sri, Mbok Andani.

Bagaimana jika wanita itu LEBIH MUDA dari kita? Kalau wanita yang akan kita panggil itu lebih muda dari kita, cukup PANGGIL NAMAnya saja.

Misalnya nama saya Ni Made Sri Andani, maka jika yg memanggil merasa umurnya lebih tua dari saya, cukup panggil nama saya saja. Andani, Dani, Sri, atau nama nomor urut saya saja, Made, Ade, Kadek.

Jika kita sudah cukup akrab dengannya, maka untuk memanggil wanita yg usianya lebih muda dari kita, kita bisa memanggilnya dengan sebutan GEG atau GEK (aslinya berasal dari kata ‘Jegeg’ yang artinya Cantik) yang jika diterjemahkan setara dengan kata “Dik” dalam bahasa Indonesia.

Misalnya jika nama saya Ni Made Sri Andani, orang-orang yang lebih tua dari saya bisa memanggil saya Geg Made, Gek Ade, Gek Sri, Geg Andani.

Demikianlah kira-kira.

Jangan terbalik ya.
Jangan memanggil wanita yang lebih tua dari kita dengan sebutan “GEG!”. Karena itu sama saja dengan memanggilnya ‘Dik!’. Kecuali jika kita memang ingin mengatakan Mbak Cantik, maka kita boleh memanggilnya ‘Mbok Gek’. Tetap ada kata ‘Mbok’ nya.

Dan sebaliknya jangan memanggil wanita yang lebih muda dari kita dengan sebutan “MBOK”.

Kebalik itu 😀.

Atau jika kita ingin memanggil wanita itu dengan kata ‘IBU’ di dalam Bahasa Indonesia, maka dalam Bahasa Balipun panggilan itu masih ok. Misalnya Bu Made. Bu Andani , dst.

Demikianlah kurang lebih.

Mari mengenal BALI dengan lebih baik.

BERTENGKAR UNTUK APA?

Standard
Pertengkaran Kucing

Sepulang dari berjalan pagi, di dekat lapangan olah raga sebelah rumah saya melihat seekor kucing cukup besar berwarna orange sedang duduk di pojok lapangan yang ketinggiannya sekitat 1 meter dari jalanan. Terlihat santai dan sangat menikmati hari. Enjoy life!

Belum sempat memperhatikan lebih banyak, tiba-tiba saya melihat seekor kucing orange lain yang lebih muda dan kecil, mengintip dan mengendap-endap bersiap untuk menyerang Kucing orange yang sedang bersantai itu. Astaga! Kucing besar yang lebih tua itu tidak sadar dirinya akan diserang.

Belum sempat saya berpikir, kucing muda itu sudah melompat dengan sigap, berdiri depan kucing yang tua dan langsung mengerang mengancam. Mau tidak mau ia terpaksa bangkit dari duduknya dan menghadapi penyerangnya yang lebih muda itu.

Saya jadi ingin tahu, apa yang akan terjadi. Mengeluarkan hape dari saku dan merekam.

Mulailah adegan seringai menyeringai dan ancam mengancam dari kedua ekor kucing orange itu. Saya sendiri bingung, apa ya yang dipertengkarkan?

Setelah keduanya saling bentak, saling mengancan dan saling bertahan sambil mengadukan kepalanya, saya melihat kucing yang lebih besar mengalah. Pandangannya beralih ke tempat lain. Perlahan ia memindahkan kakinya, lalu melangkah pergi dengan gagah. Pelan pelan tapi pasti. Sesekali ia menoleh ke belakang ke arah kucing muda itu. Lalu menghilang di balik gardu listrik.

Saya lihat kucing muda itu sekarang mengambil alih pojok lapangan tempat kucing besar itu bersantai. Ia mencium lantai tempat kucing besar itu tadi duduk dan mulai melingkarkan badannya di situ.

Ooh… rupanya memperebutkan pojok lapangan, lokasi untuk bersantai. Saya mulai sedikit paham.

Tapi beberapa detik kemudian, ia bangkit lagi lalu berjalan meninggalkan pojok lapangan itu dengan santai. Kembali saya tidak paham.

Lho??!! Kok ditinggal? Lalu tadi itu bertengkar untuk apa?

Saya heran melihatnya. Kalau memang pojok itu tidak akan dipakai, mengapa harus diperebutkan dan dipertengkarkan? Dasar kucing!

Saya berhenti merekam. Kejadian itu berlangsung sekitar 11 setengah menit. Sungguh saya jadi penasaran , apa sesungguhnya motivasi kucing muda itu mengajak kucing yang lebih tua bertengkar?

Apakah memang ingin memperebutkan lokasi duduk di pojokan lapangan ? Atau ingin menjajal kemampuan bertengkar? Ataukah hanya sekedar mendapat pengakuan, bahwa teritori itu miliknya? Atau mau membuktikan slogan “kecil-kecil cabe rawit?”. Tak paham saya. Untung saja kucing besar itu baik hati dan mengalah. Kalau ia mau, saya yakin dengan mudah ia bisa membanting dan menggigit kucing muda itu hingga babak belur. Tapi tidak ia lakukan.

Apakah kisah serupa begini terdengar familiar diantara kita? Wk wk wk 🤣🤣🤣🤣.

Mempertengkarkan sesuatu, yang sebetulnya nggak benar-benar ingin kita gunakan juga? Yang penting menang. Perkara nanti yang diperebutkan itu kita pakai atau nggak kita pakai, itu urusan belakangan.

Ego, terkadang membuat kita mengedepankan nafsu serakah dan keinginan berkuasa kita dengan tidak menghargai dan menghormati hak-hak orang lain yang sesungguhnya mungkin lebih butuh ketimbang kita.

CELAMITAN

Standard

Salah satu hal paling menarik yang bisa saya nikmati setiap kali berjalan pagi di perumahan adalah melihat-lihat tanaman tetangga. Bunga-bunga yang indah warna warni, buah-buahan yang ranum menggelantung di pohonnya, sayur-sayuran segar hidroponik yang dipajang di luar pagar. Semuanya bikin ngiler.

Seperti pagi ini, pandangan saya tertuju pada deretan kangkung, pakcoy dan bayam singapur, di instalasi hidroponik tetangga yamg dipajang di depan rumahnya. Seger banget. Kebayang segarnya hidangan sayuran hijau di meja makan, yg diolah dari sayuran baru petik.

Lalu berikutnya ada pohon mangga manalagi yang berbuah banyak dan rendah sejangkauan tangan. Tinggal loncat dikit rasanya nyampai itu. Rasanya pengen meminta & pengen memetik.

Manusia memang dibekali bakat “celamitan” dari sononya. Jangankan sayur, buah dan bunga. Wong rumput tetangga saja yg terlihat lebih hijau dipengeni.

Tetapi sebenarnya sadar nggak sih saya , bahwa untuk membuat rumput itu menjadi sedemikian hijau segar dan rapi, juga untuk membuat tanaman hias itu tumbuh subur berbunga warna-warni mewangi, dibutuhkan kerja keras pemiliknya untuk menanam, merawat, menyiram, memupuk, menyiangi???. Itu butuh modal, waktu dan kerja keras woiiii…

Demikian juga sayuran hidroponik dan mangga yang bikin ngeces itu. Semua ditanam dan dirawat oleh pemiliknya dengan sepenuh hati dan sepenuh pengharapan.

Lha, lalu siapa saya ini yang hanya sekedar seorang tetangga yang kebetulan lewat tanpa pernah berkontribusi apa-apa kok tiba-tiba menginginkan sayuran dan mangga tetangga itu ? Ingin meminta dan memetik…

Tak jauh dari pohon mangga itu, saya lihat ada Mbak asisten rumah tangga di rumah tetangga saya itu sedang menyapu. Sayapun berkomentar,

“Wow. Banyak sekali buah mangganya Mbak” .

Si Mbak dengan nada kurang ramah
“Ya Bu. Tapi masih pada hijau”

Rupanya si Mbak tahu soal jiwa celamitan saya. Langsung ketus. Padahal saya nggak bilang minta lho.