Sisa Hidup Kita.

Standard

Minggu yang lalu saya mendengar berita duka, seorang teman meninggalkan dunia fana ini setelah menderita sakit selama sebulan. Lebih sedihnya, karena saya belum sempat menjenguknya padahal saya sudah diinformasikan tentang sakitnya ini minggu yang lalu. Semakin nyesek rasanya.

Walaupun ia bukanlah sahabat yang sangat dekat dengan saya, dan umurnya pun jauuh lebih muda dari saya, tetapi karena kami terhubung di Sos Med, saya bisa melihat keceriaan dari foto- foto dan status yang diunggahnya.

Selalu senang melihat semangat hidupnya. Ia sangat baik terhadap sesama. Sangat menjaga silaturahmi dengan para sahabat dan kerabatnya. Pun ia mengisi hidupnya dengan kegembiraan. Banyak traveling yang ia lakukan baik ke daerah-daerah wisata di Indonesia maupun ke Mancanegara. Sungguh gadis dengan gairah hidup yang luarbiasa.

Tiba-tiba saya mendengar kabar tentang kepergiannya. Rasanya sangat terkejut dan agak sulit percaya. Saya melihat-lihat kembali beranda facebook dan instagramnya.

Saya membaca status kehilangan dan berduka cita yang ia sampaikan untuk sahabatnya yang meninggal bulan yang lalu. Membuat saya merenung. Apa yang ia pikirkan saat membuat status ini?. Apakah ia tahu jika sebulannya kemudian ia yang akan meninggal juga?. Entahlah.Tapi saya rasa ia tidak tahu. Tak seorangpun yang tahu kapan giliran kita akan menghadapi kematian.

Saya jadi teringat Game kanak-kanak yang biasa dimainkan. Saat permainan dimulai, kita diberi 5 buah nyawa yang ditandai dengan tanda jantung ❤❤❤❤❤. Nyawa ini akan berkurang satu ❤❤❤❤ per satu❤❤❤ setiap kali kita melakukan kesalahan. Demikian seterusnya berkurang ❤❤ dan berkurang ❤. Sehingga tidak berapa lama kemudian…. 💔 GAME OVER !!!!. Permainan selesai.

Yang perlu kita lakukan adalah bermain dengan sebaik-baiknya dan secermat- cermatnya agar nyawa kita tidak berkurang.

Syukur -syukur ada jenis game yang memberikan kesempatan untuk meningkatkan jumlah nyawa lagi jika kita sukses melakukan sesuatu. Tetapi ada banyak game juga yang tidak memberi kesempatan penambahan nyawa.

Bagusnya dengan Game adalah kita bisa tahu berapa sisa nyawa kita, sehingga ketika kita tahu bahwa nyawa kita tinggal satu ❤, kita harus bermain dengan sebaik baiknya dan jika tidak kita sudah tahu bahwa sudah waktunya Game Over.

Tetapi dalam kehidupan nyata, kita tak pernah tahu betapa sisa nyawa yang kita miliki. Apakah masih banyak atau tinggal sedikit. Dan tentu saja kita tidak tahu kapan kiranya status kehidupan kita akan menjadi GAME OVER!!!. Dan seandainya pun kita tahu, apakah kita akan tetap tenang menghadapinya?. Atau bahkan tambah stress?.

Mungkin itulah sebabnya Tuhan tidak memberi tahu kita dengan pasti berapa sisa umur kita. Dengan demikian, maka yang terbaik yang perlu kita lakukan adalah berusaha menjalani dan menjalankan kehidupan ini dengan sebaik-baiknya. Berbuat yang baik untuk diri kita sendiri dan sesama.

Mengucapkan Salam Dalam Bahasa Bali -Part II.

Standard

Ini adalah lanjutan dari tulisan saya “Mengucapkan Salam Dalam Bahasa Bali – Part I.

Bagian II ini lebih membahas tentang ucapan Salam Umum yang tidak terikat dengan waktu ataupun sebuah kejadian, Ucapan buat sahabat atau kerabat yang sedang sakit atau kesusahan dan ucapan Bela Sungkawa jika ada sahabat atau kerabat yang meninggal dunia.

6/. Ucapan Salam saat Berjumpa

Saat berjumpa, kalimat salam pertama yang diucapkan oleh orang Bali adalah “Om Swasti Astu”. Ucapan ini adalah doa dari yang mengucapkan Salam agar orang yang diajak berbicara berada dalam keadaan baik, sehat dan bahagia. Karena kata Om adalah seruan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sedangkan Swasti artinya dalam keadaan baik, dan Astu artinya Semoga.

Om Swasti Astu = Ya Tuhan, Semoga (orang yang saya ajak bicara ini) Engkau berikan dalam keadaan baik, sehat dan bahagia.

Ucapan Om Swasti Astu bisa dijawab dengan doa yang sama kembali, Om Swasti Astu. Bisa juga dijawab dengan Om Shanti Shanti Shanti. Shanti = damai.

Diucapkannya kata Shanti sebanyak 3 x adalah merepresentasikan doa pengucap agar kedamaian yang terjadi di 3 Strata mulai dari yang kecil hingga yang terbesar. Yaitu kedamaian di dalam Hati, kedamaian di Bumi dan kedamaian senantiasa di seluruh Alam Semesta.

Salam Om Swasti Astu juga umum digunakan sebagai pembuka pidato, rapat, tulisan. Dan sebagai penutup dari pidato, rapat ataupun tulisan juga diakhiri dengan Om Shanti Shanti Shanti.

Salam ini tidak mengenal waktu. Berlaku untuk kapan saja.

7/. Ucapan Buat Yang Sakit atau yang kena musibah.

Saat mendengar sahabat atau kerabat yang sakit, tentu saja yang kita ucapkan bukanlah selamat tetapi doa agar yang bersangkutan diberi kesembuhan. Jadi ucapannya adalah “Dumogi gelis kenak”. Semoga lekas sembuh. Atau “Dumogi gelis waras” Semoga lekas sehat.

Dan doa yang paling umum diucapkan adalah “Om Sarwa Wighna, Sarwa Klesa, Sarwa Lara Roga, Winasa ya Namah “. artinya “Ya Tuhan, kami mohon agar segala halangan, segala penyakit, segala penderitaan dan gangguan Engkau binasakan ya Tuhan”.

Tetapi jika kita ingin mendoakan si sakit dalam bahasa atau agama/kepercayaan masing-masing juga tidak masalah. umumnya masyarakat Bali sangat terbuka untuk menerima doa orang lain sepanjang niatnya baik. Jadi tidak ada doa baik yang haram hukumnya, walaupun itu diucapkan oleh orang berbangsa/bersuku/beragama lain ataupun dalam bahasa/ agama lain. Sama saja.

Jika kita mendengar ada berita tentang sahabat atau kerabat yang mengalami musibah lain yang tidak terkait dengan kesehatan tubuh i.e kehilangan, kecurian dsb maka ucapan kita adalah “Dumogi polih kerahayuan”

8/. Ucapan Bela Sungkawa.

Orang Bali mengucapkan kalimat “Dumogi amor ring Acintya” saat mendengar teman atau kerabat meninggal dunia. Yang artinya “Semoga bisa menyatu kembali dengan Tuhan Yang Maha Esa”.

Atau mengucapkan doa “Om Swargantu, Moksantu, Sunyantu, Murcantu. Om Ksama Sampurna Ya Namah Swaha” yang artinya ” Ya Tuhan, semoga atna yang menunggal mencapai surga, lalu menyatu denganMu, mencapai keheningan tanpa suka duka. Ampunilah ia, semoga segalanya disempurnakan atas kemahakuasaanMu.

Ini berkaitan dengan keyakinan bahwa setiap mahluk hidup memiliki Atma (roh) yang merupakan percikan suci dari Tuhan Yang Maha Esa (Paramatma).

Atma ini terlahir ke dunia (dan mungkin berkali kali) untuk membersihkan perbuatan perbuatan buruknya hingga kembali benar-benar bersih dan mampu menyatu kembali denganNYA dan tak perlu dilahirkan kembali lagi.

Ketika mahluk hidup meninggal, maka Atmanya akan lepas meninggalkan tubuh kasarnya. Ia akan melalui proses pengadilan yang membuatnya ke naraka atas perbuatan buruknya atau ke surga atas perbuatan baiknya. Tapi Surga ataupun Neraka bukanlah terminal terakhir. Setelah menjalani masa “rewarding” di surga ataupun neraka, jika Atma / roh belum benar benar bersih dengan perbuatannya maka ia dikasih kesempatan untuk lahir kembali guna memperbaiki dosa dosanya itu hingga ia benar- benar bersih dan menyatu kembali dengan Tuhan. Jadi Tuhan adalah terminal terakhir. Bukan Surga.

Itulah sebabnya mengapa doanya bukan “semoga mendapat tempat di sisiNYA”, karena objectivenya adalah untuk menyatu denganNYA, bukan terpisah dan berada di tempat yang berbeda (di sisiNYA).

Mengucapkan Salam Dalam Bahasa Bali – Part I.

Standard

Salah satu pertanyaan yang sering dialamatkan teman ke saya adalah “Selamat pagi, apa dalam Bahasa Balinya ya Bu?”. Ada juga yang bertanya, bagaimana cara mengucapkan “terimakasih” dalam Bahasa Bali. Karenanya saya tertarik untuk menuliskan di sini bagaimana cara kita menyampaikan dan membalas beberapa Salam dalam Bahasa Bali.

Salam adalah Doa.

Serupa dengan suku/bangsa lain di dunia ini, Masyarakat Bali mengucapkan salam dengan cara menyampaikan Doa untuk keselamatan dan kebaikan orang yang diajaknya berbicara. Itulah sebabnya kebanyakan Salam dimulai dengan kata Selamat.

Selamat dalam Bahasa Bali adalah “Rahayu” atau jika ditambahkan kata semoga (dumogi/dumadak) misalnya Dumogi Rahayu (Semoga Rahayu, semoga dalam keadaan baik/ selamat) , maka kata ini berubah menjadi “Rahajeng“. Dua-duanya artinya sama, yakni kondisi seseorang yang dalam keadaan baik, sehat, selamat dan aman dari gangguan apapun serta tidak dalam kekurangan apapun. Bedanya hanya dalam penggunaan.

Sehingga jika tidak merujuk pada waktu atau kejadian yang spesifik masyarakat Bali mengucapkan kata Rahajeng/ Rahayu dalam memberi Salam.

Contohnya “Rahajeng, Bli” atau “Dumogi Rahayu, Bli”. Rahajeng/ Rahayu = baik, selamat, sehat sentosa. Bli = kakak laki-laki.

Maksudnya adalah “Semoga berada dalam keadaan selamat dan baik baik saja ya Kak”.

1/. Selamat Pagi/Siang/Malam.

Pagi = Semeng. Selamat Pagi = Rahajeng Semeng.

Banyak juga yang membubuhkan akhiran “an” sehingga kata Semeng menjadi Semengan. Artinya sama saja.

Siang = Tengahi. Selamat Siang = Rahajeng Tengahi.

Malam = Wengi. Selamat Malam = Rahajeng Wengi.

Kata Rahayu tidak umum digunakan dalam konteks ini. Jadi tidak ada Rahayu Semeng atau Rahayu Wengi.

2/ Ucapan Selamat Khusus & Hari Raya.

Ulang Tahun = Wanti Warsa. Selamat Ulang Tahun = Rahajeng Wanti Warsa.

Tahun Baru = Warsa Anyar. Selamat Tahun Baru = Rahajeng Warsa Anyar.

Menyampaikan Selamat Hari Raya bisa dilakukan dengan mengucapkan kata Rahajeng Dina (Dina = Hari) lalu bubuhkan nama hari rayanya. Misalnya;

Rahajeng Dina Galungan (Selamat Hari Raya Galungan), Rahajeng Dina Kuningan, Rahajeng Dina Saraswati, Rahajeng Dina Pagerwesi dsb.

Atau bisa juga disederhanakan tanpa kata Dina. misalnya:

Rahajeng Galungan, Rahajeng Kuningan dan sebagainya.

3/. Lanjutan Salam.

Secara umum masyarakat Bali tidak berhenti dengan hanya mengucapkan Salam standard Rahajeng Semeng – Rahajeng Wengi saja, tetapi umumnya memberikan doa tambahan lagi atas ucapan salam ini (terurama jika tertulis).

misalnya “Rahajeng semeng. Dumogi sami rahayu”. (Selamat pagi. Semoga semua dalam keadaan baik).

Atau “Rahajeng Wanti Warsa Putu, dumogi setata kenak, bagya tur lantang yusa”. (Selamat Ulang Tahun Putu, semoga selalu sehat, bahagia dan panjang umur).

4/. Menjawab Salam.

Secara umum salam Rahajeng Semeng/ Wengi bisa dijawab singkat dengan mengucapkan salam yang sama “Rahajeng Semeng’/ Wengi) juga.

Tetapi jika salam yang disampaikan adalah berupa ucapan selamat misalnya, ulang tahun, atau hari Raya, maka salam bisa dijawab dengan terlebih dahulu mengucapkan terimakasih lalu dengan mengucapkan salam kembali.

Terimakasih = Matur Suksma. Atau cukup dengan “Suksma” saja.

misalnya “Suksma. Rahajeng Mewali” yang maksudnya adalah ” Terimakasih. Saya mengucapkan doa yang sama baiknya untukmu juga”.

Atau bisa juga menjawab “Suksma. Dumogi rahayu sareng sami”. Artinya “Terimakasih. Semoga semua orang dalam keadaan baik”.

5/. Membalas berita bahagia.

Terkadang kita mendengar informasi/berita dari teman/kerabat tentang rencana pernikahan anaknya, atau akan menyelenggarakan upacara di rumahnya atau di kampungnya. Bagaimana cara kita mengucapkan selamat?. Cara nembalasnya adalah dengan mengucapkan doa agar pelaksanaan acaranya sukses.

Dumogi memargi antar” (semoga berjalan dengan baik tanpa rintangan).

“Dumogi labda karya” Semoga pekerjaannya berhasil.

“Dumogi labda karya sida sidaning don” Semoga pekerjaannya berhasil sesukses suksesnya.

Atau jika ingin mendoakan pengantin

Dumogi langgeng ngantos riwekasan”. Semoga langgeng hingga ke depannya terus.

Beli Jagung Depan Kuburan.

Standard

Awalnya saya tidak ingin bercerita tentang kejadian ini, khawatir orang-orang menyangka saya tidak logis, tidak rasional, atau mengalami Halu 😀. Karena kejadian ini rada-rada nggak masuk akal, tapi ini sungguh kisah nyata yang saya alami sendiri.

Saya pulang malam dari kantor. Di tengah jalan saya merasa sangat lapar. Saking laparnya sampai perut saya perih dan saya mual. Saya berniat membeli camilan di pinggir jalan. “Jangan gorengan ya Bu. Nggak sehat”, kata Pak Supir yang mengantar saya pulang. “Oke”, kata saya.

Saya lalu mikir, apa yang sehat ya? “Kacang rebus atau jagung rebus. Nanti kalau ada di pinggir jalan kita berhenti” kata saya. Pak supir melambatkan laju kendaraan sambil mencari-cari dagangnya di pinggir jalan. Apesnya, hingga setengah jam lewat belum terlihat ada tanda tanda tukang kacang rebus – jagung rebus.

Kendaraan terus melaju pelan. Gerimis mulai turun. Jalanan terasa sepi. Semakin pupus harapan saya untuk bisa membeli kacang atau jagung rebus.

Tiba- tiba Pak Supir menghentikan kendaraan “Kayaknya itu ada tukang jagung bakar. Mau Bu?” tanyanya sambil memundurkan kendaraan tanpa menunggu jawaban saya. Dagang jagungnya sudah terlewat bebetapa ratus meter. Ya ya…tentu saja saya mau.

Saya pun turun. Sekarang saya baru sadar, ternyata posisi dagang jagung bakar ini tepat di pintu gerbang Pemakaman Umum. Agak gelap dan hanya ada satu lampu kecil. Ada 2 dagang di situ. Seorang ibu yang menjual jagung bakar. Dan 2 orang anak muda yang menjual kepiting. Saya memesan beberapa buah jagung untuk saya dan Pak Supir – barangkali ia mau juga buat istri atau anaknya.

Karena sepi, tidak ada pembeli lain lagi, si ibu penjual jagung langsung meladeni permintaan saya. Saya berdiri di bawah payung sambil menonton si ibu mengipas bara dan membolak -balik jagung. Bagus juga baranya dan tidak terpengaruh oleh gerimis. Saya mendongak ke atas. Oooh.. rupanya pembakaran ini ada di bawah pohon rindang. Pantas terlindung dari hujan. Baranya stabil. Asapnya menebar ke udara.

Tiba tiba saya mencium wangi semerbak keluar dari pembakaran jagung. Wangi Kemenyan Arab yang dibakar!. Wah… apa nggak salah penciuman saya ini?. Saya coba hirup lebih dalam. Tapi sekarang wanginya hilang.

Namun beberapa saat kemudian, wangi Kemenyan itu muncul lagi. Bahkan jauh lebih kencang dari sebelumnya dan lamaaaa sekali. Saya membayangkan jika itu sebuah parfum, tentu dosagenya tidak kurang dari 25% dalam larutan ethanol.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan wangi Kemenyan. Kemenyan atau Olibanum atau Frankincense, adalah aromatic resin atau getah dari pohon-pohon jenis Boswelia/ Styrax. Merupakan bahan baku penting dalam industri parfum dunia. Kemenyan juga banyak digunakan dalam pengobatan, berbagai ritual keagamaan ataupun budaya berbagai bangsa, mulai dari Arab, Eropa hingga Asia. Namanya sangat positive dan harum.

Hanya di Indonesia saja Kemenyan ini mendapatkan nama buruk karena dikait-kaitkan dengan hal mistik 😀😀😀. Sehingga banyak orang Indonesia yang takut pada wangi Kemenyan.

Walaupun saya orang Indonesia, tetapi sebagai orang yang bekerja di industri parfum dan memahami apa sebenarnya Kemenyan, tentu saja saya tidak takut pada wangi Kemenyan. Saya cuma heran saja, bagaimana bisa kok wangi Kemenyan keluar dari asap pembakaran jagung???. Tidak normal!!!. Kecuali jika ada orang yang memasukkan Kemenyan ke dalam pembakaran ini.

Atau apakah ada orang lain yang membakar menyan di balik tembok kuburan itu?. Tapi rasa saya wanginya kelyar dari pembajaran jagung ini deh. Sangat dekat dan kenceng.

Saking penasarannya, saya lalu bertanya pada ibu tukang jagung, “Ibu ada memasukan kemenyan ke dalam arang pembakaran jagung ini nggak Bu?. Kok saya mencium wangi kemenyan ya? “.

Si ibu tampak terkejut, lalu agak kesal pada saya. “Demi Allah Bu, saya tidak seperti pedagang lain yang menggunakan penglaris biar dagangannya laku” . Jawabnya.

Saya hanya mendengarkan. Oh…mengapa ia mengaitkan kemenyan dengan penglaris?. Sebenarnya bukan itu maksud saya. Tapi ya sudahlah. Ntar dia malah makin tersinggung. Selain itu, dua orang anak muda yang menjual kepiting itu juga tiba tiba mengemas daganganya buru- buru, mematikan lampu dan pulang. Lah?. Kok kabur?. Jadi gelap sekali sekarang di sini.

Si ibu tukang jagung lalu mencari cari saklar dan menyalakan lampunya sendiri.

Sebenarnya jujur saja Bu. Setiap malam saya berjualan di sini hingga jam 1 malam. Kadang- kadang memang gitu, Bu. Tiba tiba kecium bau wangiiii. Atau bau busuk. Malah sering juga suara cewek ketawa. Saat malam sepi dan nggak ada pembeli”, katanya.

Lalu ia bercerita. Ia terpaksa berjualan di situ, karena tak mampu membayar sewa lapak di tempat yang lebih baik. Tak punya pilihan lain. Suaminya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Ia harus menghidupi 5 orang anak yang masih kecil-kecil dan masih sekolah. Dan saat ini, ia sendiri sebenarnya sedang menderita sakit jantung. Untunglah 2 orang anaknya yang besar sekarang sudah bekerja dan menikah.

Ya apa jadinya ya Bu, jika umur saya tidak ada lagi. Gimana nanti nasib anak-anak saya?”, katanya dengan sangat sedih. Saya jadi ikut terbawa kesedihannya. Lalu saya besarkan hatinya bahwa ia pasti bisa melewati semua masalah itu dan saya doakan agar ibu itu membaik kesehatannya dan kuat serta lancar rejekinya. Lalu saya pamit.

Saya lihat mata ibu itu berkaca-kaca saat menerima uang dari saya. Sekali lagi saya berdoa dengan sungguh-sungguh untuk kebahagiaan ibu tukang jagung itu. Semoga Tuhan memberikan kesehatan yang baik, rejeki yang banyak dan makin banyak pembeli yang mampir ke sini. Lalu saya kembali ke kendaraan.

Begitu duduk di dalam mobil. Tiba-tiba bulu kuduk saya merinding. Aneh sekali perasaan saya ini. Tadi padahal saya tidak merinding, kenapa tiba tiba sekarang?. Saya pikir saya sedang merasakan takut. Lihat ke sebelah dan jok belakang. Tidak ada apa apa. Tapi saya semakin merinding.

Nyaris putus asa dengan perasaan ini, akhirnya saya berkata kepada entah siapa “Jangan mengganggu saya. Karena niat saya selalu baik. Saya hanya membeli jagung karena perut saya lapar. Berhenti gentayangan. Saya doakan agar kamu bertemu jalan untuk kembali kepadaNYa“. Saya lalu berdoa dengan khusuk agar jika memang ada arwah, atau mahluk lain di sekitar saya (selain Pak Supir tentunya), agar kembali kepadaNYA dan berbahagia.

Setelah itu rasa merinding saya perlahan berkurang. Nah…. sekarang tinggal jagungnya. Apa yang harus saya lakukan dengan jagung ini sekarang?. Makan atau jangan?. Jangan jangan jagung bakar aroma Kemenyan. Saya cium. Ternyata wanginya tetap wangi jagung bakar biasa. Tidak ada tercampur dengan wangi Kemenyan 😀.

Tapi anehnya pikiran saya berkembang makin buruk. Bagaimana jika tiba tiba keluar darah dari jagung ini saat saya gigit?. Atau jika tiba-tiba batang jagung ini berubah jadi tulang manusia?. Seperti di cerita-cerira horor. Saya bergidik. Ngeri banget memikirkannya. Mungkin ini yang namanya Super Halu. Saya jadi galau dan mikir-mikir.

Setelah saya timbang timbang, akhirnya saya putuskan untuk memakan jagung itu saja.

1/. Alasan logis, tadi saya beli jagung karena saya lapar. Sekarang jagung sudah di tangan saya. Ya harus saya makanlah, agar perut saya tidak perih lagi.

2/. Tidak baik membuang makanan. Banyak orang lain yang kelaparan dan tak mampu.

3/. Selain itu, saya beli jagung ini dari gaji hasil kerja saya. Masak dibuang?. Rejeki akan seret datangnya jika kita menyia-nyiakan rejeki yang sudah di tangan kita sendiri.

4/. Tanaman jagung itu sendiri tentu akan sangat sedih jika saya menyia nyiakannya. Karena ia sudah bersusah payah mengekstrak zat kehidupan dari tanah dan mengalirkannya ke dalam biji-bijinya guna keberlangsungan kehidupan generasi berikutnya. Tapi kita manusia mengambil buahnya dan membakarnya. Dan setelah dibakar tidak pula kita makan, alangkah berdosanya saya ini pada pohon jagung.

Akhirnya ” nyuam nyuam” saya makan jagung itu setelah sebelumnya saya berdoa, agar jagung ini memberi kesehatan dan kekuatan untuk tubuh saya dan bukan penyakit. Saya juga berdoa memohon agar tubuh saya dilapisi dan dilindungi dengan kekuatan jika seandainya ada pengaruh atau energi buruk dalam jagung yang saya makan itu.

Ha ha .. tidak terjadi apa apa tuh. Jagungnya ya tetap jagung biasa saja. Tidak ada darah ataupun berubah jadi tulang belulang 😀

Setiba di depan rumah, entah kenapa saya merasakan ada seseorang yang mengikuti langkah saya kelyar dari mobil, walaupun saat saya tengok kiri, kanan, depan, belakang tidak ada satu orangpun. Daripada daripada, sebelum membuka pintu rumah, saya membalikkan badan saya lalu berbicara entah kepada siapa ” Kamu jangan ikut masuk. Cukup sampai di sini saja. Pulanglah! Jangan gentayangan. Terimakasih sudah ikut mengantar”, kata saya. Terasa sangat bodoh. Ngomong sendiri 😀. Tapi serius, itu ngefek lho. Setidaknya memberi dampak psikologis kepada perasaan saya bahwa sekarang saya sudah aman. Setelah saya ngomong gitu, tidak ada lagi perasaan ada sesuatu atau seseorang yang sedang membuntuti saya.

Lalu saya masuk ke dalam rumah. Di sini tenang, nyaman dan damai.

Demikianlah cerita saya sesuai dengan kejadian nyata yang saya alami. Mungkin sebagian teman pembaca mentertawakan dan menganggap saya tidak rasional atau menyebut saya Halu. Tetapi sebagian lain mungkin bisa memahami atau bahkan pernah mengalami kejadian yang serupa ini. Tidak semua hal di dunia ini bisa dijelaskan secara rasional.

Tidak apa apa. Setiap orang punya pengalaman dan sudut pandang masing-masing. Terimakasih sudah membaca.

Drama Kecil Di Pesawat.

Standard

Saya hendak pulang kampung. Sedikit mepet waktunya, saya buru-buru masuk ke pesawat. Nomor kursi saya 4B. Ditengah. Sebetulnya agak kurang suka. Tapi apa boleh buat. Nggak punya pilihan lain.

Saya menyimpan ransel saya di kabin atas, lalu segera duduk. Saat itu seorang pria sudah duduk di kursi 4A di sebelah saya di pojok dekat jendela. Pria itu tersenyum ramah pada saya. Tetapi saat saya memasang Seat-belt saya, pria itu tiba tiba mencari-cari seat beltnya dan bilang jika saya sedang mendudukinya.

Sayapun membuka Seatbelt saya dan berdiri. Oh, ternyata memang benar, Seatbeltnya nyasar ke kursi saya dan tanpa sengaja saya duduki. Kok bisa ya?. Bukankah dia sudah duduk sejak tadi dan mengapa belum nemasang Seatbeltnya segera?.

Sebenarnya agak merepotkan, karena saya yang sudah pasang Seatbelt harus buka seatbelt lagi, berdiri dan kemudian pasang seatbelt lagi.Tetapi nggak apa apalah. Mungkin karena dia sedang sibuk chat di WA dengan keluarganya menjelang terbang. Hati baik saya memaklumi.

Sayapun duduk kembali dengan santai dan membaca majalah yang ada di saku kursi.

Beberapa saat kemudian, tiba-tiba “gedubukkk!!!”. Aduuuuh!!!. Sakiiit. Hape pria itu jatuh menimpa lutut saya, lalu jatuh ke lantai pesawat. Sayapun ikut mencari-cari di bawah, karena jatuhnya miring ke arah posisi saya. Jadi di bawah kaki saya.

Kok bisa ya?. Hapenya jatuh saat dia pakai. Saya cuma heran saja, karena tangannya kekar kan harusnya dia bisa pegang erat. Tapi okelah. Hati baik saya memaafkan perbuatannya itu yang lumayan membuat lutut saya sakit. Tentunya dia tidak sengaja.

Dalam perjalanan dari Jakarta ke Denpasar saya tidur. Tak terasa sebentar lagi mendarat menurut pengumuman. Mata saya masih mengantuk. Jadi saya meneruskan tidur.

Excuse me!” Terdengar suara dari sebelah. Saya kaget. Ooh… rupanya pesawat sudah hampir sepi. Orang orang sudah sebagian keluar dari pesawat. Sementara saya tertidur. Aduuuh…malunya. Mungkin sebenarnya ia pengen cepat keluar, tapi terhalang oleh saya. Mungkin saya telah membuatnya kesal juga.

Cepat-cepat saya bangun. Berdiri dan sambil mengantuk membuka pintu kabin di atas. Bermaksud mengambil ransel saya. Semoga hati baiknya memaafkan saya.

Terlihat sebuah ransel hijau di tempat tadi saya meletakkannya. Nah ini dia!. Saya mengambil ransel itu, pria yang duduk di sebelah saya itu berusaha membantu saya. Berat. Tapi saya memang masukan beberapa lembar pakaian, tas kosmetik, dompet, laptop dan chargernya. Tapi ranselnya sudah keburu saya turunkan sendiri dan saya letakkan di bangku “Ooh …lumayan baik hati juga dia rupanya” pikir saya.

Saya mencangklongkan ransel saya di punggung dan bersiap-siap mau jalan. Tiba-tiba gerakan saya ditahan pria itu. “This is my backpack!” katanya ke saya. Lho??.

Saya memandang ransel yang saya pegang baik-baik. Warnanya hijau tua. Masak sih ransel ini milik dia?. Bukannya punya saya ya?. Saya memandangnya lebih dekat lagi. Sejujurnya saya juga mulai ragu. Karena ransel yang saya bawa adalah milik anak saya. Sehingga saya nggak ingat pasti detailnya. Lalu saya mendongak. Mencari cari apa ada ransel lain di atas. Oh..syukurlah. Agak ke dalam masih ada sebuah ransel lagi. Warnanya juga hijau. Oh…mungkin itu milik saya. Saya tarik dan benar. Itu memang ransel saya. Sayapun menoleh pada dia dan meminta maaf lalu melangkah pergi. Ia tersenyum ramah pada saya. Semoga hati baiknya memaafkan kesalahan saya.

Sambil berjalan keluar pesawat saya merenung. Sungguh aneh kejadian ini. Dua kali ia melakukan perbuatan yang tanpa sengaja mengganggu saya dan dua kali saya melakukan perbuatan yang tanpa sengaja mengganggunya. Seperti saling membayarkan, walaupun tanpa sengaja. Karmaphala Cicih. Lunas ya?. Impasss!.

Untungnya saat ia melakukan perbuatan yang mengganggu, saya tidak terlalu mempermasalahkannya. Segera memaklumi dan memaafkan. Sehingga saat saya berbuat kesalahan tanpa sengaja, iapun tidak terlalu mempermasalahkan saya.

Sesungguhnya kita manusia tidaklah luput dari kesalahan setiap hari. Ketika ada orang lain berbuat kesalahan yang mengganggu kita, hendaklah kita segera memaklumi, memaafkan dan mengikhlaskan. Karena kita tak pernah tahu kapan kita melakukan kesalahan yang mungkin mengganggu orang lain.

Kesalahan Membeli Ticket Pesawat Online.

Standard

Bandara Ngurah Rai Denpasar.

Akhir pekan yang lalu saya pulang kampung ke Bali. Karena kesibukan, saya lupa jika saya belum sempat membeli ticket balik ke Jakarta. Hari Sabtu malam, adik bungsu saya bertanya, kapan saya mau balik ke Jakarta? Dan mengingatkan saya untuk membeli ticket agar harga tidak menjadi semakin mahal akibat waktu pembelian yang semakin mepet. Juga agar tidak keburu kehabisan ticket. Oh ya!.

Rencananya saya akan membeli secara on-line malam ini. Tapi hape lagi dicharge. “Sebentar lagi aja. Habis dicharge” kata saya. Adik saya lalu nyelonong ke kamarnya. Saya melanjutkan ngobrol dengan adik saya yang nomer tiga. Sebentar kemudian mata saya mulai terasa ngantuk, sayapun tertidur.

Jam 00 lewat 10 menit saya terbangun. Astaga!!. Saya belum beli ticket. Buru -buru saya mengambil hape saya.

Sambil ngantuk-ngantuk saya melakukan browsing di Skyscanner terlebih dahulu. Saya ingin mendapatkan ticket murah dari Denpasar ke Jakarta pada sekitar pukul 19.30 malam. Biar nggak terburu buru dan saya bisa lebih lama di rumah.

Saya mendapatkan calon ticket dari maskapai penerbangan Lion dari Denpasar ke Jakarta pada jam yang saya inginkan lewat Nusa Trip. Harganya 1 juta 400 ribuan. Ini oke lah. Lumayan murah dibanding Garuda. Setelah mengisi data data yang lengkap saya memproses pembayaran dengan kartu kredit. Jaringan berputar-putar dan tiba-tiba Ops!. Ticket sudah terjual habis.

Aduuh. Kecewa saya. Saya menyesali diri. Mengapa tadi saya tidak mendengarkan kata-kata adik saya agar membeli ticket lebih awal. Sekarang saya harus mengulang lagi melakukan browsing. Mencari jam penerbangan lain atau maskapai lain. Padahal mata saya masih terasa ngantuk.

Ooh… tapi ini tiba-tiba muncul suggestion untuk memilih penerbangan lain dari Tiket.com. Pop up di layar hape saya. Ada 2 suggestion. Yang pertama langsung menarik perhatian saya. Lion jam 19.45 dan harganya 840 ribuan. Lebih murah lagi. Aha!. Ini harga yang bagus dan jam yang bagus. Mengapa tidak nongol dari tadi aj ya?. Lalu sayapun meng-click pilihan penerbangan itu. Prosesnya cepat dan saya langsung membayar. Tidak seperti tadi. Done!. Selesai sudah 👏👏👏. Lega hati saya.

Karena masih terasa ngantuk, saya berbaring lagi sambil menunggu kiriman ticket lewat e-mail. Tak berapa lama akhirnya e-mail masuk. Konfirmasi ticket. Saya buka attachment-nya untuk memastikan ticketnya benar.

Astaga!!!!!. Ticketnya salah!. Route penerbangannya terbalik. Dari Jakarta ke Denpasar. Bukan dari Denpasar ke Jakarta seperti yang seharusnya. Waduuuuh…. ticket ini nggak bisa saya pakai. Bagaimana cara saya terbang dari Jakarta , padahal saya sedang ada di Bali???.

Seketika saya melek. Hilang ngantuk saya. Mengapa bisa begini ya????. Saya mencoba menelusuri kesalahannya. Karena jelas-jelas tadi saya mengetik tujuan Jakarta dari Denpasar. Kok bisa berubah?. Sedih sekali hati saya. Karena keteledoran saya duit 840 ribuan melayang begitu saja. Saya merasa berdosa karena sudah menghambur -hamburkan uang begitu saja. Padahal jika saya sedikit saja lebih berhati-hati, mungkin uang itu bisa saya manfaatkan untuk saya sendiri ataupun untuk kebutuhan orang-orang yang saya cintai.

Akhirnya saya menghubungi pihak Tiket.com, untuk membatalkan dan merefund ticket. Saya diberitahu bahwa tiket bisa dicancel, tapi maximum refund hanya 50%. Secara umum sih pelayanannya cepat dan baik. Cuma ya itu….. refundnya itu kok cuma 50% ya?. Sayang saja uang saya melayang 420 ribu hanya dalam hitungan menit akibat kesalahan saya sendiri.

Setelah itu saya mengulang membeli tiket lagi yang benar. Dapat tiket dengan harga yang lebih mahal dan jam yang lebih awal. Apa boleh buat.

Pelajaran yang saya petik adalah:

1/. Jangan pernah membeli ticket online di tengah malam, saat kondisi mata mengantuk. Karena dalam keadaan mengantuk, tingkat ketelitian kita menurun.

2/. Selalu lakukan pemeriksaan 2 x terhadap data data dan informasi tentang tiket yang kita beli (rute penerbangan, tanggal penerbangan, data penumpang, alamat email, harga, biaya yang dicover termasuk apa saja i.e bagasi, meals dst) sebelum membayar.

3/. Berhati -hati terhadap Pop-Up Promo ataupun informasi yang muncul di tengah proses booking. Pastikan baca informasi dengan baik dan detail termasuk tanggal penerbangan dan rute penerbangan. Jangan tergiur oleh harga murah saja.

Saya rasa, saya bermasalah di sini karena berasumsi bahwa rute penerbangan yang ditawarkan adalah sama dengan yang saya ketik sebelumnya. Padahal yang ditawarkan oleh Tiket.com adalah rute peberbangan lain dengan harga yang lebih murah.

4/. Pesan tiket jauh jauh hari sebelumnya untuk memastikan ketersediaan tiket dan harga yang baik.

Pucuk Coccinia Liar Dari Lahan Terbengkalai.

Standard

Saya makan siang di sebuah warung makan di perumahan yang tak jauh dari kantor. Di sebelah warung itu ada halaman kosong yang terbengkalai dan tak terurus. Ada banyak rumput dan tanaman liar tumbuh di situ. Salah satunya adalah tanaman Coccinia grandis (Ivy Gourd) alias Papasan alias Timun Padang yang tumbuh sangat subur walau kemarau sangat panjang. Pucuk-pucuknya sangat banyak. Dan saya heran mengapa tidak ada yang memanfaatkan tanaman ini ?. Padahal pucuk tanaman ini sangat enak disayur. Selain juga memberikan fungsi pengobatan bagi penderira Diabetes, Hypertensi dan Gula Darah tinggi.

Tanaman ini mengandung kadar serat yang tinggi, Vitamins dan Besi.

Sebuah artikel di Diabetes Journal menjelaskan hasil research bahwa 1gram ekstrak tanaman ini yang diberikan setiap hari selama 90 hari, menunjukkan penurunan level glukosa darah sebesar 16% dibandingkan dengan mereka yang tidak diberikan ekstrak ini (placebo).

Akhirnya saya memberanikan diri bertanya kepada pemilik warung. Siapakah yang punya tanaman itu?. “Oooh… itu tanaman liar. Tumbuh sendiri. Nggak ada yang nanem dan pelihara. Malah mengganggu. Belum sempat dibersihkan”, jelas si Bapak.

Wah… kalau dianggap gulma pengganggu, apa boleh saya meminta pucuknya?. Bapak pemilik warung bilang “Ambil saja!. Ambil saja!” katanya sembari memberikan saya gunting untuk memanen pucuk- pucuknya. Saya merasa sangat kegirangan.

Dengan semangat saya pun memanen pucuk-pucuk tanaman Papasan itu. Waaah…luarbiasa!. Tanaman ini sungguh sangat subur. Pucuk mudanya sangat banyak. Saya hanya menggunting yang bagian atas atas saja yang agak jauh dari tanah.

Banyaaaak sekali dan segar segar. Tapi karena panas terik kemarau terasa memanggang, dan teman saya sudah menunggu saya untuk balik ke kantor, akhirnya saya menyudahi panen saya setelah mendapatkan pucuk daun secukupnya. Padahal sebenarnya masih banyak sekali yang bisa dipanen.

Tapi sebaiknya kita memang mengambil seperlunya saja dari alam. Jangan terlalu serakah juga. Cukup untuk sekali masak. Siapa tahu ada orang lain juga yang ingin memanfaatkan. Saya kemudian mengembalikan gunting dan berterimakasih kepada Bapak pemilik warung.

Pucuk daun ini bisa dimasak tumis ataupun direbus untuk lalapan.

Sampai dirumah saya bersihkan dan siapkan agar besok nggak perlu buang buang waktu lagi untuk membersihkan di pagi hari.

Jadi tinggal tumis dengan cepat. Yummy😋😋😋

Menguji Nyali di De Brokong: Ziplines Di Atas Hamparan Sawah Hijau.

Standard
Menguji Nyali di De Brokong: Ziplines Di Atas Hamparan Sawah Hijau.

Berada di rumah untuk urusan adat dan upacara yang super padat, membuat anak saya bertanya. “Kapan kita main, Ma?. Kan sudah di Bali???”. Whuala anakku……, pikirannya kalau ke Bali cuma liburan. Kita ini pulang kampung. Untuk menghadiri upacara adat keluarga. Bukan liburan.

Anak saya tampak kecewa. Untunglah seorang teman akrab mengajak bermain ke DeBrokong. Tempat wisata baru di Bangli. Seketika wajahnya tampak bersemangat lagi.

Seusai upacara berangkatlah kami ke sana. Lokasinya ada di desa Bangbang, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli. Gampang sih mencarinya. Dari rumah saya sebenarnya sangat dekat. Cuma 15 menit.

Waaah…ternyata tempatnya asyik banget. Berada di kebun belakang dengan pemandangan sawah yang sangat indah. Hijau royo-royo. Di sana terbentang 5 Zip lines melintasi sawah kurang lebih berjarak 100 meter di atas ketinggian 7.5 meter hingga 9.5 meter.

Wahana Flying Fox tetapi dengan standard keamanan international. Waah…keren banget.

Terlihat ada sebuah anjungan di sana. Kelihatannya enak nih duduk-duduk di sini sambil ngopi.

Sementara saya memandang hamparan sawah sambil memperhatikan burung burung bangau yang terbang dan hinggap mencari makan di sawah, teman saya memesankan kopi dan Jaja Laklak (sejenis kue serabi dari tepung beras dengan topping kelapa parut dan disiram dengan gula merah cair yang rasanya sangat mantap). Jaja Laklak-nya sangat istimewa dan baru dibuat langsung. Jadi baru matang dan masih hangat. Enak banget. Sungguh. Selain itu teman saya juga memesankan kami Kacang Rebus. Whuesss… mantap banget buat teman nyantai dan nongkrong -nongkrong di sini.

Anak saya tidak sabaran untuk bermain di Zip lines yang kelihatan sangat menantang itu.

Melihat antusiasnya, I Dewa Gede Ngurah Widnyana, sang pengelola De Brokong pun tidak segan untuk turun tangan memberikan Safety Brief dan Teknik bermain yang benar pada anak saya. Saya ikut mendengarkan. Sangat detail dan hati hati di setiap tindakan yang diambil. Berkali-kali ia mengingatkan kepada anak saya agar selalu Focus dan Disiplin. Seketika saya paham.

Bedanya De Brokong dengan wisata outbond lokal yang punya flying fox lain adalah dari International Safety procedurenya yang diimplementasikan dengan sangat baik. Itu yang membuat saya sebagai orang tua merasa tenang akan keselamatan anak saya jika bermain di situ.

Menggelayut di Ziplines.

Ini adalah wahana yang paling menarik perhatian anak saya sejak pertama. Sekarang ia mulai memasang perangkat keamanannya. Dengan instruksi yang sangat jelas dari Dewa Gede.

Tapi ini di ketinggian dan anak saya akan meluncur di tali itu. Saya merasa sangat deg-degan. Nyaris nggak berani melihat. Hanya bisa berdoa untuk keselamatan anak saya. Melihat perangkat keamanan dan prosedurnya, akhirnya hati saya tenang kembali. Saya mulai bisa mengambil posisi untuk memotret anak saya.

Ia kelihatan tenang memindahkan cangklingannya dan menggenggam puley lalu…. zwiiiiiing…..ia pun meluncur di udara bebas. Oooh….. Tampak ia sangat menikmati perjalanan udaranya menuju tower di seberang dengan mulus. Ia pun mendarat dengan sukses di tower berbendera merah putih itu.

Setelah menikmati pemandangan sejenak dari tower di seberang, berikutnya anak saya kembali ke pangkalan dengan zipline yang berbeda.

Menurut teman saya, semua zipline akan landing dengan sempurna karena semua konstruksi dan pemasangan sudah menggunakan perhitungan fisika yakni derajat kemiringan dan mengandalkan grafitasi. Dengan demikian zipline sangat ramah lingkungan tanpa perlu bantuan daya listrik dan mesin penggerak. He he…benar juga ya.

Lalu bagaimana jika ternyata, entah karena gerakan kita yang salah ataupun penyebab lain kita nyangkut di tengah- tengah?. Tidak maju dan tidak mundur pula?. Jangan khawatir. Nanti akan ada petugas yang akan menjemput. Waah… keren ya.

Saya melanjutkan minum kopi, sementara anak saya masih terus ingin bermain…

Spirit of Wipro Run 2019 – Indonesia. Further Together.

Standard

Musim berlari telah datang!.

Bersamaan dengan lebih dari 50 negara lain di dunia, Spirit of Wipro Run diselenggarakan kembali Minggu pagi tanggal 22 September ini. Di Indonesia, pelaksanaannya di lakukan di Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta dan di Salatiga.

Nah, saya hadir di Ancol, dimana lokasi Start dan Finishnya itu dilakukan di area Pasar Seni lalu keluar menyusuri pantai dan kembali lagi sejauh 5 km.

Seperti biasa acara dimulai dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya (saya sangat suka bagian yang ini – setidaknya mengingatkan kita semua akan tanah air kita Indonesia tercinta ini), dilanjutkan dengan sambutan dari Chief Executive Wipro Unza Indonesia, Mr Amit Dawn, lalu sedikit pemanasan sebelum berlari.

Yang saya suka dari kegiatan Spirit of Wipro Run ini adalah kebersamaannya. Kami bertemu dengan teman -teman sesama karyawan dan keluarganya. Saling mengenal satu sama lain. Dan yang paling penting lagi adalah memperkenalkan kepada anak -anak di perusahaan mana orang tuanya bekerja.

Seperti tahun -tahun sebelumnya, Spirit of Wipro Run menggunakan thema yang berbeda-beda tergantung agenda yang sedang di-push oleh group Wipro. Tahun ini thema yang digunakan adalah “Further Together”, di mana Wipro Group mendorong karyawannya untuk bekerjasama dengan lebih erat lagi dalam melakukan usaha-usaha untuk mencapai kesuksesan dalam menerapkan value dari perusahaan yang disebut dengan Spirit of Wipro:

1. Be passionate about client’s success.

Wipro mengharapkan agar semua karyawan menunjukkan usaha, upaya dan semangatnya dalam membangun kesuksesan pelanggan. Karena kesuksesan pelanggan adalah kesuksesan kita.

2. Treat each person with respect.

Wipro mengharapkan agar semua karyawan menghargai dan menghormati orang lain, terlepas dari jabatannya, usianya,gendernya, suku bangsanya, agamanya, strata ekonomi dan sosialnya, dan sebagainya. Setisp orang harus diperlakukan sama.

3. Be global and responsible.

Wipro juga berharap agar setiap karyawan berpandangan luas dan global serta bertanggungjawab terhadap perkataan dan perbuatannya.

4. Unyielding integrity in everything we do.

Terakhir Wipro juga meminta agar setiap karyawan berlaku jujur dan kukuh dalam memegang prinsip prinsip kejujuran dan moral yang tinggi.

Terus terang seiring dengan bertambahnya usia, saya tidak lagi bisa berlari kencang apalagi berharap menjadi pemenang. Kaki saya kram melulu jika dibawa lari. Jadi saya lebih banyak berjalan saja. Fun Walking 😀. Untungnya di perjalanan saya bertemu dengan Mbak Ika yang menemami saya sambil ngobrol.

Walaupun pake nyasar masuk ke garis finishnya, yang paling penting adalah kami berhasil melewati 3 Meet point yang ditetapkan tanpa melakukan kecurangan. Saya diberikan gelang berbeda warna sebagai bukti telah melewati titik titik itu.

Saya telah berlari

Bagi saya ini bukanlah soal menangnya, tapi bagaimana kita bisa berkomitmen melakukannya tanpa kecurangan dan tidak menyerah.

Saya dan Mbak Ika mengambil foto di setiap titik. Untuk mengenang bahwa kami telah berhasil melewatinya dengan baik.

Tetangga Sebelah Rumah.

Standard

Tetangga sebelahku merenovasi rumahnya. Dia hancur-hancurin itu tembok lamanya, termasuk tembok pemisah dengan rumahku. Akibatnya, rumahku jadi bocor-bocor”. Saya tercengang mendengar cerita teman saya itu. Sangat bisa membayangkan, karena tembok rumah di perumahan biasa, memang terkadang berbagi dengan tetangga. Jadi kalau tetangga mengetok – ngetok tembok kamarnya yang bersebelahan dengan kamar kita hingga hancur, bisa jadi tembok kamar kitapun ikut bolong 😀.

Memang agak pelik ini kalau menyangkut soal TMB (Tembok Milik Bersama 😀) dengan tetangga. Tetapi pengalaman saya dengan tetangga sebelah saya, biasanya kami saling memberi tahu (sekalian minta ijin) jika salah satu melakukan pekerjaan ketok-ketok. Bukan hanya karena harus berhati hati dengan TMB itu, juga karena suara ketak ketok dan gergaji bisa jadi mengganggu ketenteraman telinga tetangga. Belum lagi bahan bangunan yang mungkin malang melintang di jalanan depan rumah.

Emang tetangganya nggak bilang dulu?” Tanya saya. “Nggak. Dia juga ngerjainnya saat saya sedang di kantor. Pagi dan malamnya ia tidak di situ. Jadi saya tidak bisa complaint juga, karena orangnya tidak ada”, katanya.

Saya mengangguk-angguk, kasihan pada teman saya. Kok ada ya orang yang seperti itu?. Tetapi saya tidak bisa berbuat apa apa untuk menolong dia.

Itu adalah salah satu cerita tentang tetangga sebelah rumah yang pernah saya dengar.

Cerita lain, “Tetangga sebelah rumahku sangat sering meninggalkan anaknya di halaman rumahku dan ia langsung pergi begitu saja, dengan harapan Baby Sitter-nya anak aku yang mengurusnya sekalian dengan gratis. Kan ngeselin ya?. Mana perhatian Baby Sitter jadi nggak bisa full ke anakku. Selain itu nanti kalau terjadi apa apa dengan anaknya gimana? Siapa yang mau tanggung jawab?”.

Waduuuuh. Kok ada ya tetangga yang seperti itu? Saya sungguh heran.

Cerita lain lagi; Aku heran dengan tetangga saya. Dia punya garasi luas yang muat dua mobil, tapi anehnya setiap hari kedua mobilnya diparkir di punggir jalan depan rumah. Padahal jalannya sangat sempit. Dan garasinya yang luas itu dikosongin. Jadi aku kan sulit banget ya kalau mau masukin dan keluarin mobil dari garaseku, karena jalanan jadi makin sempit”.

Saya tertawa mendengar curhat teman saya ini. Antara kasihan, heran dan geli mengapa ya kok ada orang yang seperti itu?.

Mendengar cerita-cerita tentang tetangga sebelah rumah ini, saya jadi ikut ikutan latah. Berusaha mengingat-ingat bagaimana kelakuan tetangga sebelah rumah saya sendiri yang bisa saya jadikan bahan obrolan juga. Agak lama saya mikir, karena kelihatannya tidak ada kejadian-kejadian spektakuler yang cukup menarik untuk diceritakan. Saya terus mikir dan mengingat ingat. Tapi tetap tidak ketemu kejadian yang menarik untuk diceritakan tentang tetangga kiri kanan saya. Tidak ada tetangga yang berbakat jadi biang kerok.

Tetapi tiba tiba saya teringat sebuah kejadian….

Suatu hari pembantu rumah tangga saya melapor “Bu, tadi pagi saya ditegur oleh Ibu A (tetangga sebelah kiri rumah saya), itu pohon markisa kita terlalu rimbun menjalar hingga ke dinding dan atap rumah ibu A. Takutnya ular Bu”. Oooh… Iya. Bener juga. Saya terlalu sibuk belakangan ini hingga lupa berbersih dan memangkas tanaman. “Baiklah. Besok Minggu kita bersihkan dan pangkas pohonnya”. Kata saya.

Bulan berikutnya, lagi-lagi si Mbak melapor “Bu, tadi pagi saya ngobrol dengan Ibu B (tetangga sebelah kanan rumah saya), itu pohon timun padangnya menjalar ke rumah sebelah. Buahnya yang sudah tua banyak betjatuhan ke halaman rumah ibu B. Jadi capek katanya membersihkan setiap hari. Boleh dipotongin nggak Bu?” Tanyanya. Waduuuuh… Jadi nggak enak sama tetanggga ini. Sudah lama saya tak sempat mengurus tanaman ini hingga mengganggu tetangga.

Mengingat dua kejadian itu, saya merasa perut saya agak mual. Hulu hati saya enek.

Jadi, jika teman saya bercerita tentang kelakuan tetangganya yang aneh aneh dan mengganggu ketertiban, maka di perumahan saya ini justru sayalah yang menjadi biang kerok pengganggu ketertiban kehidupan bertetangga.

Whuaaa 😢😢😭.

Saya membayangkan jika dua orang tetangga kiri kanan saya ini bercerita ke teman temannya, kemungkinan bunyinya akan begini “Saya heran deh dengan tetangga sebelah saya. Dia hobby banget sama tanaman, hingga tanamannya merambat ke tembok dan genteng rumah saya, bikin kotor dan capek membersihkannya. Belum lagi takut ular. Anehnya dia kok seperti tak peduli dan tidak mau memangkasnya secara berkala. Heran saya kok ada orang yang seperti itu ya?“.

Astaga!!!. Ternyata tetangga pembuat masalah itu adalah saya sendiri 😫.

Ada gunanya juga teman saya curcol tentang kelakuan tetangganya, sehingga saya bisa interospeksi diri saya sendiri.