Tips Ibu Bekerja: Membuat Stock Lumpia Beku.

Standard
Tips Ibu Bekerja: Membuat Stock Lumpia Beku.

Sebagai seorang ibu, tak semua dari kita beruntung bisa mengurus anak-anak dengan exclusive di rumah. Banyak juga yang terpaksa harus bekerja meninggalkan anak di rumah. Pemecahannya, kebanyakan orang merekrut asistent rumah tangga yang handal untuk menangani urusan domestik termasuk memasak.

Tapi sayangnya hidup tak selalu semudah itu. Terkadang asistent rumah tanggapun tak ada. Atau kadang kadang masakan si Mbsk nggak cocok dengan selera anak anak dan suami.

Lalu bagaimana?.Ya…harus meras otak ya. Bikin sendiri masakan yang disukai anak-anak.

Dalam keadaan seperti itu, saya butuh hal hal yang cepat dan praktis. Salah satu yang bisa dilakukan adalah membuat makanan beku yang bisa disimpan beberapa hari dan siap dimasak lagi jika dibutuhkan.

Nah..bagaimana kalau kita membuat stock Lumpia? Ini makanan cukup mudah dibuat dan bisa kita simpan beberapa hari dalam kondisi beku. Bikinnya tentu di hari libur. Sabtu atau Minggu sehingga bisa dimanfaatkan saat hari kerja.

Kali ini saya membuat stock Lumpia hingga 70 buah. Lumayan banyak ya. Jika sekali menggoreng menghabiskan 15-20 lumpia, maka stock ini cukuplah buat nambah nambah lauk ataupun cemilan selama hari kerja.

Lumpia Udang.

Yang dibutuhkan adalah Kulit lumpia, dada ayam, udang , wortel, daun kucai / daun bawang, seledri, bawang bombai, bawang putih, garam , merica, gula, minyak wijen, kecap inggris, telor ayam. Sedikit minyak untuk menumis.

Cara membuatnya:

1/. Cuci dada ayam dan udang hingga bersih, lalu cincang halus.

2/. Siapkan bumbu rajang halus : bawang bombai, bawang putih, daun bawang /kucai, seledri. Parut wortel.

3/. Tumis ayam dan udang cincang dengan bumbu yang sudah disiapkan halus. Gunakan api kecil.

4/. Tambahkan garam, gula, merica halus, kecap inggris, minyak wijen. Aduk hingga matang lalu angkat buat isian lumpia.

5/. Bentangkan kulit lumpia. Isi dengan adonan ayam dan udang pada salah satu ujungnya, lalu lipat dan gulung.

6/. Rekatkan ujung kulit lumpia dengan telor kocok atau putih telor.

7/. Tata dalam box makanan dan masukan ke dalam Freezer.

Ambil sesuai dengan kebutuhan. Tinggal goreng saja. Biasanya stock segitu habis dalam 3 -4 hari.

Lumayan kan? Irit waktu dan irit pengeluaran.

Advertisements

Bertemu Sang Penulis: Satria Mahardika.

Standard

Di hari ketibaan saya di Bali liburan kemarin, sahabat saya mengabarkan bahwa ada kemungkinan sastrawan Umbu Landu Paranggi akan ada di Puri Kilian, Bangli besok. Dan menyarankan saya juga datang ke Puri Kilian agar bisa bertemu, mengingat beberapa minggu sebelumnya Umbu ada menanyakan kabar saya. Saat itu saya sedang berada di Singapore dan untungnya dengan bantuan skype, saya dan Umbu sempat ngobrol juga. Nah sekarang, menurut sahabat saya, ada kesempatan bagi saya untuk benar-benar bisa bertemu langsung dengan beliau lagi di Puri Kilian. Tentu dengan senang hati saya akan datang.

Lalu teman saya juga mengabarkan bahwa jika mau, hari ini saya juga bisa bertemu dengan Satria Mahardika , sang penulis buku Merdeka Seratus Persen-Kapten TNI AAG Anom Muditha yang bukunya saya simak dan tulis di sini https://nimadesriandani.wordpress.com/2018/01/04/menyimak-buku-merdeka-100/

karena hari ini pun beliau ada di Puri Kilian. Wah…sungguh kabar yang baik. Saya mau ke Kilian sekarang kalau begitu. Selain tentunya karena saya juga sudah kangen dengan sahabat saya dan keluarga Puri Kilian.

Dengan senang hati sayapun ke Kilian membawa anak-anak dan keponakan. Sesampai di Kilian, saya disambut oleh Agung Karmadanarta, sahabat yang bagi saya sudah serupa dengan saudara sendiri. Agung Karmadanarta adalah salah seorang keponakan dari pahlawan AAG Anom Muditha. Sahabat saya ini adalah seorang pemusik yang pastinya sebuah kebetulan banget bagi anak-anak saya yang juga lagi getol banget belajar musik. Jadilah kesempatan ini digunakan oleh anak saya buat berguru. Mereka pun bermain gitar dan keyboard bergantian. Bahagia melihatnya.

Tak lama kemudian, seorang pria bertubuh kurus dengan rambut panjang yang digelung ke atas datang. Duduk dan menyalami saya. Ooh…rupanya beliau inilah sang penulis buku Merdeka Seratus Persen. Kami berbincang sesaat. Berkenalan dan menceritakan sedikit tentang diri kami. Penulis Satria Mahardika alias Saiful Anam ini adalah kelahiran Kroya ( Cilacap). Lalu ngobrol tentang buku. Rupanya buku Merdeka Seratus Persen adalah buku ketiga yang ditulis oleh Satria. Buku pertamanya adalah kumpulan puisi yang cukup tebal berjudul Suluk Mahardika. Wah… produjtif juga ya. Agak sulit untuk mengobrol panjang karenasambil ngobrol kami juga mendengarkan permainan musik Gung Karma dan anak saya. Sayang jika dilewatkan. Tiba tiba Satria Mahardika melemparkan ide. Bagaimana jika kita mengkolaborasikan puisi dengan musik?. Whua…. ide yang sangat bagus!. Satria Mahardika meminta saya membuka “any” halaman di buku Suluk Mahardika itu dan membacakan apapun puisi yang terpampang di halaman yang saya buka.

Sayapun membuka acak halaman buku yang tertutup itu dan mata saya tertumbuk pada puisi ” Satria Mahardika”. Saat itu saya belum ngeh kalau nama Sang Penulis adalah Satria Mahardika. Jadi sayapun membaca puisi itu tanpa ada link di pikiran saya kepada nama Sang Penulis. Belakangan; setelah pulang dari Puri Kilian saya baru terpikir akan hal itu πŸ˜€.

Membacakan puisi dadakan dan berkolaborasi dengan pemusik seperti itu rasanya beda banget. Semua terasa indah. Katrena sekarang, keindahan menjadi terasa berlipat ganda menembus dimensi lain dari panca indera kita.

Setelah itu giliran Satria Mahardika membacakan puisinya yang berjudul Aira. Tentu beda lah ya, jika sang penulis yang sekaligus membacakan sendiri karyanya. Bagai menyusur sebuah fragment perjalanan yang ia hapal betul kontur jalannya. Ia tahu di mana dan kapan harus menurun dan mendaki. Di mana harus berhenti sejenak untuk menarik nafas dan melihat view di sekitarnya untuk menikmati keseluruhan perjalanan dengan holistic. Tepuk tangan untuk Satria Mahardika. Keren ya!.

Di sini saya berhenti sejenak. Memandang anak anak dan para sahabat yang sedang menikmati keindahan yang sedang bergaung dalam jiwanya. Sebagaimana seorang mathematician menghayati keindahan angka-angka dan sang pelukis menghayati bias warna warna, demikianlah sang pemusik menghayati setiap tangga nada dan sang penyair menghayati keindahan setiap kata. Setiap element di alam semesta ini memiliki keindahan tersendiri bagi setiap orang yang mau dan berhasil menangkap esensinya dan menghayatinya.

Ah!. Bali memang tempat di mana seni tak pernah ada matinya. Terimakasih Satria Mahardika, Agung Karmadanarta, Agung Kartika Dewi, Agung Chocho dan anak anak keponakan yang mewujudkan keindahan kolaborasi ini. Liburan mendatang kita bertemu lagi yah..

Menyimak Buku Merdeka 100%.

Standard
Menyimak Buku Merdeka 100%.

Beberapa saat yang lalu, saya mendapatkan kiriman buku menarik dari Agung Karmadanarta, seorang sahabat saya. Buku itu berjudul”Merdeka Seratus Persen” tulisan dari Satria Mahardika. Bercerita tentang perjalanan hidup Kapten TNI AAG Anom Muditha, seorang pahlawan pejuang kemerdekaan yang gugur mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari tentara NICA yang ingin merebut kembali Indonesia.

Beliau adalah pahlawan yang saya ceritakan dalam tulisan saya sebelumnya yakni “Berkunjung Ke Tugu Pahlawan Penglipuran“.

Terus terang, walaupun nama pahlawan AAG Anom Muditha ini telah saya kenal sejak kecil, namun sesungguhnya saya baru tahu lebih banyak tentang beliau dari buku ini. Di mana rumahnya, siapa keluarganya, bagaimana perjalanan hidup beliau, dan sebagainya. Ternyata ada banyak sekali pengetahuan baru yang saya dapatkan dari buku ini.

Sangat salut pada penulisnya yang berhasil memaparkan perjalanan sang pahlawan dengan sedemikian detail dan komprehensif, membantu pembaca supaya mampu memahami lebih dalam. Juga memberi konteks yang jelas agar bisa mencerna nilai-nilai luhur seorang ksatria sejati yang tak segan menyabung nyawa demi membela negaranya.

Satria Mahardika dalam pengantarnya mengatakan bahwa beliau merampungkan buku ini dalam waktu 7 bulan, dengan bantuan team yang terdiri atas AAG Bagus Ardana, AA Anom Suartjana, AA Made Karmadanarta, dan AA Bagus Krisna Adipta W. Jika tidak ada tekad bersama yang kuat, tak terbayang bagi saya bagaimana caranya mengumpulkan semua detail informasi yang digunakan untuk membangun buku ini.

Salah satu yang sangat menarik adalah pernyataan AA Gde Bagus Ardana, adik kandung sang pahlawan, tentang tekadnya untuk menuliskan semua kejadian yang tersimpan dalam ingatan beliau dan termasuk informasi lain yang beliau dapatkan. Karena jika tidak, maka kisah perjuangan mempertahankan kemerdekaan ini yang memakan banyak korban akan tetap terkubur dan akhirnya lenyap ditelan jaman.

Bersyukurlah keinginan beliau itu akhirnya tercapai.

Buku yang terdiri atas 244 halaman ini, ditulis dalam 6 Bab, yang secara umum berjalan linear, walaupun saat dibutuhkan, cerita terkadang berjalan paralel.

Di awal buku ini, pembaca diperkenalkan dengan masa kecil Kapten Muditha, dengan orang tuanya, kakak dan adik-adiknya di Puri Kilian beserta kerabat lainnya. Sekilas pembaca juga bisa menangkap system pemerintahan yang berlaku pada masa itu, di mana Bangli dipimpin oleh seorang Regent, sementara ayah Kapten Muditha sendiri adalah seorang Punggawa Kota.

Dari sini kita bisa mengikuti pendidikan yang ditempuh Kapten Mudita mulai dari Holland Inlandsche School (HIS) di Klungkung , lalu ke Handles Vak School (HVS) di Surabaya, berlanjut ke Malangse Handle School (MHS) hingga kemudian menapak kariernya di bidang Militer.

Mula mula beliau menjadi tentara Koninklijk Nederlandch Indiesche Leger (KNIL) dengan pangkat Sersan Satu. Kemudian beliau menerima pendidikan militer Kaderschool di Magelang. Pada tahun 1942 ketika Jepang mulai masuk, beliau mulai diterjunkan ke medan tempur dan sempat menjadi tahanan militer di Cilacap setelah Belanda kalah dan menyerah.

Setelah beristirahat sejenak, beliau sempat menjadi Jumpo (Polisi Jepang) dan menjadi Pelatih Sekolah Polisi Jepang di Singaraja, namun kemudian berhenti karena sakit.

Setelah kesehatannya berangsur membaik, Kapten Muditha mulai aktif menjalankan dharma bhaktinya sebagai putra bangsa. Dengan gigih beliau membangun Badan Keamanan Rakyat daerah Bangli, mengkoordinir Markas Besar Dewan Perjuangan Rakyat Indonesia wilayah Bali Timur dan memimpin perang gerilya melawan NICA untuk mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Dari sini kemudian kisah gerilya mulai bergulir. Berbagai aktifitas latihan kemiliteran dan pembangunan kamp militer dilakukan. Mula mula untuk melawan tentara Jepang , kemudian sebagai bagian dari team pahlawan I Gusti Ngurah Rai, Kapten Muditha memimpin perjuangan wilayah Bali Timur melawan tentara NICA setelah Jepang kalah.

Pertempuran demi pertempuran terjadi secara gerilya. Mulai dari daerah Penulisan, hingga desa desa sekitar Gunung Agung bersama Gusti Ngurah Rai. Mereka berjuang dengan perlengkapan seadanya, makanan seadanya, menahan letih, haus dan lapar dengan hanya bermodalkan tekad yang bulat dan dukungan penduduk.

Sungguh, membaca perjuangan mereka yang demikian gigih, rasanya malu jika kita generasi penerusnya tidak mampu mengisi kemerdekaan ini dengan baik.

Bahkan setelah Letkol I Gusti Ngurah Rai gugur dalam pertempuran di Marga pada tanggal 20 November 1946, Kapten Muditha tetap berjuang. Beliau tetap bergerilya dan menata perjuangan dari Buleleng, lalu berpindah ke Bangli untuk melawan tentara NICA. Segala sesuatunya sangat sulit dan berkali kali harus menyamar, mengirim utusan dan mengatur ulang strategy sesuai dengan perkembangan situasi dan musuh. Hingga akhirnya beliaupun gugur di Penglipuran pada tanggal 20 November 1947. Tepat setahun sepeninggal I Gusti Ngurah Rai. Beliau telah menjalankan dharmanya sebagai seorang ksatria.

Merdeka Seratus Persen!” Adalah pekikan terakhir beliau sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir. Ibu pertiwi disirami darah salah satu putra terbaiknya. Darah putranya yang mengikrarkan kemerdekaan 100% bagi bangsanya.

Tulisan diakhiri dengan penjabaran makna dari pekikan Kapten Muditha tentang Merdeka 100% itu yang diulas dengan sangat baik oleh sang penulis. Merdeka 100% mempunyai makna yang sangat mendalam. Bisa diartikan sebagai sebuah kemuliaan yang terbangun utuh dalam kesatuan hidup, baik secara skala maupun niskala.

Sungguh sebuah buku perjuangan yang membukakan hati. Sangat layak untuk kita baca agar kita bisa lebih memahami makna perjuangan pahlawan kita, lebih menghargai apa arti kemerdekaan yang diwariskannya kepada kita.

Merdeka 100%, itulah cita cita beliau sebagai bangsa. Merdeka penuh. Merdeka untuk semuanya dan dengan totalitas. Yang artinya setiap anak bangsa ini semuanya merdeka tanpa kecuali. Mempunyai hak dan kewajiban yang sama, setara dan adil dengan yang lainnya, tanpa dikurangi haknya ataupun dilebihkan terlepas dari apapun suku, ras, agama dan golongannya.

Bukan berkebangsaan atas azas ego sendiri, yang lebih mengutamakan kepentingan pribadi maupun kaumnya sendiri ketimbang bangsa dan negaranya. Merasa diri lebih berhak atas tanah air ini melebihi suku lain, melebihi agama lain, melebihi golongan politik lain, dan sebagainya, sementara yang lain dianggap nge-kost.

Saya rasa bukan model berkebangsaan seperti itu yang dicita-citakan dan diperjuangkan oleh para pahlawan dan pendiri bangsa ini.

Sekali lagi, ini sebuah buku yang sangat baik untuk dibaca dan dijadikan referensi sejarah. Semoga kita bisa lebih menghargai petjuangan mereka. Dan mampu lebih baik lagi memaknai keIndonesiaan kita.

Berkunjung Ke Tugu Pahlawan Penglipuran.

Standard

Di ujung selatan desa adat Penglipuran, terdapat sebuah candi yang merupakan Tugu peringatan terhadap jasa pahlawan pejuang kemerdekaan yang dipimpin oleh Kapten TNI Anak Agung Gede Anom Muditha.

Walau gerimis turun dan saya tak membawa payung, saya menyempatkan diri berkunjung ke sana.

Saya merasa kunjungan saya ke sana kali ini penting, karena sebagai orang yang lahir dan besar di Bangli, tak banyak yang saya ingat tentang taman makam pahlawan ini. Walaupun dulu sering juga diajak oleh bapak/ ibu guru maupun kakak pembina pramuka ke sini. Jadi saya ingin merefresh kembali ingatan saya tentang tempat ini.

Selain itu, saya baru saja menerima kiriman buku tentang pahlawan Kapten TNI AAG Anom Muditha ini dari Anak Agung Made Karmadanarta, seorang sahabat saya yang merupakan keponakan dari sang pahlawan. Judulnya “Merdeka 100%” yang ditulis oleh Satria Mahardika. Terus terang karena kesibukan, saya belum sempat membacanya. Namun entah kenapa, hati saya terasa terpanggil untuk terlebih dahulu datang sendiri ke Tugu itu guna memberi penghormatan saya secara langsung kepada beliau. Setelah itu, saya akan membaca buku itu hingga selesai.

Demikianlah dalam gerimis saya berjalan ke sana. Segalanya masih tampak sama dengan ketika saya masih kecil. Saya masuk dari pintu gerbang di arah Selatan. Taman dengan tanah lapang dan Bale besar di sisi barat lapangan.

Di hulu lapangan terdapat candi bentar yang kecil, gerbang masuk ke dalam Tugu.

Di sebelahnya terdapat bangunan kecil di mana patung dada Kapten TNI AAG Anom Muditha ditempatkan. Baru kali ini saya memandang wajah beliau. Sangat gagah dan tenang.

Lalu saya menyusuri jalan setapak menuju pohon besar di sebelahnya. Di bawah tempat itu terdapat sebuah batu yang menurut catatan sejarah nerupakan tempat dimana darah sang pahlawan tumpah membasahi pertiwi dalam upayanya mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari tangan NICA yang ingin kembali menguasai Indonesia. Beliau tercatat gugur pada tanggal 20 November 1947.

Saya terdiam sebentar di sana. Mencoba membayangkan apa yang terjadi. Rasanya sangat teriris jika memikirkan betapa besarnya pengorbanan para pahlawan ini demi mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Sementara generasi berikutnya yang tak ikut berjuang sibuk memperebutkan kekuasaan dan kepentingan politik, pribadi dan golongannya, dengan mudahnya memecah belah masyarakat.

Merasa paling berpengaruh, paling berkuasa dan paling berhak menentukan nasib negeri ini. Sementara yang lain dianggap minoritas dan nge-kost. Tak terasa air mata saya mengambang.

Entah sebuah bentuk pengaduan ataukah jeritan keperihan hati melihat kondisi negeri saat ini yang carut marut diterpa isu politik dan agama yang berpotensi memecah belah bangsa. Saya yakin, bukan kondisi berkebangsaan yang intolerant seperti sekarang inilah yang dicita-citakan oleh para pahlawan kita dulu.

Saya memandang tugu tugu kecil para pahlawan yang berjajar rapi di sebelahnya. Hanya bisa berdoa yang terbaik untuk keselamatan bangsa.

Gerimis turun semakin deras. Sayapun bergegas pamit.

Liburan Di Bali: Penglipuran.

Standard
Liburan Di Bali: Penglipuran.

Jalan-jalan lagi. Mumpung masih libur. Kemana lagi? ” Ke mana saja, yang penting jalan” kata anak saya. O ya, kita ke Penglipuran saja ya. Selain tempatnya sangat dekat dari rumah (paling 10 menit), juga saya dikasih tahu jika hari itu adalah hari terakhir “Penglipuran Village Festival 2017”. Festival yang berlangsung selama 2 minggu ini dipenuhi dengan agenda kesenian yang padat, mulai lomba tari, barong, peragaan busana dan sebagainya. Juga ada pameran kerajinan. Wah…harus kita kunjungi ini.

Baiklah, kita jalan-jalan ke Penglipuran ya. Sebelumnya saya sudah pernah mengajak anak-anak ke sini. Tapi mungkin karena waktu itu mereka masih kecil-kecil, sudah agak lupa lagi. Karenanya, kembali saya mengulang sedikit cerita tentang keistimewaan desa ini dibanding desa-desa lainnya di Bali. Desa ini masih mempertahankan tradisi aslinya dengan relatif sangat kuat, termasuk arsitektur dan penataan ruangnya yang srjalan denfan konsep Tri Hita Karana, sehingga jika kira ingin melihat potret desa-desa di Bali jaman dulu, kurang lebih mirip seperti tampilan Desa Penglipuran inilah kira-kira.

Selain itu di desa Penglipuran juga terdapat Taman Makam Pahlawan pejuang yang mempertahankan kemerdekaan Indonesia hingga titik darah penghabisan.

Kami tiba di sana saat gerimis mereda. Matahari mulai menyembul malu malu. Membuat siang itu terasa cukup sejuk dan nyaman untuk jalan jalan.

Kali ini kami masuk dari bagian ujung atas desa. Baru tahu kalau di sini sekarang ada tempat parkir dan puntu masuk. Biasanya dari tengah. Lama tak pulang, jadi agak kurang update nihπŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€

Saya membayar ticket masuk untuk 6 orang. Pengunjung sangat ramai. Kebanyakan wisatawan domestik dan berbaur dengan beberapa wisatawan asing juga. Nah kalau begini sulit percaya bahwa letusan Gunung Agung membuat jumlah kunjungan ke Bali berkurang. Wong ramenya kayak gini…

Tapi logika saya tempat-tempat wisata yang kenyataannya kebanyakan berada di luar radius 12 km dari Gunung Agung harusnya memang tidak kena pengaruh sih. Kan jauh banget jaraknya dari Gunung Agung. Pastinya aman dari dampak letusan.

Saya menunggu spot jalanan yang sedikit kurang rame agar bisa merekam kerapian dan kecantikan desa ini.

Kami menuruni jalanan yang bertingkat. Melihat lihat rumah-rumah penduduk dan jalanan yang tertata rapi dan nyaris seragam.

Bersih dan permai sekali desa ini. Bunga-bunga beraneka warna bermekaran mengundang puluhan kupu-kupu berbagai jenis berdatangan. Desa yang indah seperti dalam taman. Kedamaian yang tercermin dari kehidupan penduduknya yang memang tentram dan damai. Inilah Pedesaan Bali.

Beberapa rumah terlihat memajang barang dagangan berupa minuman khas daerah Bangli, yakni Loloh Cemcem dan Loloh Bungan Teleng serta Kue Kelepon. Kangen akan Loloh Cemcem, sayapun membeli sebotol. Kebetulan haus juga.

Dari sana kami kemudian melihat-lihat pameran. Ada banyak stand di sana menawarkan berbagai rupa barang. Mulai dari perhiasan, gelang, kalung, keben, sandal, sabun, makanan, pakaian, dan sebagainya, hingga stand merk kendaraan pun ada. Anak saya yang kebetulan suka musik tiup, melihat ada suling bambu dijajakan juga di sana dengan harga yang sangat masuk akal. “Mau beli yang ini. Karena saya belum punya yang model begini” kata anak saya sambil membayar. Iapun mencoba suling barunya dengan penuh ingin tahu.

Saya sendiri dan kakak saya tertarik untuk melihat-lihat di sebuah stand buku. Anak saya yang besar menyusul. Ada banyak buku-buku yang sulit saya temukan di toko -toko buku di Jakarta. Whuah… borong buku sajalah kalau gitu. Mumpung lagi ada di Bali. Bagi saya ini harta yang lebih berharga. Dan saya selalu berpikir tak pernah merugi jika uang habis dibelikan buku. Gara gara beli buku banyak, pak pedagang yang hatinya senang lalu memberi kami potongan harga dan mengajak selfie πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€

Sebenarnya saya ingin membeli keben dan antri karena melihat pedagang yang cantik sedang melayani pembeli yang lain, tapi karena kemudian anak saya yang kecil berbisik lapar, saya jadi lupa deh mampir lagi ke sana.

Seorang kawan kakak saya yang bertemu di sana, mengajak kami mencoba Be Jair Nyatnyat, masakan khas Bangli dengan ikan mujair Danau Batur. Benar. Sungguh enak masakannya. Bumbunya pas.

Mantap deh. Sayang sekali kami tak sempat menonton pertunjukan ataupun lomba yang berlangsung di sana. Mudah-mudahan tahun depan saya bisa pulang lebih lama lagi dan bisa ikut menonton Penglipuran Village Festival 2018, mengingat ini adalah ajang budaya tahunan bagi Bangli.

Terlepas dari seberapa suksesnya ajang “Penglipuran Village Festival” ini (saya tidak punya informasinya), saya pikir ini adalah salah satu bentuk event yang sangat baik untuk memasarkan pariwisata Bangli, terutamanya jika kita bisa memanfaatkan media dan digital dengan baik dan mencari cara agar para netizen ikut bergabung men”generate” content pemasaran tentang Penglipuran.

Hanya satu pertanyaan saya dalam hati, mengapa festival ini ditutup tanggal 30 December ya? Mengapa tidak tanggal 3 Januari saja misalnya? Bukankah pada tanggal tanggal setelah tgl 30 December itu kunjungan wisatawan justru meningkat karena kita tahu banyak orang datang ke Bali untuk bertahun baruan? Tanggung amat yak?. Padahal dari sudut pandang pemasaran, sisa 4-5 hari itu adalah “low hanging fruits” yang sangat mudah dipetik.

Di dalam pikiran saya nih, ada dua pilihan waktu untuk mengoptimalkan kunjungan wisatawan ke Penglipuran Village Festival.

Pilihan pertama adalah “ride on” waktu liburan yang memang biasanya dibanjiri wisatawan. Misalnya liburan sekolah, atau liburan tahun baru. Jangan ditutup sebelum tanggal 3 Januari misalnya. Sehingga kita bisa mengalihkan kunjungan wisatawan ke Penglipuran dengan lebih banyak. Karena selain wisata biasa mereka juga bisa melihat festival tahunan di Penglipuran. Ini memberi nilai kunjungan plus plus bagi wisatawan.

Pilihan kedua, adalah justru memanfaatkan “low season”, di musim dimana jumlah kunjungan biasanya menurun. Manfaatkan Festival sebagai daya tarik extra untuk membuat Desa Penglipuran “always on” dari sudut pandang wisatawan.

Atau jika dua pilihan itu tidak cocok, sekalian saja deh diselenggarakannya dalam rangka Hari Pahlawan. Kalau yang ini tentu tidak optimal dari sisi bisnis, tapi tetap baik dari sisi kebangsaan.

Ah… ini hanya pikiran saya saja yang tidak tahu persis latar belakang dan pertimbangannya. Tapi saya percaya panitia dan pemerintah desa/daerah tentu sebelumnya telah memikirkan tentang waktu pelaksanaan ini dengan baik. Dan apapun itu, pokoknya saya sudah senanglah dapat berkunjung lagi ke Penglipuran.

Love you, Penglipuran!. Semoga Bangli makin sukses dari tahun ke tahun!.

I Ketut Mardjana dan Kesuksesan Toya Devasya.

Standard
I Ketut Mardjana dan Kesuksesan Toya Devasya.

The Man Behind The Gun!. Tentu istilah itu tidak asing bagi kita semua. Yap!. Orang bilang, sukses tidaknya sebuah karya, tergantung dari siapa orang yang berada di baliknya. Saya setuju sekali dengan itu, karena melihat kenyataan banyak sekali usaha yang tadinya biasa biasa saja, ketika ditangani oleh orang tertentu yang memiliki kemampuan managerial sangat tinggi, maka usaha itupun menjadi maju dan sukses.

Beruntung sekali saya mendapat kesempatan bertemu dan berbincang dengan Bapak Ketut Mardjana saat beberapa hari yang lalu saya dan anak-anak bermain ke Toya Devasya, salah satu obyek pariwisata yang sedang naik daun di tepi danau Batur, di Bali. Pak Ketut adalah orang yang berada di balik kesuksesan tempat pariwisata Natural Hot Spring di tepi danau Batur ini.

Sebetulnya Toya Devasya sendiri sudah cukup lama berdiri. Kalau saya tidak salah ingat, mungkin sudah lebih dari 10 tahun yang lalu. Akan tetapi, perkembangan pesat baru hanya terjadi 2 tahun belakangan ini saat Pak Ketut terjun langsung menanganinya sendiri, setelah beliau pensiun.

Beliau melakukan banyak sekali perombakan, memperbaiki konsep, membangun corporate culture, mempertajam cara pemasaran, memperkuat network dan terus berinovasi untuk memastikan kesuksesan Toya Devasya. Untuk saat sekarang, menurut Pak Ketut selama weekdays saja jumlah rata-rata kunjungan per hari ke Toya Devasya mencapai sekitar 500 orang, di mana setengahnya terdiri atas wisatawan domestik dan setengahnya wisatawan asing. Jika weekend atau musim liburan, kunjungan bisa meningkat dua kali lipat dari biasanya. Selama liburan menjelang akhir tahun ini, jumlah pengunjung bahkan mencapi 1500 an orang, dan pengunjung saat weekdays berkisar 500- 700 orang per hari.

Wah… lumayan banyak juga ya. Penasaran dong saya jadinya, bagaimana cara beliau mengelola usahanya ini.

Beliau dan istri menemani saya ngobrol tentang Toya Devasya sambil makan rujak pada sebuah senja yang indah di tepi danau Batur.

Toya Devasya sebagai sebuah brand.

Bagi seorang pebisnis, brand atau merk tentu merupakan aset utama yang harus ditangani dengan hati hati – bahkan namanya pun tetap harus dipikirkan dengan baik. Toya Devasya, sebagai sebuah brand pariwisata, diciptakan Pak Ketut dengan menyerap element yang membangun tempat wisata itu sendiri yakni air (Toya).

Dulu, di tempat di mana Toya Devasya sekarang berdiri, terdapat mata air suci panas yang diyakini penduduk sekitar sebagai anugerah Tuhan (Devasya) memberikan efek penyembuhan dan pengobatan berbagai penyakit bagi orang yang percaya dan memohon kesembuhan. Jadi Toya Devasya (namanya mirip bahasa Jepang – kata teman saya lho), artinya dalam bahasa Bali / Sanskerta adalah Air Anugerah Tuhan.

Saat ini pada kenyataannya, kolam renang /swimming pool dengan air panas dari mata air alami ini adalah penyumbang terbesar pemasukan tempat wisata ini. Walaupun pengunjung banyak juga yang datang untuk menikmati fasilitas lain seperti spa, villa, restaurant, camping, hiking dan sebagainya. Menurut Pak Ketut saat ini Toya Devasya telah memiliki 6 kolam renang air panas, satu diantaranya Olympic size. Dua diantaranya berada tepat di sebelah danau. Walaupun sudah ada 6, namun pengunjung tetap ramai dan Pak Ketut berencana menambahkan 2 kolam renang baru lagi. Jadi nantinya akan ada 8 kolam renang. Sebuah strategy yang sangat briliant dengan tetap berfokus pada wisata air yang merupakan “bread & butter”nya Toya Devasya.

Gajah di Toya Devasya dan Filosofinya.

Secara berseloroh saya bertanya kepada Pak Ketut, mengapa sih ada banyak gajah di mana mana di Toya Devasya?. Gajah duduk, gajah berdiri, gajah berbaring, gajah mina, dan sebagainya. Pokoknya semuanya gajah. Apakah ada alasan khusus?.

Pak Ketut tertawa waktu saya menanyakan ini. Tentu ada alasan khususnya.

Pertama, kata Pak Ketut, gajah adalah lambang dari Ganesha, manifestasi Tuhan Yang Maha Esa dalam fungsinya membebaskan manusia dari segala aral yang melintang.

Alasan lain, gajah memiliki kebaikan-kebaikan yang patut ditiru oleh manusia. Contohnya?

Gajah memiliki telinga yang lebar, mengajarkan kita untuk selalu mendengarkan dengan baik, apa apa saja kebutuhan konsumen, apa keluhannya dan sebagainya sehingga kita bisa memberikan produk atau jasa yang tepat sesuai dengan kebutuhan. Mulut gajah kecil, mengajarkan kita untuk tidak rakus. Mengambil seperlunya dan tetap menyisakan untuk yang lain. Gajah juga memiliki mata yang kecil dan tajam, mengajarkan kita untuk tetap fokus dan tidak ngawur. Gajah memiliki belalai yang panjang untuk menghirup air dan menyemprotkannya ke alam sekitar, mengajarkan manusia untuk hidup mencari rejeki bukan hanya untuk diri sendiri saja, tetapi juga agar berguna bagi orang orang dan masyarakat sekitar. Dan perut gendut gajah adalah lambang kesuksesan dan kebesaran, pak Ketut berharap semoga Toya Devasya bisa terus berkembang dan makin besar dari tahun ke tahun. Aiiiih… keren banget penjelasannya Pak Ketut ya.

Ungu adalah lambang spiritualitas.

Terus kalau warna ungunya ada penjelasannya juga nggak, Pak?. Ya!. Rupanya segala sesuatunya memang sudah dipikirkan oleh Pak Ketut sebelumnya. Warna ungu ternyata adalah warna spiritual. Orang Bali percaya, ungu adalah warna cakra yang terletak di ubun-ubun yang merupakan lokasi tertinggi pada tubuh manusia. Dan orang-orang yang memiliki warna aura ungu diyakini memiliki kemampuan spiritual yang tinggi. Jadi warna ungu dipilih oleh Pak Ketut bukan karena sebuah kebetulan.

Tempat Selfie di mana-mana.

Sebagai marketer yang peka, Pak Ketut sangat paham bahwa branding sangatlah penting. Beliau berhasil menangkap trend dan insight para netizen yang suka selfie dan mengupload foto ke media sosial. Pak Ketut memanfaatkannya untuk memperkuat branding Toya Devasya, dengan cara membangun pojok-pojok dan point point menarik untuk selfie. Dan…tentu saja super sukses!. Banyak sekali netizen yang mengupload foto selfie dengan latar belakang Toya Devasya seperti contoh foto di atas ke media sosial tanpa diminta. Jadi apa yang disebut oleh pak Ketut bahwa pasar sendirilah yang memasarkan Toya Devasya itu benar adanya. Sehingga tak heran jika sekarang Toya Devasya menjadi sangat memasyarakat. Terkenal baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

Ah….sungguh seorang praktisi pemegang brand yang sangat handal!. Saya jadi banyak belajar ilmu memasarkan dari beliau ini.

Corporate Culture.

Sayapun larut dalam pembicaraan yang semakin menarik tentang organisasi, networking dan pemasaran hingga tentang Corporate Culture dari Toya Devasya yaitu CINTA KASIH.

Rupanya “Cinta Kasih” adalah singkatan dari 10 hal yang dijadikan budaya untuk setiap orang di Toya Devasya.

C = Customer Focus. Karyawan dituntut agar selalu focus untuk memberikan pelayanan yang terbaik bagi konsumen. Memahami kebutuhan konsumen dan berupaya keras untuk memenuhinya.

I = Integrity. Setiap karyawan dituntut untuk mendemonstrasikan integritas yang tinggi bagi diri sendiri maupun organisasi. Jujur dan komit. Mengatakan dengan jujur apa yang dilakukan atau diketahui dan berkomitment tinggi untuk melakukan apa yang telah dijanjikan akan dilakukan.

N = Networking. Pak Ketut sangat memahami betapa pentingnya networking dalam kesuksesan sebuah usaha. Untuk itu beliau sangat rajin memperluas jaringan, mebangun hubungan baik dan memanfaatkan jaringan yang ada sebagai perpanjangan tangan pemasaran.

T = Teamwork. Tan hana wong sakti sinunggal” kata Pak Ketut Mardjana. Saya terdiam sejenak. Tapi bener!. Tak ada orang yang bisa hebat sendiri tanpa bantuan orang lain. Kita tak bisa bekerja sendiri. Harus saling bahu membahu dan bekerja sama untuk mencapai kesuksesan bersana.

A = Accountable. Pak Ketut juga mengharapkan agar setiap orang dalam organisasinya bisa diandalkan dan bertanggungjawab atas pekerjaannya.

K= Knowledge. Karyawan diharapkan selalu mengasah diri, meningkatkan pengetahuan dan skillsnya.

A= Adaptive. Perubahan dunia yang sangat cepat juga menuntut karyawan untuk selalu mampu beradaptasi dengan setiap perubahan.

S = Spiritual. Walaupun aktifitas nyata yang dilakukan adalah kegiatan wisata, nsmun Pak Ketut tak melupakan unsur spiritual di dalamnya. Bahkan tak segan Pak Ketut pun memugar mata air panas suci dan menyediakan tempat melukat (menyucikan diri) bagi umat yang memang mau datang ke sana untuk tujuan itu.

I = Innovative. Seperti halnya di kategori apapun, konsumen sangatlah gampang bosan dan selalu mencari sesuatu yang baru. Apalagi ya yang baru sekarang? Nah, untuk itu Pak Ketut juga memastikan Toya Devasya selalu hadir dengan sesuatu yang baru setiap saat. Mulai dari kolam renang, lalu merambah ke restaurant, terus berlanjut ke villa, jumlah kolampun nambah, lalu bikin coffee house, camping, spa dan terus dan terus. Jadi selalu saja ada yang baru di Toya Devasya sehingga konsumen tidak bosan untuk datang dan datang lagi.

H = Harmony. Pak Ketut juga memastikan bahwa semua hal yang dijalankan agar berjalan dalam keseimbangan. Baik secara internal di Toya Devasya, maupun dengan lingkungan sekitarnya.

Pembentukan corporate culture yang baik, akan membangun organisasi yang professional, cepat berkembang dan tahan banting walau dalam kondisi apapun.

Nah…lumayan banget kan. Duduk hanya sebentar di Toya Devasya, tetapi mendapat pelajaran yang sangat penting dari seorang marketer senior yang sudah proven kesuksesannya di berbagai organisasi.

Terimakasih ya Pak Ketut, atas sharingnya. Saya jadi banyak belajar nih dari Pak Ketut tentang organisasi. Semoga Toya Devasya semakin berkembang ya.

Selamat Tahun Baru 2018.

Standard
Selamat Tahun Baru 2018.

Selamat pagi teman- teman pembaca. Selamat Tahun Baru 2018!.

Tahun 2017 baru saja lewat. Tentu saja tahun itu memberi arti yang berbeda-beda bagi setiap orang. Ada yang menganggapnya sebagai tahun yang penuh dengan hal-hal baru yang menyenangkan, tahun tahun yang penuh dengan kebahagiaan dan kesuksesan, atau mungkin juga ada yang menganggap tahun 2017 adalah tahun yang penuh dengan kedukaan dan sebagainya.

Bagi saya sendiri, setelah saya tengok ke belakang, tahun 2017 adalah tahun yang paling kurang produktif. Baik secara pribadi maupun dalam aspek kehidupan saya yang lainnya. Tahun di mana saya hanya menghasilkan sedikit karya yang memuaskan hati saya.

Salah satu contohnya adalah dalam dunia blogging. Jumlah tulisan saya tahun ini sungguh turun drastis. Hanya 49 buah dalam setahun. Sebagai pembanding saya ambil tahun lain secara acak – misalnya tahun 2012, saya menghasilkan 201 tulisan dalam setahun!. Nah, bayangkan betapa kurang produktifnya saya di tahun 2017 lalu. Seperempat dari tahun 2012 pun tak ada. Sungguh terlalu!.

Contoh lain adalah dalam hal per”dapur hidup” an. Kegiatan saya dalam menanam kebutuhan dapur sehari-hari. Tahun 2017 ini panen saya sangat terbatas jika dibandingkan tahun sebelumnya. Terang saja, karena kegiatan menanam agak berkurang. Lho…kenapa bisa begitu ya?

Alasannya tentu banyak. Semua alasan bisa kita cari sebagai bentuk pembenaran atas kekurang berhasilan kita. Yang paling mudah adalah menyalahkan kondisi ekonomi di tahun 2017 yang lagi sulit πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€, yang menyita perhatian dan waktu saya lebih banyak, sehingga saya tak punya banyak waktu untuk berpikir dan menghasilkan sesuatu. Kedengeran agak masuk akal nggak?. Ha ha..πŸ˜ƒ πŸ˜ƒπŸ˜ƒ

Terlepas dari apapun yang saya sebut sebagai penyebabnya, namun di dalam hati saya tetap mengakui bahwa seandainya saja saya sedikit lebih semangat dan lebih rajin mengerahkan pikiran, daya upaya dan usaha saya, tentu hasilnya akan menjadi lebih baik dari itu.

Nah lho?! Jadi kesimpulan sebenarnya adalah, segala bentuk kesuksesan ataupun kekurang suksesan, jika mau jujur sangat ditentukan oleh seberapa jauh kita meletakkan semangat dan upaya kita untuk mencapainya diatas segala situasi yang ada.

Hari ini tahun 2018 telah hadir. Saya rasa ada baiknya saya gunakan sebagai tonggak batu, tonggak titik balik yang memompa semangat hidup saya kembali agar bisa lebih produktif lagi berkali lipat dibanding tahun 2017.

Orang bilang, ucapan adalah doa. Dan doa akan selalu berhasil terbaik jika dibarengi dengan upaya yang sepadan juga.

Baiklah teman-teman semuanya, sekali lagi Selamat Tahun Baru 2028. Semoga di tahun 2018 ini kita semua menjadi lebih produktif dan lebih sukses.

Liburan Di Bali: Toya Devasya.

Standard
Liburan Di Bali: Toya Devasya.

Jika pulang ke Bali, biasanya saya hanya tinggal di rumah orang tua saya saja di Bangli. Rumah masa kecil yang selalu memberi rasa nyaman. Sesekali saya juga mampir ke rumah ibu saya di Banjar Pande atau ke rumah kakek saya di tepi danau Batur, atau bertemu keluarga ataupun teman yang ngajak saya mampir ke rumahnya. Sangat jarang kami pergi ke tempat wisata. Sebagai akibat, anak-anak saya tidak begitu nyambung jika teman-temannya bercerita tentang tempat- tempat wisata di Bali. “Rumah di Bali kok nggak tahu tempat wisata di Bali?”. Ya…karena kalau di Bali biasanya cuma di rumah saja.

Liburan kali ini saya mengajak anak anak jalan-jalan. Ke mana sajalah, termasuk salah satunya ke Toya Devasya, salah satu tempat wisata air panas di tepi danau Batur di Kintamani. Natural Hotspring!.

Toya Devasya ini bisa kita tempuh kurang lebih dalam 1.5 jam dari Denpasar. Arahnya ke utara, ke Kintamani. Naik teruuus… hingga kita tiba di Penelokan, di tepi kaldera gunung raksasa purba.

Penelokan. Sesuai namanya Penelokan (asal kata dari ” delok” artinya lihat/ tengok; Penelokan = tempat melihat pemandangan), dari sini kita bisa memandang ke dalam kaldera yang di dalamnya terdapat danau Batur dan Gunung Batur yang sungguh sangat indah.

Nah dari sana itu kita menuruni jalan yang ada menuju tepi danau. Tiba di desa Kedisan, kita berbelok ke kiri. Kembali menyusuri jalan sambil melihat-lihat pemandangan yang luar biasa indahnya. Di kanan adalah danau biru dan bukit bukit yang menghijau. Lalu di sebelah kiri, gunung Batur dengan landscape batu batu lahar gunung berapi. Kira kira limabelas menit perjalanan, tibalah kita di Toya Bungkah, nama tempat di mana Toya Devasya ini berlokasi.

Walaupun sudah agak sore, Toya Devasya tampak ramai. Parkiran hampir penuh dengan kendaraan tamu-tamu yang entah menginap, sekedar makan di restaurant ataupun berenang. Saya dan 5 orang anak keponakanpun masuk ke sana.

Anak-anak dan keponakan yang kecil segera berenang. Ada 6 buah kolam renang di sana. Besar dan kecil. Melihat kolam renang sebanyak itu dan semuanya ramai, saya pikir besar kemungkinan orang-orang datang ke sini memang untuk berwisata air.

Keponakan saya yang lain sibuk hunting foto dan bermain drone di dekat danau.

Saya sendiri dan anak saya yang besar, melihat-lihat pemandangan sekitar. Dari anjungan Kintamani Coffee Housenya saya bisa melihat danau luas yang menghampar berdinding bukit. Di atasnya awan awan putih menutup Gunung Agung di belakangnya. Angin danau berhembus sejuk. Sungguh tenang, damai dan permai di sini. Tempat yang nyaman untuk hanya sekedar menikmati senja, membaca buku, ngopi-ngopi hingga bermain drone.

Kompleks Toya Devasya ini kelihatannya cukup luas. Dan terakhir kali saya kesini barangkali telah lebih dari 5 tahun yang lalu. Jadi penasaran juga, ingin tahu ada fasilitas apa saja di tempat wisata yang lagi naik daun di Danau Batur ini.

Mengikuti rasa ingin tahu, saya dan anak sayapun turun dari anjungan kopi, melihat lihat berkeliling sambil nunggu anak-anak selesai berenang. Kaypooo lah dikit ya πŸ˜€

Persis di bawah anjungan, ada kolam renang yang rupanya lebih banyak diminati oleh wisatawan asing. Patung patung gajah segala rupa menghiasi areal ini termasuk kolam renangnya. Yang menarik adalah, diantara sekian kolam renang yang ada, dua diantaranya berada persis di tepi danau. Memungkinkan kita untuk menikmati pemandangan danau sambil berenang ataupun berendam di air panas.

Tak jauh dari sana saya melihat counter untuk snack dan barbeque. Wah…ini penting, karena biasanya habis berenang renang perut terasa lapar πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€. Tapi saya membayangkan tempat ini juga bakalan penting jika kita bikin acara bakar bakaran bersama teman teman ataupun keluarga. Misalnya pas acara malam tahun baru gitu.

Saya berjalan lagi. Rupanya bagi yang ingin menghabiskan malam di tempat indah ini, Toya Devasya juga menyediakan Villa -villa yang dilengkapi dengan private hotspring pool.

The Ayu Villa. Waduuuh… keren ya.

Saya ditawarkan untuk menginap. Dan anak-anak juga pengen banget. Tapi sayang, besok paginya kebetulan ada acara adat yang harus kami ikuti. Jadi kami tak bisa menginap. Lain kali deh. Mudah-mudahan suatu saat saya bisa menginap di sana.

Disisi barat tak jauh dari kolam renang, saya melihat ruangan restaurant yang juga dilengkapi degan fasilitas untuk ruang meeting dan bahkan panggung indoor.

Selain berenang dan menginap, Toya Devasya juga dilengkapi tempat melakukan Yoga dan Spa yang berfokus pada methode Ayurveda dengan menggunakan bahan-bahan alam. Saya sempat melongokkan kepala saya ke sana. Ada beberapa kamar therapy yang kelihatannya nyaman juga.

Tempat ini rupanya luas juga. Saya melihat ada tempat khusus untuk camping dengan tenda tenda yang disediakan (lupa motret). Saya membayangkan malam tahun baru yang seru di tempat ini. Lalu ada anjungan untuk olah raga air di danau seperti kayaking ataupun tour di danau.

Ada panggung terbuka di sana, yang biasa dipakai untuk pertunjukan pada malam malam istimewa.

Nah…tibalah kami di spot foto yang paling sering saya lihat diupload oleh orang-orang di sosmed. Saya tentu tak mau ketinggalan. Lalu ikut-ikut berphoto di sana. Sebetulnya ada beberapa photo yang diambil sih. Sayangnya sudah terlalu sore dan langit mulai redup. Jadi hasil fotonya tak ada yang bagus he he πŸ˜€.

Matahari terbenam. Malampun tiba. Pak Ketut Mardjana, sang pemilik Toya Devasya beserta istri, mengajak kami makan malam bersama di anjungan Coffee Shop.

Hidangan khas Kintamani yang selalu ngangenin. Ikan Mujair Nyatnyat, Telor Goreng Crispy, Kacang Tanah Goreng, Soup Ikan Kecut… wah…mantap sekali. Makanannya sangat enak. Semua makan dengan lahap. Apalagi anak-anak yang baru habis berenang.

Malam semakin larut, kamipun pamit membawa kenangan indah akan tepi danau Batur dan Toya Devasya.

Terimaksih banyak Pak Ketut dan ibu atas keramahannya. Lain kali kami berkunjung lagi😊.

Ticket Pulang Kampung.

Standard

Liburan akhir tahun tiba. Saatnya melupakan kesibukan ibukota dan kembali menikmati kehidupan pribadi. Pulang kampunglah ya. Habis mau ke mana lagi?. Nggak ada tempat yang lebih nyaman dari yang namanya rumah.

Musim liburan begini, biasanya memberi kesulitan bagi saya untuk pulang kampung ke Bali. Harga ticket pesawat menuju Bali biasanya melambung tinggi nggak kira kira. Padahal nyari waktu bersama anak-anak di luar liburan sekolah juga susah.

Tapi menurut berita, liburan kali ini diperkirakan jumlah wisatawan yang berkunjung ke Bali menurun akibat Gunung Agung meletus. Berarti ticket pesawat ke Bali mungkin akan melimpah ya, karena tak bakalan banyak yang beli dan harganyapun pasti murah.

Jadi, minggu terakhir kerja, saya belum membeli ticket juga. Agak santai karena saya pikir masih akan ada banyak sisa ticket pesawat ke Bali, selain memang kesibukan kantor yang masih menyita waktu.

Hanya setelah mengintip banyak ticket penerbangan ke Denpasar mulai terjual dan harganya yang makin melambung naik, saya mulai panik. Harga ticket Garuda per sekali jalan hanya Jakarta -Denpasar (bukan bolak balik lho!)/orang, mulai merangkak menuju ke angka Rp 4 juta rupiah! Gile!. Mahal kaleeee!. 3-4 kali lipat harga normal. Rupanya karena tinggal itu satu-satunya penerbangan Garuda yang ticketnya masih tersedia ke Bali untuk tanggal itu. Ticketnya sudah pada habis.

Sementara ticket dari maskapai lain juga sudah pada habis. He he…kirain kali ini penerbangan ke Bali sepi. Ternyata habis ludes. Yang tersisa tinggal 2 penerbangan lagi dengan seat terbatas. Dan harganya, walau tak semahal Garuda namun tetap membuat kantong meneteskan air mata duka 😒😒😒.

Jadi sama aja ya. Ada Gunung meletus ataupun tidak, tetap saja ticket pesawat laris manis dan yang tersisa hanya yang mahal mahal saja.

Akhirnya saya berhasil membeli 3 ticket, untuk saya dan 2 orang anak saya. Rencananya nanti, setiba di Bali, kakak saya yang akan menjemput di bandara. Kebetulan, keponakan saya juga berencana pulang pada malam yang sama dan telah membeli ticket dari maskapai penerbangan lain. Jadwal penerbangannya lebih awal sejam dari jadwal saya. Jadi sekalianlah kakak saya jemput anak, adik dan keponakannya.

Pada hari H, saya berangkat ke Cengkareng lebih awal. Hujan hujan. Biasanya jalanan macet. Lebih baik berangkat lebih cepat daripada telat. Tiba tiba keponakan saya menelpon mengatakan supir taksinya nggak bawa e-toll card, sementara tak bisa bayar cash. Jadinya mereka muter jalan dan besar kemungkinan telat.Alhasil keponakan saya telat tiba di bandara. Dan ketinggalan pesawat!. Eaduuh! Saya langsung dekdekan. Karena kemarin saja jumlah ticket yang tersisa sudah terbatas. Apalagi sekarang.

Mencoba mempropose penerbangan berikutnya ke petugas di bandara ternyata sudah habis. Coba balik lagi ke toko online yang menjual ticket, ternyata penerbangan memang sudah habis semua.

Lalu saya coba ke counter maskapai penerbangan lain di bandara. Siapa tahu masih ada ticket yang tersisa atau ada orang yang membatalkan penerbangan ke Denpasar.

Ternyata habis semua juga!. Tak ada satupun yang tersisa.Bahkan yang super mahalpun sudah habis.

Jika mau, ditawarkan penerbangan ke kota lain. Ooh!. Tapi kami kan bukan mau berwisata, kami mau pulang kampung. Jadi tak bisa pindah tujuan ke kota lain. Karena kampungnya tidak bisa dipindahkan.

Malam itu saya dan 2 anak saya pulang. Sementara keponakan saya terpaksa menginap di bandara untuk menunggu penerbangan yang tersedia esok siangnya.

Apa daya !.

Siapa Yang Menabur Benih.

Standard

Musim hujan, membuat keriaan baru di alam sekitar. Pohon -pohon tumbuh subur dan biji-biji bersemaian di tanah. Demikianlah tiba-tiba saya mendapatkan banyak anakan bayam di halaman. Tumbuh di pot-pot dan tanah di sekitar tempat saya duluuuu bangeeeet pernah menanam bayam.

Rupanya ketika bayam itu menua, ia mulai berbunga dan berbuah. Biji bijinya jatuh ke tanah. Mereka tertidur di tanah hingga hujan membangunkannya kembali. Whua…senangnya dapat bibit gratisan πŸ˜€πŸ˜πŸ˜˜

Sayapun memindahkan bayam bayam itu ke pot dan ke bak hidroponik.

Kurang lebih tiga minggu kemudian, pohon-pohon bayam itu mulai membesar dan siap dipanen.

Saya senang dengan apa yang saya dapatkan. Bayam-bayam ini membuat saya merasa seperti mendapatkan durian runtuh. Tetutama karena saya sudah lama tidak menanam bayam, eeh…tiba-tiba nemu anakan bayam di sekitar tempat dulu saya pernah menanam bayam. Sungguh, saya tak pernah mengharapkan rejeki seperti ini menghampiri saya dengan mudah. Tak disangka, dari niat menanam bayam saat itu saja, saya mendapatkan hasil jangka panjang.

Ini mirip yang terjadi dengan hidup. Ketika kita berbuat baik kepada mahluk-mahluk di sekitar kita tanpa mengharapkan hasil apapun, tanpa disangka suatu saat kebaikan pun datang kepada kita dengan caranya sendiri, walaupun kita telah melupakannya. Itulah hukum Karma Pala. Segala sesuatu yang kita lakukan, baik ataupun buruk akan selalu ada hasilnya, entah jangka pendek ataupun jangka panjang .

Alam membuat catatan tentang baik buruknya perbuatan kita, dan kelak akan mengembalikannya kepada kita.

Jika kebaikan yang kita tanam kepada orang lain dan mahluk sekitar, baik pula yang akan kita tuai. Sebaliknya jika keburukan yang kita tanam kepada orang dan mahluk lain di sekitar, maka keburukan jugalah yang akan kita panen suatu saat nanti.

Saya sangat percaya akan hal ini.