Selamat Jalan, Penyair Agustina Thamrin.

Standard
Penyair Agustina Thamrin.

Hari ini saya mendapatkan berita duka kepergian sahabat saya, Penyair Agustina Thamrin ke alam baka. Walaupun saya tahu belakangan ini ia memang dirawat karena sakit, namun kepergiannya tetap saja tak mampu membendung tetes air mata saya.

Saya mengenalnya tanpa sengaja, lewat timeline Facebook seorang sahabat, Penulis Ersa Sasmitha. Kami saling berkomentar dan saya menyukai tulisan tulisannya. Kamipun berteman. Saling mendukung dan memberi semangat.

Dari sana saya sedikit mengetahui dirinya, bahwa ia adalah seorang penyair Kalimantan Selatan yang memiliki latar belakang sebagai seorang instruktur vokal/ paduan suara. Karya karyanya terbit dalam beberapa buku tunggal dan antologi bersama karya penyair penyair lain.

Dan berikutnya juga saya tahu bahwa ia sudah punya cucu dari anak pertamanya. Sungguh seorang Oma yang masih tetap semangat dan enerjik.

Suatu kali di tahun 2017, ia mengundang saya untuk menghadiri pertemuan penyair di Loksado, Kalimantan Selatan yang melahirkan Antologi Puisi Hutan Tropis.

Lah…tapi saya ini bukan seorang penyair. Saya hanya seorang penyuka puisi. “Tapi kan dirimu ini penulis” katanya ditelpon. “Biar ada jua yang menulis tentang Meratus dan Rimba Kalimantan” lanjutnya lagi.”Pasti akan ada banyak sekali bahan tulisan menarik di Loksado” Saya jadi mikir mikir.

Saya tertarik dengan semangat wanita ini. Bersama rekannya Budi, ia ingin sekali mewujudkan forum Sastra Nasional terselenggara di banua. Dan ia benar benar serius mempersiapkannya.

Akhirnya pada bulan Mei 2017, saya meminta ijin cuti dari pekerjaan dan menemui Agustina Thamrin di Banjar. Ia menjemput saya di Bandara. Itu pertama kalinya kami bertemu. Saya mengenalinya dari kejauhan. Ia melambaikan tangsn. Sosoknya yang tinggi langsing, sangat mudah dikenali. Kamipun mengobrol dan ia mengajak kami sarapan Soto Banjar sebelum melanjutkan perjalanan ke Loksado.

Selama di Loksado, ia menemani hari hari kami dengan event event Sastra dan Seni yang sangat menarik. Juga mengajak kami berkunjung langsung ke kampung suku Dayak Meratus, berbincang dengan para tetua adat Meratus. Ia seorang yang sangat ramah dan bersahabat.

Sungguh pengalaman mengikuti ajang sastra yang sangat berkesan yang dituan rumahi oleh para Penyair Kalimantan Selatan termasuk di dalamnya Agustina Thamrin.

Saya tahu itu hanyalah salah satu kegiatan Sastra yang pernah ia jalankan. Masih banyak lagi kegiatan- kegiatan Sastra lainnya yang ia jalani dan ikuti.

Tapi dari semua hal yang saya tahu tentang dirinya, saya sangat terkesan dengan semangat hidup Agustina Thamrin. Walaupun jika dari obrolan serta curhatannya pada saya, banyak masalah yang ia hadapi dan jalani, tetapi ia selalu berusaha kuat dan tegar. Ia tidak mau membiarkan dirinya terjebak dalam kesulitan. Ia tetap berkarya. Menulis dan terus menulis, bercanda dengan dunia. Dan bahkan saat terakhirnya iapun sempat bercanda pada dirinya “Seperti ayam tulang lunak. Diriku tak bertenaga” untuk menceritakan betapa lemahnya diri. Sungguh seorang wanita yang perkasa.

Pernah saya berpikir akan mengambil cuti lagi ingin kembali ke Banjar bertemu Agustina Thamrin. Tetapi dengan kepergiannya ini, tentu keinginan saya itu jadi ikut pupus.

Selamat jalan sahabatku, Agustina Thamrin. Puisi- pusimu akan terus bergema dari hutan hutan Kalimantan.

GUNG GARANTUNG.

Titir tujuh kali malam dibalut dupa.

Tarian menghentak tanah.

Gung aku menari dalam riang riang bumbung malam.

Gung aku memanah langit.

Petir menggodam akar menjadi sungsang tumbang.

Hujan turun menyeringai pada hutan lembab.

Air hitam beraroma payau merendam berpulau pulau.

Gung menyipat hiyang nining batara Maratus.

Penerang hati berselendang bunga bunga dupa dupa.

Nyanyian balai balai diceruk hadat Tambun Bungai.

Gung titir tujuh malam suara mengepung kota kota yang bersimbah darah.

Aku merintih lelah dengan sebatang ranting terakhir.

Kupungut dari rimbunan tulang belulang kematian.

Gung biarkan aku menari Tandik Ngayau menebas perikeadilan yang pupus dan yang lampus.

Banjarbaru, 2017. Agustina Thamrin.

Kisah Pagi Di Sebuah ATM.

Standard

Pagi ini saya terpaksa keluar karena ada keperluan mendesak ke ATM dekat rumah. Mini Market tempat ATM ini sangat sepi. Hanya ada saya, 1 orang SPG dan kasir. Tidak ada pembeli. Tidak ada juga yang sedang mengambil uang atau mengantri. Ah, senangnya. Kesempatan yang jarang, karena biasanya antrian di ATM ini panjang.

Kesempatan ini akan saya pakai untuk bayar listrik dan bayar Iuran Satpam sekalian, selain mengambil uang tunai tentunya. Saya membayar listrik dulu. Lancar. Saya menengok ke belakang. Tidak ada yang ngantri. Aman. Lalu saya mentransfer uang iuran bulanan Satpam. Lancar juga Saya menengok ke belakang lagi. Masih belum ada orang yang ngantri. Jadi aman ya. Saya teruskan kalau begitu.

Sekarang mengambil uang Cash untuk keperluan bayar bayar juga dalam bentuk cash. Saya memasukkan nomer PIN. Sambil menunggu instruksi berikutnya, sudut mata saya menangkap sesuatu.

Tiba tiba ada seorang wanita datang dari arah samping kanan agak belakang saya. Persis di depan ATM Bank lain. Tapi anehnya ia berdiri miring dan melihat ke arah saya. Kelihatannya seperti ngantri ke ATM yang sama dengan yang sedang saya gunakan.

Bukan ke ATM Bank lain yang ada di depannya “Ooh ok. Mungkin mau ke ATM ini….tapi kok ngantrinya di situ ya” bathin saya sambil berusaha cepat cepat menyelesaikan transaksi yang terakhir. Harusnya kan ia berdiri di belakang saya ya dg jarak +/- 1 meter. Tapi oke lah.

Tapi astaga!!!. Ternyata mesin ATM ini kehabisan uang. Dia tidak bisa melayani pengambilan uang untuk saya. Waduh.. gimana ya. Saya lagi butuh banget. Akhirnya saya coba lagi masukkan nomer PIN saya lalu menoleh ke orang yang sedang ngantri itu dan kasih kode ringan minta maaf karena saya mau coba ulang lagi mengambil uang dengan jumlah yang lebih kecil. Siapa tahu bisa. Wanita itu tidak menjawab kode saya karena lagi sibuk membuka dompetnya. Sayapun melanjutkan kegiatan saya.

Tiba tiba orang itu maju dan berdehem kencang “hemmm!!!”. Saya kaget dan menoleh. Waduuuh. Walaupun wajahnya tertutup oleh masker dan kerudung, tapi sorot matanya yang tajam kelihatan kalau ia marah dan tidak suka pada saya. Saya merasa nggak nyaman.

Lalu saya jelaskan padanya bahwa mesin ATM ini tidak mengeluarkan uang. Dan transaksi pengambilan uang saya tadi gagal. Jadi saya coba ulang dengan ukuran yang lebih kecil. Mohon pengertiannya juga.

Wanita itu tidak menjawab. Kelihatan masih tetap kesal pada saya. Saya tetap melanjutkan usaha saya untuk mengambil uang. Dan ternyata tetap tidak keluar juga. Ya sudah. Saya menyerah. Mungkin duit di mesin ATM ini memang habis.

Sayapun berlalu. Mengambil pasta gigi dan pembalut lalu membayar di kasir dengan sisa uang yang sebelumnya menang ada di dompet. Sambil menunggu kasir, saya menoleh ke mesin ATM di mana wanita tadi masih berdiri. Kedengaran ia mengomel sendiri dan mengetuk- ngetuk mesin ATM dengan jarinya dengan tidak sabar. Berulang ulang. Dengan tidak sabar. Saya lihat Mbak Kasir pun menoleh sebentar ke orang itu, lalu melanjutkan kembali pekerjaannya. Dalam hati saya heran. Kan memang uangnya habis. Sudah saya kasih tahu sebelumnya. Tapi ia tidak menggubris. Mana bisa uangnya keluar. Ditendangpun mesin ATM itu jika nemang uangnya habis, ya tetap tidak akan mengeluarkan uang.

Beberapa saat kemudian, orang itu keluar dari toko. Ia lewat di belakang saya karena posisi kasir di dekat pintu. Dan entah kenapa pula, saya kok refleks menoleh. Apesnya, rupanya ia juga sedang melihat ke arah saya. Tatapan matanya marah dan mengancan. Lho?!. Saya jadi bingung dan heran dengan orang ini. Maksudnya apa ya kok jadi marah besar ke saya gitu?. Untungnya ia keluar setelahnya.

Saya menarik nafas panjang dan menghibur diri saya agar tidak terlalu galau. Rasanya memang sangat tidak nyaman diperlakukan begitu. Saya menelisiki perbuatan saya, barangkali ada kesalahan saya yang telah saya perbuat yang membuat orang lain sampai sedemikian marahnya kepada saya.

1/. Mungkin dia marah karena saya kelamaan di mesin ATM. Saya melakukan 2 x transaksi non tunai dan sukses, lalu2 x transaksi tunai tapi gagal karena uang tidak ada. Saya melakukan multiple transaction karena sebelumnya toko itu sepi. Tidak ada yang ngantri di ATM. Dia muncul saat saya melakukan transaksi non tunai yg gagal itu. Lalu marah karena saya mencoba mengulang lagi. Padahal kan saya sudah ngasih kode minta maaf karena saya harus nengulang transaksi lagi. Dianya sendiri tidak merespon.

Ya… kalau saya cari cari kesalahan saya, mungkin dalam hal ini saya ada setengah salah juga. Mungkin harusnya, saat transaksi saya gagal, saya berhenti dulu, mundur dan mempersilakan dia dulu dan saya mengantri di belakang dia. Jadi untuk kasus ini saya kasih score kesalahan saya 50%.

2/. Mungkin dia marah karena uang cash tidak keluar setelah ia coba coba beberapa kali. Lah ?? Ini jelas bukan kesalahan saya. Kan tidak mungkin uang itu habis karena saya yang mengambilnya semua dan tidak menyisakan untuk dia. Lah, siapa pula saya ini, sisa uang di kartu ATM saya juga tidak seberapa. Selain itu sayapun gagal juga mengambilnya. Dalam kasus ini saya yakin kesalahan saya 0%. Lalu mengapa dia marah?

Ah!!!. Saya merasa capek memikirkannya. Rasanya tidak bisa saya jelaskan dengan akal sehat saya. Saya tidak kenal orang itu sebelumnya dan ia cuma lewat sepintas lalu dalam hidup saya. Mengapa saya biarkan ia merusak kebahagiaan hidup saya.

Mari kita pikirkan hal hal lain yang lebih membuat hati bahagia” ajak saya kepada diri saya sendiri.

Terong Belanda.

Standard

Terong Belanda (Solanum betaceum), adalah salah satu buah yang cukup populer untuk dibuat campuran jus. Atau dijus langsung tanpa campuran apapun. Rasanya lumayan enak, seger sedikit manis dan kecut bernuansa rasa terong.

Di daerah Kintamani, tanaman ini cukup banyak dibudidayakan penduduk. Kita bisa menemukan buah ini dijajakan oleh pedagang buah di daerah Penelokan. Tetapi di Jakarta saya menemukan buah ini di Supermarket Hari- Hari. Saya beli sebungkus yang isinya 10 biji.

Buahnya saya jus, ditambah sedikit gula

Dan sisanya saya ambil bijinya untuk ditanam.

Kupu-Kupu Dalam Bahasa Bali.

Standard

Sama dengan di daerah lain di Indonesia, di Bali Kupu Kupu juga dianggap sebagai mahluk yang sangat cantik dan menarik perhatian kita, terutama anak-anak. Akan tetapi, untuk menjadi Kupu-kupu, mahluk ini harus melalui beberapa fase kehidupan terlebih dahulu. Nah apa bahasa Bali dari Kupu kupu, ulat dan kepompong ?

Kupu kupu Junonia – gbr dari nimadesriandani@wordpres.com

1/. Kekupu/Kupu Kupu = Kupu Kupu. Secara umum orang Bali menyebut Kupu-Kupu sebagai Kupu -kupu juga, dan biasanya disingkat dengan Kekupu. Umumnya jenis kupu-kupu tidak diberi nama khusus, hanya tergantung warnanya saja. Misalnya Kupu-kupu Putih, Kupu-kupu Pelung ( Kupu-kupu Biru), Kupu-kupu Kuning, dsb.

Kupu kupu Barong – gbr dari nimadesriandani@wordpress.com

2/. Kupu Kupu Barong = Rama Rama. Kupu- kupu Barong adalah Kupu kupu superbesar alias Rama- Rama yang sekarang mulai langka keberadaannya.

Ngenget

3/. Ngenget = Ngengat/Moth. Ngenget adalah sejenis kupu kupu yang sayapnya selalu terbuka dan antenanya berbulu. Biasanya aktif di malam hari. Kata Ngenget, sering tertukar dengan kata Ngetnget, yang berarti binatang kecil yang merusak barang barang yang terbuat dari kertas, lontar, kain.

4/. Uled = Ulat. Tentu semuanya tahu, ketika telur Kupu-kupu menetas menjadi Ulat.

Bijal gadang

5/. Bijal = Ulat besar tidak berbulu. Biasanya merupakan ulat dari Kupu kupu besar dan Rama Rama. Misalnya Ulat Kupu kupu jeruk, disebut dengan bijal.

6/. Geeng = Ulat Bulu, sangat gatal jika kena kulit.

Kacut alias Kepompong

7/.Kacut = Kepompong, adalah fase peralihan antara ulat dengan Kupu-kupu.

Nama Binatang Peliharaan Dalam Bahasa Bali. Part 2.

Standard

Sebelumnya saya sudah nenuliskan nama nama binatang (Ubuhan) dalam Bahasa Bali Part 1. Tetapi dalam tulisan itu hanya memuat 10 nama Binatang saja, yaitu Ayam, Anjing, Kucing, Bebek, Babi, Sapi, Kuda, Kerbau, Burung dan Kambing. Sementara jumlah bintang yang umum dipelihara manusia kebih dari 10.

Nah berikutnya adalah 10 nama bintang peliharaan lagi dalam Bahasa Bali.

1/. ANGSA / SOANG = ANGSA. Angsa dianggap sebagai binatang yang indah di Bali. Sering dianggap sebagai mahluk suci symbol dari ilmu pengetahuan.

2/. KIRIK/ KUIR = ENTHOK. Ini adalah sejenis bebek yang pendek dan lehernya pun rendah. Ketika berjalan pantatnya egal egol ke kiri dan ke kanan.

3/.KELINCI = KELINCI.

4/ PUUH = BURUNG PUYUH. Banyak ditemukan liar di ladang, tetapi banyak juga yang dipelihara/ diternakkan manusia.

5/. MARMUT = MARMUT.

6/.KAKUA = KURA KURA.

7/.KEKER = AYAM LIAR JANTAN.Yang betina disebut dengan Kiuh.

8/. LANDAK = LANDAK.

9/. SEMAL = TUPAI.

10/. OMANG – OMANG = KELOMANG

Resep Masakan : Tum Be Siap.

Standard

Tum Be Siap adalah bahasa Bali untuk pepes ayam. Di Bali, pepes yang dibungkus pipih disebut dengan Pesan. Sedangkan yang dibungkus segitiga disebut dengan Tum.

Mari kita bikin Tum Be Siap yang enak ala Bali.

Bahan bahanya: dada ayam, bawang putih, kencur, kunyit, cabe, bawang merah, asam, garam, daun salam, 1 telor ayam, daun pisang untuk membungkus.

Cara membuat:

1/. Cibcang dada ayam yang sudah dibersihkan.

2/. Ulek bumbu bawang merah, bawang putih, kencur, kunyit, asam, garam, cabai.

3/. Aduk cincangan daging ayam dengan bumbu ulek. Aduk aduk hingga rata.

4/. Masukan telor ayam, aduk aduk lagi hingga merata.

5/. Bungkus adonan ayam dalam daun pisang, yang sebelumnya sudah dialasi dengan daun salam.

6/. Kukus tum di atas nyala api sedang hibgga matang.

Tum siap dihidangkan.

Nama Buah- Buahan Dalam Bahasa Bali.

Standard

Seorang teman pernah bercerita “Diantara semua buah-buahan, aku ya paling doyan sama Gedang“.

Tampa pikir panjang, saya berkesimpulan bahwa teman saya itu sangat suka makan buah Pepaya. Penyebabnya karena template berpikir saya adalah Bahasa Bali. Dalam Bahasa Bali, Gedang adalah Pepaya. Begitu mendengar kata “Gedang”, otomatis yang muncul di kepala saya adalah gambar Pepaya.

Sementara yang dimaksudkan dengan Gedang oleh teman saya adalah “Pisang”. Karena Gedang dalsm Bahasa Jawa artinya Pisang .

Hingga akhir percakapan, barulah saya ngeh jika teman saya itu sedang membicarakan buah pisang 😀😀😀. Oh…indahnya Indonesia!! Bhineka Tunggal Ika.

Itu adalah salah satu contoh kejadian yang membuat saya tertarik untuk mendengarkan nama nama buah, sayuran, bumbu dan lain lainnya dalam berbagai Bahasa daerah di Indonesia.

Karena Bahasa Ibu saya adalah Bahasa Bali, maka saya akan sharing apa nama buah- buahan ini dalam Bahasa Bali

1/. Pisang = Biyu.

2/. Pepaya = Gedang.

3/. Jeruk = Juwuk.

4/. Jeruk Bali = Jerungka.

5/. Jeruk Keprok = Sumaga.

6/. Semangka = Sumangka.

7/. Apel = Apel.

8/. Melon = Melon.

9/. Duku = Ceroring

10/. Langsat = Langsep.

11/. Menteng = Kepundung

12/. Kecapi /Sentul = Sentul

13/. Salak = Salak.

14/ . Gowok = Kaliasem

15/. Kiwi = Kiwi

16/. Anggur = Anggur.

17/. Markisa = Anggur Bali.

18/. Kemang = Wani.

19/. Mangga = Poh

20/. Bacang/Ambacang = Pakel.

21/. Manggis = Manggis.

22/. Sawo = Sabo.

23/. Sawo Kecik = Sawi Kecik.

24/. Leci = Leci.

25/. Kelengkeng = Kelengjeng.

26/. Rambutan = Buluan.

27/. Durian = Duren.

28/. Nangka = Nangka.

29/. Timbul = Timbul.

30/. Terap = Teep.

31/. Sukun = Sukun.

32/ . Delima = Delima.

33/. Alpukat = Apokat.

34/. Belimbing = Belimbing.

35/. Nenas = Manas.

36/. Jambu = Nyambu.

37/. Jambu Biji = Sotong.

38/. Sirsak = Silik.

39/. Srikaya/Nona = Silik Badung.

40/. Bidara = Bekul.

41/. Kelapa = Nyuh.

42/. Kelapa Muda / Degan = Kuwud.

43/. Buah Naga = Buah Naga.

44/. Kepel = Kepel.

45/. Labu = Tabu.

46/. Labu Siam = Jepang.

47/. Buni = Boni.

48/. Jamblang /Duwet = Juwet

49/. Kweni = Poh Eni.

50/. Buah Kersen = Buah Singapur.

51/. Mundu = Mundu.

52/. Katulampa = Katilampa.

53/. Ara = Aa.

54/. Pear = Pir.

55/. Timun = Timun

Ada beberapa buah yang tidak umum/ tidak pernah saya lihat ada di Bali, misalnya Kesemek, Cempedak. Jadi saya tidak tahu apa Bahasa Balinya. Barangkali memang tidak ada.

Kwalitas Karbitan.

Standard

Saya membeli 2 sisir pisang Raja Sereh di pasar. Tampak sudah kuning. Harganya 15 ribu per sisir. Lebih murah dari biasanya. Karena situasi sedang wabah virus Corona, sayapun cepat cepat membayar tanpa menawar lagi dan langsung pergi.

Sampai di rumah, saya makan pisang itu. Ternyata isi pisang sangat kecil dan kurus. Rasanya agak sepet. Ooh.. sekarang saya sadar kemungkinan ini adalah pisang matang karbitan. Pisang yang masih muda, kecil dan hijau, sudah dipetik lalu diperam dengan menggunakan karbit (Calcium Carbida – CaC2) agar cepat matang.

Buah yang dikarbit, kehilangan kesempatan untuk tumbuh dengan optimal. Begitu dipotong, ukurannya tidak bertambah lagi. Ia tetap kecil. Rasanya masih bisa sedikit bertambah manis, namun sisa sisa rasa sepat terkadang belum hilang semua.

Beda dengan buah yang asli mateng bukan karbitan. Pisang ini akan tumbuh denganukuran dan rasa manis yang optimal. Namun sayang, matangnya biasanya tidak bersamaan. Tapi bertahap.

Sebaiknya jika membeli pisang, perhatikan keseluruhan pisang-pisang yang dipajang. Jika pisang dari satu tandan memiliki warna buah yang beragam, bagian atas kuning dan bagian bawah masih ijo, kemungkinan besar pisang itu matang alami.

Tapi jika keseluruhan buah di tandan itu kuning semua, ada dua kemungkinan. 1/.Buah memang matang alami, jika ukuran buahnya normal, seukuran dengan jenisnya. Misalnya jika pisang Raja Sereh, normal ukurannya memang besar. Tapi jika itu pisang Mas, ukurannya kecil.

2/. Bisa juga karena karbitan. Jika semua kuning tapi kecil kecil dibanding jenisnya, sudah tentu itu matang karbitan. Rasa manisnya juga tidak optimal.

Demikianlah adanya pisang kwalitas karbitan. Tampangnya matang tapi ukuran dan rasanya tidak optimal.

Dan kwalitas karbitan ini sesungguhnya tidak terjadi hanya pada pisang, tetapi juga pada jenis buah- buahan lainnya, termasuk kwalitas manusia. Tentu ada juga manusia yang memiliki kwalitas matang alami dan ada juga yang memiliki kwalitas karbitan. Jabatan tinggi, tetapi kwalitas pemikiran kurang strategis dan mengeksekusi pun kurang proffesional.

Mari berenung diri dan seemoga kita tidak termasuk dalam sumber daya manusia yang berkwalitas karbitan.

Pasar Dan Corona.

Standard

Ini cerita beberapa hari yang lalu. Setelah berdiam diri di rumah beberapa waktu, saya menyadari jika stock makanan dan buah buahan di rumah habis. Kali ini saya harus keluar rumah mengisi persediaan. Sebaiknya ke mana ya?.

Ke Pasar Lembang sajalah, yang dekat rumah. Tukang buahnya lebih banyak dan biasanya harganya juga sedikit lebih miring dibanding di Supermarket. Sekalian pengen tahu sesepi apa pasar hari ini setelah wabah virus Corona melanda. Saya pun berangkat.

Tapi melihat situasi di jalan, saya kok tidak merasakan ada “sense of stay at home” ya di sepanjang jalan setelah keluar dari gerbang perumahan menuju pasar ini. Lalu lintas sangat ramai, dan beberapa kali kendaraan harus berjalan lambat akibat kepadatan lalu lintas. Bukan kendaraan saja, orang yang berjalan kaki juga terlihat banyak. Saya heran. Bukankah pemerintah meminta kita untuk berdiam di rumah saja?.

Apakah memang ini sebuah kebetulan belaka?. Saat saya keluar rumah, kebetulan orang orang juga sama, sedang keluar rumah semua karena kehabisan stock ya?. Ataukah setiap harinya memang begini?. Walaupun pemerintah menghimbau agar tinggal di rumah, tetapi masyarakat tidak memperdulikannya?.

Sesampai di pasar, keramaian makin bertambah. Nyaris tidak ada bedanya dengan hari tanpa Corona. Tempat parkir nyaris penuh. Saya melihat dari balik kaca, seseorang yang baru saja memarkir motornya menghampiri si Tukang Parkir, lalu bersalaman dan …. astaga!!!!! Mereka saling berpelukan seolah sudah lama tidak bertemu. Sungguh. Di sini orang tidak mengenal kata “Social Distancing”. Tambah terheran heran lagi saya.

Demikian juga di tukang buah. Orang orang masih berjejal. Laki perempuan, tua muda, tak ada yang berusaha membuat jarak satu sama lain. Bahkan walaupun ada space yang cukup untuk berdiri terpisah, beberapa orang saya lihat tetap berdiri berdekatan.

Saya terburu buru membeli buah dan segera keluar dari keramaian ini. Sungguh saya kaget akan situasi ini, karena awalnya saya menyangka pasar akan sepi.

Di jalan saya merenung. Mengapa masyarakat di sekitar saya ini banyak yang tidak mengikuti anjuran pemerintah untuk “Diam di rumah”? Apakah mereka belum paham dengan betapa seriusnya wabah Corona ini? Sosialisasi pemerintah belum cukup? Ataukah memang mereka tahu, tapi kebutuhan hidup mendesak mereka tetap keluar. Istilah seorang teman “Gue lebih takut mati kelaperan ketimbang mati karena Corona”.

Semoga setelah Pembatasan Sosial Beerskala Besar (PSBB) efektif diberlakukan per tanggal 10 April, masyarakat bisa lebih berdisiplin dalam melakukannya. Setidaknya menggunakan masker setiap kali keluar rumah.

Semoga wabah Corona cepat berlalu dan kita semua sehat dan selamat.

Nama Binatang Peliharaan Dalam Bahasa Bali – Part 1.

Standard
Anjing Kintamani.

Ada 2 kata dalam Bahasa Bali yang merujuk pada Binatang/Hewan. Yaitu 1/. Ubuhan untuk hewan domestik. 2/ Buron untuk hewan non domestik (hewan liar).

Selain kata Ubuhan dan Buron, orang Bali memiliki kata “Gumatat-Gumitit” untuk kelompok binatang merayap , serangga dan binatang kecil lainnya.

Di tulisan ini saya hanya akan membahas nama Hewan Domestik alias Ubuhan saja dulu.

Hewan domestik adalah jenis jenis hewan yang merupakan peliharaan manusia, atau biasa hidup dan tinggal bersama manusia. Hewan Domestik dalam Bahasa Bali disebut dengan Ubuhan. Ubuhan berasal dari kata “Ubuh+ an”. Ubuh artinya dipelihara. Jadi Ubuhan = hewan peliharaan.

Apa saja yang termasuk ke dalam Ubuhan? Dan apa nama-nama Ubuhan itu dalam Bahasa Bali?. Yuk simak berikut ini:

1/. SIAP = AYAM.

Siap adalah nama umum untuk Ayam. Tetapi Ayam jantan (Siap Muani) dalam Bahasa Bali disebut dengan Penglumbah atau Manuk. Ayam Betina (Siap Luh) disebut dengan Pengina. Sementara anak ayam disebut dengan Pitik. Ayam hutan disebut dengan Keker.

Selain itu orang Bali memberi nama pada beberapa jenis ayam berdasarkan warnanya, berdasarkan bulunya, berdasarkan tajinya, dan ciri ciri fisik lainnya.

Berdasarkan warnanya, seperti misalnya: Siap Selem (Ayam hitam), Siap Biying (Ayam merah), Siap Buik (warna campur-campur), Siap Brumbun (warna campur merah, putih, hitam), Siap Kelau (warna abu abu).

Berdasarkan jenis bulunya, misalnya : Siap Sangkur (ayam jantan yang bulu ekornya pendek), Siap Srawah (ayam yang bulunya tebal) , Siap Grungsang (ayam yang pertumbuhan bulunya tidak rapi, ada yang mencuat ke atas, ke bawah, ke kiri. Ke kanan. Kelihatan seperti ayam berbulu keriting), Siap Godeg ( ayam yang kakinya tumbuh bulu), Olagan (ayam yang gundul /tidak ada bulunya).

2/. ANJING =CICING.

Cicing adalah nama umum untuk Anjing. Sedangkan anak Anjing disebut dengan Konyong.

Di beberapa daerah di Bali, selain disebut dengan Cicing, Anjing juga disebut dengan Kuluk. Sama artinya. Tetapi di bagian daerah yang lain terkadang Kuluk diartikan sebagai Anak Anjing. Sama dengan Konyong.

Cicing dan Kuluk adalah Bahasa kasar/bahasa umum, sedangkan bahasa Bali halus Anjing adalah Asu.

Cicing Belang Bungkem adalah sebutan untuk anjing yang bulu di sekitar moncongnya berbeda dengan warna bulu tubuhnya. Misalnya Anjing berwarna coklat tetapi di sekitar mulutnya berwarna hitam. Anjing ini sering digunakan sebagai hewan kurban.

3/. MIONG = KUCING.

Miong adalah nama umum untuk Kucing. Kucing jantan disebut Garong. Anak kucing di beberapa wilayah disebut dengan Tai. Tetapi karena namanya yang sama dengan kotoran (tai), kata ini jarang disebut orang. Cukup dengan “Panak Miong” (anak kucing) saja.

Ada lagi nama Salon-Salon untuk mengatakan kucing jantan yang super besar. Nama “Salon-Salon” jaman dulu digunakan oleh ibu-ibu untuk menakuti anaknya yang tidak mau tidur walau malan sudah larut. “Ayo segera tidur, ntar dikejar Salon-Salon”. Sang anakpun terpaksa tidur karena takut akan Salon-salon 😀😀😀.

Selain Miong, kucing juga disebut dengan Meng.

4/. BEBEK = BEBEK.

Sama dalam Bahasa Indobesia, Bebek juga disebut Bebek dalam Bahasa Bali. Anak Bebek disebut dengan Meri. Kalau jamak menjadi Memeri.

Ada beberapa jenis Bebek ysng istimewa di Bali, antara lain, Bebek Putih Jambul, yaitu bebek berwarna putih yang memiliki jambul di kepalanya, dianggap sebagai bebek yang indah dan bisa terbang cukup tinggi. Namanya disebut dalam nyanyian ” Bebeke putih jambul mekeber ngaja nganginang. Teked kaja kangin ditu ia tuwun mengindang”. Artinya bebek putih jambul terbang ke arah timur laut. Begitu tiba di timur laut. Bebekpun terbang turun berputar putar.

Bebek Kalung, yaitu bebek yang memiliki tanda lingkaran (biasanya putih/hitam) di lehernya. Bebek Kalung dianggap menghasilkan telor yang banyak.

5/. CELENG = BABI

Babi secara umum disebut dengan Celeng di Bali. Celeng adalah bahasa biasa/kasar, sedangkan bahasa halusnya adalah Bawi. Babi betina disebut dengan Bangkung. Babi jantan disebut dengan Kaung. Anak Babi disebut dengan Kucit.

Sementara, Babi Hutan disebut dengan Celeng Alasan.

6/ . SAMPI = SAPI.

Sampi adalah kata Bahasa Bali yang artinya Sapi. Kata Sampi berlaku untuk kedua jenis kelamin laki dan perempuan. Tetapi Sapi jantan yang sangat kokoh bodinya disebut dengan Jagiran. Anak sapi disebut dengan Godel.

Walaupun orang Bali yang mayoritas beragama Hindu tidak memakan daging Sapi, tetapi Sapi tetap dipelihara di kalangan masyarakat agraris untuk membantu mengolah sawah atau kebun.

7/. JARAN = KUDA.

Jaran adalah kata dalam Bahasa Bali untuk Kuda. Tidak ada nama khusus untuk jenis kelamin jantan atau betina. Tetapi untuk anak kuda, ada namanya yaitu Bedag.

Jaman dulu Jaran memiliki peranan penting dalam transportasi. Mengingat bahwa Jaran sekarang tidak banyak lagi dipelihara orang, maka banyak kaum muda di Bali yang tidak tahu lagi apa arti kata Bedag. Walaupun kata ini sering digunakan dalam percakapan sehari hari.

Ah cai wak cenik sing nawang bedag!“. Artinya “kamu anak kecil nggak tahu apa itu bedag” , secara tidak langsung kalimat itu mengatakan bahwa lawan bicaranya tidak tahu apa apa. Karena ia tidak tahu apa arti kata Bedag. Sing nawang bedag = tidak tahu apa apa.

Ironisnya terkadang yang ngomong begitupun sebenarnya tidak tahu juga apa arti kata Bedag.

8/. KEBO = KERBAU.

Kebo adalah kerbau. Serupa dengan Sapi , orang memelihara kerbau untuk membantu mengolah tanah.

Saya belum pernah mendengar nama khusus untuk Kerbau jantan dan betina. Tapi anak Kerbau disebut Bedigal. Jika kerbau berwarna putih maka disebut dengan Misa.

9/. KEDIS =BURUNG.

Kedis adalah sebutan untuk segala jenis burung. Dan nama jenisnya tinggal mengikuti. Misalnya Kedis Dara = Burung Dara/Merpati, Kedis Perit = Burung Pipit. Kedis Guak = Burung Gagak, Kedis Celalongan = Burung Kepodang. Dan sebagainya. Bahasa halus untuk Kedis adalah Manuk.

Tidak ada nama khusus untuk jantan dan betina. Juga untuk anak burung biasanya hanta disebut dengan nama Panak Kedis saja atau beberapa orang nenyebutnya dengan nama Piyik atau Pitik. Sama dengan anak ayam.

10/. KAMBING = KAMBING.

Kambing tidak punya nama khusus dalam Bahasa Bali. Namanya ya Kambing saja. Kambing jantan dewasa disebut Bandot. Sedangkan anaknya Kambing bernama Wiwi.

Kata Bandot sering digunakan dalam percakapan sehari-hari untuk mengibaratkan anak laki-laki yang sudah dewasa. Misalnya” Ah, suba kanti bandotan, tusing masi bani sirep pedidi“. Artinya” Ah, sudah dewasa (anak laki) begini, kok masih juga tidak berani tidur sendiri”.