Dari Bigbang Izzi Video Music Star 4.

Standard
Dari Bigbang Izzi Video Music Star 4.

Bisa dibilang, semua orang tahu kalau musik memegang peranan sangat penting dalam kehidupan remaja. Saking lekatnya, begitu lepas dari pintu sekolah, hal yang pertama dilakukan adalah mengambil gadget dan mendengarkan musik. Hati senang dengerin musik, lagi galau juga dengerin musik. Musik adalah bagian dari hidup remaja. Dan Izzi mengerti banget akan hal ini.

Untuk itu Izzi yang merupakan brand fragrance remaja setiap tahun menyelenggarakan kompetisi video musik terbaik bagi para remaja yang memiliki bakat terpendam di bidang musik. Dan tahun ini adalah tahun ke 4 dari penyelenggaraan Izzi Video Music Star itu. Walaupun setiap tahun diadakan, ternyata ada yang beda kali ini lho!. Nah…pada mau tahu kan bedanya di mana?

Kompetisi yang biasanya terbatas pada “Singing” kategori ini, tahun ini mulai ditambah dengan kategori baru yakni “Dancing” juga. Mengapa? Karena selain untuk mengiringi nyanyian, musik juga digunakan untuk mengiringi tarian. Para remaja juga banyak lho yang hobby nge-dance.

Hal lain yang berbeda, kali ini kita melihat Izzi juga memperkenalkan rangkaian fragrance barunya dengan wangi segar, modern dan sesuai dengan karakter anak muda, yang mengambil tema seputaran hal-hal yang biasa dicurcolkan oleh para remaja putri kepada”Besties”nya. Ada 3 variant dari Izzi Fine Fragrance Mist yang diperkenalkan, yakni:

1/. Heart Beats, dengan note Orange- Cherry -Jasmine.

2/. Dear Diary, dengan note wangi Berry-Lemon-Lily.

3/. Secret Crush, dengan note wangi Apple-Strawberry-Rose.

Karena themanya tentang Besties, maka kali ini thema Izzi Video Music Star 4 ini pun serupa, yakni seputaran Besties juga.

Izzi mengajak remaja putri beserta besties ataupun squadnya masing masing untuk berkompetisi menunjukkan kehebatan teamnya dalam menyanyi ataupun menari dan sekaligus memenangkan hadiah yang jika ditotal-total mencapai Ratusan Juta Rupiah. Keren kan? Remaja mana yang nggak tergiur untuk tampil berprestasi dan sekaligus menyabet hadiah puluhan juta per pemenang itu?

BESTIES CHALLENGE!.

Wah… tentunya makin seru ya!.

Jadi sejak bulan Agustus yang lalu, Febriana Bustan -Brand Manager Izzi, beserta tim sudah mulai bekerja keras mempersiapkan acara ini. Mulai dari memikirkan konsepnya, membuat woro-woro dan mulai menyortir video yang masuk sesuai dengan kategorinya. Memilah dan memilih video-video yang kira-kira layak untuk menang dan masuk ke dalam babak penyisihan berikutnya. Pesertanya juga membludak.

Menurut Mohamad Andris, Digital Manager dari PT Unza Vitalis ada lebih dari 2300 video yang masuk dalam waktu kurang lebih 6 minggu Phase Submission. Dan dari sana kemudian dipilih 25 video untuk masing masing kategori Singing dan Dancing yang terbaik untuk kemudian disaring kembali menjadi masing-masing 10 video lagi untuk dimasukkan ke dalam Phase Voting secara digital yang berlangsung selama 2 minggu berikutnya.

Nah… jadi ceritanya Sabtu sore kemarin, saya ikut hadir untuk menyaksikan acara Big Bang Izzi Video Music Star 2017 yang diselenggarakan di sebuah kafe di kawasan Kemang, Jakarta.

Ini dia para jawaranya:

Untuk The Best Performance yang merupakan pilihan juri adalah:

Singing : The Pinkers.

Dancing: Girls Planet.

Untuk kategori Best Vote/Most Viral selama masa Voting berlangsung :

Singing : NYX

Dancing: JAJ Dance Crew.

Video di atas adalah penampilan JAJ Dance Crew.

Di acara ini manggung para pemenang Izzi VMS tahun ini.

Disertai oleh Anggi, bintang tamu yang merupakan pemenang Izzi VMS3 tahun 2016.

Selain itu, acara Big Bang Izzi Video Music Star 4 ini juga dimeriahkan oleh bintang tamu GAC group band yang lagi naik daun. Tampilan mereka sungguh mempesona dan membuat para penonton remaja yang hadir di pelataran Rollingstone Cafe itu berteriak heboh dan histeris kegirangan.

Semoga Izzi makin eksis dan tetap bisa mendukung para remaja yang memiliki bakat-bakat terpendam di bidang Musik, Nyanyi dan Menari.

Advertisements

Dari Workshop dan Acara Final “Vitalis Empress”.

Standard
Dari Workshop dan Acara Final “Vitalis Empress”.

Hari Sabtu siang kemarin saya berkesempatan hadir di acara final pemilihan pemenang “Vitalis Empression” dan Workshop Vitalis yang diselenggarakan di Fat Shogun restaurant di daerah Kuningan.

Acara ini sendiri diselenggarakan dalam rangka memperkenalkan Vitalis Eau De Cologne White Empress yang nerupakan variant fragrance terbaru dari Vitalis EDC.

Menurut Dion Purna Satwika Amudra, Brand Manager Vitalis, kegiatan yang diawali dari lomba foto sejak pertengahan bulan September ini, diminati oleh cukup banyak netizen, terbukti dengan jumlah registrant yang lebih dari 7700 orang.

Dari sana, dipilih 20 orang finalist yang memiliki pose dan keseluruhan foto paling mendekati image seorang “Empress”.

Ke dua puluh finalist ini kemudian diwawancara baik secara langsung maupun lewat skype berkaitan dengan personality-nya, kepercayaan dirinya maupun aktifitas sosialnya terutama di digital dan akhirnya terpilihlah 3 pemenang utama dengan hadiah uang tunai dan bingkisan fragrances dan produk-produk lain dari Vitalis.

Juara pertama diraih oleh Ayu Indriati, disusul di tempat ke dua adalah Marry Yanna dan di tempat ke 3 adalah Patricia Felisa.

Selain merupakan kegiatan final dari pemilihan pemenang “Vitalis Empression”, dalam rangkaian acara itu juga diadakan workshop tentang bagaimana caranya menjadi seorang influencer digital yang baik yang dibawakan oleh Michelle Saragih yang kita kenal sebagai seorang youtuber kondang di jagat maya dan Amelia Ayu Kinanti, Editor In Chief dari Vemale.com

Tentu saja acara ini sangat berkesan karena di kesempatan itu Michele dan Ayu banyak membagi-bagi tips kepada finalist dan hadirin yang lainnya bagaimana caranya menjadi influencer yang baik.

Salah satunya yang saya catat adalah bahwa sangat penting untuk selalu menjadi original. Menjadi diri sendiri dan tak perlu meniru niru orang lain.

Tips lainnya adalah tetaplah konsistent dan komit terhadap apa yang dilakukan. Jangan on-off. Karena jika on-off , maka followers yang awalnya setia menunggu update status dari kita jadi menghilang dan tak kembali lagi.

Tips yang menarik lainnya adalah harus tabah dan berbesar hati atas komentar komentar yang mungkin muncul di setiap update status kita. “Masa bodoh!. Cuekin saja jika ada komentar negative. Kan pada dasarnya kita tak bisa menyenangkan hati semua orang” katanya.

Ayu juga menambahkan, bahwa untuk menjadi influencer yang baik kita juga perlu membekali diri dengan pengetahuan yang baik seputaran thema ataupun topik post kita. “Sesuai dengan target pembaca dan demography-nya” katanya. Ayupun memberi contoh, jika misalnya kita berhijab, mungkin akan ada pertanyaan seputaran halal tidaknya produk-produk yang kita pakai.

Wah…duo Michelle dan Ayu ini keren banget deh pokoknya.

Acara juga diisi dengan penjelasan tentang brand Vitalis dan produk-produknya oleh Widya Wulandari dari Vitalis. Para finalist juga diberi bekal pengetahuan tentang fragrance dan Eau De Cologne White Empress oleh Frederick.

Fragrance ini memiliki wangi elegant yang mewah, terinspirasi dari keanggunan seorang Empress yang menawan. Memiliki top note fruity berry green yang segar dan manis, dengan mid note rose dan white flowers yang elegant dan mewah, serta bottom note musk yang feminine dan tahan lama.

Selanjutnya para finalist diberi kesempatan untuk meracik fragrancenya sendiri yang tentunya membuat para peserta menjadi sangat heboh. Wanita mana sih yang nggak suka fragrance?

Para peserta juga dichallenge kembali untuk mengikuti lomba Vitalis Empress flat-lay dan Photo of The Day. Dengan pemenang Flat Lay adalah Florencia Irene, Agnesia Rezita dan Cindy Chinthia. Sedangkan pemenang Photo Of The Day adalah Ghina Ailia.

Acara berakhir sekitar pukul dua siang dengan meninggalkan kesan yang mendalam di hati saya.

Bakpia Yang Tak Utuh.

Standard

Suatu kali, di tengah malam saya merasa agak lapar. Mau makan buah melon dan mangga potong yang ada di kulkas, tapi rasanya kok perut saya agak dingin ya. Jadi saya mencari alternatif lain.

Nah… ketemu box kertas bakpia pathok. Walaupun disimpan di kulkas juga, mungkin yang ini bisa jadi pilihan yang lebih baik. Karena tak berair.

Saya ambil box bakpia itu. Berharap masih ada 1-2 buah isinya yang tersisa. Tidak dihabiskan oleh anak-anak. Lalu saya buka. Astaga!!!. Betapa terkejutnya saya melihat isinya.

Bakpia tidak utuh dan kelihatan seperti bekas gigitan lalu dimasukan kembali ke dalam box. Tidak bundar seperti seharusnya. Sebagian tak beraturan, sebagian mirip bulan sabitπŸ™„πŸ™„πŸ™„

Aduuuh… siapakah yang melakukan perbuatan ini?. Iseng banget. Mungkinkah anak-anak? Tapi mengapa mereka melakukan hal konyol ini? Sekarang mereka sudah besar-besar, sudah tumbuh remaja. Masak begitu ya?. Kalau dulu waktu masih play group mereka begitu saya mungkin bisa mengerti. Tapi kalau sekarang? Hadeuuuh…

Saya tidak bertanya apa-apa karena kedua anak saya sudah tidur nyenyak. Sayapun lalu ikut tidur.

Esok paginya saya bertanya kepada anak saya mengapa ada bakpia yang terpotong potong bekas tergigit dimasukkan kembali ke dalam boxnya di kulkas? The moon crescent cake?.

Anak saya yang kecil segera mengatakan tidak. Bukan ia pelakunya. Dan ia juga ikut heran, mengapa ada kue bekas gigitan disimpan kembali di kulkas.

Lalu anak saya yang besar keluar dari kamar. “The explanation is….” katanya

Sebelumnya ada semut yang masuk ke dalam box bakpia itu. Untuk memastikan kalau semutnya tidak menginvestasi ke dalam kue, jadinya kuenya kupecah pecah. Aku periksain satu per satu. Tapi karena semutnya nggak ada, kupikir kuenya masih bisa dimakan. Jadi, kumasukkanlah lagi ke dalam box dan kutaruh di kulkas” kata anak saya.

Oalah…πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€. Jadi itu ya penjelasan tentang kue terpotong-potong itu. Ya…masuk akal juga sih. Tapi tanpa penjelasan itu tentu tak seorangpun mau memakan potongan-potongan kue itu karena menyangka itu kue bekas gigitan. Untung saja kue itu tidak saya buang ke tong sampah semalam.

Ya ya!. Memahami keseluruhan permasalahan itu sangat penting gunanya agar kita tidak salah mengambil kesimpulan dan tidak salah mengambil tindakan.

Kayanya sering terjadi juga dalam kehidupan kita sehari-hari ya? Seringkali kita melihat sesuatu, agak aneh menurut pandangan kita. Tanpa bertanya, entah karena enggan, malu atau tidak tahu bagaimana caranya bertanya atau kepada siapa bertanya, kita jadi cenderung menduga-duga sendiri apa yang terjadi.

Walaupun ketika kita tahu keseluruhan ceritanya, ternyata sangat jauh dari apa yang kita pikirkan atau sangkakan sebelumnya.

Kita jadi sering under-estimate orang lain atau over-estimate orang lain. Kadang berburuk sangka pada hal yang sebenarnya baik. Atau kebalikannya, terlalu berbaik sangka pada apa yang terlihat sangat indah padahal sebenarnya banyak motivasi buruk dibaliknya.

Selamat hari Minggu siang, teman-teman semuanya.

Catatan Dari Malioboro: Dika dan Gitar Tuanya.

Standard

Malam itu saya menyelusuri jalanan di Malioboro. Ikut arus orang banyak, lalu mampir di sebuah angkringan. Memesan sebungkus Nasi Sambal Teri beserta lauknya dan segelas es teh. Saya mencari tempat yang nyaman untuk ‘ndeprok’ di pinggir trotoar. Lalu mulai makan.

Sembari makan saya ngobrol dengan teman teman saya. Seorang seniman menawarkan kepada kami jasanya membuat silhouette. Lalu seorang lain juga menawarkan jasa penyewaan motor atau mobil yang barangkali kami butuh.

Kota ini memang tidak ada duanya. Kehidupan berdegup di sini dalam kebersahajaan. Penuh pengunjung tanpa harus menjunjung hedonism. Tetap bergeliat dalam kerendah-hatian. Saya sangat menyukainya.

Seorang anak kecil mendekat. Duduk berjongkok di dekat saya dan langsung bernyanyi tanpa diminta. Jemari mungilnya memetik senar gitar kecil bersnar tiga dengan penuh semangat. Suaranya seperti menguap di udara. Di tingkah suara group pengamen dewasa yang menyanyi di dekat angkringan sebelah dengan lebih keras dan lebih profesional. Saya tertawa melihat semangatnya.

Dika namanya. Ia mengaku kelas 4 SD dan setiap malam mengamen di situ hingga pukul 10 malam. Jika malam akhir pekan atau menjelang libur lainnya ia pulang pukul 12 malam. Tak ada kekhawatiran sedikitpun di wajahnya.

Menurutnya, sebagai pengamen jalanan penghasilannya tidak menentu. Tetapi paling seringnya sekitar Rp 50 000 setiap malamnya. Uangnya ia kumpulkan. Sebagian untuk jajan. Sebagian untuk membayar uang sekolah.

Dika belajar menyanyi dan bermain gitar sendiri tanpa ada yang mengajari, ceritanya sambil wajanya memandang gitar kecil itu tetapi kelihatannya matanya menerawang jauh. Seolah ada yang ia kenang. Saya pikir ia sedang mengingat seseorang atau sebuah kenangan yang cukup berarti dalam hidupnya.

Sayapun bertanya siapa pemilik gitar itu?. “Orang yang sudah meninggal”. Katanya dengan ekspressi datar. Oooh. Tentu seseorang yang berperanan penting dalam hidupnya. Saya mulai berhati-hati dengan pertanyaan saya. Takutnya menyinggung hal-hal yang sensitif bagi perasaannya yang masih muda belia. Akhirnya saya hanya menunggu ia bercerita tentang siapa pemilik gitar tua itu tanpa melontarkan pertanyaan baru.

“Mertuaku” katanya tiba-tiba . Hah???!!!. Saya kaget. Masa mertua sih? Kok kecil-kecil sudah punya mertua?. Lalu ia tertawa berderai. Merasa salah nyebut. “Eh salah!. Salah!. Maksudnya.. Mbahku. Mbahku” katanya. Sayapun ikut tertawa. Anak ini lucu sekali.

Dika bercerita bahwa pemilik gitar itu adalah Mbahnya yang sudah meninggal. Mbahnya sebetulnya ada banyak sih. Ia menyebut beberapa tempay di Yogya dan juga di Wonogiri. Tapi yang punya gitar ini adalah Mbahnya yang dulu tinggal bersamanya. Mbahnya dulu juga pengamen. Ibunya juga pengamen. Dan semua keluarganya mengamen secara turun temurun.

Saya mendengarkan dengan baik. Ia punya seorang bapak dan seorang ayah. Ooh.. saya bisa memahami maksudnya. Maksudnya adalah bahwa kedua orangtuanya bercerai, lalu masing-masing menikah lagi. Bapaknya seorang tukang becak yang juga sesekali mengamen. Dan ia ikut ibunya yang menikah lagi dengan seorang satpam. Mereka tinggal di rumah kontrakan tak jauh dari situ.

Kamipun bercakap cakap lebih jauh. Tentang sekolahnya, mata pelajarannya, hobby dan cita-citanya menjadi pemain sepakbola. Saya senang melihat cahaya matanya yang berpendar-pendar ketika ia menceritakan permainan sepakbola dengan teman-teman sepermainannya. Dan menurutnya ia adalah yang paling jago mencetak goal. Ceritanya dengan bangga. Saya jadi ikut membayangkan kebahagiaan hatinya itu. Menjadi yang terbaik di kelasnya adalah impian setiap orang.

Saya memandang ke mata kanak-kanaknya yang bening. Ia tersenyum. Lalu menari-nari kecil ketika musik dari angkringan sebelah terdengar lagi. “Kamu bisa menari ya, Dika?” Tanya saya. Ia menggeleng. “Tidak bisa!. Joget baru bisa” katanya penuh senyum. Lalu ia menggerak-gerakkan tangannya kembali mengikuti irama musik.

Lalu ia bilang ” Saya mau menyanyi lagi” katanya. Kembali memetik gitarnya dan menyanyi kencang kencang. Tanpa beban. Tanpa peduli suaranya bagus atau tidak. Ia melakukannya saja. Saya tersenyum dibuatnya. Seusai menyanyi, ia berkata bahwa kali ini ia ingin membeli layangan dari kelebihan hasil ngamennya. Ia ingin bermain. Seperti anak kecil lainnya.

Ia pun pamit sambil menggendong gitar tuanya itu.

Saya menyukai anak itu. Semangatnya yang tinggi. Ketenangannya dalam mengatasi beratnya beban kehidupan. Ia jalani kehidupan apa adanya. Tetap berusaha tanpa menyerah. Ia reguk kebahagiaan di mana ia bisa dapatkan tanpa harus menjadi larut dalam kesulitan. Seolah -olah ia berkata “Seberat apapun itu beban, jika kita tak memandangnya sebagai beban, tentu tak akan pernah terasa berat”.

Bagai Membeli Apel Dalam Busa.

Standard

Teman teman pembaca tentu tidak asing lagi dengan pepatah, “Bagaikan membeli kucing dalam karung”. Dari luar terdengar suara kucingnya mengeong dengan sangat merdu, sehingga melambungkan impian sang pembeli akan seekor kucing cantik yang bersih, terawat dan menggemaskan. Ketika sudah dibeli dan dibayar, karung dibuka, eh….ternyata yang keluar kucing kotor buruk rupa yang budukan pula kulitnya. Kecewalah pembeli ya?

Itu pula yang terjadi pada saya kemarin sore saat membeli apel di pasar. Saya lihat hamparan buah apel yang merah ranum tampak segar-segar menyembul dari busa styrofoam pembungkusnya. Saya tertarik untuk membeli sekilo. Biasanya jika membeli, saya membuka pembungkus itu satu per satu dan memeriksa isi buahnya dengan teliti. Takut ada yang busuk.

Kemarin pun saya melakukan hal yang sama. Membuka pembungkus buah itu satu persatu.

Nah…sampai di rumah saya baru tahu, ternyata saya telah memilih satu buah apel busuk di antaranya. Lho, kok bisa?

Rupanya saat memeriksa buah apel itu, saya hanya melihat sepintas dan jika kelihatannya oke, langsung saya masukkan ke dalam plastik. Saya kurang teliti dan tidak memutar-mutar buahnya untuk memastikan tidak ada bagian yang cacat ataupun busuk. Dan bagian busuk itu rupanya tersembunyi di bawah, sedangkan saya hanya melihat permukaannya saja dan merasa diri sudah cukup mengamati. Padahal sebetulnya pengamatan saya sama sekali jauh belum cukup. “Saya terburu-buru karena anak saya menunggu” itu jawaban pembenaran saya atas keteledoran saya ini.

Sound familiar? Ya…itu sering terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari. Misalnya bagi ibu rumah tangga dalam merekrut pembantu rumah tangga, bagi calon pekerja dalam melamar masuk ke sebuah perusahaan, bagi perusahaan dalam merekrut karyawannya, bagi calon suami dalam mencari calon istrinya, dan lain sebagainya.

Terutama jika itu menyangkut pemilihan akan hal yang sangat penting artinya dalam perjalanan hidup kita, kita benar-benar harus super teliti dalam melakukan seleksi. Kita mesti luangkan waktu yang cukup untuk itu. Mesti letakkan fokus perhatian kita untuk memeriksa secara menyeluruh segala sesuatu yang seharusnya bisa kita periksa. Periksa lebih jauh lagi jika ada indikasi yang kurang baik.

Begitulah teman-teman, pelajaran kehidupan yang bisa saya petik buat diti saya sendiri dari kasus apel busuk ini.

Selamat menjalani kehidupan dan menetapkan pilihan yang tepat dalam setiap persimpangan jalan 😊

Garden Update: Cincau Perdu.

Standard

Sudah lama nggak sempat ngupdate kebun halaman saya. Kemarau panjang dan serangan penyakit karat serta kutu putih membuat kebun menjadi merana. Jadi saya memilih untuk mengistirahatkannya sebentar untuk membantu memutus penularan penyakit-penyakit itu.

Namun demikian, masih ada beberapa tanaman dapur hidup yang tetap produktif. Misalnya pohon Cincau Hijau. Tetap berdaun lebat. Ever green.

Ada 3 jenis yang saya tanam dan ke tiganya lumayan lebat daunnya. Jadi harus dimanfaatkanlah ya. Kalau tidak toh akan tetap menguning dan layu juga pada akhirnya.

Nah ini adalah salah satunya. Daun Cincau Perdu (Premna oblongifolia). Daun Cincau yang saya baru tahu sejak saya tinggal di Jakarta, karena jenis cincau ini tidak dibudidayakan di Bali.

Daunnya lebar-lebar dan sesuai namanya tanaman ini batangnya tidak merambat, tapi tegak seperti layaknya Perdu. Saya menanamnya dari stek batang yang diberikan oleh salah seorang sahabat.

Cerita Pembantu & Budhe Tukang Jamu.

Standard

Hari Sabtu pagi. Saya bangun agak kesiangan karena semalam baru kembali dari luar kota. Tapi karena niat saya mau berlari pagi, jadi nggak apa-apalah saya tetap keluar walaupun kesiangan πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€.

Berlari hanya di sekitar perumahan saja. Lumayan sudah mengeluarkan keringat. Dan yang lebih penting adalah bertegur sapa dan bertukar senyum dengan tukang sayur yang mangkal, pak satpam, ibu-ibu pembersih taman, tukang bubur, mbak-mbak yang sedang berbelanja dan juga para tetangga yang sedang berjalan-jalan pagi.

Usai berlari, saya mampir di tukang sayur untuk membeli pepaya dan selada air. Lalu ada si Budhe Tukang Jamu. “Olah raga pagi, Bu? “Sapanya dengan sumringah seperti biasanya. Saya tersenyum mengiyakan dan bercakap-cakap sebentar dengannya. Selalu menyenangkan jika ngobrol dengan Budhe. Sayapun memesan sebotol jamu sirih kunyit asem. Sambil menyiapkan jamunya, si Budhe bertanya kepada saya.

Bu, itu mbaknya yang kerja di ibu keluar ya Bu?”. Saya berpikir sejenak. Karena yang sekarang baru saja mulai bekerja. “Yang dari Purworejo”. Katanya. Oooh…

Ya Budhe. Cuma sempat kerja beberapa hari saja, terus pulang dan tak kembali” kata saya.

Alasannya apa Bu waktu minta ijin pulang?” Saya lalu menceritakan jika alasannya waktu itu adalah ingin pulang selama 2 hari karena ingin mengurus administrasi anaknya sebentar karena mendapat sejenis beasiswa. Ya jadi saya ijinkan, karena buat saya pendidikan anak itu sangat penting. Tapi di hari yang ia janjikan akan datang ia tak muncul. Demikian juga hari hari berikutnya hingga saya mendapat konfirmasi bahwa ia positive keluar.

Saya sendiri tidak menyesali kepergiannya, karena saya mendapatkan informasi berikutnya bahwa ia sebenarnya ogah-ogahan bekerja dan bahkan memiliki sejarah kejujuran yang buruk saat bekerja dengan majikan-majikan sebelumnya. Jadi beruntunglah saya tidak perlu bergalau hati seandainyapun ia ketahuan melakukan hal yang aneh-aneh. Tapi bagian ini tidak saya ceritakan kepada si Budhe Tukang Jamu.

Saat saya terdiam sambil mengingat-ingat wajah si Mbak yang cuma sempat bekerja beberapa hari saja di rumah saya itu, si Budhe tiba-tiba curhat.

Itu lho Buuuu! Mbaknya itu membawa kabur baju saya dan nggak bayar” katanya dengan muka sangat murung. Hah ???!!!.

Saya seperti tersengat listrik. Kaget!. Lha? Kok bisa?? Dia kan hanya beberapa hari saja kerja di tempat saya? Kok sudah sempat-sempatnya melakukan kejahatan?. Saya tidak mengerti. Selain itu, ia juga orang baru di perumahan ini. Karena sebelumnya ia bekerja di perumahan lain di BSD.

Lah..Budhe kok bisa percaya ngasih baju ke orang baru gitu? “ tanya saya heran. Si Budhe yang baik ini selain menjadi Tukang Jamu juga berjualan baju dengan cara nencicil-cicilkan kepada para pembantu rumah tangga di perumahan itu. Pernah saya ceritakan di tulisan ini (Tukang Jamu Dalam Ekosistem Perumahan) sebelumnya.

Lha…gimana to Bu?. Wong dia bilangnya besok pasti akan dibayar karena waktu itu dia nggak bawa uang. Ya saya percaya saja“. Katanya memelas. Saya kok tidak tega melihatnya.

Terus saya tanya tanya ke orang-orang. Dikasih tahuin itu pembantunya Ibu Dani. Terus karena nggak dateng-dateng, saya samperin ke rumah ibu. Saya ketok-ketok, nggak ada yang bukain pintu.”. Ceritanya. Waduuuh ..nama saya jadi kebawa-bawa deh ya.

Terus saya tanya Mbak Imah ( Tukang Sayur) katanya sudah lama nggak pernah muncul belanja sayur. Mungkin sudah pulang ke Jawa. Atau brenti kerja, Bu?”. Saya semakin tidak tega mendengarnya. Ya…memang dia sudah lama pamit pulang. Cuma beberapa hari saja di rumah saya. Walaupun cuma beberapa hari saja, ternyata sudah mampu menciptakan penderitaan bagi orang lain.

Saya bertanya berapa banyak ia berhutang. Budhe menyebutkan sejumlah angka. Ooh..rupanya tidak terlalu besar. Saya pikir saya masih bisa menalangin dengan ikhlas. Kasihan juga si Budhe jika ia harus nenanggung kerugian akibat ulah pembantu yang bekerja di tempat saya.

Akhirnya saya tepuk bahunya si Budhe. “Sudahlah Budhe. Nanti saya ganti. Biar Budhe nggak rugi” kata saya lalu membayar sekalian dengan harga jamu kunyit asem. Si Budhe mengucapkan terimakasih dan terharu. “Kok bisa ya ada orang kayak gitu. Nggak kayak yang lainnya di perumahan ini. Biasanya jujur. Apa dia juga ada minjem uang sama Ibu? ” tanya si Budhe. “Ya Budhe. Tapi nggak seberapa. Buat ongkos pulang dan keperluan di sana saja”. Kata saya. Dan saya sudah mengikhlaskannya saat itu. Jadi saya tak punya beban ataupun rasa sesal sedikitpun. Sekarang saya baru tahu ternyata ia merugikan si Budhe Tukang Jamu.

Sambil berjalan pulang saya jadi berpikir-pikir. Urusan pembantu rumah tangga memang masalah yang sangat pelik buat ibu-ibu. Kita memasukkan orang asing yang tak kita kenal ke dalam rumah kita.

Jika kita percaya begitu saja, kita tak pernah tahu sebelumnya apakah orang ini jujur dan akan terus jujur selama di rumah kita. Jika tidak, tentu kita yang akan kena musibah.

Tapi jika kita tak percaya dan cenderung curiga tentu akan menghasilkan hubungan kerja yang kurang harmonis juga dengan pembantu. Karena pada kenyataannya, menurut pengalaman saya kebanyakan dari mereka sebenarnya jujur-jujur dan baik-baik. Tentu tidak adil juga jika mereka dicurigai setiap saat.

Interview, sreening dan reference di saat awal menurut saya tetap penting. Walaupun kadang-kadang si pemberi referensi juga tidak mengenal cukup baik.

Teman-teman adakah yang punya pengalaman serupa?

Panahan: Antara Logika & Rasa.

Standard

Kembali lagi ke lapangan Panahan bersama 2 anak saya. Memberi kesempatan tubuh untuk terpapar penuh oleh sinar matahari. Kali ini tanpa Pak Heydar yang bisa saya temui untuk berkisah lagi tentang Leadership. Rupanya beliau sedang sibuk memberikan pelatihan di tempat lain.

Setelah 2 minggu sebelumnya saya hanya menjadi penonton, pemantau dan pendengar, sekarang saya memutuskan untuk maju selangkah. Mencoba!. Jadi status saya naik ya dari pasif menjadi aktifπŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€.

Saya menemui Pak Azmi dan ditemani Mas Ido. Jadi bagaimana caranya untuk memulai?.

Pertama, kata Mas Ido saya harus memakai pelindung lengan bawah. Maksudnya agar nggak kejepret tali busur. Bisa merah. Saya menurut.

Lalu Mas Ido memberikan saya busur ukuran 18. Katanya yang ukurannya kecil dan enteng. Untuk wanita. Jadi tidak sama dengan yang diberikan ke anak-anak saya yaitu ukuran 22 dan 20 yg jauh lebih besar dan berat. Baiklah. Saya akan coba.

Berikutnya saya diberitahu bagaimana caranya memegang busur dengan tangan kiri dan posisi genggamannya. “Genggaman harus kuat tapi tak perlu kaku atau terlalu erat”. Mas Ido menunjukkan busur yang terpegang dengan baik, sudah pasti tidak akan jatuh, tetapi tidak erat, jadi busur masih bisa bergoyang sesuai situasi. Lalu menempatkan anak panah dan menarik tali busur.

Gunakan 3 jari (telunjuk, jari tengah, jari manis) yang diposisikan sedemikian rupa di tengah di dekat pangkal anak panah dengan jari tertekuk di ruas pertama. Lengan kanan ditarik ke belakang melalui bawah dagu dan ujung siku tarik ke atas. Tangan saya rasanya gemetar… dan busur bergoyang hebat. Tahan kurang lebih selama 3 detik daaan…. lepasss!!!!.

Whua… anak panahnya nyungsep di bawah kotak sasaran. Gagal!.😣😣😣

Ternyata keras juga ya. Cukup terasa berat bagi saya untuk menarik tali busur itu kuat-kuat sehingga busurnya bergoyang. Mas Ido melihat kondisi itu, lalu mencarikan saya busur yang lebih kecil. Bentangan busur saya terlalu lemah rupanya. “Nggak apa-apa. Ibu baru pertama kali. Mungkin juga karena jarang olah raga ya?. Nanti kalau sering latihan juga akan kuat” katanya menghibur.

Saya lalu mencoba busur yang lebih kecil dan yang lebih enteng. Busur untuk anak-anak πŸ˜€. Waduuh… antara rasa senang dan sedih rasanya. Senang karena akan memulai dengan yang “mungkin” terlebih dahulu, sehingga saya bisa berpikir lebih positive karena saya melihat ada harapan di sana. Tapi sedihnya ketika menyadari dan mengakui bahwa betapa lemahnya tubuh saya saat ini. Salah satunya karena jarang berolah raga. Kesalahan saya sendiri juga.

Masak setua ini bisanya hanya menggunakan busur ukuran anak kecil sih 😒😒😒.

Tapi baiklah, demi kesuksesan ke depannya mari kita lupakan bagian yang menyedihkannya itu. Kita hanya ingat bagian yang memberi harapannya saja ya πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€

Singkat cerita, berlatih lah saya hari itu. Belum sekalipun saya sukses bisa membidik titik kuning tepat di bagian tengah sasaran. Biro boro lingkaran kuning, anak panah saya bahkan kerap kali melayang di atas papan sasaran atau nyungsep sekalian di bawahnya.

Masalah yang lain adalah, Mas Ido mengatakan teknik saya membidik belum benar. Posisi tubuh saya dan tarikan tangan kanan saya belum benar. Objectivenya bukan hanya sekedar berhasil membidik yang kuning. Tapi bagaiman membidik yang kuning dengan cara yang tepat dan benar.

Semakin saya mencoba membidik yang kuning, kok malah semakin meleset ya. Padahal saya sudah letakkan pandangan saya baik-baik pada ujung mata panah dan saya arahkan ke titik kuning itu.

Turunkan lagi Bu, turunkan lagi”. Waduuh!. ???????. Kok diturunkan terus ya? Padahal jelas jelas terlihat ujung panah itu mengarah jauh di bawah titik kuning. Tapi sudahlah… tanpa nendebat sayapun menurunkan bidikan saya dan…lepasss!!. Hasilnya? Jauh di atas titik kuning dan miring pula πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€.

Kenapa bisa begitu ya? Saya menggaruk garuk kepala saya yang tak gatal. Penjelasannya adalah karena letak mata kita lebih tinggi dari titik sasaran. Jafi logikanya, tangan harus kita turunkan. O ya? Tapi kan saya sudah menurunkan posisi tangan agar ujung anak panah mengarah ke bawah titik kuning itu? Rasanya kok nggak masuk akal ya. Saya coba berkali kali lagi dan hasilnya gagal maning, gagal maning.

Akhirnya saya kira-kirain saja. Dan ajaibnya, kalau nggak pakai teori dan hanya memakai feeling kok malah semakin dekat dengan titik sasaran. Walaupun tidak tepat di titik kuning, tetapi paling tidak, beberapa kali akhirnya saya berhasil menancapkan anak panah di lingkaran merah. Sudah mendekati sasaran. Lumayan. Better daripada yang tadi.

Anak-anak saya yang keduanya telah berhasil membidik lingkaran kuning sebanyak 4-5 x mendekati saya dan memberi dukungan. “Mama! Ayo lepas! jangan ragu-ragu!“.

Jadi panahan ini rupanya membutuhkan kombinasi logika dan feeling. Barangkali logika yang dibungkus oleh rasa sebagai persepsi tubuh atas apa yang tertangkap oleh panca indera kita. Rasa yang menyangkut genggaman tangan kita pada busur panah, bentangan tali busur, tentang jarak sasaran, arah ujung anak panah, kekuatan tangan kita dan lain sebagainya. Dibutuhkan rasa yang lebih menyatu dengan busur dan anak panah itu sendiri. Seorang pemanah tidaklah boleh menjadi “stranger” bagi busur dan anak panahnya sendiri.

Sampai di titik ini saya belum berhadil. Saya masih ingin terus berlatih.

Leadership. Memungut Pelajaran Dari Lapangan Panah.

Standard
Leadership. Memungut Pelajaran Dari Lapangan Panah.

Hi! Saya mau berbagi cerita lagi nih. Cerita menarik hasil saya ikut nguping dari lapangan panahan minggu lalu πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€.

Teman-teman pembaca pernah nguping nggak? Mendengarkan pembicaraan orang lain diam-diam. Ihhh….itu kan tidak sopan ya?. Ya memang. Tetapi kadang-kadang kita terjebak dalam situasi dimana kita terpaksa jadi ikut nguping juga karena kepepet πŸ˜€.

Itu terjadi pada saya. Bukan karena niat nguping sih… tapi ya…awalnya nggak sengaja, tapi karena percakapan itu sungguh menarik, saya pun meneruskan kegiatan menguping itu hingga selesai.

Hari Sabtu yang lalu saya menemani anak-anak saya yang ingin mencoba bermain panahan di BSD Archery. Dikasih kontak oleh Mbak Pimpim, seorang teman baik, sayapun bertemu dengan Pak Azmi dan Pak Heidar yang mengelola tempat latihan panahan itu.

Anak-anak ikut berlatih 🎯🎯🎯dan mencoba dengan penuh semangat. Saya sendiri hanya menonton dan sesekali mengabadikan kegiatan anak saya dengan kamera hape. Mereka belajar meletakkan anak panah, merentangkan busur dan membidik sasaran. Mulanya meleset banyak. Tapi karena dicoba dan dicoba terus, anak-anak kelihatannya mulai dapat ‘feels’ nya.

Ini adalah kali pertama saya melihat peralatan panah yang benar dari dekat. Sebelumnya yang pernah saya lihat hanyalah panah mainan saja πŸ˜€. Jadi saya tertarik juga untuk memperhatikannya.

Serupa dengan panah mainan, peralatan panah terdiri atas Anak Panah dan Busur.

Kalau anak panah sih sudah sangat jelas ya. Terdiri atas batang, mata panah yang tajam dan pangkal panah yang mirip bulu ayam.

Busur, jika diperhatikan terdiri atas bagian yang melengkung ke atas dan bawah yang disebut dengan limb dan tali panah.

Lalu di bagian tengah limb, saya melihat ada bagian dari bahan kayu tempat pegangan tangan yang disebut dengan riser.

Di atas lekuk pegangan tangan, rupanya terdapat celah kecil tempat meletakkan anak panah. Dan sedikit lagi di atasnya terdapat celah bidik atau visir.

Saya memperhatikan Pak Azmi dan Pak Heidar memperagakan bagaimana cara memegang busur panah yang benar. Para peserta pun mulai mencoba, berlatih dan terus berlatih membidik ke sasaran yang sudah ditetapkan.

Latihan berjalan santai ditingkahi obrolan kiri kanan dan curhatan oleh peserta lain tentang kerjaan kantor yang entah bagaimana awalnya, kemudian berakhir dengan topik ‘Leadership’. Semakin seru karena tiba tiba Pak Heidarpun ikut nimbrung dan membagikan ilmu dan pengalamannya dalam hal ‘Leadership’ kepada sekelompok peserta latihan itu.

Sayangnya saya belum kenal dengan kelompok itu, jadi nggak bisa ikut nimbrung ya. Selain itu anak-anak saya masih meneruskan latihan walaupun panas makin terasa menghentak. Jadi sambil mengawasi dan memotret anak-anak, sebelah telinga saya ikut mendengar dan saya ikut menyimak pembicaraan Pak Heidar yang menarik itu. Begitulah asal muasalnya mengapa saya jadi ikut menguping *mencari pembenaranπŸ˜€.

Menurut Pak Heidar, menguasai ilmu memanah, juga membuat kita memperbaiki kemampuan leadership kita. Bagaimana?. Nah ternyata ada ceritanya nih teman-teman pembaca….

Jika kita perhatikan bagaimana orang memanah, kita akan mengetahui sang pemanah akan menggenggam busurnya tepat di tengah pada riser.

Saya melirik sekilas, Pak Heidar menjelaskan bahwa bagian riser dari tengah ke bawah berfungsi sebagai pengendali. Bagian ini kurang lebih porsinya 60%.

Sedangkan bagian riser dari tengah ke posisi celah bidik berfungsi sebagai pembidik. Kurang lebih porsinya 40%.

Jika sebagai seorang pemanah, kita memfokuskan diri pada bagian “Pengendali” yang porsinya 60 % tadi, maka kita akan cepat merasa lelah dan hasil bidikanpun belum tentu tepat mengenai target.

Hal yang sama akan terjadi jika hal itu kita lakukan sebagai seorang pemimpin. Kadang-kadang karena kekhawatiran yang berlebih, sebagai pemimpin kita cenderung sibuk mengawasi, meneriksa, mengontrol semua pekerjaan yang seharusnya menjadi tugas dan tanggung jawab bawahan kita (bahkan jika perlu membantu) hanya untuk memastikan semua sudah dikerjakan dengan baik. Sebagai akibatnya, kita akan merasa lelah sendiri. Karena bagian ini adalah bagian dengan porsi yang lebih besar yang seharusnya kita lepaskan kepada team untuk mengerjakannya. Sehingga kita bisa lebih fokus pada bagian lain yang lebih penting.

Sebaliknya jika sebagai pemanah kita memfokuskan diri pada bagian “Pembidik” yang porsinya cuma 40% tadi itu, maka kita tidak akan merasa terlalu lelah. Dan kemungkinan terbidiknya target sasaranpun semakin besar.

Sebagai leader pun demikian. Jika kita lebih memfokuskan diri pada membidik target dan mengarahkan team untuk mencapainya, maka kemungkinan untuk tercapainya objective menjadi lebih besar. Dan sebagai leaderpun pekerjaan kita menjadi tidak terlalu berat. Karena bagian detail yang merupakan porsi besar dari pekerjaan itu sendiri, telah kita percayakan pada team kita. Dan mereka akan baik-baik saja.

Wow! Analogi yang sangat bagus. Saya pikir itu sebuah tips yang sangat berguna bagi siapapun yang memegang posisi sebagai leader. Sungguh beruntung saya berada di situ dan jadi ikut mendengar dengan tanpa sengaja (nguping maksudnya πŸ˜€).

Selain itu, memanah juga mengajarkan ketahanan dan spirit yang bagus. Menurutnya lagi, diantara bala tentara kerajan jaman dulu, para pemanah adalah yang dianggap sebagai armada yang paling berbahaya. Karena mereka sangat tangguh dan memiliki mental baja. Itulah sebabnya pula, mengapa jika seseorang ingin menaklukan sebuah kerajaan lain maka armada pemanahnyalah yang dibabat habis untuk memastikan pemberontakan bisa diredam.

Hmm.. obrolan yang sungguh menarik. Terimakasih sharingnya Pak Heidar.

Ketika Saya Tak Memakai Kaca Mata.

Standard
Ketika Saya Tak Memakai Kaca Mata.

Suatu kali saya menghadiri sebuah acara yang diadakan di sebuah Cafe di kawasan Tebet, Jakarta. Di acara itu, selain saya ada beberapa orang rekan kerja dan juga teman teman dari agency periklanan yang datang.

Acara itu cukup panjang dan tanpa terasa malampun tiba. Sementara bergantian mengisi acara dan mensupervisi kegiatan itu, sayapun memesan dan menghabiskan makan malam saya.

Kebiasaan saya jika makan, adalah saya melepas kacamata. Atau saya tenggerkan di atas kepala. Alasannya karena lebih nyaman, dan sebetulnya saya hanya perlu melihat makanan yang jaraknya dekat saja dengan mata saya. Sebagai akibatnya, saya tak begitu jelas jika melihat benda atau object yang letaknya agak jauh.

Seusai makan, masih tetap dengan kacamata di atas kepala saya lanjut bermain hape. Menengok Facebook, Instagram dan WA. Ada banyak chat baru masuk. Saya mulai membaca dan sibuk berkomentar dan membalas chat. Tiba tiba seorang pria berdiri di seberang meja dan mengulurkan tangannya ke saya. “Bu!” Katanya.

Saya yang dari tadi sibuk menenggelamkan diri di hape merasa agak kaget. “Oh, pelayan restaurant” pikir saya. Barangkali mau merapikan meja biar nggak berantakan oleh piring kotor.

Tanpa melihat ke wajah pemilik tangan itu, saya menyodorkan piring kotor saya agar dibawa pergi. Tangan itu tak tampak sigap menyambut piring kotor yang saya ulurkan.

Oops!!!. Saat itulah baru saya sadar bahwa ternyata pemilik tangan itu bukan pelayan restaurant melainkan Vicky, salah satu teman saya dari agency yang rupanya baru datang . Rupanya ia melihat saya, mendekat dan bermaksud menyalami.

Waduuuh… betapa malunya saya. Buru- buru saya minta maaf dan menjelaskan situasinya jika tadi saya tak begitu jelas melihat wajah orang, gegara kacamatanya tidak saya pakai. * sebenarnya alasan lain juga, barangkali saya terlalu tenggelam dalam sebuah chat WA πŸ˜€

Ah…ngggak apa apa kok Bu. Sudah biasa” kata Vicky cengar cengir yang membuat saya makin merasa nggak enak.

Kacamata!.

Bagi pemilik mata rabun seperti saya, kacamata adalah benda mujizat yang saya tak bisa hidup tanpanya. Sungguh!.Jika tak memakai, bumi terasa datar πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€. Jadi terpaksa harus saya pakai deh setiap saat. Mau di kantor, mau di dapur, mau di jalan dan di mana saja saya perlu kacamata.

Memakai kacamata sebenarnya melelahkan juga. Itulah sebabnya sebagian orang menggantinya dengan softlens atau sekalian dilasik saja biar mata kembali melihat dunia terang benderang. Tapi saya tak memilih 2 pilihan terakhir itu. Softlens dan Lasik. Mengapa? Saya tak bisa memakai softlens karena saya punya kecenderungan mengucek-ucek mata. Dan Lasik juga bukan pilihan saya mengingat biayanya yang tinggi. Jadi ya…lupakan sajalah.

Nah..jadi bertahanlah saya dengan kacamata saya hingga kini. Kalau lelah, biasanya saya angkat saja ke atas kepala sekalian untuk menahan rambut saya terurai ke depan. Jadi mirip bandana gitu.

Cara lain ya saya lepas sekalian dan letakkan di atas meja misalnya. Cuma jika tidak disiplin, kadang jadi merepotkan juga. Karena lebih sulit mencari kacamata dalam keadaan tanpa kacamata πŸ˜€