Oregano, Rempah Serba Guna.

Standard

Ketika mencicipi Italian Piza, kita selalu merasakan ada bumbu dengan aroma khas di dalamnya. Nah…itulah Oregano. Bumbu masak yang sangat umum digunakan di dapur-dapur Eropa dan Mediterania. Tanpa Oregano, rasa piza ataupun spaghetti yang kita buat terasa ada yang kurang.

Oleh karena itu, bagi yang suka mencoba- coba memasak berbagai jenis resep mancanegara di dapur, keberadaan oregano ini amatlah penting.

Sebenarnya cukup mudah mendapatkan Oregano kering di supermarket, tetapi saya tetap merasa memiliki pohon Oregano di halaman sendiri tetap merupakan pilihan yang terbaik buat saya. Karena, jika masak saya lebih menyukai bumbu ataupun bahan- bahan yang masih segar ketimbang yang sudah kering.

Apanya yang kita manfaatkan untuk bunbu?. Daunnya. Tapi saya dengar bubganya juga sama, bisa dipakai untuk bumbu. Rasanya pedas lemah sedikit pait.

Oregano (Origanum vulgare), adalah tanaman rempah yang masih berkerabat dengan pohon Mint. Tidak hanya dimanfaatkan untuk keperluan dapur, tetapi juga sebagai obat traditional.

Di Yunani sana, secara turun temurun, Oregano telah dikenal sebagai salah satu natural antiseptic. Umum digunakan untuk mengatasi jerawat ataupun mengurangi ketombe.

Selain itu saya juga menemukan penjelasan bahwa Oregano ini juga dimanfaatkan untuk mengatasi keluhan kesehatan lain seperti batuk, sakit saat haid, sakit perut dan sebagainya.

Bahkan sebuah informasi mengatakan bahwa Oregano mengandung anti cancer property. Waaah… berguna banget ya jika kita tanam di halaman kita.

Advertisements

Sarang Tawon & Fire Rescue.

Standard

Di halaman rumah saya ada sarang Tawon jenis Tabuhan Sirah (Bhs Bali), alias Tawon Endas (Bhs Jawa). Sarang tawon ini membesar dengan kecepatan luar biasa. Dalam waktu kurang lebih tiga bulan, sarangnya sudah seukuran kepala orang dewasa, dan tiga bulan berikutnya sudah seukuran karung beras. Astaga !!!

Sangat mengkhawatirkan. Mengingat di sebelah rumah saya adalah lapangan tempat anak-anak bermain bola. Dan sangat sering anak-anak masuk mengejar bolanya yang tertendang melenceng jatuh ke halaman rumah. Selain itu, yang namanya anak- anak, ada saja yang iseng dan jahil.

Pernah suatu kali saya melihat sebatang batu bata merah nangkring di atas dahan pinus. Besar kemungkinan, ada yang melakukan usaha menimpuk sarang tawon itu dengan batu bata.

Saya sempat mengutarakan permasalahan ini dan meminta ide dari teman teman di sekitar dan juga di Facebook bagaimana cara mengatasi tawon ini. Ada banyak masukan, mulai dari mengasapi, membakar sarang tawon ini di malam hari, meminta bantuan Damkar, ada juga yang membantu dengan doa, agar tawonnya kalem dan tidak menyerang anak-anak. Dan sebagainya.

Bantuan Penyelamatan Tak Berbayar.

Setelah bertanya ke sana kemari, akhirnya saya memutuskan untuk meminta bantuan team Rescue dari Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kita Tangerang Selatan untuk menangani sarang tawon besar ini. Awalnya saya nggak begitu yakin, takut ribet. Tapi ternyata sangat mudah. Karena respon team Rescue TangSel ini sangat baik dan cepat.

Dan bagusnya lagi, bantuan penyelamatan ini ternyata tidak berbayar. Saya hanya diminta menyiapkan 3 kaleng insektisida dan lakban coklat, setelah saya mengirimkan foto foto sarang tawon itu dan nemperkirakan ketinggiannya dari permukaan tanah, yakni sekitar 6 meter.

Team Resque datang sore hari menjelang gelap. Tetapi sarang tawon tidak langsung dieksekusi, mengingat masih banyak anak-anak yang bermain dan berseliweran di bawahnya. Jadi kami menunggu hari gelap dulu.

Vespa Affinis Yang Mematikan.

Sambil menunggu, saya sempat berbincang dengan Pak Darius dari team Rescue. Tawon Endas atau Vespa affinis, adalah jenis tawon predator yang sangat agresif dan sengatannya berbisa. Dalam beberapa kasus bahkan ada yang menyerang manusia hingga meninggal. Saya merasa gentar memikirkannya.

Untungnya sangat mudah mengenalinya. Karena tawon ini ukurannya relatif cukup besar dengan warna hitam dan bagian pantat memiliki gelang berwarna kuning jingga

Pohon Pinus dan Kebakaran.

Dari perbincangan ini saya baru sadar bahwa tindakan saya memanggil team Pemadam Kebakaran dan Rescue ini sangatlah tepat.

Sebelumnya saya nyaris mengiyakan ketika ada orang mengajukan penawaran dengan membakar sarangnya di malam hari. Saya lupa kalau sarang tawon itu bergantung di pohon pinus yang menghasilkan getah resin yang sangat mudah sekali terbakar. Nah, kebayang nggak sih kebakaran yang mungkin terjadi jika saya mengiyakan orang itu membakar sarang tawon di pohon pinus?. Lebih parah lagi, di halaman yang sama, saya juga memiliki 3 pohon pinus lain yang sama besarnya tumbuh berdekatan. Whuaa…kebakaran besar bisa merembet kemana mana. Jika kebakaran sampai terjadi, ujung-ujungnya saya juga harus memanggil team Pemadam Kebakaran. Sami mawon. Jadi lebih baik panggil sebelum terjadi kebakaran.

Setelah hari gelap, operasi penurunan sarang tawon dilakukan. Petugas mulai menurunkan peralatannya dari mobil. Lampu lampu dimatikan. Dan petugas meminta penghuni rumah masuk ke dalam dan menutup pintu untuk menghindari amukan tawon. Akibatnya saya tidak bisa meliput dengan baik aktifitas ini πŸ˜₯. Tapi baiklah, demi keselamatan diri.

Intinya, petugas yang sudah memakai pakaian pelindung memasang tangga di dahan pinus, lalu naik, nenyemprot sarang tawon dengan insektisida dan memasukkan sarang tawon itu ke dalam karung.

Sekarang halaman rumah saya sudah terbebas dari sarang Tawon Endas. Lega rasanya melihat anak anak bermain di lapangan tanpa khawatir disengat Tawon.

Terimakasih Team Rescue dari Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Tangerang Selatan!!!.

Teamnya bagus, handal dan sigap πŸ‘πŸ‘πŸ‘

O ya bagi yang ingin tahu nomer telpon Dinas Pemadam Kebajkaran dan Penyelamatan Kota Tangerang Selatan ini ya 0811900074.

Ondel-Ondel,

Standard

Jalur saya dari kantor ke rumah, adalah jalur perkampungan Betawi. Dengan demikian, saya menjadi beruntung karena hampir setiap malam sepulang kerja ada saja Ondel-Ondel yang saya lihat melintas di jalur itu.

Malam kemarin juga. Saat hendak mengisi bensin, saya lihat ada Ondel-Ondel sedang menari-nari di pomp bensin. Karena sangat dekat, saya berniat untuk menonton dan sekalian ngasih sumbangan. Sayapun turun dan mulai memotret sang Ondel-Ondel. Niat saya juga ingin merekam Ondel – Ondel ini. Walaupun gerakannya sederhana dan tanpa pakem, hanya maju, goyang ke kiri, goyang ke kanan atau beputar putar, tarian Ondel-Ondel ini cukup jenaka juga.

Baru saja sempat sekali menjepret sang Ondel-Ondel itu, seorang perempuan berlari sambil menunjukkan kaleng sambil memberi kode kepada saya agar saya segera memberi sumbangan uang.

Saya melihat ke arah perempuan itu dan berpikir, mungkin ini istri dari pria yang berada di balik Ondel Ondel itu. Dan ia setia ikut suaminya berjalan jauh untuk mencari nafkah.

“Ah!. Saya nggak mau ngasih uang sekarang, ntar kalau saya kasih uang pasti Ondel-Ondelnya langsung kabur, Mbak. Wong saya mau memvideokan Ondel Ondel ini” kata saya.

Si Mbak tertawa mendengar komentar saya. Lalu ia memanggil sang Ondel-Ondel dan menyuruhnya menari di dekat saya.

Waah… lumayan leluasa saya memotret dan memvideokannya. Karena sang Ondel Ondel sekarang mau menari dengan baik. Bukan menari ala kadarnya dan kabur.

Setelah cukup, lalu saya memberikan sumbangan kepada si Mbak. Dia tersenyum. Dan betul saja, begitu uangnya diterima, mereka langsung pergi. Berjalan lagi.

Saya tertawa. Nah inilah yang seharusnya disadari oleh teman teman seniman jalanan kita untuk meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap kesenian daerah.

Mengamen di jalanan, menurut saya adalah sebuah pilihan profesi juga. Akan tetapi, untuk meningkatkan minat orang menonton dan mengapresiasi serta membayar, ada beberapa hal yang sebaiknya dilakukan:

1/. para seniman jalanan meningkatkan kwalitas pertunjukannya agar lebih baik dan menarik, misalnya dengan menciptakan gerakan baru, melatih gerakan dan lebih menyrimbangkan dengan musik yang dipilih.

2/. Melakukan pertunjukan dengan bersungguh sungguh hingga selesai, barulah meminta sumbangan/ bayaran dari masyarakat yang menonton. Jangan hanya menari ala kadarnya, lalu buru buru minta sumbangan dan segera kabur setelah uang diberi.

Ginkgo Biloba, Sang Fossil Hidup.

Standard

Sudah lama saya menyukai tanaman ini. Bukan saja karena bentuk daunnya yang sangat indah seperti kipas Jepang, tetapi juga karena khasiat luarbiasanya yang banyak diceritakan orang.

Nah saat saya berkunjung ke Jepang, tanaman ini saya lihat sangat banyak tumbuh, baik di tepi jalan, taman -taman ataupun kuil-kuil. Sangat senang melihatnya. Maka saya ceritakan perihal tanaman ini ke anak saya.

“Apakah pernah mendengar atau membaca tentang Ginkgo?. Ginkgo Biloba?” tanya saya. Sangat ajaib, ternyata anak saya tahu tentang tanaman ini. “Tahu!. Yang bagus untuk memperbaiki memory, kan?” tanyanya. “Betul!. Nah, ini dia tanamannya“, kata saya menunjuk sebatang pohon Ginkgo Biloba. Anak saya sangat bersemangat melihat lihat daun Ginkgo yang cantik dan hijau segar, seolah-olah pengen ngelalapnya segera.

Ginkgo Biloba, adalah satu satunya spesies hidup yang tersisa dari keluarga Ginkgophyta, yang sudah ada semenjak jaman Jurasic. Dalam dunia kesehatan. extract daun Ginkgo dipergunakan dalam menangani berbagai kondisi gangguan memori, cardiovascular ataupun gangguan penglihatan.

Ketika memasuki halaman Osaka Castle, di Osaka, saya juga menemukan beberapa batang Ginkgo Biloba yang sedang berbuah. Nah…kesempatan lagi untuk mengajak anak saya mengamati amati buah Ginkgo. Buahnya bulat lonjong berwarna hijau dengan biji tunggal di dalamnya.

Tombori River Walk Experience.

Standard

Hari berikutnya di Osaka, kami berniat mencoba tour sungai dengan arah yang berbeda dan lebih jauh dari yang pernah kami alami di Dotonburi. Nah, ketemulah paket wisata sungai “Tombori River Walk”. Karena kami memiliki Osaka Pass, maka kami datang ke tempat di mana kami bisa mendaftar. Tempatnya di pinggir sungai di dekat jembatan Nipponbashi.

Rupanya kami tiba terlalu pagi. Tempat mendaftar itu masih sangat sepi. Nyaris tak ada orang. Hanya keluarga kami saja. Tapi tempat ini indah sekali. Ada tempat duduk -duduk di situ.

Saya masuk ke sebuah warung kecil yang satu satunya buka pagi itu. Oh, rupanya kami bisa book ticket di sana. Diinformasikan bahwa perahu akan tiba pukul 11.00 . Kamipun menunggu sambil duduk duduk dan minum jus.

Pukul 11 benar saja perahu tiba. Kami akan menyusuri sungai menuju dermaga yang dekat dengan Osaka Castle.

Perjalananpun di mulai.

Saya memandang ke kiri dan ke kanan sungai. Banyak gedung gedung dan bangunan lain. Juga bunga bunga yang cantik.

Sungai di sini sangat bersih. tak ada satupun sampah mengambang. Kesadaran warga akan kebersihan sangatlah tinggi. Tak ada satu orangpun yang membuang sampah sembarangan.

Sesekali burung air bermain di tepian sungai.

Apa yang menarik dari perjalanan ini?. Selain pemandangan yang indah, saya memperhatikan jika pemerintahan di Osaka ini sungguh sangat efisien dalam soal tata ruang. Contohnya, memanfaatkan sungai untuk jalur wisata / transportasi sungai, dan diatasnya sekalian ditumpangi dengan jalan raya dan atau rel kereta. Sehingga sarana transportasi tidak banyak memakan space.

Hal bagus lainnya adalah adanya pintu pintu sungai.

Saat menyusuri sungai ini, perahu tiba tiba berhenti. Oooh… mengapa?. Rupanya ada sebuah rintangan di depan. Mirip tembok atau bangunan memanjang yang menutup sungai. Terpaksa kami parkir dulu beberapa menit, menunggj pintu air itu dibuka pelan-pelan. Barulah kapal yang kami tumpangi bisa lewat. Setelah kami lewat, pintu air itu menutup kembali.

Sebenarnya saya tidak tahu persis apa gunanya pintu air ini. Saya pikir mungkin ada hubungannya dengan pengaturan volume air. Tapi apapun itu, saya rasa bagus juga untuk membantu operasi pengawasan lalu lintas sungai. Misalnya nih, jika ada seorang penjahat kabur lewat sungai, maka pintu air ini bisa dimanfaatkan untuk nencegat perjalanan si penjahat (he he…ini mungkin efek kebanyakan menghayal πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€).

Kami terus berperahu hingga sampai di dermaga yang tak jauh dari stasiun Osaka-jokoen dekat Osaka Castle.

Hokoku Shrine di Osaka.

Standard

Di seberang pintu gerbang Osaka Castle, terdapat sebuah Shrine yang menarik hati saya. Kelihatan sangat simple dan elegan. Rasanya mengundang saya untuk masuk.

Di tengah halaman terdapat patung seorang samurai dengan pedangnya. Rupanya itu adalah Toyotomi Hideyoshi.

Jadi Shrine atau tempat suci ini memang didedikasikan husus untuk Toyotomi Hideyoshi.

Ragam Bunga Pecah Seribu di Negeri Sakura.

Standard

Jepang, sangat terkenal dengan bunga Sakuranya. Saat musim bunga, berbondong- bondong tourist datang untuk menyaksikan keindahannya. Saat saya berkunjung, Sakura telah berhenti berbunga. Bunganya telah gugur dan sebagian menjadi buah cherry kecil kecil. Pertanyaannya, jika bunga Sakura telah gugur apakah tak ada bunga lain yang menarik lagi di Jepang?.

Jawabannya tentu banyak. Setidaknya ada 2 jenis bunga lagi yang sangat dominant di lanskap taman-taman di Jepang, yakni Azalea dan Hydrangea alias Bunga Pecah Seribu.

Di Indonesia kita bisa menemukan Kembang Pecah Seribu ini di berbagai area berudara dingin, seperti misalnya Malang, Puncak, Bedugul, Dieng dan sebagainya. Jenis yang umum di Indonesia adalah yang berwarna biru (paling banyak) , warna pink (jarang).

Nah, saat bermain ke Jepang, saya menemukan banyak sekali jenis jenis Bunga Pecah Seribu. Warnanya memang seputaran biru, pink dan putih, tetapi variantnya ternyata banyak sekali.

Ini adalah sebagian variant bunga Pecah Seribu dalam berbagai warna biru. Semuanya dalam gradasi warna biru. Tapi ada yang biru keputihan, biru kehijauan, ada yang biru keunguan, ada yang biru murni. Lalu ada yang binganya bergerombol, ada yang menyendiri, dan bahkan ada juga yang mempunyai putik dan benang sari terpisah. Orang Jepang mrnyebutnya dengan Hidrangea Pegunungan. Sungguh sangat cantik-cantik.

Ada juga yang berwarna pink. Dan berbagai varisnt warna pink. Sungguh cantik cantik. Pengen rasanya bawa ke Indonesia.

Dan yang baru saya lihat adalah variant yang berwarna putih. Inipun beragam juga. Ada yang benang sarinya benar benar putih, ada yang biru dan ada juga yang campuran.

Dapur Hidup: Lemon Thyme.

Standard

Bagi penggemar masakan Eropa, tentu paham jika Thyme adalah salah satu bumbu dapur yang sangat penting digunakan. Sesungguhnya saya sudah beberapa kali pernah menanam Thyme, bumbu dapur yang umum digunaksn di dapur dapur Eropa. Tetapi setelah agak besar, tanaman ini mati akibat kurang terurus saat saya tinggalkan beberapa lama ke luar kota.

Minggu lalu saya sempat membeli Thyme di Supermarket. Karena melihat ada beberapa batangnya cukup tua, saya jadi berniat untuk menanamnya lagi. Begitu saya masukkan ke keranjang baru saya sadari jika Thyme ini daunnya agak lebih bundar dan sedikit lebar dari jenis Thyme yang pernah saya tanam di rumah. Biasanya daunnya sedikit meruncing dan lebih kecil.

Oooh… rupanya tanaman ini adalah jenis Lemon Thyme. Waaah… ini akan menjadikan koleksi tanaman dapur hidup di halaman saya bertambah. Saya sangat senang. Mudah mudahan saya berhasil membuatnya hidup.

Sayapun mempersiapkan media tanam yang baik dalam pot dan mulai menancapkan batang Thyme yang sudah agak tua ke dalamnya.

Seminggu sudah berlalu, dan kelihatannya tanaman ini tumbuh dengan baik dan segar.

Di Batas Rasa Iba Dan Kebodohan.

Standard

Satu hari, saya mengajak anak-anak untuk berjalan-jalan di sekitar area Pasar Seni, Kuala Lumpur. Ada banyak hal yang bisa dilihat dan dipelajari di daerah sana dan sekitarnya. Mulai dari Pasar Kasturi – Central Market, Museum Textil, Taman Burung, Taman Kupu- Kupu, Masjid Negara, Islamic Art Center dan sebagainya.

Anak-anak memutuskan untuk menggunakan MRT saja. “Lebih murah, Ma. Kita bisa saving-saving duit cash kita“. Saran anak saya. Saya setuju. Terlebih karena stock ringgit di dompet saya juga sudah mulai menipis. Kamipun melangkah keluar hotel dan menuju stasiun.

Di stasiun kami menuju auto ticket counter guna membeli coin. Memilih milih Line kereta yang ada di menu, tiba tiba seorang pria yang berdiri di mesin ticket di sebelah saya bertanya dengan ramah. “Hai!. Kalian mau ke mana?” tanyanya. Saya menjawab, mau ke Pasar Seni.

Begitu mendengar jawaban saya, dengan sigap ia membantu anak saya. Ceklak ceklik… kami bayar dan coin ticket kereta pun keluar. Sangat cepat kejadiannya. Ooh tentu saja. Karena ia seorang pria lokal yang pastinya sudah hapal dengan jalur-jalur MRT maupun kereta lain di kota ini.

Saya berterimakasih. Orang itu mengangguk dengan sangat ramah. Lalu ia bertanya, apakah saya bersedia memberinya beberapa butir uang receh. Ia sedang kesulitan dan kehabisan uang. Oooh!. Saya memandang wajahnya dan merasa iba. Membayangkan jika saya berada di posisi dia.

Tentu saja saya tidak keberatan. Saya pun mengeluarkan semua uang logam yang ada di dompet saya. Dan memberikannya kepadanya. Ia mengucapkan terimakasih.

Lalu ia bercerita kalau sesungguhnya ia sedang bermasalah dengan kakinya. Ia menyingsingkan sedikit celana panjangnya dan saya melihat luka yang sangat serius. Oooh. Sungguh terkejut melihatnya. Luka yang besar yang tidak cukup hanya jika diobati dengan obat merah saja. Harus dibawa ke rumah sakit dan ditangani dengan serius. Bahkan mungkin perlu beberapa jahitan untuk menutup luka terbuka itu.

Saya pikir uang logam yang tadi saya berikan kepadanya tidak akan cukup. Lalu sayapun memberikan beberapa lembar uang kertas lagi agar bisa ia gunakan untuk mendapatkan perawatan yang baik dari rumah sakit. Saya menyerahkannya sembari berdoa dalam hati saya, semoga orang ini mendapatkan perawatan yang baik dan sembuh dari lukanya.

Tanpa saya duga, orang itu merunduk di hadapan saya, menyentuh kaki saya dengan tangan kanannya lalu mengusapkan tangannya itu di keningnya, sebanyak tiga kali. Saya terkesima dengan kelakuannya dan mencoba melarang ia berbuat begitu kepada saya. Tetapi ia keburu selesai. Setelah itu ia mengucapkan terimakasih dan saya melihat airmatanya mengambang sebelum ia melangkah pergi.

Mama apain orang itu?” anak saya yang rupanya melihat bagian akhir kejadian itu terheran -heran. Mengapa orang itu menunduk di depan saya dan menyentuh kaki saya, lalu menempelkannya ke keningnya. Saya bilang “Nggak Mama apain. Mama cuma kasih uang“, kata saya.

Anak saya terkejut. Rupanya ia tidak melihat kejadian saat saya memberikan uang pada orang itu. “Astaga, Mama!!!. Mengapa Mama berikan dia uang?. Itu sejenis…. scamming, Mama!!!“. Tegur anak saya yang sulung dengan suara tinggi. Saya terkejut akan reaksi anak saya yang tak terduga itu.

Mama ditipu!!!“. Lanjut anak saya yang bungsu lagi. Mereka seperti bersekutu mengkritik saya.

Saya membantah kalimat anak-anak saya itu. Saya bukan tertipu. Saya kasihan padanya dan memang ingin memberinya bantuan uang. Saya sadar. Dan bahkan sangat sadar melakukannya karena rasa kasihan. Karena rasa iba. Bagainana mungkin kedua anak saya bisa mengatakan jika saya tertipu.

Berapa banyak uang yang Mama berikan kepadanya?” tanya anak saya yang sulung.

Saya tidak menjawab dengan tepat. Jawaban yang tidak menipu, tapi tidak bisa dibilang jujur juga. “Hanya beberapa ringgit” jawab saya. Jawaban yang mengambang. Siapakah yang tahu, berapa batas kata “beberapa” itu?. Banyakkah? Sedikitkah?.

Saya lalu memberikan pengertian kepada anak saya. Itu bukan penipuan. Tapi masalah rasa iba kepada orang lain yang sedang kesulitan. Sebagai sesama manusia, kita wajib membantu orang yang sedang kesulitan, jika posisi kita memungkinkan untuk membantu.

Tapi ke dua anak saya tetap tidak yakin bahwa orang itu tidak menipu saya. Saya lalu mengingatkan, bahwa kaki orang itu luka parah. Dan kami semua melihatnya. Bukankah itu bukti yang cukup bahwa orang itu tidak menipu?.

Anak anak saya tetap tidak setuju. Belum tentu itu luka beneran. Kesan luka bisa dibuat buat. Banyak seniman bisa membuat karya tiruan luka. Ooh…ya. Bisa juga sih jika diambil dari sudut pandang itu. Anak anak lalu memberi contoh fakta beberapa kejadian pengemis dengan luka palsu yang memang kami pernah lihat sendiri, saat anak anak masih kecil.

Sampai akhir hari, saya masih sulit untuk setuju dengan pendapat anak-anak saya bahwa orang itu telah menipu saya. Karena saya yakin telah melihat luka beneran dan saya melihat airmatanya mengambang saat mengucapkan terimakasih kepada saya sebelum pergi.

Sementara anak-anak saya tetap berpikir bahwa saya sudah melakukan kebodohan karena begitu mudah ditipu oleh orang itu. Masalah air mata mengambang itu kan bisa juga soal keahlian seseorang ber-acting yang sangat bisa dilatih. Yaaa…. bisa juga sih jika kita hubung-hubungkan ke situ.

Sungguh saya tidak tahu yang mana yang benar dan yang mana yang salah. Karena semuanya memberi kemungkinan yang sama untuk menjadi benar ataupun salah. Hanya Tuhan yang tahu kebenaran yang sesungguhnya. Hanya Tuhan pula yang tahu di mana batas antara rasa iba dan kebodohan manusia.

Saya tercenung. Aaah…. tidak usah saya pusingkan apa yang telah terjadi. Ibarat sedang menonton sebuah potret. Kita tak pernah tahu kejadian apa saja yang terjadi sebelum kamera menjepret kejadian di foto itu, dan juga kejadian apa saja yang terjadi setelah potret itu dibuat. Tak usah kita pusingkan dan pertanyakan. Cukup nikmati saja satu single moment saat potret itu dibuat.

Tidaklah begitu penting, apakah orang itu memberi keterangan benar atau menipu. Yang lebih penting adalah keikhlasan hati kita. Sehingga membuat apapun dan seberapapun yang kita keluarkan menjadi berharga. Setidaknya di hati kita.

Saya pun melenggang pergi dengan hati riang.

Kisah Kekuasaan Dan Perang di Osaka Castle.

Standard
Kisah Kekuasaan Dan Perang di Osaka Castle.

Seringkali saat membuka sosial media, kita disuguhin iklan travel agent “Terbang murah ke Osaka “, lengkap dengan gambar sebuah kastil berwarna hijau, yang terlihat sangat artistik dan ikonik. Nah kastil digambar itulah yang bernama Osaka Castle yang terkenal itu.

Karena Osaka Castle ini merupakan ikonnya kota Osaka, rasanya saya sangat rugi jika tidak mengunjunginya saat berada di kota ini. Jadi pagi pagi dan dengan semangat tinggi kami pun berangkat ke sana dengan menggunakan train ke stasiun Tanimachi Yonchome dan berjalan kaki ke Osaka Castle yang tidak terlalu jauh dari sana.

Saat kami tiba, matahari masih belum terlalu tinggi dan tidak terlalu menyengat. Kami masuk dengan mudah karena menggunakan kartu pass paket yang dibelikan keponakan saya sehari sebelumnya.

Osaka Castle tampak megah menjulang dengan kombinasi warna putih dan genteng hijau , dengan ornamen warna emas di sana sini. Di lantai atas terlihat gambar macan emas dengan latar belakang warna hitam yang menjadi ciri khas istana ini.

Setelah mengantri sejenak, saya memutuskan untuk menaiki tangga secara manual daripada menggunakan eskalator. Bukan karena sok kuat menaiki tangga istana yang tinggi ini, tetapi saya ingin menikmati apa yang disuguhkan di setiap lantai istana ini. Walaupun tidak semuanya bisa saya ambil fotonya karena di beberapa tempat ada larangan menggunakan kamera.

Osaka Castle dibangun pada tahun 1583 oleh Toyotomi Hideyoshi, seorang Damyo yang sangat mashyur pada jamannya. Istana terditi dari sebuah bangun bertingkat yang berdiri di atas pondasi batu, dikelilingi oleh parit penuh air untuk menghalangi musuh agar tidak mudah menyerang.

Menutut catatan, istana ini pernah hancur saat diserang oleh Tokugawa Ieyasu pada tahun 1615 yang sekaligus mengakhiri kekuasaan garis keturunan Toyotomi di Jepang. Dan digantikan oleh Trah Tokugawa.

Namun 5 tahunnya kemudian (1620), putra Tokugawa Ieyasu yang bernama Tokugawa Hidetada memperbaiki kembali istana ini, namun sayangnya, menara istananya tersambar petir pada tahun 1665. Dan tampilan istana seperti yang bisa kita lihat hari ini sesungguhnya adalah hasil renovasi pada tahun 1997, di mana istana ini sekarang sudah dilengkapi dengan eskalator dan dijadikan museum yang dibuka untuk publik.

Saya yang memilih untuk naik ke atas lewat tangga biasa menemukan berbagai hal menarik mulai dari lantai dasar.

1/. Lantai Dasar.

Di sini saya melihat ada information center dan toko cinderamata.

2/. Lantai Dua .

Berisi fakta-fakta dan figur tentang Osaka Castle.

Begitu tiba di lantai dua, kami disuguhi pemandangan seekor Macan emas (Fusetora) dan seekor ikan lumba lumba emas legendaris ( Shachi). Dua mahluk ini kelihatannya penting artinya vagi istana Osaka, sebab digunakan juga sebagai hiasan di atap dan dinding atas istana dan bisa dilihat dari luar istana.

Dilantai ini juga dijelaskan tentang sejarah Osaka Castle.

3/. Lantai Tiga.

Ini adalah lantai yang dimana penggunaan kamera dilarang. Isinya adalah pameran benda benda peninggalan kerajaan dan peralatan perang. Jenis jenis anak panah, pedang samurai, tempat anak panah, penutup kepala kuda dan sebagainya.

Ada juga model dari Osaka Castle.

4/. Lantai Empat.

Sama halnya dengan lantai 3, di lantai 4 ini pun kami dilarang memotret. Berisi tentang Hideyoshi Toyotomi pada jamannya. Ada artifak artifak yang dipamerkan. Ada pakaian perang yang saya rasa sangat berat jika dipakai.

Lalu informasi tentang Osaka Castle Hystory – saat direkonstruksi oleh Shogun Tokugawa.

5/. Lantai Lima.

Di lantai ini saya menemukan kisah kekuasaan trah Toyotomi sejak Osaka Castle ini berdiri, hingga trah Tokugawa yang berkuasa silih berganti hingga lebih dari 200 tahun. Panjang juga ya.

Disini dipertontonkan ” The Summer War in Osaka” lewat panorama vision. Menceritakan peperangan sengit antara pasukan Yukimura Sanada dan Tadanao Matsudaira. Nah… siapa pula ini?.

Lalu ada juga diagram bendera bendera pasukan mana berperang dengan mana. Tambah bingung saya ha ha.

Saya yang sesungguhnya tidak menyukai perang dan sangat tidak tertarik akan perang, sungguh sangat sulit untuk mencerna kisah pilu ini. Jadi saya lewati saja, walau hati saya kepalang teriris memikirkan pedihnya perang.

6/. Lantai Enam.

Tidak terbuka untuk umum.

7/. Lantai Tujuh.

Isinya diorama tentang kehidupan Hideyoshi Toyotomi yang membangun Osaka Castle dan berhasil menyatukan bangsa Jepang.

Lalu ada Osaka Castle History saat periode Ishiyama Honganji.

8/. Lantai Delapan.

Ini adalah Observation Deck. Dari ketinggian lantai 8 istana ini (kurang lebih 50 meter di atas tanah), kita bisa melihat pemandangan luar istana Osaka beserta pait paritnya. Dan juga di kejauhan keseluruhan kota Osaka yang indah.

Naik ke lantai ini ternyata lumayan gempor juga. Tapi senang juga karena melihat ada banyak cerita sejarah yang bisa saya cerna dari istana ini.