Siang dan Malam Dalam Bahasa Bali.

Standard

“Apa Bahasa Balinya Siang?” Pertanyaan ini cukup sering ditanyakan kepada saya oleh beberapa orang teman. Ini membuat saya jadi tergelitik untuk menulis.

Bali mengenal beberapa istilah yang berkaitan dengan waktu. Saya mencoba menceritakannya mulai dari yang paling umum dulu ya.

DINA & WAI.

Hari dalam Bahasa Bali umum disebut dengan kata Dina. Jadi satu hari disebut dengan A Dina. A = satu. A dina, duang dina, telung dina, pitung dina dst (1 hari, 2 hari, 3 hari, 7 hari dst). Kata Dina juga umum disebutkan di depan nama-nama hari. Misalnya Dina Redite (hari Minggu), Dina Wraspati (hari Kamis), dsb.

Nama lain dari Dina adalah Rai. Atau umum diucapkan sebagai Wai. Kata Rai ini sesungguhnya berasal dari kata Rawi yang artinya Matahari. Dimana yang dimaksud dengan kata A Rai atau 1 Rai adalah waktu yang ditempuh sejak matahari (sang Rawi) pertama kali terbit di ufuk timur, hingga kembali terbit lagi di ufuk timur. Jadi jika menyebut satuan hari, yaitu A Wai, duang wai, tigang wai.

KEMARIN DAN BESOK.

Bagaimana mengatakan kemarin dan besok dalam Bahasa Bali?.

Ibi adalah kata yang umum digunakan untuk mengatakan kemarin. Kata lain dari Ibi adalah Dibi yang asal katanya dari Di + Ibi = Dibi (saat kemarin).

Sedangkan untuk mengatakan besok , orang umum mengatakan “Buin Mani”. Dua hari lagi / lusa = Buin Puan. Tiga hari lagi = Buin Telung Dina. Empat Hari lagi = Buin Petang Dini. Dan seterusnya.

Jika ingin menyampaikan dalam Bahasa halus, maka Besok = Benjang. Lusa = Malih Kalih Raina. Tiga hari lagi = Malih Tigang Raina.

LEMAH PETENG.

Siang – Malam di dalam Bahasa Bali disebut dengan Lemah – Peteng.

Lemah itu mengacu pada saat hari terang, sejak matahari terbit hingga terbenam. Sekitar jam 6 pagi hingga jam 6 sore.

Sedangkan Peteng itu mengacu pada saat hari gelap. Sejak matahari terbenam hingga terbit lagi. Sekitar jam 6 sore hingga jam 6 pagi esoknya. Disebut Peteng karena saat itu gelap. Peteng Dedet = Gelap Gulita.

Peteng sering juga disebut Lemeng. Sehingga jika menyebutkan satu malam, menjadi a lemeng. Kata a lemeng lebih umum ketimbang a peteng.

Kata halus dari Peteng adalah Ratri.

PAGI SORE

Di dalam satu hari kita tentunya mengenal pagi, siang, sore dan malam. Bagaimana mengatakannya dalam Bahasa Bali?.

Pagi disebut dengan Semeng dalam Bahasa Bali. Dan sering diimbuhi dengan -an untuk mengatakan keadaan, sehingga menjadi Semengan. Kata Semengan itu kira-kira mengacu dari sekitar jam 5 pagi hingga sekitar jam 9 pagi. Rahajeng Semeng adalah ucapN yang umum digunakan yang setara dengan Selamat Pagi.

Siang disebut dengan Tengai. Berasal dari kata Tengah Ai yang artinya Tengah Hari ( Ai/Rahi = Hari). Kata Tengai mengacu dari sekitar 10 pagi hingga pkl 3 sore. Tepat jam 12.00 siang disebut dengan Tengai Tepet.

Sore disebut dengan Sanja. Mengacu dari sekitar 4 sore hingga pukul 6 sore. Antara pukul 5-6 sore disebut dengan Sandya Kala yang artinya “persendian waktu) yakni pertemuan antara siang dan malam. Atau kadang juga disebut dengan “Saru Mua”, yang artinya saat dimana kita sulit mengenali wajah seseorang jika tanpa bantuan cahaya yang baik.

Malam disebut dengan Peteng, Lemeng atau Wengi. Mengacu mulai saat matahari terbenam atau pukul 7 malam – 4 pagi. Tepat pukul 12 00 disebut dengan Tengah Lemeng.

Dini Hari disebut dengan Das Lemah, mengacu sekitar pukul 4 -5 pagi saat binatang binatang terbangun dan memberi penanda pagi seperti misalnya Ayam Berkokok.

Menerbitkan Buku.

Standard
Buku 100 Cerita Inspiratif. Ni Made Sri Andani

Bulan Desember tahun lalu, tanpa terasa rupanya saya sudah nge-blog selama 10 tahun bersama WordPress. Bagi saya, ini sebuah perjalanan menulis yang lumayan membanggakan, karena saya pikir untuk bisa terus menulis selama 10 tahun berturut-turut tanpa jeda bukanlah sesuatu yang mudah. Jadi untuk itu, saya ingin menghadiahi diri saya sendiri dengan menerbitkan sebuah buku, yang isinya 100 tulisan yang saya ambil secara acak dari sekitar 1100 tulisan-tulisan yang pernah saya published di blog ini.

Buku yang saya beri judul ” 100 Cerita Inspiratif” ini tidak saya perjual-belikan, karena dua alasan:

1. Kebetulan perusahaan tempat saya bekerja saat ini tidak membenarkan karyawannya mekakukan “double job” alias mendapatkan penghasilan dengan cara lain selain dari kantor. Nah, sebagai karyawan yang baik, tentu saya harus mematuhinya dengan cara tidak memperjualbelikan buku ini. Selain itu, sebelumnya saya juga melaporkan rencana penerbitan buku ini ke kantor guna mendapatkan ijin.

2. Penerbitannya dalam rangka menghadiahi diri saya sendiri. Jadi hanya saya bagikan free kepada keluarga saya, para sahabat dan teman-teman dekat saya saja yang memang menyatakan ingin membaca buku ini.

Cetaknya pun terbatas. Niat awalnya pun hanya 100 buah, tetapi mengingat yang mendaftar ingin membaca bukunya lebih dr 100 orang, akhirnya saya cetak 200 buku. Dan terakhir, karena permintaan terus meningkat, akhirnya saya tambah cetak sebanyak 200 buku lagi. Jadi total 400 buku. Itu saja. Sudah cukup banyak saya rasa.

Ide menerbitkan buku ini awalnya datang dari melihat teman-teman penyair yang menerbitkan buku-buku antology pribadi maupun bersama. Mereka memiliki karya-karya yang dibukukan, yang asyik juga dibaca di saat-saat senggang sambil tiduran atau minum teh. Sebagai seorang blogger, saya tak punya karya yang dibukukan. Karena karya saya semuanya tersedia online. Sastra digital. Padahal masih banyak juga orang yang lebih suka membaca buku cetak.

Demikianlah akhirnya saya memilih acak 100 tulisan yang saya tulis berdasarkan kejadian sehari-hari yang memberi saya pelajaran, renungan dan inspirasi untuk menjalani kehidupan untuk saya terbitkan sebagai buku.

Buku ini terbit pada bulan Maret yang lalu, dan terus terang saja, masih ada kesalahan ketik disana-sini.

Synopsis Buku 100 Cerita Inspiratif.

Standard
100 Cerita Inspiratif . Ni Made Sri Andani

Buku 100 Cerita Inspiratif ini berisi tentang kisah kisah inspiratif yang disarikan dari kejadian sehari- hari, yang memberikan perenungan diri, ide ide, dan gagasan untuk pengembangan diri yang lebih baik.

Dimulai dari cerita pertama  Ketika Pedas Ketemu Air Hangat, berkisah  tentang bagaimana rasa pedas yang berkurang setelah diminumin air hangat memberi inspirasi untuk memecahkan masalah sehari hari dengan cara membagikan kesedihan dan kegelisahan hati kita dengan orang orang terdekat, ketimbang terus bermurung diri dalam kesendirian yang beku, yang malah tidak memecahkan masalah apapun. Jadi saat hidup kita terasa pedas, carilah kehangatan dari orang-orang yang kita percayai. Tentu sangat menolong.

Cerita berikutnya, Ada Sambal Di Telpon Genggamku, terinspirasi oleh telpon genggam yang tercelempung ke sambal saat makan siang. Tanpa disadari cairan sambel yang mengering, menutup lubang suara dan menyebabkan suara telpon semakin lama semakin mengecil, sehingga sangat mengganggu. Kejadian ini memberi pelajaran, bahwa sesuatu yang buruk kadang terjadi karena keteledoran kecil yang tidak kita sadari, akhirnya membuat masalah besar dalam kehidupan kita.

Cerita-cerita berikutnya juga memiliki nilai-nilai yang baik yang bisa kita ambil hikmah dan pelajarannya. Misalnya cerita tentang Kebingungan Tukang Ketoprak memberi pelajaran tentang bagaimana sebaiknya kita berkomunikasi agar tidak menimbulkan kebingungan pada orang lain.

Lalu cerita Isah, Pembantu Rumah Tangga Yang Tinggal Selama Semingu memberi renungan bahwa tidak semua rejeki yang kita terima adalah milik kita. Sekian % dari rejeki itu mengandung hak orang lain yang mungkin dititipkan oleh Tuhan lewat kita.  Barangkali orang itu tidak berhasil menemukan pintu rejekinya, dan barangkali kitalah yang ditugaskan untuk membukakannya.

Lalu berikutnya  ada cerita tentang Nyala Api & Pemantiknya. Dari cerita ini, kita mendapatkan inspirasi bahwasanya setiap orang membutuhkan pemicu semangat agar tetap bertahan hidup dan terus berkarya, ibaratnya api yang hanya mungkin berkobar jika ada pemantiknya. Sebuah renungan yang mengajak kita untuk menjadi penyemangat bagi orang orang yang kita sayangi. 

Cerita menarik lainnya untuk disimak adalah cerita tentang Keramik Yang Retak. Kisah ini memberi pelajaran agar kita memelihara hubungan baik dengan orang lain, karena jika sampai retak, maka susah untuk membuatnya mulus kembali.

Dan masih banyak kisah-kisah menarik lainnya yang memberi pelajaran tentang bagaimana kita mengembangkan pribadi kita dengan lebih baik, seperti misalnya bagaimana kita bisa memberi dengan keikhlasan hati yang penuh, bagaimana kita menjaga kwalitas diri yang baik,  memperbaiki kesalahan berulang yang kita lakukan, bagaimana mengelola rasa kesal dan benci karena semua itu adalah musuh yang ada di dalam diri kita sendiri,  bagaimana menurunkan ketinggian hati, bagaimana memperbesar kebahagiaan diri, melakukan refleksi diri, tentang kejujuran, tentang keberanian dan kemauan, tentang ketabahan hati, tentang kesederhanaan,  tentang harapan dan sebagainya.

Buku ini juga membantu kita mendapatkan inspirasi tentang bagaimana kita menempatkan diri kita dalam hubungan dengan orang lain. Misalnya bagaimana kita bisa menerima keadaan dan tidak memaksakan diri bahwa kita harus selalu menjadi pemeran utama di setiap kejadian, bagaimana cara bertengkar yang sehat dengan menurunkan volume suara dan memperkuat argumentasi,  bagaimana kita lebih terbuka dan tidak hanya mengutamakan sudut pandang kita sendiri,  atau bagaimana kita jangan menjadi parasit  bagi orang lain dan sebagainya.

Juga memuat kisah kisah yang membantu meningkatkan profesionalisme kita dalam bekerja dan mengembangkan karir kita, seperti  tentang leadership,  tentang bagimana kita mengutamakan pelanggan, menerapkan profesionalisme, service excellent, meningkatkan kreatifitas, meningkatkan fokus dan lain-lain.

Demikianlah setiap cerita memberikan renungan dan pelajaran yang bisa kita petik pelajarannya dan implementasikan dalam kehidupan kita sehari- hari.

Menariknya, banyak pelajaran dan inspirasi yang kita dapatkan di buku ini, dipetik dari kejadian sehari hari ketika berinteraksi dengan sekitar, misalnya saat mengamati tingkah laku atau sikap orang lain, dari mengamati burung burung, bekicot, tanaman dan alam, seperti gelombang air laut, gunung, bintang-bintang dan sebagainya.

Buku 100 Kisah Inspiratif  ini, ditutup dengan kisah petualangan yang sangat inspiratif, baik sebagai perjalanan fisik, pikiran dan jiwa, yang mengantarkan kita pada kesadaran makro dan mikrokosmik. Bahwa pada kesadaran makrokosmik tertentu, kita ini hanyalah setitik debu dari setitik debu dalam setitik debu dalam semesta raya yang maha besar dan tak mampu terpikirkan keagungannya ini. Dan pada kesadaran mikrokosmik tertentu, akhirnya kita ini adalah sekumpulan partikel sub-atomik yang tiada bedanya dengan air, kayu, udara dan unsur unsur penyusun alam semesta lainnya.

Kita adalah semesta itu sendiri. 

 

Kisah Si Belalang. Dikasih Hati Minta Jantung.

Standard

Kapan hari saya ada bercerita tentang 2 ekor belalang di halaman rumah saya. Saya membiarkannya tinggal di halaman, karena saya pikir ia cuma mengambil sebagian kecil saja dari tanaman sayuran saya. Memberikan sedikit bagian dari yang saya miliki, toh tidak akan membuat saya jatuh miskin juga.

Dan sayapun bukan termasuk ke dalam golongan mahluk yang merasa berderajat tinggi yang tidak mau memakan sisa mahluk lain. Saya tidaklah keberatan untuk memakan sayuran sisa hasil gerogotannya. Yang penting nanti dicuci bersih dan bebas kuman.

Jadi santai-santai saja ya. Relax.

Tapi siang ini, lagi iseng-iseng lihat tanaman sayuran yang hampir habis masanya, tiba-tiba saya melihat puluhan anak belalang menclok di pucuk-pucuk pohon bayam dan kangkung. Astaga!!!. Mereka asyik menggerogoti daun-daun sayuran. Jadi pada bolong dan rusak. Ada beberapa puluh ekor. Sehingga kerusakan tanaman sayuran itu pun mulai terasa. Karena ada 7 ekor merusak di sini, 5 ekor merusak di sana dan di sana, 3 ekor di sana, di sana dan di sini, ada juga yg cuma 2 ekor tapi di mana-mana. Banyaaak sekali.

Saya membayangkan beberapa hari ke depan, setelah puluhan anak-anak belalang ini membesar. Apa yg akan terjadi ?. Mungkin tak cukup sayuran tersedia dari tanaman yang saya tanam di pekarangan yang sempit ini.

Belalang yang tadinya cuma dua ekor, dikasih tinggal di kebun dan disediakan sumber makanan yang cukup, sekarang malah beranak pinak sedemikian banyak dan meninggalkan tanda-tanda kerusakan kebun yang semakin nyata. Belalang ini namanya “dikasih hati malah minta jantung”. Tak sanggup saya menanggung hidup puluhan belalang di kebun halaman saya yang sempit ini.

Kadang jika terlalu baik sama orang lain, bisa jadi masalah “dikasih hati minta jantung” seperti ini menimpa kita juga.

Misalnya nih ya, melihat orang lain kesusahan atau kesulitan keuangan, kita berusaha menyisihkan uang dengan mengirit-irit pengeluaran dan mengorbankan keperluan kita demi bisa membantunya. Sekali kita kasih. Dua kali kita kasih lagi. Lama-lama dia menyangka kita ini banyak duit dan dengan entengnya minta uang lagi untuk ini dan itu dan memberikan list keperluannya pada kita. Lah ?!

Padahal waktu kemarin anak kita minta dibelikan sepatu baru gara-gara jempolnya sudah mentok dan membuat lubang di ujung sepatunya masih kita suruh sabar dulu. Atau saat adik kita minta bantuan kekurangan buat bayar SPP anaknya, kita malah nyuruh sabar nunggu waktu gajian dulu.

Saya jadi merenung. Kembali melihat ke anak-anak belalang yang jumlahnya sangat banyak ini. Mungkin satu-satunya cara adalah memindahkan anak-anak belalang ini ke tanah kosong di belakang rumah. Di mana di sana ada banyak rumput liar yang tumbuh. Biarlah anak-anak belalang ini berusaha mencari penghidupannya sendiri.

Dengan cara ini, tidak saja saya membantu membuat kebun kecil saya tetap sehat, tetapi juga membuat anak-anak belalang itu terlatih mencari rejekinya sendiri.

Seperti orang tua jaman dulu bilang, “Merthane nak mesambeh, Ning.” , artinya sesungguhnya rejeki itu tersebar di mana-mana. Yang dibutuhkan hanya usaha dan kerja keras kita untuk mendapatkannya.

Bagaimana Mengatakan Tidak Dalam Bahasa Bali.

Standard

Dalam sebuah percakapan entah dalam bahasa apapun, tidak selalu kita menyetujui apa yang diucapkan lawan bicara kita. Dan menyatakan ketidak setujuan tentu saja merupakan hal yang sah-sah saja.

Nah bagaimana cara kita mengucapkan ketidak setujuan kita dalam Bahasa Bali?.

Di dalam bahasa Bali kata “tidak” memiliki beberapa kata. Antara lain Sing atau Tusing, Ten atau Nenten. Dan jika diperluas lagi, kata tidak juga masih berkerabat dekat dengan kata Bukan (Boya) dan Tiada (Tuara).

1/. Sing.

Kata “Sing” berasal dari kata “Tusing” yang artinya “Tidak” dalam Bahasa Indonesia. Kata ini dianggap sebagai Bahasa kasar yang dipergunakan sehari hari untuk orang yang seumuran atau di bawah umur kita. Contohnya: Sing ada = Tidak ada. Sing nyak = tidak mau. Sing kengken = Tidak apa apa. Sing dadi = tidak boleh. Sing maan = tidak dapat. Sing taen = tidak pernah. Dan sebagainya.

Kta Sing bisa saja diganti dengan Tusing jika kita berbicara dengan lebih lambat. Sing ada berasal dari Tusing ada. Sing dadi berasal dari Tusing dadi.

2/. Ten atau Nenten.

Sama dengan Sing, kata Ten juga berarti Tidak. Ten berasal sari kata Nenten yang artinya Tidak. Tapi kata Ten dalam bahasa Bali memiliki tingkatan yang lebih halus dari kata Sing. Kata ini diucapkan jika lawan bicara kita lebih tua dari kita, atau seseorang yang kita hormati. Kata Ten juga sering digunakan dalam keluarga yang dalam kesehariannya memang biasa menggunakan kata kata halus.

Karena kata Ten ini sifatnya halus, maka kata penyertanya juga harus halus. Contoh penggunaannya misalnya, Ten wenten = tidak ada, Ten dados = tidak boleh/ tidak bisa, Ten purun =tidak berani/tidak mau (jika yg bersangkutan yg tidak mau), Ten kayun = tidak mau (jika pihak ke tiga atau pihak ke dua yg tidak mau), Ten napi = tidak apa apa, Ten polih = tidak dapat, ten naenin = tidak pernah.

3/. Boya.

Kata “boya” artinya tidak atau bukan. Digunakan jika kita ingin menyangkal atau tidak menyetujui perkataan lawan bicara kita. Contoh penggunaannya misalnya, “Boya ja tiang ngerereh uratian ida dane, niki tiyang nak wantah ngortiang sane kasujatiane”. Artinya, bukannya saya mencari perhatian anda semua, saya hanya menyampaikan kebenarannya saja. Atau contoh lain, ” Eda ja ngalih gae ane boya boya” artinya janganlah mencari kerjaan yang tidak tidak.

4/. Tuara

Tuara dalam Bahasa Bali sebenarnya memiliki arti kata “tiada”, tetapi kerap juga diartikan sebagai “tidak”. Contoh penggunaan, “Tuara ngelah apa” artinya tidak punya apa apa. Contoh lain, Tuara ngidaang = tidak mampu, tuara dingeh = tidak dengar.

5/. Eda.

Kata ” Eda” sebenarnya berarti jangan atau Tidak boleh aluas dilarang. Eda ngambul = jangan ngambek atau tidak boleh ngambek, Eda ngeling = jangan nangis, tidak boleh nangis, Eda merunyuh = jangan resek atau tidak boleh resek.

DemikiNlah sedikit ulasan tentang kata Tidak dalam Bahasa Bali. Semoga berguna bagi yang tertarik belajar Bahasa Bali sehari-hari.

MURID YANG TAK MENGERJAKAN PR.

Standard

Diantara sedemikian banyaknya orang yg berduka atas kepergian Pak Umbu Landu Paranggi, mungkin saya adalah salah satu yang sesungguhnya tidak memiliki kontak sangat intens dengan beliau, tetapi merasakan keterhubungan yang sangat kuat. Sehingga kepergian beliau, meninggalkan rasa kehilangan yang sangat mendalam pada diri saya.

Pertama kali saya mengenal beliau sekitar tahun 1985. Saat itu saya sedang senang-senangnya membaca puisi dan beberapa kali berinteraksi dg beliau berkaitan dg urusan baca-membaca puisi ini. Beliau banyak berkomentar positive dan mengapresiasi, serta menyemangati saya, yang membuat saya selalu merasa nyaman dengan dunia sastra, walaupun saya ini bukan siapa-siapa. Penyair bukan, penulis novelpun bukan. Hanya seorang penggemar dan penikmat tulisan-tulisan orang lain.

Puisi yg paling memberi kenangan pada Pak Umbu adalah puisinya Pak Taufiq Ismail yang berjudul “Beri Daku Sumba”. Saya membacanya berulang-ulang, tidak hanya saat di kamar, saat kerja di Lab, di Klinik Hewan, hingga saat di toiletpun saya juga membacanya. Sampai-sampai saat itu saya sangat hapal di luar kepala. Pernah saya ditanya, mengapa saya sangat menyukai puisi itu.

Karena puisi itu memberi saya inspirasi. Puisi itu membuat saya berangan-angan. Setelah lulus, saya akan bekerja sebagai Dokter Hewan di Pulau Sumba, tempat dari mana Pak Umbu berasal. Tempat dimana padang-padang terbuka dan matahari membusur api di atasnya – kata Pak Taufik.

Namun entah kenapa, setelah beneran saya lulus menjadi Dokter Hewan, cita-cita saya untuk ke Sumba itu malah buyar. Saya malah hijrah ke Jakarta, gara-gara cinta. Sementara, sebaliknya kakak saya Putu Sri Andari (beliau juga kenal Pak Umbu) yg tidak pernah bercita-cita ke Sumba, malah mendapat tugas di pulau itu sebagai dokter PTT. Dari sana ia memberi berita tentang langit yang super biru, padang-padang yang luas dengan bukit-bukit yang jauh, dan ternak yang banyak memenuhi bukit.

Pak Umbu juga mendorong saya agar rajin menulis dan mengirimkan karya-karya saya ke koran atau majalah. Menurut beliau jika tidak dikirim ke media, maka hanya kita yang tahu. Hanya sastra di dalam laci.

Ya, sebenarnya sesekali saya menulis, tapi tulisannya tak pernah saya kirimkan kemana-mana. Paling-paling hanya saya kirim dan untuk dimuat di majalah kampus saja.

Oh ya…pernah sih ikut lomba penulisan cerpen di Majalah Femina dan nggak menang 🤣🤣. Pernah sekali menang dalam lomba penulisan cerpen yg berthemakan “perempuan”, saya lupa penyelenggaranya siapa, saking sudah lamanya. Selebihnya tidak ada karya saya yg layak dibanggakan.

Saya pikir tentu Pak Umbu agak kecewa atas usaha saya yang ala kadarnya dan angin-anginan dalam belajar menulis. “Menulislah dan publikasikan. Jangan hanya sekedar menjadi pembaca”. Saya sangat ingat dengan nasihat beliau itu. Tetapi ya angan-angan tetaplah angan-angan. Saya sangat malas dan tidak produktif.

Saat itu, jika bertemu Pak Umbu, saya merasa seperti anak sekolahan yang takut bertemu Guru karena tidak mengerjakan PR. Walaupun beliau sebenarnya tidak pernah nge-push gimana-gimana juga sih. Jadi mungkin itu cuma perasaan saya saja.

Akhir tahun 1994, saya menikah dan meninggalkan Bali, pindah ke Jakarta serta mulai tenggelam dalam kesibukan ibukota. Tak banyak bergaul dengan dunia Sastra di Jakarta dan bahkan dengan teman-teman di Balipun saya kehilangan kontak. Hingga kemudian mulai ketemu satu per satu dengan teman-teman lagi berkat Media Sosial.

Lalu beberapa orang teman menyampaikan ke saya “Hai, dicariin Umbu tuh” atau “Heh. Dikasih salam sama Umbu”, atau “Pulang oi!!. Ditanyain Umbu”. Terus terang saya sangat senang dan terharu. Tidak menyangka, jika seorang Maha Guru spt beliau masih mengingat saya yg sungguh bukan siapa-siapa ini. Murid yang gagal.
Saya lalu mengenang-ngenang beliau. Sungguh seorang guru yang sangat baik dan rendah hati.

Bulan Nov 2014 beliau sempat masuk rumah sakit. Seorang teman menyampaikan ke saya. ” Sri, kamu ditanyain sama Umbu. Beliau ada di RS. Telpon dong”. Saya diminta menelpon oleh teman saya itu, sembari ia memberikan nomer telpon Ana putrinya. Akhirnya saya bisa berbicara dengan beliau lewat telpon saat itu. Sangat berharap beliau sehat kembali. Dan syukurlah, beliau sembuh seperti sediakala.

Di penghujung tahun tahun 2017, saya sedang transit di bandara di Singapore untuk urusan pekerjaan. Tiba-tiba ada panggilan Video Call masuk dari Gung Karmadanarta sahabat saya. Rupanya sedang persiapan sebuah acara di Taman Makam Pahlawan Penglipuran di Bangli, bersamaan dengan diterbitkannya buku “100% Merdeka” karya Satria Mahardika yg menceritakan kisah kepahlawanan Kapten TNI AAG Anom Mudita, serta pertempuran demi pertempuran yang dijalaninya. Lalu Gung Karmadanarta tiba-tiba bilang, “Mbok Ade, nggak pulang? Ditanyain Umbu”, sambil menyerahkan hapenya ke Pak Umbu. Ooh.. rupanya ada Pak Umbu di Bangli. Sedang bersama sahabat saya itu.

Ha… saya sangat senang. Akhirnya saya bisa ngobrol sambil bertatap muka dengan beliau walaupun lewat layar hp dan latar belakang suara pesawat yang sedang take off dan landing dengan bising. Kami bertukar khabar. Beliau menanyakan khabar saya, kegiatan saya dan tentunya apakah saya masih sering membaca puisi dan apakah sudah meluangkan waktu untuk menulis.

Saya mengaku apa adanya. Saya memang nenulis. Tapi di blog. Saya ngeblog. Bukan menulis puisi atau karya sastra yg benar dan grande. Saya hanya menulis tulisan receh, tulisan remeh-temeh tentang kejadian saya sehari-hari 😓😓😓.

Saya lihat beliau tidak terkejut. Tidak terlihat kekecewaan di raut wajahnya. Beliau tetap memberi saya semangat. Tetaplah menulis, apapun bentuk tulisannya.

Sungguh obrolan yang sangat mengharukan. Saya senang melihat beliau sehat dan tetap berenergy. Lalu saya berjanji, jika saya punya kesempatan pulang ke Bali, saya akan mengunjunginya.

Dan sedihnya, setelah itu mungkin saya ada sekitar 8 x pulang ke Bali, namun saya belum memenuhi janji saya untuk bertemu beliau. Hingga dini hari itu, saya membaca pesan dari seorang sahabat, beliau sudah pergi meninggalkan kita semua. Kembali saya menemukan diri saya sebagai si anak sekolah yang tidak mengerjakan PR 😭😭😭

Ketika teman-teman mengupload foto-foto bersama beliau, saya hanya memandanginya dengan bercucuran air mata. Tak satupun foto beliau atau foto dengan beliau yang saya miliki. Walau demikian, saya tetap menyimpan kenangan akan beliau di hati saya.

Selamat jalan Pak Umbu.

Menjadi Asing Di Negeri Sendiri.

Standard

Suatu siang, selepas sebuah acara saya bermaksud untuk memperbaiki laptop saya ke pusat komputer di Serpong. Entah kenapa laptop saya itu tiba-tiba tidak bisa connect ke Wifi yang ada. Saya coba periksa sendiri tidak ketemu masalahnya. Yang muncul hanya sebuah notifikasi bahwa ada issue di hardware. Wehhh…terpaksa deh ke tukang service.

Sambil melaju ke pertokoan saya baru ingat jika saya sedang menggunakan baju daerah karena baru pulang dari acara itu. Pakai kain dan kebaya. Waduuh… bagai mana ntar ya jika saya masuk ke mall dengan pakaian daerah begini?. Sudah kebayang nanti orang-orang mungkin akan melihat saya dengan tatapan aneh. Saya bermaksud pulang untuk mengganti pakaian saya dulu. Tapi kata Pak Supir yang mengantarkan saya jika kita pulang sebenarnya jadi muter dan lama. Sementara ini kita bisa cepat lurus ikut jalur tol bisa langsung ke BSD. Ya juga sih. Saya perlu cepat juga karena setelah dari tukang service komputer saya masih ada acara lain lagi.

Berkain, kebaya dan bersanggul, adalah salah satu cara bangsa Indonesia dalam berbusana. Sebenarnya sungguh sayang jika busana ini kemudian tersingkirkan dan hanya dipakai untuk acara acara tertentu saja. Busana sehari-hari digantikan dengan busana asing. Bahkan sebagian bangsa kita juga meninggalkan kain dan kebaya karena dianggap ketat dan mencetak bentuk tubuh. Aah… kalau yang ini menurut saya tentu tergantung dari pikiran ngeres orang itu saja.

Sebenarnya sangat mengenaskan nasib busana kita ini. Hanya gara-gara pikiran buruk segelintir orang, dibuat stigma dan akhirnya beramai-ramai meninggalkannya dan berpindah ke busana asing. Ia menjadi asing di negerinya sendiri.

Akhirnya saya memutuskan untuk tetap ke mall dengan berkain dan kebaya. Betul saya mungkin terlihat aneh di mata orang lain. Sejak saya turun, beberapa orang terlihat menoleh. Biarlah. Saya tidak peduli. Lalu di pintu masuk, saat Satpam mengukur temperatur saya, beberapa orang juga terlihat melirik. Demikian juga ketika saya melintas beberapa toko dan naik ke lantai tiga, beberapa SPG dan pengunjung tampak memperhatikan saya. Dengan tatapan aneh. Biarlah!.

Saya bangga akan busana saya. Saya cinta negeri saya ini. Walau saya tampak asing di negeri saya sendiri.

Dari Bedah Buku “Gajah Mina” Di Kafe Sastra Balai Pustaka, Jakarta.

Standard
Bedah Buku “Gajah Mina”, Kafe Sastra, Balai Pustaka, Jakarta 4 April 2021

Saya mendapat kesempatan untuk mengikuti acara bedah buku ” Gajah Mina” dan bertemu dengan penulisnya Dr Dewa Putu Sahadewa secara langsung. Walaupun sayang Made Gunawan pelukis yang karya-karyanya menjadi inspirasi Dokter Sahadewa dalam menulis puisi-puisi di buku ini berhalangan hadir. Tetap saja saya beruntung, karena dalam masa pandemik ini, mengikuti prokes, yang diperkenankan hadir hanya maksimal 20 orang. Sisanya lewat Zoom.

Acara berlangsung di Kafe Sastra Balai Pustaka, dihadiri dan dibuka oleh Dirut Utama Balai Pustaka, Bapak Achmad Fachrodji, dimoderatori oleh Mbak Fanny J. Poyk. Selain Dokter Sahadewa, acara bedah buku ini juga menampilkan pembicara Narudin Pituin, seorang sastrawan, penerjemah dan kritikus sastra Indonesia.

Saat memberikan sambutannya, Pak Fachrodji sempat menceritakan bagaimana upaya-upaya yg telah beliau lakukan untuk membuat Balai Pustaka hidup dan berjaya kembali, serta akan membuat kegiatan Lomba Berpantun National untuk menghidupkan kembali kejayaan kesusastraan Indonesia. Upaya yang menarik.

Selain itu, saya juga melihat beliau sangat mengapresiasi penerbitan buku Gajah Mina ini yang dianggapnya sangat menarik dengan meng-kolaborasikan puisi dengan lukisan dan sketsa.

Dokter Sahadewa sendiri lebih banyak mengupas tentang bagaimana cerita awalnya hingga buku Gajah Mina ini bisa terbit. Bermula dari melihat sendiri lukisan Made Gunawan yang berjudul “Pohon Kehidupan”. Beliau sangat terkesan dengan lukisan ini, walaupun pada saat itu belum kenal secara langsung dengan pelukisnya. Ia menilai Made Gunawan sebagai seorang pelukis yang sangat handal, memadukan unsur-unsur traditional dengan unsur modern. Dan dari lukisan Pohon Kehidupan itu, ia menilai bahwa lukisan itu sangat puitis. Tidak ada unsur-unsur negative ataupun kesedihan di dalamnya. Yang ada hanya unsur-unsur yang positive, riang gembira, anak-anak bermain, bergelayutan. Intinya menebarkan energy positive.

Demikianlah Dokter Sahadewa merasa berada di frequency yang sama dan sangat tertarik untuk bersama-sama menebarkan energy positive, karena prinsip hidupnya memang sama. Menebarkan energy positive.

Setelah bertemu dengan Made Gunawan dengan difasilitasi oleh Mas Hartanto, dimana niat awalnya ingin belajar melukis, akhirnya Dokter Sahadewa malah jadi semangat menulis dan berkolaborasi sangat intens dengan Made Gunawan, lalu terbitlah buku Gajah Mina ini.

Dalam mengekspresikan fantasynya setelah melihat-lihat lukisan dan sketsa Made Gunawan, Dokter Sahadewa mengaku tidak mendiskusikan ataupun menanyakan arti dari sketsa-sketsa itu pada Made Gunawan. Dan Made Gunawan pun tidak ada berkomentar negative tantang puisi-puisinya. Malah saling berinteraksi positive.

Dan interaksi dan kolaborasi alias Pasatmian ini sungguh merupakan hal yang sangat bagus. Karena sekarang, penggemar puisi jadi ikut menikmati karya lukisan dan sketsa. Dan sebaliknya, penggemar lukisan jadi ikut menikmati puisi. Yah. Luarbiasa memang kolaborasi ini.

Setelah itu, dengan spontan kami beramai-ramai ikut membaca puisi. O ya.. saya lupa bercerita, jika di awal tadi, sebelum acara Bedah Buku dimulai, sebenarnya ada Pak Branjangan menyanyikan puisi “Ikan Menari”. Beneran. Saya takjub, gimana beliau cuma dalam waktu singkat, nggak ada lima menit melihat-lihat puisi, tiba- tiba bilang ke saya “saya mau menyanyikan puisi ini” sambil nunjuk puisi “Ikan Menari” dan beneran beliau nyanyi deh. Dan bagus banget.

Saya sendiri memilih puisi “Sop Kepala Ikan” untuk saya bacakan, karena menurut saya puisi itu sangat unik. Saya sangat suka. Mbak Fanny, Mbak Jeny dan teman- teman yang lain juga pada ikut membaca puisi dengan spontan. Sementara Pak Branjangan mengiringi dengan petikan gitarnya. Wow…romantis banget rasanya.

Saya juga sempat menyimak komentar- komentar positive dari teman- teman yang mengikuti acara Bedah Buku ini lewat Zoom, seperti dari Warih Wisatsana dan Pak Nono. Ya, mengkolaborasikan dua jenis Art yang berbeda bukanlah pekerjaan mudah. Tetapi Dokter Sahadewa dan Made Gunawan telah melakukannya dengan sukses.

Terakhir Pak Narudin, Sang ahli Semiotika dan Kritikus Sastra Indonesia pun mengajak audience untuk ikut jalan pikirannya dalam membedah puisi-puisi dan lukisan serta sketsa, dengan menganalisa dari sudut Icon-icon dan symbol-symbol yang tertangkap dari baik tulisan maupun lukisan serta index yang menghubungkan keduanya. Analysa yang menarik juga ya. Saya jadi ikut belajar banyak.

Pemaparannya kedengaran sangat akademik yang membuat saya yang tidak memiliki latar belakang sastra menjadi terpesona. Mengambil contoh beberapa lukisan-puisi yang dominan seperti misalnya Ikan Menari, Gajah Mina, semua Bunga Akan Layu Pohon Kehidupan, Anakku Berlari, Pandemi, Sop Kepala Ikan, Pohon Tua Memanggil Rohnya dan Kayonan. Semuanya dibahas dari sudut ikonisitas, symbolitas dan indeksikalitas yang ujungnya menghasilkan kesimpulan bahwa, pada dasarnya puisi-puisi Dokter Sahadewa dan lukisan Made Gunawan dapat dinikmati secara terpisah berdasarkan ikon-ikon yang ditangkap penikmatnya. Tetapi dalam buku ini keduanya saling berinteraksi. Yup!.Analisa yang keren!.

Tentang komentar ada nafas spiritual pada puisi-puisinya Dokter Sahadewa, Narudin Pituin juga mengungkapkan bahwa tiap sastrawan tentu memaparkan gagasannya sesuai dengan latang belakang adat, budaya, agamanya masing-masing. Sehingga ada puisi yang bernafaskan Hindu, bernafaskan Islam ataupun Kristiani sesuai latar belakang penulisnya.

Ya, saya setuju dengan pendapat Narudin dalam hal ini. Namun tak cuma latar belakang penulisnya, saya pikir, itu juga tergantung dari latar belakang pembacanya.

Salah satu contoh, ketika Dokter Sahadewa menjelaskan bahwa di Bali, pohon-pohon sangat dihormati dan dihargai sama dengan mahkuk hidup lain yang juga punya nyawa. Selain itu, pohon juga dipercaya menjadi tempat tinggal makhluk-makhluk lain yang tak kasat mata. Ketika latar belakang ini diimplementasikan pada karya “POHON TUA MEMANGGIL ROHNYA PULANG” reaksi beragam pun terjadi.

Narudin Pituin dengan latar belakangnya, memberi interpretasi kata “Roh” = mahluk halus penunggu pohon. Jadi pohon memanggil mahluk halus, jin, dedemit, kuntilanak untuk pulang. Ini membuat sebagian puisi berkesan mistik.

Sementara saya yang dilahirkan dan dibesarkan dalam adat istiadat, budaya dan agama Hindu di Bali menginterpretasikannya berbeda.

Bagi kami, Roh pohon, ya Roh pohon itu sendiri. Bukan jin atau kuntilanak. Karena kami di Bali percaya, bahwa setiap mahluk hidup termasuk Manysia Binatang dan Tumbuhan memiliki Roh, walaupun secara kasat mata terlihat berbeda akibat perbedaan fisik yang menghasilkan kemampuan berbeda yang disebut dengan Pramana.

Manusia diyakini memiliki Tri Pramana yakni Bayu (kemampuan gerak, tumbuh dan tenaga), Sabda (kemampuan berbicara) dan Idep (kemampuan memahami). Binatang memiliki Dwi Pramana yakni Bayu dan Sabda. Dan tumbuhan memiliki hanya satu Pramana yakni Bayu.

Dengan latar belakang ini, ketika saya menginterpretasikan puisi yang sama, “POHON TUA MEMANGGIL ROHNYA PULANG”, yang saya tangkap adalah memang yang dimaksud oleh Dokter Sahadewa adalah bahwa Pohon tua itu memang memanggil Roh nya sendiri untuk pulang. Bukan memanggil jin dan kuntilanak. Jadi di telinga saya ini bukanlah mistis. Nah, sekali lagi itu adalah interpretasi yang berbeda yang ditangkap oleh dua orang dengan latar belakang berbeda.

Saya merasa, pada akhirnya, sebuah karya seni, entah itu lukisan, puisi, tarian, musik dan sebagainya adalah sebuah interpretasi. Yang ditangkap oleh penikmatnya dari signal-signal yang tersajikan, sesuai dengan latar belakang baik penciptanya maupun penikmatnya.

Selamat dan Sukses untuk Dokter Sahadewa dan Made Gunawan. Gelombang besar energy positive yang diakibatkan kibasan sirip Gajah Mina sungguh terjadi. Salut!.

Menyimak Art Fusion Di Buku “Gajah Mina”.

Standard

Saya diperkenalkan dengan buku Gajah Mina ini, oleh Mas Hartanto, yang rupanya adalah salah satu penggerak terbitnya buku ini. Buku yang merupakan kumpulan puisi, lukisan dan sketsa karya Dokter Dewa Putu Sahadewa dan Made Gunawan ini, memang sudah terlihat istimewa di mata saya, bahkan hanya dengan melirik covernya saja.

KONSEP & INTERPRETASI.

Konsep. Sebagai sebuah konsep penerbitan, kolaborasi seni lukis dan puisi dalam buku ini sangat menarik dan bermanfaat. Mengintegrasikan dua jenis karya seni yang berbeda, memang bukanlah pekerjaan mudah. Tetapi jika itu bisa terintegrasi dengan baik, maka upaya ini akan berhasil meng-enhance idea atau pesan yang ingin disampaikan oleh senimannya kepada audience. Pembaca akan jauh lebih mudah mengerti, karena bisa menangkapnya secara audio dan visual sekaligus.

Jikapun objective itu tak tercapai, setidaknya upaya ini akan mampu menambah jumlah audience. Karena yang tertarik, bukan hanya mereka yang berminat pada seni sastra saja, tetapi penyuka seni lukispun akan ikut tertarik juga.

Saya lihat, kolaborasi ini telah terjadi, dan tereksekusi di buku ini dengan sangat indah.

Interpretasi. Seorang pembaca atau penikmat karya seni, baik puisi, sketsa ataupun lukisan, tentunya tidak mampu memahami 100% apa yang ada di benak penulis atau pelukisnya saat menciptakan karyanya. Paling banter hanya bisa menebak atau menginterpretasikan sesuai dengan signal-signal yang tertangkap dari karya itu, plus latar belakang dan pengalaman personal dari penikmat karya seni itu masing-masing. Demikian juga saya.

Saya menuliskan pendapat saya tentang karya-karya di buku ini, tentu berdasarkan apa yang saya tangkap saat membaca puisi dan menonton gambar-gambar buku ini, bercampur dengan latar belakang dan pengalaman hidup saya secara pribadi, yang kemudian membentuk tafsir alias interpretasi. Jadi belum tentu juga sesuai dengan apa yang sesungguhnya dimaksudkan oleh penulis atau pelukisnya 😀

GAJAH MINA.

Sesuai dengan judulnya, cover buku ini bergambar mahluk mitology yang bernama Gajah Mina, yakni seekor Mina (Ikan) yang berkepala Gajah. Di dalam kepercayaan Hindu, Gajah Mina adalah tunggangan Sang Hyang Baruna sang penguasa lautan. Lukisan akrilik di atas kanvas ini sungguh menawan hati saya. Gajah Mina digambarkan dengan sangat bagus dan representative. Terlihat bagai raksasa berwarna krem keemasan diantara ikan-ikan lainnya di lautan biru. Sepintas lalu, lukisan ini terlihat seperti umumnya lukisan traditional Bali bergaya Kamasan, dengan penggunaan elemen-elemen klasik dan warna broken white yang dieksekusi pada wajah gajah, sirip dan ekornya. Tapi jika ditelisik lebih jauh, ada elemen-elemen baru yang tidak umum ada pada lukisan traditional Bali menyelusup di sini. Dan entah mengapa, ajaibnya elemen asing ini terasa membaur, dan berfusi di dalamnya tanpa ada pemberontakan yang berarti. Asyik-asyik saja. Saya mulai berpikir, mungkin di sinilah letak kepiawaian Made Gunawan dalam mengekspresikan gagasannya. Keren euy!

Selain sangat terkagum pada lukisannya, tentu saja saya sangat tertarik akan apa yang kira-kira diceritakan penulisnya tentang Gajah Mina yang menjadi judul dari buku ini. Namun rupanya puisi dan lukisan Gajah Mina ini baru muncul di halaman 82-83. Tak apalah.

Saat membaca puisi “Gajah Mina”, entah mengapa saya merasa seakan puisi ini mengundang kita untuk ikut dalam perjalanan pencarian rahasia kehidupan dan alam semesta yang tak terjangkau oleh orang biasa, melalui Gajah Mina tunggangan Dewa Baruna, Sang Penguasa Laut. Dan dalam konteks Hindu, Dewa adalah percikan sinar suci dari Brahman, Tuhan Yang Maha Tunggal. Menarik!. Ajakan untuk meneruskan pencarian manusia tentang Tuhan dan Alam Semesta hingga bertemu diri sendiri. Mencapai kesadaran diri yang tertinggi. Siwoham!.

LUKISAN DAN SKETSA.

Ada sebanyak 43 lukisan dan sketsa Made Gunawan yang ditampung buku ini. Didominasi oleh thema ikan tentunya, yang in-line dengan tajuk buku ini.

Yang nenarik dari lukisan-lukisan Made Gunawan ini adalah selalu menempatkan pemeran utamanya, baik itu ikan ataupun kayon sebagai sebuah rumah, daratan ataupun bumi yang berada diantara lautan ataupun benda lain di alam semesta.

Dalam lukisan Gajah Mina atau Raja Ikan ataupun misalnya Tree of Life, kita melihat bahwa Ikan ataupun Kayon itu sebagai sebuah dunia, tempat kita beraktifitas sehari-hari, duduk-duduk merenung, bermain ayunan, menari ataupun beemain barong. Itulah dunia sehari-hari kita. Dunia yang harmonis dengan kehidupan bahagia, tentram dan damai. Dan di luar itu adalah semesta yang maha luas yang tanpa batas, tapi terpaksa dibatasi oleh akhir dari kanvas itu sendiri.

Di luar thema ikan, thema Kayon juga kelihatannya nyaris ikut mendominasi dalam buku ini. Entah sebuah kebetulan, atau memang pelukisnya memiliki ketertarikan mendalam terhadap Kayon. Saya pikir ya. Seperti yang dituliskan dalam pengantarnya, beliau adalah putra seorang Dalang dari Apuan. Dan tentunya setiap orang di Bali tahu, jika Kayon memiliki peranan penting dalam sebuah pagelaran Wayang. Tak heran jika Made Gunawan mengambil Kayon dalam banyak lukisannya. Kayon adalah perwujudan Kalpataru, atau Dewa Daru, alias pohon kehidupan yang dalam kisah-kisah Dewata dalam Bhagawata Purana, digambarkan sebagai pohon yang memberikan kehidupan bagi manusia dan mahluk-mahluk lainnya. Pohon kehidupan alias Tree of Life ini diyakini muncul dari ekstraksi Lautan Susu (Samudera Mantana) beserta dengan para apsara, Kamandhanu, Aerawata, Onceswara, berbagai jenis permata, serta pohon pohon ajaib lainnya. Sumber inspirasi yang sangat baik.

Jika kita telaah dari sudut gaya lukisannya, secara umum Made Gunawan mencampurkan unsur modernitas dan barat ke dalam basic lukisan traditional Bali. Sedangkan sketsa-sketsanya totally sangat berbeda dari sketsa traditional dimana ia cenderung menggunakan pendekatan kanak-kanak dalam tarikan garisnya.

Yang menarik bagi saya, ia juga tanpa segan menggunakan media apa saja yang tersedia, seperti amplop bekas, bekas mailer Super Market, toko unggas, label Starbucks dan sebagainya, tanpa harus conflicting dengannya. Ini membuatnya unik.

PUISI DAN PUISI.

Saya mencoba membayangkan bagaimana Dokter Sahadewa mencoba merenung dan berdialog setelah melihat lukisan dan sketsa-sketsa dari Made Gunawan dan menuangkan isi alam pikirnya itu ke dalam bentuk puisi.

Jadi puisi-puisi di sini adalah hasil tafsir Dokter Sahadewa terhadap lukisan dan Sketsa Made Gunawan. Dan sebagai pembaca, saya pun mencoba menafsirkan kembali tafsir -tafsir itu. Jadi sebuah tafsir on tafsir, ha ha 😀.

Tentang sketsa-sketsa serial ikan itu, Dokter Sahadewa menulis tentang bagaimana Made Gunawan telah memberi jiwa pada ikan-ikan itu. Membuatnya menjadi hidup dan berperan besar dalam kehidupan ini.

Ada pula ia menulis tentang Sang Raja Ikan, yang bertugas membawa bahtera ke ujung samudera, agar anak-anak terus bahagia. Sayangnya, kita para orang dewasa, sudah lama sekali tak bertemu dengan Raja Ikan ini, karena ia bermukim sangat jauh di samudera rahasia bersama anak-anak. Terus terang, saya merenung agak lama untuk memahami content puisi ini. Apakah itu, sesuatu yang membahagiakan anak-anak dan tetap bersama anak-anak, tetapi sudah menghilang dari kehidupan orang dewasa? Apakah itu maksudnya “Permainan?” Karena waktu kecil kita sering bermain, tapi setelah dewasa kita sangat jarang atau bahkan mungkin tak pernah bermain lagi?. Ataukah yang dimaksud kepolosan kanak-kanak? Keluguan?. Entahlah

Tapi yang paling menarik perhatian saya adalah puisi tentang “Sop Kepala Ikan”. Sebuah puisi ironis, yang membuat saya merasa ingin tertawa sekaligus haru dan ingin menangis. Terutama pada bagian, “Maka seluruh ikan pagi ini/ berkerumun berdoa/ agar cukup/ semangkuk sop kepala ikan/ yang panas berasap/bagi siapa saja/ yang lapar//. Ooh sungguh puisi yang mengaduk-aduk peri ke-ikanan, tentang ikan yang tahu takdirnya adalah untuk memuaskan hasrat manusia yang tak pernah habis.

Di luar puisi-puisi tentang Ikan, mengikuti thema lukisan yang ada, maka Dokter Sahadewa pun berbicara tentang pohon-pohon. Tentang pohon tua yang hitam, memanggil rohnya untuk pulang, namun yang datang justru mesin-mesin penggergaji. Habislah kedamaian. Juga ada tulisan tentang pohon kehidupan, tentang sang pemburu yang menggigil melihat bayang wajahnya sendiri di air kolam, walau sesungguhnya ia tak mendengar auman seringai taring sang macan.

Di luar itu ada juga puisi khusus Ciwaratri terinspirasi dari kisah Lubdaka yang diskets oleh Made Gunawan.

Tentunya masih ada banyak puisi-puisi yang lain yang menarik untuk disimak. Ada 27 puisi totalnya. Saya rasa pembaca yang lainpun akan sangat menyukai puisi-puisi ini.

Setelah melihat dan membaca isi dari buku ini, komentar saya cuma satu yakni Buku ini sungguh sangat menarik untuk dibaca dan disimak. Saya pikir pelukis, penulis dan penerbit sudah melakukan tugas yang luar biasa untuk menggabungkan unsur seni sastra dan seni lukis dengan baik dan proporsional, sehingga tercipta sebuah hidangan fusion yang nikmat bagi audience.

Saya ucapkan selamat kepada Dokter Dewa Putu Sahadewa, Made Gunawan dan Mas Hartanto atas penerbitan buku ini. Salam kreatif dan semoga sukses selalu.

YANG TERLUPAKAN

Standard

Akhir pekan ini, dengan semakin membaiknya kesehatan, saya memberanikan diri keluar rumah untuk menengok anak saya di Graha Raya Bintaro. Tentunya dengan tetap mengikuti protokol kesehatan. Syukurnya baik-baik dan aman-aman saja, sekalipun sebagian besar Jakarta masih dikepung banjir.

Sepulangnya, sambil lewat saya mampir di tukang alat-alat berkebun untuk membeli pot bunga dan media tanah. Tokonya sepi, cuma ada saya dan 2 orang pedagangnya serta Mas Supir yang mengikuti saya dari belakang.

Setelah selesai dengan pilihan saya dan bersiap akan membayar, tiba-tiba ada orang lain yg masuk. Ooh.. pembeli baru. Seorang anak lelaki remaja sekitar 15 tahunan berbaju orange, dengan lelaki dewasa di belakangnya yang saya duga ayahnya. Ia berjalan masuk membawa buku tulis di tangannya, sambil ngoceh tak begitu jelas. Saya kurang memperhatikannya. Mungkin ia sedang membawa daftar catatan barang yang akan dibeli.

Saya pikir saya harus segera keluar untuk menghindari berdesak-desakan di toko yang sempit oleh penuhnya barang dagangan itu. Bagaimanapun di musim pandemik ini , saya tetap harus jaga jarak minimum 1 meter dengan orang lain.

Belum sempat mencari akal, gimana caranya keluar dari kerumunan ini, tiba-tiba anak remaja yang memegang buku itu memegang pergelangan tangan saya erat-erat. Saya kaget. Auduuuh… bagaimana ini. Saya berusaha menarik tangan saya. Tetapi semakin saya berusaha meronta, anak itu semakin kuat mencengkeram tangan saya. Astaga!!. Kuat sekali. Sekarang saya merasa pergelangan tangan saya bisa remuk oleh anak ini. Walaupun saya gendut, sumpah mati, tulang saya aslinya kecil-kecil. Bahaya ini, bisa patah!!!
Selain itu, saya tidak tahu apakah anak ini bebas dari Corona atau tidak. Saya merasa situasi saya sangat gawat. Saya tidak mengijinkan tangan saya disentuh oleh siapapun saat ini. Apalagi orang yang tidak dikenal.

Melihat itu, supir saya dan sang pedagangpun pun segera bergerak melindungi saya dan berusaha melepaskan tangan anak itu dari pergelangan tangan saya. Syukurlah akhirnya lepas.

Anak itu masih terus berusaha mengejar saya sambil menyodorkan buku dan pulpen. Saya bergerak mencari area kosong yang tak mudah dicapai anak itu. Dari seberang meja saya memandangnya berusaha untuk memahami apa yang sedang ada dalam pikirannya. Wajahnya seolah sedang memohon kepada saya. Anak itu sangat bersih, kulitnya putih dan mukanya kelihatan baik.

Dari raut wajahnya tidak ada niat buruk terhadap saya. Mungkin sebenarnya ia hanya ingin saya membantu dia melakukan sesuatu. Entah kenapa hati saya tiba-tiba menjadi trenyuh. Anak ini butuh bantuan. Bukan mau menyakiti saya. Sangat jelas ia ingin bersahabat. Mengapa saya harus menghindarinya, bathin saya berbisik.

Lalu sayapun memanggilnya untuk mendekat. “Sini. Sini. Kamu mau saya bantuin ngapain?” Tanya saya. Mukanya kelihatan riang. Ia menghampiri saya.

“Maaf Bu. Anak saya AUTIS ” kata pria yg rupanya memang bapaknya itu. Oooh… sekarang saya mengerti.

Anak autis sering hidup dalam dunianya sendiri, yg tidak bisa kita masuki. Barangkali saya ada di dalam dunianya sebagai teman atau mungkin orang dekatnya. Jadi saya pikir saya akan menerima persahabatannya jika begitu.

Anak itu menyodorkan buku dan pulpennya kepada saya. Saya mengajaknya duduk di bangku panjang yang ada di situ. Dengan bahasa yang tak jelas, ia meminta saya menulis kalimat di buku itu.

Saya bingung, harus menulis apa? Ia lalu memegang jari tangan saya dan pulpen, dan menuntun saya menulis. YANG TERLUPAKAN. Oooh…

Kelihatan wajahnya riang dan berseri. Saya ikut senang melihatnya riang.

Lalu saya diajak menerusksn menulis SHEILA ON SEVEN. Ia sangat senang. Saya merasa sangat terharu .

Lalu saya bertanya, “Siapa namamu? ” Anak itu tidak bisa menyebutkan namanya, walaupun bapaknya sudah memberi contekan, ” Il…. Il…”. Tak mengapa. Tapi anak itu terlihat sangat bahagia.

Bapaknya mengucapkan terimakasih kepada saya. Lalu sayapun pamit.

Di perjalanan, saya terbayang-bayang wajah anak itu. Mengapa anak itu meminta saya menulis Yang Terlupakan dan Sheila On seven ? Apa yg dipikirkannya ?

Mungkin anak itu penggemar Sheila On Seven dan juga penyuka lagu ” Yang Terlupakan”. Saya mencoba mencari tahu lyric lagu ” Yang Terlupakan”. Oooh…ternyata itu lagu milik Iwan Fals bukan Sheila On Seven.

“… rasa sesal di dasar hati diam tak mau pergi haruskah aku lari dari kenyataan ini
Pernah kumencoba tuk sembunyi
Namun senyummu tetap mengikuti…. “

Tak terasa saya meneteskan air mata saya. Hati saya tersangkut.

Bintaro. Kisahku hari ini.