DRIVE & THE DRIVERS…Kisah warung makan padang Barokah One…

Gallery

Beberapa saat lalu, sepulang dari melayat di rumah seorang kawan yang sedang berduka, saya terpikir untuk mampir ke rumah seorang kawan lain, yang tinggal tidak terlalu jauh dari situ. Saya lalu meminta tolong supir (sebut saja Supir A) untuk mengambil arah yang paling mudah menuju ke sana. Kurang dari 10 menit, sampailah kami di rumah kawan saya itu. Rumahnya terletak di pingir jalan tidak jauh dari pasar Ciledug, di mana di depannya ia & istrinya membuka warung makan padang yang ia beri judul “Barokah One” atau kalau dalam bahasa Indonesia, itu mungkin maksudnya “Berkah ibu”. Sebuah nama yang bagus dan sangat menjunjung tinggi martabat wanita.

Warung makan padang itu sangat ramai dikunjungi pelanggan. Bukan hanya karena lokasinya di kawasan Ciledug , tempat yang cukup strategis yang memungkinkan para pelalu-lalang mampir untuk menikmati hidangan yang ada di situ, tetapi didukung juga oleh masakannya yang sangat enak dan harganya yang sangat terjangkau oleh rata-rata isi kantong kalangan menengah ke bawah. Saya berani memastikan, bahwa rasanya tidak kalah dengan hidangan restoran padang papan atas atau bahkan yang telah menerapkan system franchise untuk pengembangan outletnya sekalipun. Ayam bakarnya sangat gurih, rebusan daun singkongnya selalu terlihat hijau segar & empuk dan sudah pasti sambal hijaunya sangat mantap tak terlupakan.

Perkembangan bisnisnya cukup bagus. Terbukti dalam waktu singkat ia sudah bisa melayani order untuk acara-acara yang diselenggarakan di instansi atau kantor kantor sekitarnya. Namanya mulai dikenal karena kelezatan masakannya, hingga kemudian sekitar tahun yang lalu ia mulai mampu menambah satu gerai makanan padang lagi di daerah Pamulang.

Saya sangat senang melihat perkembangan bisnisnya. Terutama kalau mengingat bahwa beberapa tahun yang lalu ia berprofesi sebagai seorang supir dengan penghasilan pas-pasan. Sejak membuka usaha warung makan padang ini, perlahan kemudian kehidupan ekonominya meningkat dengan sangat pesat. Secara bertahap kemudian ia mulai mampu membeli motor untuk dirinya, membeli rumah yang menjadi tempat kontrakannya selama ini, kemudian membeli mobil kijang, membeli motor untuk anaknya dst. Tidak hanya sebatas itu, iapun aktif membantu sesama yang membutuhkan, termasuk juga saat Padang Pariaman diguncang gempa parah.

Benar benar sebuah metamorfosa kehidupan, dari seorang supir dengan gaji pas-pasan menjadi seorang pengusaha warung makan yang cukup sukses bagi ukurannya. Seperti bisanya bila bertemu, kawan saya dan istrinya itu selalu bercerita tentang berbagai hal. Mulai urusan keluarga hingga urusan bisnis, lalu diakhiri dengan makan siang di warungnya. Di perjalanan pulang, supir A memuji masakan kawan saya, yang saya setujui dengan cepat. Lalu ia bertanya, apakah benar dulu kawan saya pernah bekerja sebagai supir seperti yang diceritakan kawan saya kepadanya? Dan supir A ini juga menyatakan keinginannya untuk berhasil seperti kawan saya itu, serta akhirnya bertanya apakah mungkin saya bisa membantunya untuk mewujudkan keinginannya itu….

Pertanyaan supir A ini kemudian membuat saya mengingat kembali masa lalu kawan saya itu. Kawan saya itu memang pernah bekerja cukup lama sebagai supir (kita sebut saja Supir B), kinerjanya sungguh sangat memuaskan saat itu. Ia benar-benar seorang supir yang sangat rajin. Mobil selalu dalam keadaan bersih dan terawat dengan baik. Ia hampir-hampir tak pernah diam berpangku tangan. Sabtu, Minggupun saat majikannya tidak membutuhkan supirpun ia tetap datang. Ada saja yang dikerjakannya, mulai dari menggunting rumput di halaman, membetulkan genteng yang bocor, kran air yang dol, sampai berburu tikus di dapur. Majikannya tak pernah menyuruh. Ia melakukannya atas inisiatifnya sendiri. Bahkan teman teman majikannya di kantorpun ikut kecipratan berkah rajinnya. Ia juga sering mencucikan kendaraan teman-teman majikannya. Gaji? Mungkin orang berpikir bahwa majikannya menggajinya dengan sangat bagus. Kenyataannya tidak! Standard saja. Banyak supir lain yang menerima lebih dari itu. Akan tetapi, ia sangat setia. Selalu bekerja dengan baik tanpa pernah mengeluh. Untuk menambah penghasilan keluarganya, istrinya menawarkan diri bekerja di rumah majikannya. Membantu mencuci, menyetrika dan memasak. Majikannya juga setuju. Jadilah suami istri itu bekerja di rumah majikannya demi menyambung hidupnya. Istrinya sangat berbakat dalam memasak. Masakannya sangat enak dan bersih. Pekerjaan lainnya juga sangat memuaskan.Pengeluaran rumah tangga dicatatnya dengan baik dan jelas. Rumah juga terawat bersih dan rapi setiap saat.

Apa yang saya perhatikan beda pada supir B ini adalah semangat hidupnya luarbiasa. Keinginanya untuk memajukan hidupnya sangat tinggi. Sambil menunggu di kantor, ia gunakan waktunya untuk menawarkan barang-barang dagangan ke siapa saja di dekat kantor. Ke sesama supir, ke orang-orang kantor atau kantor lain di gedung itu. Apa saja dijualnya. Mulai dari pakaian, jam tangan, handphone, dll ..hingga jadi makelar kendaraan. Semuanya dikerjakannya dengan senang hati. Membantu orang lainpun sering ia lakukan tanpa hitung-hitungan untung rugi. Dengan pendidikan SDpun yang tidak tamat, hampir tidak ada pekerjaan sehari hari yang tidak bisa dilakukannya dengan baik, hingga teman-teman saya kerap memanggilnya “ Mc Giver”. Tak disangsikan lagi supir B ini memiliki “drive” di dalam dirinya yang sangat tinggi. Kemampuan untuk memotivasi diri yang sangat tinggi. Kemampuan untuk mendorong diri ke arah kemajuan yang luar biasa.

Istrinya memiliki ambisi & sense of business yang baik. Walaupun bekerja di rumah, namun ia tak pernah memposisikan dirinya sebagai pembantu rumah tangga, tapi lebih sebagai mitra kerja. Mitra yang menyediakan jasa dan majikannya adalah clientnya. Jadi selain masakannya yang enak, nalurinya sebagai pengusaha juga sangat baik. Untuk setiap rupiah uang majikannya yang ia keluarkan, ia selalu mengupayakan yang terbaik yang mungkin majikannya bisa dapatkan. Sehingga majikannya itu sangat mempercayainya. Sungguh, sedikitpun ia tidak memiliki mental rendah diri. Jadi menurut saya, mereka benar-benar pasangan yang cocok untuk mendirikan suatu usaha rumah makan padang.

Sebaliknya dengan supir A yang saya lihat sehari-harinya biasa-biasa saja. Secara umum, dia baik. Datang dan pulang sesuai dengan waktunya. Kadang kadang terlambat, hingga tidak sempat mecuci kendaraan dengan baik. Saat menunggu dikantorpun dia hanya bermalas-malasan tidur atau ngobrol saja untuk membunuh waktu. Tidak ada sedikitpun inisiatifnya untuk melakukan hal-hal lain kecuali atas permintaan majikannya. Boro-boro membantu membetulkan kran air atau memburu tikus atas inisiatifnya sendiri. Bukan karena ia tidak mau membantu, tapi karena ia merasa tidak ada orang lain yang menyuruhnya. Jadi ia bekerja berdasarkan order. Kalau disuruh, barulah ia jalan. Sungguh dua hal yang sangat kontras. Seperti langit dengan bumi. Namun demikian, iapun sama dengan Supir B , sama-sama memiliki keinginan untuk maju. Keinginan pada suatu saat berhenti menjadi supir, memiliki usaha sendiri, motor & mobil sendiri, menyekolahkan anak dengan baik, dsb. Hanya keinginan! Sedangkan Supir B,selain memiliki keinginan, dia juga memiliki kemauan yang kuat untuk memotivasi dirinya sendiri agar bekerja keras untuk meraih keinginannya itu.

Saya membayangkan, apabila Supir A ini menjalankan usaha seperti Supir B, apakah ia akan mau dan sanggup untuk bangun pagi-pagi buta sebelum adzan subuh berkumandang dari masjid dekat rumah guna membersihkan dan mempersiapkan bahan-bahan makanan, mencuci beras, memotong nangka untuk gulai, memotong daging dst hingga memanggang ayam di siang bolong sambil melayani pelanggan yang silih berganti tak henti-hentinya berdatangan? Melihat kebiasaan sehari-harinya, saya agak meragukan kesanggupannya untuk mendorong dirinya sendiri melakukan semua itu. Supir A inipun saya pernah lihat sebelumnya mencoba berdagang krupuk, namun karena ia tidak sabar dan kurang rajin – maka dalam waktu singkat ia merugi dan akhirnya berhenti.

Merenungkan itu semua, saya lalu bertanya pada diri saya sendiri – faktor apakah yang sesungguhnya paling mempengaruhi, mengapa seseorang bisa sukses, sementara orang yang lainnya tidak?
Di sini saya melihat bahwa orang orang yang berhasil dalam hidupnya memiliki ‘ sesuatu’ di dalam dirinya yang mendorong dan menyemangati dirinya secara terus menerus untuk senantiasa memperbaiki dirinya ke arah yang positive. Jadi sesungguhnya tidaklah cukup bahwa seseorang itu hanya sekadar memiliki mimpi, atau mampu mengerjakannya, tetapi “drive’ yang ada di dalam dirinya itulah yang mendorong ia untuk maju terus berusaha tanpa mengenal lelah. Ya…drive inilah yang bagaikan bensin yang membakar diri kita untuk senantiasa aktif bergerak, berusaha & mencari jalan keluar dari setiap masalah yang kita hadapi dalam mewujudkan keinginan kita.

Kepada supir A lalu saya berkata “Yang akan menolong diri kita untuk maju, sesungguhnya bukanlah orang lain, tetapi dorongan dari dalam diri kita sendiri”. Yang dijawabnya dengan kalimat “ Ya, Bu!” jawaban standard seperti biasanya, terlepas bahwa ia memahami perkataan saya atau tidak.

Lalu kepada diri saya sendiri saya juga bertanya di dalam hati “… apakah saya juga telah memiliki ‘drive’ di dalam diri saya sebaik yang ia miliki?”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s