Nyai…Si Nenek Penjual Telor – Pelita Nan Tak Kunjung Padam

Gallery

Tinggal di perumahan yang bersebelahan dengan pemukiman penduduk asli memberi kita banyak pelajaran dalam kehidupan. Bukan saja pelajaran dalam bergaul dengan segala etnis yang sangat heterogen yang datang dari berbagai daerah di Indonesia dan berkumpul tinggal di Jabodetabek ini, namun juga pelajaran-pelajaran penting dalam menghadapi hidup yang tak selamanya mulus.

Salah satu yang menarik perhatian saya dan menurut saya memberi pelajaran sangat berarti dalam hidup saya adalah seorang wanita yang setiap harinya berlalu lalang di perumahan dengan berjualan telor. Nama panggilannya Nyai. Seorang wanita etnik Betawi yang pekerjaannya mengambil telor ayam kampung dari seorang peternak langganannya, memasukkannya dalam keranjang dan dengan berjalan kaki kemudian menjajakan telor dari rumah ke rumah dalam tiap blok perumahan kami sambil berteriak ”Ibuuuuu, telooorrr!!! Telor ayam kampung, Ibuuuu…”. Telor dagangannya dijual dengan harga Rp 1 800 per butir. Tidak lebih mahal dibandingkan bila saya beli sendiri di warung atau toko terdekat lainnya. Tentu saja sulit untuk mencari alasan mengapa kita harus membeli dari tempat yang lebih jauh, jika ada orang yang mau datang mengantarkannya ke tempat kita dengan harga yang sama.

Sepintas tidak ada yang aneh dari kisah ini. Sampai kita melihat fakta bahwa yang berjualan telor ini adalah seorang wanita tua mendekati umur seratus tahun. Bertelanjang kaki. Tubuhnya renta. Hanya tinggal kulit tipis membalut tulangnya yang kurus. Jalannya sangat pelan. Selain karena menanggung beban berat ember yang penuh berisi telor, juga karena penglihatannya yang sudah mengalami kemunduran. Bisa dibilang nyaris tidak melihat. Apabila melihat ibu tua dan hampir buta ini, pertanyaan pertama yang terlontar dari kebanyakan orang adalah  ”Aduuh, nenek setua itu kok masih terus mencari nafkah ya?” Atau “Kemana sih anaknya? Kok ibunya tidak diurus sih? “ Atau  “Aduuh.. nenek itu buta lho… Kok dibiarkan berjalan sendiri” dsb dsb.

Karena saking seringnya melintasi rumah saya, maka apabila kebetulan hari Sabtu atau Minggu saya sedang ada di rumah dan kebetulan bila ada uang, maka saya selalu berusaha membeli telor si nenek (walaupun kadang-kadang telor di kulkas masih ada) dengan maksud untuk membantu si nenek mengosongkan isi embernya lebih cepat sehingga beban di tangannya jadi cepat ringan. Namun, tentu saja saya tidak bisa melakukannya setiap hari.

Tergelitik oleh rasa kagum dan heran melihat kekuatan serta semangat nenek ini, maka saya mencoba mencari tahu sedikit tentang latar belakangnya. Di mana rumahnya, berapa anaknya, mengapa ia masih tetap mencari nafkah di usianya yang senja dsb. Rupanya si nenek tinggal bersama cucunya yang masih kecil di kampung dekat perumahan tempat saya tinggal. Anak perempuannya yang janda menikah lagi dan tinggal di tempat lain serta menitipkan anak dari hasil perkawinan dengan suami pertamanya untuk dibesarkan si nenek. Demi rasa tanggungjawabnya untuk membesarkan cucunya inilah si nenek bekerja setiap hari dengan menjajakan telor.

Sangat jelas yang bisa saya pelajari disini adalah “positive spirit” yang dibawakan si nenek. Perasaan optimis bahwa ia mampu dan mau mengambil alih tanggungjawab anaknya untuk memelihara cucunya tanpa memperdulikan tubuhnya yang sudah renta dimakan usia. Mengapa ia mau melakukannya? Sebenarnya dengan mudah ia bisa menolak dan mengembalikan cucunya baik kepada anak perempuannya maupun kepada mantan menantunya yang sudah pasti lebih muda dan punya tenaga lebih kuat untuk bekerja dan mencari uang. Namun tidak ia lakukan. Ia menerima dengan senang hati cucunya untuk dibesarkan. Jadi permasalahannya disini adalah bukan soal kemampuan saja, namun soal “kemauan” yang sangat memberikan pengaruh pada tindakan si nenek. Positive spirit inilah yang disertakannya dalam tindakan sehari-harinya sebagai penjual telor. Semangat selalu menyertainya tiap kali ia memilih telor dari peternak. Semangat yang sama juga menyertainya saat ia berjalan berkeliling dan berteriak ‘ Ibuuuu..teloooorrr….” dan tetap semangat yang sama juga ia bawakan saat menyerahkan telornya dan menerima uang dari pelanggannya. Ia menemukan kebahagiaan dan arti kehidupan dalam apa yang ia lakukan.

Apa yang ia yakini ia jalani dengan sungguh-sungguh dan tunjukkan pada orang lain bahwa kekurangan yang ia miliki bukanlah menjadi penghalang untuk mewujudkan niat baiknya. Ia juga membuat orang lain yang melihatnya menjadi malu untuk bercengeng-ria menghadapi hidup yang belum tentu sesulit apa yang dihadapi si nenek. Ia seolah membawa pelita yang tak pernah padam untuk setiap orang yang melihatnya tentang bagaimana seharusnya kita menghadapi hidup. Bukan mengeluh. Bukan menyerah. Namun optimist dan selalu berusaha, serta memancarkan inspirasi kepada orang lain.

Pagi itu saya berkesempatan menyapanya dan merasa bersyukur diberi kesempatan untuk mengenalnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s