Burung Gereja Yang Jatuh di Bawah Jendela

Standard

Sesampai di rumah sepulang dari tugas luar kota saya disambut anak saya dengan wajah yang penuh cerita. Dia mengabarkan bahwa pagi tadi ia menemukan seekor burung gereja yang jatuh di bawah jendela dan tak bisa terbang.

“Kenapa? Tanya saya. Ia menggelengkan kepalanya, namun menyampaikan dugaannya bahwa burung kecil itu mengalami cedera di salah satu sayapnya. Saya lalu menanyakan tentang tindakan yang telah diambilnya sejak melihat kejadian itu. Ia bilang hanya membantu memberinya makan beras dan meletakkannya dalam box yang hangat agar tidak dikerumuni semut.

“Apakah lukanya sudah diobati? “ Tanya saya. Ia menggelengkan kepalanya lagi. “Menunggu dokter hewannya pulang” katanya ringan sambil menarik tangan saya ke ruang belakang dimana ia meletakkan anak burung itu di dalam sebuah kardus bekas sepatu. Saya mengangkat burung kecil yang tampak mengantuk itu dan memeriksa pangkal sayap kirinya yang memang tampak cedera ringan. Saat saya lepaskan kembali ke kardus, berkali kali ia mencoba terbang, namun alhi alih bisa terbang, ia malah meloncat dan berputar karena keseimbangannya terganggu dan jatuh. Akhirnya burung kecil itu menghentikan usahanya karena kecapean.

“ Biarkan saja ia istirahat. Mudah-mudahan besok bisa pulih kembali” kata saya sambil meletakkan kardus itu diatas meja kecil. Anak saya melihat saya dengan sorot mata ragu-ragu.
“ Bagaimana kalau dia kena Flu burung?” Saya agak terkejut mendengar pendapatnya. Sesuatu yang tidak pernah terlintas dalam pikiran saya hari itu. Saya lalu melirik anak burung itu sebentar. Tidak terlihat mengalami gejala flu, namun entah kenapa saya menjadi khawatir juga.
“Kalau ternyata kena flu burung, apakah akan kau biarkan ia tetap ada di rumah ini? “Tanya saya. Ia berpikir sejenak, kemudian mengangguk dan berkata ” Iya. Harus ditolong tapi mungkin jangan dimasukkan ke dalam kamar” Saya tertawa mendengar jawabannya. Anak saya terlihat lebih tenang saat saya katakan bahwa burung itu tidak menunjukkan gejala flu. Tentu saja saya takkan mengijinkan anak burung itu masuk ke dalam ke kamar.

Setelah anak saya masuk ke kamar, saya coba periksa lagi dengan lebih hati-hati anak burung dalam kardus itu dan tetap tidak menemukan gejala yang saya curigai. Namun demikian, saya tetap merasa tidak nyaman menyimpan anak burung itu di rumah. Akhirnya saya letakkan di teras belakang. Rupanya suami saya menutup kardus itu agar tidak dimakan kucing yang barangkali iseng lewat. Sepanjang malam saya memikirkan anak burung itu dan sulit memicingkan mata. Di satu sisi ingin tetap menolongnya hingga ia pulih dan mampu terbang kembali, namun di satu sisi saya sangat khawatir jika ternyata anak burung yang ditolong itu ternyata membawa virus Avian Influenza strain H5N1. Rasa khawatir yang belum tentu benar, sangat menguasai saya. “Ketakutan” mengapa saya sulit sekali melepaskan diri darinya? Mencoba merenungkan ketakutan itu sendiri, akhirnya pelan pelan saya mulai betanya kepada diri saya sendiri. Apakah jika saya membiarkan rasa takut ini menguasai hidup saya, ia akan menolong menghilangkan Flu Burung itu? Tidak! Jika burung itu memang terkena flu, terlepas dari apakah saya membiarkan diri saya ketakutan atau tidak, burung itu akan tetap terkena flu. Saya tak bisa menolongnya apa-apa selain barangkali membantunya dengan makanan atau paling banter vitamin untuk membantu meningkatkan daya tahan tubuhnya. Sebaliknya jika burung itu tidak terkena flu dan jika saya ketakutan, maka saya telah membuang waktu saya dikuasai oleh ketakutan yang tidak benar itu. Akhirnya saya putuskan untuk tidak terlalu memikirkan virus influenza itu dan tidur.

Esok paginya, begitu mata saya terbuka, saya langsung meloncat dari tempat tidur dan melihat ternyata anak burung itu telah menjadi lebih kuat dari sebelumnya. Ia sibuk berciap ciap & berkali-kali berusaha terbang, namun tetap belum mampu terbang dengan baik & selalu terjerembab kembali ke halaman. Saya meninggalkannya di halaman dan membiarkan ia berusaha sendiri.

Pada pukul 10 pagi, saya melihat dari pintu yang terbuka, tiba-tiba seekor burung gereja yang lebih besar datang menghampiri . Tubuh anak burung itu sempat terangkat sebentar , lalu terbanting dari ketinggian yang membuat ia berteriak kesakitan. Gerakannya seketika melemah dan saya mengembalikannya ke dalam kardus. Anak burung itu sekarang tampak gemetar kesakitan dan menciap dengan lemah. Pukul 11 siang, dengan sedih anak saya menemukannya telah mati di dalam kardus.

Saya tidak tahu apa yang saya rasakan saat itu. Saya berusaha meyakinkan diri saya bahwa yang terjadi adalah sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan virus influenza. Saya telah melihat potongan kejadian itu dan anak saya telah memilih sendiri jalan yang ditempuh untuk menolong memberikan naungan kepada anak burung itu, mengapa harus saya biarkan hati saya diliputi kekhawatiran? Bukankan apa yang telah ia pilih adalah suatu jalan yang mulia. Saya cuci tangan saya bersih-bersih dengan sabun dan kini saya yakin apa yang telah dilakukan oleh anak saya adalah yang terbaik. Memberikan pertolongan pada sesama dengan menomorduakan kekhawatirannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s