Mengadopsi Anak Kucing Liar..

Standard

Anak saya yang kecil sangat menyukai kucing. Terutama anak kucing. Tidak heran karena kucing memang selalu terlihat lucu dan menggemaskan. Tiap kali melihat kucing ia selalu minta agar bisa memilikinya.  Bahkan kalau melihat kucing liarpun ia ingin mengadopsinya untuk dipelihara di rumah. Namun sayang ayahnya kurang menyukai kucing. “Kucing sangat berisik!” itu selalu komentarnya tiap kali anaknya ribut ingin memelihara kucing. Ia lebih suka anaknya memelihara binatang peliharaan lain misalnya kelinci, kura-kura, burung dsb. Tapi bukan kucing!.

Wah.. ini barangkali yang disebutkan oleh ahli, bahwa untuk urusan kucing, di dunia ini manusia dibagi menjadi 2 jenis yakni  mereka yang  Penggemar Kucing (Ailurophiles) dan Pembenci  Kucing (Ailurophobes). Kita memang tidak bisa memaksakan grup Pembenci Kucing ini agar menyukai kucing. Itu bukan perkara gampang. Sebagai jalan tengahnya (saya kebetulan termasuk golongan Penggemar Kucing) lalu saya bilang pada anak saya bahwa kalau kita suka kucing, kita sebenarnya tidak perlu memeliharanya di rumah. Cukup setiap hari kita beri makan kucing liar yang kebetulan melintas di halaman rumah kita. Dengan demikian tentu kucing akan senang untuk berlangganan mampir  mengambil jatah makanannya. Jadi rumah kita nanti mirip seperti rumah singgah buat para gelandangan di jalan namun dalam sekala kecil dan ini khusus untuk kucing tertentu.  Secara kepemilikan tentu kita tidak berhak atas kucing itu, namun kita tetap bisa melihat kucing itu secara berkala datang ke rumah kita dan  bisa kita ajak bermain-main sebentar. Kebetulan saya belum pernah mendengar laporan kasus rabies pada kucing di daerah sekitar saya tinggal. Jadi saya pikir cukup amanlah.

Tapi bagaimana sebaiknya kita memilih kucing liar yang akan kita adopsi sebagai anak angkat sambil lalu itu? Anak saya bingung, karena ternyata cukup banyak kucing liar yang berkeliaran di sekitar perumahan. Yang mana yang akan kita beri makan?

Memilih kucing liar yang sehat dan baik.

Walaupun secara umum kucing liar terlihat kotor dan tak terurus, namun sebenarnya banyak juga yang terlihat cukup sehat, gendut dan bersih.

1.       Bulu Kucing.

Bulu kucing liar yang sehat umumnya lembut dan mengkilap serta tidak bergumpal/kusut. Karena biarpun tidak ada yang merawat, sebenarnya secara berkala kucing suka membersihkan dirinya dengan cara menjilat kaki dan bulunya yang dapat ia jangkau. Kita perlu memastikan bahwa kucing ini tidak memiliki kutu atau pinjal pada bulunya, terutama bila kita tahu anak kita akan menggendongnya sekali sekali. Beberapa anak yang memiliki kecenderungan alergi terhadap debu atau sari bunga, kadang juga cenderung alergi terhadap bulu kucing. Namun secara umum, anak yang sehat tidak akan memiliki masalah dengan bulu kucing.

2.       Telinga, Mata & Hidung Kucing.

Pastikan telinga, mata & hidung kucing  liar itu juga tidak terlalu kotor dan tidak mengalami luka. Kalau kita tahu kucing mengalami luka akibat kena cakar saingannya saat berebut makanan, mungkin kita bisa bantu dengan mengoleskan obat merah. Hidung kucing biasanya selalu basah.

3.       Mulut dan Gigi Kucing.

Kucing liar yang sehat memiliki mulut  yang berwarna pink dan gigi yang putih.

4.       Anus Kucing.

Pastikan  bagian belakang kucing bersih dan  tidak ada tanda bahwa kucing sedang kena diare.

Tanda-tanda fisik itu bisa kita lihat sepintas sebelum kita bisa mengatakan bahwa kucing liar itu aman bagi anak kita untuk diajak bermain.

Memancing kucing untuk  rajin datang cukup dengan memberinya makanan yang ia sukai. Karena kita tahu kucing adalah hewan carnivore, maka makanan rumah yang paling disukainya adalah ikan dan daging. Bekas makanan kita yang masih memiliki sisa tulang ikan/ ayam dsb juga merupakan makanan kesukaan kucing.

Jika kucing liar baru pertama kali datang ke rumah, sebaiknya larang anak untuk langsung menggendongnya.  Karena kucing liar umumnya sangat waspada dan pencuriga. Jika anak-anak kurang hati-hati dan main paksa karena gemas, kucing liar bisa menunjukkan ketidak senangannya dengan mencakar anak kita. Pastikan kucing liar itu telah bertandang 2-3 x sebelum  anak kita kasih kesempatan untuk menyentuh atau menggendongnya. Ajarkan anak cara menggendong kucing yang benar dengan cara menyokong keseluruhan badan kucing agar ia tidak melorot dan meronta.

Berikan nama pada kucing liar  dengan cara memanggilnya dengan lembut misalnya “Pus… Puspita!”. Ulangi berkali kali  dan setiap kali ia datang, sehingga kucing tahu bahwa itu adalah namanya.

Jangan paksa kucing liar untuk tetap tinggal di rumah  jika ia mau pergi. Karena ia memang bukan milik kita. Biarkan ia kembali ke lam bebas dan mampir ke rumah kita kapan ia merasa perlu mampir.

6 responses »

    • Ya.. baru coba coba bikin bulan ini. Mumpung lagi di rumah. Tapi masih nyari nyari caranya & masih bayak yang belum ngerti, penggunaannya Dek. Kemarin sempat pengen ngubungin Dek Didi, tapi ibu nggak tahu nomer hpnya. Ntar kalau ada yang nggak bisa, Ibu hubungi ya.. Thanks

  1. Siang mba, saya mau nanya.. Kucing saya baru aja meninggal, mayatnya keluar darah dr hidung, pdhl sebelumnya tidak kenapa2. Mohon info mba, thanks

    • Dear Kartika,
      Perdarahan pada hidung kucing sebenarnya agak jarang terjadi. Jika ini terjadi, kecurigaan akan mengarah pada beberapa kemungkinan – antara lain akibat trauma (misalnya akibat pukulan benda keras, tertabrak kendaraan dsb). Atau perdarahan juga bisa diakibatkan oelh serangan parasit (namun yang ini kecil kemungkinannya menyebabkan kematian mendadak – seperti yang diinformasikan).

      Hal lain yang mungkin juga terjadi adalah akibat serangan penyakit Feline Distemper atau yang sering disebut juga dengan Panleukopenia Kucing yang disebabkan oleh Virus. Secara umum, kucing akan mengalami gejala-gejala lain seperti misalnya demam dan muntah-muntah dan diare hingga kematian. Namun dalam beberapa kasus ada juga yang meninggal secara mendadak tanpa memperlihatkan gejala yang jelas/ hanya mengeluarkan darah dari hidungnya.

      Selain Feline Distemper, Virus jenis lain yang mengakibatkan Leukemia Kucing juga mungkin menyebabkan hal ini. Namun untuk memastikan penyebabnya, tentu sebaiknya dilakukan pemeriksaan patologis pada mayat kucing oleh dokter hewan terdekat.

  2. Pingback: Mentok, Sang Bebek Manila Kesayangan Anak. « nimadesriandani

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s