Sahabat… Menemukan Dan Merawat Hubungan Dengannya.

Standard

Suatu hal yang membuat hidup kita selalu bersemangat dan bahagia adalah memiliki sahabat. Banyak yang mengakui hal ini, termasuk saya sendiri. Bahkan kalau saya kilas balik kembali perjalanan hidup saya semenjak TK, SD, SMP, SMA, masa kuliah dan masa kerja, saya dan barangkali 99.9% orang lain juga (saya tidak tahu berapa nilai statistiknya) selalu memiliki sahabat  2, 3 orang atau lebih di setiap potongan kehidupan. Sahabat yang saya maksud disini adalah teman yang bukan hanya sekedar teman, tapi teman yang membuat kita merasa diterima sebagai manusia, memahamai & menerima kita apa adanya, mendengarkan kita saat kita ingin mengeluarkan uneg-uneg kita, memeluk & menghibur kita saat kesedihan dan membangkitkan semangat saat kita merasa down dan sebagainya.

Mengapa kita memerlukan sahabat?

Saya banyak mendengarkan cerita bahwa seseorang bisa “survive’ dari krisis kehidupan karena ia memiliki sahabat.  Pernah juga saya membaca buku  tentang sesorang yang sangat tertekan dan mengalami depresi karena penyakitnya, menjadi sangat tertutup tidak mau bergaul dengan siapapun. Sakitnya semakin parah dan ia semakin tertekan. Namun semua itu menjadi terbalik & akhirnya berangsur sembuh semenjak ia  mulai membuka dirinya, menerima perhatian  dan membuka persahabatan dengan orang-orang lain.

Di lain kesempatan, saya mendengarkan kisah tentang seorang wanita yang menghadapi masa tuanya. Ia merasa sendirian, saat dimana anak-anaknya mulai besar dan meninggalkan rumah, sedangkan suaminya juga sibuk dengan aktifitas bersama teman-temannya. Kesepian dan kesedihan merongrong hidupnya hingga ia menjadi semakin cepat sakit, merasa bertambah tua dan tak berdaya. Semuanya akhirnya bisa ia atasi dengan lebih mudah saat ia lebih membuka diri, mememutuskan untuk mulai mengontak teman-teman, saudara, ipar dan sepupu perempuannya.

Sahabat tidak saja memberikan kita kemudahan & keuntungan jangka pendek, namun juga ikut membentuk watak dan sikap kita dalam menghadapi masa depan. Sahabat memicu kesadaran kita akan rasa toleransi, tenggang rasa sesama manusia. Sahabat juga mendorong kita untuk menjadi lebih setia terhadap kawan, lebih peduli & perhatian terhadap sesama. Dan bahkan, tak jarang – kitapun terpengaruh dan meniru sikap & pandangan hidup sahabat kita. Sehingga tak jarang, ketika orang luar melihat 2 orang yang bersahabat, mereka sering menemukan persamaan sifat terdapat pada dua orang bersahabat itu. Walaupun, banyak juga orang merasa bahwa, orang-orang yang memiliki banyak persamaan sifat, pandangan hidup dan ketertarikan yang sama cenderung akan bersahabat.

Sahabat saya saat TK, saya temukan dalam perjalanan saya ke sekolah setiap hari. Rumahnya tak jauh dari rumah saya, karenanya kami sering berjalan kaki bersama ke sekolah. Ia bukan teman sebangku,  tapi saat istirahat di sekolah, ia mendukung saya secara psikis dan mendorong saya untuk bersama dengannya berani menghadapi teman sekelas yang nakal, suka mencubit dan merampas bekal makanan kami. Semula saya merasa sangat takut, khawatir dan tertekan menghadapinya, namun karena ada sahabat saya yang selalu mendampingi saya, akhirnya saya memberanikan diri untuk melawan & mempertahankan hak saya. Si perampas pun terkejut, tak menyangka bahwa saya akan seberani itu. Semenjak itu ia tak pernah mengganggu saya lagi. Ternyata, memang hidup menjadi lebih mudah setelah saya menjadi lebih berani.

Mungkin yang saya gambarkan di atas hanya merupakan sebagian kecil dari kenyataan bahwa betapa beruntungnya bila kita selalu memiliki sahabat di samping kita. Saya yakin masih banyak sekali keberuntungan-keberuntungan lain yang akan kita miliki lewat persahabatan dengan seseorang.

Menemukan Sahabat.

Walaupun kita tahu akan pentingnya persahabatan, banyak sekali diantara kita yang merasa sulit menemukan sahabat. Terlebih-lebih di tempat yang baru dan asing bagi kita. Maka tak heran acapkali teman kita berkata dengan sangsi sambil menggelengkan kepala “Teman mungkin mudah ditemukan. Tapi sahabat??”

Seringkali kita tidak sadar bagaimana menemukan sahabat kita pada mulanya. Para sahabat datang dengan berbagai cara & sebab. Bisa karena ia teman sebangku, teman seperjalanan, teman diskusi, teman sepermainan, tetangga, teman kursus, teman kost, tetangga, saudara, teman senasib sepenanggungan, dsb.  Bagaimankah mereka bisa menjadi sahabat kita?

Kebanyakan hubungan persahabatan menjalani proses pendahuluan, yakni pertemanan biasa. Proses persahabatan sendiri mulai terjalin ketika salah seorang teman mulai membuka diri dan menerima temannya itu dengan ketulusan hati. Bila proses pembukaan diri ini mendapatkan respon yang serupa, umumnya persahabatan akan terjalin.

Sesungguhnya sayapun berpendapat bahwa tidaklah mudah menjalin persahabatan dengan cepat. Namun bila kita tak berusaha mencarinya, mungkin akan menjadi lebih sulit lagi. Jadi kuncinya adalah kita juga harus proaktif ikut mencari. Kita yang harus proaktif membuka diri kita, agar orang lainpun mau membuka dirinya dan menerima keberadaan kita.

Menjaga & Merawat Persahabatan.

Banyak yang berkata bahwa sahabat adalah tong sampah tempat kita menuangkan uneg-uneg kita. Saya tidak tahu persis kebenarannya. Namun menurut saya, tong sampah itu tentunya tidak bisa hanya berda di satu pihak saja, yaitu pada sahabat kita. Tentunya sebuah persahabatan akan menjadi tidak adil jika seseorang selalu menjadi tong sampahnya, sedangkan yang seorang lagi menjadi tukang lempar sampahnya. Pada intinya, salah satu cara untuk membuat persahabatan kita tetap berjalan dengan baik adalah kemauan untuk  melakukan “saling”. Saling mendengarkan, saling memberi, saling menerima, saling membuang sampah uneg-uneg dan sekaligus saling menjadi tong sampah, serta  saling-saling yang lainnya lagi. Semuanya harus kita jalankan berimbang. Tentulah tidak adil namanya jika kita selalu mengharapkan dimengerti tapi tak pernah mau mengerti akan sahabat kita. Dan tentunya tidak benarlah rasanya jika kita selalu minta sahabat kita untuk mendengarkan kita, tanpa kitapun mau mendengarkannya.

Terhadap sahabat pada umumnya kita tak segan segan menunjukkan sifat & keadaan kita apa adanya, misalnya kita tidak malu menceritakan tentang masalah keuangan, kesehatan maupun kemalasan kita. Walaupun rasa malu kita telah sangat berkurang pada sahabat kita yang sangat memahami keadaan kita, bukan berarti kita bisa semena-mena memperlakukan sahabat kita tanpa memikirkan perasaannya. Menjaga perasaan sahabat kita sangatlah penting. Karena sama halnya dengan kita, iapun tidak ingin dilukai perasaannya. Ia juga manusia biasa yang ingin dihargai. Di Bali, kita banyak mendengar perkataan Tat Tvam Asi, yang kurang lebih maksudnya  bahwa “kamu adalah aku”. Dengan menyadari dan menerapkan Tat Tvam Asi dalam kehidupan kita, maka kita akan cenderung melakukan rem yang lebih paten jika timbul emosi dan keinginan untuk menghina orang lain, melecehkan harga diri orang lain maupun melampiaskan kemarahan terhadap orang lain (sahabat kita) dan sebagainya. Karena jika kita menghina sahabat kita, pada dasarnya kita menghina diri sendiri, demikian juga bila kita marah, emosi dsb, semuanya akan berbalik kepada diri kita sendiri. Karena ia, sahabat kita sesungguhnya adalah diri kita sendiri.

Dengan segala kebaikan yang kita lakukan kepada sahabat kita dan sebaliknya para sahabat memperlakukan kita dengan baik, tidak pula berarti bahwa kita biarkan sahabat kita  jika ia melakukan kesalahan. Sahabat yang baik tentunya tak akan pernah membiarkan sahabatnya jatuh dan hancur masuk jurang. Jika ia melihat sahabatnya melenceng arah dan menunjukkan gejala akan masuk jurang, sebaiknya ia segera memberikan isyarat peringatan dan menuntunnya kembali kearah yang benar. Dan kalaupun kepalang masuk jurang, tidaklah layak jika kita sahabatnya meninggalkannya di saat saat ia mengalami kesulitan dan kehancuran. Justru pada saat saat seperti ini, sahabat kita membutuhkan kehadiran kita untuk menemaninya. Memberinya semangat untuk bangkit kembali dari keterpurukannya dan membantunya mencarikan jalan keluar semampu kita.

Seringkali kemudian kita terbentur pada masalah,” Bagaimana jika kita telah mencoba membantu semaksimal mungkin, namun ia tidak mengerti dan salah paham?” Untuk hal ini akirnya kita kembalikan ke hati nurani kita masing masing dan kesanggupan kita untuk bertahan mempertahankan hubungan persahabatan kita. Karena bagaimanapun, persahabatn sama halnya dengan jenis hubungan yang lain (misalnya pacaran atau  perkawinan), semuanya memiliki pasang surut, memiliki godaan dan kerikil kerikil tajam yang bisa membuat tersandung dalam perjalanannya. Semuanya butuh daya tahan sebatas kemampuan masing-masing.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s