Tembang Bali = Iring Iring Silak Siluk (Sekar Madya)= Lyrics

Standard

Tembang  Bali =  Iring Iring Silak Siluk (Sekar Madya)= Lyrics

Iring –iring silak siluk.

Awan ikang menggah.

Miyata di dukuh rame.

Ingambal-ambalang watu.

Cara carannya abra murub.

Kang katingalan asri.

Tahen kencana ngrembun.

Ronnya nuntun aneng lemah.

Parijata angreronce.

Wunga tambang, wunga wari.

Ajajar lan andong ijo.

Sulasih miyana ijo.

Maduluran bayem luhur.

Melok- melok ana bang, ana putih.

Angraras tinon.

Tembang ini saya pelajari saat saya kecil dari seorang kompyang (nenek buyut) saya yang bernama Jero Nengah Pande,  yang di kemudian hari ayah saya membantu  mengajarkan saya untuk menyempurnakan cara menembangkannya agar lebih halus. Sebenarnya saya tidak tahu persis, apakah benar tembang ini masuk ke dalam kategori Sekar Madya. Karena yang jelas, ini bukan Sekar Rare, bukan Sekar Alit dan bukan pula Sekar Agung. Saya hanya mengira-ngira saja  dengan menggunakan logika dari kontennya. Barangkali jika ada rekan-rekan yang lebih tahu, bisa membantu memperbaiki pengetahuan saya tentang tembang ini saya akan sangat berterimakasih.

Karena tembang ini menggunakan Bahasa Bali Kuno, saya hanya menangkap sebagian saja dari arti lyrics lagu ini.  Beberapa kata-katanya juga sebenarnya saya tidak mengerti. Namun kurang lebih, tembang ini menceritakan tentang sebuah tempat yang sangat indah, terang dan ramai namun terlihat sangat asri. Pohon pohon emas tumbuh subur, daunnya menjuntai hingga ke tanah, buahnya banyak berjuntai juntai, bunganya pun sungguh indah. Tanaman hiasnya pun sangat banyak, ada pohon andong hijau yang indah, pohon sulasih, pohon miyana yang daunnya berwarna warni , kembang bayam raja serta bunga melok melok baik yang merah maupun putih semuanya ada, sehingga keseluruhan tempat bak taman bunga itu sangat memukau mata yang memandangnya.

Sedikit cerita mengenai  awal mulanya saya mulai menyukai tembang Bali.

Saat itu ayah saya mengajak saya  dan kakak serta adik-adik saya untuk membantu memanen kopi di ladang di sebuah desa kecil bernama Alis Bintang, di wilayah Kecamatan Susut, Bangli. Ladang itu terletak di dekat jurang. Saat itulah saya mendengarkan sebuah tembang yang dinyanyikan dengan sangat indah sekali dari seberang jurang. Suara penembang itu benar-benar indah serasa seperti  suara peri yang diterbangkan angin. Para pemetik kopi mengatakan, itu suara seorang pencari kayu bakar yang juga sekaligus berprofesi sebagai pregina  arja (seniman tari/teater traditional Bali).  Sungguh ia sangat menguasai bagaimana mengatur nafas dengan baik, memenggal kata demi kata dan membuat cengkok lagu dengan sempurna. Setelah dewasa dan saya mendengarkan suara indah luar biasa dari penyanyi  Sarah Brightman , saya jadi sering teringat akan suara pregina itu. Kedua seniman itu mendapat tempat yang sama baiknya di hati saya. Namun  saya  mulai berpikir – berapa banyak lagikah generasi muda di Bali saat ini yang masih mencintai tembang Bali? Kalau suatu saat  saya duduk duduk lagi di tepi jurang,  apakah saya masih akan mendengar suara tembang dari seberang jurang? Semoga pikiran saya yang  terlalu berlebihan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s