Sambal Gandaria Ala Jineng…si pedas asem buat teman lalapan.

Standard

Mungkin sebagian dari kita ada yang bertanya.. “Sambal gandaria? Apa sih itu?”. Ya, bagi sebagian orang, terutama yang tidak tinggal di Jawa khususnya Jawa bagian barat, mungkin ada yang bingung. Sering mendengar nama gandaria, namun tidak tahu apa yang dimaksudkan dengan Gandaria.

Saya sendiri sebelumnya tidak mengenal arti gandaria itu. Lebih bingung lagi, saat ibu mertua saya yang berasal dari tanah Pasundan meminta tolong saya mengambilkan kebaya yang berwarna gandaria dari lemarinya. Saya sempat terlongong longong. Warna apa itu gandaria? Ternyata yang dimaksud adalah warna ungu.  Jadi ungu itu dalam bahasa Sundanya adalah Gandaria. Rupanya itu diambil dari warna biji buah gandaria yang memang ungu. Nah, bagi yang belum tahu gandaria, disini akan saya ceritakan sekilas mengenai buah gandaria itu.
Buah Gandaria (saya lihat di beberapa referensi, buah ini bernama latin Bouea macrophila, adalah buah kecil bulat sebesar kelereng sampai sebesar bola bekel, yang mirip dengan mangga mini yang bulat. Seperti halnya mangga, kulit gandaria berwarna hijau dan menguning bila masak. Rasanya juga sangat mirip dengan buah mangga kecut. Bijinya seperti telah saya ceritakan tadi, juga sangat mirip biji mangga kecil, tapi berwarna ungu. Buah ini bisa ditemukan di pasar-pasar traditional di daerah Jawa Barat, namun umumnya hanya pada musim berbuahnya saja (sekitar Desember – Januari). Masyarakat banyak menggunakannya sebagai campuran sambal terasi dan kemudian menamakannya dengan Sambal Gandaria.
Pertama kali saya mencoba sambal ini  juga di rumah ibu mertua saya. Menurut saya sangat cocok dipakai untuk menemani lalapan, ayam, ikan, tahu atau tempe goreng, maupun ikan asin. Sejak saat itu, setiap kali saya jalan ke pasar tradisional dan bila menemukan buah ini, saya selalu berusaha membelinya dan menjadikannya sambal untuk menemani makan siang keluarga.
Cara membuat sambal gandaria cukup mudah. Yang dibutuhkan sama dengan bahan-bahan untuk membuat sambal terasi biasa yakni, cabe (merah keriting, campur cabe rawit merah/hijau), terasi (jenis apa saja, tapi saya paling suka terasi Bangka, atau kalau tidak terasi dari Jawa Timur), tomat, garam & gula merah. Cabai dan tomat kita rebus sebentar agar lunak, lalu diulek hingga halus bersama terasi matang (boleh dibakar atau digoreng), garam dan gula merah. Setelah halus, lalu masukkan daging buah gandaria dan ulek kasar. Hidangkan bersama lalapan yang segar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s