Nyebur! Agar Bisa Berenang..

Standard

Bisa berenang adalah salah satu keinginan saya yang amat sangat sulit bisa saya realisasikan. Saya benar-benar tidak menguasai teorinya sehingga entah mengapa saya selalu merasa badan saya yang memang kelebihan berat ini,  menjadi terlalu berat untuk mengapung di air. Tiap kali berusaha berenang, ada saja yang saya keluhkan. Telinga kemasukan air, pantat yang berat, hidung pengap, dan lain-lain. Saya sendiri tak habis pikir, mengapa hal ini bisa terjadi pada saya, padahal kampung halaman saya ada di tepi danau Batur yang luas. Belakangan ini, barulah saya sadar, ternyata itu adalah akibat faktor keberanian yang kurang dalam diri saya. Kurang berani menghadapi air atau dalam istilahnya kurang berani ‘nyebur’ .

Dengan sangat niat, beberapa tahun yang lalu saya berusaha mencari guru renang yang bisa mengajari saya dengan baik. Setelah nongkrong beberapa saat di kolam renang dekat rumah, maka berhasillah saya bertemu dengan seorang wanita setengah baya yang berprofesi sebagai guru renang buat anak-anak sekolah. Saya sebut saja ia guru saya. Kami lalu mengobrol di tepi kolam dan saya mulai menanyakan beberapa hal agar bisa merasa nyaman dalam air. Menanggapi pertanyaan saya yang bertubi-tubi, guru saya hanya terdiam dan masuk ke dalam air, lalu dari dalam kolam berteriak “ Nyebuuurr!!”. Mau tidak mau saya masuk ke dalam air. Di sana lalu guru saya melatih saya untuk mengatur nafas dan menyelam, memasukkan kepala saya di dalam air serta melihat ke dasar kolam renang. Setelah itu ia mengajarkan cara menggerakkan kaki dan tangan agar bisa bergerak maju. Demikian setiap hari ia mengajari saya, dan uniknya tiap kali saya tiba di kolam renang, ia selalu berteriak kepada saya dari dalam kolam “Nyebuuurrr!!!” agar saya mulai masuk ke dalam air.

Entah kemana gerangan guru renang saya itu sekarang pergi, saya tak pernah melihatnya mengajar di kolam renang dekat rumah saya lagi. Mungkin kontraknya dengan manajemen kolam renang telah berakhir. Namun teriakannya untuk nyebur ke air, selalu saya kenang dalam ingatan saya karena menekankan kepada setiap orang, bahwa kalau mau bisa berenang harus nyebur dulu ke air, yang saya rasa sangat valid. Berenang tak bisa dipelajari hanya dengan belajar theory dari buku. Atau dengan duduk-duduk saja di tepi kolam renang, tanpa berani melakukan ancang-ancang untuk nyebur dan mencoba semua theory itu di air. Teriakannya itupun saya rasa juga valid dalam aspek kehidupan kita yang lain.

Saya jadi teringat pada salah seorang saudara yang bercita-cita memiliki usaha sendiri. Apa saja, yang penting usaha sendiri dan tidak bekerja pada orang lain. Setiap hari ia memikirkan cita-cita indahnya itu. Duduk di dekat  salah satu tiang Bale sambil merokok dan mereka-reka impiannya. Hari demi hari lewat berganti minggu, bulan dan tahun. Tidak ada yang terjadi. Ia tetap bekerja pada lembaga lain untuk menyangga hidupnya. Saya tidak tahu, bagaimana ia akan melaksanakan cita-citanya itu. Lalu saya sarankan padanya, kalau memang serius untuk berusaha sendiri, mengapa tidak mulai dulu dari sesuatu yang kecil? Misalnya dengan sebuah mesin fotokopi karena kebetulan rumah berlokasi dekat daerah perkantoran dan sekolah/universitas. Kelihatan ia tidak tertarik akan saran saya. Ia menginginkan sesuatu yang lebih besar dan lebih menjanjikan. Namun tahun terus berganti dan tetap tak ada sesuatu yang terjadi. Ia tak pernah berhasil merealisasikan cita-citanya. Ia tidak berani nyebur! Hingga pada suatu saat terjadi gejolak di lembaga tempatnya bekerja dan ia merasakan ketidak pastian yang mengancam. Keadaan itu memaksanya untuk meninjau ulang lagi pikiran dan keberaniannya. Maka mulailah ia ingat akan ide mesin fotokopi itu. Apa boleh buat. Tak ada pilihan lain lagi. Nyebur!! Dengan segala resikonya ia ambil. Sejak itu, ia lakoni semuanya dan nyatanya ia berhasil memiliki usahanya sendiri. Sebuah toko kecil, jasa kopi, pengetikan dan internet.  Walaupun kecil, namun miliknya sendiri!. Jadi kuncinya disini adalah nyebur! Nyebur membuat kita bisa berenang, walaupun tidak sejago atlet renang, namun setidaknya kita bisa berenang.

Seorang teman yang membuka sebuah rumah makan juga bercerita hampir serupa. Ia dan suaminya telah berangan-angan akan memiliki usaha sendiri sejak bertahun-tahun yang lalu. Namun cita-cita tinggal cita-cita, karena tak pernah ada keberanian selain merasa tak memiliki pengetahuan dan ketrampilan untuk memulainya. Tak ada yang terjadi ketika tak ada sesuatu yang mendorongnya untuk nyebur. Ketika ia kena PHK, maka pilihan hidup menjadi lebih sempit. Ia tak punya pilihan selain nyebur. Keberanian datang entah dari mana. Setelah keberanian itu ada, pengetahuan dan ketrampilan lalu ia pelajari sambil berjalan. Sekarang ia bahagia dengan rumah makannya. Disinipun kita lihat, bahwa kata kuncinya adalah ‘nyebur” alias memulai.  Start to make an action! Tanpa inisiatif awal ini, sesuatu tak akan pernah terjadi, betapapun besar & indahnya impian dan cita-cita kita.

Banyak diantara kita yang hanya ingin tetap berkarir di perusahaan. Bagi kita yang telah memiliki pilihan hidup ini, semuanya telah jelas dan pasti.Tua dan pensiun dengan tenang. Namun banyak juga diantara kita yang bercita-cita ingin memiliki usaha sendiri. Berkhayal dan berdiskusi tanpa henti-henti. Namun  kebanyakan dari yang bercita-cita ingin berenang ini  belum berani meninggalkan tepi kolam yang kering dan nyaman. Jadi kapan kita akan mulai nyebur?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s