Monthly Archives: February 2011

Purple Colour Therapy From Your Garden – Calming & Relaxing..

Standard

Warna ungu, merupakan salah satu warna yang kita kenal sejak kecil sebagai salah satu warna penting yang menyusun warna pelangi – mejikuhibingu. Warna ungu ini merupakan gelombang yang memiliki ukuran  yang paling pendek jika dibandingkan dengan warna merah misalnya, namun memiliki energy yang paling tinggi. Dalam system pengobatan alami (natural healing) yang menggunakan konsep pengaruh warna (colour therapy), gelombang warna ungu ini dimanfaatkan untuk membantu menyeimbangkan Chakra Mahkota yang  merupakan salah satu dari 7 chakra chakra penting dalam tubuh manusia yang mengatur energy kehidupan manusia. Read the rest of this entry

Advertisements

Cerita Kepemimpinan Dari Ruang Lulur Salon.

Standard

Pada suatu hari Minggu yang menyenangkan, saya memutuskan untuk pergi ke salon. Terus terang saya jarang ke salon, namun sekali ini saya merasa membutuhkan perawatan dipijat dan dilulur karena saya merasa kulit saya mulai kusam, kotor dan gosong oleh sinar matahari. Mungkin bila dilihat di bawah mikroskop barangkali kulit saya telah penuh dengan kumpulan sel-sel kulit mati pada permukaannya. Karena hari Minggu, tempat luluran di Salon yang terdiri atas ruang-ruang kecil yang disekat kain gorden mirip ruang perawatan di rumah sakit itu penuh dengan pelanggan. Cukup beruntung saya masih mendapatkan sebuah ruang, walaupun tempat berbaringnya agak langsung kena AC.

Setelah menjalani sauna singkat, sang therapist mengajak saya untuk berbaring dan memulai session pijat dan lulurannya.  Sambil memijat, sang therapist mengajak saya ngobrol dengan ramah. Mulai dari “ibu tinggalnya dimana, putranya berapa, asal dari mana, kerja dimana dsb hingga ke urusan hobby dan kesukaan saya”.  Karena keramahannya, saya menjadi sangat senang juga ngobrol dengannya. Namun barangkali karena dipijit dengan enak, saya merasa mengantuk dan setengah tertidur.  Mengetahui itu sang therapist menghentikan obrolannya dengan saya. Sesaat sepi dan hening. Kemudian saya mulai mendengar ia berbicara kepada therapist lain yang juga sedang bekerja di ruang sebelah yang hanya disekat gorden itu.  Dan seorang therapist lagi yang sedang menunggu clientnya menjalani sauna juga ikut nimbrung dalam obrolan itu.

Mula-mula saya tidak tertarik mendengarkan percakapan antar mereka, namun lama-lama entah kenapa telinga saya sulit untuk diajak jangan mendengar. Mungkin itulah barangkali orang bilang, wanita memang pada dasarnya suka mencuri dengar percakapan orang lain dan bergossip ria. Sebagai wanita, sayapun rupanya tidak luput dari instink alamiah itu. Diam-diam saya menyimak percakapan mereka walaupun saya tak kenal baik dengan mereka. Dari kalimat-kalimatnya saya tahu ia sedang membicarakan pihak ketiga yang bisa jadi temannya atau mungkin atasannya.  Semakin lama semakin jelas bagi saya yang sedang menjadi tokoh gossip hari itu rupanya adalah Supervisor Salon yang merupakan atasan mereka.

Therapist yang terlibat dalam percakapan itu terdengar sangat dongkol akan atasannya yang menurutnya (dan diamini oleh rekannya) berwatak kasar, pemarah, jutek, bossy, kerjanya hanya bisa menyuruh orang lain saja, sementara dirinya sendiri tidak bisa bekerja dan banyak sekali predikat yang kurang positive lainnya dilekatkan oleh anak buahnya. Pada sebuah kalimat yang dicetuskan, saya mendengar mereka menilai bahwa pemimpinnya itu mirip kodok. Pengen melompat ke atas, ia harus menekan ke bawah dan menjilat ke atas, katanya. Oh! Saya sangat terkejut dengan pernyataannya itu. Mengapa bisa terjadi  seorang pemimpin sedemikian dibenci oleh bawahannya?

Belum lepas keheranan saya, tiba-tiba ruangan mendadak sepi. Seorang therapist lain datang memberi kode. Pembicaraanpun seketika berubah topik. Seperti yang saya tebak,  benar saja rupanya sang Supervisor yang menjadi bintang hari itu muncul. Saya juga jadi semakin tertarik mengikuti perkembangan suasananya. Terdengar sang supervisor menegur seorang therapist yang dilihatnya menganggur untuk segera turun ke lantai bawah untuk mengerjakan perawatan Creambath. Mereka kekurangan therapist untuk Creambath,  yang dijawab oleh sang therapist bahwa ia bukannya sedang bengong, tapi sedang menunggu clientnya yang sedang sauna. Saya memang merasakan nada agak kasar dan kurang bersahabat dalam suara Supervisor itu, yang memberi tekanan pada therapist yang ditegur tadi, sehingga cenderung membela diri dengan rasa tidak senang. Sang Supervisorpun turun. Seketika pembicaraan tentang dirinya berkembang lagi. Para therapist yang lain tertawa mengetahui adegan itu.

Saya sempat membagi cerita yang saya dengarkan di ruang salon itu dengan seorang kawan yang kebetulan memiliki posisi cukup tinggi di sebuah perusahaan swasta.  “ Wah.. menggossipkan atasan sih memang makanan empuk para bawahan setiap harinya! Nggak perduli sebagus apapun atasannya itu” katanya  dengan nada enteng. “Gue sih nggak heran. Mungkin kitapun selalu dijadikan topic gossip setiap hari oleh para bawahan kita. Mana kita tahu?” Katanya menambahkan. Yah.. saya juga tidak bisa menyangkal bahwa ‘dibicarakan di balik punggung kita’ bisa terjadi pada siapa saja yang menjadi pemimpin. Dan mungkin memang sulit dihindarkan. Namun entah kenapa saya tetap percaya bahwa pembicaraan negative para bawahan tentang atasannya  bisa dikurangi (kwalitas dan kwantitasnya) dengan melakukan perbaikan-perbaikan dalam beberapa aspek kepemimpinan yang diterapkan.

Saya jadi teringat akan kata-kata seorang atasan saya belasan tahun silam mengenai Managerial Skill & Leadership Skill yang harus dimiliki oleh setiap orang yang menduduki posisi penting dalam sebuah perusahaan, bahwa “Yang bisa menilai anda adalah sorang Good Manager atau bukan adalah atasan anda. Sedangkan yang bisa menilai bahwa anda adalah seorang Good Leader atau bukan adalah bawahan anda ”. Saya renungkan sangat benar adanya. Ya. Kepemimpinan kita dinilai oleh bawahan kita. Jadi, untuk menjadi seorang pemimpin yang baik, tentu ada baiknya kita memahami apa yang menjadi complain bawahan terhadap diri kita.

Jika kita simak apa yang menjadi complain utama para therapist di Salon itu terhadap atasannya yang bisa kita jadikan pelajaran dalam hidup kita antara lain menyangkut masalah:

1. Sikap & Tingkah Laku (jutek, kasar, pemarah, bossy).

Bagaimana kita bersikap terhadap bawahan kita sangatlah menentukan hubungan kita dengan bawahan. Pemilihan kata-kata yang baik, terutama dalam menyampaikan suatu masalah atau memberi perintah sangatlah penting. Perkataan yang baik, selalu akan mendapatkan sambutan yang baik pula. Sebaliknya perkataan dan sikap yang jutek, kasar dan pemarah akan mendapatkan sambutan yang kurang ramah. Betapapun ruwet masalah yang sedang kita hadapi, betapapun ketatnya deadline ataupun besarnya target yang harus kita penuhi, namun jika kita mampu menyampaikan dengan baik dan sopan,  tentu komitment dari bawahan kita akan lebih mudah kita dapatkan.

Bawahan adalah manusia biasa juga, sama halnya dengan diri kita, yang membutuhkan penghargaan & pengakuan setara sebagai manusia. Sehingga sikap yang bossy dan memandang rendah orang lain sama sekali tidak dibutuhkan dalam hal ini.

2. Kemampuan (bisanya menyuruh saja, sementara ia sendiri tidak pandai).

Banyak atasan yang dicemoohkan bawahannya karena masalah kemampuan yang dianggap tidak lebih baik dari bawahannya. Untuk mengatasi hal ini, mungkin mengasah selalu kemampuan kita merupakan hal  yang sangat baik dilakukan. Jangan pernah berhenti belajar. Belajar bsa dari mana saja, dari kursus, sekolah lagi, ikut seminar, training, baca buku, internet, diskusi dengan teman.

Kadang seorang pemimpin ada juga yang sangat pelit ilmu pada bawahannya, karena khawatir bawahannya lebih pintar dari dirinya dan posisinya terancam. Namun dalam hemat saya, pelit membagi ilmu sesungguhnya akan membuat kita dijauhi bawahan kita dan munngkin bawahan kita  bahkan menutup informasi terhadap kita, padahal sesungguhnya jika kita mau membuka diri, rajin melakukan diskusi dengan mereka, dari bawahanpun seringkali kita bisa belajar dan mendapatkan informasi serta pengetahuan baru.

Hal lain yang juga membuat bawahan menghargai kita adalah dengan melibatkan diri lebih jauh dalam setiap aktifitas dan proyek. Sehingga tidak pernah lagi akan keluar penilaian bahwa kita biasanya hanya menyuruh saja.

3. Integritas & Kejujuran (menekan ke bawah, menjilat ke atas).

Diumpamakan sebagai kodok yang meloncat dengan cara menekan ke bawah dan menjilat ke atas, bukanlah hal yang menyenangkan. Mungkin bagus buat kita merefleksi diri, apakah kita benar seperti itu?  Jangan terlalu khawatir jika kita tidak melakukan hal itu. Namun jika hati kecil kita mengakui, maka ada baiknya kita segera merubah diri. Menjadi lebih terbuka dan jujur pada diri sendiri, pada bawahan, pada rekan kerja dan pada atasan kita. Mengatakan hal yang kita lakukan dan berusahalah untuk selalu melakukan hal yang kita katakan. Betapapun sulitnya.

Bersikap transparent dan konsisten terhadap siapa saja, membuat langkah kita menjadi lebih ringan. Apapun yang kita lakukan tak menjadi beban, karena kita tak pernah memiliki agenda lain yang tersembunyi. Semuanya kita lakukan untuk suatu hal yang positive dan jelas.

Gossip dari salon ini, bisa kita ambil pelajarannya untuk kita jadikan benchmark, sebaik apa kepemimpinan kita dalam sebuah organisasi. Walaupun memang tidak ada yang menjamin bisa menghilangkan 100% pembicaran buruk di balik punggung kita ini, namun setidaknya dengan memahami dan berusaha menghindarkan hal-hal serupa yang menjadi complain para therapist Salon ini, maka kemungkinan kita dibicarakan buruk akan berkurang sebesar x%. Selain itu hubungan kita dengan bawahan juga akan semakin membaik dan pekerjaan akan menjadi lebih ringan dan menyenangkan.

Mengajak Anak Melukis..

Standard

Menggambar & Melukis merupakan salah satu kegiatan anak-anak yang menyenangkan. Hampir semua anak menyukainya . Selain memberi keasyikan  tersendiri bagi anak-anak, juga memberi manfaat yang positive terhadap perkembangannya ke depan. Walaupun banyak diantara kita sebagai orangtua merasa tidak memiliki keahlian melukis, tidak menjadi masalah. Kita bisa melukis dan mencorat coret apa adanya tanpa beban. Toh tetap saja mengajak anak melukis merupakan kegiatan menyenangkan yang bisa dilakukan bersama anak-anak untuk mengisi waktu luang dan sekaligus menikmati banyak manfaat positive yang diakibatkannya. Coba saja melukis dengan media yang tersedia di rumah. Bisa juga kita  ajak anak-anak  ke tempat-tempat pameran dimana ada aktifitas melukis pakaian sendiri ataupun lomba lukis. Kalah menang tak masalah, yang penting anak-anak senang.

Melukis adalah mengekspresikan pikiran. Anak-anak sering memiliki pikiran-pikiran yang sangat baik dan cerdas. Yang jika kita orang dewasa  mampu menangkap jalan pikirannya,  kita menjadi sangat takjub karenanya. Anak-anak bisa memikirkan sesuatu yang ia tangkap dari melihat suasana saat kita ajak jalan ke kota lain. Atau ke tempat wisata, ke restaurant, ke pasar, ke mall, ke taman, ke sungai, dsb. Bahkan saat ia menonton TV atau CD, atau di sekolah dan sebagainya.

Melukis juga adalah menterjemahkan perasaan. Warna merupakan alat penterjemah yang sangat baik. Entah bagaimana caranya,  anak-anak ternyata mampu menterjemahkan perasaannya ke dalam lukisan dengan cukup baik  tanpa pernah kita ajarkan. Walaupun terkadang kita melihat penggunaan warna-warna yang ajaib dan bertabrakan, namun secara keseluruhan kita selalu melihat ada rasa yang tertuang di sana. Kadang ada gambar sapi yang berwarna biru, atau laut yang berwarna kuning dan sebagainya. Kebanyakan mencerminkan rasa yang senang dan bahagia. Sehingga ketika kita melihatnyapun kita jadi ikut merasakan perasaan bahagia itu.

Melukis adalah menitipkan selera. Lukisan juga memberi  ruang bagi seseorang untuk menitipkan seleranya dengan baik. Termasuk bagi selera anak-anak. Dalam sebuah lukisan anak-anak, kita tetap masih bisa melihat adanya selera di sana, walaupun orang bilang bahwa anak-anak itu masih polos dan lugu. Anak anak memiliki kecenderungan untuk menggambar apa yang diangapnya keren untuk jamannya. Tentunya hal ini sangat dipengaruhi oleh teman-teman dalam lingkungan pergaulannya baik di rumah maupun di sekolah, acara yang ia lihat di televisi ataupun tempat-tempat yang pernah ia kunjungi saat diajak orangtuanya.

Melukis adalah mewujudkan impian dalam kanvas. Seringkali seseorang memiliki impian-impian yang indah,  namun hanya ia sendiri yang tahu dalam khayalannya. Seniman lukis menterjemahkan impian dan khayalannya dalam kanvas. Sehingga orang lain bisa melihat.  Mengajak anak melukis, membuat ia mewujudkan dunia khayalnya dengan lebih baik. Misalnya jika dewasa ia ingin memiliki rumah yang bagus, atau ia ingin menjadi dokter dan sebagainya.

Melatih kreativitas. Melukis sangat memberi kebermungkinan untuk menciptakan berbagai macam bentuk tanpa batas mulai dari garis, kotak, persegi,  hingga lingkaran.Juga campuran warna yang beraneka ragam mulai dari mejikuhibiniu hingga hitam dan putih. Juga  idea dan cerita yang hadir dalam berbagai scenario, mulai dari yang masuk akal , sampai ke pemikiran lateral yang bahkan belum terpikirkan oleh orang dewasa. Misalnya saat melihat suasana banjir yang melanda Jakarta , seorang anak memikirkan cara menyelamatkan diri dengan cara naik ke atap rumah dan bersenang-senang diatasnya yang ia ekspresikan dalam salah satu lukisan crayonnya. Kita menjadi terkagum-kagum. Mungkin bukan pada komposisi warnanya ataupun pada keindahan bentuk yang ia hasilkan, namun lebih kepada pemikirannya bahwa banjir (yang tingginya sebenarnya hanya semata kaki) bisa ia khayalkan berpotensi akan setinggi rumah. Ddan ia memiliki gagasan  akan menyelematkan diri dengan cara berdiri di atap rumah sambil bersenang-senang.  Ia melihat banjir dengan  kacamata yang menyenangkan.  Saya  sering melihat adanya pemikiran-pemikiran genuine  & kreatif sejenis itu  pada banyak lukisan anak-anak. Gagasan-gagasan  yang tidak ada atau telah disingkarkan jauh-jauh dari lukisan orang dewasa.

Melatih kepekaan terhadap warna dan energy. Terekspose dengan berbagai warna, sesungguhnya terekspose dengan energy dan panjang gelombang yang berbeda yang mempengaruhi mood seseorang. Bermain dengan warna membuat anak-anak terbiasa memahami di alam bawah sadarnya bahwa warna-warna tertentu memberikan mood tertentu pada dirinya, sedangkan warna-warna lain memberikan mood yang berbeda lagi.

Memori dan Menghemat Biaya Dekorasi. Mengapresiasi hasil karya lukis anak dengan cara membingkai dan menggantungkannya di ruang tidurnya, akan memberikan memori indah dan kebanggaan akan  masa kecilnya  kelak saat ia dewasa. Selain itu juga menghemat biaya dekorasi kamar anak. Jadi jangan buang-buang hasil karya gambar/lukisan anak kita. Tangani serius, beri bingkai sesuai ukurannya dan manfaatkan untuk mendekorasi kamar-kamar yang relevant. Misalnya ruang tidurnya,  teras belakang tempat ia bermain dengan teman-temannya dan sebagainya.

Mari ajak anak melukis, walaupun kita tidak berharap anak kita akan  menjadi seniman yang menghasilkan karya lukis bagus yang bernilai ratusan jutaan rupiah, namun tetap saja melukis memberikan banyak hal-hal positif seperti yang  dipaparkan di atas.

Green Colour Therapy, The Balancing Colour From Your Garden.

Standard

Sama halnya dengan Aromatherapy yang banyak digunakan pada produk perawatan kosmetika, salon, spa dan sebagainya untuk membantu memberikan pengaruh positive baik secara fisik maupun psikis pada diri kita, Colour therapy pun sesungguhnya telah dikenal selama ribuan tahun untuk membantu memberikan therapy fisik maupun emosional pada manusia. Read the rest of this entry

Pertemanan Yang Tidak Adil Di Facebook.

Standard

Seorang kawan bercerita kepada saya tentang kawannya yang lain, yang dianggapnya telah berlaku tidak adil terhadap dirinya di media social facebook. Kawan dari kawan saya ini tiba-tiba meng-customize wall sharingnya sehingga kawan saya tak bisa melihat wall status kawannya itu. Padahal, selama ini di dunia nyata  mereka tidak punya masalah, namun mengapa di dunia maya ia berlaku seperti itu? Kawan saya menjadi curiga, apakah itu suatu pertanda bahwa kawannya tidak mau berkawan lagi dengannya? Kecurigaannya   pun  kemudian berkembang menjadi kejengkelan.”Loh..tidak adil dong? Ia bisa melihat wall-ku, karena tak ada sesuatu yang kusembunyikan darinya. Sementara ia menyembunyikan wall-nya dariku. Kalau begini caranya berhubungan, mendingan sekalian saja kita tidak usah berkawan di facebook. Buat apa berkawan dalam ketidakjujuran?” Keluhnya.

Saya yang tidak mengerti duduk perkara keseluruhan ceritanya, hanya bisa berusaha menenangkan dengan mengajukan beberapa kemungkinan yang barangkali belum ia pertimbangkan sebelumnya.

Kemungkinan pertama yang saya ajukan ke kawan saya adalah bahwa  kawannya itu tidak sengaja melakukan itu karena tidak ngeh status di privacy settingnya. “Ah, tidak mungkin!!! Ia bukan type orang yang seteledor itu” katanya segera mematahkan teori kemungkinan saya.  Oke. “Bagaimana kalau perubahan itu tejadi saat pihak facebook melakukan perubahan tampilan yang membuat kita perlu melakukan adjustment setting kita?” Ia tetap tidak setuju dan menganggap itupun  tidak mungkin, karena menurutnya kawannya satu itu tidaklah type pemalas seperti saya yang lebih suka melakukan kegiatan lain-lain daripada mengotak-atik setting facebook.  Teori saya berikutnya adalah, bagaimana kalau ia gaptek? Salah klik lalu tidak tahu caranya membetulkan kembali? Atau tidak berbahasa Inggris dengan baik sementara ia menggunakan versi bahasa inggris? Atau .. istrinya, anaknya yang melakukan itu tanpa ia ketahui? Semua teori ‘ketidaksengajaan’ saya itu dimentahkan kembali olehnya. Tak satupun yang diterima dan masuk diakalnya.  Teman saya tetap menjuruskannya ke arah ‘kesengajaan’.

Sesungguhnya saya mulai kehilangan energy untuk ikut melanjutkan obrolan kami, karena saya tidak kenal dengan kawan dari kawan saya itu.  Selain itu saya juga mulai terpancing untuk mengingat ingat  apakah ada kawan-kawan saya sendiri yang tidak mensharing wallnya dengan saya. Rasanya memang ada satu dua orang yang begitu, tapi selama ini saya tidak terlalu memperhatikan dan memikirkan penyebabnya.  Saya lebih memilih untuk menghormati semua keputusannya. Mungkin teman yang lainpun ada juga  yang mengalaminya.  Mengapa mereka melakukan perbuatan itu? Jika teori ketidaksengajaan tidak berlaku, maka saya mengudek udek apa saja motivasi yang menyebabkan terjadinya ‘kesengajaan’ itu.  Beberapa hal bisa saya pahami mungkin saja terjdi:

1.       Banyak karyawan yang ingin bersahabat dengan atasannya di facebook untuk berbagai alasan. Mungkin ada yang memang menyukai karakter atasannya; ada yang  ingin mengenal atasannya lebih jauh untuk mengetahui keluarganya dan kehidupan belakang layar lainnya guna lebih mudah menyesuaikan diri. Ada yang memang murni karena pengen bersahabat saja, ada yang pengen dianggap penting oleh rekan sejawatnya karena berhasil berteman dengan ‘para bos’, atau hanya sekedar basa basi karena atasannya yang duluan mengundang, jadi ia merasa tidak enak hati untukmenolak pertemanan dsb dsb sejuta alasan lain.

Lalu mengapa ia tidak mau memperlihatkan wallnya pada kawan (baca: atasannya) di facebook? Mungkin saja karena ia suka menumpahkan uneg-unegnya soal kantor, kerjaan dan termasuk atasannya  di dinding facebook. Jadi wajarlah kalau ia tidak mau atasannya melihat itu semua.

Saya pernah memiliki sahabat di facebook yang kebetulan bawahan saya di kantor. Suatu hari saya melihatnya menumpahkan kekesalan atas office policy di wallnya. Esok harinya saya ajak ia bicara, bukan karena saya melarang ia berpendapat, tapi menghimbau kawan saya itu agar jangan menjelek-jelekkan kantor sendiri di wall yang tentunya akan dibaca oleh sejuta umat. Kalau tidak happy, lebih baik dibicarakan off line. Tidak baik untuk image kantor, dan tidak baik juga untuk image dirinya sendiri. Ia setuju dan berjanji tidak akan melakukan hal itu lagi di wall. Eh.. hari berikutnya ia malah nulis di wallnya bahwa atasannya telah mencampuri urusan pribadinya untuk menulis di fb. Itu kan haknya dia. Begitu pendapatnya. Ya. Beneer juga.  Saya hanya tertawa membaca statusnya dan tak punya selera lagi untuk mengikuti urusan pribadinya. Nah kebetulan teman saya itu bukanlah orang yang suka menutup-nutupi isi hatinya. Tapi mungkin tidak semua orang seperti itu. Ada yang ingin menumpahkan kekesalannya, tapi tak mau diketahui orang-orang tertentu. Jadi wajarlah kalau ia tak mau sharing wallnya.

2.       Atasan atau mantan atasan yang berteman dengan bawahannya juga mungkin berbuat begitu. Terutama bila mantan bawahannya pindah ke perusahaan pesaing, beberapa atasan memilih untuk menterminate pertemanan di facebook atau merubah setting nya agar mantan bawahannya tidak bisa melihat lagi aktifitas/percakapan yang terjadi berkaitan dengan kantor.Wajarlah. Terutama jika sang atasan itu juga suka membawa bawa aktifitas kantornya ke ruang public yang bernama facebook. Itu berbahaya dan bisa terbaca oleh orang yang bekerja di kantor pesaingnya.

Ada juga atasan yang memang tidak mau membagi kehidupan pribadinya dengan teman-teman kantor.  Baginya dunia kantor adalah hal yang terpisah dengan dunia rumah, jadi mengapa harus di share. Tetap berteman dengan bawahan adalah hanya untuk tata karma saja dalam pergaulan. Alasan lain adalah atasan merasa tidak berada di level yang sama dengan bawahannya untuk dijadikan teman yang layak diberi sharing informasi dari wallnya. Dan masih banyak alasan lain lagi yang mungkin.

3.       Anak/keponakan yang ABG dan mulai pacaran seringkali mengeliminir informasi terhadap keluarganya. Kalau kita perhatikan status para remaja jaman sekarang, kadang kadang kita terkejut dan terheran heran . Terutama dalam hal pacaran. Woo.. Berani banget! Waduhhh kok ngawur ya bicaranya! Gawat.. keponakanku kok kaya gitu ya dst dst. Para tante dan om dari sang keponakan  ini biasanya suka mengkritik  dan menjadi polisi moral bagi status keponakannya yang sedang ABG. Tidak boleh begini, tidak boleh begitu. Sang keponakanpun akhirnya menjadi tidak senang dan memutuskan untuk tidak sharing wallnya ke Om & tantenya itu.

4.       Para mantan pacar kadang ada juga yang jadi teman di facebook. Mereka juga ingin berteman dengan kita, pengen tahu kehidupan kita sekarang,  namun bisa jadi berusaha menjaga perasaan kita dengan menghalagi kita melihat percakapan pribadi dengan pasangannya yang sekarang di wallnya. Yaaah.. boleh saja. Tu soal pilihan.

5.      sudah pasti masih banyak lagi reason dan kasus serupa yang terjadi dan menimpa banyak orang di facebook yang belum terpikirkan alasannya oleh saya.

Memang terasa agak tidak adil. Namun jika kita sedkit  berusaha memahami alasannya, mungkin kita bisa menerima dan tetap menghormati keputusan para teman kita untuk menghalangi pandangan kita dari wallnya.

Jika kita tetap merasa tidak diperlakukan dengan adil, barangkali pendapat teman saya untuk sekalian saja tidak usah berteman di facebook bisa jadi merupakan pilihan yang lebih baik. Toh kita tetap bisa berteman di dunia nyata yang lebih riil tanpa memiliki prasangka apa-apa.

Topeng Monyet Yang Manggung Di Depan Rumah Pagi Ini…

Standard

Pagi ini Kelompok Topeng Monyet melintas di jalan di depan rumah saya. Saat yang bersamaan, anak-anak  keponakan saya yang masih balitapun lewat digendong susternya. Mereka ingin nonton topeng monyet. Lalu saya mintalah kelompok itu untuk manggung di depan rumah. Anak saya ikut keluar menonton. Demikian juga beberapa orang tetangga. Kelompok topeng monyet terdiri atas pemain music sederhana yang terdiri dari alat music traditional gangsa (gamelan) dan drum, seorang pawang monyet dan monyet itu sendiri beserta peralatannya. Upahnya 20 ribu rupiah untuk sekali manggung yang berdurasi kurang lebih setengah jam.  Ning  nong ning nong drungg dung dung dung.. maka beraksilah sang monyet dengan dikendalikan oleh pawangnya. Anak-anak senang dan bertepuk tangan riang.

Sesaat saya agak merasakan nyeri di hulu hati saya, saat melihat monyet itu ditarik-tarik ke sana kemari dengan menggunakan rantai besi  oleh pawangnya untuk mengendalikan. Adduhhh, .. tak ada peri kebinatangan tercermin jika melihat kita sepotong adegan ini. Namun kemudian saya agak terhibur, karena melihat bahwa monyet ini sesungguhnya tidak terlalu merasakan sakit ketika ditarik, karena rupanya ia sudah sangat terlatih .  Hentakan sedikit saja pada tali pengikatnya telah memberikan kode bagi sang monyet yang bisa ia tangkap untuk segera merespon perintah itu dengan baik. Jadi tidak ada unsur paksaan yang mengakibatkan rasa sakit  ataupun cidera pada binatang yang pintar itu. Mulai dari memakaikan topengnya sendiri, dan menunjukkan muka bayi yang polos, jumpalitan, naik sepeda motor, tarik gerobak , menirukan gerakan sholat, dsb semua bisa ia lakukan dengan sangat baik. Anak-anak takjub. Seseorang anak bertanya “Bagaiman ya caranya, kok monyet itu bisa sepintar itu?”

Jawabannya tak diragukan lagi, kita semua pasti sudah tahu. Latihan! Ya, latihan yang rajin. Itulah sebabnya ia trampil.

Monyet, primate yang secara anatomi dan fisiologi sangat dekat dengan kita manusia, memiliki tingkat kecerdasan lebih rendah dari manusia.  Namun bisa kita lihat, ia bisa menjadi sangat terampil karena ia dilatih setiap hari untuk melakukannya.Wah mengingat itu, saya langsung teringat pada diri saya sendiri. Kenapa ya  saya jarang melatih ketrampilan saya.  Saya bukan tidak tahu jawabannya, bahwa agar kita trampil di bidang apa saja , maka kita perlu banyak berlatih. Namun saya jarang memikirkan ini dan menyadari kegunaannya. Topeng monyet ini setidaknya mengingatkan saya akan hal itu.

Bagaimana jika kita  manusia yang memiliki kapasitas otak jauh lebih besar  melakukan latihan setiap hari? Konon otak manusia memiliki kapasitas sebesar 1,000,000,000,000,000 bytes. Entah berapa besarnya itu tak terbayangkan oleh saya. Saya membayangkan, dengaan kapasitas yang sebesar itu dan jika kita latih kemampuan kita setiap hari dengan tekun, tak diragukan lagi hasilnya pasti luar biasa. Nah, sekarang soal kapan kita mau melakukan latihan latihan itu dengan tekun.

Energy Untuk Menang… Inspirasi Dari Sebuah Pertarungan Beyblade.

Standard

Saat membuka pintu rumah sepulang kerja, anak saya yang kecil menyambut saya di depan pintu dengan mata berbinar-binar dan raut muka penuh cerita yang ingin ia tumpahkan segera ke saya. Saya tertawa sambil mencium rambutnya dengan senang. Kalau begini, siapa yang tak setuju dengan pendapat bahwa ‘Anak adalah  penyejuk jiwa’?. Read the rest of this entry

Mengundang Kupu-Kupu Datang Ke Halaman

Standard

Sejak kecil saya sangat menyukai kupu-kupu dan selalu berusaha mencari cara untuk mengundang berbagai jenis kupu-kupu datang ke halaman rumah saya. Tentunya cara yang paling mudah adalah dengan selalu mengamati jenis bunga-bungaan tempat kupu-kupu hinggap, tiap kali saya melihat kupu-kupu, entah itu di sekolah, kebun, taman, pinggir jalan maupun di alam bebas. Lama kelamaan saya bisa mengenali bunga jenis mana yang banyak didatangi kupu-kupu jenis apa. Pengetahuan ini kemudian saya aplikasikan pada halaman rumah saya. Saya menanam beberapa jenis tanaman bunga yang disukai kupu-kupu jenis besar, jenis sedang dan kupu-kupu kecil. Dengan melakukan penanaman jenis bunga-bungaan ini, mungkin tanpa kita sadari kita telah ikut membantu melestarikan keindahan alam yang ditebarkan oleh pesona sayap kupu-kupu ini. Di bawah ini adalah jenis tanaman yang menurut pengamatan saya selama beberapa bulan paling banyak didatangi kupu-kupu. Sebenarnya bunga-bunga yang lainpun dikunjungi kupu-kupu, namun tingkat kunjungannya saya perhatikan tidak sebanyak bunga-bunga yang saya kenal di bawah ini. Read the rest of this entry

Lumpia Udang Ala Jineng.. Teman Minum Teh di Pagi atau Sore Hari.

Standard

Untuk membuat saat-saat bersantai di rumah menjadi lebih menyenangkan, saya suka memikirkan snack ringan yang mudah cara pembuatannya buat teman minum teh bersama keluarga.  Salah satu yang menarik untuk dicoba adalah Lumpia Udang.

Bahan yang dibutuhkan cukup mudah didapat di pasar-pasar swalayan terdekat, yakni:

–          Kulit lumpia

–          Udang

–          Bawang putih

–          Gula pasir

–          Garam

–          Lada

–          Minyak wijen

–          Tepung sagu

–          Daun ketumbar

–          Putih telur untuk merekatkan lumpia.

Caranya sangat mudah:

1.       Bersihkan udang, lalu cincang kasar dan sisihkan.

2.       Ulek bawang putih, garam, lada & gula pasir hingga halus.

3.       Tumis udang bersama  gumbu yang telah dihaluskan, tambahkan sedikit minyak wijen, tepung sagu yang telah dilarutkan dengan sedkit air lalu masukkan potongan daun ketumbar.

4.       Siapkan kulit lumpia, isi dengan adonan udang yang telah ditumis, lalu bungkus dengan hati-hati.

5.       Rekatkan kulit lumpia yang telah digulung dengan putih telur agar tidak pecah saat digoreng.

6.       Goreng dalam minyak panas hingga kekuningan

7.       Hidangkan sebagai teman minum teh.

Perawatan Dasar – Cara Sederhana Merawat Bayi…

Standard

Sebagai seorang wanita yang kebetulan pernah bekerja di bidang perawatan bayi selama bertahun-tahun, saya sering mendapatkan pertanyaan mengenai cara-cara perawatan bayi yang praktis, terutama dari calon-calon ibu yang sebentar lagi melahirkan bayi pertamanya. Banyak yang bingung, produk apa yang sebaiknya digunakan, kapan dan bagaimana menggunakannya. Banyak juga yang concern, jika budget yang dimiliki untuk membali produk perawatan bayi sangat- sangat terbatas, produk mana yang perlu didahulukan mengingat sedemikian banyaknya jenis produk perawatan bayi yang beredar di pasaran. Read the rest of this entry