Tentang Kesalahan Yang Berulang & Perbaikannya – Pelajaran Dari Dalam Sebuah Toko Buku.

Standard

Pada suatu saat saya sedang berada di dalam sebuah toko buku kecil yang sempit di bandara dengan jumlah pengunjung yang cukup banyak mengisi waktu luangnya menunggu keberangkatan pesawat  sambil mencuci mata. Cukup banyak buku-buku yang menarik perhatian saya, sehingga terus  terang dengan budget yang agak mepet saya merasa kebingungan juga memilih buku mana yang akan saya beli. Semuanya bagus dan semuanya mahal untuk ukuran kantong saya.

Saya memutuskan untuk benar-benar memilih yang terbaik yang bisa didapatkan oleh jumlah uang yang saya miliki. Maka berjalanlah saya dari lorong ke lorong dalam waktu yang cukup lama dan penuh perhatian dari satu judul buku ke judul buku yang lainnya. Saat itu seorang pengunjung lain melintas dan saya segera bergeser agak mundur di dalam lorong. Karena sempit, rupanya tanpa saya sadari tas yang saya sandang di pundak menyenggol buku-buku yang dipajang di rak di belakang saya. Gubraakkk!! Jatuhlah beberapa buah buku dari dalam rak. Waduh, dengan agak malu saya segera mengangkat buku-buku itu dan menyusun kembali di raknya, dengan dibantu oleh pengunjung lain yang sebelumnya melintas di depan saya. Namun dengan segera saya melupakan kejadian itu dan menaruh perhatian saya kembali pada buku-buku mahal dan menarik yang dipajang di situ.

Belum puas juga melakukan observasi, dan karena belum juga bisa mengambil keputusan mau membeli yang mana, maka saya berkeliling lagi ke lorong yang lain. Melihat-lihat lagi, mengintip sedikit ringkasan isinya, melihat harganya dan meletakkannya kembali ke rak. Lalu bergeser lagi ke lorong yang lain dan demikian seterusnya hingga bosan. Lalu saya kembali ke lorong yang penuh dengan buku-buku favorit saya. Saat itu tiba-tiba seorang anak kecil  berlari kearah saya di dalam lorong dan berteriak pada mamanya untuk dibelikan buku. Dengan reflex saya menggeser posisi saya dan… “Gubraaaakkkk!!!’ beberapa buku di rak di belakang saya jatuh lagi tersenggol tanpa sengaja oleh tas bahu saya. Saya merasakan malu yang luarbiasa, walaupun saya tak jelas apakah ada orang lain lagi yang memperhatikan bahwa saya telah melakukan 2x kesalahan yang sama pada pagi hari yang cerah itu. Yang jelas saya malu pada diri saya sendiri. Anak kecil itupun segera menolong saya mengangkat buku-buku yang berserakan.

Sambil berjongkok, saya mulai berpikir. Mengapa seseorang (saya) bisa melakukan kesalahan yang sama lebih dari satu kali? Padahal pepatah lama saja mengatakan “Tak kan dua kali orang tua kehilangan tongkatnya”?.  Saya berpikir bahwa ada beberapa faktor yang menyebabkannya, yang mungkin bukan hanya merupakan faktor penyebab kesalahan berulang dalam kasus di dalam toko buku ini saja, namun juga dalam kasus-kasus kesalahan berulang yang lain yang terjadi pada diri saya maupun pada diri orang lain.

Belajar Dari Kesalahan Yang Pertama.

Ketika pertama kali saya menjatuhkan buku, saya segera mengangkat buku-buku itu dan menyusun kembali di raknya dan segera pula saya melupakan kejadian itu dan menaruh perhatian saya kembali pada buku-buku mahal dan menarik yang dipajang di situ.  Yang terjadi di sini adalah, saya hanya melakukan ‘short term action’ atas kesalahan yang terjadi. Hanya memperbaiki kesalahan yang terjadi saat itu. Meletakkan kembali ke rak buku dan selesai. Sama sekali saya tidak melakukan refleksi, apalagi analisa yang runut dan detail mengapa buku itu jatuh dari raknya. Bagian mana dari tubuh atau tas saya yang menyenggol buku tadi, berapa jarak antar lorong – apakah memungkinkan terjadinya perlintasan orang lain, mengingat badan saya juga memiliki ukurannya tersendiri yang sudah memakan x% dari lebar lorong itu, dan sebagainya dan sebagainya. Bukan untuk apa-apa, namun untuk belajar dari kesalahan itu agar memperhatikan faktor-faktor yang berpotensi untuk menyebabkan terjadinya kesalahan, sehingga tidak terulang lagi di kemudian hari. Lain kali, saya perlu untuk selalu mengingatkan diri saya sendiri agar selalu belajar dari kesalahan dan mengambil intisari pelajaran itu untuk mencegah diri saya melakukan kesalahan yang sama.

Tempatkan Hal Yang Berpotensi/Rentan Terhadap Kesalahan Di Bawah Pengawasan.

Hal kedua yang juga merupakan hal penting adalah fakta bahwa saya menyandang tas saya di bahu, dengan arah sedikit ke belakang punggung (maksud saya awalnya adalah untuk mengurangi space di lorong yang termakan oleh saya dan tas saya), telah menempatkan ujung tas yang di belakang punggung saya di posisi yang tak terlihat untuk bisa saya kontrol dan kuasai. Ujung tas inilah rupanya yang telah menyenggol buku-buku di rak belakang saya itu. Jika saya sedikit saja memberikan perhatiaan terhadap hal ini, tentu sebaiknya saya  memindahkan tas tangan saya itu kea rah depan, dimana saya bisa melihat dan memastikan bahwa tas itu tidak menyenggol beda apapun di toko itu, selain tangan dan badan saya sendiri.

Dari sini jelas sekali terlihat, bahwa bila kita memiliki hal-hal yang berpotensi bahaya, atau rentan terhadap kesalahan, sebaiknya kita letakkan di depan hidung kita, agar bisa kita awasi dengan ketat dan kontrol dengan baik. Meletakkannya di area yang tak bisa kita kontrol dengan baik, akan memperbesar kemungkinan terjadinya kesalahan.

Lakukan Analisa Situasi & Antisipasi Hal Yang ‘Unexpected’.

Dalam kasus kesalahan kedua yang saya lakukan di toko buku itu, benar-benar tak terlintas dalam pikiran saya seorang anak mungkin saja akan datang secara tiba-tiba berlari menerobos lorong di mana saya berdiri. Karena toko buku itu memang toko umum. Menyediakan buku untuk  semua kalangan, pria -wanita, tua-muda, dari berbagai suku bangsa, memiliki berbagai minat dan hobby dan sebagainya– yang semuanya memiliki persamaan sedang menunggu keberangkatan pesawat. Jadi segala sesuatu mungkin saja terjadi termasuk hal-hal yang kurang kita harapkan.

Jika saja saya sedikit menaruh perhatian pada hal-hal itu, melakukan analisa situasi dan mengantisipasi segala kemungkinan yang terjadi (termasuk anak yang berlari di lorong), tentu saya sudah mengempit tas tangan saya dengan lebih baik dan mengambil posisi yang memungkinkan si anak untuk melintas dengan cepat.

Jadi disini kita lihat, bahwa Analisa Situasi sangat perlu dilakukan dalam setiap aktifitas kita. Dengan melakukan analisa situasi, memudahkan bagi kita untuk melakukan antispasi terhadap hal-hal yang tak  diinginkan yang mungkin saja terjadi.

Keseimbangan Dan Penyebaran Perhatian Yang Bertingkat.

Orang banyak bilang bahwa dalam hidup kita perlu fokus. Misalnya dalam kasus saya di toko buku itu, saya memberikan fokus perhatian pada pejelasan singkat mengenai isi   buku yang dimuat di setiap   cover buku dan harga buku yang terkait. Saya tidak memberikan perhatian sama sekali pada lingkungan sekitar saya. Nah.. apanya yang salah?

Saya jadi teringat akan seorang kawan saya di jajaran sales deparpatment sebuah perusahaan swasta menjelaskan arti Fokus pada team di bawahnya. Kebetulan saya sedang berada tak jauh dari situ, sehingga sempat ikut mendengarkan brief-nya. Fokus, menurut dia adalah memberikan perhatian lebih untuk mendorong penjualan pada produk-produk A, B dan C, namun tanpa melupakan untuk menjual produk-produk D, E & F.  Jadi yang dimaksudkan dengan fokus disini, bukanlah memberikan 100% perhatian kita hanya pada hal-hal yang kita pusatkan saja dan memberikan 0% pada hal-hal yang lainnya, namun Fokus berarti memberikan perhatian lebih (jika dikwantitatifkan berarti lebih dari 50%) pada hal-hal yang kita pusatkan dan tetap memberikan perhatian dalam skala yang lebih rendah (berarti kurang dari 50%) terhadap hal-hal lain di luar hal yang kita pusatkan.

Jadi disini, penyebaran perhatian tidak terpolarisasi drastic, namun diharapkan terdistribusi  gradual dengan tinggi rendah yang berbeda. Saya mencoba menganalogikan semua hal itu pada kejadian yang saya alami.  Pada saat itu saya memberikan perhatian nyaris 100% pada buku dan 0%  pada lingkungan. Mungkin akan lebih baik jika  saya memberikan  perhatian 60% pada buku, 20% pada lingkungan di dalam toko buku, 10 % pada barang bawaan saya termasuk tas saya, dan mungkin 10% pada hal-hal di luar toko buku misalnya pengumuman keberangkatan pesawat dll. Dengan demikian, saya mungkin bisa mencegah kesalahan yang sama terjadi berulang pada diri saya.

One response »

  1. Saya sih pernah..ya untuk hal-hal kecil biasanya. Kenapa sampai berulang? Karena ternyata memang luput dr perhatian, karena “hal kecil” tadi. Padahal hal kecil pun harus menjadi perhatian kita karena banyak hal-hal besar yang kita mulai dr hal-hal kecil🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s