Hitam-Putih … Menyelami Makna Keseimbangan Alam Dalam Kehidupan.

Standard

Ketika memasuki halaman rumah saya, seorang teman yang kebetulan mampir bertanya    dengan heran “ Mengapa orang Bali hobby memakaikan sarung? “.  Saya pun  ikut heran. Mengapa ia bertanya seperti itu? Saya tidak pernah ingat bahwa orang Bali menyukai sarung melebihi suku manapun di Indonesia. Sejenak kemudian kebingungan  saya terjawab  saat teman saya menunjuk kain hitam putih yang melilit pohon penaung di depan rumah saya. Sayapun mengerti apa yang ia maksudkan. Rupanya  apa yang kami sebut di Bali sebagai ‘Saput Poleng’ berwarna  Hitam-Putih itulah yang dimaksud.

Kalau pohon dipasangi sarung itu artinya ada penunggunya ya?” tanyanya lagi dengan khawatir. Tentu saja tidak! Saya tertawa akan imaginasi buruk teman saya itu. Saya ingat suami saya memasang kain hitam putih itu hanya untuk hiasan saja, karena ia menyukai ornament Bali untuk diaplikasikan di halaman. Tidak ada keperluan lain. “Lalu sarung hitam putih itu sebenarnya apa?” tanyanya.  “Itu lambang Rwa Bhineda” jawab saya. Teman saya mengrenyitkan dahinya. Pasti  pertanyaan berikutnya adalah “ Apa itu Rwa Bhineda?”. Hmm.. saya berpikir sejenak. Bagaimana cara menjelaskan konsep dan pemikiran mengenai keseimbangan alam dan kehidupan yang mendasari pemikiran & kehidupan orang orang Bali sehari-hari kepada orang yang tidak lahir dan tidak dibesarkan di Bali. Karena tentu ceritanya akan menjadi panjang. Setelah beberapa saat, akhirnya saya menemukan kata yang mewakili concept serupa yang mungkin lebih mudah dimengerti. Yin & Yang!” kata saya. Dan teman saya kelihatannya lebih mudah memahaminya sekarang, walaupun saya tidak jelas apakah pemahamannya  sudah sesuai dengan konteks yang seharusnya atau tidak..

Keseimbangan dalam kehidupan merupakan sebuah konsep yang sangat mendasar dalam kehidupan di Bali. Semua yang ada, baik dalam dunia mikro (micro cosmos) maupun dalam dunia makro (macro cosmos) didasari oleh konsep ini. Demikian juga yang ada dalam dunia yang kelihatan (sekala) maupun yang tidak kelihatan (niskala), tidak luput mengikuti konsep alam ini. Rwa Bhineda yang jika ditilik dari arti katanya, Rwa = Dua, Bhineda = Yang Berbeda,  bisa diterjemahkan sebagai dua hal berbeda dalam kehidupan yang selalu menjadi satu dan tak terpisahkan satu sama lain. Sesuatu yang jika ada, maka yang lainnya pasti akan selalu ada sebagai balancer-nya. Ada siang- ada malam. Ada sedih ada bahagia. Ada tua, ada muda. Ada utara, ada selatan. Ada positive, ada negative. Ada proton, ada electron. Dan seterusnya.  Itulah yang dimaksudkan dengan Rwa Bhineda. Rwa Bhineda inilah yang menjadi dasar dari hukum keseimbangan dalam semesta.

Sebagai aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari , jika dalam kehidupan ini kita mengalami kesenangan, tidaklah disarankan untuk congkak & berbangga hati secara berlebihan, karena semuanya itu sifatnya hanya sementara. Suatu saat tentulah kesedihan  dalam tingkat yang serupa akan mengunjungi kita sehingga pada akhirnya, semuanya lunas dan seimbang. Dan sebaliknya, jika  kita mengalami kesedihan yang mendalam, janganlah terlalu murung berlebihan karena semua itu ada penyeimbangnya. Kebahagiaan dalam bentuk yang lain mungkin suatu saat akan datang. Konsep inilah yang diekspresikan di Bali dalam bentuk warna hitam putih yang sering mencuri keingintahuan para pelancong dari luar. Jadi kalau kebetulan teman-teman berlibur ke Bali dan melihat ada pohon yang dililit dengan kain hitam putih, itu bukanlah menunjukkan bahwa pohon tersebut ada penunggunya. Jangan khawatir. Kain itu memberi perlambang dan pengingat manusia  akan adanya konsep keseimbangan dalam alam.

Selain itu kitapun juga berusaha selalu memahami bahwa didunia ini selalu kita akan menemukan hal yang baik dan buruk, kemanapun kita pergi, walaupun tentunya dengan tingkat persentase yang bervariasi. Baik dan buruk juga bisa kita temukan dalam diri setiap orang. Yang penting adalah bagaimana kita selalu berusaha untuk berbuat baik demi kenyamanan bersama.  Yeaah… mungkin lyrics dari sebuah lagu dari Paul McCartney yang berjudul Ebony & Ivory merupakan salah satu ekspresi yang cukup sesuai untuk mewakili  konsep Rwa Bhineda itu :

Ebony & Ivory, live together in perfect harmony

Side by side on my piano keyboard, oh Lord, why don’t we?

We all know that people are the same where ever we go.

There is good and bad in everyone

We learn to live, we learn to give

Each other what we need to survive together alive

Lalu untuk apa orang Bali memasang kain itu di pohon? Sebenarnya kain hitam putih atau Saput Poleng, tidak hanya digunakan dipohon-pohon saja, namun di beberapa tempat lain, misalnya pada tedung (payung), arca, pakaian para pecalang (polisi adat) dan bahkan hingga kulkul (kentongan tradisional bali untuk memanggil warga banjar/desa untuk berkumpul) yang dianggap sesuai untuk mengingatkan warga akan pentingnya kesadaran akan adanya keseimbangan dalam alam semesta ini.

Lebih jauh, konsep ini kemudian menjadi pengantar terhadap hukum alam yang lainnya yang sangat kuat mengakar pada kehidupan masyarakat sehari-hari yakni Hukum Karma (Karma Phala) yang juga  bertumpu pada keseimbangan dalam bentuk lain.What goes around comes around! Apapun yang kita lakukan dalam hidup ini, suatu saat akan membuahkan hasil yang serupa. Bila kebaikan yang kita tanam, maka kebahagiaan lah yang akan kita tuai. Sebaliknya jika keburukan yang kita lakukan, maka penderitaanlah yang akan menghampiri kita. Contoh paling sederhananya bisa kita lihat setiap hari secara instant antara lain, jika kita tersenyum kepada seseorang maka orang lain akan segera memberikan senyum kembali kepada diri kita yang bisa kita rasakan dalam bentuk kebahagiaan hati. Sebaliknya jika kita cemberut, maka orang lainpun akan mengerenyitkan dahi tanda tidak sympathy kepada kita yang membuat kita merasa semakin tidak diterima.

Semuanya soal pilihan dalam menjalani kehidupan. Apakah kita akan memilih untuk selalu berbuat baik, atau berbuat buruk – semuanya memiliki konsekuensinya masing-masing. Kapan kita akan melihat hasil perbuatan kita? Waktu yang akan menjawab baik di kehidupan kita di dunia fana ini, atau dalam perjalanan kehidupan kita setelahnya. Hukum itu akan tetap terbawa.

Keseimbangan alam dan semesta, juga diterjemahkan dalam bentuk lain dalam aplikasi kehidupan. Penghargaan & penghormatan terhadap sesama manusia dan terhadap semua mahluk ciptaanNya yang lain, misalnya tumbuhan, hewan atau bahkan mahluk lain yang  tidak kelihatan oleh mata biasa. Ada hari raya khusus untuk memberikan penghormatan terhadap alam lingkungan sekitarnya,  misalnya ada hari Tumpek Uduh untuk menghormati tumbuh-tumbuhan, lalu ada hari Tumpek Kandang untuk memberikan penghormatan pada hewan hewan, dsb – sehingga kita semua selalu diingatkan untuk tidak serakah dan hanya mengambil secukupnya dari alam guna kelangsungan hidup kita semua. Melakukan penghormatan & penghargaan kepada siapa saja sesama mahluk ciptaanNYA dalam kehidupan kita sehari-hari, tentunya akan memberi kebahagiaan tersendiri bagi kita dan juga sekaligus membantu tercapainya keseimbangan alam yang lebih baik.

Jadi, sekali lagi bagi teman-teman yang berkunjung ke Bali, jika melihat kain hitam putih disarungkan pada  sebuah pohon janganlah khawatir, itu bukan pertanda bahwa pohon itu ada penunggunya, namun lebih untuk mengingatkan kita semua akan makna keseimbangan alam itu. Diluar tu, bagaimanapun juga dalam ilmu biologi di Sekolah Dasar kita belajar bahwa tumbuhan juga adalah mahluk hidup. Semuanya punya hak untuk hidup  bebas dan tidak diganggu oleh kita. Jadi mengapa kita tidak hidup seimbang dan selaras dengannya?  Live in free and harmony!.

9 responses »

  1. Salam kenal dari I Gusti Made Darmaweda.
    Ulasan yang sangat bagus mengenai konsep Rwa Bhineda dalam kehidupan orang Hindu (Bali) dalam fungsinya sebagai mahluk sosial. Tentu ini akan memberikan pemahaman kepada saudara-saudara kita lain suku dan agama.

      • Ya ibu, saya senang membaca tulisan-tulisan seperti ini untuk menambah pengetahuan saya sebagai orang Hindu Bali.Best Regards, IGM Darmaweda Kaur. Penyiapan Program dan Tenaga Pengajar HP. 081 338 276 498 STP Nusa Dua Bali

        ________________________________

  2. salut. yang seperti inilah yang harusnya disebarkan agar orang-orang diluar sana(non-bali/hindu) tidak terjebak di dalam pikiran(buruk)nya tentang Hindu, Bali dan Budayanya. Santhi(–peace)

  3. terima kasih untuk ulasan yang sangat bermanfaat ini,
    pemuda di gereja saya mau mengadakan acara ibadah pemuda se-jogja barat, tema dan konsepnya Kebudayaan Bali, kemarin kami masih bingung dan ragu apakah diperbolehkan untuk memasang sarung kotak2 pada pohon, karena artikel diatas sekarang kami sudah lebih paham.
    terima kasih. GBU

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s