Daily Archives: March 19, 2011

Pikir Itu Pelita Hati… Jika Pelita Itu Padam, Gelap Gulitalah Hati Kita.

Standard

Catatan dari Sebuah Dinding Sekolah

 

 


Tadi pagi saya ke sekolah anak saya untuk mengambil rapot. Sambil menunggu giliran berkonsultasi dengan guru atas perkembangan kemampuan akademis anak saya, maka saya melihat-lihat dinding kelas, tulisan dan hiasan-hiasannya. Entah kenapa semua itu membuat pikiran saya melayang ke masa berpuluh puluh tahun silam saat saya masih di bangku Sekolah Dasar.

Pada sebuah dinding kelas saya dulu, terpampang  tulisan tangan  guru saya yang berbunyi  “Pikir Itu Pelita Hati”. Saya masih ingat betapa indahnya tulisan tangan guru saya itu. Dan saya juga masih ingat guru saya menjelaskan kepada saya  bahwa makna dari gurindam tua itu  adalah “ Jika pelita itu padam, maka gelap gulitalah hati kita”. Artinya, setiap kali jika kita ingin melakukan suatu perbuatan, hendaknya kita pikirkan terlebih dahulu dengan matang-matang segala dampak baik dan buruknya, agar kita tidak terjebak dalam perangkap kegelapan.

Mengingat itu, tiba tiba saya terkenang akan semua perjalanan hidup saya sejak saat itu. Banyak hal yang telah saya lakukan. Perbuatan baik dan juga beberapa perbuatan buruk menurut takaran saya. Entah kenapa,  walaupun telah diajarkan dengan sangat baik oleh guru saya, ternyata  saya tak selalu memanfaatkan  gurindam  itu sebagai pertimbangan dalam melakukan sebuah perbuatan. Terkadang ketika saya merasa benar dan yakin, beberapa kali saya hanya mengikuti kata hati saya dan mengabaikan pertimbangan pertimbangan akal sehat yang diberikan teman, saudara atau kerabat di sekitar saya. Walhasil dari  perbuatan saya yang  ‘tidak umum’ itu, terkadang jika beruntung saya merasakan dampak yang positive, namun tak jarang  juga saya merasakan dampak yang negative. Dan saya benar-benar baru menyadari bahwa itu adalah akibat saya tidak menyalakan pelita hati saya, alias tidak mikir matang-matang sebelumnya.

Malam ini, saya memikirkan kalimat itu kembali dengan mata yang berkaca kaca.  Sudah tentu banyak perbuatan yang akan saya lakukan ke depannya. Ada yang telah saya rencanakan dan ada  yang  berupa ide-ide baru yang  akan muncul pada saatnya nanti. Berharap saya akan mampu menyalakan pelita hati saya dengan baik, menyinarinya dengan terang benderang, agar jalan saya tidak tergelincir dalam kegelapan. Biarkanlah saya  berjalan mengikuti kata hati saya yang telah diterangi oleh pikiran yang sehat dan pertimbangan yang baik dan matang.

Malam ini saya sangat merindukan guru sekolah dasar saya itu. Entah dimana sekarang beliau berada, berharap semoga beliau selalu dalam keadaan baik jika masih ada, atau beristirahat dengan baik di sisiNYA jika memang sudah meninggalkan kami semua. Alangkah sedihnya ketika mengingat betapa saya belum sempat mengucapkan sepotongpun kata terimakasih pada beliau.

Wild Fern, Memelihara Pakis Liar -Mengapa Tidak?

Standard

Wild Fern, Si Pakis Liar..

Suatu hari saat mengamati tanaman ‘Gelombang Cinta’ yang sempat merana karena terkena terik sinar matahari yang seharusnya  tak diperlukan, dan tak sempat kami urus –  saya mengamati ada sebuah tanaman pakis liar yang muncul disana. Hanya 2 batang daun dan seperti biasanya saya cenderung menganggapnya sebagai ‘gulma’ pengganggu tanaman hias lainnya yang harus dibersihkan.

Namun setelah saya perhatikan baik-baik bentuk daunnya, saya merasa terpesona olehnya. Daun pakis ini yang tadinya biasa biasa saja entah kenapa di mata saya tiba-tiba telihat  sangat cantik.  Bentuknya rapi panjang panjang dan langsing dengan ujung yang lancip. Mengapa saya harus membuangnya? Hanya karena ia berpredikat ‘liar’ dan belum pernah dibudidayakan oleh manusia sebagai tanaman hias? Sehingga ia tidak memiliki nilai jual? Sehingga ia tidak dianggap ‘keren’ oleh para pencinta tanaman yang rela mengeluarkan jutaan rupiahnya untuk tanaman eksotis lainnya? Saya merasa jawaban itu agak sedikit konyol. Seharusnya saya melihat segala sesuatunya dengan kacamata yang lebih natural. Apa adanya,  tanpa embel-embel status sosial  dan ekonomi.

Akhirnya saya putuskan untuk tetap memeliharanya. Satu persatu daunnya muncul dan tumbuh dengan subur. Kini ia telah memiliki beberapa batang daun dan terlihat cukup hijau untuk ditempatkan di salah satu sudut halaman.