Pemasar Yang Effektif… Mengoptimalkan Jatah Uang Dapur .

Standard

Pernah suatu ketika, di sebuah meja makan saat makan siang, saya terlibat diskusi dengan seorang rekan kerja saya tentang seorang pemasar yang baik. Saya merasa pembicaraan cukup menarik, walaupun asal muasalnya bermula dari curhat rekan saya itu tentang keluhan anak buahnya. Apa pasal? Rupanya seorang Brand Manager di teamnya merasa khawatir jika penilaian terhadap kinerjanya dilakukan berdasarkan pertumbuhan penjualan dan share bisnisnya yang tidak terlalu menonjol. Ia berkeberatan karena brand yang ia pegang masih berukuran kecil, oleh karenanya mendapatkan jatah biaya Advertising & Promotion (A&P) yang sungguh rendah jika dibandingkan dengan apa yang diterima oleh rekan-rekannya yang lain yang memegang brand yang lebih besar.

“Dengan biaya A&P yang sangat rendah, hampir hampir imposible buat saya untuk membuat suatu brand activation ataupun bentuk promo ‘wah’ lainnya  yang berdampak signifikan terhadap peningkatan penjualan maupun awareness. Apalagi karena brand sayapun nggak didukung iklan TV” demikianlah kira kira keluhannya seperti yang diceritakan kembali oleh rekan saya kepada saya.  Mendapat keluhan ini, rekan saya rupanya mencoba menjelaskan dan meyakinkan bahwa penilaian terhadap dirinya tidak akan dilakukan dengan cara sepicik itu. Terlebih karena rekan saya ini merasa bahwa sebenarnya Brand Managernya ini memiliki potensi yang sangat baik untuk menjalankan bisnis brand ini ke depannya.

“Curious mind! Keinginannya untuk maju sangat besar!” begitu antara lain pujian rekan saya terhadapnya, sehingga ia pun sempat mengkhawatirkan jika  sampai ia kabur karena tidak happy dengan kondisi brand yang ia pegang, tentu rekan  akan merasa kehilangan. Saya hanya mendengarkan saja apa yang diceritakan oleh teman saya itu. Sebenarnya kan bukan soal seberapa besar ia bisa meningkatkan pertumbuhan brandnya, tapi seberapa optimal ia bisa memanfaatkan biaya A&Pnya untuk mendapatkan benefit terbaik bagi brand dari interaksi dengan konsumennya, katanya.

Dengan apa yang telah kamu capai, saya justru bangga. Kamu masih bisa membuat brandmu tumbuh diatas rata-rata pertumbuhan pasar walaupun basenya kecil. Nggak masalah. Berarti kamu sudah berhasil mengoptimalkan dana yang sangat minim itu dengan sangat baik!” kata teman saya menceritakan apa yang ia katakan pada anak buahnya. “Ya nggak, Mbak? “Tanya teman saya seolah mencari dukungan. “Ya. Ya.” Kata saya mengangguk membenarkan.

“Kalau seorang Brand Manager yang memegang budget A&P yang besar mampu meningkatkan pertumbuhan brandnya dengan baik, itu sih wajar. Biasa!. Saya nggak heran. Saya justru heran jika budget A&Pnya sudah besar, tapi pertumbuhan brandnya biasa biasa saja atau malah negative!.Walaupun memang banyak faktor lain yang diluar kendalinya juga ikut menentukan”. Lanjutnya lagi dengan berapi-api.  Saat itu pelayan datang menghidangkan makanan yang kami pesan. Sepiring Ca Kangkung, sepiring Kailan Masak Bawang Putih dan sepiring Udang Goreng Mayonaise untuk kami share berdua. Saya mengucapkan terimakasih pada sang waiter yang dengan sangat ramah mempersilakan saya makan sambil tersenyum dan segera meninggalkan kami.

“Nah… sebenarnya sama kasusnya dengan ini, Mbak!” Tiba tiba teman saya tertawa sambil menunjuk makanan yang telah terhidang dan siap disantap di atas meja makan kami. “Orang kan nggak bisa diukur kehebatannya  dari jenis makanan yang bisa ia order  untuk lunch-nya dia, karena semua itu tergantung dari budget yang ia punya”. Ya, saya sejalan dengan pikirannya. Cost yang tinggi tidak selalu menghasilkan yang terbaik. Saya teringat seorang Office Boy yang saya ajak ngobrol di lift  bercerita bahwa harga makan siang (hampir setiap hari) dari sang Big Boss yang pemilik perusahaan itu sama dengan setengah gajiya sang Office Boy selama sebulan. Glekk! Mahal amir! Tapi apakah ada jaminan bahwa sang Big Boss akan mendapatkan rasa kenyang, nikmat dan berkah dari makanan mahal yang dimasukkan ke dalam perutnya lebih baik dari orang miskin yang mensyukuri  nikmat makanan seadanya  di pinggir jalan? Tak ada yang bisa menjamin itu semua.

Sambil memasukkan suapan pertama ke mulut saya, saya pun teringat akan proses penyediaan makanan di rumah. Jenis makanan yang terhidang di rumah pada kebanyakan rumah tangga, sangat tergantung dari jatah uang belanja dapur harian yang diberikan para suami kepada istrinya. Jika jatah uang belanja dapurnya kecil, mungkin yang terhidang di meja makan hanya tahu atau tempe atau bahkan hanya sayuran yang murah. Jika jatah uang dapurnya sedikit lebih baik, mungkin yang terhidang menjadi ayam goreng dan berbagai macam masakan tambahan lainnya. Jika jatahnya meningkat lagi, mungkin sekarang yang terhidang bahkan masakan pesanan dari restaurant ternama dan seterusnya dan seterusnya.  Tentu saja itu bukan berarti bahwa istri yang menghidangkan hanya tahu tempe di meja makan adalah istri yang kurang smart atau kurang perform dibanding istri yang menghidangkan masakan lezat dari restaurant ternama di meja makan. Dan tentu saja limpahan cinta dan kasih sayang suami tidak akan secara otomatis diberikan lebih banyak pada istri yang jenis kedua dibanding istri jenis pertama yang hanya menghidangkan tahu. Istri yang berhasil menghidangkan makanan enak yang mahal di meja makan, tidak selalu berarti ia istri yang smart.

Yang paling penting dilakukan adalah bagaimana mengoptimalkan uang belanja dapur itu dengan sebaik-baiknya. Walaupun hanya sekedar tempe atau tahu, agar tidak membosankan mungkin bisa diolah atau dicampur dengan bahan lain misalnya menjadi pepes tahu, perkedel tahu, tahu isi, kare tahu, tahu telor, tumis tahu dsb selain hanya sekedar  tahu goreng. Mungkin suami dan anak-anak akan dengan lebih mudah mendaratkan ciuman di pipi kita sebagai tanda terimakasih jika  kita lakukan semua upaya itu. Kuncinya memang kreatif! Kreatif! Dan kreatif!. Serta mengerti persis apa yang menjadi kebutuhan & keinginan suami dan anak-anak.  Jangan asal-asalan. Periksa tahu dengan hati hati saat membeli, pastikan tingkat keempukannya dan wanginya yang segar dan bersih tak berlendir. Apalagi jika semuanya itu kita lakukan dengan gairah dan sepenuh hati kita. Sudah pasti tahu yang murah meriahpun akan menjadi hidangan yang terbaik di dunia yang akan membuat suami kita  selalu kangen untuk pulang makan ke rumah dan anak-anak akan mengingatnya sebagai makanan ‘yang paling enak sedunia’ dalam kamus hidupnya.

Sehabis makan siang kami kembali ke kantor dan saya benar-benar ingin memastikan hal yang sama terjadi di team saya. Mengelola Budget A&P bagi pemegang brand memang ada miripnya dengan mengelola jatah uang belanja dapur pemberisan suami. Mengoptimalkan sumber A&P yang hampir selalu terbatas untuk menghasilkan benefit yang sebaik-baik dan sebanyak-banyaknya bagi brand-brand yang team saya kelola. Memastikan semuanya teraplikasi sesuai dengan kebutuhan & keinginan konsumen, dengan konsep yang dipikirkan matang-matang dan dieksekusi dan dievaluasi dengan cara sebaik-baiknya. Jadi, sekali lagi bukan soal besarannya, namun soal bagaimana mengoptimalkannya!

3 responses »

  1. Betul sekali mbak, yang penting bukan berapa besar yang kita dapat tetapi lebih ke berapa besar kita bisa save dan mengelolanya… bisanya, semakin besar uang yang kita dapat, semakin besar pula akan kebutuhan kita.. terinspirasi dengan artikel mbak, thanks dah sharing..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s