Tragedi Sandal Jepit Butut – Respect People Disregard To His Frills..

Standard

Suatu hari saya membawa kedua anak saya untuk memesan makanan di sebuah restaurant pizza. Bersama saya ikut seorang teman dan anak-anaknya yang masih kecil. Berhubung restaurant itu ramai dan untuk mendapatkan tempat dudukpun harus menunggu cukup lama, maka saya memutuskan untuk melakukan order dan membawanya pulang saja. Anak-anak setuju dan segera bermain diluar restaurant sambil menunggu pesanan kami siap. Tiba-tiba hujan turun tanpa diduga yang membuat saya agak kaget, karena langit tidak menunjukkan gejala akan turun hujan sebelumnya. Tanpa berpikir panjang, seketika saya lari keluar dan bermaksud mengangkat anak-anak masuk ke dalam restaurant agar tidak kehujanan. Namun rupanya teras restaurant agak licin terkena tetesan hujan, sehingga saya terpeleset jatuh.Oucchh! Sakitnya. Orang-orang banyak yang mengerubung dan melihat kepada saya. Adduuuh.. malunya, mak!.  Saya berusaha segera bangkit dan saat itu tiba tiba  saya menyadari ternyata orang-orang banyak itu sedang melihat dengan pandangan aneh pada… ….sandal jepit butut yang sedang saya pakai!!. O! O!. Saya tertawa di dalam hati tiap kali mengenang mimik wajah-wajah mereka itu. Terutama wajah para pengerubung wanitanya. Wajah yang seolah tidak percaya bahwa saya ternyata menggunakan sandal jepit butut.  Ya.  Sandal jepit! What’s wrong with sandal jepit? Ha ha..

Sesaat setelah itu , ketika saya sudah berdiri tegak kembali dan orang orang bubar sambil berbisik, saya mendengar salah seorang  membicarakn sandal jepit saya.  Teman saya bertanya ” Kenapa memakai sandal jepit butut keluar rumah? Kok nggak malu?. Kan mestinya pakai sepatu atau sandal yang lebih cantik dan gaya..”.

Saya tertawa dan sebenarnya tidak punya alasan yang sangat jelas diluar masalah kenyamanan di kaki.   “Ini kan hari minggu. Saya tidak sedang ke kantor atau menjalankan bisnis yang membutuhkan tampilan busana formal”. Teman saya setuju, tapi ia tetap melanjutkan “ Tapi kan kita perlu selalu terlihat cantik setiap saat walaupun hari libur” katanya mengingatkan. Saya hanya tertawa. Yeahh.. Saya lebih perlu merasakan nyaman, bukan sedang merasa perlu terlihat cantik. Dan sandal jepit butut itu memberikan saya rasa yang nyaman. Haruskah saya menukarkannya dengan sandal gaya tapi bikin kaki kurang nyaman demi untuk ‘terlihat cantik’ dan mengesankan orang lain? Kok rasanya sayang ya. Karena waktu untuk menjadi diri sendiri pun  buat saya sangat terbatas. Karena bekerja, mau tak mau ya harus lebih sering mengikuti tata cara kantor. Apa boleh buat. Namun hari ini adalah hari minggu.  Saya ingin menikmati hidup saya apa adanya.

“Tapi orang lain melihat kita dari tampilan kita. Dari apa yang kita kenakan”. Katanya menasihati. Saya berterimakasih atas perhatiannya. Saya tak menyangkal itu. Bukan hanya itu, bahkan sayapun tahu bahwa orang lain melihat kita dari apa-apa saja yang melekat pada diri kita. Entah itu pakaian, pangkat, jabatan, kendaraan, perhiasan, harta dsb.

Pernah seorang teman bercerita kepada saya, bahwa setiap kali ia bepergian keluar dengan menumpang pesawat udara ia memilih menggunakan jas daripada pakaian casual (tidak perduli itu perjalanan bisnis ataupun untuk berlibur) karena menurutnya ia telah membuktikan & merasakan service dan keramahan senyuman yang jauh lebih baik saat ia menggunakan jas.

Sama halnya dengan pengalaman seorang teman yang lain yang mendatangi sebuah gedung perkantoran di kawasan bisnis di Jakarta. Jika ia datang  dengan Toyota Camry (dan pasti  kendaraan lain dengan harga diatasnya), petugas satpam segera membukakan pintu kendaraan begitu supir berhenti di depan lobby. Esok harinya, ketika sang teman  diantar dengan Toyota Avansa (dan mungkin kendaraan lain yang sekelas atau dibawahnya), petugas yang sama terlihat lebih santai dan menunggunya keluar sendiri dari dalam kendaraan. Nah!. Padahal yang datang itu adalah orang yang sama, dan bahkan dengan kendaraan dari  perusahaan yang sama. Sama-sama Toyota. Memang harganya beda sih…

Saya juga tidak lupa cerita seorang teman yang lain, bagaimana ketika ia kecil dan ayahnya masih aktif di parlemen, rumahnya selalu penuh dengan orang orang yang datang bersilaturahmi. Wah, teman ayahnya banyak sekali. Namun bertahun tahun kemudian ketika ayahnya mulai tidak aktif dan tua, yang datang berkunjung ke rumah hanya sahabat-sahabat baik ayahnya saja yang  selalu setia & memang tidak pernah menginginkan keuntungan apa-apa darinya.

Dan sesungguhnya masih banyak lagi hal-hal lain lagi di seputaran kita yang menunjukkan bahwa betapa masyarakat saat ini memang sangat mementingkan penampilan luar dan embel-embel. Karyawan cenderung bersikap lebih ramah kepada atasan, namun jutek kepada bawahan. Boro-boro mampu menghargai office boy.  Menyapanya pun enggan. Kita sering lupa memandang manusia lain hanya sebagai manusia apa adanya tanpa embel-embel apapun. Bukan harta, bukan jabatan, bukan agama, bukan kasta, bukan golongan, dsb. Yang penting itu orangnya! Bukan pakaiannya.

Ketika kita mampu melihat manusia lain sesuai dengan apa adanya ia sebagai manusia, maka kita akan mampu berpikir dengan lebih adil dan bersikap lebih jujur kepada orang lain. Kita akan merasa perlu untuk tersenyum dan bersikap ramah kepada seseorang bukan karena ia adalah big boss di perusahaan kita, atau karena ia adalah seorang bintang sinetron ternama, namun lebih karena ia adalah manusia seperti  halnya kita yang membutuhkan senyum orang-orang di sekitar kita untuk mencerahkan harinya. Kita tidak pernah memiliki ‘hidden agenda’ dalam setiap hubungan kita dengan orang lain. Semuanya dari hati. Semuanya bersih dan tulus tanpa kepura-puraan. Alangkah indah dan damainya dunia, ketika semua itu bisa terjadi. Menghargai orang lain seperti apa adanya, tanpa mempertimbangkan embel-embel yang melekat pada dirinya. Bukan soal stiletto, bukan soal sandal jepitnya..

Ketika petugas selesai menyiapkan pesanan makanan kami, sayapun segera membayar lalu melangkah keluar dari restaurant itu dengan nyaman bersama anak-anak. Beruntunglah saya menggunakan sandal jepit hari itu, sehingga kaki saya yang agak keseleo tidak menjadi lebih menderita lagi jika harus saya gunakan berjalan diatas sandal wanita dengan hak 7 cm yang pasti tidak senyaman sandal jepit… Fiuuh!

My live is great! My life is brilliant!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s