Catatan Perjalanan – Kisah Tentang Pengabdian Masyarakat.

Standard

Saat saya sedang ada di Bangli, adik lelaki saya yang nomer empat menelepon dari Denpasar dan menawarkan apakah saya berminat untuk ikut pulang kampung ke desa Songan di Kintamani atau tidak, karena kebetulan ia ada urusan di desa. Saya segera menyetujui dengan senang hati karena memang sudah lama saya tidak pulang kampung. Siapa tahu nanti sempat mengunjungi sanak keluarga atau bertemu dengan kerabat. Atau hanya sekedar menengok rumah kakek saya yang kosong. Saya pun  menyiapkan perlengkapan saya untuk mengantisipasi udara dingin akibat kabut yang umumnya turun sore hari. Rupanya adik saya yang nomer empat ini juga sudah janjian dengan adik saya yang nomer tiga. Kamipun lalu berangkat ke desa bertiga. Saya merasa sangat senang duduk di belakang sendiri, sementara kedua adik lelaki saya  duduk di depan. Semuanya mengingatkan saya saat kedua orangtua kami masih ada.  Perjalanan yang menyenangkan, menanjak menuju Penelokan lalu turun menyusuri jalan berkelok ke tepi danau dan selanjutnya melaju diantara batu batu cadas yang menyuguhkan pemandangan luar biasa. Cara paling menyenangkan untuk menikmatinya adalah dengan membuka jendela kendaraan dan membiarkan angin yang dingin menerpa kulit dan menerbangkan rambut kita.

Kurang lebih empat puluh lima menit, sampailah kami di desa. Sebenarnya saya tidak tahu persis apa yang sedang dilakukan kedua adik saya itu di desa. Biasanya memang selalu banyak urusan adat.  Saya hanya ikut saja ketika mereka membawa saya ke sebuah lahan kosong  yang belakangan baru saya sadari itu letaknya persis di sebelah sebuah Pura di mana ayah saya  sering memimpin upacara keagamaan pada masa beliau masih ada.  Sebuah Pura tua yang sangat sederhana. Rupanya para warga berencana membangun sebuah wantilan (sejenis balai masyarakat ) yang berguna untuk menampung aktifitas warga selama masa upacara keagamaan berlangsung.  Kami turun dari kendaraan dan saya lihat kedua adik saya berbicara dengan seseorang yang kelihatannya mengawasi jalannya pembangunan wantilan itu.

Semula saya hanya berniat jeprat jepret dengan kamera saya saja sambil menunggu kedua adik saya menyelesaikan urusannya. Namun hujan lebat tiba-tiba turun yang memaksa saya ikut berteduh di sebuah balai balai di luar pura yang sementara digunakan untuk menyimpan kayu. Para buruh yang bekerjapun segera berteduh.  Karena tidak ada lagi objek yang bisa saya jepret dengan kamera saya, mau tidak mau akhirnya diam diam saya ikut menyimak apa yang dibicarakan oleh kedua adik saya. Pembicaraan rupanya berkisar seputaran masalah pembangunan wantilan, bahan bahan yang dipergunakan, kwalitas dan biayanya, campuran pasir dan semen serta hitung-hitungannya hingga ke masalah  perbandingan antara menyewa mesin molen versus membelinya.

Astaga! Saya baru nyadari keahlian kedua adik saya ini. Saya lupa bahwa dalam kehidupan sehari-harinya mereka sebenarnya adalah dua orang professional yang pada saat ini sedang menggunakan pakaian adat sehari-hari. Tampak sangat sederhana dan apa adanya. Sehingga saya benar-benar lupa. Yang lebih tua  adalah seorang  Civil Engineer dan yang lebih muda adalah seorang Architect. Bertahun tahun saya menganggap mereka  hanya dua dari  tiga  orang adik -adik kecil saya yang selalu saya perhatikan dan sayangi sepenuh hati saya. Dan sekarang tiba-tiba saya melihat mereka sebagaimana dua orang manusia dewasa di hadapan saya.  Ah ya, mereka memang sudah dewasa semua.  Bagaimana mereka mendemostrasikan keahliannya di depan mata saya, bagaimana mereka menunjukkan bakat leadershipnya dan pemikiran strategisnya yang sangat kuat. Semuanya telihat jelas sekali. Betapa cepatnya adik saya melakukan analisa kondisi tanah hanya dengan meliriknya saja, membuat perhitungan dengan cepat dan merekomendasikan campuran semen dan pasir;  merekomendasikan kwalitas pasir dan pecahan batu yang dipergunakan utnuk jenis tanah dan bangunan seperti itu dan sebagainya.  Benar benar seorang good analyst!. Sekarang saya mulai paham. Rupanya mereka berkolaborasi. Adik saya yang Arsitek merancang bangunan itu dan adik saya yang  Sipil yang mengarahkan pembangunannya. Tentu saja semuanya free! Tidak ada  sepeserpun fee yang mereka kenakan baik untuk jasa Arsitekturnya maupun Jasa  Sipilnya. Tidak pula untuk ongkos bolak balik. Mengapa? Karena rasa memiliki yang sangat tinggi. Karena kecintaan mereka terhadap masyarakat dan desa. Semuanya dilakukan dengan tulus ikhlas.

Saya perhatikan bagaimana  adik –adik saya  memberikan arahan kepada para tukang dan pengawasnya. Begitu telaten, penuh perhatian, perhitungan  dan antisipasi. Hingga perjalanan pulangpun, dari jok belakang saya masih mendengar kedua adik saya bercakap-cakap untuk menyempurnakan rancangannya dan bagaimana mengoptimalkan design agar efisien.

Diam diam rasa bangga saya sebagai seorang kakaknya tumbuh dengan subur di hati.  Saya bangga atas apa yang mereka lakukan. Mengabdikan ilmu dan waktunya semampu mereka  untuk kepentingan masyarakat tanpa sedikitpun ada rasa pamrih dan itung-itungan.   Dan saya tahu, hal yang serupa juga dilakukan oleh sebagian besar penduduk desa di Bali. Mengabdi pada masyarakat tanpa pamrih. Mengabdi untuk dadia, untuk banjar, untuk desa!. Sesuatu yang  mungkin  sulit kita temukan dalam tatanan masyarakat lain. Saya ingat-ingat, pengabdian sejenis ini sangat umum dilakukan di Bali, oleh hampir setiap warga walaupun dalam bentuk yang berbeda-beda, sesuai dengan kemampuan dan kebisaan mereka. Namun yang membuat bangga adalah, setidaknya  setiap orang akan berusaha ‘ngayah’ atau berbuat sesuatu untuk kepentingan masyarakat banyak.

Seketika saya lalu bercermin diri. Sebagai orang yang sudah lama meninggalkan Bali, apa yang telah saya lakukan bagi masyarakat banyak? Rasanya kok hampir hampir tidak pernah melakukan apa-apa. Kalaupun ada, paling banter hanya sekedar sumbangan ala kadarnya ke panti asuhan. Dan itupun tidak tidak teratur. Mungkin seharusnya saya bisa melakukan hal yang lebih baik dari sekedar itu. Karena pengabdian bukan hanya semata masalah sumbangan materi, namun bagaimana kita mampu memberikan sumbangan pemikiran, waktu, tenaga dll apa saja yang kita miliki untuk kepentingan dan kemajuan bersama.

Kita tidak harus menunggu hingga memiliki ilmu ataupun rejeki bergunung-gunung untuk mengabdi dan berbagi kepada orang lain. Sedikit yang kita tahu, sedkit yang kita share. Banyak yang kita tahu, idealnya banyak juga yang bisa kita share pada orang lain. Pengetahuan selalu memberikan dampak positif bagi masyarakat, betapapun kecilnya. Untuk apa kita memiliki ilmu jika tidak kita manfaatkan bagi kepetingan masyarakat banyak.

Memikirkan itu saya jadi malu pada diri saya sendiri. Selama ini saya bekerja di Jakarta, pontang panting bekerja di perusahaan swasta dari pagi hingga malam untuk menghidupi keluarga saya dan diri saya sendiri. Hampir hampir tidak punya waktu untuk hal lain. Boro-boro mengabdikan ilmu yang saya ketahui  untuk kepentingan masyarakat banyak. Sngat individualis.  Alangkah kontrasnya!

Saya tidak mengatakan hidup saya bergelimang harta di Jakarta, karena memang hidup saya biasa biasa saja. Tidak berlebih dan tidak sampai kekurangan. Namun setidaknya saya tahu hidup adik-adik saya di Bali juga tidak jauh lebih baik secara finansial dibandingkan saya sendiri. Namun saya merasakan sisi sosial dari kehidupan mereka  jauh lebih baik dari kehidupan sosial saya. Adik-adik saya, seperti halnya ayah saya dan juga sebagian besar masyarakat desa di Bali, selalu meluangkan waktu yang cukup banyak untuk menyumbangkan pengetahuan dan pemikirannya terhadap masyarakat banyak. Mungkin inilah salah satu nilai kehidupan  di Bali yang hilang  dalam diri saya yang harus saya pulangkan kembali segera.

Di jok belakang saya bersandar sendiri dan berharap segera bisa mulai merealisasikan  kehidupan sosial saya yang lebih baik. Jadi, bukan soal seberapa pintar kita. Atau seberapa sukses kita. Ataupun seberapa banyak ilmu yang kita miliki, namun soal seberapa besar kemauan kita untuk berbagi dengan orang lain dan untuk mengabdi kepada masyarakat….

2 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s