Daily Archives: April 17, 2011

Menemani Anak Memelihara Bebek..

Standard

Anak anak saya sangat menyukai binatang. Dan saya sebagai ibunya cenderung untuk membiarkan saja kesenangan anak anak itu, mengingat  saat saya masih kecil orangtua sayapun tak pernah melarang-larang saya untuk menyukai binatang apa saja dan saya merasakan kebahagiaan atas pengertian orang tua saya atas kesukaan saya pada binatang. Dan bahkan ketika saya memutuskan untuk mengambil kuliah di Kedokteran Hewan Universitas Udayana, orangtua sayapun akhirnya tetap menghormati & mendukung pilihan saya. Namun untuk memastikan semuanya berjalan dengan baik dan aman, sebagai orangtua saya hanya merasa perlu mengawasi dan mengarahkan anak anak saya agar semuanya berjalan lancar & natural serta tidak membahayakan.

Beberapa hari yang lalu, saat saya ajak pergi ke poultry shop untuk membeli anak ayam,  anak saya terlihat sangat tertarik pada anak bebek yang ditawarkan di sana dan bertanya pada saya apakah suatu hal yang mungkin jika ia meminta ijin pada saya untuk memelihara bebek di rumah. Tentu saja saya mengijinkan. Saya selalu berusaha melihat sisi positif dari keinginan anak saya pada binatang. Saya lalu membantu anak saya untuk melihat lihat dan memilih anak anak bebek itu.

Memilih Anak Bebek

Sama dengan memilih anak ayam, sebaiknya kita arahkan anak anak untuk memilih anak bebek yang terlihat aktif dan trengginas diantara kelompoknya. Anak bebek yang aktif, banyak bergerak, makan atau bermain dengan temannya menandakan bahwa anak bebek itu sehat.  Sebenarnya ada beberapa jenis bebek yang umum kita temui di Indonesia, namun pada akhirnya kita hanya akan bisa memilih dari apa yang tersedia di poultry shop itu pada saat itu.

Makanan Bebek

Karena ini bukanlah pemeliharaan bebek untuk skala ekonomi, maka pemberian makanan yang praktis adalah dengan memberinya makanan/ransum yang sudah diracik dan dijual untuk anak bebek di poultry shop. Jika tidak, bebek juga bisa kita berikan ransum sisa makanan kita berupa nasi, jagung maupun sayuran. Bebek juga senang jika kita beri cincang daging siput sawah, daun eceng gondok dsb.

Membuat Kandang Bebek

Kandang Bebek bisa dibuat dengan memanfaatkan kayu bekas/bamboo. Namun jika rumah kita berdekatan dengan sungai atau lahan terbuka, sebaiknya digunakan kandang yang lebih kokoh atau yang terbuat dari besai/kawat untuk menghindari serangan musang pada malam hari. Dalam membuat kandang, yang perlu diperhatikan adalah lokasi dimana nanti kita akan meletakkan kandang agar ventilasinya baik dan mendapatkan sinar matahari yang cukup.

Sesekali bebek bisa dikeluarkan dari kandangnya dan biarkan anak anak mengajaknya berenang di air yang disediakan (misalnya di kolam rumah, ataupun di bak air/ember besar).

Penyakit Bebek Yang Umum.

Sebagai orangtua, kita perlu waspada akan beberapa jenis penyakit bebek yang mungkin saja diderita oleh bebek peliharaan anak kita. Beberapa penyakit yang cukup sering menyerang bebek antara lain:

  1. a.       Coccidiosis.

Penyakit ini disebabkan oleh sejenis protozoa yang disebut Coccidia. Umumnya bisa kita ketahui dari gejala gejalanya yang antara lain : bebek terlihat lemah dan tak mau makan, serta umumnya kotorannya terlihat encer dan kadang berdarah. Penularan penyakit umumnya terjadi lewat makanan/minuman yang tercemar.

  1. b.      Pasteurellosis

Penyakit Pasteurellosis cukup berbahaya bagi bebek, karena jika tidak kita tangani dengan baik bisa menyebabkan kematian pada bebek kesayangan anak kita. Gejala penyakit Pasteurellosis pada bebek yang mudah dikenali adalah  kotorannya yang berwarna putih –hijau, bebek keluar lender baik dari mata maupun hidungnya.

  1. c.       Salmonellosis

Salmonellosis  adalah penyakit pada bebek yang disebabkan oleh bakteri Salmonella yang gejalanya pada bebek adalah terjadinya pembengkakan pada muka bebek, keluarnya lender dari hidung dan mulut yang disertai dengan menurunnya nafsu makan bebek ini.

Sebenarnya masih ada beberapa jenis penyakit lain yang umum menyerang bebek juga yang tidak saya sebutkan disini. Namun jika terjadi gangguan kesehatan pada binatang kesayangan anak anda ini, sebaiknya segera meminta bantuan dokter hewan terdekat.

Jangan Menggantungkan Hidup Kepada Orang Lain. Kisah Hidup Si Pohon Benalu.

Standard

Pada suatu hari Sabtu  sore yang santai,  saya mengajak kedua anak saya untuk berjalan jalan di lingkungan perumahan sambil mengamat amati  & menjelaskan ke anak saya tentang beberapa jenis rumput yang bijinya disukai oleh burung-burung berparuh pendek. Anak saya sangat tertarik, karena heran melihat banyaknya burung burung pipit dan burung gereja yang hinggap di rerumputan. Di kiri kanan tanah rumput itu ditanamlah pohon penaung yang sudah cukup besar dan rimbun. Saat melintas di salah satu pohon penaung itu,  tiba tiba anak saya yang besar menunjuk ke atas.

“Apa itu, mom? Kenapa daun tanaman itu beda dengan daun yang lainnya?” Tanya anak saya. Seketika saya menoleh kepada  pohon penaung yang ditunjuk dan segera tahu bahwa yang ditanyakan oleh anak saya itu adalah pohon benalu. Pohon benalu yang sangat sehat dengan daun segar dan subur rupanya telah menginvasi tanaman penaung itu. Mungkin seekor burung yang tubuhnya tanpa sengaja tertempel biji benalu telah sempat hinggap dan meninggalkan biji benalu di pohon itu yang kemudian tumbuh dan berkembang di sana.

“ Ooh itu pohon benalu, nak” Kata saya. Anak saya heran, mengapa benalu bisa hidup di atas tanaman lain. Saya lalu menjelaskan bahwa pohon Benalu (Loranthus eurpaeus), atau dalam bahasa Balinya disebut pohon Kepasilan  itu adalah sejenis parasit tumbuhan yang hidupnya memang selalu bergantung kepada tanaman lainnya  yang berfungsi sebagai induk semang.  Tanaman ini tumbuh dengan cara menginvasikan akarnya ke dalam batang tanaman induk, mengisap air dan mineralnya untuk kepentingan pertumbuhannya sendiri sehingga sangat merugikan. Tidak berhenti hingga di sana, jika benalu ini berhasil tumbuh besar, bukan saja ia membuat tumbuhan induk semakin kurus, namun daun benalu yang sekarang tumbuh semakin subur, besar besar dan rindang juga sekaligus menghalangi daun tanaman induk yang kecil dan kurus untuk mendapatkan sinar matahari.  Anak saya terlihat tidak senang mendengar cerita itu. Kami lalu terdiam, sibuk dengan pikiran masing masing. Saya memperhatikan pohon benalu itu dan lalu mengambil kamera saku saya untuk memotretnya. Angin sore yang sejuk bertiup di lahan berumput itu. Sungguh sore yang sangat menyenangkan bersama anak-anak.

“Ma, tapi menurut mama apakah ada orang yang hidupnya seperti pohon benalu? Selalu bergantung kepada orang lain?”  Tanya anak saya kemudian.  Tidak terlalu mengejutkan saya. Karena saya sangat hapal akan kebiasaan anak  saya yang selalu mengembangkan pemikirannya sendiri atas setiap idea atau cerita yang ia dengar. Saya tertawa lalu bernyanyi untuk anak saya.

Ada senggak punyan kepasilan. Idup nyane setata megandong….” (artinya : Ada  perumpaan si pohon kepasilan/ benalu. Hidupnya senantiasa digendong..)

Pertama kali saya mendengar lagu ini dinyanyikan dalam sebuah pementasan kesenian rakyat Drama Gong  di Balai Banjar Pande Bangli saat saya masih kecil ( saya masih duduk di bangku SD), dan tetap terngiang ngiang hingga sekarang. Sepenggal lagu rakyat Bali ini berisi nasihat agar kita jangan meniru perbuatan si pohon kepasilan (benalu)  yang  hidupnya selalu menggantungkan diri pada orang lain. Intinya sebagai manusia yang telah dikaruniai tubuh, anggota badan yang sama dengan orang lain, hendaklah kita jangan bermalas-malasan belajar & bekerja, kurang keras berusaha dan selalu mengatakan diri kurang beruntung,  lalu selalu meminta kepada orang lain untuk membantu kita & membiayai  hidup kita. Kita hidup santai & enak-enakan, sementara orang lain harus membanting tulang kerja keras siang dan malam untuk ikut membantu membiayai makan & gaya hidup kita. Kita semua dikaruniai anggota tubuh yang sama (satu otak, dua mata, dua telinga, satu mulut, dua tangan, dua kaki, dst – semuanya sama,– tentu sama sekali tidak adil dan tidak baik perbuatan kita itu.

Kalau kita masih kecil, ma?. Kita kan belum bisa bekerja & menghasilkan uang sendiri. Sebenarnya kita mau bantuain mama..” Tanya anak saya dengan muka khawatir.

Nggak apa-apa. Niat membantu orang tua dengan cara belajar yang baik, dan sedikit sedikit memebreskan pekerjaan di rumah, itu sudah sangat baik” kata saya menghapuskan rasa khawatir di wajahnya. Saya lalu menambahkan, untuk anak-anak hingga usia tertentu, para orangtua yang telah melampaui usia produktif sehingga tak mampu lagi bekerja, atau para penyandang cacat baik karena lahir atau mengalami kecelakaan yang memang mengakibatkan tak mampu melakukannya sendiri , itu memang perkecualian.  Tidak diharapkan bagi mereka untuk bekerja keras dan mandiri jika belum saatnya, atau jika memang mereka sama sekali tidak mampu.  Itu semua merupakan tanggung orang dewasa /keluarga terdekatnya. Karena itu adalah masalah ketidakmampuan.

Tapi jika kita sebenarnya masih mampu bekerja, masih sehat, memiliki anggota tubuh yang lengkap, berusaha keraslah untuk bisa mendiri agar jangan selalu meminta bantuan kepada orang lain yang belum tentu lebih sehat dari kita. Jadi bedanya disini hanya masalah  kemauan dan usaha keras untuk menjadi mandiri saja. Bukan soal kemampuan. Kadang –kadang hanya faktor gengsi.  Merasa berasal dari keluarga terhormat, terpandang lalu tidak mau bekerja keras  karena merasa pekerjaan itu tidak layak untuknya. Padahal, cobalah kita tengok ke sekeliling kita, orang orang yang mau bekerja apa saja (tidak harus bekerja di sektor formal), menjadi buruh jalanan, tukang parkir, tukang becak, buruh di ladang, penjaga toko dsb) semuanya jauh lebih terhormat dibandingkan mereka yang tidak mau berusaha keras dan hanya menganggur menantikan pekerjaan manajer bergaji puluhan juta yang tak kunjung datang. Banyak orang yang sukses sesungguhnya datang dari mereka yang tidak gengsi melakukan pekerjaan apapun yang penting halal, berusaha keras dan konsisten sehingga pada akhirnya mereka sukses. Bukan saja mampu untuk menghidupi dirinya sendiri, namun juga mampu menghidupi orang lain.

“ Aku tidak mau jadi pohon benalu. Menyusahkan orang lain!. Itu tidak baik” Kata anak saya yang lebih besar.

“ Aku juga tidak mau. Bukan lagi menyusahkan, tapi merugikan!” kata anak saya yang satunya lagi.

Iya. Tapi itulah isi dunia. Kemanapun kita pergi, selalu ada yang baik dan selalu ada yang kurang baik. Yang penting kita berusaha mengurangi ketidak-baikan di dalam diri kita. Begitu kita menyadari ada yang kurang baik dalam diri kita, maka kita harus berusaha keras untuk merubahnya menjadi baik. Sehingga timbangan kebaikan kita jauh lebih berat dibandingkan kekurangbaikan kita ” Kata saya menasihati anak saya sekaligus diri saya sendiri. Saya berharap suatu saat ketika saya sudah tidak ada lagi di dekat mereka, anak anak saya masih mengingat kisah tentang si pohon kepasilan ini dan memikirkan yang terbaik untuk dirinya masing-masing. Perjalanan hidupnya masih panjang…