Jangan Menggantungkan Hidup Kepada Orang Lain. Kisah Hidup Si Pohon Benalu.

Standard

Pada suatu hari Sabtu  sore yang santai,  saya mengajak kedua anak saya untuk berjalan jalan di lingkungan perumahan sambil mengamat amati  & menjelaskan ke anak saya tentang beberapa jenis rumput yang bijinya disukai oleh burung-burung berparuh pendek. Anak saya sangat tertarik, karena heran melihat banyaknya burung burung pipit dan burung gereja yang hinggap di rerumputan. Di kiri kanan tanah rumput itu ditanamlah pohon penaung yang sudah cukup besar dan rimbun. Saat melintas di salah satu pohon penaung itu,  tiba tiba anak saya yang besar menunjuk ke atas.

“Apa itu, mom? Kenapa daun tanaman itu beda dengan daun yang lainnya?” Tanya anak saya. Seketika saya menoleh kepada  pohon penaung yang ditunjuk dan segera tahu bahwa yang ditanyakan oleh anak saya itu adalah pohon benalu. Pohon benalu yang sangat sehat dengan daun segar dan subur rupanya telah menginvasi tanaman penaung itu. Mungkin seekor burung yang tubuhnya tanpa sengaja tertempel biji benalu telah sempat hinggap dan meninggalkan biji benalu di pohon itu yang kemudian tumbuh dan berkembang di sana.

“ Ooh itu pohon benalu, nak” Kata saya. Anak saya heran, mengapa benalu bisa hidup di atas tanaman lain. Saya lalu menjelaskan bahwa pohon Benalu (Loranthus eurpaeus), atau dalam bahasa Balinya disebut pohon Kepasilan  itu adalah sejenis parasit tumbuhan yang hidupnya memang selalu bergantung kepada tanaman lainnya  yang berfungsi sebagai induk semang.  Tanaman ini tumbuh dengan cara menginvasikan akarnya ke dalam batang tanaman induk, mengisap air dan mineralnya untuk kepentingan pertumbuhannya sendiri sehingga sangat merugikan. Tidak berhenti hingga di sana, jika benalu ini berhasil tumbuh besar, bukan saja ia membuat tumbuhan induk semakin kurus, namun daun benalu yang sekarang tumbuh semakin subur, besar besar dan rindang juga sekaligus menghalangi daun tanaman induk yang kecil dan kurus untuk mendapatkan sinar matahari.  Anak saya terlihat tidak senang mendengar cerita itu. Kami lalu terdiam, sibuk dengan pikiran masing masing. Saya memperhatikan pohon benalu itu dan lalu mengambil kamera saku saya untuk memotretnya. Angin sore yang sejuk bertiup di lahan berumput itu. Sungguh sore yang sangat menyenangkan bersama anak-anak.

“Ma, tapi menurut mama apakah ada orang yang hidupnya seperti pohon benalu? Selalu bergantung kepada orang lain?”  Tanya anak saya kemudian.  Tidak terlalu mengejutkan saya. Karena saya sangat hapal akan kebiasaan anak  saya yang selalu mengembangkan pemikirannya sendiri atas setiap idea atau cerita yang ia dengar. Saya tertawa lalu bernyanyi untuk anak saya.

Ada senggak punyan kepasilan. Idup nyane setata megandong….” (artinya : Ada  perumpaan si pohon kepasilan/ benalu. Hidupnya senantiasa digendong..)

Pertama kali saya mendengar lagu ini dinyanyikan dalam sebuah pementasan kesenian rakyat Drama Gong  di Balai Banjar Pande Bangli saat saya masih kecil ( saya masih duduk di bangku SD), dan tetap terngiang ngiang hingga sekarang. Sepenggal lagu rakyat Bali ini berisi nasihat agar kita jangan meniru perbuatan si pohon kepasilan (benalu)  yang  hidupnya selalu menggantungkan diri pada orang lain. Intinya sebagai manusia yang telah dikaruniai tubuh, anggota badan yang sama dengan orang lain, hendaklah kita jangan bermalas-malasan belajar & bekerja, kurang keras berusaha dan selalu mengatakan diri kurang beruntung,  lalu selalu meminta kepada orang lain untuk membantu kita & membiayai  hidup kita. Kita hidup santai & enak-enakan, sementara orang lain harus membanting tulang kerja keras siang dan malam untuk ikut membantu membiayai makan & gaya hidup kita. Kita semua dikaruniai anggota tubuh yang sama (satu otak, dua mata, dua telinga, satu mulut, dua tangan, dua kaki, dst – semuanya sama,– tentu sama sekali tidak adil dan tidak baik perbuatan kita itu.

Kalau kita masih kecil, ma?. Kita kan belum bisa bekerja & menghasilkan uang sendiri. Sebenarnya kita mau bantuain mama..” Tanya anak saya dengan muka khawatir.

Nggak apa-apa. Niat membantu orang tua dengan cara belajar yang baik, dan sedikit sedikit memebreskan pekerjaan di rumah, itu sudah sangat baik” kata saya menghapuskan rasa khawatir di wajahnya. Saya lalu menambahkan, untuk anak-anak hingga usia tertentu, para orangtua yang telah melampaui usia produktif sehingga tak mampu lagi bekerja, atau para penyandang cacat baik karena lahir atau mengalami kecelakaan yang memang mengakibatkan tak mampu melakukannya sendiri , itu memang perkecualian.  Tidak diharapkan bagi mereka untuk bekerja keras dan mandiri jika belum saatnya, atau jika memang mereka sama sekali tidak mampu.  Itu semua merupakan tanggung orang dewasa /keluarga terdekatnya. Karena itu adalah masalah ketidakmampuan.

Tapi jika kita sebenarnya masih mampu bekerja, masih sehat, memiliki anggota tubuh yang lengkap, berusaha keraslah untuk bisa mendiri agar jangan selalu meminta bantuan kepada orang lain yang belum tentu lebih sehat dari kita. Jadi bedanya disini hanya masalah  kemauan dan usaha keras untuk menjadi mandiri saja. Bukan soal kemampuan. Kadang –kadang hanya faktor gengsi.  Merasa berasal dari keluarga terhormat, terpandang lalu tidak mau bekerja keras  karena merasa pekerjaan itu tidak layak untuknya. Padahal, cobalah kita tengok ke sekeliling kita, orang orang yang mau bekerja apa saja (tidak harus bekerja di sektor formal), menjadi buruh jalanan, tukang parkir, tukang becak, buruh di ladang, penjaga toko dsb) semuanya jauh lebih terhormat dibandingkan mereka yang tidak mau berusaha keras dan hanya menganggur menantikan pekerjaan manajer bergaji puluhan juta yang tak kunjung datang. Banyak orang yang sukses sesungguhnya datang dari mereka yang tidak gengsi melakukan pekerjaan apapun yang penting halal, berusaha keras dan konsisten sehingga pada akhirnya mereka sukses. Bukan saja mampu untuk menghidupi dirinya sendiri, namun juga mampu menghidupi orang lain.

“ Aku tidak mau jadi pohon benalu. Menyusahkan orang lain!. Itu tidak baik” Kata anak saya yang lebih besar.

“ Aku juga tidak mau. Bukan lagi menyusahkan, tapi merugikan!” kata anak saya yang satunya lagi.

Iya. Tapi itulah isi dunia. Kemanapun kita pergi, selalu ada yang baik dan selalu ada yang kurang baik. Yang penting kita berusaha mengurangi ketidak-baikan di dalam diri kita. Begitu kita menyadari ada yang kurang baik dalam diri kita, maka kita harus berusaha keras untuk merubahnya menjadi baik. Sehingga timbangan kebaikan kita jauh lebih berat dibandingkan kekurangbaikan kita ” Kata saya menasihati anak saya sekaligus diri saya sendiri. Saya berharap suatu saat ketika saya sudah tidak ada lagi di dekat mereka, anak anak saya masih mengingat kisah tentang si pohon kepasilan ini dan memikirkan yang terbaik untuk dirinya masing-masing. Perjalanan hidupnya masih panjang…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s