Mencari Pembenaran Atas Kesalahan Yang Kita Lakukan…

Standard

Saat jam makan siang  di sebuah restaurant yang cukup menyenangkan,  rupanya teman sebelah saya memperhatikan kebiasaan buruk saya yang kurang banyak minum air putih.

Saya perhatikan ibu kurang sekali minumnya” Katanya sambil menuangkan air putih  ke dalam gelas saya yang kosong.  Saya berterimakasih.  “Oh.., iya. Saya selalu lupa untuk menambah minum.” Jawab saya membenarkan apa yang ia perhatikan dan simpulkan atas kebiasaan saya.  Saya hanya meneguk air putih yang tersedia di atas meja saya, tanpa upaya untuk mengisi ulang gelas saya kembali setiap kali gelas minum kosong.

“Itu kurang sehat lho, Bu!” katanya menegur. “Iya. Saya tahu” Jawab saya sambil seketika sadar dan cepat-cepat minum. Saya tahu persis kalau kurang minum air putih, akan mengakibatkan tubuh kekurangan air, kulit cepat kering, wajah yang kurang cerah, hingga berbagai gangguan kesehatan yang lebih buruk lagi. Tapi mengapa saya tetap melakukannya? Kadang kadang bingung juga memikirkan ini. Di satu sisi, saya tahu persis bahwa kurang minum merupakan  hal yang tidak baik. Tapi kenyataannya di satu sisi lain, saya tetap juga tidak rajin minum air putih. Mengapa ada gap antara pengetahuan dan perbuatan ya? Aneh! Dan sebenarnya agak malu juga dengan fakta ini..

Lalu saya mencoba mencari jawabannya. “ Ya.. karena saya terlalu sibuk, sehingga tidak sempat minum”. Atau’ Ya..karena letak dispenser airnya agak jauh dari tempat saya duduk” Dan sebagainya alasan yang tiba-tiba muncul untuk membuat diri saya nyaman atas kesalahan yang telah saya perbuat. Teman saya tertawa mendengar berbagai penjelasan yang saya gunakan untuk menjustifikasi kesalahan saya itu. Namun lama –lama saya berpikir, agaknya mencari pembenaran atas kesalahan yang telah kita lakukan itulah yang sesungguhnya membuat kita merasa selalu berada di zona yang nyaman. Yang walaupun menyadari kesalahan itu dan mengakuinya, namun tidak berupaya untuk melakukan koreksi atau perbaikan yang selayaknya. Alih alih melakukan perbaikan, saya malah menjadikan itu sebagai kebiasaan buruk .

Ngobrol tentang hal ini kemudian saya dan teman saya menemukan bahwa sebenarnya banyak sekali hal di dalam hidup kita yang serupa dengan itu baik yang kita lakukan sendiri maupun dilakukan oleh teman teman di sekeliling kita.

Teman saya bercerita tentang kebiasaan suaminya yang selalu menghabiskan sebungkus rokok sehari. Apakah ia tidak tahu bahwa merokok itu berbahaya, dapat mengakibatkan gangguan, jantung, paru-paru dan gangguan janin pada wanita hamil. Tentu saja tahu persis. Karena hal itu bukan saja diterangkan oleh para ahli kesehatan dan media massa, namun  bahkan banyak terpampang di iklan rokok itu sendiri. Suaminyapun juga bukan orang yang tidak rajin membaca buku kesehatan.  Sebagai istri, teman saya itu juga tak habis habisnya mengingatkan suaminya. Namun suaminya seperti tak punya pendengaran. Kebal terhadap semua nasihat itu. Dan suaminya bukanlah satu-satunya perokok berat yang ia tahu. Dan semua perokok pun tahu dampak buruk dari merokok. Tapi mengapa masih banyak orang yang merokok juga? Aneh kan? Jadi benar-benar terjadi gap yang sangat besar antara pengetahuan akan dampak bahaya kesehatan  dari merokok dan fakta perbuatannya sehari-hari. Ia bukan saja merokok sebatang sehari, tapi malah minimal sebungkus sehari.  Para perokok lalu mencari pembenaran untuk kebiasaan buruknya itu dengan alasan bahwa “ Kan nggak enak  menolak kalau ditawarin teman. Rasa nggak mau gaul dan kesannya kurang bersahabat kalau kita tidak ikut merokok” Atau alasan lain seperti “Gue nggak bisa kerja kalau gak roko’an. Lumayan nolong buat gue lebih rileks.” Atau “ Nyari inspirasi, bro!” dan lain lain alasan pembenaran diri yang membuat merokok akhirnya menjadi kebiasaan buruk. Lalu kapan nyadarnya? Nanti, setelah masuk rumah sakit dan mengalami fakta sendiri tiba-tiba susah bernafas dan tanpa sepengetahuan kita, rumbai rumbai kanker telah menjalar dan menggerogoti tubuh kita dan dokter menyatakan bahwa kanker telah berada di stadium IV. Alias tak bisa ditolong lagi.

Cerita lain lagi adalah menerima pertemanan dengan mantan kekasih di facebook. Bertahun tahun tak bertemu, ketika melihat foto orang yang pernah mencuri hati kita saat remaja ternyata sekarang ada di sana, bisa saja tiba-tiba kita merasakan kembali saat saat  indah kita bersamanya. Dengan detak jantung yang sama cepatnya. Dengan bunga bunga hati bermekaran yang sama meriahnya. Senang mengobrol dan chatting dengannya kembali. Kita tahu resikonya. Bila ketahuan, bisa dimarahi bukan saja oleh suami/istri kita sendiri, namun juga oleh istri/suami dari  kekasih kita itu? Kita juga tahu, sebenarnya itu bukan perbuatan baik. Karena kita sebenarnya tak mau menyakiti hati orang lain. Tidak mau menyakiti hati pasangan dan anak-anak yang kita cintai. Dan tentunya kita juga tidak mau merebut pasangan orang lain dan merampasnya dari anak-anaknya.  Namun mengapa banyak orang yang masih  tetap tergoda untuk  chatting dan ngobrol dengan mantan kekasihnya? Walaupun tidak melakukan ‘selingkuh’ secara fisik, namun semua itu tetap berpotensi bahaya, bukan?  Nah, disinipun ternyata ada gap antara pengetahuan dan perbuatan.  Lalu mencari pembenaran sendiri “ Yah.. aku kan ngobrol doang. Mengenang masa lalu. Nggak ngapa-ngapain, kok!”. Atau  “ Mm.. bukan salah gue. Siapa yang dapat membunuh cinta?. Kan cinta itu sudah ada sejak dari sononya..” . Atau “ Loh, kan duluan gue yang kenal sama laki lu. Gue masih berhak dong buat ber ha ha hi hi dengannya..” Dan beribu ribu alasan pembenaran diri yang jika dicari cari pasti akan selalu ada.  Dan jadilah kebiasaan buruk. Baru nyadar dan berhenti, setelah istri/suami dari mantan kekasih kita itu marah besar atas perbuatan tolol kita berchatting ria dengan pasangan resminya. Atau suami/istri kita marah marah menegur kita atas perbuatan kita yang sama sekali tidak menghargai perasaannya itu. Loh, ini serius toh perkaranya?

Masih banyak lagi contoh contoh perbuatan buruk yang mungkin kita lakukan yang sama sekali tidak ideal jika kita bandingkan dengan fakta bahwa sesungguhnya kita tahu, yang idealnya kita harus ikuti dengan konsisten.

Bermalas-malasan mengejar target penjualan, padahal kita tahu bahwa waktu sangatlah berharga.  Ketika kita tidak mencapai target bulanan yang telah ditetapkan oleh perusahaan kita, lalu kita mencari pembenaran bahwa pasar memang sedang lesu. Sedang musim hujan atau musim liburan anak sekolah. Sehingga jualan seret. Bukan kita saja yang tidak mencapai target, namun perusahaan pesaing kita juga. Ehm!.

Tidak melakukan olahraga yang rutin dan tetap ngemil banyak, padahal kita tahu olahraga sangat membantu meningkatkan kesehatan kita dan ngemil bukanlah perbuatan baik untuk menjaga kesehatan dan ukuran tubuh kita.  Ketika badan kita kelebihan berat dan pakaian mulai pada tidak muat, kita lalu membuat diri kita nyaman dengan membeli pakaian baru lagi dengan ukuran yang lebih besar. Bukannya berusaha keras menurunkan berat badan kita.

Memelihara burung di dalam sangkar, padahal kita tahu burung itu lebih suka hidup di alam bebas. Dan sebagainya  kisah serupa yang banyak sekali.

Belakangan, setelah diskusi panjang lebar dengan teman saya itu,  barulah saya  menyadari bahwa apa yang kita lakukan di atas itu rupanya sejalan dengan ide dari Leon Festinger tentang Cognitive Dissonance, dimana sebenarnya banyak orang yang mengetahui adanya gap antara pengetahuan dan pebuatannya sendiri  yang disebut sebagai fase Cognitive Dissonance dan merasa tak nyaman berada dalam kondisi  Cognitive Dissonance itu, lalu berusaha mencari pembenaran atas apa yang telah dilakukannya untuk membuat hidupnya menjadi lebih nyaman.

Jelas sekali bahwa seharusnya saya  berusaha lebih keras lagi memaksa diri saya untuk menjadikan Cognitive Dissonance itu sebagai fase peringatan bagi saya untuk melakukan perbaikan diri. Sambil menghabiskan tegukan air putih saya yang terakhir, saya memebereskan pekerjaan saya. Berterimakasih pada teman di sebelah  saya atas ide diskusinya yang menyenangkan dan inspiratif. Saya  berpikir dan berharap dapat melakukan perbuatan yang lebih baik  kedepannya daripada hanya sekedar selalu mencari cari alasan untuk membenarkan diri saya tiap kali saya melakukan kesalahan dan perbuatan buruk. Yah.. tahu sih, itu bukanlah hal yang mudah untuk dijalankan. Tapi minimal berniat dulu, tentu itu lebih baik daripada tidak ada niat melakukan perbaikan diri sama sekali.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s