Isah.. Kisah Pembantu Rumah Tangga Yang Tinggal Selama Seminggu.

Standard

Ada sebuah peristiwa yang sangat berkesan dalam hidup saya, yang memberikan saya kesadaran tentang keikhlasan dalam membantu sesama. Saya ingin share dengan teman teman, bukan dalam rangka membanggakan kedermawanan saya. Namun karena saya merasa kisah ini cukup aneh & menarik. Selain itu saya  juga ingin mengajak teman-teman ikut merenungkan soal pintu rejeki.

Kisah ini dimulai, saat pada suatu hari saya mendapatkan bonus. Bonus berupa uang yang jumlahnya lumayan besar untuk ukuran saya – atas tercapainya target penjualan di perusahaan tempat saya bekerja.  Namun saat itu hingga beberapa hari berikutnya,  saya belum tahu  akan saya pergunakan untuk apa uang bonus itu. Saya belum memikirkannya.

Ketika  sedang membersihkan halaman depan rumah, seorang wanita berkerudung datang menghampiri saya. Ia menanyakan tentang pembantu rumah tangga saya. Apakah benar ia bekerja di rumah ini. Sesaat saya ragu. Namun begitu melihat tanda-tanda bahwa wanita ini memang mengenal baik pembantu  saya, maka saya segera memanggilnya. Benar saja, rupanya wanita berkerudung itu memang teman sekampungnya di Rangkas Bitung.

Saya lalu diinformasikan bahwa wanita itu (sebut saja  namanya Isah) sedang benar-benar membutuhkan pekerjaan. Apa saja . Menurut ceritanya, ia kabur dari rumah karena suaminya sangat pemarah dan ringan tangan. Suka memukul dan menganiaya. Ia menikah sebagai istri ke empat, karena dijodohkan orangtuanya yang semula menyangka suaminya adalah lelaki kaya. Disana Isah membuka warung  ikan asin. Suaminya hanya seorang pengangguran yang numpang hidup di situ.  Setiap minggu ia membeli dan mengangkat ikan kering sendiri dari Pelabuhan. Sementara suaminya bermalas-malasan di rumah dan tak pernah mau membantu. Kalau ia meminta bantuan dan kesadaran suaminya untuk membantu mencari nafkah, maka kerap kali ia harus menerima kata-kata kasar dan bahkan siksaan fisik. Lama kelamaan ia tidak tahan karena menderita  dan karena itulah ia memutuskan untuk meninggalkan suaminya dan ingin mencari pekerjaan di Jakarta.

Tergerak oleh rasa kasihan dan mengingat bahwa ia  kenal dengan pembantu rumah tangga saya, maka saya lalu memutuskan untuk menampung Isah di rumah saya . Sejak hari itu resmilah Isah tinggal di rumah saya sebagai pembantu rumah tangga. Pembawaannya sangat baik, ramah , rajin dan sopan. Jadi saya tidak merasa ada beban untuk menampungnya di rumah saya.

Pada hari Senin saat saya pulang dari kantor, yang merupakan hari ketiganya di rumah kami, tiba tiba saya menemukan Isah sakit. Ia mengeluh sakit perut dan menduga karena ia makan rujak yang sangat pedas tadi siang. Saya lalu memberinya uang untuk pergi  ke dokter. Sepulang dari dokter, ia pun segera beristirahat.

Pada hari Selasa, sepulang dari kantor ternyata Isah saya temukan masih dalam keadaan sakit. Bahkan malam itu ia kelihatan tambah sakit. Saya lihat ia duduk dan menekuk lututnya sambil meringis menahan sakit. Kecurigaan saya mengarah pada radang usus buntu. Saya merasa khawatir. Lalu membantu melakukan palpasi di daerah perutnya. Dan menemukan keluhan dan rasa sakit yang parah saat perut bagian kanan bawahnya disentuh. Segera saya  meminta pembantu saya untuk membawanya ke Rumah Sakit  di daerah Cileduk. Ternyata benar. Saya mendapatkan telpon dari Rumah Sakit bahwa Isah  mengalami peradangan usus buntu parah yang harus segera dioperasi keesokan harinya. Malam itu pihak rumah sakit akan melakukan persiapan. Kepanikan terjadi saat pihak rumah sakit meminta saya untuk menandatangani persetujuan operasi sebagai perwakilan keluarganya.

Saya ragu. Karena saya memang bukan keluarganya. Dan sayapun baru mengenalnya selama empat hari. Bagaimana jika keluarga Isah tidak setuju? Bagaimana kalau terjadi hal yang tak diinginkan akibat operasi itu? Dan bagaimana kalau saya dituntut? Dan berbagai kekhawatiran menyerang pikiran saya saat itu.

Pembantu saya mencoba menelpon ke  tetangganya di  Rangkas Bitung untuk memberi kabar itu. Berharap ada perwakilan keluarga Isah yang bisa datang untuk menandatangani persetujuan operasi. Selain itu pihak Rumah Sakit juga meminta jaminan atas biaya operasi. Namun hingga subuh, tak sedikitpun pembantu saya berhasil melakukan kontak dengan  keluarga Isah.

Akhirnya setelah saya pikir-pikir, demi kemanusiaan dan kasih sayang terhadap sesama,  saya mengambil keputusan untuk mewakili keluarga Isah dalam melakukan persetujuan operasi . Dan juga  melakukan penjaminan biaya atas  operasi yang akan dilakukan. Saya pasrah akan resiko yang akan saya hadapi,  jika misalnya nanti ada keluarga Isah yang tidak setuju. Atau menuntut  saya. Atau marah atas keputusan saya. Atau  jika terjadi sesuatu pada Isah. Saya harus bertanggung jawab terhadapnya. Saya pikir, ini adalah soal hidup mati Isah. Soal nyawa Isah. Dan saya tak pantas menjadi terlalu pengecut untuk tidak berani mengambil resiko ini. Keselamatan orang lain lebih penting daripada kekhawatiran saya sendiri.

Pagi itu akhirnya Isah dioperasi dan ditemukan bahwa kondisi ususnya sudah sangat parah. Dan dokter juga menginformasikan, hal yang jauh lebih buruk mungkin terjadi jika operasi tidak segera dilaksanakan. Namun syukurnya semuanya cepat berakhir. Kondisi Isah cepat pulih kembali. Dan saya sangat terharu melihat kemajuannya.

Tanpa diduga, sore harinya, suami Isah muncul di rumah saya. Ia bilang bahwa ia mendengar berita tentang Isah dari tetangganya dan  segera menyusul istrinya ke sini.  Saya teringat akan  kisah yang diceritakan oleh Isah tentang suaminya yang berperangai buruk. Namun saya pikir, bagaimanapun juga ia toh memang suami Isah. Dan mereka memang belum bercerai. Jadi saya tak perlu berkata apa-apa.  Malam itu suami Isah menunggui istrinya  di rumah sakit.

Pada hari Kamis malam– saya melihat suami Isah sudah di rumah menunggu kepulangan saya dari tempat kerja. Ia meminta ijin dari saya untuk membawa Isah pulang kembali ke Rangkas. Ia bilang Isah tidak mau diajak pulang dan meminta saya untuk membujuk Isah.

“Begini, Bu. Saya tahu Ibu sudah ada menaruh jasa pada Isah dan saya tidak akan bisa melunasi utang saya. Saya minta tolong agar Ibu membantu untuk melepaskan Isah dan tidak menahan Isah bekerja di sini”. Saya hanya terdiam sambil berpikir. Sama sekali bukan soal jasa membiayai ongkos operasi Isah itu yang saya khawatirkan. Namun lebih kepada cerita Isah tentang suaminya yang ringan tangan dan suka memukul. Lalu suaminya bercerita kepada saya, bagaimana ia menderita sejak ditinggal kabur oleh Isah. Setiap malam ia berdoa dan sholat tahajud tengah malam. Memohon agar diberikan pertolongan untuk menemukan istrinya kembali & meminta maaf. Lelaki itu berlinang airmata menceritakan kisahnya. Saya tetap tidak tahu apa yang harus saya lakukan.

Ia menyinggung kembali masalah biaya yang telah saya keluarkan untuk Isah dan mengira bahwa saya akan menahan Isah karena masalah itu. Padahal tidak sedikitpun terpikir oleh saya, untuk menahan Isah karena biaya yang telah saya keluarkan. Saya hanya tidak yakin akan ketulusan pengakuan suami Isah untuk bisa menyayangi istrinya kembali dan hidup dalam rumah tangga damai tanpa kekerasan. Akhirnya saya bilang terserah pada Isah saja. Isah yang lebih tahu.

Mendengar jawaban saya, suami saya lalu memotong &  mengatakan bahwa sebaiknya kita membantu untuk membuat keluarga itu bersatu dan lebih berdamai dengan cara meminta Isah pulang mengikuti suaminya.  “Jangan dibiarkan Isah memilih sendiri. Karena ia pasti akan memilih tinggal bersama kita karena perasaan tak enak, merasa berhutang budi” kata suami saya.  Akhirnya saya menurut  saja apa yang suami saya katakan. Saya akan meminta Isah untuk pulang mengikuti suaminya. Semoga hidupnya bahagia.

Pada hari Jumat , setelah melunasi pembayaran ongkos Rumah Sakit, maka Isah dan suaminya pun pulang ke Rangkas. Saya membayarnya lunas dengan menggunakan uang bonus yang diberikan perusahaan tempat saya bekerja atas  hasil pencapaian target penjualan yang saya capai. Anehnya, biaya Rumah sakitnya itu kok bisa pas  sama dengan jumlah uang bonus yang saya terima.

Dengan demikian, uang bonus hasil kerja saya itu hanya lewat saja di tangan saya selama tujuh hari untuk kemudian pergi  tanpa saya pergunakan bagi kepentingan saya atau keluarga saya sendiri. Suami saya tertawa atas kejadian itu. “Ikhlas kan? Jangan khawatir. Rejeki pasti akan selalu datang lagi“ Kata  suami saya menghibur. Saya tertawa. Tentu saja saya ikhlas. Memang sejak awal saya juga belum punya rencana uang itu untuk apa. Karena saya masih cukup untuk hidup sehari-hari dengan hanya memanfaatkan gaji saya sendiri.

Terus terang walaupun saya ikhlas dan  bahagia atas kejadian itu karena telah berhasil menolong Isah,  namun saya tetap sangat heran. Bayangkan, ada uang bonus dan orang yang tak saya kenal tiba-tiba  datang ke dalam hidup saya untuk beberapa hari, lalu baik uang dan orang itupun kemudian tiba-tiba pergi lagi dalam waktu bersamaan. Persis! Jumlah dan waktunya sama. Aneh kan?. Saya menyisir diri saya sendiri. Apakah saya pernah melakukan kesalahan dalam hidup saya?  Sehingga ini mungkin bagian dari Karma Phala,  hukum sebab akibat  yang harus saya jalani? Namun saya yakin saya tidak pernah menipu, mencuri, memirat (meminjam tanpa mengembalikan)  ataupun mengambil hak orang lain. Atau mungkin dalam fase kehidupan saya sebelumnya yang tak mampu saya ingat?

Lama saya renungkan kejadian itu. Akhirnya saya pikir barangkali uang itu memang hanya numpang lewat saja di tangan saya. Berikutnya lalu saya berfikir lagi,  bahwa “Tidak keseluruhan dari Rejeki yang kita terima adalah milik kita. Sebagian diantara rejeki yang datang itu sesungguhnya adalah hak orang lain yang kurang mampu yang kebetulan diberikan melalui uluran tangan kita.” Terkadang kita mungkin hanya ditunjuk sebagai perantaranya saja. Sebagai medianya saja  dengan cara bekerja keras mencari dan menemukan pintunya,  guna menolong orang lain yang kebetulan kurang beruntung belum menemukan pintu rejeki secara langsung.  Bersyukurlah kita yang kebetulan ditunjuk untuk membantu sesama untuk menemukan pintu rejeki bagi mereka.

Untuk itu, sesungguhnya walaupun penghasilan kita tidak sebesar Gayus maupun Melinda Dee, ada baiknya bagi kita untuk selalu bersyukur  atas rejeki halal yang kita terima setiap hari dan berusaha menyisihkan beberapa % untuk sesama.  Jika sedikit yang kita terima, tetap sisihkan sedikit untuk membantu orang lain yang benar-benar kurang mampu, baik itu saudara, teman atau tetangga kita. Jika besar  yang  kita terima, idealnya lebih besar juga yang perlu kita sisihkan untuk orang lain yang kurang mampu. Ketika kita membuka pintu kebaikan bagi orang orang lain, maka pintu kebaikan bagi kitapun akan terbuka lebih lebar lagi. Saya sangat yakin itu.

36 responses »

  1. Indah sekali cerita ibu, semoga ibu diberi kebesaran hati yang indah untuk mereka dan juga saya. Saya juga merasakan keikhlasan hal sederhana yang membuat dua pihak berbahagia. Mohon bimbingannya bu.

    • Terimakasih, Pak Arief atas doanya. Saya pikir keikhlasan adalah salah satu kunci penting dalam kita menjalani hidup yang bahagia. Karena begitu kita ikhlas, kita tidak pernah mengenal arti perhitungan untung rugi. Yang kita lihat dan rasakan hanyalah keindahan dan kebahagiaan. Semuanya mengalir seirama alam. Semoga Pak Arief juga selalu berada dalam kebahagiaan.

      • Jangankan uang bu makanan yg dalam mulut kita aja belim tentu jadi milik kita sblm tertelan jadi kuncix adalah keikhlasan jika kita menjalani itu maka kita akan lebih memahami makna hidup sesungguhx

  2. Ah mbak, saya terharu baca cerita ini.
    Kagum dengan rencana Tuhan dan kebesaran hati mbak buat mengikhlaskan rezeki yang numpang lewat itu tadi…
    Mudah-mudahan Tuhan akan menggantinya dengan kebaikan berlipat ya!

  3. Perbuatan mulia sudah pasti disayang Tuhan, saya percaya 100% sekarang mbak pasti sudah menerima gantinya dari Tuhan. Semoga pahala dari Tuhan selalu mengalir kedalam keluarga mbak dan mbak sendiri selalu mematuhi perintah-perintahNya. Amin. Salam untuk keluarga.

  4. Pingback: Menjadi perantara rejeki | -ndutyke-

  5. Sy sgt trharu sekali membacany mbk, smpai sy meneteskan air mata. betul2 mbk brhati mulia menolong sesama dgn ikhlas.

  6. menyambung mbak ndutyke…seandainya paragraf terakhir mampu dan mau diucapkan oleh sebagian besar masyarakat kita. tentu tak perlu ada cerita sedih yang hadir di media massa..( terima kasih mbak nimas untuk inspirasinya )

  7. Ass Wr Wb,cerita ibu ni made sangat baik dan itu sering terjadi dalam keseharian kita,karma ( amal ) ,dlm islam dianjurkan untuk mengeluarkan 2,5% atas rejeki yang tak terduga karena itu milik anak yatim,fakir miskin(yg betul fakir miskin) du’afa janda dan orang jompo.

  8. pencerahan yang menyejukkan. ternyata silaturahim saya pada keluarga di Denpasar membuat saya tak sengaja mengenal Ibu Made melalui blog dan banyak buah pikirannya yang teduh dan sarat makna.Suksma Ibu Made.

  9. Pingback: Keping Keberuntungan Gober Bebek. | nimadesriandani

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s