Di Atas Awan..

Standard

“Ketika mendung tebal menyelimuti hidup kita, fokuskanlah pikiran pada Yang Di Atas. Karena di atas awan pasti selalu ada cahaya matahari”

Suatu hari saya melakukan perjalanan dengan seorang rekan yang baru saya kenal. Cuaca sangat buruk saat itu. Hujan disertai angin yang kencang dan mendung yang tebal. Tentu saja saya merasakan takut di dalam hati saya. Namun karena saya belum begitu akrab dengan teman perjalanan saya itu, saya hanya diam saja dan tidak berani menceitakan kekhawatiran saya itu. Teman saya juga tidak berkata apa-apa. Maka naiklah kami ke pesawat  tanpa banyak mengobrol. Sekilas saya sempat mencuri pandang pada langit yang tampak gelap gulita dari bawah.

Saat pesawat lepas landas, seperti yang telah saya duga tubuh pesawat berguncang keras begitu memasuki hamparan mendung tebal. Sebagai penumpang tentu saja tidak ada yang bisa saya lakukan selain berdoa untuk keselamatan penerbangan itu dan berusaha melemaskan perasaan tegang dengan cara memasrahkan diri padaNYA. Pesawat berguncang keras sekali lagi dan pilot memberitakan kondisi cuaca yang kurang bersahabat kepada seluruh penumpang.  Tanpa saya duga, tiba tiba teman saya meraih tangan saya dan menggenggam jemari saya erat-erat. Tentu saja saya kaget. Oh, rupanya teman saya itu takut juga. Mungkin lebih takut lagi daripada saya, sehingga tidak mampu lagi menahan dirinya untuk tidak menggenggam tangan saya.

Tangannya terasa sangat dingin dan wajahnya pucat. Walaupun saya sendiri takut, namun melihat kondisi teman saya yang ternyata lebih ketakutan lagi dari saya, maka saya pikir saya harus membantu dia mendapatkan kembali ketenangannya. Saya usap tangannya dengan jari tangan saya yang lebih hangat, sambil berbisik mencoba menghibur “ Sabar ya.. Mungkin sebentar lagi kita akan melewati cuaca ini” Kata saya, walaupun sebenarnya di dalam hati saya juga merasa sangat khawatir. Ia tak menjawab, malah semakin mempererat genggaman tangannya. Saya memang berharap lapisan mendung ini tidak terlalu tebal. Dan jika pilot berhasil membawa pesawat ini naik ke ketinggian di atasnya, semoga guncangan akan segera berhenti. Namun faktanya, pesawat seolah berjalan terseok seok dan tersandung-sandung di awan. Kabut yang tebal seolah tiada akan berakhir melintas di jendela pesawat. Jarak pandang yang sangat pendek, membuat saya merasa berada di Limbo – sebuah tempat yang kosong dan dingin, bukan di Surga dan bukan pula di Neraka – tempat konon dimana para arwah menanti kepastian akan dikirim kemana. Saya membayangkan cahaya. Cahaya yang hangat dan terang guna membebaskan saya dari perasaan gelisah dan hampa ini.

Beberapa saat kemudian, setelah berpuluh puluh menit berada dalam kegelapan awan abu-abu yang tebal, akhirnya pesawat berhasil menembusnya dan berada pada ketinggian di atas awan tebal ini. Saya melihat sebongkah cahaya matahari terbit di atas awan. “Wow! Ternyata ada matahari!” Teriak teman saya seolah kaget dan segera melepaskan genggaman tangannya. Pesawat berhenti berguncang dan kini cahaya yang terang mulai menggantikan pemandangan di jendela pesawat. Perasaan sayapun ikut terbawa. Perasaan yang ringan dan penuh harapan. Dan penuh kebahagiaan.

Memiliki perasaan indah ini dan mendengar teriakan teman saya itu, membuat saya jadi melihat kenyataan bahwa sesungguhnya matahari itu selalu ada. Terlepas apakah ia tertutup awan tebal atau tidak. Sesungguhnya ia memang selalu ada di situ dan tak henti-hentinya memberikan cahanya ke bumi. Masalahnya adalah, ketika kita berada di bawah awan tebal atau mendung yang pekat, kita tidak bisa melihat matahari. Kita bahkan lupa kalau matahari itu sebenarnya tetap ada di sana. Jadi, kalau kita mau melihat cahaya matahari maka sebaiknya kita naik ke ketinggian di atas mendung tebal itu. Maka kitapun akan melihat matahari.

Saya merenungkan kejadian ini. Sesungguhnya bukan suatu kejadian istimewa. Ini bukanlah pertama kali saya melihat kenyataan bahwa di atas langit yang mendung itu sesungguhnya masih tetap ada matahari. Namun mungkin seruan teman saya ‘ Wow!Ternyata ada matahari!’, yang membuat saya jadi benar-benar memberikan perhatian lebih pada apa yang saya lihat di atas gumpalan awan tebal. Secercah cahaya matahari diatas kegelapan. Dan entah kenapa, kali ini benar-benar membuat saya berpikir ulang tentang hidup saya kembali. Tentang bagaimana saya seharusnya menghadapi hidup.

Tak bisa kita pungkiri, bahwa dalam kehidupan setiap manusia, pasti selalu ada suatu masa bahagia dan masa lain yang penuh kesedihan. Kesulitan kesulitan dalam hidup, saya pikir sesungguhnya tak beda dengan mendung kelam yang kita hadapi di siang hari. Jika kita membiarkan diri kita tenggelam di dalamnya, kita tak mampu melihat apa apa dengan baik. Semuanya terasa hambar, kosong dan pilu. Tidak pula kita bisa berpikir dengan jernih, kapan semuanya ini akan berakhir.

Saya pikir bahwa hal pertama yang harus saya lakukan saat menghadapi mendung kehidupan ini adalah dengan menyadari bahwa matahari atau atau jalan terang itu pasti selalu ada. Masalahnya hanyalah bahwa pada saat kesulitan hidup itu datang, jalan terang tak bisa kita lihat dengan baik.

Setelah menyadari bahwa jalan terang itu pasti ada, maka langkah berikutnya adalah membuat bagaimana saya bisa keluar dari sana sehingga saya bisa melihatnya. Melihat cahaya yang terang. Untuk bisa keluar dari mendung kehidupan, tentunya saya harus naik dan meletakkan posisi saya di atas mendung. Karena itulah posisi yang paling memungkinkan kita untuk melihat cahaya terang. Sama halnya dengan pesawat yang saya tumpangi. Ia harus berusaha naik agar berada di ketinggian diatas awan gelap itu dan tidak lagi berada di jalur pekat itu. Jadi sebenarnya kuncinya adalah naik.  Naik dan naik, hingga berada diatas mendung kegelapan. Naik dalam artian, tetaplah mengarahkan tujuan saya kearah kebenaran. Pastikan bahwa apa yang saya lakukan adalah dengan tujuan yang mulia. Kebenaran. Dan jika saya menemukan bahwa apa yang telah saya lakukan ada diantaranya menyangkut ketidakbenaran, maka saya harus segera meluruskannya dan tidak membiarkan diri saya berlarut dalam perbuatan yang tidak benar. Saya harus segera meminta maaf dan berusaha keras untuk memperbaiki diri agar jalan saya bisa naik. Jika seandainya, sayapun tak menemukan kesalahan yang telah saya lakukan, saya tetap harus terus memfokuskan diri untuk membawa diri saya naik melampau awan yang gelap. Naik, naik  dan terus naik kearah kebenaran, dimana suatu saat saya pasti akan melihat cahaya yang terang.

Memikirkan itu, saya menoleh dan tersenyum ke teman di sebelah saya yang sekarang terlihat duduk dengan lebih tenang dan rileks. Saya berterimakasih kepadanya atas pencerahan tanpa sengaja yang saya dapatkan dari teriakannya ‘Wow! Ternyata ada matahari!.  Saya merasakan indahnya berada di atas awan.

2 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s