Take What You Eat, Eat What You Take. ..

Standard

Cerita Tentang Sisa Makanan Yang Ditimbang.

Seorang rekan menelpon. Ia mengajak  saya untuk hadir dalam sebuah jamuan makan siang guna  menghormati kunjungan  tamunya dari luar. Tentunya dengan senang hati saya bersedia. Selain karena kebetulan saya tidak membawa bekal makanan,  saya juga belum punya ide untuk makan  di mana siang itu. Dengan bergegas saya langsung menuju alamat restaurant yang disebutkan rekan saya itu. Lokasinya tidak jauh dari kantor saya.

Begitu saya masuk, segera saya diperkenalkan dengan kedua orang tamunya. Saya ditempatkan di sebelah tamu itu duduk. Sebenarnya agak nggak nyaman karena saya baru kenal saat itu. Tapi saya pikir barangkali untuk meramaikan suasana (karena relative saya lebih banyak berceloteh ketimbang rekan-rekan kerja saya yang lain, yang semuanya pria).  Rekan saya bilang, tidak usah memesan makanan lagi. Ia telah melakukannya untuk kami semua. Saya hanya perlu untuk memesan minuman. Saya mengerti.  Jadilah kami hanya ngobrol saja sambil menunggu makanan datang. Obrolan kiri kanan, mulai urusan kerja, makanan, dan sebagainya,   hingga cerita tentang negara sang tamu berasal. Mungkin karena mereka sangat ramah dan banyak bicara, tak terasa percakapan dengan cepat mengalir begitu saja. Kami merasa sudah menjadi kawan akrab saja yang seolah-olah sudah kenal baik sejak lama.

Tidak berapa lama, pramusaji  datang membawakan hidangan satu persatu. Sangat mengejutkan ternyata makanan yang datang jumlahnya sangat banyak. Di luar nasi putih, ada 7 jenis hidangan dan masing-masing terhidang dalam 2 porsi besar. Padahal kami hanya berenam. Saya rasa kami tidak bisa menghabiskan itu semuanya.  Wah! Usut punya usut, ternyata telah terjadi miskomunikasi antara teman saya yang memesan dengan sang pelayan restaurant yang mencatat pesanannya.

Rupanya saat pelayan mengatakan bahwa porsi setiap hidangan itu besar, teman saya meminta pelayan agar membagi tiap porsi itu menjadi 2 piring saja. Maksudanya untuk memudahkan distribusi makanan ke setiap orang. Namun pelayan rupanya salah mengerti. Ia berpikir bahwa teman saya bermaksud memesan 2 porsi untuk setiap jenis makanan yang ia pesan. Apa boleh buat. Karena telah terlanjur memesan dan barangkali tak ingin merugikan sang pelayan restaurant, teman saya memutuskan untuk  menerima semua makanan itu. Kami lalu diminta untuk  mencoba menghabiskannya.

Tamu kami bertanya, apakah di Indonesia kami selalu makan dalam jumlah yang sebanyak itu? Tentu saja saya jawab tidak.  Kemudian  saya  jelaskan miskomunikasi yang membuat mengapa jumlah makanan yang kami pesan menjadi sebanyak itu.

Berkali-kali rekan saya menyendokkan hidangan itu dan meletakkannya di piringnya dan di piring kami yang lain agar cepat berkurang. Bagaimanapun juga, tentu perut kami ada batasnya. Perasaan yang sangat kenyang sebelum semua makanan itu bisa kami habiskan. Rekan saya agaknya merasa kurang nyaman dengan situasi itu. Tapi tidak ada lagi yang bisa kami lakukan. Lalu saya menghiburnya dengan memberi ide agar meminta pelayan membungkus saja sisanya untuk kita bawa pulang. Jadi kita tidak punya beban, bahwa kita membuang buang makanan. Toh makanan itu bisa kita panaskan dan makan kembali. Kalaupun tidak mau, pasti ada orang lain yang mau.

Ketika kami selesai makan, sang tamu mengucapkan terimakasih kepada teman saya.  Kamipun tertawa  dan menggoda rekan  saya atas miskomunikasi yang menyebabkan terjadinya hidangan  yang super berlimpah itu. Kami lalu kembali ke kantor secepatnya.

Ada satu hal yang membuat saya merenung  sepulang dari makan siang itu. Yakni cerita dari salah seorang tamu tadi, tentang sisa makanan. Mereka sangat menaruh concern akan makanan. Mereka sangat sensitive terhadap orang-orang yang kurang mampu dan tidak makan. Ia bercerita, di tempatnya, perusahaan menyediakan kantin khusus untuk karyawan. Namun karyawan diminta hanya untuk mengambil makanan seperlunya  saja, sesuai dengan yang dibutuhkan. Dan jika sudah mengambilnya, maka mereka harus memakannya habis tanpa sisa. Take what you eat and eat what you take! Begitulah kira-kira.  Tiap makanan yang tersisa diatas piring akan ditimbang oleh petugas dan dijumlahkan setiap hari. Hasilnya diinformasikan kepada seluruh karyawan “HARI INI KITA TELAH MEMBUANG MAKANAN DENGAN SIA SIA SEBANYAK XXX KILOGRAM”. Ditulis besar-besar di dinding kantin,  dan disertai dengan informasi jumlah orang yang hari ini kelaparan dan tak mampu makan. Sehingga, dengan melihat informasi itu, kitapun akan merasa sangat berdosa jika mengambil makanan lebih banyak dari yang sesungguhnya kita butuhkan. Apalagi jika kemudian tidak kita habiskan  dan sisakan di piring. Tentu orang lain tak bisa memakannya. Jika kita tidak seserakah itu, tentu sisa makanan  yang masih dalam keadaan baik (bukan sisa dari piring orang lain) bisa diberikan kepada para fakir miskin dan  orang –orang yang tak mampu makan. Karena sisa makanan di kantin yang masih baik dan tak dimakan oleh karyawan, setiap hari dikirimkan ke panti sosial atau rumah para fakir miskin.

Saya terpesona oleh cerita itu. Sungguh sangat salut pada pimpinan perusahaan yang telah mengambil kebijakan sedemikian baiknya. Bukan saja membantu orang lain yang tak sanggup makan, namun juga sekaligus membantu memberi pemahaman kepada orang-orang lain agar lebih peka dan lebih sensitive terhadap issue issue sosial di sekelilingnya.

“Sungguh tidak baik membuang buang sisa makanan, sementara orang-orang di sekeliling kita tak mampu makan”. Saya rasa, sangat banyak orang yang tahu dan paham sekali dengan hal itu. Namun berapa persen diantaranya yang perduli? Berapa persen diantaranya yang benar-benar mewujudkan kepeduliannya dalam bentuk tindakan yang nyata? Mendisiplinkan dirinya untuk melakukan itu dan juga menganjurkan orang lain untuk berbuat sama demi kemanusiaan? Termasuk diri saya sendiri. Walaupun tidak sering, namun beberapa kali saya ingat, saya juga pernah menyisakan makanan di piring saya. Dan fakta itu membuat saya merasa bersalah.

Hari itu saya pulang dengan tekad.  Bukan saja memaksa diri saya untuk mengikuti teladan yang diberikan oleh pimpinan perusahaan itu, namun saya juga memastikan diri akan membagi cerita ini ke kekeluarga saya dan sahabat-sahabat saya agar mereka juga bisa membantu mengurangi ‘kesia-sian’ dalam hidup.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s