Dunia Hanya Selebar Daun Kelor.

Standard

Barack ObamaDalam sebuah perjalanan pulang kampung ke Bali, saya duduk di sebelah seorang anak muda yang tidak saya kenal. Namun karena ia ramah, maka dengan cepat kami berteman dan mengobrol di sepanjang penerbangan. Rupanya ia seorang dokter yang belum lama lulus dan ingin mengembangkan karirnya di Ibu kota. Sambil ngobrolpun ia berusaha menanyakan informasi beberapa rumah sakit swasta di Jakarta. Saya memberikan informasi hanya sebatas pengetahuan saya saja.

Ketika tiba di Bandara Ngurah Rai, kami berpisah karena saya perlu merapikan diri saya di rest room.  Namun di tempat pengambilan bagasi tiba-tiba saya bertemu lagi dengan dokter muda itu. Kali ini ia bersama dengan seorang gadis Irlandia yang segera diperkenalkannya kepada saya. Ia menjelaskan bahwa gadis itupun baru ia kenal sebelumnya saat sama sama tidak memiliki teman di ruang tunggu bandara Sukarno Hatta. Sedang melakukan perjalanan sendirian dengan cara estafet dari Dublin ke Denpasar. Jadi ia ajak ngobrol. Saya pun mengobrol dengan gadis itu. Rupanya ia seorang tenaga teknis di laboratorium sebuah perusahaan kosmetik raksasa dunia yang berpusat di Dublin.

Seketika saya teringat akan seorang sahabat saya yang berkebangsaan Irlandia yang juga bekerja di perusahaan itu. Lalu saya tanyakan apakah ia mengenalnya? Gadis itu sangat terkejut. Karena sahabat  yang saya sebutkan itu ternyata justru adalah atasan langsungnya di perusahaan itu. Dan kebetulan sekali, saat pamit mau liburan ke Bali, sahabat saya itu sempat memberikan informasi tentang diri saya.   Ia menyarankan untuk menelpon saya jika ia membutuhkan sesuatu atau menemui kesulitan selama di Indonesia ataupun di Bali. Ia pun menyimpan nomor telpon saya. Ajaibnya, sebelum ia sempat menelpon, rupanya kami malah dipertemukan tanpa sengaja di bandara Ngurah Rai. Padahal saya yang sehari hari tinggal di Jakarta, tidak setiap saat ada di Bali. Wah! Bisa begitu ya? Saya sangat surprise dengan kejadian itu. Dunia memang selebar daun kelor!.

Kalau dipikir pikir ungkapan itu memang benar adanya. Dunia itu sempit. Seringkali kita berkenalan dengan  seseorang yang ternyata kenal dengan sahabat  kita. Jadi, selama ini  penyelak diri kita dengan kenalan baru itu  hanya satu orang saja, yakni sahabat kita. Atau bisa juga kita berkenalan dengan seseorang yang kenal dengan orang lain yang mengenal baik  saudara kita. Dalam kasus ini berarti penyelak antara kita dan  orang baru itu sebenarnya cuma ada 2 orang. Yakni saudara kita dan temannya yang kenal dengan orang yang baru kita kenal itu. Wah! Pendek ya, jaraknya?

Urusan kenal mengenal ini banyak kita manfaatkan  di jejaring  sosial seperti Facebook maupun  Twitter. Bila kita ragu menerima pertemanan dengan seseorang, dengan mudah kita bisa mengintip  adakah orang lain yang kita kenal juga kenal dengan orang yang bersangkutan? Jika ada, tentunya kita akan merasa lebih aman untuk menerima pertemanan. Jika tidak, mungkin kita cenderung untuk tidak menerima pertemanan itu. Kecuali jika kita memang punya pertimbangan lain mengapa harus menerima pertemanan dengan orang yang tak satupun dikenal oleh kenalan kita.

Di jejaring professional LinkedIn, kita malah bisa melihat tingkat langkah kontak (contact degree). Jika hubungan kita di tingkat 1 berarti orang itu adalah kontak langsung kita. Artinya, ya kita berteman dengan orang itu tanpa ada seorang penyelak diantaranya. Jika  hubungan kita ada tingkat 2,  berarti ada seseorang  yang kita kenal di jejaring itu yang juga kenal dengan orang itu. Dan seterusnya. Ini sangat memudahkan dan sekaligus juga memberikan gambaran bahwa betapa sempitnya dunia jika kita pandang dari sisi sosial.

Memikirkan itu saya jadi tertawa geli dalam hati. Jangan-jangan penyelak antara saya dengan presiden Barrack Obama hanya 2 atau 3 orang saja. Hahay! Siapa tahu? Barangkali ada temannya Barrack Obama di Menteng itu yang kenal dengan seseorang yang kenal  dengan saya. Jadi jika menggunakan tingkat kontak, barangkali Obama ada di langkah kontak saya yang ke 3 atau ke 4. Atau bahkan kurang?  Bisa saja kan?

Atau  barangkali ternyata Prince William  kenal dengan seseorang yang kenal dengan salah seorang rekan kerja saya di sebuah perusahaan personal care Manchester, dimana saya pernah bekerja sebelumnya di perusahaan yang berpusat di sana.  Bisa juga begitu. Wah, kalau itu benar-benar terjadi, sebenarnya hubungan kita dengan para pesohor dunia  itu bisa jadi memang pendek. Barangkali kita saja yang tidak sadar dan kurang memanfaatkan network itu.

Obralan saya tentang presiden Barrack Obama & pangeran William mungkin memang sedikit agak berlebihan. Namun poin saya disini adalah, bahwa sebenarnya jaringan pertemanan dan hubungan membuat dunia serasa sangat kecil. Jika kita mau, sebenarnya dengan mudah kita mencari informasi tentang orang orang tertentu lewat jaringan jaringan kita. Dengan sangat mudah kita bisa mencari dukungan lewat jaringan itu. Dan sebagainya.  Namun sebaliknya, dengan sangat mudah juga jaringan akan memperbesar gaung sisi negatif kita, jika kita tidak  melakukan hal yang positif.

Teknologipun membuat jaringan menjadi semakin pendek.  Semuanya telah ada di sana dengan mudah dan cepat. Jika kita berbuat baik, maka dengan mudah semua informasi itu akan menyebar ke seluruh jaringan kita. Sebaliknya jika kita kurang baik, maka berita negative  itupun akan dengan mudah menyebar di jaringan kita. Sekarang tinggal bagaimana kita memanfaatkannya dengan baik.  Saya membayangkan betapa hebatnya jika jaringan ini bisa kita manfaatkan untuk keperluan marketing. Atau keperluan lain yang positive. Minimal agar kita tidak dimanfaatkan secara negative oleh jaringan tersebut.

sumber gambar: wikipedia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s