Pikiran Positive Dan Negative Dalam Keseharian.

Standard

Kisah Nasi Goreng Yang Terlalu Lembek.

Pernah pada suatu ketika di rumah saya bekerja 2 orang pembantu rumah tangga.  Ke dua orang ini saya perlukan, karena sehari-hari saya tidak sempat mengerjakan pekerjaan rumah tangga dengan baik akibat dari kesibukan kantor yang menyita waktu saya dari pagi hingga malam hari. Sementara urusan rumah tangga harus tetap ter’manage’ dengan sama baiknya dengan urusan kantor.

Untuk memudahkan, saya sebut saja 2 orang pembantu rumah tangga ini dengan nama Ibu Tati dan Mbak Ani. Kedua orang ini bekerja dengan sangat baik dan professional. Mereka juga tidak hitungan kalau urusan kerja. Sehingga secara umum saya puas dan senang dengan jasa yang diberikannya kepada saya & keluarga saya. Kelihatannya mereka juga happy menyediakan jasanya untuk keluarga saya. Namun ada satu hal yang saya perhatikan, ternyata kedua orang ini memiliki sifat yang berbeda. Yakni dalam mengembangkan sikap positif dan negatif dalam dirinya.

Salah satu contohnya adalah pada suatu hari Minggu pagi. Selepas sarapan nasi goreng, saya memanggil Ibu Tati   untuk membantu membereskan meja makan dan mengangkat piring yang kotor. Seperti biasanya, kesempatan itu juga saya manfaatkan untuk berbincang- bincang dengannya. Tentang apa saja, mulai dari urusan dapur, kebersihan rumah, anak-anak, tukang sayur dan sebagainya. Hari itu keihatannya tidak ada banyak cerita, namun tiba-tiba saya teringat bahwa saya baru saja mengganti merk beras yang saya beli dan menemukan bahwa nasi yang dimasak hari itu terasa  lebih lembek daripada biasanya. Nasi yang terlalu lembek tentunya kurang baik teksturnya jika dijadikan nasi goreng. Saya lalu menyampaikan hal itu kepadanya.

“Nasi goreng pagi ini terasa agak lembek.” Kata saya memulai. Namun sebelum sempat menyelesaikan kalimat saya, Si Ibu memotong.

O ya Bu. Itu Mbak Ani yang membuat. Harusnya sih kalau saya yang menyiapkan, hasilnya tidak pernah seperti itu”. Katanya. Saya membaca kekhawatiran di wajahnya. Kekhawatiran itulah yang rupanya memicu Ibu Tati untuk melindungi dirinya dengan segera mengatakan bahwa itu bukanlah kesalahan dirinya. Tapi saya tahu, bahwa ia sesungguhnya belum mengerti arah pembicaraan saya. Barangkali  ia mengira bahwa saya tidak puas dengan hasil pekerjaannya dan merasa khawatir karenanya. Saya jadi geli akan jawabannya itu. Tentu saja saya tidak sedang mencari pelaku kesalahan. Lalu saya menjelaskan bahwa beras yang saya beli kemarin itu merknya berbeda dan rupanya jika dimasak dengan menggunakan takaran air yang sama dengan biasanya, tentu akan menghasilkan nasi yang lebih lembek. Maksud saya, bahwa jika kita memasak beras baru ini maka kita perlu mengurangi takaran airnya agar nasi tidak menjadi terlalu lembek. Jadi,  kitalah yang harus menyesuaikan cara memasak kita terhadap jenis bahan yang akan kita masak. Ibu Tati pun akhirnya mengerti apa yang saya maksudkan.

Setelah itu saya memeriksa tanaman saya di halaman belakang dan melihat Mbak Ani sedang menjemur pakaian sambil bersenandung riang seperti biasanya.  Sayapun teringat lagi akan urusan beras baru itu dan ingin memberikan  brief yang sama kepadanya agar siapapun yang masak nasi, nantinya mengerti caranya bahwa ia perlu mengurangi takaran airnya. Kalimat saya sama  kepadanya “Nasi goreng pagi ini terasa agak lembek.” Kata saya memulai. Dan persis, sebelum saya selesai berbicara, iapun memotong kalimat saya “ O ya Bu. Saya pikir mungkin kita perlu mengurangi takaran airnya kalau nanti masak lagi. Soalnya beras ini agak beda dengan yang sebelumnya” Katanya dengan pasti. Sama-sama memotong kalimat saya, namun jawaban Mbak Ani berbeda dengan yang disampaikan oleh Bu Tati. Mbak Ani sama sekali tidak berusaha melindungi dirinya atas tragedi nasi lembek itu, namun malah menyampaikan pemecahan masalahnya.

Semula saya berpikir, tentu ia begitu karena seperti yang disampaikan Bu Tati bahwa Mbak Ani-lah yang menyiapkan nasi goreng itu. Lalu sayapun melanjutkan. “Ya, benar. Maksud saya begitu cara masaknya.  Memang yang masak siapa?” Tanya saya agak sedikit ingin tahu. “Yang menanak nasinya sih BuTati, Bu. Tapi yang menggorengnya tadi saya.  Tapi saya sudah tahu bahwa nasi itu lebih lembek dari biasanya sejak  baru matang” terangnya sambil melanjutkan menjemur pakaian dengan santai.

Sebenarnya urusan nasi lembek itu bukanlah hal yang terlalu penting untuk saya pikirkan berlama-lama. Namun respon ke dua orang itulah yang membuat saya merenung. Pasalnya, ini bukan pertama kalinya saya perhatikan bahwa Bu Tati menjawab pertanyaan-pertanyaan saya dengan cara yang sangat defensive dan cenderung mencari kambing hitam permasalahannya. Dan tentunya yang jadi korban tertunjuknya adalah Mbak Ani. Sedangkan Mbak Ani saya perhatikan cenderung merespon pertanyaan-pertanyaan saya dengan lebih netral, apa adanya dan selalu berusaha berfokus pada pemecahan masalahnya. Tak sekalipun saya pernah mendengar Mbak Ani menunjuk langsung kepada Bu Tati jika ada kesalahan atau kekeliruan yang telah terjadi. Kecuali jika saya tanyakan, siapa yang melakukannya. Ia akan memberi keterangan apa adanya, baik jika yang melakukan kesalahan itu adalah Bu Tati maupun dirinya sendiri.

Perbedaan  cara merespon dari kedua orang ini sungguh bisa kita jadikan pelajaran dalam kita berpikir dan bersikap sehari-hari . Baik dalam pergaulan di rumah, di lingkungan kerja maupun di masyarakat. Pikiran yang terlalu khawatir dan terancam, terkadang memicu kita mencari cara dan upaya untuk melindungi diri kita sendiri, sehingga tanpa kita sadari membuat kita bersikap negative terhadap orang lain. Hal ini tidak saja buruk bagi diri kita sendiri, namun bisa jadi juga tidak menyenangkan bagi  orang lain yang mendengarnya.  Jika kita mampu mengatasi pikiran ini, dan berfokus pada bagaimana mencari jalan keluarnya dan bukan siapa kambing hitamnya, maka hal ini akan membuat kita menjadi lebih positive, tidak terlalu merasa khawatir dan bahkan lebih menyenangkan bagi orang lain.

Hari ini saya merasa sangat berterimakasih kepada ke dua orang yang bekerja di rumah saya itu. Yang telah menunjukkan kepada saya 2 hal kontras yang bisa berkembang dalam setiap hidup manusia. Pikiran & Sikap Negative dan Positive terhadap suatu masalah yang sama. Sekarang tinggal yang mana yang akan kita pilih untuk kita jalani.

Related articles:

https://nimadesriandani.wordpress.com/2011/01/12/mengenai-hambatan-dan-peluang-%e2%80%93-kisah-jeruk-manis-shantang-daun/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s