Cerita Perjalanan – Menempuh Penerbangan Berbahaya Dalam Kabut Asap.

Standard
Equator Monument, Pontianak

Image via Wikipedia

Beberapa saat yang lalu saya melakukan perjalanan dinas ke Pontianak. Saya berangkat pukul 06.00 pagi dengan menumpang pesawat Garuda. Rencananya pesawat akan mendarat di Bandara Supadio pada pukul 07.25 pagi. Pada awalnya semua berjalan lancar dan  cuaca cerah. Namun begitu mendekati kota bumi katulistiwa tersebut, tampak dari jendela pesawat, asap yang sangat tebal dan pekat menutup jarak pandang. Suara pesawat menderu agak aneh di telinga saya. Entah kenapa, perasaan saya menjadi tidak enak.

Namun demikian pesawat tetap berusaha bergerak turun ke depan dalam kabut pekat. Sesaat kemudian terdengar suara pilot memberikan informasi akan mendarat. Pesawat terus bergerak  dan kemudian saya merakan gerakan pesawat menikung. Saya menahan nafas. Walau penuh penumpang, ruang pesawat terasa sunyi. Pesawat berputar dan bergerak terus seolah mencari celah pendaratan yang tak berhasil ia temukan. Setelah cukup lama berputar putar di udara, akhirnya pilot memberikan pengumuman. Karena jarak pandang yang terbatas akibat tebalnya asap hasil kebakaran, pilot belum berhasil mendarat. Ketegangan di wajah para penumpang  terlihat meningkat. Sang pilotpun meminta maaf dan menambahkan informasi bahwa saat itu pesawat memilki extra bahan bakar untuk terbang selama 30 menit lagi. Pilot menyatakan akan mencoba berputar sambil menunggu jarak pandang membaik yang aman untuk melakukan pendaratan.

Diam-diam saya memikirkan arti kalimat pilot itu. Bahwa “pesawat saat ini memiliki extra bahan bakar untuk terbang selama 30 menit lagi”. Apakah maksudnya?

1. Apakah pesawat memang hanya memiliki extra  alias sisa bahan bakar untuk terbang selama 30 menit lagi? Apakah ‘Extra’ yang dimaksud adalah extra dari jumlah bakar standard yang ia perlu bawa untuk penerbangan Jakarta- Pontianak ? Lalu apa yang akan terjadi jika pilot tak mampu mendaratkan pesawatnya dalam batas waktu 30 menit itu? Apakah berarti mesin pesawat akan mati ? Dan kemudian pesawat akan jatuh? Dan kami semua penumpang akan mati?. Terus terang saya agak bingung memahaminya. Lalu saya berpikir, jika memang bahan bakar sisa yang dimiliki hanya cukup untuk terbang selama 30 menit lagi, apakah tidak ada kemungkinan bagi pesawat untuk di daratkan di Bandar udara terdekat yang memiliki jarak tempuh 30 menit atau kurang? Saya memikirkan bandara di Palembang atau Batam. Mungkin kedua bandara itu memiliki jarak tempuh setengah jam dari Pontianak.  Namun saya tidak tahu apakah bandara bandara itu mengalami masalah kabut asap serupa juga saat ini?. Mengapa pilot tidak mengambil keputusan untuk mendarat darurat di bandara lain? Perasaan takut dan khawatirpun merayap dalam hati saya.

2.  Ataukah pesawat memiliki  bahan bakar untuk terbang ‘extra’ selama 30 menit lagi  (diluar bahan bakar  standard yang ia miliki untuk balik kembali ke Jakarta ). Apakah maksudnya ia akan berusaha dulu selama 30 menit dan jika tidak berhasil ia akan membawa kami ke kembali Jakarta?

Para penumpang yang telah tegang sejak beberapa saat tadi, terlihat merespon pengumuman pilot dengan berbondong bondong ke toilet. Saya tidak tahu, apakah karena mereka memang telah menahan kencing terlalu lama, ataukah karena stress akibat ketegangan suasana itu.

Beberapa belas menit kemudian pilot memberi pengumuman, bahwa jarak pandang kini agak membaik dan ia akan berusaha mendarat lagi. Terasa pesawat turun dengan hati hati dengan suara menderu, semakin rendah dan semakin rendah namun tiba-tiba pesawat berbalik naik dengan kecepatan tinggi yang sangat mengejutkan. Seketika saya tahu, bahwa kali inipun sang pilot gagal lagi. Suasana dalam ruang penumpang menjadi sangat mencekam. Wajah-wajah yang khawatir dan beberapa diantaranya mengucapkan doa-doa keselamatan. Menit demi menit  berlalu penuh ketegangan. Waktu terasa sangat menekan.

Kembali terdengar suara pilot yang meminta maaf lagi karena pesawat tidak berhasil mendarat dengan baik dan menginformasikan kembali bahwa pesawat masih memiliki extra bahan bakar untuk terbang selama 10 menit lagi. Tetap tak mampu memahami maksud sang pilot, mengenai apa yang akan terjadi jika dalam 10 menit pesawat tak mampu mendarat, saya pun merenung.

Teringat akan orang-orang yang saya kasihi. Kedua anak saya yang masih kecil dan suami saya. Saudara dan keluarga saya di Bali serta orang orang yang saya cintai. Saya melirik hand phone saya yang mati. Betapa inginnya saya mengirim pesan kepada mereka yang bisa saya hubungi untuk mengucapkan selamat tinggal & terimakasih atas cinta kasihnya kepada saya selama ini. Namun niat itu saya urungkan, mengingat bahwa tindakan saya itu mungkin akan semakin membahayakan keselamatan penumpang lain. Saya juga teringat akan seorang rekan kerja saya yang juga rencananya berangkat dengan pesawat lain sejam setelah saya. Semoga ia dan pesawatnya selamat.  Saya tidak bisa berbuat apa-apa kini. Selain berpasrah diri padaNYA & berdoa sepenuh hati saya agar pilot diberikan kemampuan untuk melakukan pekerjaannya dengan baik.

Ternyata memasrahkan diri padaNYA memang selalu merupakan tindakan terbaik di saat-saat apapun juga. Ketenangan saya pulih kembali. Kalaupun saya harus mati saat itu saya yakin, mereka semua tahu bahwa saya sangat mencintai mereka. Dan itu membuat saya tenang dan merasa siap akan apapun yang terjadi. Namun anehnya tiba-tiba saya merasa yakin bahwa saya akan selamat dalam perjalanan ini.  Seorang Bapak yang duduk di sebelah saya dengan sangat khawatir  menatap wajah saya dan bertanya, apakah saya tidak merasa takut? Mengapa wajah saya tidak menunjukkan ketakutan?  Saya menjawab bahwa saya sudah pasrah. Tentu saja saya takut, namun apa yang bisa saya perbuat lebih baik lagi selain berpasrah diri?

Beberapa menit kemudian pilot menginformasikan bahwa jarak pandang sekarang sedikit membaik dan ia akan melakukan usahanya yang  terakhir untuk mendaratkan pesawat di bandara itu. Pilot lalu mengambil ancang ancang dan pesawatpun menurun kembali dalam kabut tebal dengan suara menderu. Beberapa menit kemudian saya merasakan ban pesawat menyentuh landasan bandara diiringi ucapan lega penuh puji syukur dari seluruh penumpang yang akhirnya berhasil selamat mendarat. Saya memanjatkan doa syukur dan terimakasih saya padaNYA. Lepas sudah ketegangan pagi itu. Jam tangan saya menunjukkan pukul 08.30. Jadi sebenarnya kami telah berputar-putar di udara di atas bandara Supadio dalam kabut asap tebal selama satu jam. Saya sangat berterimakasih kepada pilot & seluruh crew pesawat Garuda yang telah melakukan tugasnya dengan baik dalam kondisi udara seburuk itu.

Sesampainya di ruang bagasi, orang pertama yang saya hubungi adalah rekan saya yang rencananya berangkat juga ke Pontianak dengan Lion Air sejam setelah saya. Saya sangat mencemaskannya. Syukurnya, pesawat tersebut keberangkatannya ditunda.  Lega rasanya. Segera saya mengangkat koper saya dan menemui rekan kerja yang telah menunggu & menjemput saya di bandara.

Darinya saya mendengar bahwa beberapa pesawat lain yang dijadwalkan mendarat pagi itu tidak ada yang berhasil mendarat. Batavia Air kembali ke Jakarta setelah gagal mendarat. Sri Wijaya Air terpaksa mendarat darurat di bandara di Palembang. Pesawat Garuda yang saya tumpangi adalah pesawat yang pertama berhasil mendarat pagi itu. Ternyata kabut asap akibat pembakaran berhektar-hektar ladang  maupun hutan di Kalimantan itu memang sangat membahayakan penerbangan & nyawa para penumpang. Kapankah pembakaran-pembakaran  itu akan berakhir?

2 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s