Kisah Apel Yang Menangis.

Standard

Sejak kecil saya sangat suka menggambar.  Menggambar apa saja.  Apa saja yang saya lihat. Apa saja yang ada dalam pikiran saya.  Waktu kecil saya juga suka menghadiahkan gambar-gambar saya kepada orang yang saya cintai. Tak perduli, gambar saya bagus atau tidak dilihat oleh orang lain, saya tetap menggambar dan menggambar.  Kesukaan saya akan menggambar ini kemudian menyebabkan saya sempat bertemu dengan seorang guru  sekolah yang bersedia mengajarkan saya  seni  grafis selama beberapa hari.  Walaupun hingga sekarang saya belum mahir juga dan tidak  berkesempatan lagi bertemu dengannya, namun ada yang saya ingat tentang teman saya itu.

Suatu siang, sebelum ia mengajarkan kepada saya  untuk melakukan sebuah teknik grafis,  ia bertanya kepada saya tentang  buah Apel. Layaknya sebuah brainstorming sebuah karya kreatif,  ia mengajak saya untuk memikirkan apa-apa saja yang saya imajinasikan jika seseorang menyebut kata “Apel” di depan saya.  Imajinasi  yang segera keluar dari pikiran saya adalah

Kesegaran daging buahnya yang  renyah menggiurkan hingga membuat air liur saya menetes. Warnanya yang merah dalam dan mulus terlihat sangat indah. Rasanya yang  manis asem menyegarkan. Kota Malang yang sejuk dan dingin. Apel Malang yang hijau kekuningan. Apel  yang terbungkus jaring-jaring buah untuk menahan benturan yang sedang diobral di sebuah super market . Pohon yang rindang dengan dahan lentur penuh buah di halaman parkir di sebuah kota dingin di Inggris.  Pohon  yang batangnya besar dan daunnya rimbun  mirip pohon beringin  tapi  buahnya banyak, dalam buku-buku komik anak-anak

“Apa lagi?” Tanyanya.

“Juice  dingin yang disajikan oleh seorang pramugari cantik di pesawat”.

“Apa lagi?. Yang beda dari hanya sekedar buah apel yang menggiurkan itu!”  tanyanya lagi.

“Warna coklat menjijikkan  pada sisa gigitan di buah apel akibat proses oksidasi” kata saya.

“ Apa lagi?” Tanya teman saya terlihat belum puas.

“ Shampoo kanak-kanak dengan wangi apel.  Wangi pembersih lantai. Permen manis rasa Apel yang empuk. Fuity Yughurt rasa dengan potongan buah apel. Mmm   yummy!!!. Salad. Salad buah apel dengan mayonaise . Pie apple yang enak. Tartlet buah apple dan strowberry.” kata saya menambahkan seraya membayangkan enaknya. Slrp.. weh, laper jadinya.

“ Apa lagi?” Masih belum puas juga.

“Putri Putih Salju yang makan buah apel pemberian ibu tirinya yang sirik. Lalu diselamatkan oleh pangeran tampan yang mencintainya”. Kata saya tertawa.

“Apa lagi?”

Apa lagi?Waduuhhhh.. apa lagi ya..– bathin saya. Rasanya sudah habis.

“Mmm…  seorang  graphic designer yang sedang presentasi dengan laptopnya yang berlogo Apple”  Kata saya. Sedikit lega  karena merasa akhirnya berhasil membayangkan sesuatu yang berbeda dari  hanya sekedar buah apel dan rasa dan wanginya yang menggiurkan itu.

Lalu teman saya itu bercerita bahwa memang dari hanya sebuah kata Apel saja, banyak hal yang bisa kita bayangkan dan tumpahkan dalam sebuah karya grafis. Kalau kita menggali dan terus menggali maka akan semakin banyak yang kita temukan dan jadikan bahan kreasi. Saya manggut manggut setuju atas pendapatnya itu. Sesaat kemudian ia mengajak saya untuk mencoba memikirkan hal yang beda lagi.

Tadi kan apa yang kita bayangkan adalah suatu hal yang berdasarkan  kenyataan sehari-hari yang kita temukan di sekitar kita. Sekarang coba kita bayangkan sesuatu yang sebenarnya tidak ada dalam kehidupan nyata kita. Lalu kita jadikan ia menjadi nyata dalam kertas maupun kanvas”.

“Maksud?” Tanya saya.

“ Pernah membayangkan sebuah Apel yang sedang  menangis? . Ayo kita membuat Apel yang menangis“ ajaknya.

“Hah?” saya tertawa. Tentu saja tidak pernah. Mana ada Apel bisa menangis? Itu tidak ada dalam dunia nyata. Dan oleh karenanya  saya tidak pernah membayangkannya.

Menurutnya, mendasarkan kreatifitas pada alam nyata akan  mengarahkan kita menjadi seorang naturalist. Sesuatu yang bagus dan masuk akal. Mudah dicerna dan dipahami orang lain. Namun kelemahannya adalah, karena sangat mudah dibayangkan, maka semua orang bisa membayangkan dan membuatnya. Itu akan membuat karya kita menjadi sangat biasa dan tidak istimewa. Jika kita mau berbeda, maka kita harus membayangkan sesuatu yang tidak biasa. Eksplorasi di alam pikir yang jarang dijelajahi oleh orang lain. Absurditas!.  Ini akan membantu menciptakan sebuah keistimewaan.

“Misalnya ya itu…. apel yang menangis, atau apel yang sedang naik sepeda. atau… apel yang … what everlah.. sesuatu yang tidak kita lihat dalam kenyataan sehari-hari kita.”. Kata teman saya sambil mengcopykan gambar-gambar apel dan gambar-gambar mata untuk saya pilih dan gunakan dalam latihan berkreasi membuat ‘apel yang menangis’.

“Kreatifitas bukan saja berarti dari menciptakan sesuatu yang sama sekali baru, dari yang tidak ada menjadi ada, namun bisa juga berarti menciptakan sesuatu yang berbeda dari apa yang telah dipikirkan dan diciptakan oleh orang lain sebelumnya. Build idea on idea” katanya menambahkan lagi.

Tak lama kemudian, setelah melakukan beberapa teknis grafis yang ia ajarkan, berhasillah saya membuat percobaan “Apel Yang Menangis” saya yang pertama dari gambar apel dan gambar mata yang sebelumnya terpisah.

Sebenarnya  apa yang disampaikannya kepada saya tentang ‘berpikir dengan cara lain’ itu bukanlah hal yang baru. Selama inipun saya sudah tahu.  Bahwa untuk menghasilkan sesuatu yang berbeda kita memang harus berpikir dngan cara yang berbeda. “Thinking Out of The Box” begitulah kata orang. Tahu sih tahu. Namun sebenarnya  selama ini saya tidak pernah memikirkan dan menghayati pengetahuan itu dengan baik. Begitu teman saya mengajak membuat “Apel Yang Menangis”, saya baru merasa bahwa ada seseorang, yang dengan cara sederhana benar-benar mengajak saya untuk mengaplikasikan  konsep “Thinking Out of The Box” itu. Untuk mengasah pemahaman atas sesuatu, terkadang kita memang membutuhkan orang lain untuk menjadi ‘coach’ kita yang membantu mengingatkan kita selalu atas pemahaman yang telah kita miliki sebelumnya.

Hari itu saya melangkah dengan hati riang.  Semoga setiap kali saya membutuhkan ide kreatif baik dalam pekerjaan maupun kehidupan saya sehari-hari, saya teringat akan dasar pemikiran  saat teman saya mengajak belajar membuat Apel yang menangis ini. Dan tentunya nanti,  saya akan lebih suka membuat apel yang tertawa bahagia….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s