Mendadak Kaya vs Mendadak Miskin.

Standard

Suatu hari saya menengok seorang kerabat yang sedang sakit. Syukurlah saat saya datang, kondisi kesehatannya sudah mulai baik. Beliau terlihat senang melihat saya datang. Kami ngobrol ke kiri ke kanan. Mulai dari urusan sakitnya, tetangga, politik hingga  urusan  para kenalan dan kondisi keuangannya yang memburuk sejak pensiun. Kerabat saya itu berpendapat bahwa kemelorotan financial akibat kehilangan pekerjaan mengakibatkan beban psikis yang cukup berat.  Dan menurutnya, tidak semua orang mampu menghadapi hal ini. Kondisi keuangan yang buruk,  yang tiba-tiba datang begitu saja. Jauh berbeda dari kebiasaan hidup nyaman berkecukupan saat masih berjaya, memiliki pekerjaan ataupun usaha. Dibutuhkan sebuah kekuatan mental bagi seseorang untuk menghadapi kemelorotan financial, jika itu memang terjadi.

“Ketika kita sedang Berjaya dan memiliki uang, hidup kita sangat berbeda. Kita sangat percaya diri. Banyak orang yang mengerubungi kita. Membutuhkan bantuan baik secara moral maupun financial. Teman kita banyak. Hampir setiap hari ada saja yang datang ke rumah. Kadang hanya untuk mengobrol hal-hal yang tak penting hingga berjam-jam.” Katanya. Saya mendengarkan dengan baik dan berpikir bahwa apa yang dikatakannya benar adanya.

“Tapi coba kita perhatikan, begitu kita tidak lagi memiliki uang, satu persatu teman kita menghilang. Jangankan datang ke rumah untuk  ngobrol, bahkan ditelponpun tidak diangkat. Apa disangkanya kita akan meminta  uangnya?” Lanjutnya lagi. Saya merasa prihatin juga. Menurutnya memang banyak sekali hal yang menyedihkan yang terjadi jika kita mendadak menjadi miskin. Mulai dari kehilangan teman; penurunan daya beli; pengorbanan gaya hidup – dulu selalu memakai barang bermerk International, sekarang terpaksa menggunakan barang-barang tak bermerk; perasaan malu dan minder dalam pergaulan dan sebagainya. Sehingga tidak heran, banyak orang yang segera sakit ketika jatuh miskin. Post power syndrome!.

“Secara mental, dari miskin menjadi kaya itu mudah. Tapi dari kaya menjadi miskin itu jauh lebih sulit”. Katanya menutup pembicaraan. Saya menyimpan kalimat-kalimat pembicaraan itu dalam hati saya dengan baik.

Di kesempatan lain saya pernah  menumpang bepergian pada kawan saya. Saya duduk di sebelah kawan saya yang sedang nyetir. Tiba-tiba sebuah sepeda motor menyalip kami dari samping dan melaju zig zag di depan kami. Kalau saja teman saya itu melaju agak sedikit lebih cepat, tentu pengendara motor itu terkena. Teman saya kaget dan langsung mengumpat. Tapi percuma saja, karena yang diumpat sudah jauh meninggalkan kami.

“Ini orang gila, kali!.Tidak bisa berkendara,tapi maksa bawa motor di jalan raya” Sungutnya. Mungkin ada benarnya juga dia. Tidak habis pikir juga saya, bagaimana pengendara itu bisa berbuat sesembrono itu di jalan raya yang sangat besar kemungkinannya akan membahayakan nyawanya sendiri.  Bagaimana kalau ia celaka?

“Susah sih!  Itu orang, sok banget. Mungkin dulunya biasa jalan atau naik angkot. Baru bisa beli sepeda motor  saja sudah merasa dirinya yang paling top. Mampu membeli kendaraan, tapi mentalnya tidak siap. Itu cirri-ciri orang yang baru kaya”. Saya hanya terdiam mendengarkan kemarahan kawan saya itu. Lalu iapun bercerita kepada saya tentang kawannya yang juga berprilaku serupa itu. OKB, alias Orang Kaya Baru.

“Wadduuuhh itu.. gayanya tiba-tiba berubah. Sok banget. Dulunya yang biasa datang ke aku minta tolong ini itu, pinjam sana sini.. . Makan aja susah. Sekarang? Sejak ia mampu beli  apartment dan beli mobil… wah!. Menyapa aku aja nggak pernah. Lupa kalau pernah butuh. Dipikirnya aku akan meminta duitnya kali ya? Pamer ke semua orang. Coba aja kenalan dengannya. Baru lima menit kenal, sudah 75% hartanya kita ketahui. Semua dipamerkan dan diceritakan!” Saya tertawa mendengar ceritanya. Tapi karena saya tidak kenal dengan kawan dari kawan saya itu saya tidak bisa nimbrung apa-apa.

“Itulah. Sebenarnya tidak mudah lo menjadi kaya itu. Butuh kesiapan mental. Jangan baru sedikit saja merangkak naik, lalu jadi sombong dan takabur.” Katanya menutup cerita. Seketika saya teringat akan kerabat saya yang sebelumnya saya tengok itu yang berbicara tentang Mendadak Miskin.  Ceritanya hampir mirip, namun diambil dari sudut yang bertentangan.

Mendadak Miskin vs Mendadak Kaya. Ternyata dua-duanya memang bukan perkara mudah. Namun saya menangkap persamaannya di sini, yakni kedua-duanya membutuhkan kesiapan mental.  Ahlak dan budi pekerti yang baik.

Kalau kita pikirkan kedua kisah tadi, sebenarnya yang dibicarakan adalah menyangkut satu hal, yakni kekayaan. Materi. Sifatnya yang sangat duniawi. Pada lingkungan yang menomorsatukan materi, maka materi akan sangat mempengaruhi sikap kita dalam menghadapi kehidupan. Sebaliknya jika kita berada di lingkungan yang mementingkan ahlak budi pekerti dan spiritual, maka pengaruh materi akan sangat kecil dalam menentukan tingkah laku kita sehari-hari.

Sehingga bila terjadi perubahan yang menyangkut materi, maka sikap dan tingkah laku kita tak akan banyak berubah. Apakah kita dari miskin mendadak menjadi kaya, ataupun sebaliknya dari si kaya mendadak menjadi si miskin, skipa dan tingkah laku kita akan tetap terkendali. Sedih mungkin saja terjadi saat kita mengalami penurunan. Dan senangpun bisa saja terjadi saat kita meningkat. Namun kita tak perlu menjadi sombong dan sok, saat tiba-tiba menjadi kaya. Ataupun tak perlu menjadi minder dan terpukul saat mendadak menjadi miskin.  Biasa- biasa sajalah menjadi orang. Toh semua harta kekayaan itu sifatnya hanya  temporary. Hanya sementara untuk kita miliki di dunia fana itu. Tak bisa pula kita bawa mati.

Hidup saja apa adanya. Tak usah terlalu berlebihan.Berterimakasih dan bersyukur atas apa saja yang dikaruniakan olehNYA. Tetap semangat dan percaya diri dalam menghadapi hidup. Saya pikir untuk diri saya sendiri, barangkali  yang paling baik adalah memiliki kekayaan hati. Bukan kekayaan materi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s