“Steal Someone’s Glory” – Hal Yang Perlu Dihindarkan Dalam Memimpin Team.

Standard

Seorang teman (A) menumpahkan kekesalan hatinya kepada teman yang lain (B) yang dianggapnya telah berlaku curang terhadap dirinya. Dan apesnya, saya kebetulan sedang duduk makan semeja dengan mereka berdua. Walaupun tak ada sangkut pautnya dengan urusan mereka, terpaksa saya ikut mendengarkan pertengkaran itu.

Intinya Si A merasa bahwa ia telah bekerja keras selama ini, namun Si B yang menikmati hasilnya. Banyak pekerjaan yang telah ia lakukan. Mulai dari mengumpulkan data-data dan fakta, menganalisa situasi dan mempelajari kelayakannya, membuat concept dan planningnya dengan detail dan sebagainya. Ia berencana akan mempresentasikannya kepada pimpinan perusahaan dan audience dalam sebuah meeting.  Mengikuti prosedur standard, iapun menunjukkan draft presentasinya kepada si B yang kebetulan adalah atasannya. Namun belum sempat mempresentasikan dan menjual idenya itu kepada yang lain, ternyata Si B yang sama sekali tidak ikut melakukan pekerjaan kasar alias ‘dirty job’ seperti istilahnya, justru telah mengotak-atik copy draft presentasinya sesuai gaya bahasanya sendiri dan dengan cepat mempresentasikan ide itu kepada pimpinan perusahaan. Seolah-olah itu adalah hasil karyanya sendiri tanpa menyebut-nyebut peranan Si A sama sekali. Sebagai akibat, pujian pun berhamburan jatuh kepada Si B. Rupanya teman saya A merasa terganggu.

I did all the dirty jobs. You steal the glory!!” Kata Si A dengan ketus.

Rupanya Si B menganggap itu bukanlah hal yang salah. Mempresentasikan hasil pekerjaan bawahan ke atasannya sendiri menurutnya adalah hal yang wajar-wajar saja. Toh mereka satu department. Dan menurutnya yang memberi perintah kepada Si A untuk melakukan pekerjaan itu adalah dirinya. Dan ia pun merasa telah ikut membuat presentasi itu dengann cara memperbaiki bahasanya.   Jadi, ia merasa berhak untuk mempresentasikannya dan ia merasa kalau Si A terlalu berlebihan jika mempermasalahkan hal sepele seperti itu. Mendengar itu, teman saya Si A semakin meradang.

Karena merasa serba salah dan tidak ingin mencampuri urusan orang lain, maka sayapun memilih untuk berdiam diri saja. Namun diam-diam saya tetap menyimak percakapan mereka dan memikirkan kejadian itu juga.

Sebelumnya beberapa kali saya juga pernah mendengar cerita serupa dari teman-teman yang lain. Misalnya dari seorang teman di Research & Development. Berbulan-bulan ia sibuk mencari & melakukan percobaan untuk menemukan sebuah formula baru. Setelah berhasil, iapun menceritakan pekerjaannya itu kepada atasannya yang segera meminta copy-nya dan memperkenalkan kepada khalayak ramai  bahwa formula itu adalah hasil karyanya. Ia juga  mem’forward’ beberapa e-mailnya ke orang lain dan menghilangkan sumbernya. Seolah-olah sumbernya adalah dirinya sendiri. Mirip!. Cuma dalam kasus-kasus begini, biasanya pihak yang merasa dirugikan hanya berani mengeluh & ngedumel di belakang. Sedangkan dalam kasus di atas, Si A justru secara terbuka menyatakan ketidak senangannya terhadap kelakuan si B yang telah ‘mencuri’ hasil keringatnya. Saya tidak jelas, apakah karena kebetulan teman saya si A ini berkebangsaan asing yang memiliki kultur budaya yang lebih terbuka, sehingga terbiasa menyatakan ketidaksenangannya dengan cara yang blak-blakan. Entahlah!.

“Steal the glory” dari hasil pekerjaan dan kreatifitas seseorang, walaupun itu adalah bawahan kita – menurut hemat saya memang bukanlah perbuatan yang baik. Karena bagaimanapun juga, menurut saya itu namanya tetap saja menghilangkan kesempatan bagi orang lain untuk menikmati hail kerja kerasnya.

Saya terkenang akan seorang mantan atasan saya yang menurut saya selalu jujur dan supportive terhadap saya. Atasan saya selalu mengakui ide-ide saya, memberi dukungan dan masukan tambahan agar ide & kreatifitas saya menjadi lebih baik. Dan pada akhirnya justru dengan bangga beliau  menceritakan ide itu kepada atasannya lagi sebagai hasil pemikiran saya. Tak pernah sekalipun ia melakukan kecurangan dengan mengklaim ide saya sebagai idenya sendiri.

Terkadang, beliau pun memang mempresentasikan hasil pekerjaan saya. Atau meminta bantuan saya untuk melengkapi 2-3 buah slides untu presentasinya sendiri. Namun tetap saja ia tak pernah mengklaim bahwa itu adalah pekerjaannya dia sendiri. Ia selalu menyebutkan bahwa saya telah melakukan pekerjaan itu dan memberikan gagasannya. Minimal ia mengatakan bahwa itu hasil kerja teamnya. Sehingga tak sekalipun saya pernah merasa bahwa atasan saya telah berlaku curang terhadap saya.

Walhasil, bos dari bos sayapun memberikan recognition yang baik terhadap saya, yang pada akhirnya memudahkan saya untuk meniti jenjang karir berikutnya. Sudah pasti saya merasa diuntungkan oleh atasan saya yang bersikap jujur dan fair terhadap saya. Saya mengenangnya dengan penuh respek hingga saat ini.

Namun bagaimana dengan atasan saya? Apakah beliau tidak mendapatkan reward yang baik karena dengan senang hati telah menyerahkan seluruh rewardnya  itu kepada saya? Ternyata atasan sayapun mendapatkan reward yang juga sangat baik. Tentu bukan karena dari ide-ide saya, namun dari sisi leadershipnya sebagai seorang pemimpin. Dari managerial skill-nya. Dari kemampuannya memberikan ‘coaching’ kepada teamnya. Jika seorang atasan memiliki bawahan yang sukses di bawah bimbingannya, dengan sendirinya ia akan mendapatkan ‘glory’ yang lain sebagai seorang good leader tanpa harus mencuri ‘glory’ dari bawahannya.

Tidak mencuri ‘glory’ dari orang lain, terutama dari bawahan kita sesungguhnya justru akan memperkuat ‘glory’ kita sendiri. Jadi untuk apa melakukan hal yang tak perlu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s