Makanan Segar Yang Memberi Zat Hidup.

Standard

…berterimakasih  dengan penuh penghormatan kepada alam.. 

yang menyediakan zat hidup untuk membangun jutaan sel dalam tubuh,

 yang tanpa terpikirkan ,  tak henti-hentinya bekerja, 

membuatku  mampu berdiri menyongsong  mentari kehidupan.. 

Saya menemukan sebuah buku yang menarik hati saya di tukang buku loak. Barangkali pemiliknya merasa sudah tidak membutuhkannya lagi, membuat buku itu akhirnya terdampar di tukang loak. Buku itu ditulis oleh  DR. R. A. Nainggolan MA tahun 2001 berjudul Diet & Juice Therapy. Sebenarnya berfokus pada Juice Therapy. Tapi pada bagian depannya, penulis ada membahas mengenai kesehatan,  umur yang panjang dan kaitannya dengan makanan.

Saya tertarik pada bagian yang menjelaskan bahwa tubuh manusia terdiri atas unsur-unsur atom seperti oxygen, karbon, hydrogen, nitrogen, kasium, fosfor,potassium, sodium, magnesium, besi, silikon dan lain sebagainya. Mineral-mineral ini banyak terdapat di dalam tanah dalam bentuk anorganis. Namun walaupun mineral-mineral itu banyak di dalam tanah, manusia tidak dapat makan tanah dan terus hidup. Mengapa? Karena bentuknya yang masih anorganis tadi. Sedangkan manusia membutuhkan mineral dalam bentuk organis. Jadi untuk mendapatkan mineral dalam bentuk organis, manusia membutuhkan ‘perantara’ yang bisa mengambil mineral anorganis di dalam tanah dan merubahnya menjadi bentuk organis . Nah, sang perantara itu adalah tumbuhan. Tumbuhan menyerap mineral anorganis dengan akarnya dan dengan bantuan sinar matahari merubahnya menjadi bahan organis yang sekarang bisa dimakan manusia ( daun, umbi, buah, batang) dan dijadikan sebagai bahan-bahan pembuat sel-sel dan jaringan di dalam tubuhnya.

Sampai di sini, saya terasa diingatkan kembali akan betapa berjasanya mahluk yang bernama ‘tumbuhan’ tersebut bagi kelangsungan hidup manusia. Dan sesungguhnya, besarnya jasa tumbuhan ini dalam menyediakan ‘zat hidup’ (Urip – dalam bahasa Balinya),  memang telah disadari dan diakui oleh nenek moyang kita sejak dulu kala. Tidaklah heran, dalam berbagai kebudayaan dan adat istiadat di banyak tempat, bisa kita temukan upcara-upacara adat  yang berkaitan dengan tumbuhan, panen, dan sebagainya. Saya ambil contoh di Bali yang saya tahu, misalnya bisa kita temukan adanya hari khusus untuk menghormati tumbuhan atas jasanya dalam kelangsungan hidup manusia yang disebut sebagai Tumpek Uduh. Demikian juga kalau kita perhatikan para petani traditional di Bali. Mulai menanam padi di sawah, memeliharanya, hingga kemudian memanennya, semuanya dilakukan dengan penuh khidmat, pengharapan, rasa syukur dan penghormatan yang tulus yang disertai berbagai upacara.

Setelah diingatkan kembali akan  jasa tumbuhan bagi kehidupan manusia dengan cara menterjemahkan mineral anorganis menjadi organis, saya jadi teringatkan kembali untuk lebih banyak mengkonsumsi makanan yang masih dalam bentuk segarnya. Makanan segar tanpa dimasak ini  untuk mengimbangi masakan yang selama ini lebih banyak saya konsumsi. Bagaimanapun juga, memasak makanan,  setidaknya telah mengurangi ‘ zat hidup’ yang tadinya ada pada sayuran, buah maupun umbi segar. Unsur yang tadinya sudah dibuat menjadi organis oleh tumbuhan, mungkin sebagian telah kembali lagi menjadi anorganis akibat dimasak tanpa kita sadari. Wa, sayang ya? Yuk,  kita konsumsi lebih banyak makanan segar!

2 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s