Di Atas Langit Selalu Ada Langit.

Standard

Beberapa tahun yang lalu, saya memiliki seorang pemasar di team saya yang bukan saja sangat handal, namun juga sangat cerdas, rajin,  baik hati, humoris dan pintar bergaul.  Sebut saja namanya si A. Tentu saja saya bangga pernah menjadi atasannya. Jika saya disuruh menunjukkan kekurangannya, rasanya  satu-satunya hal yang bisa saya temukan adalah tulisan tangannya yang  jelek. Besar-besar, tidak rapi  dan tidak beraturan, selalu melebihi batas space yang harusnya diisi dan tampilan tulisannya selalu buruk.

Suatu hari saya sedang membahas sebuah topic pekerjaan dengannya dan melihat kembali tulisan tangannya yang  buruk di`pojok sebuah kertas yang disodorkan kepada saya. Seketika saya langsung mendelik “ Apa ini? Tulisanmu kok jelek banget? Saya nggak bisa membaca!” kata saya sambil tertawa meledek tulisannya yang memang ampuuun… jelek banget dan sulit dibaca. Sebenarnya kalau dilihat dengan pelan-pelan dan teliti, sesungguhnya saya masih bisa membaca. Diledek seperti itu Si A tertawa  dan segera membantu saya membacakan tulisan tangannya sendiri.

“Lah, kan udah bilang? Itu tulisan generasi masa kini!. Yang sudah lebih banyak menggunakan computer daripada tulisan tangan” Kilahnya bercanda.  Ini bukan pertama kalinya saya komplaint urusan tulisan tangannya yang buruk.

“Uh..!! Masa kini apa? Banyak orang lain yang lahir dari generasi computer tapi tulisannya lebih baik! Ayo, latihan menulis yang lebih baik!” kata saya sambil tertawa.

“Oke! Oke! Mulai besok saya akan berlatih menulis yang bagus agar Mbak bisa baca” katanya berjanji. Akhirnya saya melanjutkan membaca & memeriksa draft pekerjaannya kembali. Sementara ia duduk menunggu di hadapan saya.

Belum selesai saya membaca, tiba-tiba si B mengetuk pintu dan masuk. Si B saat itu adalah seorang pemasar pemula yang ada di bawah si A. Awalnya saya pikir ia ada perlu dengan Si A, karena mengingat bahwa Si A adalah ataasan langsungnya. Namun rupanya ia perlu berbicara dengan saya. Ia membawa sebuah proposal yang  habis saya periksa, koreksi dan baru pagi ini keluar dari meja saya.

“Maaf Mbak. Saya mengganggu. Ini  bacaannya apa ya? Saya mau revisi, tapi tidak bisa membaca?” katanya dengan tatapan polos kepada saya sambil menyodorkan proposalnya yang penuh corat-coret tulisan tangan saya. Oops!!!  Baru saja saya menghina-dina Si A, mengatakan bahwa tulisan tangannya sangat buruk dan tidak bisa dibaca, kini giliran saya yang kena. Tulisan tangan sayapun ternyata tidak bisa dibaca!!.  Waduuh.. malunya, mak! Apa boleh buat. Terpaksa saya bacakan tulisan tangan saya (yang sesungguhnya baru saya sadari saat itu…memang buruk !) agar ia bisa merevisinya.

Dengan ekor mata saya, saya lihat Si A tertawa terbahak-bahak lalu ngeledek saya “ Hmm… di atas langit selalu ada langit..” Katanya memenangkan score hari itu terhadap saya.

“ Hmm..ya. Tapi, dimana-mana di seluruh dunia, semua orang tau, tulisan tangan dokter itu ya`pasti buruk. Makanya ada istilah ‘tulisan dokter’. ” kata saya mencari pembenaran atas keburukan tulisan tangan saya sambil tertawa.

Terkadang kejadian-kejadian kecil di masa lampau yang tak pernah kita pikirkan, datang kembali ke permukaan otak kita untuk mengingatkan kita akan maknanya.

Terkenang kejadian itu, hari ini saya jadi tersenyum kembali. Satu perkara yang saya harus ingat baik-baik, bahwa sebaiknya kita bercermin dulu pada diri kita sendiri, sebelum mengoreksi orang lain.  Namun perkara lain yang takkalah pentingnya yang bisa saya pelajari  dari kejadian itu adalah kalimat  “Di Atas Langit Selalu Ada Langit” itu sendiri.

Jika kita merasa sesuatu berjalan buruk, sesungguhnya masih banyak hal yang lebih buruk terjadi di sekitar kita tanpa kita sadari. Demikian juga jika kita merasakan suatu kejadian baik, sesungguhnya yang lebih baik masih banyak di sekitar kita. Jika kita miskin, selalu ada banyak orang yang lebih miskin dari kita. Jika kita kaya, selalu pula ada banyak orang yang lebih kaya dibanding kita. Jika kita menderita, banyak orang yang lebih menderita. Dan seterusnya. Dan seterusnya. Mungkin berguna untuk mengingatkan agar kita senantiasa tabah menghadapi kejadian yang kurang menyenangkan, dan juga tidak menjadi sombong jika kita mengalami hal yang menyenangkan. Hidup ini berputar..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s