Nasi Sushi Oncom – Building Idea On Idea.

Standard

Ketika berdiskusi tentang bagaimana akan menghabiskan waktu di akhir pekan bersama, saya meminta anak-anak untuk mencari ide yang kreatif dan menyenangkan. Anak saya yang besar mengusulkan ide untuk memasak. Awalnya saya pikir ia akan mengajak saya memasak pancake atau bola-bola coklat kesukaannya. Namun ternyata kali ini idenya adalah memasak makanan Jepang. “Masak sushi!”. Ia mendapatkan ide itu dari teman sekelasnya yang membawa sushi ke sekolah untuk bekal makan siang. Temannya yang baik hati itu, rupanya menawarkannya untuk mencoba. Maka iapun tertarik.

Saya pikir itu ide bagus. Selain mengenal cara memasak makanan Indonesia, anak-anak juga perlu diperkenalkan dengan kebudayaan lain, termasuk cara memasak dan menyajikan makanan yang dilakukan bangsa lain. “Good idea” kata saya sambil menepuk bahunya.

Maka sayapun segera membeli beberapa lembar nori (lembaran ganggang laut kering). Kebetulan ada  yang sedang berpromosi dengan memberikan hadiah sebuah makishu (gulungan dari bambu untuk menggulung nori). Sambil menyiapkan nasi untuk sushi, anak saya yang kecil bertanya akan kita isi apa lembaran rumput laut itu. Saya lalu menjelaskan bahwa nasi sushi biasanya diberi perasa berupa gula, garam dan cuka. Di tata di atas lembaran nori bersama-sama dengan  dadar telor berkaldu dashi (kaldu ikan kecil/rumput laut) dan shoyu (kecap ala Jepang), irisan jamur shiitake dan irisan filet ikan, lalu digulung dan dipotong-potong. Sushi akan tampak sangat cantik dan menarik untuk dimakan.

Anak saya manggut-manggut mendengar penjelasan saya sambil memperhatikan cara saya membentangkan lembaran nori di atas makishu. ”Jadi hasilnya nanti, nasi gulung isi ya, Ma?” Tanyanya.  “Ya. Nasi gulung isi ikan, telor dan jamur”. Jawab saya.  Ia tampak berpikir sejenak.

“Sebenarnya kita bisa ganti isinya dengan apa saja yang kita sukai kan, Ma?” Tanyanya lagi. “Iya. Boleh saja  kalau mau” Kata saya. “Kalau begitu kenapa kita nggak isi saja dengan tahu?. Jadi nasi sushi tahu?”.  Ha ha.. bagus juga idenya. Tapi saat itu saya tidak sedang memasak tahu dan tidak memiliki persediaan di kulkas. “ Oh ya. Nasi Sushi Indonesia” kata anak saya yang besar. “Mari kita bikin nasi sushi Indonesia” ajaknya. Saya senang dengan ide baru itu. Ya, oke. Akhirnya kami  isi saja dengan apa saja lauk yang tehidang di atas meja. Kami gulung dan… sim salabim abrakadabra! Ada nasi sushi oncom. Ada nasi sushi tumis jantung pisang. Ada nasi sushi tumis brokoli. Ada nasi sushi telor dadar dan sebagainya. Wow! Sungguh idea yang sangat kreative.

Bahkan esoknya ketika di rumah kami memasak nasi kuning, maka nasi kuning itupun kami gulung dengan nori. Jadilah nasi kuning gulung nori. Demikian seterusnya sampai lembaran norinya habis. Sebagian dari karya kreatif itupun saya bawa ke kantor dan nikmati ramai-ramai bersama teman-teman sambil tertawa akan ‘menu baru’ yang aneh tapi menarik itu. Tanda diduga, ‘Nasi Sushi Oncom’ hari itu menjadi fast moving items. Ada beberapa teman yang bertanya bagaimana cara membuatnya. Dan itu membuat saya senang.

Saya senang, selain karena teman-teman saya juga menyukai masakan saya, namun yang  lebih penting lagi karena  saya menyadari suatu proses berpikir kreatif telah terjadi pada anak saya. Proses membangun ide di atas ide yang lain. Ketika seorang temannya membawa sushi, sebuah ide telah tertangkap untuk mempelajari bagaimana cara membuatnya. Ketika ide membuat sushi muncul, sebuah pemahaman baru muncul bahwa ‘filler’ dari sushi sebenarnya bisa diganti, yang kemudian memunculkan ide baru lagi untuk mengisinya dengan makanan khas Indonesia.

Jadi pembangunan ide di atas ide inilah yang menghasilkan sesuatu yang berbeda, unik dan mengena untuk target tertentu. Dalam hal ini, sesuatu yang berbau Jepang tapi kental dengan selera lidah Indonesia yakni: Nasi Sushi Oncom.

Seperti dalam bukunya “How To Have Creative IdeasEdward De Bono pakar creative & lateral thinking yang terkenal dengan “Six Thinking Hats” nya mengatakan bahwa sebenarnya kreatifitas itu bukan sesuatu yang kita miliki atau tidak di dalam diri kita, tapi lebih kepada sesuatu yang bisa dilatih.  Saya sangat setuju itu. Kreatifitas bisa  kita latih! Kreatifitas bisa dibangun dari sesuatu yang ada di sekeliling kita, yang kita ambil secara acak. Lalu kita gabung dan padu padankan dengan hal-hal lain (juga secara acak) yang sebelumnya belum tentu ada hubungannya secara natural. Mix & match!  Jadi, tidak usah merasa diri kurang kreatif untuk menjadi kreatif. Setiap orang bisa menjadi kreatif!.

 

One response »

  1. ha ha ha aku juga lo membuat sushinya ala indo, telor dadar filamen crab, teri medan n sambal lado mudo jd deh sushi teri sambal lado mudo wuah bergairah rasanya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s