Bunga Soka, freeing mind from sorrow…

Standard

Salah satu bunga menarik yang selalu membuat saya  teringat akan Bali adalah Bunga  Soka. Soka atau Bunga Asoka  atau terkadang disebut juga dengan nama Kembang  Jaum /Kembang Jarum (Ixora spp i.e Ixora poludusa, Ixora coccinea, Ixora javanica etc) memiliki bentuk yang mirip jarum pada saat belum mekar. Jika mekar, maka kelopak bunganya yang kecil berjumlah empat akan terbuka sempurna, memamerkan benang sarinya. Bunga ini menjadi menarik karena setiap tangkai bunga terdiri atas puluhan hingga ratusan bunga kecil-kecil yang jika mekar semuanya membuat ukuran bunga secara keseluruhan menjadi cukup besar. Cukup jelas untuk terlihat diantara kerimbunan daun-daunnya yang hijau.

Bunga ini merupakan salah satu bunga yang umum digunakan dalam persembahyangan selain sebagai bunga potong untuk hiasan meja maupun  sebagai tanaman penghias halaman. Kakek saya menanam  bunga Asoka berwarna putih  di halaman merajan (area tempat sembahyang yang selalu ada di rumah penduduk di Bali). Setiap kali saya berkunjung  ke rumah kakek saya & mengikuti beliau melakukan pesembahyangan pagi,  saya selalu memetik bunga Soka  putih itu.Seperti halnya bunga-bunga yang lain yang bisa dipergunakan untuk persembahyangan, bunga soka berwarna putih dipergunakan untuk penghormatan kepada Dewa Isvara. Sedangkan yang berwarna merah digunakan untuk penghormatan kepada Dewa Brahma, yang kuning untuk penghormatan kepada Dewa Raditya dan seterusnya – semuanya adalah sinar suci dari Tuhan Yang Maha Esa dalam fungsinya masing-masing untuk menjaga keberlangsungan alam semesta beserta seluruh isinya. Penggunaan bunga Soka ini  selain sebagai lambang penghormatan, juga harapan akan tercapainya kedamaian jiwa, jauh dari kesedihan dan derita. Sehingga yang tertinggal hanya kebahagiaan  dalam setiap hati manusia .

Soka sendiri berasal dari kata Asoka, diambil dari nama sebuah taman bunga bernama “Ashoka”   yang sering diceritakan dalam pagelaran-pagelaran Sendratari Ramayana di Bali. Taman Ashoka (artinya bebas dari kesedihan) ini konon sangat indah, dimana Sitha  disembunyikan oleh Rahwana saat diculik dari Rama, suaminya. Rahwana berusaha menghibur dan membuat hati Sitha senang dan betah di taman itu, walaupun tak jua kunjung berhasil.

Tanaman hias berupa perdu ini, umumnya dikembangkan dengan cangkok.  Dipisahkan dari batang induknya ketika akar-akar barunya mulai tumbuh kuat. Membutuhkan sinar matahari yang  banyak untuk membuatnya berbunga. Sering juga dijadikan tanaman pagar.

2 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s