A Hope!. Harapan Yang Memberi Kebermungkinan Untuk Terus Berjuang.

Standard

 Inspirasi Dari Kupu-Kupu Yang Robek Sayapnya

Saya melihat seekor kupu-kupu yang robek sayapnya hinggap di bunga Ratna lembayung. Mungkin ia berhasil menyelamatkan diri dari kepungan predator yang mencoba memangsanya. Atau barangkali berhasil keluar dari jebakan semak-semak berduri yang tajam. Atau mungkin juga sayapnya yang indah tertimpa hujan deras dan ia tak sempat berlindung dengan baik. Sungguh  mengenaskan. Namun apapun itu,  hari itu saya melihatnya tetap terbang mencari makan dari bunga ke bunga dengan kedua sayapnya yang robek.

Kupu-kupu memiliki cyclus hidup yang pendek. Seperti kita ketahui, ia memiliki 4 tingkatan kehidupan. Mulai dari telor, ulat, kempompong lalu kupu-kupu. Secara keseluruhan umur kupu-kupu berkisar antara  1 hingga 12 bulan. Sejak seekor kupu-kupu dewasa bertelor, dibutuhkan kurang lebih 5 hari untuk menetas menjadi ulat. Ulatpun membutuhkan kurang lebih 5 hari untuk makan daun, mengunyah dan mencernanya hingga ia cukup besar dan kuat untuk membentuk kepompong. Kemudian dibutuhkan 2 – 5 hari bagi  kepompong untuk berubah menjadi kupu-kupu yang cantik. Ini dapat kita ketahui dengan melakukan pengamatan setiap hari di halaman rumah kita. Nah yang paling sulit adalah untuk mengetahui berapa lama sebenarnya umur seekor kupu-kupu?.Menurut sebuah sumber, umur kupu-kupu adalah antara 2 hari hingga 11 bulan, tergantung dari jenis kupu-kupu itu sendiri,  cuaca dan faktor lainnya seperti misalnya predator.  Faktor yang terakhir inilah yang sangat menentukan.

Merasa iba pada sayapnya yang robek, sayapun memperhatikan gerak-gerik kupu-kupu itu lebih lama lagi. Dengan gerakannya yang sebenarnya terbatas ia tetap berusaha terbang dari satu bunga ke bunga yang lainnya. Tentu saja gerakannya tidak segesit kupu-kupu yang bersayap sempurna. Namun ia tetap bergerak dan bergerak. Mengepakkan sayapnya tak jemu sambil terus mengisap nectar. Tak terkesan ada kelelahan dalam dirinya. Tidak pula terlihat kekhawatiran. Ia seolah tak perduli dengan keadaan sayapnya. Untuk apa ia terus melakukannya? Mungkin ia ingin tetap hidup. Saya menjawab sendiri pertanyaan saya dalam hati.

Tapi mengapa ia tetap ingin hidup, meskipun sayapnya robek dan cacat?. Baginya, barangkali bergerak terus untuk mempertahankan hidup adalah sebuah keniscayaan. Pertahanan untuk menjaga keberlangsungan hidup keturunannnya. Jika ia bisa bertahan hidup, meskipun dalam keadaan cacat, tentu suatu saat ia bisa bertelor. Dimana telornya akan menetas menjadi ulat, lalu menjadi kepompong  yang akhirnya mengeluarkan Kupu-kupu indah pengganti generasinya. Apakah yang membuatnya tetap mampu berjuang & berusaha bertahan hidup meskipun dalam keadaan sayap yang robek? Harapan!. Harapan untuk hidup. Harapan akan keberlangsungan hidup generasinya.

Semakin saya perhatikan, semakin saya berpikir bahwa “Harapan”lah yang sesungguhnya membuat semua mahluk untuk terus berjuang dan bertahan. Tanpa adanya  Harapan, mahluk hidup tak akan mampu bertahan dalam menghadapi kesulitan hidupnya. Demikian juga kita manusia. Saya jadi teringat akan anak-anak saya yang masih kecil. Saya ingin melihatnya tumbuh besar dengan baik dan  sehat dalam keadaan penuh kasih sayang. Menikmati masa remajanya dengan baik, untuk kemudian menjadi dewasa dan memilih pasangan hidup yang akan diajaknya untuk melanjutkan perjalanan hidup yang penuh kebahagiaan dan melanjutkan generasi berikutnya. Saya ingin melihatnya bahagia. Tak perduli bagaimanapun keadaan diri saya. Apapun rintangan yang harus saya hadapi. Demi sebuah harapan akan kebaikan & kebahagiaan hidup anak-anak saya. Saya akan terus berjuang dan berusaha bertahan hidup demi harapan itu.

Ya. Harapan!. Harapan memang selalu menjadi alasan besar manusia untuk bertahan. Jika seseorang memiliki sebuah harapan, apapun bentuknya, maka  ia akan bertahan. Jadi, memiliki sebuah harapan adalah hal yang sangat penting. Entah itu harapan untuk hidup, harapan untuk melihat cucu, harapan untuk membebaskan diri dari hutang yang membelit dan sebagainya.

Melihat kupu-kupu itu, saya seolah diingatkan kembali  bukan hanya ke dalam diri saya sendiri, namun juga untuk melihat ke sekeliling,  keluarga dan teman-teman  saya yang barangkali pada saat ini  sedang kurang beruntung dalam kehidupan (entah sakit, kesulitan dalam pekerjaan, dan kesulitan hidup lainnya). Bagaimana caranya saya harus membantu memberi atau mengingatkannya tentang “Harapan” agar memacunya terus berjuang dan terus berusaha menaklukkan kesulitannya.

Harapan, memberi kita kebermungkinan untuk hidup dan sukses. Melihat segala peluang  yang tadinya tak terlihat oleh kita. Merasakan apa yang tadinya tak bisa kita rasakan. Memikirkan hal –hal yang tadinya tak terpikirkan oleh kita. Dan akhirnya membantu kita untuk mencapai hal-hal yang kita pikir sulit untuk dicapai menjadi sesuatu yang sangat mungkin dicapai.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s