Berpikir Dari Kiri Ke Kanan Atau Dari Kanan Ke Kiri Ya?

Standard

Beberapa saat yang lalu saya sempat menulis tentang kehidupan yang berjalan  seperti buku cerita. Ada bagian awal, bagian tengah dan bagian akhir. Berjalan pada satu jalur yang linear. Walaupun mungkin saja bercabang dan memiliki banyak alternative yang bisa dipilih, namun  kehidupan manusia dan akhir riwayatnya secara garis besar tetap saja berjalan secara linear. Dari Awal ke Akhir.  Mirip sebuah garis. Jika kita menggambar garis, umumnya kita mulai dari titik di sebelah kiri dan berakhir di sebelah kanan. Bukan dari Kanan ke Kiri. Demikian juga garis linear yang  dijalankan manusia.  Umumnya dimulai dari  titik Awal menuju ke titik Akhir. Bukan dari Akhir ke Awal.  Serupa, bukan?

Saya juga merasa  menjalani hidup saya dari Kiri ke Kanan (Awal ke Akhir).  Garis perjalanan hidup saya dimulai di  sebuah kota kecil di tengah-tengah pulau Bali, dimana saya menjalani masa kanak-kanak saya.  Lalu garis perjalanan hidup saya bergerak ke kanan saat saya remaja  hingga menempuh pendidikan saya di Denpasar,  dan akhirnya mengejar karir di Jakarta hingga saat ini.

Yang menarik, walaupun hidup saya lumayan bahagia, tetapi  saya tak pernah menyangka sebelumnya bahwa hidup saya akan berjalan seperti ini.  Karena saat saya berada di titik awal (kecil), saya tidak men-set diri saya seperti apa adanya saya sekarang ini. Terjadi begitu saja. Saya hanya mengikuti garis linear kehidupan.

Misalnya soal cita-cita. Waktu kecil, saya ingin menjadi guru. Namun entah kenapa saya tidak berusaha mewujudkan cita-cita saya itu dengan mengambil kuliah di Fakultas Keguruan dan Pendidikan, tapi menekuni pendidikan saya di Fakultas Kedokteran Hewan. Setelah menerima ijasah, entah kenapa pula saya akhirnya tidak sempat menjalankan profesi saya sebagai seorang dokter hewan. Eh.. malah melenceng menjadi seorang pemasar. Tidak apa-apa. Saya  tetap bahagia.

Demikian juga soal tempat tinggal. Dulu saya pernah ingin tinggal di pulau Sumba. Membuka praktik sebagai  dokter hewan. Dimana langit tampak sedemikian biru terang dan bersihnya. Kuda-kuda berlarian dan sapi-sapi merumput di padang savanna. Alangkah damainya kehidupan yang saya bayangkan di sana. Namun entah kenapa, eh.. saya malah terdampar ditengah hiruk pikuknya Jakarta. Kota metropolitan dengan segala prospek dan hingar-bingarnya. Demikian juga soal jodoh,  soal pertemanan, hobby, berat badan, kesehatan dan sebagainya. Bahkan hingga keurusan pekerjaan dan keinginan yang lain. Banyak yang berbeda dengan apa yang saya pikir pada awalnya. Ada yang menyenangkan. Ada juga yang tidak.

Banyak teman yang juga memiliki cerita serupa dengan saya. Ternyata kebanyakan dari kita memang lebih sering berpikir dari Kiri ke  Kanan. Banyak yang sukses. Namun tidak semuanya sukses. Tidak semuanya menyenangkan.  Walaupun secara umum lumayan baik-baik saja, ada hal-hal tertentu yang saya pikir seharusnya bisa kita capai dengan lebih baik lagi dari sekedar apa yang bisa kita capai pada saat ini.

Mengapa hal itu bisa terjadi? Banyak faktor yang menyebabkan.  Menurut saya,  salah satunya adalah karena kita hanya  berpikir dari Kiri ke Kanan. Dari Awal ke Akhir.  Walaupun kita  menetapkan suatu tujuan di titik Akhir, namun kita tidak benar-benar memikirkan milestone (alias batu penanda kilometer) yang jelas yang bisa menghantarkan  kita ke titik tujuan akhir tersebut.  Ketika kita bergerak satu langkah dari titik awal, seketika itu juga kita menghadapi beberapa pilihan  yang memberi kita kemungkinan  untuk lupa akan tujuan awal kita.  Demikian juga langkah berikutnya. Ada kemungkinan lain lagi yang bisa kita pilih. Atau masalah yang bukannya kita hadapi namun malah kita hindari yang justru kemudian membuat kita semakin jauh dari tujuan awal. Dan seterusnya,  dan seterusnya. Akhirnya  pada akhir kehidupan, yang terjadi adalah sebuah garis yang arahnya berbeda, walaupun tetap linear.

Bagaimana jika kita  berpikir sebaliknya? Dari Kanan ke Kiri? Dari Akhir ke Awal? Memikirkan apa yang menjadi titik tujuan kita, lalu bergerak berpikir ke kiri tentang jalan terdekat untuk mencapainya dari titik dimana kita berdiri saat ini? Kita bisa berikan batu penanda jarak (milestones) untuk setiap hal penting yang harus kita lakukan. Jika milestonenya  jelas , tentu langkah kita akan jauh lebih ringan dan pasti. Dan tujuan kitapun lebih mudah untuk dicapai.  Selain itu juga  lebih cepat dan efisien. Karena jika kita  jelas akan objective dan setiap milestone untuk mencapainya, maka kecil kemungkinan kita untuk salah arah dan membuang waktu serta tenaga kita. Karena misalnya jika dalam langkah kita, ada banyak pilihan jalan,  kita sudah jelas jalan mana yang akan kita pilih. Demikian juga jika di dalam sebuah milestone kita menghadapi masalah, maka kita pasti akan berusaha keras untuk menghadapinya, bukan menghindarinya. Sehingga dengan demikian, kemungkinan untuk mencapai tujuan yang telah kita set dengan baikpun menjadi lebih besar.

Jadi, walaupun kehidupan berjalan dari Kiri ke Kanan dan kitapun terbiasa berpikir dari Kiri ke Kanan,  namun jika kita juga bisa flexible  berpikir dari Kanan ke Kiri, tentunya akan sangat membantu kita untuk mencapai tujuan dengan lebih pasti, lebih cepat dan efisien. Berpikir dari Kiri ke Kanan dan dari Kanan ke Kiri, keduanya sangat kita butuhkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s