Kisah Permainan Labyrinth.

Standard
Labyrinth on the portico of the cathedral of S...

Image via Wikipedia

Saya mensortir majalah, komik dan buku anak-anak yang sudah usang dan sobek dari rak buku yang sudah sangat penuh di kamar anak saya.  Sambil membongkar, sayapun membuka-buka beberapa diantaranya. Untuk memastikan bahwa memang majalah tersebut sudah layaknya saya singkirkan. Sumbangkan ke orang lain jika masih layak. Atau saya buang saja jika sudah terlalu sobek.  Saat itu saya tertegun melihat sebuah permainan labyrinth yang dikerjakan oleh anak saya ketika masih TK.  Tujuh tahun yang lalu! Kenangan saya melayang kembali ke masa itu.

Saya sering menemani anak-anak saya. Membacakan buku, mengerjakan karya kreatif, menyelesaikan teka-teki, games atau permainan yang banyak disediakan di buku-buku ataupun majalah kanak-kanak. Suatu hari, saya melihat ada sebuah permainan labyrinth kanak-kanak yang menurut saya menarik untuk mengasah otaknya. Saya menyuruh anak saya mengerjakannya.   Karena saat itu anak saya belum bisa membaca, maka saya membantu membacakan perintahnya:

 “Temanmu Snail sedang lapar. Ia ingin memakan sayuran di halaman depan rumah. Namun ia bingung, tidak tahu jalan mana yang harus ditempuh untuk menuju ke halaman depan. Bantulah Snail mencari jalan yang benar agar ia tidak kelaparan!”.  Anak saya segera mengerjakannya. Dan dalam hitungan detik ia telah menyelesaikannya dengan riang. Cepat sekali!. Bahkan super cepat, menurut ukuran saya. Labyrinth bukan permainan yang mudah. Terutama untuk anak kecil. Karena pemain harus menyusuri gang-gang panjang, yang terkadang berakhir buntu.

Wow!! Saya terkesan. Bagaimana caranya ia  bisa menyelesaikannya sedemikian cepat? Apalagi jika mengingat bahwa ia masih kecil saat itu. Bahkan membacapun ia belum bisa. Ketika saya tanyakan bagaimana ia mengerjakannya, anak saya berkata:

 “Itu gancil, Ma!.Lihat saja sayurannya dulu. Kan di situ ada pintunya, kan?”. Tanyanya. Saya mengangguk.

“Nah, kita ikuti saja dengan pensil. Nanti kita akan ketemu Snailnya juga. Itu pasti jalan yang benar!”. Katanya dengan yakin.

Ketika saya tanya mengapa ia tidak memulai dari Snailnya saja, ia menjawab:

“Karena terlalu banyak pintu masuk. Kita bisa lama mencari sayurannya. Bisa tersesat dan harus mengulang lagi”. Saya manggut-manggut dan heran dengan cara anak saya berpikir. Cepat. Effective. Dan Efficient!.

Berpikir tentang result terlebih dahulu, lalu menyusuri bagaimana result itu bisa dicapai, memudahkan kita untuk mencapai segala sesuatu dengan lebih cepat. Setidaknya jika dibandingkan jika kita melakukannya dengan cara yang konvensional. Cara ini memberi kita ‘ silent best practice’ yang telah ditinggalkan oleh ‘creator’nya baik disadari maupun tidak. Sangat mirip dengan apa yang terjadi dalam permainan labyrinth kanak-kanak itu.

Pada saat menciptakan permainan labyrinth untuk anak-anak, sang creator pastinya telah menyiapkan jalan terbaik yang bisa ditempuh Snail untuk mencapai sayuran di halaman depan rumah. Lalu kemudian ia menambahkan beberapa jebakan jalan buntu untuk membuat permainan menjadi lebih seru, karena tidak mudah. Jalan jalan buntu dan jebakan itu hanyalah asesoris yang membuat permainan semakin menarik. Semakin kompleks asesoris-nya, semakin menarik permainannya karena tingkat kesulitannya semakin tinggi. Dengan cara melakukan proses berpikir terbalik, yakni dari ‘sayur’ dulu, baru napak tilas ke posisi Snail saat ini – maka akan sangat memudahkan pemain menyingkirkan jebakan-jebakan yang tidak perlu dari pandangan matanya. Dengan demikian, maka permainan bisa diselesaikan dengan lebih cepat, ringkas dan tepat.

Hidup mirip sebuah permainan labyrinth raksasa yang sangat kompleks dan penuh asesoris.Terkadang kita bingung bagaimana kita bisa memenangkan permainan dalam memperjuangkan hidup (pekerjaan, keuangan, sosial, dsb) dan mencapai goal kita. Setiap tapak yang kita tempuh kok penuh jalan berliku. Penuh kerikil-kerikil tajam dan bahkan mentok, yang kemudian memaksa kita untuk berbalik kembali ke titik 0 dan memulai lagi perjalanan yang baru. Jika kita analog-kan permainan kehidupan ini dengan permainan labyrinth kanak-kanak, maka cara berpikir seperti ‘Sayuran dulu baru  Snail’ itu  barangkali menjadi cukup penting juga.

2 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s