Pernikahan Di Kampung Betawi – Kekerabatan Yang Kental.

Standard


Saya tinggal di sebuah perumahan yang letaknya di dekat pemukiman penduduk Betawi. Karena sudah lama tinggal di sana, maka tanpa terasa saya sudah memiliki banyak kenalan, teman dan sahabat yang cukup dekat dengan saya dan keluarga. Bahkan beberapa diantaranya sudah hampir seperti saudara sendiri. Hubungan baik inilah yang antara lain membuat saya merasa betah tinggal di sana. Karena setidaknya jika terjadi apa-apa, saya tahu kemana harus meminta pertolongan dan bantuan.

Hari ini saya diundang oleh salah seorang diantara teman Betawi saya itu untuk menghadiri pernikahannya. Maka sayapun berangkat bersama keluarga saya. Resepsi pernikahan teman saya ini dilakukan di rumahnya.
Setelah berjalan kaki sebentar, sayapun sampai di kampung itu. Cuaca sangat panas. Saya disambut ramah oleh ibu sang mempelai wanita yang mengenali saya sebagai teman anaknya. Acara dilakukan di halaman rumah yang dipasangi tenda untuk berlindung dari panas terik matahari. Lagu dangdut diperdengarkan dari sebuah radio-casette.

Saya menulis keterangan di buku tamu, memasukkan amplop berisi uang sebagai kado pernikahan ke dalam kotak dana yang tersedia, lalu mengobrol sebentar dengan keluarga mempelai. Kedua mempelai telah berdandan & siap duduk di panggung pengantin sejak pagi hari. Lalu mengganti kostum lagi menjelang tengah hari. Saya memberi selamat kepada keduanya. Mereka tampak bahagia, walaupun terlihat sedikit kelelahan. Lalu kamipun dipersilakan untuk makan siang.

Selain kue-kue, air mineral dan kacang yang rupanya merupakan hidangan standard di setiap acara pernikahan, saya perhatikan selalu ada buah pisang setandan di setiap meja diletakkan begitu saja atau digantung untuk dinikmati para undangan. Konon buah pisang merupakan lambang kesuburan dan rejeki. Diharapkan kelak pasangan tersebut akan mendapatkan putra-putri yang banyak dengan rejeki yang melimpah.
Hidangan lain yang saya perhatikan selalu tersedia adalah sayur pengantin, yakni sejenis sayur lodeh yang dilengkapi dengan potongan bunga terubuk. Terubuk adalah sejenis bunga rumput/tebu-tebuan yang bentuknya lonjong warnanya krem dan empuk jika disayur. Hanya di jual di pasar-pasar traditional dekat perkampungan Betawi untuk keperluan pernikahan saja.

Tamu rasanya terus berdatangan tak henti henti. Serombongan, demi serombongan. Biasanya mereka datang dengan mengendarai kendaraan bak terbuka bersama keluarga, tetangga dan kerabatnya. Suasananya sangat menyenangkan, penuh canda tawa. Saya jadi teringat dan kangen kampung halaman saya di Bali.

Selepas makan siang, rombongan keluarga mempelai pria pun datang. Mereka membawa hantaran yang banyak. Saya dengar para undangan sibuk membicarakan Roti Buaya, yang rupanya menjadi keharusan dalam setiap pernikahan adat Betawi. Konon roti buaya merupakan perlambang dari kesetiaan. Dengan demikian, maka pengantin didoakan agar selalu setia kepada pasangannya hingga akhir hayat.

Begitu rombongan keluarga pengantin pria tiba di tikungan jalan dekat rumah pengantin wanita, maka suara petasan meledakpun sangat keras terdengar beruntun mirip suara tembakan senapan otomatis. Sangat meriah menyambut rombongan keluarga sang besan. Semua orang terlihat senang. Saya sangat terkesan dengan suasananya. Walaupun pernikahannya relatif bisa dibilang sangat sederhana jika saya bandingkan dengan pernikahan yang pernah saya hadiri di gedung-gedung pertemuan atapun hotel hotel mewah di Jakarta, namun aura kebahagiaan pernikahan sangat terasa. Toh tak ada jaminan bahwa resepsi yang lebih mewah akan membuahkan pernikahan yang lebih sukses. Dan atau sebaliknya belum tentu jika resepsi dilakukan secara sederhana akan membuahkan perkawinan yang kurang bahagia. Pada akhirnya pernikahan adalah commitment. Usaha kedua belah pihak untuk mempertahankannya sepanjang waktu.

Setelah beberapa lama, akhirnya sayapun pamit kepada kedua mempelai & keluarganya. Diiringi ucapan doa, semoga kedua mempelai diberikan kebahagiaan dalam berumah tangga. Keluarga mempelai membekali saya dengan setandan buah pisang untuk saya bawa pulang ke rumah. Saya berterimakasih atas buah tangannya. Sungguh sebuah acara pernikahan yang sangat berkesan. Saya dengar malam ini akan digelar acara ‘dangdutan’ untuk memeriahkan malam pengantin mereka.

Tentu saja ini bukan pertama kalinya saya menghadiri acara pernikahan ala Betawi. Namun saya selalu senang menyaksikannya. Banyak hal yang saya perhatikan. Adat istiadatnya yang menarik, lalu cara menjamu tamunya, hingga system kekerabatannya yang terasa sangat kental. Semoga adat seperti ini tetap terpelihara dengan baik.

2 responses »

  1. Bu, tulisan ini sangat menarik. Sayang ya foto sayur pengantinnya gak ada..Saya baru tahu dan baru baca pertama kali di blog ini tentang bunga terubuk. Nanti kalo ke pasar mo saya cari ah..seperti apa bentuk sayur itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s