Adalah Langit Yang Maha Luas…

Standard

Pada suatu masa, saya berkawan dengan beberapa sastrawan, seniman, sutradara ataupun pengamat sastra dan seni di Bali. Salah seorang diantaranya adalah seorang seniman ternama. Saya mengenal dan mengingat beliau dengan sangat baik, namun sayangnya sekarang beliau tidak mengingat saya lagi. Agak menyedihkan memang, apa boleh buat. Tapi saya sebenarnya tidak terlalu berkecil hati, karena saya memang bukan siapa-siapa di kalangan pergaulan para seniman di Bali. Apalagi kemudian saya tinggal di luar Bali dan jarang kontak dengan kawan-kawan seniman lagi. Jadi memang agak susah mengharapkan beliau untuk mengingat saya. Namun saya tetap bangga karena pernah mengenal beliau.

Seniman besar ini adalah seorang penggemar anjing. Saat itu, ketika tahu bahwa saya adalah seorang dokter hewan, beliau mengundang saya mampir ke rumahnya untuk melihat anjingnya. Kalau tidak salah namanya Pinto, atau Jinto atau sejenis itulah. Saya agak lupa.Warnanya putih. Seekor anjing kintamani yang cerdas dan memiliki penciuman yang sangat tajam. Bisa melacak bau narkoba,bau pencuri dan bahkan bisa dilatih untuk mencium bau ‘ area kewanitaan’ istrinya. Saya tertawa geli dengan ide gila sang seniman itu. Ada-ada saja!.

Singkat kata, sampailah saya bersama seorang teman saya di rumah beliau. Rumahnya sungguh mengagumkan. Sangat artistik. Namanya juga rumah seniman. Beliau bercerita kepada saya bahwa rumah itu adalah hasil kerja kerasnya saat sempat tinggal di benua kangguru.

Masuk di gerbang rumahnya, kami harus melalui sebuah lorong yang mirip gua dengan penerangan lampu minyak tanah guna menuju ke halaman rumahnya. Sesampai di ujung lorong, barulah saya tiba di halaman dan bisa melihat dengan jelas bentuk rumahnya. Rumah yang sangat aneh. Sangat terbuka dan sangat tidak biasa. Tidak memiliki kamar yang berdinding rapat, tidak memiliki langit-langit kamar sendiri dan tidak bisa dikunci seperti umumnya rumah. Semuanya terbuka. Menurut saya rumah itu lebih mirip sebuah bangunan ‘Bale Banjar’ dengan sekat-sekat kubikal pendek dimana kita bisa melihat sebuah langit-langit tunggal bagi seluruh rumah. Pemandangan yang menakjubkan!.

Terus terang, saya sangat terkesan. Bukan saja karena bentuk artistik dari rumah tersebut, namun juga karena tiba-tiba saya seperti mendapat pemikiran baru mengenai sekat –sekat dan langit-langit. Ketika kita menyekat rumah dengan dinding-dinding tinggi dan menjadikannya kamar-kamar sempit, maka yang kita lihat adalah langit-langit yang sempit. Yakni langit-langit kamar. Tiap kamar memiliki langit-langitnya sendiri. Jika rumah kita memiliki 2 kamar, maka akan ada 2 langit-langit. Jika rumah memiliki 3 kamar, maka akan ada 3 langit-langit. Dan seterusnya. Langit-langit sempit dan banyak serta terpisah-pisah!.

Namun ketika kita membuka atau pun menurunkan ketinggian dinding yang menyekat kamar-kamar itu,maka yang kita lihat adalah langit-langit yang jauh lebih luas dan tunggal. Yakni langit-langit rumah. Bukan lagi langit-langit kamar yang sempit yang jumlahnya banyak.

Itulah pula barangkali sebabnya ada pepatah lama mengatakan “Jangan Seperti Katak Di Dalam Tempurung”. Maknanya sungguh dalam. Seekor katak yang berada di bawah tempurung kelapa dan tak pernah keluar dari dalam tempurung itu, menyangka bahwa dunia itu sempit dan gelap. Dan ia merasa bahwa ia lah yang paling tahu segala sesuatu tentang dunia. Merasa paling besar, paling kuat, paling benar dan paling hebat sedunia. Karena memang tak ada lagi mahluk yang lebih besar, lebih kuat maupun lebih hebat dari dirinya di dunia bawah tempurung itu. Ia pikir bahwa langit itu pendek. Karena langit-langit tempurung memang pendek dan sempit. Katak itu tak pernah tahu bahwa dunia di luar tempurung itu sangatlah luas dan dirinya sesungguhnya tak ada apa-apanya dengan berbagai jenis mahluk lain yang hidup di alam bebas di bawah langit biru.

Mengenang itu semua, sang seniman dan rumahnya – saya jadi melamun. Saya ingin melihat dunia yang tanpa sekat tinggi. Tanpa batasan kesukuan, agama maupun status sosial. Dimana saya bisa memandang langit yang tunggal dan maha luas. Memahami bahwa dunia tidaklah sesempit yang saya kira. Namun selebar semesta tanpa batas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s